Aroma sup ayam hangat yang menyeruak di ruang makan tak mampu melunakkan dinginnya suasana malam itu. Nindya merapikan letak piring, lalu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Di kursi kecil tak jauh darinya, Arka—putra mereka yang berusia tiga tahun—sudah tertidur lelap dengan mainan mobil-mobilan masih berada di genggamannya.
Suara deru mobil di halaman luar memecahkan keheningan. Nindya tersenyum tipis, merapikan bajunya, lalu bergegas membukakan pintu.
"Kamu baru pulang, Mas? Mau aku siapkan makan malam?" tawar Nindya lembut saat melihat Haris melangkah masuk. Pria itu tampak lelah, jasnya dilipat di atas lengan.
"Tidak usah, Nindya. Aku sudah makan di luar," jawab Haris singkat tanpa menatap mata istrinya. Ia melangkah melewati Nindya begitu saja, menuju kamar tidur mereka.
Nindya menelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan. Rasa hangat dari sup yang ia masak seolah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang menusuk dada.
Empat tahun lalu, jika Nindya tidak nekat menarik Haris dari kobaran api kecelakaan mobil di jalan tol malam itu, mungkin Haris tidak akan bernapas hari ini. Luka bakar di lengan Nindya menjadi saksi bisu keberaniannya. Sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa terima kasih yang teramat besar, Haris memilih untuk menikahi Nindya.
“Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, Nindya. Aku akan memastikan kamu dan keluargamu tidak kekurangan apa pun,” ucapan Haris saat melamarnya kembali terngiang.
Namun hari ini, Nindya menyadari satu hal: Haris memberikan segalanya—materi, status, perlindungan—kecuali hatinya.
Saat Haris berada di dalam kamar mandi, ponsel pria itu yang tergeletak di atas meja nakas bergetar perlahan. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala. Nindya, yang berniat memindahkan ponsel itu agar tidak terjatuh, tak sengaja membaca nama pengirim dan potongan pesannya.
Siska: Terima kasih untuk makan malamnya ya, Mas. Jangan lupa tersenyum untukku besok.
Darah Nindya serasa berhenti mengalir. Jarinya bergetar hebat.
Bukan hanya sekali atau dua kali Nindya merasakan kejanggalan dari sikap Haris—alasan rapat mendadak di akhir pekan, wangi parfum wanita lain yang samar di kemejanya, hingga tatapan mata Haris yang selalu menerawang jauh setiap kali melihatnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Haris keluar dengan handuk di lehernya. Tangannya langsung menyambar ponsel di atas meja. Ia sempat melirik Nindya yang berdiri kaku di samping tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Haris datar.
Nindya menatap mata suaminya dalam-dalam, mencari sedikit saja rasa bersalah atau kehangatan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal yang tak tertembus.
"Mas... sampai kapan kita akan seperti ini?" suara Nindya bergetar.
Haris menghentikan gerakannya. "Maksudmu apa?"
"Empat tahun, Mas. Kita sudah punya Arka. Apakah rasa terima kasih itu sama sekali tidak bisa berubah menjadi sedikit saja rasa sayang?" air mata yang ditahannya akhirnya menetes di pipi Nindya.
Haris menghela nafas panjang, wajahnya mengeras. "Nindya, kita sudah pernah membahas ini. Aku memenuhi semua kewajibanku sebagai suami dan ayah. Arka tidak pernah kekurangan apa pun. Jangan memulainya lagi."
"Tapi hati kamu tidak pernah ada di rumah ini, Mas!" seru Nindya lirih, takut membangunkan Arka di kamar sebelah. "Kamu masih menemui Siska, kan?"
Suasana kamar mendadak hening seketika. Haris tidak membantah. Diamnya pria itu menjadi jawaban yang paling menghancurkan hati Nindya.
"Sudahlah, cepat tidur," ucap Haris dingin kepada Nindya. Suaranya datar, tanpa ketegasan yang dibuat-buat, namun mengandung penolakan yang sangat mutlak.
Tanpa menunggu balasan atau sekadar respons kecil dari istrinya, Haris membalikkan badan. Ia memunggungi Nindya, menarik selimut tebal hingga sebatas dada, lalu membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keheningan malam. Dinding punggung pria itu berdiri kukuh di hadapan Nindya, tampak seperti benteng raksasa yang tak tertembus, memisahkan Nindya dari hangatnya rasa memiliki dan dicintai.
Dalam kegelapan kamar yang sepi, Nindya tetap berbaring kaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes pelan, mengalir melewati pipinya yang hangat lalu meresap ke dalam kain bantal tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Nindya terus saja meratapi takdir hidupnya. Mengapa jalan cerita yang harus ia jalani begitu terjal dan menyakitkan?
Dua tahun lalu, benteng pertahanan terbaik dalam hidupnya telah hancur berkeping-keping. Kedua orang tuanya meninggal dunia dalam insiden kecelakaan pesawat yang mengenaskan. Berita duka hari itu tidak hanya merenggut nyawa Ayah dan Ibunya, tetapi juga merenggut seluruh tempat berlindung yang pernah Nindya miliki di dunia ini. Sejak hari kelam itu, tak ada lagi bahu tempatnya bersandar, tak ada lagi rumah tempatnya mengadu, dan tak ada lagi naungan tempatnya meminta perlindungan selain gundukan tanah bisu di makam kedua orang tuanya.
Setiap kali beban di dadanya sudah terlalu berat untuk dipikul sendirian, hanya pada batu nisan itulah Nindya bisa menangis sepuasnya tanpa harus berpura-pura menjadi wanita tangguh. Kini, di dalam rumah megah berdinding kokoh ini, Nindya justru merasa jauh lebih asing daripada seorang pengembara yang tersesat di tengah padang pasir. Rumah ini bukan miliknya, dan hati pemilik rumah ini pun tak pernah sekalipun menjadi miliknya.
Nindya menatap punggung Haris yang sama sekali tak bergerak. Pria yang dulu ia selamatkan dari kobaran api kecelakaan lalu lintas itu kini menjadi suaminya. Luka bakar di lengan Nindya adalah saksi bisu betapa ia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyambung nyawa Haris. Namun, sebagai imbalan, Haris membalasnya dengan pernikahan yang dingin ini. Pernikahan yang didasari atas rasa utang budi dan rasa bersalah, bukan rasa cinta.
Nindya memeluk dadanya sendiri yang terasa amat sesak, seolah pasokan udara di dalam kamar tiba-tiba menghilang. Ia menyelimuti tubuhnya, mencoba mencari kehangatan dari kain tebal yang dingin. Dalam kesendirian yang membunuh itu, Nindya akhirnya terdiam. Matanya yang berat dan sembap perlahan terpejam, hingga akhirnya kepenatan jiwa memaksa tubuhnya pasrah dan ia tertidur di dalam kepedihan yang teramat sangat.
Pagi harinya, Nindya terbangun oleh suara samar pintu depan yang tertutup pelan. Suara engsel pintu itu seolah menjadi penanda berakhirnya kehadiran Haris di rumah itu untuk hari ini. Nindya membalikkan badannya perlahan, menatap sisi tempat tidur di sampingnya. Sisi itu sudah rapi, bersih, dan berhawa dingin. Haris telah pergi—mungkin menuju kantornya yang sibuk, atau mungkin menemui wanita lain—tanpa pamit, tanpa mengecup dahi istrinya, dan tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Nindya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa hampa yang langsung menyambutnya begitu ia membuka mata. Ia beranjak dari tempat tidur, mencuci mukanya yang masih sembap, lalu berjalan menuju kamar sang putra.
Setelah memastikan Arka sudah selesai sarapan dengan lahap dan bermain dengan aman bersama pengasuhnya di ruang tengah, Nindya melangkah kembali ke kamarnya. Ia membuka lemari dan memilih gaun terusan serba hitam. Warna yang mewakili suasana hatinya yang kelam. Langkah kakinya kemudian membawa Nindya keluar dari rumah megah itu menuju TPU Tanah Kusir, tempat kedua orang tuanya beristirahat dalam keabadian.
Angin pagi berembus lembut saat Nindya menjejakkan kakinya di atas rumput hijau pemakaman. Ia berjalan perlahan di antara gundukan tanah hingga akhirnya bersimpuh di samping dua batu nisan bermarmar hitam yang terletak berdampingan. Jemarinya yang bergetar mengusap lembut ukiran nama Ayah dan Ibunya yang terpatri anggun di sana.
"Ibu... Ayah..." bisik Nindya, dan seketika itu juga suaranya runtuh. Tangis yang semalam berhasil ia redam di hadapan Haris akhirnya pecah sepenuhnya di tempat sunyi ini.
"Nindya capek, Bu..." adunya pada gundukan tanah bisu itu. Air matanya menetes makin deras, jatuh membasahi rumput-rumput kecil di atas pusara. "Dua tahun Ibu dan Ayah pergi meninggalkan Nindya, rasa-rasanya Nindya sudah tidak punya alasan lagi untuk tersenyum. Rumah mewah yang Nindya tempati sekarang... bukan rumah Nindya, Bu. Tempat itu terasa sangat asing dan dingin."
Nindya menunduk dalam-dalam, meremas ujung gaun hitamnya. "Mas Haris tidak pernah menganggap Nindya ada di hidupnya. Cinta yang selama ini Nindya impikan dan harapkan tidak pernah tumbuh sedikit pun di hatinya, Bu. Bagi Mas Haris, Nindya cuma beban masa lalu. Nindya cuma kewajiban yang harus dia bayar karena utang nyawa di masa lalu."
Keheningan segera menyergap kembali tempat itu. Hanya ada deru angin pagi dan suara daun-daun kering yang berguguran diterpa angin. Tidak ada suara lembut Ibu yang menenangkan, tidak ada pelukan hangat Ayah yang melindunginya. Namun, mengadu dan menumpahkan seluruh kepedihan di atas pusara orang tuanya sedikit demi sedikit mengikis beban batu besar yang meremukkan dadanya.
Nindya mengusap air matanya hingga kering. Ia menguatkan dadanya dan mencoba berdiri tegak. Ia ingat pada Arka, putra kecilnya yang polos dan penuh kasih sayang. Arka adalah harta berharga yang ia miliki saat ini, dan putranya itulah satu-satunya alasan mengapa Nindya harus tetap berdiri tegak dan melanjutkan hidup.
Sore harinya, langit ibu kota berubah menjadi kelabu pekat sebelum akhirnya meluapkan hujan deras yang membentak kaca-kaca jendela rumah. Suara gemuruh air yang jatuh menghantam atap menciptakan suasana mencekam di dalam rumah besar yang sepi itu.
Nindya sedang duduk di atas karpet bulu di ruang tengah, menemani Arka yang sibuk mewarnai buku gambarnya dengan krayon warna-warni. Tiba-tiba, suara dering dari ponsel Nindya yang tergeletak di atas meja kaca memecahkan konsentrasinya. Nindya menoleh dan melihat nama Haris tertera jelas di layar yang menyala.
Jantung Nindya berdesir pelan. Sekalipun hatinya telah terluka berulang kali, masih ada sepercik binar harapan kecil di matanya. Ia menggeser tombol hijau pada layar, berharap ada sedikit perhatian atau kepedulian dari suaminya di tengah cuaca buruk yang sedang melanda kota ini.
"Halo, Mas Haris?" tanya Nindya pelan.
"Nindya," suara Haris terdengar terburu-buru dan tidak tenang dari seberang telepon. Di latar belakang panggilannya, terdengar samar-samar riuh kebisingan khas koridor rumah sakit dan panggilan nada darurat. "Aku tidak bisa pulang cepat malam ini. Jangan tunggu aku untuk makan malam."
Dada Nindya berdesir nyeri. "Ada apa, Mas? Hujan deras sekali di luar, anginnya kencang. Arka dari tadi terus-terusan menanyakan kamu..."
"Siska kecelakaan," potong Haris cepat tanpa ragu sedikit pun, seolah nama itu adalah alasan paling valid di dunia yang harus diterima oleh istrinya. "Mobilnya mogok di jalanan sepi dan dia jatuh tergelincir saat keluar. Kakinya terkilir parah dan dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Aku harus tetap di sini untuk menemaninya."
Dia tidak punya siapa-siapa lagi di sini?
Kata-kata Haris merancap tepat di pusat jantung Nindya seperti sembilu yang tajam. Lalu bagaimana denganku, Mas? Aku bahkan sudah tidak punya Ayah dan Ibu! Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini! jerit Nindya berulang kali di dalam batinnya. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat dan bibirnya terlalu kelu untuk memuntahkan seluruh amarah itu.
"Mas..." suara Nindya bergetar hebat, menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Kamu ingat tidak... hari ini hari apa?"
Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang keempat. Sebuah tanggal penting yang sejak siang tadi telah Nindya persiapkan dengan memasak berbagai hidangan kesukaan Haris, meski di dalam hati kecilnya ia tahu betul peluang Haris untuk duduk menikmati masakan itu sangatlah tipis.
Hening tercipta sejenak di ujung telepon. Haris tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam, menandakan bahwa ia memang benar-benar telah melupakan tanggal tersebut.
"Jaga Arka baik-baik. Aku sangat sibuk sekarang," sahut Haris singkat tanpa merasa perlu meminta maaf, lalu mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
Tut... tut... tut...
Nindya mematung, menggenggam ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap layar ponsel yang perlahan kembali gelap dan mati. Di sampingnya, Arka mendongak. Mata bulat bocah kecil itu menatap ibunya dengan binar polos tanpa dosa.
"Mama... Papa pulang bawa kue untuk kita?" tanya Arka lembut sambil memegang ujung baju terusan Nindya.
Nindya berlutut di hadapan putranya, lalu merengkuh tubuh kecil Arka ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu mungil sang putra, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Cukup, Haris, bisik Nindya dalam hatinya yang telah hancur menjadi serpihan tak berharga. Rasa terima kasihmu sudah lebih dari cukup menyiksaku selama empat tahun ini. Mulai hari ini, aku lepaskan kamu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!