Bab 1
Bangun
Kertas berstempel notaris itu menghantam pipi Nadhira tepat saat ia membuka mata.
Sisi kiri wajahnya sudah lebam. Sentuhan ringan kertas tebal itu tetap membuat kulitnya berdenyut sampai ke pelipis. Bau minyak kayu putih bercampur amis darah kering memenuhi kamar sempit. Di pergelangan tangannya masih menempel bekas plester infus dari IGD, sementara daster lusuh yang ia kenakan robek di bagian bahu.
"Tanda tangan sekarang!"
Suara Bu Sumini terasa seperti paku yang dipukul ke dalam kepalanya.
Nadhira mencoba bangun. Kasur tipis di bawah punggungnya berderit. Pandangannya berputar sesaat, memperlihatkan dinding lembap, lemari plastik yang pintunya tak bisa menutup, dan seorang bocah kecil yang meringkuk di sudut dekat kipas angin mati.
Alif.
Anak itu memeluk mobil-mobilan merah yang salah satu rodanya sudah hilang. Pipi bulatnya basah. Bahunya naik turun menahan tangis, tetapi suara isaknya tetap lolos.
"Mama..."
Satu kata itu membelah kabut di kepala Nadhira.
Ingatan datang tanpa permisi. Sebagian terasa dekat seperti luka di tubuhnya sendiri. Sebagian lagi terasa asing, seolah kehidupan seorang perempuan lain dituangkan paksa ke dalam pikirannya.
Hendra Wijaya, suaminya, meninggal tiga bulan lalu. Sejak itu, rumah keluarga Wijaya berubah menjadi kandang sempit bagi Nadhira dan putranya. Uang santunan diambil Bu Sumini. Kartu ATM disimpan Agus. Bahkan bantuan belanja untuk Alif harus diminta dengan kepala tertunduk.
Kemarin sore, Nadhira menolak menyerahkan salinan akta kepemilikan saham milik Hendra. Agus mencengkeram lengannya. Bu Sumini mendorongnya sampai pelipisnya membentur sudut meja. Setelah itu hanya ada kilatan putih, suara Alif menjerit, lalu gelap.
Namun, ada hal-hal yang tidak cocok dengan kehidupan itu.
Ia tahu cara membaca susunan saham dalam perseroan. Ia memahami perbedaan harta bersama dan harta warisan. Ia bahkan tahu bahwa tanda tangan pada surat di pangkuannya akan memindahkan hak yang seharusnya juga melindungi masa depan Alif.
Pengetahuan itu bukan milik Nadhira yang kemarin.
"Jangan melongo!" Bu Sumini membentak. "Kami membawa kamu ke IGD, bayar obat, bawa kamu pulang. Bukannya berterima kasih, kamu malah bikin kami menunggu sejak pagi."
Di sisi ranjang, Agus berdiri dengan kaus hitam dan tangan terlipat di dada. Tubuhnya menutupi cahaya dari jendela. Di atas meja kecil terdapat setumpuk dokumen rapi di dalam map kulit berwarna cokelat, jauh lebih mahal daripada seluruh pakaian Nadhira yang tergantung di belakang pintu.
Nadhira menatap lembar pertama.
Surat kuasa pengalihan saham.
Nama Agus Wijaya tercetak sebagai penerima kuasa.
"Pulpen," ujar Agus.
Ia melempar sebuah pulpen ke kasur. Benda itu menggelinding dan berhenti di dekat lutut Nadhira.
"Mas Hendra baru meninggal," kata Nadhira. Suaranya serak, namun tidak lagi bergetar. "Kenapa sahamnya harus segera dialihkan kepadamu?"
Agus mengerutkan dahi. Seolah tak menyangka perempuan yang biasanya menunduk itu mampu mengajukan pertanyaan.
"Karena itu usaha keluarga kami. Hendra cuma menjalankannya sementara."
"Kalau begitu, tunjukkan akta yang menyatakan saham itu milik keluarga, bukan milik Mas Hendra."
Ruangan mendadak sunyi.
Tangis Alif pun mengecil. Bocah itu mengintip dari balik lengannya, memandang ibunya dengan mata merah.
Bu Sumini yang pertama kali bereaksi. "Sejak kapan kamu berani menginterogasi kami? Kamu itu cuma menantu. Hendra sudah tidak ada. Kamu tidak punya urusan lagi dengan milik keluarga Wijaya."
Nadhira menurunkan kaki dari kasur. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin. Lututnya hampir lemas, tetapi ia menahan tepi ranjang sampai pandangannya kembali jernih.
"Saya janda sah Mas Hendra. Alif anak kandungnya." Ia menoleh kepada bocah di sudut. "Apa pun bagian waris kami, tidak akan saya serahkan tanpa pemeriksaan notaris dan penasihat hukum."
Bu Sumini tertawa pendek. "Penasihat hukum? Makan saja masih menumpang di rumahku. Uang dari mana kamu membayar pengacara?"
"Itu urusan saya."
"Urusanmu?"
Perempuan tua itu maju, lalu menyambar dagu Nadhira. Kukunya menekan kulit yang lebam.
"Dengar baik-baik. Selama menikah, kamu tidak menghasilkan apa-apa. Hanya melahirkan anak yang terus menangis dan menghabiskan uang. Sekarang kamu mau mengambil perusahaan anakku juga? Tidak tahu malu!"
Nadhira mencium aroma kopi pahit dari napasnya. Tubuh lama ini mengenali ancaman tersebut. Bahunya refleks menguncup, napasnya tertahan, dan jemarinya menjadi dingin.
Di dalam ingatannya, perempuan yang dulu selalu meminta maaf sudah bersiap menangis.
Nadhira yang sekarang mengangkat tangan dan melepaskan cengkeraman itu satu jari demi satu jari.
"Jangan sentuh saya."
Bu Sumini tersentak mundur. "Apa?"
"Kemarin Bu Sumini mendorong saya sampai pingsan. Alif melihat semuanya." Nadhira menyentuh bekas plester infus di tangannya. "Kalau hari ini ada kekerasan lagi, saya akan minta visum dan melapor."
Wajah Agus berubah. Ia melangkah maju begitu cepat hingga ranjang kembali berderit saat Nadhira mundur setengah langkah.
"Kamu mengancam Ibu?"
"Saya menyebut konsekuensi."
"Sok pintar!"
Tangannya terangkat, tetapi Alif tiba-tiba berlari dari sudut kamar. Bocah itu memeluk betis Nadhira sambil mengacungkan mobil-mobilan rusaknya kepada Agus.
"Jangan Mama!"
Suara kecil itu pecah di akhir. Seluruh tubuhnya gemetar.
Nadhira segera membungkuk, mengabaikan nyeri yang menyambar rusuknya. Ia merangkul kepala Alif dan menutupi bocah itu dengan tubuhnya.
"Mama di sini, Nak."
"Takut..."
"Lihat Mama." Nadhira mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari. "Tarik napas. Pelan-pelan."
Alif berusaha mengikuti, tetapi bibirnya masih bergetar. Kedua tangannya mencengkeram daster Nadhira, seolah ibunya bisa direnggut kapan saja.
Rasa panas menjalar di dada Nadhira. Bukan hanya marah. Ada sesuatu yang lebih tajam, naluri untuk berdiri di depan anak ini meski kedua kakinya sendiri belum kuat.
Ia mengangkat wajah kepada Agus.
"Keluar dari kamar."
Agus sempat terdiam, lalu tertawa tak percaya. "Ini rumah keluarga Wijaya. Kamu yang seharusnya keluar."
"Baik." Nadhira meraih map cokelat dan menutupnya. "Saya dan Alif akan pergi setelah kondisi saya memungkinkan. Dokumen ini tetap di sini, tanpa tanda tangan saya."
Bu Sumini merebut map itu dari tangannya. "Kamu pikir bisa membawa cucuku pergi?"
"Alif anak saya."
"Dia darah Hendra!"
"Dan saya ibunya."
Setiap jawaban Nadhira membuat suara Bu Sumini semakin tinggi. Dari ruang depan terdengar langkah sandal berhenti di dekat jendela. Mungkin tetangga mulai mendengarkan. Bu Sumini melirik ke arah pintu, lalu mendadak menepuk dadanya sendiri.
"Ya Allah, menantu macam apa ini?" ratapnya dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Anakku baru meninggal, sekarang jandanya mau mencuri harta dan membawa lari cucuku!"
Agus membuka pintu kamar lebar-lebar. Dua bayangan bergerak di balik tirai ruang tengah. Penonton telah tersedia, persis seperti yang diinginkan Bu Sumini.
Nadhira berdiri sambil tetap menggendong Alif. Tubuh bocah itu ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Tulang punggung kecilnya terasa jelas di bawah kaus tipis.
"Kalau Bu Sumini yakin saya mencuri, kita selesaikan di depan notaris atau pengadilan," kata Nadhira. "Bukan dengan memaksa perempuan yang baru pulang dari IGD menandatangani surat."
Ratapan Bu Sumini berhenti seketika.
Agus mengambil pulpen dari kasur dan mendorong ujungnya ke dada Nadhira. "Tanda tangan, atau kamu dan anakmu tidak dapat satu rupiah pun dari rumah ini."
Alif merengek, "Mama, pergi..."
Nadhira mengecup rambutnya. "Kita akan pergi, Sayang."
Lalu ia menatap Agus tanpa menghindar.
"Saya tidak akan menandatanganinya."
Otot di rahang Agus bergerak. Ia meraih pergelangan tangan Nadhira, mencoba menariknya menuju meja. Nadhira memutar tubuh agar Alif tidak terjepit. Nyeri tajam meledak dari bahu sampai siku.
"Lepaskan!"
"Tanda tangan dulu!"
Bu Sumini menyambar dokumen, membukanya pada halaman terakhir, dan menaruhnya di meja. "Pegang tangannya, Gus. Kalau perlu pakai cap jempol. Dia sudah tidak waras sejak Hendra meninggal."
Nadhira menendang kaki meja. Gelas air jatuh dan pecah. Suaranya membuat orang-orang di ruang depan tersentak.
Agus melepaskan tangannya sesaat. Nadhira mundur sambil memeluk Alif erat. Napasnya terengah, rambut menempel pada pelipis yang berkeringat, tetapi matanya tetap mengunci dua orang di hadapannya.
"Sentuh kami lagi," katanya, "dan semua tetangga akan menjadi saksi."
Bu Sumini menoleh ke pintu terbuka. Wajahnya memerah karena tipuannya justru berbalik menjadi ancaman. Ia melangkah cepat, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke arah pipi Nadhira yang sudah lebam.
"Cukup."
Bab 2
Tamu Tak Diundang
Tangan Bu Sumini membeku beberapa sentimeter dari wajah Nadhira.
Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu kamar. Kemeja putihnya rapi tanpa satu lipatan pun, begitu bertolak belakang dengan dinding kusam dan pecahan gelas di lantai. Wajahnya datar. Hanya sorot matanya yang bergerak dari telapak Bu Sumini yang terangkat, pergelangan Nadhira yang memerah, lalu Alif yang gemetar dalam pelukan ibunya.
Di belakangnya ada pria lain membawa map hitam dan bingkisan berlogo Pradipta Group.
Bu Sumini buru-buru menurunkan tangan. "Pak Rayhan?"
Nama itu menarik satu potongan ingatan ke permukaan. Rayhan Pradipta, CEO Pradipta Group dan mantan atasan Hendra. Nadhira pernah melihat wajahnya dalam foto acara perusahaan, selalu berada di tengah barisan pejabat dengan ekspresi yang sama sulit dibaca.
Mengapa pria seperti itu datang ke rumah sempit ini?
Rayhan tidak menjawab pertanyaan Bu Sumini. "Apa yang terjadi?"
Suaranya tidak keras. Namun, dua tetangga yang mengintip dari ruang tengah langsung menyingkir dari pintu.
"Tidak ada apa-apa." Agus bergerak menutupi meja. "Ini urusan keluarga."
Pria di belakang Rayhan melirik pecahan gelas. "Urusan keluarga biasanya tidak membuat orang yang baru pulang dari IGD hampir dipukul lagi."
Agus menegang. "Anda siapa?"
"Gilang Mahendra." Ia tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Asisten Pak Rayhan."
Bu Sumini mendadak mengusap dada. Matanya memerah dengan kecepatan yang mengagumkan.
"Pak Rayhan, untung Anda datang." Suaranya berubah parau. "Tolong nasihati menantu saya. Sejak Hendra meninggal, dia seperti bukan dirinya sendiri. Dia mau mengambil semua harta anak saya, membawa cucu saya pergi, bahkan barusan menendang meja untuk menyerang kami."
Nadhira tidak menyela. Ia hanya mengusap punggung Alif, merasakan napas bocah itu masih tersendat di lehernya.
Rayhan memandang lantai. Pecahan gelas tersebar menjauhi kaki meja, bukan mengarah kepada Bu Sumini. Ujung pulpen tergeletak dekat sandal Agus. Di meja, halaman tanda tangan pada surat kuasa masih terbuka.
"Kalau Ibu yang diserang," katanya, "mengapa tangan Ibu yang terangkat?"
Mulut Bu Sumini terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Agus menyambar, "Dia menghina Ibu saya. Saya hanya meminta dia menyelesaikan dokumen peninggalan adik saya."
"Dengan memegang tangannya?"
"Dia keras kepala."
"Itu bukan jawaban."
Tiga kalimat pendek tersebut membuat wajah Agus mengeras. Namun, ia tidak berani maju. Jas mahal memang tidak dikenakan Rayhan pagi itu, tetapi kewibawaan pria tersebut memenuhi kamar lebih kuat daripada ancaman apa pun yang sejak tadi dilontarkan Agus.
Nadhira menggeser Alif ke satu sisi pinggang. Gerakan itu membuat rusuknya nyeri. Ia menarik napas pelan, lalu menatap Rayhan.
"Maaf, Anda datang untuk apa?"
Pertanyaan itu membuat Gilang mengangkat alis. Mungkin ia mengira Nadhira akan langsung meminta perlindungan. Rayhan justru menatapnya lebih saksama.
"Perusahaan menerima laporan bahwa keluarga Hendra belum mendapat penjelasan lengkap mengenai santunan dan kepemilikan sahamnya," jawab Rayhan. "Saya datang untuk memastikan semuanya diterima pihak yang berhak."
Bu Sumini segera menyahut, "Saya ibunya. Berikan saja kepada saya. Nanti saya yang atur."
"Ahli waris tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat meminta."
Rayhan menoleh kepada Gilang. Sang asisten membuka map hitam dan mengeluarkan sebuah amplop tersegel.
"Data awal mencantumkan Nadhira sebagai istri sah dan Alif sebagai anak kandung Hendra," lanjut Rayhan. "Pembagian final harus melalui proses yang benar. Tidak boleh ada pengalihan sebelum hak tiap ahli waris diperiksa."
Nadhira merasakan tubuh Agus bergerak gelisah di dekat meja.
"Surat itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan Anda," katanya.
"Kalau begitu, Anda tidak keberatan bila saya membacanya."
Agus langsung meraih dokumen. Nadhira lebih cepat. Ia mengambil dua lembar yang terlepas dari map cokelat, lalu menyodorkannya kepada Rayhan.
Ujung jemari mereka tidak bersentuhan. Rayhan menerima kertas itu dengan hati-hati, seolah memahami bahwa satu gerakan mendadak saja bisa membuat Alif kembali menangis.
Tatapannya bergerak dari judul surat sampai nama penerima kuasa. Semakin lama ia membaca, semakin dingin wajahnya.
"Gilang."
Gilang sudah mengeluarkan ponsel. Ia memotret halaman pertama dan halaman tanda tangan.
"Hei!" Agus hendak merebut kertas tersebut. "Kalian tidak boleh sembarangan mengambil foto dokumen keluarga!"
Rayhan hanya mengangkat mata. Langkah Agus berhenti sendiri.
"Dokumen ini meminta seorang perempuan yang baru mengalami cedera kepala menyerahkan seluruh wewenang atas saham mendiang suaminya," kata Rayhan. "Tidak ada penjelasan nilai saham, tidak ada saksi independen, dan tidak ada penasihat hukum untuk pihak yang memberi kuasa. Anda ingin menjelaskan bagian mana yang wajar?"
Agus mengepalkan tangan. "Hendra adik saya. Saya yang paling tahu usahanya."
"Kalau demikian, tunjukkan catatan kepemilikan dan selesaikan melalui notaris. Bukan di kamar orang sakit."
Bu Sumini mulai menangis. Kali ini ia benar-benar mengeluarkan air mata, meski tangisnya masih diarahkan ke ruang tengah agar para tetangga mendengar.
"Semua orang menuduh kami serakah. Padahal saya hanya menjaga peninggalan anak saya. Janda ini berubah sejak Hendra meninggal. Dia tidak menghormati saya lagi."
Alif mengangkat wajah dari bahu Nadhira. "Nenek dorong Mama."
Kalimatnya pendek dan cadel karena tangis, tetapi cukup jelas.
Ruangan kembali diam.
Bu Sumini menatap cucunya. "Alif, jangan bohong!"
Bocah itu tersentak dan segera menyembunyikan wajah.
Nadhira memeluknya lebih erat. "Jangan bentak anak saya."
Bu Sumini maju satu langkah. "Dia cucuku!"
Rayhan berpindah posisi. Hanya satu gerakan kecil, tetapi kini tubuhnya berada di antara Bu Sumini dan Nadhira.
"Anak itu ketakutan," katanya. "Mundur."
"Pak Rayhan tidak tahu sifat menantu saya."
"Saya tahu apa yang saya lihat saat masuk."
Bu Sumini menggigit bibir. Tatapannya berpindah antara Rayhan dan pintu, menghitung berapa banyak orang yang menyaksikan kegagalannya.
Gilang menutup map hitam. "Bu Nadhira perlu beristirahat. Kita bisa membahas dokumen perusahaan setelah kondisinya diperiksa kembali."
Itu pertama kalinya pagi ini seseorang menyebut kebutuhan Nadhira seolah hal tersebut penting.
Tenggorokannya mengencang. Ia menunduk dan pura-pura merapikan kaus Alif agar tak seorang pun melihat perubahan wajahnya.
Rayhan mengembalikan dua lembar surat kepadanya. "Simpan salinannya. Jangan tanda tangani dokumen apa pun sebelum dibaca orang yang memahami akibat hukumnya."
Nadhira mengangguk. "Saya mengerti."
"Kondisi Anda?"
"Masih pusing, tetapi saya sadar penuh."
Rayhan melirik lebam di pipinya. "Siapa yang membawa Anda ke IGD?"
"Tetangga."
"Bukan keluarga?"
Nadhira tidak menjawab. Keheningan itu sudah cukup.
Gilang berdeham kecil. "Ray, sebaiknya mereka keluar dulu."
Bu Sumini menoleh tajam ketika mendengar sapaan akrab itu, seakan baru sadar bahwa Gilang bukan sekadar staf yang bisa ia abaikan.
Rayhan menghadap Agus. "Bawa Bu Sumini keluar dari kamar. Sekarang."
"Ini rumah kami," protes Agus.
"Dan Nadhira baru saja menyatakan tidak mengizinkan kalian berada di kamarnya." Rayhan menyerahkan ponselnya kepada Gilang tanpa melepaskan tatapan. "Kalau Anda ingin polisi yang menjelaskan batasnya, kami bisa menelepon."
Agus menatap Nadhira dengan kebencian terbuka. "Kamu merasa menang karena berlindung di belakang orang kaya?"
Nadhira mendekap Alif dan menjawab tenang, "Saya hanya tidak membiarkan kamu memegang tangan saya lagi."
Bu Sumini masih ingin membantah, tetapi Agus menarik sikunya. Mereka keluar sambil membawa map cokelat. Dari ruang tengah terdengar Bu Sumini mengusir dua tetangga, disusul bunyi pintu depan dibanting.
Kesunyian yang tertinggal terasa asing.
Gilang meletakkan bingkisan perusahaan dan amplop santunan di atas meja. Kemudian ia mengambil sapu kecil di balik pintu dan mulai mengumpulkan pecahan gelas.
"Om bersihin," katanya kepada Alif. "Jangan turun dulu, ya. Tajam."
Alif tidak menjawab, tetapi matanya mengikuti gerakan Gilang. Tangisnya sudah berhenti.
Nadhira menatap Rayhan. "Terima kasih."
"Saya datang terlambat."
"Tetap saja Anda datang."
Ada jeda singkat. Untuk pertama kalinya, ketegasan di wajah Rayhan tampak retak oleh sesuatu yang tidak berhasil Nadhira baca. Mungkin rasa bersalah karena salah satu mantan karyawannya meninggalkan keluarga dalam keadaan seperti ini. Mungkin hanya tanggung jawab seorang pemimpin perusahaan.
Ia tidak mau menganggapnya lebih dari itu.
Setelah Gilang memastikan lantai aman, kedua pria tersebut bersiap pergi. Rayhan mengambil satu kartu nama dari dompetnya, membaliknya, lalu menulis nomor dengan tinta hitam.
Kartu itu diletakkannya di atas surat pulang IGD, tepat di samping tangan Nadhira.
"Kalau mereka datang lagi, hubungi nomor ini."
Bab 3
Perempuan Tidak Punya Harga
Belum genap sehari kartu nama Rayhan tersimpan di saku daster Nadhira, pintu depan sudah digedor sampai kusennya bergetar.
Pagi baru lewat pukul delapan. Nadhira sedang menyuapi Alif bubur encer ketika suara Pak Darmo terdengar dari teras.
"Buka! Bapak tahu kamu ada di dalam!"
Sendok di tangan Nadhira berhenti. Alif langsung turun dari kursi dan memeluk pinggangnya.
"Mama, takut."
Nadhira mengusap rambutnya. "Alif masuk kamar, ya. Bawa mobil merahmu."
Bocah itu menggeleng kuat-kuat.
Gedoran berikutnya membuat kaca jendela berdenting. Dari kamar belakang terdengar Bu Sumini berteriak agar Nadhira membuka pintu dan menyelesaikan urusannya sendiri. Tak ada niat membantu. Bahkan setelah kejadian kemarin, rumah itu tetap menjadi tempat yang bisa dipakai siapa saja untuk menekannya.
Nadhira memasukkan kartu nama lebih dalam ke saku. Ponselnya sedang diisi daya di atas lemari, layar retaknya menghadap ke dinding.
Ia membuka pintu hanya selebar bahunya.
Pak Darmo segera mendorong daun pintu sampai Nadhira terpaksa mundur. Di belakangnya berdiri Suparti dengan kebaya merah marun, seorang perempuan tua yang membawa tas penuh brosur, dan seorang pria berperut besar dengan kemeja batik licin.
Nadhira mengenali pria terakhir dari foto yang pernah ditunjukkan Suparti beberapa bulan lalu.
Pak Hartono. Lima puluh lima tahun. Duda tiga kali.
"Pak Darmo datang tanpa kabar," kata Nadhira.
"Seorang bapak tidak perlu izin untuk menemui anaknya."
Pak Darmo masuk dan langsung duduk di kursi terbaik. Suparti mengikuti sambil memandang ruang tamu yang sederhana dengan bibir mengerucut. Perempuan tua itu tersenyum lebar kepada Nadhira.
"Saya biasa membantu urusan perjodohan," katanya. "Bapakmu sudah cerita semuanya. Kasihan, masih muda sudah menjanda. Untung ada laki-laki mapan yang mau menerima kamu dan anakmu."
Pak Hartono mengusap cincin batu besar di jarinya. Tatapannya menyapu lebam di wajah Nadhira, turun ke daster longgar, lalu berhenti terlalu lama pada tubuhnya.
"Lebamnya nanti hilang, kan?" tanyanya.
Suparti terkekeh. "Pasti, Pak. Nadhira sebenarnya cantik kalau dirawat."
Seolah mereka sedang memeriksa barang di pasar.
Nadhira menarik Alif ke belakang tubuhnya. "Saya tidak mencari suami."
Senyum Bu Marni tidak berubah. Ia membuka tas dan mengeluarkan amplop putih tebal, katalog gedung pernikahan, serta foto rumah dua lantai.
"Jangan menolak dulu. Pak Hartono punya usaha bahan bangunan. Rumahnya besar. Kamu tidak perlu pusing memikirkan makan anak. Mahar dan bantuan untuk keluarga juga sudah dibicarakan."
Pak Darmo mengambil amplop itu sebelum Nadhira sempat menyentuhnya. Ia menepuk-nepuk sisi amplop ke telapak tangan.
"Lihat? Pak Hartono menghargai kamu. Tidak seperti keluarga Wijaya yang membiarkanmu hidup susah."
"Kalau beliau menghargai saya, beliau akan bertanya apakah saya bersedia."
Pak Hartono menyandarkan punggung. "Perempuan yang baru menjanda biasanya masih bingung. Orang tua lebih tahu pilihan yang aman."
"Saya tidak bingung." Nadhira menatapnya lurus. "Jawaban saya tidak."
Udara di ruang tamu mengeras.
Mak comblang itu berdeham. "Mungkin kita bicara pelan-pelan."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
Suparti mencubit lengan Nadhira. "Jangan bikin malu Bapakmu di depan tamu."
Nadhira melepaskan tangannya. "Bu Parti yang datang membawa orang asing tanpa izin. Saya tidak mengundangnya."
Wajah Suparti langsung masam. "Lihat, Pak? Sudah ditolong masih galak."
Pak Darmo berdiri. Amplop putih tadi dimasukkannya ke saku kemeja.
"Kamu menikah dengan Hendra dulu juga karena Bapak setuju. Sekarang suamimu mati. Bapak yang menentukan langkahmu berikutnya."
"Saya sudah dewasa."
"Kamu tetap anak Bapak."
"Bukan berarti Bapak boleh menjual keputusan hidup saya."
Kata menjual membuat wajah Pak Darmo berubah merah. Ia mendekat sampai bau rokok dari bajunya membuat Nadhira mual.
"Jaga mulutmu. Pak Hartono bersedia memberi bantuan lima puluh juta untuk keluarga. Kamu pikir ada lelaki lain yang mau menerima janda dengan satu anak?"
Nadhira melirik amplop di sakunya. "Jadi uangnya memang untuk Bapak."
"Itu uang terima kasih."
"Untuk hidup yang akan saya jalani?"
"Kami membesarkanmu!"
Suara itu meledak begitu keras hingga Alif menangis. Pak Hartono memalingkan muka, tetapi tidak pergi. Bu Marni sibuk merapikan brosur yang sebenarnya sudah rapi.
Nadhira merasakan sesuatu di dalam dirinya menjadi dingin.
Kemarin keluarga mendiang suaminya berusaha mengambil warisan Alif. Hari ini ayah kandungnya sendiri datang untuk menjual pernikahannya. Dua keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru bergantian memasang harga pada tubuh dan hidupnya.
"Saya tidak akan menikah dengan Pak Hartono," katanya. "Silakan kembalikan uang itu."
Pak Darmo menamparnya.
Kepala Nadhira terlempar ke samping. Sisi wajah yang sudah lebam membentur bahunya. Dengung memenuhi telinga, dan rasa logam muncul di ujung lidah.
"Mama!"
Alif menjerit. Bocah itu meraih mobil-mobilan merah dari lantai lalu memukulkannya ke lutut Pak Darmo berkali-kali.
"Jahat! Jangan Mama!"
"Bocah kurang ajar!"
Pak Darmo mengangkat kaki seolah hendak menyingkirkannya. Nadhira menerjang maju dan menarik Alif ke belakang. Tubuhnya menjadi tameng tepat ketika ujung sepatu Pak Darmo bergerak.
"Jangan sentuh anak saya!"
Pak Hartono akhirnya berdiri. "Darmo, jangan kasar di depan saya."
Pak Darmo menurunkan kaki, tetapi telunjuknya masih mengarah ke Nadhira. "Dia harus diajar. Sejak kecil kalau tidak dipukul, dia tidak dengar."
Bu Marni mengembuskan napas gelisah. "Mungkin pertemuan ini dijadwal ulang saja."
"Tidak perlu." Nadhira mengusap darah tipis di sudut bibir. "Tidak akan ada pertemuan berikutnya."
Pak Hartono memperhatikannya beberapa detik. Bukannya tersinggung oleh kekerasan itu, ia justru berkata, "Setelah menikah, saya tidak suka istri membantah. Kalau kamu bisa belajar patuh, saya masih bersedia."
Rasa jijik membuat perut Nadhira berpilin.
"Keluar dari rumah ini."
"Nadhira!" Suparti menyambar lengannya. "Minta maaf kepada Pak Hartono!"
Kuku perempuan itu menekan tepat di atas memar yang dibuat Agus kemarin. Nadhira mencoba menarik diri, tetapi Suparti justru menyeretnya mendekati kursi Pak Hartono.
"Lepaskan, Bu Parti."
"Sujud kalau perlu. Jangan hilangkan rezeki keluarga!"
Alif memeluk kaki Suparti sambil menangis, mencoba menghentikannya dengan tenaga kecilnya. "Jangan Mama... jangan..."
Pak Darmo meraih bahu Nadhira dari sisi lain. "Hari ini kamu setuju. Minggu depan akad. Selesai."
Napas Nadhira memendek. Ruang tamu terasa menyusut, dipenuhi tangan yang menariknya ke arah berbeda. Bekas luka di rusuknya berdenyut. Pandangannya sempat berkunang-kunang.
Kemudian ujung jarinya menyentuh kartu kaku di dalam saku.
Rayhan.
Ia berhenti melawan selama satu detik. Suparti mengira Nadhira menyerah dan melonggarkan cengkeraman untuk membetulkan lengan kebayanya.
Nadhira langsung memutar pergelangan, menarik lengannya sekuat tenaga, lalu mendorong kursi ke antara mereka. Suparti terhuyung. Pak Darmo mengumpat.
Nadhira berlari dua langkah menuju lemari. Ia meraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Kabelnya tertarik dan jatuh ke lantai, tetapi layar ponsel sudah menyala di tangannya.
Pak Darmo menyusul. "Mau menelepon siapa?"
Jari Nadhira gemetar ketika membuka riwayat nomor yang semalam ia simpan dari kartu nama. Alif menempel di belakang kakinya, terisak tanpa suara.
Suparti berteriak, "Ambil ponselnya!"
Dengan napas tertahan, Nadhira menekan nomor Rayhan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!