Indonesia
NovelToon NovelToon

Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Episode 1

Bab 1 Rahasia di Tengah Malam

Tangis Guai menembus malam tepat ketika rembesan hangat kembali membasahi bagian depan seragam Angie.

Angie menekan kedua lengan ke dadanya. Nyeri yang sejak satu jam lalu berdenyut kini terasa seperti ratusan jarum menusuk dari dalam. Kain bra menyusui yang dikenakannya sudah lembap, sementara kemeja putih di balik celemek mulai memperlihatkan dua noda samar.

Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Guai menangis di dalam boks. Wajah mungilnya memerah, kedua kakinya menendang selimut, dan mulutnya terus mencari sesuatu yang tidak ada di botol.

"Sayang, pelan-pelan." Angie mengangkat tubuh bayi itu dan menempelkannya ke bahu. "Susu ini tidak mau lagi?"

Dot botol menyentuh bibir Guai. Bayi itu memalingkan wajah, lalu menangis lebih kencang. Susu formula yang baru dibuat nyaris tidak berkurang setetes pun.

Jam digital di meja menunjukkan pukul 00.47.

Di luar kamar bayi, Kediaman Liem tenggelam dalam keheningan. Pendingin udara berdengung halus. Sesekali terdengar suara air dari kolam di halaman belakang, tetapi tidak ada langkah kaki di koridor lantai dua.

Seharusnya semua orang sudah tidur.

Seharusnya Celine juga tidak akan datang lagi setelah kunjungannya tadi.

Sekitar pukul sebelas, perempuan itu masuk dengan gaun tidur sutra dan aroma parfum yang terlalu tajam untuk kamar bayi. Ia mengambil Guai dari pelukan Angie sambil tersenyum ke kamera ponselnya sendiri.

"Baby, lihat Mama," ucapnya manis, seolah sedang merekam Instagram Story.

Guai langsung menegang. Satu detik kemudian, tangisnya pecah.

Celine menggoyang tubuh bayi itu terlalu cepat. Satu tangannya menyangga punggung, tetapi kepala Guai nyaris tidak tertopang.

Angie spontan maju. "Ci Celine, kepalanya..."

Tatapan Celine menyambar tajam. "Aku tahu cara menggendong anakku."

"Tangan kiri Ci perlu menopang tengkuknya." Angie menahan diri agar tidak langsung merebut Guai. "Dia belum bisa menjaga kepalanya stabil kalau sedang meronta."

Celine mengubah posisi tangannya, tetapi bukan mengikuti arahan Angie. Ia justru mengangkat Guai lebih tinggi, menjauhkan bayi itu dari seragam sutranya. Air liur menetes dari bibir Guai dan mengenai pergelangan tangannya.

"Astaga." Celine meringis. Ponselnya buru-buru diletakkan dengan layar menghadap meja. Rekaman yang tadi dinyalakan belum sampai satu menit. "Kenapa dia selalu begini setiap aku pegang?"

Angie tidak menjawab. Ia hanya melihat jari Celine menekan terlalu keras ke sisi tubuh Guai.

"Ci, dia kesakitan."

"Jangan mengajariku."

Guai menjerit sampai tubuh kecilnya bergetar. Semua naluri Angie memaksanya melangkah lebih dekat. Kali ini ia tidak meminta izin. Ia menyelipkan satu tangan di bawah kepala Guai dan satu lagi di punggungnya, memberi Celine jalan termudah untuk melepaskan bayi itu tanpa kehilangan muka.

Namun, ketika Guai semakin meronta dan wajahnya mulai ungu karena menangis, Celine buru-buru menyerahkannya kembali.

"Dia memang sedang rewel. Jangan sampai tangisnya membangunkan Hansen."

Tanpa mengecup kening bayi itu, tanpa memeriksa botol di meja, Celine langsung pergi.

Sekarang Guai masih menangis di pelukan Angie, suaranya mulai serak.

"Apa yang sakit, hm?" Angie menyentuh dahi dan lehernya. Suhu tubuhnya normal. Popoknya bersih. Perutnya tidak kembung. "Kamu lapar, tapi kamu tidak mau susu ini."

Guai memutar kepala dan menempelkan wajah ke dada Angie.

Tubuh Angie membeku.

Gerakan kecil itu tepat mengenai bagian yang paling nyeri. Napasnya tercekat. Cairan hangat kembali merembes, kali ini lebih banyak, meninggalkan lingkaran yang terlihat jelas di balik kain putih.

Tidak.

Ia tidak boleh melakukannya.

Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa malam pertama itu adalah yang terakhir. Ia bekerja di sini sebagai pengasuh, bukan sebagai ibu susu. Tidak seorang pun di Kediaman Liem tahu tubuhnya masih menghasilkan ASI. Jika mereka tahu ia menyusui anak majikan tanpa izin, ia bisa diusir malam itu juga.

Lebih buruk lagi, mereka akan bertanya mengapa perempuan yang mengaku tidak memiliki anak masih mempunyai ASI.

Sejak persalinan setahun lalu, Angie memerah sedikit susu setiap kali payudaranya membengkak agar tidak demam atau mengalami sumbatan. Pemeriksaan klinik pernah menemukan kadar prolaktinnya masih tinggi dan menyarankan evaluasi lanjutan, tetapi biaya membuatnya menunda. Kebiasaan memerah itu ikut mempertahankan produksi. Selama ini susunya selalu dibuang; Guai adalah bayi pertama yang meminumnya.

Angie menatap pintu.

Daun pintu tertutup. Cahaya dari koridor hanya menyusup lewat celah sempit di bawahnya.

Ia mengangkat botol sekali lagi. "Coba sedikit saja, Guai."

Guai menolak. Tangannya menepis dot, lalu jemari kecilnya mencengkeram kerah seragam Angie. Tangis itu tidak lagi keras. Suaranya melemah menjadi isakan lapar yang membuat bagian paling rapuh dalam diri Angie terbelah.

Dadanya kembali berdenyut.

Nyeri itu nyata. Begitu pula rasa lapar Guai.

"Ampuni aku," bisiknya, entah kepada siapa.

Angie mematikan lampu utama. Ia menyisakan lampu tidur berbentuk bulan di sudut kamar, lalu duduk di kursi berlengan dengan punggung menghadap pintu. Tangannya gemetar ketika membuka dua kancing seragam.

Kain lembap terlepas dari kulitnya dengan sensasi perih. Ia menahan desis, membenahi posisi Guai, lalu membimbing kepala mungil itu mendekat.

Begitu bibir Guai menemukan putingnya, tangis itu berhenti.

Bukan perlahan. Bukan setelah dibujuk.

Berhenti seketika.

Keheningan yang tersisa hanya diisi bunyi isapan kecil dan napas Guai yang akhirnya teratur. Tangan bayi itu, yang tadi mengepal keras, terbuka di atas dada Angie. Jari-jarinya mencengkeram ujung kain seolah takut sumber kehangatan itu akan direnggut.

Angie memejamkan mata.

Nyeri di dadanya perlahan mengendur. Namun, sakit lain justru naik dari tempat yang jauh lebih dalam.

"Kenapa kamu selalu tahu?" bisiknya. "Kenapa hanya begini kamu bisa tenang?"

Guai tidak mungkin menjawab. Matanya yang basah hanya menatap wajah Angie, jernih dan percaya penuh.

Jempol Angie mengusap pipinya. Kulit itu begitu lembut. Hidungnya kecil, bulu matanya panjang, dan ada lipatan tipis di bawah mata yang selalu terasa anehnya akrab.

Sebuah potongan ingatan melintas tanpa bentuk yang utuh.

Lampu putih. Bau obat. Tangisan bayi yang menjauh.

Lalu suara seseorang mengatakan bahwa anaknya tidak selamat.

Angie menarik napas tajam. Potongan itu lenyap sebelum sempat ia pegang. Yang tertinggal hanya rasa kosong dan nyeri di bawah tulang rusuk.

Ia menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke rambut Guai.

"Maaf," katanya. "Mama bahkan tidak sempat memelukmu selama ini."

Kata itu keluar begitu saja.

Mama.

Angie cepat-cepat menoleh ke pintu, seakan satu kata yang dibisikkan saja dapat membangunkan seluruh rumah.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengusap air mata dengan punggung tangan. "Bukan. Aku bukan mamamu." Suaranya pecah. "Aku cuma orang yang terlalu merindukan anakku."

Guai mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokan. Telapak tangannya menempel di kulit Angie, hangat dan tenang.

Untuk beberapa menit, dunia di luar kamar itu tidak ada.

Tidak ada tagihan rumah sakit Mama Thio yang tersimpan di ponselnya. Tidak ada saldo rekening yang terus menipis. Tidak ada pekerja rumah yang memandang seragam murahnya dari atas ke bawah. Tidak ada Celine dengan parfum mahal dan senyum yang hanya muncul ketika kamera menyala.

Hanya ada seorang perempuan yang tubuhnya masih mengingat cara memberi makan, dan seorang bayi yang menerima seolah mereka telah saling mengenal jauh sebelum malam ini.

Ketika isapan Guai melambat, Angie menepuk punggungnya dengan hati-hati. Bayi itu bersendawa kecil, lalu bersandar lemas di dadanya.

"Sudah kenyang?"

Guai menjawab dengan dengusan mengantuk.

Senyum tipis muncul di bibir Angie. Ia mengangkat kain sendawa, membersihkan sudut mulut Guai, lalu memindahkannya ke bahu. Setelah napas bayi itu benar-benar tenang, ia berdiri dan hendak meletakkannya kembali ke boks.

Ponselnya bergetar di meja.

Layar retak Samsung miliknya menyala, menampilkan satu pesan dari rumah sakit.

`Pengingat pembayaran: sisa tagihan perawatan Ibu Yenni Thio jatuh tempo besok pukul 12.00.`

Di bawahnya tertera angka yang membuat tengkuk Angie dingin.

Besok ia harus membayar sebagian tagihan itu. Rumah sakit sudah memberi kelonggaran dua kali. Bila tidak ada pembayaran, beberapa terapi Mama Thio akan ditunda dan obat yang tidak ditanggung BPJS harus dibeli sendiri.

Gaji pertamanya dari Kediaman Liem bahkan belum masuk.

Angie membuka aplikasi bank. Angka di layar terlalu kecil untuk menutup sepersepuluh tagihan tersebut. Ia sempat memikirkan gelang tipis peninggalan Mama yang disimpan di tas, tetapi harga jualnya tidak akan banyak membantu. Satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah mempertahankan pekerjaan ini, mengambil semua jadwal malam, lalu meminta uang muka jika Pak Hasan mengizinkan.

Pandangan Angie kembali ke Guai.

Jika rahasia malam ini terbongkar, ia bukan hanya kehilangan pekerjaan. Mama juga kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pengobatan.

Ia menelan ludah, lalu segera membalik ponsel agar cahaya layarnya tidak mengganggu Guai.

Pekerjaan ini tidak boleh hilang.

Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan.

Angie membaringkan Guai di boks dan memastikan selimutnya tidak menutupi wajah. Ia mengambil kain kecil untuk menyeka kulitnya, lalu buru-buru merapatkan bra dan seragam. Jari-jarinya kaku. Kancing pertama masuk ke lubang yang salah sehingga sisi kemejanya miring.

Dari luar terdengar bunyi mesin mobil memasuki halaman.

Angie berhenti bernapas.

Sorot lampu menyapu langit-langit lewat jendela, lalu padam. Beberapa detik kemudian, pintu utama di lantai bawah dibuka.

Langkah sepatu pria terdengar di lantai marmer.

Tidak tergesa-gesa. Berat. Teratur.

Tuan Muda pulang.

Angie menarik kancingnya sekali lagi. Noda basah di kemeja belum hilang. Ia meraih selendang tipis di sandaran kursi dan menutupkannya ke dada.

Guai bergerak di dalam boks.

"Jangan bangun, Sayang," bisiknya.

Namun bayi itu merengek, lalu mengulurkan kedua tangan. Angie tidak punya pilihan selain mengangkatnya kembali.

Langkah di koridor semakin dekat.

Terdengar suara Celine, lembut dan manja, dari balik dinding. "Ko Hansen, kamu baru pulang? Aku mau melihat Baby juga."

Angie memandang dirinya di kaca lemari. Rambutnya berantakan. Matanya merah. Kancing seragamnya belum sejajar, dan di balik selendang tipis masih terlihat tepian noda ASI.

Ia melangkah ke pintu untuk menguncinya.

Terlambat.

Gagang pintu bergerak.

Cahaya koridor membelah kamar yang remang. Hansen Liem berdiri di ambang pintu dengan kemeja gelap dan tatapan sedingin malam, sementara Celine muncul tepat di belakang bahunya.

Di pelukan Angie, Guai tidur pulas. Di jemari Angie, satu kancing seragam masih terbuka.

Episode 2

Bab 2 Tatapan dari Jendela

Guai bergerak sebelum Angie sempat menutup kancing terakhir.

Jemari mungilnya mencengkeram kerah seragam, lalu menariknya ke bawah. Selendang tipis di dada Angie ikut bergeser. Sepotong kulit yang masih kemerahan dan lembap tersingkap di bawah cahaya koridor.

Tatapan Hansen jatuh tepat ke sana.

Hanya satu detik, tetapi cukup membuat udara di kamar bayi terasa berhenti.

Angie buru-buru membalik tubuh. Satu tangan menahan Guai, tangan lain menarik selendang sampai menutupi leher. "Maaf, Tuan Hansen."

Suara itu begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh dengung pendingin udara.

Hansen tidak menjawab. Hidungnya menangkap aroma hangat yang samar, berbeda dari parfum Celine dan berbeda dari wangi bedak bayi. Tatapannya beralih ke botol susu formula yang masih penuh di meja, lalu ke Guai yang tidur dengan sudut bibir basah.

"Kenapa kancingmu terbuka?" tanyanya.

Jantung Angie menghantam tulang rusuk. "Guai terus menangis. Dia menarik pakaian saya saat saya menggendongnya."

Itu bukan kebohongan sepenuhnya.

Celine menyelip melewati bahu Hansen. Matanya menyapu seragam Angie yang miring, lalu berhenti pada noda yang belum tertutup sempurna.

"Berikan Baby kepadaku."

Angie menegang. Ia teringat cara Celine memegang tengkuk Guai tadi malam. Namun, menolak di depan Hansen hanya akan membuat keadaan semakin mencurigakan.

"Dia baru tidur, Ci."

"Aku ibunya." Celine mengulurkan kedua tangan. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Guai terbangun saat berpindah pelukan. Wajahnya mengerut. Begitu punggungnya menyentuh lengan Celine, ia langsung menangis dan mencari Angie dengan kedua tangan.

Celine tersenyum kaku. "Baby cuma kaget."

Ia menggoyang Guai, tetapi bayi itu semakin keras menjerit. Hansen memperhatikan tanpa bergerak. Di wajahnya tidak ada kepanikan, hanya penilaian yang membuat senyum Celine mulai goyah.

Angie tidak tahan. "Biar saya tenangkan dulu."

Guai kembali ke pelukannya. Tangis itu mengecil hampir seketika. Kepala mungilnya jatuh ke bahu Angie, seolah di situlah satu-satunya tempat aman di kamar tersebut.

Rahang Hansen mengeras.

"Kamu lihat?" Celine tertawa kecil, terlalu cepat. "Pengasuh memang lebih sering bersamanya. Wajar kalau Baby sedang manja."

Tangannya meraih lengan Hansen. Baru ujung kuku Celine menyentuh kulit di bawah lengan kemeja, tubuh Hansen langsung menolak. Ia mundur satu langkah dengan wajah membeku.

"Jangan sentuh aku."

Tangan Celine menggantung di udara. "Ko Hansen, aku cuma..."

"Guai sudah tenang. Kembali ke kamarmu."

"Tapi kamu baru pulang. Aku menunggumu sejak tadi."

Celine memaksakan senyum, lalu melangkah mendekat lagi. "Kita hampir tidak pernah punya waktu berdua. Besok aku sudah reservasi brunch di hotel. Kita bisa bawa Baby, ambil beberapa foto keluarga. Mama juga bilang publik perlu melihat kita baik-baik saja."

"Batalkan."

"Ko Hansen, semua orang mengira kita keluarga."

"Mengira bukan berarti benar."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan. Celine menoleh cepat kepada Angie. Ada saksi di kamar itu, seseorang yang menurutnya bahkan tidak pantas mendengar keretakan hubungan mereka.

Ia kembali meraih Hansen, kali ini hendak mengaitkan lengan seperti pasangan yang mesra. Hansen menepisnya sebelum sentuhan itu menempel penuh. Perutnya mengencang oleh rasa mual yang sudah ia kenal selama setahun terakhir. Dulu ia mengira tubuhnya hanya sedang lelah. Setelah berbagai pemeriksaan tidak menemukan kelainan fisik, ia berhenti mencari alasan.

Tubuhnya menolak semua perempuan.

Termasuk perempuan yang selama ini berdiri di rumahnya sambil menyebut diri sebagai ibu anaknya.

Hansen menatapnya datar. "Aku tidak memintamu menunggu."

Wajah Celine memucat, lalu memerah. Pandangannya beralih kepada Angie, seolah penghinaan itu adalah kesalahan pengasuh yang berdiri diam di dekat boks.

"Pastikan Baby tidak menangis lagi," katanya tajam sebelum berbalik pergi.

Hansen masih berada di ambang pintu.

Angie menunduk. "Ada yang lain, Tuan Hansen?"

Ia seharusnya menjawab tidak. Namun aroma hangat itu kembali mencapai hidungnya. Tubuh Hansen bereaksi lebih cepat daripada pikirannya, sebuah respons yang telah mati selama hampir satu tahun dan tidak pernah muncul di hadapan perempuan mana pun.

Napasnya berubah.

Kejutan pertama segera disusul rasa tidak percaya. Ia mencengkeram kusen pintu, memaksa wajahnya tetap tenang.

Bukan Celine.

Bukan para perempuan yang pernah sengaja didekatkan kepadanya.

Seorang pengasuh dengan seragam kusut justru membuat tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak mampu dijelaskan semua pemeriksaan medis.

"Rapikan pakaianmu," katanya akhirnya.

Pintu tertutup sebelum Angie sempat menjawab.

Di koridor, Hansen berdiri beberapa detik dengan punggung menghadap kamar bayi. Ia tidak menyukai detak jantungnya sendiri. Ia lebih tidak menyukai fakta bahwa kulit Angie yang hanya terlihat sesaat masih tertinggal jelas di kepalanya.

Ia masuk ke kamar utama dan mengunci pintu.

Namun, tidur tidak datang.

Hampir satu jam kemudian, Hansen berdiri di depan jendela dengan segelas air yang belum disentuh. Kamar utama menghadap sayap belakang rumah. Di seberang taman sempit, sebuah jendela di lantai yang sama masih menyala.

Kamar Angie.

Ia tahu letak kamar para pekerja karena Pak Hasan pernah menunjukkan denah rumah, tetapi baru malam itu Hansen memperhatikan betapa jelas jendela tersebut terlihat dari tempatnya berdiri.

Tirai kamar Angie tidak tertutup rapat.

Di balik celahnya, Angie duduk di tepi ranjang dengan rambut terurai. Seragamnya sudah berganti kaus longgar. Sebuah baskom mengepulkan uap di meja kecil. Ia mencelupkan handuk, memerasnya, lalu menempelkannya ke dada di balik kain.

Wajah Angie menegang menahan sakit.

Hansen seharusnya menjauh.

Sebaliknya, tangannya mencengkeram tepi meja.

Angie mengangkat ujung kaus seperlunya untuk memindahkan kompres. Gerakannya tidak menggoda. Ia bahkan tampak terlalu lelah untuk menyadari tirainya terbuka. Namun, garis tubuh yang muncul di balik cahaya kuning membuat tengkuk Hansen panas.

Satu tetes hangat mengalir dari hidungnya.

Hansen menyentuhnya, lalu menatap darah di ujung jari dengan ekspresi tidak percaya.

"Sial."

Ia mengambil tisu, menekan hidungnya, kemudian menarik tirai kamarnya sendiri sampai tertutup. Rasa malu bercampur marah mengeras di dada. Apa pun yang terjadi pada tubuhnya, mengamati seseorang yang tidak tahu sedang dilihat bukan sesuatu yang bisa ia benarkan.

Namun satu pertanyaan terlanjur tumbuh.

Apa yang sakit di dada Angie, dan mengapa aroma di kamar bayi tadi terasa begitu familier?

Saat matahari mulai mengubah langit menjadi abu-abu pucat, Angie akhirnya menyelesaikan jadwal malam. Ia menyerahkan catatan minum dan tidur Guai kepada petugas pagi, lalu kembali ke kamar pekerja.

Air dari keran kamar mandi hanya dingin.

"Mati lagi?" gumamnya setelah memutar keran panas berkali-kali.

Kulitnya lengket, rambutnya berminyak, dan sisa ASI pada tubuhnya mulai membuatnya tidak nyaman. Ia tidak sanggup menunggu teknisi datang siang nanti. Lina pernah mengatakan kamar mandi kecil di samping kolam renang memiliki pemanas air terpisah.

Angie membawa pakaian bersih ke sana.

Udara pagi masih lembap. Permukaan kolam memantulkan cahaya biru, sementara lantai batu di depannya licin oleh embun dan cipratan air. Kamar mandi itu kosong. Angie menutup pintu, mandi secepat mungkin, lalu mengenakan kaus dan celana panjang tipis.

Ketika ia membuka pintu, seseorang berdiri tepat di luar.

Hansen mengenakan pakaian olahraga hitam. Rambutnya basah oleh keringat setelah berlari mengelilingi halaman.

"Tuan Hansen?"

Angie mundur refleks. Tumitnya menginjak genangan air.

Kakinya tergelincir.

Hansen bergerak cepat. Satu lengannya mengunci pinggang Angie, menarik tubuh perempuan itu sebelum kepalanya menghantam lantai. Telapak tangan Angie spontan menekan dada Hansen yang terbuka di bagian leher.

Kulit bertemu kulit.

Panas menjalar dari telapak tangannya ke seluruh lengan, lalu meledak di bawah kulit. Jantung Angie berpacu liar. Napasnya pendek, tengkuknya panas, dan kedua lututnya mendadak lemas.

Hansen merasakan tubuh dalam pelukannya bergetar.

"Kamu sakit?"

"Saya..." Angie mencoba menjauh, tetapi gesekan kecil itu justru membuat panas di kulitnya semakin tajam. "Saya tidak tahu."

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Setetes air dari rambut Angie jatuh ke punggung tangan Hansen. Aroma sabun bercampur wangi hangat yang ia kenali dari kamar bayi.

Untuk kedua kalinya malam itu, kendali Hansen retak.

Lalu sebuah jeritan meluncur dari lantai dua.

"Tuan Kecil!" Suara Bi Yanti pecah oleh kepanikan. "Tuan Kecil tidak bernapas!"

Wajah Angie kehilangan seluruh warnanya.

Ia melepaskan diri dari pelukan Hansen dan berlari ke arah rumah dengan rambut masih meneteskan air.

Episode 3

Bab 3 Tamparan Pertama

Angie berlari tanpa sempat memakai sandal.

Telapak kakinya menghantam lantai marmer yang dingin. Rambut basah menempel di pipi, sementara suara Bi Yanti terus memanggil dari lantai dua.

"Tuan Kecil tidak bernapas! Tolong!"

Hansen menyusul tepat di belakangnya. Begitu mereka mencapai kamar bayi, Angie langsung melihat Guai telentang di atas kasur ganti. Bibirnya kebiruan. Dadanya bergerak kecil tanpa menghasilkan tangis.

Bi Yanti berdiri di samping boks dengan kedua tangan gemetar. Lina berada dekat pintu, pucat dan kebingungan.

"Apa yang terjadi?" suara Hansen membelah ruangan.

Bi Yanti menunjuk Angie. "Dia, Tuan Muda! Kak Angie memasukkan sesuatu ke botol Baby. Saya lihat sendiri semalam. Tuan Kecil pasti diracun!"

Angie bahkan tidak menoleh kepadanya. Matanya hanya tertuju pada Guai.

Tidak ada tangisan. Tidak ada batuk. Hanya mulut kecil yang terbuka dan dada yang berusaha menarik udara.

Sumbatan total.

"Panggil ambulans sekarang!" Angie berseru kepada Lina.

Lina tersentak, lalu meraih ponselnya.

Celine masuk dengan langkah terburu-buru. "Ada apa dengan Baby?"

"Pengasuh itu meracuninya, Nyonya Muda," jawab Bi Yanti cepat. "Saya melihat dia mengutak-atik susu."

Wajah Celine berubah. Ia melangkah ke depan dan, sebelum siapa pun sempat menghentikan, telapak tangannya menghantam pipi Angie.

Plak!

Kepala Angie terlempar ke samping. Rasa asin segera memenuhi sudut bibirnya.

"Berani sekali kamu menyakiti anakku!" bentak Celine.

Pipi Angie berdenyut panas. Namun, ketika pandangannya kembali menangkap warna biru di bibir Guai, rasa sakit itu kehilangan arti.

"Minggir."

Celine tercengang. "Apa?"

"Kalau Ci ingin Guai hidup, minggir sekarang."

Ada sesuatu dalam suara Angie yang membuat semua orang membeku. Ia mengangkat Guai, menopang kepala dan rahangnya, lalu menelungkupkan tubuh kecil itu di sepanjang lengannya dengan kepala lebih rendah dari dada.

"Guai, bertahan, Sayang."

Telapak tangan Angie memberi lima tepukan tegas di antara tulang belikat. Tidak ada benda yang keluar.

Ia membalik tubuh Guai dengan hati-hati, menempatkan dua jari di tengah tulang dada, lalu memberikan dorongan dada cepat. Teknik untuk bayi itu sering disebut orang awam sebagai manuver Heimlich, meski tekanan tidak boleh dilakukan pada perut bayi sekecil Guai.

Satu, dua, tiga, empat, lima.

Guai masih tidak menangis.

"Kenapa dia tidak bernapas?" Celine mundur dengan tangan menutup mulut. "Lakukan sesuatu!"

Angie mengabaikannya. Ia kembali memberi lima tepukan punggung. Tangannya stabil, tetapi air menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Entah air mandi atau keringat dingin, ia tidak tahu.

"Ambulans sedang menuju ke sini!" kata Lina. "Mereka bilang lanjutkan pertolongan sumbatan!"

"Bagus. Buka pintu depan dan minta Pak Hasan menunggu."

Lina berlari keluar.

Angie membalik Guai sekali lagi. Di mulut bayi itu terlihat sesuatu yang tipis dan gelap bercampur lendir. Ia tidak memasukkan jari secara membabi buta. Setelah benda itu terdorong sampai terlihat jelas, barulah ia menjepit ujungnya dengan dua jari dan menarik.

Sehelai rambut panjang berwarna cokelat keluar, menggumpal bersama serat halus dari dot.

Satu detik berlalu.

Lalu Guai menarik napas dan menangis keras.

Suara itu menjadi bunyi terindah yang pernah Angie dengar.

Kedua lututnya hampir runtuh. Ia memeluk Guai ke dada dan menepuk punggungnya pelan, memastikan napas bayi itu kembali teratur.

"Iya, menangis saja." Air mata Angie jatuh tanpa bisa ditahan. "Mama di sini."

Ia tidak menyadari kata itu keluar lagi.

Hansen menyadarinya.

Tatapannya berpindah dari Angie yang memeluk Guai ke Celine yang berdiri beberapa langkah jauhnya. Perempuan yang mengaku ibu itu bahkan tidak maju ketika anaknya hampir kehilangan nyawa.

"Berikan Baby kepadaku," kata Celine setelah warna bibir Guai mulai kembali.

Tubuh Angie menegang. Guai menangis lebih keras ketika tangan Celine mendekat.

Hansen mengangkat satu tangan. "Jangan."

Celine menoleh. "Ko Hansen, aku ibunya."

"Dia baru bisa bernapas. Jangan pindahkan dia sampai tenaga medis memeriksa."

"Tapi dia memukul Baby!" Celine menunjuk Angie. "Kamu lihat sendiri."

"Dia menyelamatkannya."

Tiga kata itu membuat ruangan sunyi.

Angie mengusap punggung Guai. Pipinya masih menyala karena tamparan, tetapi perhatian Hansen justru tertuju pada benda yang jatuh di kain putih dekat kasur ganti.

Rambut panjang berwarna cokelat.

Ia mengambil kantong plastik steril dari kotak perlengkapan bayi, lalu memakai tisu untuk memindahkan rambut tersebut tanpa menyentuhnya langsung.

Bi Yanti yang sejak tadi bersuara paling keras tiba-tiba diam.

Hansen menatapnya.

Rambut perempuan tua itu hitam legam. Terlalu hitam, dengan noda samar di garis kulit dekat telinga.

"Kemarin rambutmu cokelat," kata Hansen.

Bi Yanti berkedip cepat. "Apa, Tuan Muda?"

"Hari ini hitam." Hansen melangkah mendekat. "Kamu mewarnai rambut semalaman?"

Tangan Bi Yanti naik menutupi sisi kepalanya. "Saya hanya ingin terlihat rapi."

"Tepat setelah sehelai rambut cokelat menyumbat napas anak saya?"

"Bukan rambut saya!"

"Aku belum bilang rambut itu milikmu."

Wajah Bi Yanti langsung kehilangan warna.

Celine menyela, "Banyak orang berambut cokelat. Rambut Angie juga tidak hitam pekat."

"Rambut Angie ada di depan kita." Hansen bahkan tidak menoleh kepadanya. "Dan panjangnya berbeda."

Bi Yanti menggeleng berkali-kali. "Saya melihat dia memasukkan bubuk ke botol, Tuan Muda. Saya bersumpah."

"Botol mana?" tanya Hansen.

Jari Bi Yanti menunjuk botol formula di atas meja.

Hansen mengambilnya. Cairan di dalam masih berada pada jumlah yang sama seperti saat ia melihatnya dini hari. Dotnya pun kering.

"Guai tidak minum dari botol ini."

Tatapan Angie terangkat cepat. Dingin menyusup ke perutnya. Hansen memperhatikan botol itu sejak malam tadi. Seberapa banyak sebenarnya yang ia lihat?

"Mungkin sudah diganti," kata Bi Yanti terbata.

Lina kembali dari lantai bawah setelah Pak Hasan mengambil alih pintu depan. Ia berhenti ketika mendengar tuduhan itu.

"Tidak mungkin, Bi."

Semua mata beralih kepadanya.

Lina menelan ludah, tetapi tetap melanjutkan. "Kak Angie menyerahkan catatan jaga kepada saya saat pergantian sif. Botol itu masih penuh dan belum berpindah dari meja."

Bi Yanti melotot. "Kamu tidak tahu apa-apa. Jangan ikut campur."

"Saya tahu Bibi masuk ke kamar ini pagi-pagi, padahal hari ini jadwal Bibi di ruang makan."

"Aku mendengar Baby batuk!"

"Saya berada di lorong. Saya tidak mendengar batuk." Lina meremas ujung seragamnya, lalu memandang Hansen. "Yang saya dengar hanya suara pintu ditutup. Setelah itu Bi Yanti baru berteriak."

Hansen tidak langsung merespons. Ia membiarkan keheningan menekan Bi Yanti sampai napas perempuan itu terdengar kasar.

"Ada lagi yang ingin kamu ubah dari ceritamu?" tanyanya.

Bi Yanti membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

"Kalau begitu rekaman akan menjawabnya."

Hansen mengeluarkan ponsel. "William, datang ke rumah sekarang. Bawa rambut ini ke laboratorium untuk tes DNA. Minta Pak Hasan mengamankan seluruh rekaman kamera dari koridor dan kamar bayi sejak semalam."

Angie merasa darahnya berhenti mengalir.

Kamera di kamar bayi?

Kalau benar ada kamera, semua sudah terekam. Ia membuka kancing. Ia menyusui Guai. Ia berbisik tentang anaknya yang telah tiada.

Jari-jarinya yang memeluk Guai mulai dingin.

Hansen menutup panggilan dan menatap Bi Yanti. "Kamu masih ingin mengatakan melihat Angie memasukkan sesuatu ke botol?"

Bibir Bi Yanti bergerak tanpa suara.

"Tuan Muda..." Ia mendekat setengah langkah, lalu berhenti. "Saya mungkin salah melihat. Lampunya redup. Saya cuma panik."

"Tadi kamu bersumpah."

"Saya takut sesuatu terjadi pada Tuan Kecil."

"Sampai sempat mewarnai rambut sebelum berteriak minta tolong?"

Bi Yanti berlutut. "Ampun, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud..."

"Pak Hasan akan menahanmu di ruang staf sampai polisi dan hasil pemeriksaan awal datang. Kamu tidak boleh menghubungi siapa pun."

Celine mendekat dengan wajah tegang. "Apa perlu membawa polisi? Ini mungkin kecelakaan rumah tangga."

Hansen akhirnya menoleh kepadanya. "Anak saya hampir mati."

"Aku hanya tidak mau nama keluarga menjadi bahan gosip."

"Nama keluarga tidak lebih penting daripada napas Guai."

Celine terdiam. Untuk pertama kalinya, topeng ibu yang penuh perhatian di wajahnya tampak begitu tipis hingga semua orang bisa melihat kepanikan di bawahnya.

Tenaga medis tiba beberapa menit kemudian. Dr. Lola yang dihubungi melalui layanan darurat RS Medistra memeriksa jalan napas Guai, kadar oksigen, serta bunyi paru-parunya. Bayi itu harus dibawa untuk observasi karena sempat kekurangan oksigen, tetapi kondisinya telah stabil.

"Pertolongan awalnya tepat," kata Dr. Lola setelah mendengar penjelasan. "Kalau terlambat beberapa menit, akibatnya bisa sangat buruk."

Hansen memandang Angie. "Kamu punya pelatihan?"

"Sertifikasi pertolongan pertama untuk pengasuh," jawab Angie. Suaranya masih gemetar. "Saya memperbaruinya enam bulan lalu."

"Bagus."

Satu kata itu terdengar lebih berat daripada pujian panjang.

Celine menyilangkan tangan. Bekas jari di pipi Angie tampak semakin merah. "Tetap saja, dia berada di kamar ini sepanjang malam. Kita belum tahu apa yang dia lakukan."

Hansen berdiri di antara mereka.

"Mulai hari ini, tidak seorang pun boleh menuduh atau menyentuh Angie tanpa bukti." Tatapannya berhenti pada Celine. "Termasuk kamu."

"Kamu membelanya di depanku?"

"Aku melindungi orang yang baru menyelamatkan anakku."

Guai merengek di pelukan Angie, lalu menempelkan wajah ke lehernya. Hansen memberi isyarat agar Angie ikut membawa bayi itu ke ambulans.

Saat melewati Bi Yanti yang dikawal Pak Hasan, Angie melihat perempuan itu menatap Celine sepersekian detik. Cepat, tetapi cukup untuk menegaskan bahwa kejadian pagi itu bukan kecelakaan.

Seseorang sengaja menyakiti Guai dan menyiapkan Angie sebagai tersangka.

Namun, ketakutan terbesar Angie justru mengikuti satu kata yang diucapkan Hansen.

Rekaman.

Jika kamera itu benar-benar ada, maka rahasia yang ia pertahankan dengan seluruh hidupnya mungkin sudah berada di tangan Hansen Liem.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!