"Tita, Ibu itu bersyukur sekali punya menantu seperti kamu. Cantik, sukses, mandiri, dan yang paling penting, sangat berbakti pada keluarga. Masalah anak... ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ibu dan Aris sudah menerima kekuranganmu sejak awal dengan lapang dada. Bagi kami, kehadiran kamu di rumah ini sudah menjadi berkah yang luar biasa."
Kata-kata manis Ibu mertuaku, Ibu Rahma, masih terngiang jelas di telingaku. Kalimat itu diucapkan dengan mata yang berkaca-kaca, raut wajah penuh welas asih, dan genggaman tangan yang begitu hangat di atas meja makan.
Kejadiannya tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima, sekitar tiga bulan yang lalu.
Saat itu, aku hampir saja meneteskan air mata terharu. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki suami penyayang seperti Aris dan seorang ibu mertua yang begitu pengertian. Di luar sana, banyak wanita dengan vonis mandul sepertiku yang disiksa batinnya oleh keluarga suami.
Namun aku? Aku justru dihujani cinta dan penerimaan yang tampak begitu tulus. Aku merasa sangat berutang budi pada kebaikan mereka.
Namun, sore ini, di balik meja kebesaranku sebagai CEO Glowinc Cosmetics, kehangatan yang selama lima tahun ini kusimpan rapat di dalam dada menguap tanpa sisa. Digantikan oleh hawa dingin yang menusuk perlahan, membekukan setiap jengkal hatiku hingga mati rasa.
Aku menatap layar tablet di hadapanku dengan pandangan lurus. Di sana, terpampang laporan keuangan bulanan dari kartu kredit tambahan yang kupasrahkan pada Aris, suamiku. Sebagai istri yang sibuk memimpin perusahaan kosmetik besar dengan ratusan karyawan, aku memang jarang memeriksa detail pengeluaran Aris. Bagiku, memberikan fasilitas kartu kredit dengan limit ratusan juta adalah bentuk dukunganku agar dia bisa tampil percaya diri sebagai seorang pengusaha di depan relasi-relasinya. Aku memercayainya tanpa syarat.
Namun, kecurigaanku bermula saat sistem keuangan perusahaanku memberikan peringatan tentang adanya transaksi di luar batas kewajaran pada kartu tambahan tersebut dalam dua bulan terakhir.
Rincian Transaksi Kartu Tambahan – an. Aris Pratama:
12 Mei 2026 – Tiffany & Co. (Plaza Indonesia) – Rp 85.000.000
14 Mei 2026 – PT. Agung Property Regency (Uang Muka) – Rp 120.000.000
Setiap tanggal 5 (Auto-debit rutin) – Kiriman Dana an. Larasati Putri – Rp 35.000.000
Aku menyandarkan punggungku ke kursi kerja kulit yang empuk, menghela napas perlahan demi menjaga keteraturan detak jantungku. Kepalaku tidak pusing, air mataku tidak menetes, dan dadaku tidak berdegup kencang seperti adegan-adegan dramatis wanita yang diselingkuhi di dalam sinetron televisi.
Aku justru merasa... geli. Sungguh sebuah lelucon yang sangat menggelikan.
Bagaimana mungkin Aris, pria yang setiap pagi selalu menyempatkan diri mengecup keningku, membuatkan teh hangat, dan berbisik bahwa dia hanya mencintaiku seumur hidup, bisa bertindak seceroboh ini? Ataukah dia memang terlalu meremehkanku? Apakah dia berpikir bahwa karena aku begitu mencintainya, aku akan menjadi wanita bodoh yang matanya tertutup rapat dan tidak akan pernah memeriksa aliran uang dari rekening pribadiku sendiri?
Tok! Tok!
Ketukan pintu memecah keheningan ruang kerjaku yang luas dan ber-AC dingin. Siska, asisten pribadiku yang sudah bekerja bersamaku selama tujuh tahun sekaligus orang kepercayaanku, melangkah masuk dengan langkah kaki yang diseret pelan. Wajahnya tampak luar biasa tegang. Di dadanya, ia mendekap sebuah map kulit berwarna hitam pekat.
"Bu Tita," panggil Siska dengan nada suara yang sangat hati-hati, seolah takut suaranya bisa memecahkan kristal kaca di ruangan ini. "Semua informasi dan bukti yang Ibu minta... sudah berhasil dikumpulkan oleh tim penyelidik swasta."
"Letakkan saja di meja, Sis," jawabku tenang. Suaraku terdengar sangat datar, bahkan terlalu santai untuk ukuran seorang istri yang sebentar lagi akan menyaksikan bukti nyata dari runtuhnya mahligai rumah tangganya.
Siska melangkah mendekat, lalu dengan perlahan meletakkan map hitam itu tepat di hadapanku. Ia membukanya dengan gerakan ragu-ragu, lalu menyisipkan beberapa lembar foto cetak berkualitas tinggi di atas meja kaca.
Fokus mataku langsung tertuju pada foto pertama.
Di sana, Aris tengah merangkul mesra pinggang seorang wanita muda berwajah manis, polos, dengan sapuan riasan tipis. Mereka sedang berdiri di depan sebuah toko perlengkapan bayi di salah satu pusat perbelanjaan mewah. Perut wanita itu tampak mulai membuncit di balik gaun longgar yang dikenakannya.
Namun, yang paling menarik perhatianku adalah leher wanita itu. Sebuah kalung berlian indah melingkar di sana. Aku sangat mengenali desainnya itu adalah kalung edisi terbatas dari Tiffany & Co. seharga 85 juta rupiah yang tertera di laporan transaksi kartu kredit suamiku beberapa minggu lalu. Kalung yang dibeli menggunakan uangku, kini melingkar manis di leher wanita lain.
Aku beralih ke foto kedua.
Foto itu diambil di dalam sebuah ruangan berdekorasi sederhana yang didominasi warna putih. Tampak sebuah prosesi pernikahan siri. Aris mengenakan jas koko putih berpeci, duduk bersanding dengan wanita muda yang sama di hadapan seorang penghulu. Dan yang membuat sudut bibirku berkedut sinis adalah sosok paruh baya yang berdiri di sudut foto sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan.
Itu adalah Ibu Rahma. Ibu mertuaku yang katanya sangat menyayangiku. Di foto itu, ia tampak begitu bahagia, menggenggam erat tangan menantu barunya seolah wanita muda itulah menantu idaman yang sesungguhnya yang selama ini ia nantikan.
"Namanya Larasati Putri, Bu Tita. Usianya baru dua puluh empat tahun," Siska mulai menjelaskan dengan suara tertahan, berusaha menjaga profesionalitasnya meski aku bisa mendengar nada geram di dalam suaranya. "Dia mantan karyawan magang di salah satu vendor kosmetik kita dulu. Menurut laporan penyelidik, mereka sudah melangsungkan pernikahan siri sekitar enam bulan yang lalu. Pernikahan itu tidak hanya diketahui, tapi difasilitasi dan disetujui sepenuhnya oleh Ibu Rahma serta adik ipar Ibu, jessica."
Siska menjeda kalimatnya sejenak, menatapku untuk memastikan keadaanku sebelum melanjutkan. "Saat ini, Larasati sedang mengandung anak Pak Aris, usianya jalan empat bulan. Mereka tinggal di sebuah unit apartemen mewah di daerah Jakarta Selatan... yang seluruh biaya sewa tahunannya didebit langsung dari rekening pribadi Ibu dengan kedok investasi properti baru yang diajukan Pak Aris waktu itu."
Aku mendengarkan penjelasan Siska tanpa menyela sedikit pun. Mataku terus menatap foto Ibu mertuaku yang tersenyum sangat tulus di pernikahan siri tersebut. Senyuman yang belum pernah sekali pun kulihat selama lima tahun aku menjadi menantunya. Kepada Tita yang kaya raya ini, Ibu Rahma hanya selalu menampilkan senyum penuh sungkan, senyum manis yang dipaksakan demi mendapatkan belas kasihan dan aliran dana bulanan.
Sekarang, semua kepingan teka-teki di kepalaku terjatuh tepat pada tempatnya.
Pantas saja belakangan ini Ibu Rahma mendadak sangat rajin berkunjung ke rumahku hanya untuk meminta uang saku tambahan. Alasannya selalu mulia: sedang aktif di yayasan keagamaan, butuh donasi sosial untuk anak yatim, atau ingin membeli perhiasan baru untuk menghadiri arisan sosialita agar tidak mempermalukan namaku sebagai menantu kaya.
Ternyata, semua uang hasil keringat dan kerja kerasku dari pagi hingga malam digunakan untuk membiayai maduku sendiri. Uangku dipakai untuk membayar biaya kontrol kehamilan ke dokter spesialis terbaik, membelikan susu formula kelas premium, dan memenuhi semua gaya hidup mewah wanita simpanan suamiku.
Mereka hidup mewah di atas penderitaanku. Mereka menggunakan uangku, menikmati fasilitas mobil dari perusahaanku, tinggal di properti milikku, lalu dengan teganya menikamku dari belakang dengan dalih meneruskan keturunan. Mereka memperlakukanku layaknya sebuah mesin ATM berjalan yang bodoh dan bisa dimanipulasi hanya dengan beberapa kalimat sanjungan murah.
"Bu Tita..." Siska memanggilku lagi dengan nada sangat khawatir. Ia mungkin heran melihatku yang hanya diam membisu tanpa reaksi ekstrem seperti menangis, berteriak, atau menghancurkan barang-barang di meja kerja.
"Apakah Ibu baik-baik saja? Mau saya hubungi tim pengacara perusahaan sekarang juga? Kita bisa langsung melabrak mereka ke apartemen itu, atau melaporkan Pak Aris ke polisi atas tuduhan perzinahan dan penipuan keuangan."
Aku menarik pandanganku dari foto-foto tersebut, lalu menegakkan posisi dudukku. Perlahan, sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirku. Itu bukan senyuman sedih atau pasrah, melainkan senyuman dingin, tajam, dan penuh dengan perhitungan yang bahkan membuat Siska yang sudah bertahun-tahun mengenalku sedikit bergidik ngeri.
"Melabrak mereka secara langsung, Sis? Untuk apa?" tanyaku dengan nada suara yang sangat santai, seolah-olah kami hanya sedang mendiskusikan penurunan omset bulanan yang sepele. "Kalau aku pergi ke sana, menangis, lalu melabrak mereka di depan umum, drama ini akan selesai terlalu cepat. Aris hanya akan berlutut, menangis bersujud di kakiku, meratapi kesalahannya, dan ibunya yang bermuka dua itu akan memohon-mohon pengampunan atas nama cinta dan masa lalu kami. Setelah itu apa? Mereka akan tetap merasa aman karena tahu aku adalah Tita yang lemah lembut dan tidak tegaan."
Aku mengetukkan jemariku yang terawat rapi ke atas permukaan meja kaca, menciptakan ketukan ritmis yang memecah keheningan ruangan.
"Mereka semua... suamiku yang tidak tahu diri itu, ibu mertuaku yang serakah, dan adik iparku yang parasit, mereka semua berpikir bahwa aku ini Tita yang bodoh. Tita yang bucin setengah mati sampai rela membiayai seluruh gaya hidup keluarga suaminya tanpa banyak tanya. Mereka berpikir, karena aku memiliki kekurangan fisik berupa kemandulan, aku akan pasrah menerima dimadu secara diam-diam asalkan Aris tidak pergi meninggalkanku. Mereka pikir ketakutanku akan kesepian akan membuatku menerima pengkhianatan ini dengan mata tertutup."
Mataku berkilat tajam menatap asisten pribadiku. "Aris memiliki usaha kuliner bernama Aris Kitchen yang belakangan ini cabangnya sudah bertambah menjadi lima di area Jabodetabek, kan? Siska, tolong ingatkan aku lagi, dari mana asal seluruh modal awal untuk mendirikan restoran pertama di jalur utama itu?"
"Seratus persen modal awal berasal dari dana pribadi Ibu Tita, Bu," jawab Siska dengan sigap dan lancar. "Bahkan jaminan ruko tiga lantai yang digunakan sebagai kantor pusat dan restoran utamanya pun adalah aset milik anak perusahaan Glowinc Group yang Ibu pinjamkan tanpa biaya sewa."
"Lalu, bagaimana dengan rantai pasok bahan bakunya? Siapa yang membantu menegosiasikan kontrak kerja sama dengan para distributor daging dan sayur terbesar sehingga mereka mau memberikan harga miring dengan sistem pembayaran tempo?"
"Ibu Tita juga, Bu. Kontrak-kontrak itu bisa berjalan karena adanya jaminan nama besar Glowinc Group sebagai penjamin pihak ketiga. Tanpa nama Ibu, para distributor itu tidak akan pernah mau memberikan kelonggaran pembayaran pada bisnis sekecil milik Pak Aris."
"Bagus sekali," aku menutup map hitam di hadapanku dengan satu gerakan pelan yang tegas. "Aris merasa dirinya sudah menjadi lelaki yang sangat sukses dan hebat saat ini. Dia merasa gagah karena memiliki bisnis kuliner yang ramai, seorang istri siri muda yang subur dan siap memberinya anak, serta seorang istri sah yang kaya raya namun bodoh dan bisa dengan mudah diperalat. Dia merasa sedang berada di atas angin, menikmati semua kenikmatan hidup tanpa perlu memeras keringat terlalu keras."
Aku berdiri dari kursi kerjaku, melangkah perlahan menuju jendela kaca besar setinggi langit-langit yang langsung menampilkan pemandangan hutan beton dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah sana. Sinar matahari sore yang mulai meredup menerangi wajahku, memantulkan ekspresi dingin tanpa kehangatan.
"Mari kita lihat, seberapa hebat seorang Aris Pratama jika aku memutus seluruh nadi finansialnya dari akar terkecil. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, apakah istri siri yang katanya sangat dia cintai karena subur itu, akan tetap tersenyum manis dan setia mendampinginya saat Aris tidak memiliki sepeser pun uang di dompetnya. Aku ingin tahu seberapa kuat cinta mereka saat dikejar-kejar oleh penagih utang."
"Lalu, apa langkah pertama yang harus saya siapkan, Bu Tita?" tanya Siska. Matanya kini tidak lagi memancarkan rasa khawatir, melainkan binar kekaguman dan kesiapan penuh untuk mendukung setiap langkah pembalasanku.
Aku berbalik membelakangi jendela, menatap Siska dengan senyuman kemenangan yang tertahan di bibirku.
"Pertama, siapkan tim hukum kita untuk menarik semua jaminan aset ruko restoran utamanya dari bank atas nama pribadiku. Lakukan secara perlahan dengan dalih restrukturisasi aset tahunan perusahaan agar Aris tidak langsung mencium rencana kita. Kedua, hubungi semua distributor bahan baku utama Aris Kitchen. Katakan pada mereka bahwa Glowinc Group akan segera menarik diri sebagai penjamin kontrak kerja sama mereka mulai bulan depan secara sepihak karena alasan kepatuhan internal bisnis."
Aku menjeda kalimatku, membayangkan kekacauan yang akan terjadi di dapur restoran suamiku saat para pemasok tiba-tiba menghentikan pengiriman barang atau menuntut pembayaran tunai di muka.
"Dan yang ketiga... biarkan ibu mertua dan adik iparku terus berfoya-foya minggu ini menggunakan sisa limit kartu kredit mereka. Aku bahkan akan mengirimkan beberapa voucher belanja tambahan ke rumah mereka malam ini. Aku ingin mereka merasa sangat senang, sangat aman, dan berada di puncak kesombongan mereka terlebih dahulu."
Aku tersenyum sangat manis, namun dengan tatapan mata yang luar biasa dingin.
"Aku akan memberikan mereka umpan terakhir yang paling lezat, sebelum aku menarik jaring perangkap ini dan membuat mereka semua merangkak di lantai di hadapanku, memohon belas kasihan tanpa sisa."
Rumah mewah bergaya minimalis modern di kawasan elit Jakarta Selatan ini dulunya adalah tempat yang selalu kurindukan setiap kali penat menyelesaikan urusan kantor. Setiap sudutnya kurancang dengan penuh perhitungan. Lantai marmer Italia yang dingin, sofa beludru premium sewarna abu-abu hangat, hingga pencahayaan hangat yang berpendar lembut dari lampu gantung kristal di ruang tengah. Rumah ini berdiri megah di atas tanah yang kubeli dengan hasil jerih payahku sendiri sebelum menikah. Namun kini, rumah yang seharusnya menjadi istana pelindungku ini mendadak terasa seperti sarang bagi sekumpulan benalu yang siap menggerogoti hidupku.
Aku melangkah masuk setelah seharian penuh menghadapi tekanan pekerjaan dan rapat koordinasi di kantor. Sunyi langsung menyambutku saat pintu utama terbuka. Biasanya, sesibuk apa pun dirinya, Aris sudah akan duduk manis di sofa ruang tengah, menyesap secangkir kopi hangat yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga kami, lalu langsung berdiri menyambutku dengan pelukan hangat dan kecupan di kening begitu mendengar suara langkah kakiku.
Tapi sore ini, suasana rumah begitu sepi. Aku menghela napas panjang, meletakkan tas kerja Hermes hitamku di atas meja konsol dekat pintu masuk, lalu berjalan menuju dapur bersih. Tenggorokanku terasa sangat kering, sekering gurun pasir, setelah menahan emosi yang bergolak sejak membaca laporan penyelidik swasta tadi sore. Aku mengambil segelas air dingin dari dispenser, meneguknya perlahan untuk mendinginkan kepalaku yang mulai terasa berdenyut.
Tring.
Suara denting ponsel pribadiku yang tergeletak di atas meja bar dapur memecah keheningan. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang dulunya selalu berhasil menerbitkan senyum di wajahku setiap kali muncul:
Suamiku Tercinta.
Aku meraih ponsel itu, membuka kunci layarnya dengan sapuan ibu jari yang dingin, lalu membaca deretan kalimat yang masuk.
Aris:
"Sayang, maaf banget ya malam ini Mas sepertinya nggak bisa pulang ke rumah. Ada urusan mendadak dan sangat penting di restoran cabang ketiga kita. Suplier dagingnya tiba-tiba berulah dan membatalkan pengiriman sepihak, jadi Mas harus turun tangan langsung buat beresin kontrak baru malam ini biar besok operasional restoran nggak terganggu. Kamu jangan begadang ya, Sayang. Jangan lupa makan malam yang banyak, Mas selalu kepikiran kalau kamu telat makan. I love you so much, Tita-ku sayang. Kecup jauh dari suamimu."
Aku menatap rentetan kalimat manis penuh perhatian itu dengan pandangan lurus dan datar. Tidak ada air mata yang menetes. Tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit dadaku hingga sulit bernapas. Satu-satunya reaksi fisik yang kurasakan saat ini adalah rasa mual yang mendadak bergolak hebat di dalam perutku. Kerongkonganku mendadak berkedut, menolak mentah-mentah setiap kata cinta dan perhatian yang diketik oleh jemari yang beberapa jam lalu mungkin baru saja membelai lembut perut buncit wanita lain.
Urusan mendadak di restoran cabang ketiga? Suplier daging berulah?
Aku hampir saja tertawa kencang di tengah kesunyian dapur ini. Sungguh sebuah dusta yang dirangkai dengan sangat amatir. Aku baru saja meminta Siska memproses penarikan jaminan ruko sore tadi, dan proses birokrasinya bahkan belum sampai ke telinga Aris karena bank baru akan mengirimkan surat resmi besok siang. Jadi, skenario supplier berulah itu murni fiktif belaka.
Kenyataan yang sebenarnya sangat sederhana: malam ini adalah jadwal rutin Aris untuk memeluk istri siri mudanya di apartemen mewah daerah Jakarta Selatan yang biaya sewa tahunannya kudepositkan dari rekening pribadiku. Pria itu mungkin sedang duduk di samping Laras, mengusap perut wanita itu yang mulai membuncit, sembari mengetik pesan penuh dusta ini kepadaku demi menjaga agar aliran dana di rekeningnya tetap aman terkendali.
"Mas, Mas... aktingmu benar-benar luar biasa. Sayang sekali kamu salah memilih lawan main," gumamku lirih. Aku menyimpan kembali ponsel itu ke dalam saku celana kulotku tanpa berniat membalas sepatah kata pun. Membalas pesannya hanya akan membuang energiku secara sia-sia.
Aku membawa gelas air dingin itu menuju ruang tengah, berniat untuk merilekskan tubuhku di sofa panjang. Namun, kenyamananku langsung terusik begitu mendengar suara langkah kaki dari arah koridor kamar tamu di lantai bawah.
Ibu Rahma, ibu mertuaku, muncul dari sana dengan mengenakan daster sutra mahal yang tentu saja kubelikan saat aku melakukan perjalanan bisnis ke Shanghai tahun lalu. Di lehernya melingkar sebuah kalung emas baru dengan bandul permata yang cukup mencolok. Aku langsung mengenali kilau emas itu. Itu pasti dibeli menggunakan sisa uang "donasi sosial" yang dimintanya dariku minggu lalu.
Sebenarnya, aku sudah membelikan sebuah rumah yang sangat layak dan mewah untuk Ibu Rahma di pinggiran kota agar kami bisa memiliki privasi masing-masing setelah menikah. Namun, wanita paruh baya ini adalah tipe mertua parasit yang tidak tahu malu. Dengan dalih kesepian di rumah sendiri
atau ingin menemani menantunya yang sering ditinggal kerja, dia bisa bertamu dan menginap di rumahku selama berminggu-minggu tanpa pernah merasa sungkan. Dan suamiku, Aris, selalu membela ibunya dengan kalimat andalannya:
"Sayang, Ibu kan sudah sepuh. Tolong maklumi saja kalau Ibu ingin sering dekat dengan kita."
Dulu, aku membiarkannya karena rasa bersalahku yang belum bisa memberikan cucu. Namun sekarang, melihat wajahnya membuatku ingin muntah.
"Eh, Tita? Sudah pulang, Nduk?" sapa Ibu Rahma dengan senyum manis yang dipaksakan. Matanya langsung menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai apakah menantu kayanya ini membawa tas belanjaan baru yang bisa ia minta atau tidak.
"Iya, Bu. Baru saja sampai," jawabku sesopan mungkin, menekan rapat semua rasa muak yang bergolak di dadaku.
Ibu Rahma berjalan mendekat, lalu mendudukkan dirinya di sofa tepat di hadapanku. Ia menghela napas panjang dengan dramatis, sengaja memijat-mijat bahunya agar aku memperhatikannya.
"Aris sudah memberi kabar ke kamu kalau malam ini dia tidak pulang?" tanya Ibu Rahma, matanya melirikku dengan penuh selidik, mencoba membaca apakah aku mencurigai sesuatu atau tidak.
"Sudah, Bu. Mas Aris bilang ada masalah dengan suplier di restoran cabang ketiga," jawabku tenang, menyesap air dingin dari gelasku perlahan tanpa ada riak kepanikan di wajahku.
Ibu Rahma langsung mengangguk-angguk cepat, wajahnya tampak sangat lega mendengarkan jawabanku yang begitu tenang. "Nah, benar itu. Aris itu kalau sudah urusan kerjaan memang sangat bertanggung jawab, Nduk. Dia itu bekerja keras siang dan malam juga demi kamu, demi masa depan rumah tangga kalian. Sebagai istri, kamu harus maklum dan terus mendukung ya kalau suamimu jarang di rumah. Jangan malah dicurigai yang tidak-tidak."
"Tuntunya, Bu. Tita sangat mengerti kesibukan Mas Aris. Selama ini kan Tita juga yang menyokong usahanya," balasku sembari mengulas senyum tipis yang terlihat sangat tulus di matanya. Aku sengaja menekankan kata 'menyokong' untuk menyentilnya, meski wanita tua itu tampaknya terlalu bebal untuk menyadarinya.
"Ibu itu kadang kasihan melihat Aris," Ibu Rahma mulai melancarkan jurus manipulasi klasiknya. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat denganku, lalu memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Dia itu memikul beban batin yang berat sendirian, Tita. Apalagi... ya kamu tahu sendiri, pernikahan kalian sudah jalan lima tahun tapi belum ada tanda-tanda kehadiran cucu untuk Ibu dari rahimmu. Aris tidak pernah mengeluh di depanmu karena dia sangat menjaga perasaanmu. Tapi Ibu tahu, sebagai laki-laki, di dalam hatinya yang paling dalam dia sangat merindukan suara tangis bayi di rumah ini."
Aku menatap lurus ke dalam manik mata wanita paruh baya di hadapanku. Di dalam hati, aku bersorak melihat betapa tebalnya kulit wajah wanita ini. Dia berbicara tentang kerinduan Aris akan seorang anak dengan nada dramatis, seolah-olah dia tidak tahu bahwa saat ini anak yang dinantikannya itu sedang berkembang di dalam rahim Laras, dan dia sendiri yang mendampingi prosesi pernikahan sirinya di bawah tangan.
"Ibu benar," aku mengangguk pelan, memasang raut wajah bersalah yang sangat pasrah. "Tita juga merasa sangat bersalah karena kekurangan fisik Tita ini. Tita sering merasa gagal menjadi seorang istri yang sempurna untuk Mas Aris."
Melihat pancingannya berhasil membuatku merasa rendah diri, mata Ibu Rahma langsung berbinar senang. Ini adalah momen yang paling disukainya membuatku merasa bersalah agar aku semakin mudah dimintai uang sebagai bentuk "penebus dosa" karena tidak bisa memberikan keturunan.
"Ah, sudahlah, jangan terlalu bersedih. Ibu dan Aris kan sudah berbesar hati menerima kamu apa adanya meskipun kamu mandul," kata Ibu Rahma, menepuk-nepuk punggung tanganku dengan lembut. Sentuhan tangannya yang terasa palsu itu membuat bulu kudukku meremang jijik. "Tapi Tita... bicara tentang keluarga, Ibu mau meminta bantuanmu sedikit. Kemarin adik iparmu, Jessica, menelpon Ibu sambil menangis."
Aku menaikkan sebelah alisku, berpura-pura penasaran. "Ada apa dengan Jessica, Bu?"
"Itu... mertua Jessica kan sedang berulang tahun minggu depan. Jessica ingin sekali memberikan kesan yang baik di depan keluarga suaminya agar tidak diremehkan. Dia melihat ada tas bermerek di mall kemarin, harganya sekitar empat puluh lima juta rupiah. Jessica ingin sekali membelinya untuk kado mertuanya, tapi tabungannya tidak cukup. Kamu tahu sendiri kan, bisnis suaminya Jessica sedang agak seret akhir-akhir ini."
Ibu Rahma menatapku dengan mata penuh harap yang tamak, seolah-olah meminta uang empat puluh lima juta rupiah dariku adalah hal yang sepele seperti meminta garam di dapur tetangga.
"Jessica minta tolong ke Ibu, tapi uang bulanan dari kamu mana cukup untuk barang semewah itu. Jadi... Ibu pikir, tidak ada salahnya kalau Ibu minta tolong ke kamu. Bagi kamu yang punya perusahaan kosmetik sebesar Glowinc, uang empat puluh lima juta tentu tidak ada artinya, kan? Lagipula, ini juga demi menjaga nama baik keluarga kita di mata besan."
Aku menahan senyum sinisku agar tidak pecah. Menjaga nama baik keluarga? Keluarga parasit ini bahkan tidak memiliki nama baik sebelum aku menikahi Aris dan mengangkat derajat mereka dari kubangan utang. Dulu, sebelum menikah denganku, keluarga Aris dikejar-kejar oleh penagih utang karena ulah judi mendiang ayahnya. Akulah yang melunasi semua utang itu, membelikan Ibu Rahma rumah yang layak, membiayai pernikahan mewah Jessica, hingga memberi modal usaha untuk suami Jessica yang pemalas itu.
Dan sekarang, setelah semua yang kuberikan, mereka membalas kebaikanku dengan cara membiayai maduku menggunakan uangku sendiri, lalu masih berani meminta kado mewah seharga puluhan juta untuk pamer di depan besan mereka?
Benar-benar tidak tahu diri.
"Tentu saja, Bu. Jessica itu kan adik ipar Tita sendiri. Tita pasti akan bantu," jawabku dengan nada suara yang sangat manis dan penuh kepatuhan, memainkan peranku sebagai istri bodoh dengan sempurna.
"Ya ampun, Tita! Ibu sudah menduga kamu pasti akan membantu. Kamu memang menantu terbaik yang pernah ada!" Ibu Rahma langsung berseru gembira, wajah keriputnya tampak bercahaya seketika. Ia bahkan hampir memelukku, namun aku dengan halus menggeser dudukku dengan dalih ingin mengambil ponsel di atas meja.
"Tapi begini, Bu..." aku menjeda kalimatku, memasang raut wajah yang agak cemas dan tegang. "Kebetulan sekali, sore tadi manajer keuangan Glowinc Group baru saja menelpon Tita. Perusahaan kami sedang melakukan audit internal besar-besaran untuk persiapan ekspansi pasar ke luar negeri bulan depan."
"Audit internal? Maksudnya bagaimana, Tita?" tanya Ibu Rahma, kerutan di dahinya kembali dalam, mendadak merasa cemas saat mendengar istilah keuangan yang tidak dipahaminya.
"Artinya, seluruh aliran dana keluar dan masuk dari rekening pribadi Tita maupun rekening perusahaan sedang diawasi sangat ketat oleh tim auditor eksternal dan pihak pajak, Bu," jelasku dengan nada suara yang dibuat sekhawatir mungkin. "Pihak bank bahkan memberikan peringatan bahwa transaksi di atas sepuluh juta rupiah yang sifatnya konsumtif dan tidak ada hubungannya dengan bisnis harus ditangguhkan sementara waktu agar tidak memicu kecurigaan pihak pemeriksa pajak."
"Lho? Jadi... uang untuk kado Jessica bagaimana? Masa tidak bisa ditransfer?"
suara Ibu Rahma mendadak naik satu oktav, nada panik tidak bisa disembunyikannya lagi. Kehilangan kesempatan untuk mendapatkan barang gratisan dari menantu kayanya adalah mimpi buruk baginya.
"Ibu tenang saja," aku tersenyum menenangkan, menggenggam kembali tangan keriputnya yang kini terasa dingin karena panik. "Tita tidak akan membiarkan Jessica malu di depan mertuanya. Tita punya solusi lain yang jauh lebih aman dari pemeriksaan pajak. Bagaimana kalau besok Tita mengirimkan beberapa voucher belanja dari salah satu butik mewah rekanan Glowinc ke rumah Jessica? Voucher itu bernilai lima puluh juta rupiah. Jessica bisa menggunakannya untuk mengambil tas apa saja yang dia suka di butik tersebut tanpa perlu menggunakan transaksi tunai atau transfer rekening yang bisa dicurigai pihak bank."
Mendengar angka lima puluh juta rupiah yang bahkan lebih besar dari permintaan awalnya mata Ibu Rahma kembali melebar penuh ketamakan.
Kepanikan di wajahnya menguap seketika, digantikan oleh senyuman lebar yang sangat menjijikkan.
"Voucher lima puluh juta? Oh, tentu saja boleh, Nduk! Malah itu jauh lebih praktis dan bagus! Jessica pasti akan senang sekali!" seru Ibu Rahma dengan suara riang. "Ibu benar-benar bangga punya menantu yang cerdas dan kaya seperti kamu, Tita. Masalah keuangan begini saja kamu langsung punya solusinya."
"Sama-sama, Bu. Apapun akan Tita lakukan demi kebahagiaan keluarga Mas Aris," jawabku lembut, sembari dalam hati membisikkan kalimat kelanjutannya,
Nikmati saja kesenangan semu ini, Ibu Rahma. Karena voucher itu adalah umpan terakhir yang kukirimkan untuk menjerat kalian ke dalam lubang kehancuran yang tak berdasar.
Voucher belanja butik itu memang nyata, namun apa yang tidak Ibu Rahma dan Jessica ketahui adalah bahwa butik rekanan tersebut adalah milik sahabat baikku sendiri. Besok, aku akan meminta sahabatku untuk memastikan bahwa Jessica memilih tas terbaik, namun faktanya, setiap transaksi menggunakan voucher khusus itu akan tercatat sebagai utang piutang atas nama pribadi Jessica yang jaminannya akan kupegang secara hukum di bawah meja melalui perjanjian pengalihan piutang.
Mereka ingin bermain-main dengan uangku? Maka aku akan memastikan mereka membayar setiap rupiahnya dengan harga diri mereka yang paling murah.
"Ibu mau ke kamar tamu dulu ya, Nduk. Mau langsung telepon Jessica memberikan kabar gembira ini. Dia pasti tidak akan bisa tidur saking senangnya," pamit Ibu Rahma, tergesa-gesa berdiri dari sofa sambil memegangi kalung emas barunya.
"Silakan, Bu. Sampaikan salam Tita untuk Jessica," jawabku sopan.
Begitu sosok Ibu Rahma menghilang di balik pintu kamarnya di lantai bawah, senyuman manis di wajahku runtuh seketika. Berganti dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi. Aku mengambil gelas air dingin di atas meja, meneguknya hingga tandas untuk membasuh rasa mual yang sedari tadi kutahan setengah mati di kerongkonganku akibat mencium aroma kemunafikan yang begitu pekat di rumah ini.
Aku meraih kembali ponselku, membuka aplikasi obrolan, dan mengirimkan pesan singkat kepada Siska.
Tita:
"Siska, besok pagi-pagi sekali, kirimkan voucher belanja butik La Rose senilai 50 juta rupiah ke alamat rumah Jessica. Pastikan tim hukum kita sudah menyiapkan dokumen perjanjian pengalihan piutang di bawah tangan yang menyertai voucher tersebut. Biarkan dia menandatanganinya tanpa membaca detail klausulnya."
Tidak butuh waktu lama bagi asisten pribadiku yang efisien itu untuk membalas.
Siska:
"Baik, Bu Tita. Semua dokumen sudah saya siapkan dan akan dikirim besok pagi menggunakan kurir khusus. Bagaimana dengan rencana penarikan jaminan ruko restoran Pak Aris?"
Aku menatap layar ponsel dengan senyum dingin yang perlahan mengembang di bibirku.
Tita:
"Laksanakan besok siang, tepat saat jam makan siang restoran sedang ramai-ramainya. Aku ingin Aris mendapatkan kejutan kecil di tengah kesibukannya mengurus suplier fiktifnya."
Aku mematikan layar ponsel, melemparkannya ke atas sofa, lalu menyandarkan kepalaku ke sandaran sofa yang empuk. Malam ini, di rumah megah yang sunyi ini, aku akan tidur dengan sangat nyenyak meskipun suamiku sedang memeluk wanita lain di luar sana. Biarkan Aris memeluk kebohongannya di apartemen lain, dan biarkan mertuaku bermimpi tentang kemewahan yang sebentar lagi akan kuubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan dalam hidup mereka.
Permainan baru saja dimulai, dan akulah yang memegang kendali penuh atas papan caturnya.
Sinar matahari siang ini bersinar sangat terik, membakar aspal jalanan ibu kota yang padat merayap. Di dalam mobil sedan mewahku yang ber-AC dingin, aku duduk dengan tenang sembari menatap ke luar jendela. Siska duduk di kursi kemudi, sesekali melirik spion tengah untuk memastikan keadaanku. Di sampingnya, sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tergeletak rapi.
Hari ini adalah hari yang ku hindari selama lima tahun pernikahan kami, namun sekaligus hari yang paling ku nantikan sejak kemarin sore. Hari di mana aku akan menarik seutas benang pertama dari rajutan kemewahan yang selama ini ku nikmati bersama suamiku.
"Kita sudah hampir sampai di ruko pusat Aris Kitchen, Bu Tita," lapor Siska lembut sembari membelokkan setir ke arah kawasan kuliner elite di daerah Jakarta Selatan. "Sesuai instruksi Ibu, tim legal kita dan perwakilan dari pihak Bank Yudha sudah bersiap di sana sejak sepuluh menit yang lalu. Mereka menunggu aba-aba dari Ibu."
Aku melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan kiriku. Pukul 12.15 siang. Ini adalah puncak jam makan siang. Waktu di mana restoran kuliner milik Aris dipastikan sedang penuh sesak oleh para pekerja kantoran yang mencari makan siang atau mengadakan rapat kasual.
"Bagus sekali, Sis. Mari kita beri suamiku kejutan kecil yang tidak akan pernah dia lupakan," jawabku sembari mengulas senyum tipis.
Saat mobil kami terparkir tidak jauh dari ruko berlantai tiga itu, aku bisa melihat antrean pengunjung yang mengular hingga ke area teras luar. Banner bertuliskan Aris Kitchen - Cita Rasa Nusantara terpampang megah dengan lampu neon yang menyala terang. Ruko ini berdiri di lokasi paling strategis dengan harga sewa dan beli yang sangat fantastis. Dulu, Aris memohon-mohon padaku dengan mata berkaca-kaca agar aku mau meminjamkan sertifikat ruko milik anak perusahaan Glowinc Group sebagai jaminan ke bank agar dia bisa mendapatkan pinjaman modal usaha.
"Tita, demi harga diriku sebagai suamimu, aku ingin membuktikan kalau aku bisa sukses. Tolong bantu aku sekali ini saja. Aku janji tidak akan mengecewakanmu," rona wajah memelas nya saat itu kembali melintas di benakku, membuatku ingin tertawa sinis. Aku yang saat itu begitu bodoh dan dibutakan oleh cinta, tanpa ragu menandatangani surat penjaminan aset tanpa tahu bahwa ruko ini kelak akan menjadi saksi pengkhianatan nya.
Aku turun dari mobil, merapikan blazer satin berwarna krem yang ku kenakan, lalu melangkah anggun memasuki restoran. Siska mengekor di belakangku dengan langkah tegas.
Begitu melangkah masuk, aroma harum bumbu rempah dan riuh rendah suara pengunjung langsung menyambut indra pendengaranku. Di dekat meja kasir, tampak Aris sedang berdiri gagah dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sedang tersenyum lebar sembari menyapa beberapa pelanggan pentingnya. Penampilannya sangat rapi, bersih, dan memancarkan aura pria sukses yang mandiri.
"Eh, Tita?" Aris menyadari kehadiranku. Matanya membelalak kaget, namun sedetik kemudian ia langsung memasang senyum paling manis yang ia miliki dan bergegas menghampiriku. "Sayang, kok kamu tiba-tiba ke sini? Nggak memberi kabar dulu ke Mas. Tahu gitu kan Mas jemput di lobi kantor."
Ia mengulurkan tangannya, berniat memeluk pinggangku dan mencium keningku seperti biasa di depan para karyawannya untuk memamerkan betapa harmonisnya hubungan kami. Namun, dengan gerakan yang sangat halus, aku mengangkat tangan kananku untuk merapikan rambutku yang sebenarnya tidak berantakan, menghindari kontak fisiknya secara elegan.
"Aku kebetulan sedang ada pertemuan dengan klien di dekat sini, Mas. Jadi sekalian mampir untuk makan siang," jawabku dengan nada suara semanis mungkin, menyembunyikan kilat dingin di mataku.
"Oh, begitu. Pas banget, Mas minta koki siapin menu spesial buat kamu ya? Tapi maaf banget, siang ini meja VIP penuh semua. Kamu mau tunggu di ruangan kerja Mas saja?" tanya Aris dengan nada penuh perhatian yang terdengar sangat menjijikkan di telingaku setelah apa yang ku ketahui tentangnya.
Sebelum aku sempat menjawab, pintu masuk restoran kembali terbuka. Tiga orang pria berpakaian formal dengan setelan jas gelap melangkah masuk. Salah satu di antaranya adalah Pak Harris, kepala divisi legal dari Bank Yudha yang sangat kukenal, didampingi oleh dua stafnya yang membawa map dokumen berlogo bank resmi.
Kehadiran mereka yang mencolok langsung menarik perhatian beberapa pengunjung terdekat. Wajah Aris yang tadinya cerah mendadak berubah agak tegang saat mengenali logo bank pada map yang dibawa orang-orang tersebut.
"Selamat siang, Pak Aris Pratama," sapa Pak Harris dengan nada formal yang tegas.
"S-selamat siang, Pak Harris," jawab Aris terbata, matanya melirik cemas ke arahku sejenak sebelum kembali menatap perwakilan bank tersebut. "Ada apa ya, Pak? Bukankah jadwal pembayaran angsuran pinjaman restoran kami baru jatuh tempo minggu depan? Dan saya selalu membayar tepat waktu."
Pak Harris tersenyum tipis, lalu membuka map dokumen di tangannya. "Benar, Pak Aris. Pembayaran angsuran Anda memang lancar. Namun kedatangan kami ke sini hari ini bukan terkait angsuran bulanan, melainkan terkait jaminan aset ruko ini."
Dahi Aris berkerut dalam. Keringat dingin mulai tampak sebesar biji jagung di pelipisnya. "Jaminan? Maksudnya bagaimana ya? Jaminan ruko ini kan aman."
"Mohon maaf, Pak Aris. Berdasarkan surat permohonan resmi yang kami terima pagi ini dari pemilik sah aset ruko ini, yaitu Glowinc Group yang diwakili secara sah oleh Ibu Tita selaku CEO," Pak Harris melirik ke arahku dengan hormat, pihak penjamin telah memutuskan untuk menarik kembali sertifikat hak milik ruko ini sebagai jaminan atas pinjaman modal usaha Aris Kitchen."
Deg.
Aku bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana warna kulit di wajah Aris memucat seketika. Matanya melebar, menatapku dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan kepanikan yang luar biasa. Tubuhnya bahkan sempat limbung sedikit sebelum ia mencengkeram pinggiran meja kasir untuk menopang berat badannya.
"T-Tita? Apa-apaan ini? Kamu... menarik jaminan ruko ini?" bisik Aris dengan suara bergetar, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh para pelanggan yang mulai melirik ke arah kami dengan rasa penasaran.
Aku memasang raut wajah yang sangat terkejut, panik, dan bingung. Aktingku benar-benar sempurna, bahkan bisa menyamai kualitas aktris papan atas.
"Lho, Mas... kamu belum tahu?" tanyaku dengan nada suara yang bergetar seolah aku juga menjadi korban di sini. Aku memegangi lengan Aris dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Kemarin kan aku sudah sempat bilang ke Mama Rahma di rumah kalau perusahaan kita sedang diaudit ketat oleh tim eksternal dan pihak pajak untuk persiapan ekspansi ke luar negeri. Semua aset pribadi dan perusahaan yang diagunkan di luar kepentingan langsung Glowinc Group harus segera ditarik dan dibersihkan dari catatan perbankan minggu ini juga, Mas! Kalau tidak, lisensi ekspansi kita bisa dibatalkan oleh kementerian perdagangan!"
"Tapi... tapi tidak bisa mendadak seperti ini, Tita!" suara Aris mulai naik karena panik, membuat kasir restoran dan beberapa pelayan menghentikan aktivitas mereka untuk menonton. "Kalau sertifikat ruko ini ditarik dari bank, pihak bank akan menuntut aku untuk segera melunasi sisa pinjaman modal sebesar tiga miliar rupiah dalam waktu tiga puluh hari! Atau... atau semua cabang Aris Kitchen lainnya akan disita sebagai gantinya! Kamu tahu sendiri kan kalau sisa uang kas restoran tidak sebanyak itu!"
Aku menatap suamiku dengan pandangan penuh rasa bersalah yang sangat palsu. Di dalam hati, aku ingin sekali tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan yang begitu indah terpancar dari wajah pengkhianat ini. Tiga miliar rupiah. Tentu saja dia tidak punya uang sebanyak itu. Sebagian besar keuntungan restorannya selama ini habis ia gunakan untuk membelikan apartemen mewah untuk Laras, mentransfer uang puluhan juta setiap bulan ke rekening selingkuhannya, membiayai gaya hidup mewah ibu mertuaku, dan membelikan mobil baru untuk adik iparnya, Jessica.
"Ya ampun, Mas... aku benar-benar minta maaf," kataku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, meremas jemarinya yang kini terasa sangat dingin dan gemetar.
"Aku tidak tahu kalau dampaknya akan seberat itu untuk bisnismu. Tapi manajer keuanganku bilang, ini adalah aturan hukum mutlak dari sistem audit perbankan. Aku tidak bisa mengintervensinya sama sekali karena semua keputusan ada di tangan dewan komisaris perusahaan."
Aku melirik ke arah Siska, yang langsung mengerti kodenya dan melangkah maju membawa map cokelat dari mobil tadi.
"Pak Aris," Siska menyela dengan nada suara profesionalnya yang dingin. "Sesuai dengan perjanjian di bawah tangan yang Bapak tandatangani lima tahun lalu saat peminjaman aset ruko ini, pihak Glowinc Group memiliki hak mutlak untuk menarik kembali jaminan aset kapan pun jika diperlukan untuk kepentingan mendesak perusahaan tanpa perlu persetujuan dari pihak kedua. Dokumen penarikan ini sudah sah secara hukum perdata."
Aris menatap dokumen yang disodorkan Siska dengan tangan gemetar. Ia tampak seperti seorang pria yang baru saja dijatuhi hukuman mati. Semua aura kesuksesan, kegagahan, dan kesombongan yang tadi ia pamerkan di depan para pelanggannya menguap tanpa sisa dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Pak Aris, kami memberikan waktu paling lambat tiga hari kerja bagi Bapak untuk datang ke kantor pusat Bank Yudha guna menandatangani dokumen pengalihan jaminan baru atau mengajukan skema pelunasan dipercepat," kata Pak Harris tegas sembari merapikan kembali dokumen-dokumennya. "Jika dalam waktu tiga hari tidak ada kejelasan, kami terpaksa akan membekukan sementara rekening operasional Aris Kitchen demi keamanan aset bank."
"Tiga... tiga hari?" gumam Aris dengan suara yang nyaris habis.
"Benar, Pak. Kami permisi dulu. Selamat siang," pamit Pak Harris dan timnya, meninggalkan restoran dengan langkah tegap.
Suasana di area kasir mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara mesin pembuat kopi yang berdengung di latar belakang. Beberapa pelanggan di meja terdekat tampak berbisik-bisik sembari menatap Aris dengan pandangan iba sekaligus penasaran. Aris, sang pemilik restoran sukses yang biasa dipuja-puja, kini berdiri mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
Aku mendekatinya, mengusap bahunya dengan lembut, pura-pura memberikan ketenangan yang sebenarnya adalah racun yang mematikan.
"Mas... kamu yang sabar ya. Aku yakin kamu pasti bisa melewati masalah ini. Kamu kan pengusaha yang hebat," bisikku lembut di telinganya, menyuntikkan sanjungan palsu yang akan membuatnya semakin merasa tertekan di dalam batinnya. "Oh iya, karena suasananya sedang tidak kondusif, sepertinya aku tidak jadi makan siang di sini. Aku harus segera kembali ke kantor untuk mengurus sisa berkas audit kita."
Aris tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan pandangan kosong, kepalanya dipenuhi oleh bayang-bayang utang tiga miliar rupiah yang harus ia lunasi dalam waktu tiga puluh hari, serta ancaman pembekuan rekening bisnis yang bisa menghancurkan seluruh usaha kulinernya dalam semalam.
"Aku pamit dulu ya, Mas. Jaga kesehatanmu," kataku sembari memberikan kecupan ringan di pipinya kecupan yang terasa sedingin es.
Aku berbalik dan melangkah keluar dari restoran dengan langkah kaki yang anggun dan mantap. Siska berjalan di sampingku, menutup pintu kaca restoran di belakang kami.
Begitu kami masuk kembali ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, menyaring seluruh kebisingan dunia luar, aku bersandar di kursi dan menghela napas panjang. Rasa mual yang kurasakan sejak semalam mendadak hilang, digantikan oleh kepuasan yang luar biasa yang menjalar di setiap aliran darahku.
"Kerja bagus, Siska," kataku dengan nada suara dingin yang kembali menguasai diriku.
"Terima kasih, Bu Tita," jawab Siska sembari menyalakan mesin mobil.
"Bagaimana dengan langkah selanjutnya? Apakah kita akan menunggu respons dari Pak Aris?"
"Tentu saja," aku tersenyum sinis, menatap ruko Aris Kitchen dari balik kaca mobil yang gelap. "Aris pasti akan segera menelpon ibunya atau mencoba mencari pinjaman dana dari relasi-relasinya yang sebenarnya tidak seberapa itu. Dia akan menyadari bahwa tanpa jaminan namaku, tidak ada satu pun bank atau kolega bisnis yang mau meminjamkan uang satu sen pun padanya."
Aku mengambil ponselku, mengetik pesan singkat untuk asisten rumah tanggaku di rumah.
Tita.
"Bik, tolong siapkan makan malam yang istimewa untuk malam ini. Mas Aris pasti akan pulang dengan wajah lelah, dan aku ingin menyambut suamiku tercinta dengan senyuman terbaikku."
Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam tas. Aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana Aris akan bersikap di depanku nanti malam. Ia akan berpura-pura menjadi suami yang tegar, menyembunyikan badai besar yang sedang menghantam bisnisnya, sementara aku akan terus tersenyum manis sembari perlahan-lahan mengencangkan tali jerat di lehernya hingga dia benar-benar kehabisan napas keuangan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!