Indonesia
NovelToon NovelToon

Langit Yang Menyimpan Janji

Bab 1

Benua Tianyuan.

​Di tanah yang maha luas ini, keberadaan manusia biasa hanyalah bagian kecil dari tatanan dunia. Di atas mereka, berdiri para kultivator—mereka yang mampu menyerap energi spiritual dari langit dan bumi untuk memperkuat tubuh, memperpanjang usia, bahkan meraih kekuatan yang sanggup mengguncangkan gunung dan samudra.

​Sebab itulah, hukum utama Benua Tianyuan begitu sederhana sekaligus kejam: kekuatan adalah segalanya. Keluarga yang kuat akan dipuja, sekte yang hebat akan disegani, sementara mereka yang lemah... hanya akan dilupakan oleh zaman.

​Di wilayah selatan benua, berdirilah Kota Qinghe. Meski tergolong kota berukuran sedang, Qinghe menampung beberapa keluarga kultivator yang telah berakar selama ratusan tahun. Salah satunya adalah Keluarga Shen.

​Pagi itu, halaman latihan Keluarga Shen riuh oleh puluhan pemuda. Suara denting dan benturan pedang terdengar bersahut-sahutan.

​"Ha!" Seorang pemuda melompat tinggi. Pedangnya berkilat menembus sinar matahari sebelum menebas keras ke arah lawan.

​Bang!

​Lawannya terdorong mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.

​"Shen Liang menang!" seru seorang penilai.

​Tepuk tangan meriah langsung membahana.

​"Luar biasa! Baru enam belas tahun, tapi sudah mencapai Pengumpulan Qi tingkat keenam!"

"Dengan bakat seperti ini, Shen Liang pasti punya peluang besar masuk ke Sekte Awan Biru tahun ini."

​Di tengah kerumunan yang bersorak, seorang pemuda justru tampak santai duduk bersandar di bawah rindangnya pohon. Ia mengenakan pakaian abu-abu sederhana dengan rambut hitam yang diikat seadanya. Tangannya memegang sebuah apel yang ia gigit sedikit demi sedikit.

​Pemuda itu tak ikut bertepuk tangan. Ia hanya menguap lebar. "Ngantuknya..."

​Namanya Shen Yunche, berusia tujuh belas tahun. Jika dibandingkan dengan para pemuda lain di Keluarga Shen, Yunche adalah definisi dari kata biasa—bahkan terlalu biasa.

​"Shen Yunche!" Sebuah suara berwibawa memecah ketenangan.

​Yunche membuka sebelah matanya. Pria tua dengan wajah keras dan serius tengah berdiri di tengah halaman, menatap lurus ke arahnya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Kau!" seru pria tua itu lagi.

​"Saya?"

​"Ya, kau!"

​"Oh," Yunche beralih menunjuk pemuda di sampingnya. "Kiraian dia."

​"Shen Yunche!"

​"Baiklah, baiklah..." Yunche bangkit beridri sembari menghabiskan gigitan terakhir apelnya. Dengan langkah malas, ia berjalan santai menuju tengah halaman.

​Melihat gayanya, beberapa pemuda di tepi halaman mulai berbisik dan tertawa kecil.

​"Masih saja kelakuannya seperti itu."

"Sudah tujuh belas tahun, tapi kultivasinya baru menyentuh Pengumpulan Qi tingkat kedua."

"Kalau aku jadi dia, aku lebih baik berhenti berkultivasi. Cuma membuang-buang sumber daya keluarga saja."

​Yunche mendengar setiap cemoohan itu. Namun, ia tak peduli—atau setidaknya, berpura-pura tidak peduli.

​Ia berhenti tepat di depan sang pria tua, lalu membungkuk formalitas. "Penatua Ketiga."

​Penatua Ketiga menatapnya dingin. "Ulangi latihan pedang dasar."

​Yunche terdiam sejenak. "Di sini?"

​"Di sini."

​"Di depan semua orang?"

​"Memangnya kau mau latihan di depan ayam?"

​Yunche menoleh ke belakang. Tak jauh dari pagar, memang ada seekor ayam jantan yang sedang asyik mematuk tanah. Yunche menunjuknya polos. "Saya rasa dia jauh lebih menghargai seni bela diri dibanding orang-orang ini."

​"Shen Yunche!"

​"Baik, baik." Yunche menghela napas. Ia mengambil sebilah pedang kayu dan mengambil posisi siap.

​Kerumunan mulai memperhatikannya dengan tatapan meremehkan. Penatua Ketiga mengangguk pelan. "Mulai."

​Yunche mengangkat pedangnya. Satu langkah, tebasan. Dua langkah, tusukan. Tiga langkah, putaran.

​Gerakannya sangat sederhana, polos, dan sama sekali tak memiliki daya pikat. Bahkan bagi mata awam sekalipun, gerakannya terkesan buruk.

​Seorang pemuda di barisan depan menggelengkan kepala. "Benar-benar payah."

​Gerakan Yunche terhenti. Ia menoleh perlahan. "Kau bilang apa barusan?"

​Pemuda itu agak terkejut karena ketahuan, tetapi segera menegakkan dadanya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Kalau mau membicarakan orang, jangan setengah berbisik. Kalau bersuara, sekalian—" Ia terhenti ketika menyadari semua mata tertuju padanya. Yunche berdeham pelan. "...maksudku, bicaralah yang jelas."

​Pemuda itu mendengus sinis. "Aku bilang, gerakanmu payah!"

​"Oh," Yunche mengangguk santai. "Ya."

​"Hah?"

​"Memang payah," sahut Yunche sambil mengangkat bahu. "Tapi setidaknya aku masih mau latihan."

​Beberapa pemuda menahan tawa, membuat wajah si penyerang mendadak merah padam karena malu.

​Penatua Ketiga memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Cukup. Lanjutkan!"

​Yunche kembali melanjutkan latihannya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum dan sikap santainya, jauh di dalam dada Yunche terendap rasa frustrasi yang mendalam.

​Ia tidak pernah malas. Ia berlatih sejak kecil, setiap hari, tanpa pernah absen satu kali pun. Namun, takdir memberinya bakat yang buruk. Meridian spiritualnya terlahir amat sempit, tidak mampu menyerap energi spiritual sebanyak orang lain. Jika pemuda lain membutuhkan waktu satu tahun untuk naik satu tingkat, Yunche butuh waktu tiga hingga empat tahun.

​Itulah sebabnya di usianya yang telah menyentuh tujuh belas tahun, ia masih tertahan di Pengumpulan Qi tingkat kedua. Di dunia kultivasi, itu adalah sebuah kemunduran yang memalukan.

​Usai latihan dibubarkan, Yunche berjalan sendirian menuju area belakang kediaman Keluarga Shen yang lebih tenang.

​Baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara ceria memanggilnya. "Shen Yunche!"

​Yunche menoleh. Seorang gadis muda berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah. Rambut hitamnya dikuncir dua, dan wajahnya masih menyisa kepolosan anak-anak.

​"Shen Ruowei," gumam Yunche. "Ada apa?"

​Ruowei berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. "Kau... kau benar-benar membuat Penatua Ketiga marah lagi hari ini?"

​"Tidak juga."

​"Benarkah?"

​"Benar."

​Ruowei menyipitkan mata curiga. Yunche balas menatapnya tanpa kedip. Beberapa detik berlalu dalam hening.

​"Dasar pembohong," desah Ruowei akhirnya. "Kau pasti membuatnya naik darah lagi."

​"Ya, sedikit."

​"Kenapa lagi kali ini?"

​"Dia bertanya apa aku serius ingin berkultivasi. Aku jawab 'tentu saja'. Lalu dia bilang kalau aku serius, harusnya aku tidak tertidur saat meditasi." Yunche tersenyum tanpa rasa salah. "Masalahnya, udara pagi tadi memang sangat enak untuk tidur."

​Ruowei menepuk jidatnya sendiri. "Dasar bodoh."

​"Jaga bicaramu. Aku ini lebih tua darimu."

​"Kau bukan kakakkum dan umur tidak menentukan apa-apa di sini."

​"Lalu apa?"

​"Kekuatan," sahut Ruowei mantap.

​Yunche bungkam seketika. Ruowei tersenyum puas atas kemenangannya. "Benar, kan?"

​"Sana pergi," usir Yunche pura-pura cemberut.

​"Hehehe." Ruowei tertawa kecil lalu berjalan beriringan di samping Yunche. Namun, selang beberapa saat, raut wajah gadis itu berubah agak serius. "Yunche, besok Keluarga Gu akan datang."

​Langkah Yunche terhenti. "Keluarga Gu?"

​Ruowei mengangguk. "Keluarga Gu dari pusat Kota Qinghe. Mereka datang untuk acara pertukaran murid antar keluarga."

​"Oh." Yunche kembali melangkah santai.

​"Katanya mereka membawa beberapa murid muda terbaik," lanjut Ruowei cepat sambil menyamai langkahnya. "Termasuk Gu Qingli."

​Langkah Yunche terhenti untuk kedua kalinya. Ia menoleh. "Siapa?"

​Ruowei mengedipkan mata tak percaya. "Kau tidak tahu Gu Qingli?"

​"Memangnya aku harus tahu?"

Bab 2

​"Dia putri tunggal Patriark Keluarga Gu! Jenius nomor satu di kota ini!" seru Ruowei gemas. "Usianya baru enam belas tahun, tapi kultivasinya sudah mencapai Pengumpulan Qi tingkat kesembilan. Katanya sebentar lagi dia akan menerobos ke tahap Pendirian Fondasi!"

​Yunche mengangguk pelan. "Hebat juga."

​"Hanya 'hebat juga'? Kau tidak terkejut sama sekali?"

​"Untuk apa? Aku bahkan tidak kenal dia."

​Ruowei menatap Yunche dengan pandangan aneh. "Kadang-kadang aku merasa kau ini benar-benar manusia tanpa ambisi."

​Yunche tersenyum tipis, matanya menatap menerawang ke arah langit pagi yang cerah. "Ambisi? Aku punya, kok."

​"Benarkah? Apa?"

​Yunche tampak berpikir sejenak, lalu menjawab dengan wajah paling serius yang bisa ia buat. "Besok... sarapan lebih banyak."

​Puk!

​Ruowei langsung memukul lengan Yunche gemas. "Dasar tidak jelas!"

​Yunche tertawa lepas.

​Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa tepat sehari setelah percakapan konyol itu, garis takdir hidupnya akan bergeser secara permanen.

​Bukan karena ia tiba-tiba menemukan teknik kultivasi kuno, bukan karena ia menemukan harta karun tersembunyi, dan bukan pula karena bakatnya mendadak melesat menjadi jenius. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia akan bertemu dengan seorang gadis yang kelak memegang peranan paling krusial dalam hidupnya.

​Keesokan harinya, Keluarga Shen menyambut kedatangan rombongan Keluarga Gu dengan megah. Kereta-kereta kuda berornamen indah berhenti di depan gerbang utama. Para tetua Keluarga Shen berbaris rapi di garda depan, sementara Yunche berdiri malas di barisan paling belakang.

​Ia menguap lebar. "Kenapa aku harus berdiri di sini juga?"

​"Karena ini acara resmi keluarga," bisik Ruowei di sampingnya tanpa menoleh.

​"Kalau aku kabur?"

​"Penatua Ketiga akan mematahkan kakimu."

​Yunche mengangguk paham. "Alasan yang sangat masuk akal."

​Kereta utama berhenti. Pria paruh baya berwibawa turun, disambut hangat oleh para tetua Shen. Mereka saling melempar penghormatan dan kata-kata manis khas bangsawan.

​Lalu, pintu kereta kedua terbuka.

​Seketika itu juga, atmosfer di area gerbang mendadak berubah hening. Seorang gadis melangkah turun dengan anggun. Pakaian gaun putih sederhananya membungkus tubuhnya dengan elok, sementara rambut hitam panjangnya terurai halus tertiup angin. Wajahnya amat jelita, namun bukan cuma parasnya yang menyita perhatian—melainkan aura dingin dan tenang yang terpancar alami dari dirinya.

​Gadis itu berdiri diam. Matanya yang jernih menyapu kerumunan di halaman, hingga akhirnya... pandangannya terhenti pada barisan paling belakang.

​Tepat pada seorang pemuda yang sedang... mengorek hidungnya tanpa beban.

​Gu Qingli terdiam seketika.

​Shen Yunche tidak menyadari menjadi pusat perhatian. Ia masih sibuk dengan urusannya sendiri sampai akhirnya merasa ada tatapan menusuk. Saat menyadarinya, Gu Qingli sudah memalingkan pandangan seraya bergumam amat pelan, "Orang aneh..."

​Namun, Yunche mendengarnya. Ia mengangkat kepala. "Hm?"

​Mata mereka kembali bertemu secara langsung. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling pandang dalam keheningan. Yunche menunjuk dadanya sendiri. "Ada apa?"

​Gu Qingli mengerutkan kening halus. "Tidak ada."

​"Lalu kenapa melihat-lihat ke mari?"

​"Aku tidak melihatmu."

​Yunche menunjuk matanya sendiri. "Jelas-jelas tadi mata kita beradu."

​Gu Qingli bungkam, sedikit terkejut dengan kelakuan pemuda di depannya.

​Ruowei yang panik setengah mati langsung menarik-narik lengan baju Yunche. "Yunche, diam! Jangan cari masalah!"

​"Aku cuma bertanya," bisik Yunche santai.

​Gu Qingli memalingkan wajahnya sepenuhnya. "Berisik."

​Yunche mengangkat alis. "Apa kau bilang?"

​"Kubilang, kau terlalu berisik."

​Yunche tertegun. Ini pertama kalinya dalam hidup ada orang asing—seorang gadis jenius pula—yang berani melontarkan kata-kata sepedas itu langsung di depan wajahnya.

​Di sampingnya, Ruowei menutupi mulutnya rapat-rapat. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak.

​Yunche memperhatikan punggung Gu Qingli yang mulai berjalan melangkah menjauh mengikuti rombongan. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aneh sekali gadis itu."

​"Hahaha!" Ruowei akhirnya tidak sanggup menahan tawa lagi.

​"Apanya yang lucu?"

​"Baru pertama kali bertemu dan kau langsung membuat musuh!"

​"Siapa yang bermusuhan? Dia yang melihatku duluan."

​"Lalu?"

​"Ya..." Yunche berpikir sejenak. "...berarti dia yang salah."

​Ruowei menggeleng-gelengkan kepala. "Logika dari mana itu?"

​Yunche tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada punggung Gu Qingli yang kian menjauh menyusuri koridor kediaman Shen. Entah mengapa, ada impresi unik yang tertinggal di benaknya.

​Namun, perasaan itu hanya melintas berkelebat. Yunche segera mengibaskannya dari pikiran. Bagi Yunche, Gu Qingli hanyalah seorang gadis dari keluarga terpandang—seorang jenius yang berdiri di panggung yang jauh berbeda dengannya.

​Ia tidak pernah membayangkan... bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika mereka berdua berdiri menantang seluruh dunia kultivasi, Gu Qingli adalah satu-satunya sosok yang akan berdiri setia di sampingnya.

​Dan pada saat hari itu tiba, mereka akan mengenang kembali pertemuan pertama yang konyol ini. Sebuah pertemuan sederhana yang bahkan tidak pernah dianggap penting oleh siapa pun—sebuah awal kecil dari kisah mahakarya tentang cinta, pengkhianatan, takdir keluarga, serta sebuah janji... yang bahkan tak sanggup dihapuskan oleh langit.

​"Shen Yunche."

​Sebuah suara berat bernada tegas menghentikan langkah Yunche yang sedang berjalan santai. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Penatua Ketiga berdiri beberapa meter darinya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"

​"Memangnya ada Shen Yunche lain di sini?"

​Yunche menengok ke kiri dan kanan dengan wajah polos. "Siapa tahu ada."

​Penatua Ketiga menarik napas panjang, mencoba mengendalikan rasa sabarnya. "Ikut aku."

​"Mau ke mana?"

​"Balai Utama."

​"Kenapa?"

​"Jangan banyak tanya!"

​Yunche menghela napas pasrah. "Kalau tahu alasannya, kan saya bisa bersiap mental dulu."

​"Untuk apa?"

​"Biasanya kalau dipanggil Penatua, ujung-ujungnya cuma dimarahi."

​"Kali ini tidak."

​"Benarkah?"

​"Tidak juga."

​"Ah..." Yunche akhirnya tetap melangkah mengekor.

​Penatua Ketiga hanya bisa menggelengkan kepala. Pemuda satu ini benar-benar selalu sukses membuatnya pening.

​Suasana di dalam Balai Utama Keluarga Shen terasa jauh lebih formal dan tegang ketimbang biasanya. Patriark Shen duduk anggun di kursi utama, diapit oleh para tetua senior. Di hadapan mereka, duduk Patriark Gu bersama beberapa perwakilan keluarganya.

​Dan tepat di antara mereka... berdiri Gu Qingli.

​Ketika Yunche melangkah melewati ambang pintu, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan jernih milik gadis itu. Keduanya sempat terdiam sejenak.

​Yunche menunjuk ke arah Gu Qingli seraya berbisik polos pada dirinya sendiri. "Kenapa dia ada di sini?"

​Gu Qingli mengerutkan kening halus. "Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu."

​Yunche malah menoleh lurus ke arah Patriark Shen. "Patriark, kenapa dia boleh ada di sini?"

​Patriark Shen memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Yunche."

​"Ya?"

​"Diam."

​"Oh. Baik." Yunche langsung bungkam. Ia berjalan menepi ke sudut ruangan lalu duduk menglesot dengan santai.

​Gu Qingli memperhatikannya dari kejauhan dengan penuh tanda tanya. Ia tidak mengerti mengapa pemuda sekonyol ini dipanggil ke dalam pertemuan penting antar-keluarga. Dari cara berpakaian maupun auranya, pemuda itu sama sekali tidak memancarkan karisma seorang praktisi hebat. Bahkan jika dilihat dari fluktuasi energi spiritualnya...

​Pengumpulan Qi tingkat kedua? Gu Qingli memicingkan mata. Sepertinya memang benar. Kenapa pemuda selemah ini dipanggil ke sini?

​Ia menyapukan pandangan kembali ke depan ketika Patriark Shen mulai angkat bicara.

​"Seperti yang telah kita sepakati, Keluarga Shen dan Keluarga Gu akan mengadakan sesi latihan bersama bagi generasi muda," ujar Patriark Shen wibawa.

​Patriark Gu mengangguk setuju. "Benar. Tujuan utama kita adalah mempererat hubungan kedua keluarga, sekaligus menyeleksi beberapa murid berbakat untuk mengikuti ujian masuk Sekte Awan Biru."

Bab 3

Mendengar nama Sekte Awan Biru, beberapa pemuda Keluarga Shen yang hadir mendadak berseri-seri. Sekte tersebut merupakan salah satu penguasa wilayah selatan. Bagi para kultivator muda, berkesempatan menjadi murid Sekte Awan Biru adalah pencapaian tertinggi.

​Sayangnya, Yunche sama sekali tidak tertarik pada obrolan itu. Matanya justru terfokus pada meja jamuan di tengah ruangan. Di sana tersaji piring-piring berisi kue manis yang menggoda.

​Tangannya perlahan diulurkan, merayap mendekati piring. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan kue...

​"Shen Yunche!" tegur Penatua Ketiga dengan suara tertahan.

​Jari Yunche membeku di udara. Ia menoleh perlahan. "Ya?"

​"Jangan dimakan."

​Yunche mengerutkan kening. "Kenapa?"

​"Itu dihidangkan untuk tamu!"

​Yunche menunjuk Gu Qingli. "Dia tamu?"

​"Ya."

​Yunche mengangguk paham, lalu ganti menunjuk dadanya sendiri. "Kalau saya?"

​"Kau anggota keluarga!"

​"Oh," Yunche tampak berpikir keras. "Lalu kenapa anggota keluarga sendiri malah tidak boleh makan?"

​Penatua Ketiga mendadak bungkam, kehilangan kata-kata.

​Di tempat duduknya, Gu Qingli menundukkan kepala. Bahunya bergetar halus—ia sedang bersusah payah menahan tawa agar tidak meledak di tengah ruangan.

​Yunche yang menyadarinya langsung menoleh. "Kau tertawa?"

​"Tidak," sahut Gu Qingli cepat, kembali menetralkan ekspresinya.

​"Jelas-jelas kau tertawa tadi."

​"Aku tidak tertawa."

​"Barusan bibirmu—"

​"Shen Yunche," potong Patriark Shen dengan nada dalam. "Kalau kau masih mau makan kue itu nanti, diam sekarang."

​Yunche seketika duduk tegak seperti prajurit. "Siap, Patriark."

​Melihat respons kilat itu, Gu Qingli akhirnya gagal menahan diri. Sebuah senyuman kecil terukir di wajah cantiknya—sangat tipis dan hampir tak terlihat. Namun, Yunche sempat menangkapnya.

​Yunche terpaku sejenak. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak gadis itu datang, Gu Qingli tak lagi terlihat seperti patung es yang dingin.

​Yunche menggelengkan kepala pelan, mengusir isi kepalanya. Paling cuma kebetulan, batinnya seraya memalingkan pandangan.

​Pertemuan itu berlangsung hampir satu jam. Begitu acara usai, Yunche langsung ngeluyur keluar menuju halaman belakang yang sepi.

​Namun baru melangkah beberapa puluh meter...

​"Shen Yunche."

​Langkah Yunche terhenti. Ia mengenali suara dingin itu. Saat berbalik, Gu Qingli sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa lagi?"

​Gu Qingli berjalan mendekat dengan anggun. "Aku ingin menanyakan sesuatu."

​"Tanya saja."

​"Kau..." Gu Qingli mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "...memang selalu bermulut sembarangan seperti itu?"

​Yunche mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"

​"Berisik."

​Yunche terdiam sejenak. "Ah... jadi kau mau bilang aku ini berisik?"

​Gu Qingli mengangguk tanpa ragu. "Benar."

​Yunche langsung berbalik membelakanginya. "Kalau begitu, tidak usah bicara denganku."

​Gu Qingli tertegun. "Kenapa?"

​"Katanya aku berisik. Nanti telingamu sakit."

​"Bukan berarti aku melarangmu berbicara," sanggah Gu Qingli cepat.

​Yunche menghentikan langkah lalu menoleh pelan. "Lalu?"

​"Aku cuma penasaran. Kenapa kau dipanggil ke dalam pertemuan tadi?"

​"Memangnya kenapa?"

​"Kultivasimu sangat rendah."

​"Oh," Yunche mengangguk santai. "Cuma Pengumpulan Qi tingkat dua."

​"Aku tahu."

​"Lalu?"

​Gu Qingli menatapnya lekat-lekat. "Kau tidak merasa kecewa atau malu?"

​"Malu kenapa? Karena orang lemah sepertiku hadir di ruangan yang sama dengan para jenius?"

​"Aku tidak bermaksud merendahkanmu."

​"Tapi raut wajahmu bilang begitu."

​Gu Qingli menyipitkan mata. "Kau benar-benar terlalu banyak bicara."

​"Nah, kan!" Yunche menunjuknya. "Bilang berisik lagi."

​Gu Qingli mendesah pelan, mulai menyesali keputusannya menghampiri pemuda ini. Namun sebelum berbalik pergi, rasa penasarannya menahan langkahnya. "Jawab saja. Kenapa kau masih mau berkultivasi kalau tahu bakatmu sangat buruk?"

​Pertanyaan jujur dan menohok itu membuat Yunche bungkam. Untuk pertama kalinya, raut jahil di wajahnya menyurut.

​Angin sore berembus pelan, membelai dedaunan di sekitar mereka. Yunche menatap ke arah halaman luas, lalu terkekeh tipis.

​"Karena aku ingin menjadi kuat."

​Gu Qingli menatap mata pemuda itu. "Untuk apa? Meraih kejayaan?"

​Yunche mengangkat bahu. "Belum tahu."

​"Belum tahu?"

​"Ya," Yunche menatap kedua tangannya sendiri. "Aku cuma berpikir... kalau suatu hari nanti aku menemukan sesuatu atau seseorang yang ingin kulindungi, aku tidak mau jadi orang lemah yang hanya bisa berdiri dan menangis tanpa bisa berbuat apa-apa."

​Gu Qingli terpaku. Jawaban yang begitu polos, tetapi terucap tanpa keraguan.

​Namun sebelum atmosfer hangat itu bertahan lebih lama, Yunche mendadak menunjuk ke arah Balai Utama di belakang Gu Qingli. "Ngomong-ngomong..."

​"Apa?"

​"Kue di meja tadi..."

​"Kenapa dengan kuenya?"

​"Kau makan tidak?"

​"Belum."

​Yunche mendesah lega, matanya berbinar. "Baguslah!"

​Gu Qingli mengerutkan kening. "Kenapa bagus?"

​"Berarti sisanya masih banyak." Yunche tersenyum lebar. "Kalau kau tidak makan, berarti bagianmu bisa buat aku!"

​Gu Qingli membatu seketika. Seluruh simpati dan rasa kagum yang baru saja tumbuh di benaknya sirna tak berbekas dalam sekejap.

​"Dasar bodoh!" cetus Gu Qingli dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi begitu saja.

​Yunche menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Loh? Kenapa dia marah lagi?"

​Dari balik bayangan pohon besar tak jauh dari sana, seorang pemuda berkimono putih bersih tampak mengamati seluruh interaksi itu sejak awal. Parasnya tampan dengan aura tenang nan elegan.

​Ia adalah Xiao Hanzhou—jenius muda terpandang dari Sekte Awan Biru sekaligus sosok yang sangat dekat dengan Keluarga Gu.

​Ketika Gu Qingli berjalan melewatinya, Xiao Hanzhou menyapa lembut. "Qingli."

​Langkah gadis itu terhenti. "Kakak Xiao."

​"Kau sedang berbicara dengan siapa tadi?"

​Gu Qingli menoleh sebentar ke belakang, tempat Yunche yang kini sibuk berjalan menyelinap. "Hanya salah satu anggota Keluarga Shen."

​"Shen Yunche?"

​Gu Qingli sedikit terkejut. "Kakak Xiao mengenalnya?"

​Xiao Hanzhou tersenyum tipis, menatap punggung Yunche dengan pandangan meremehkan. "Sedikit. Dia cukup terkenal di kota ini."

​"Terkenal?"

​"Terkenal sebagai sampah berkepala batu. Pemuda tanpa bakat yang memaksakan diri berkultivasi meski sudah jelas tidak ada harapan." Xiao Hanzhou melangkah mendekat, nada suaranya tetap terdengar ramah dan perhatian. "Saranku, sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya. Dia tidak punya masa depan, aku hanya tidak ingin kau membuang-buang waktumu."

​Gu Qingli tidak langsung menjawab. Matanya kembali menatap ke arah Yunche yang kini sudah berhasil menerobos masuk ke area meja jamuan.

​Dan benar saja... baru beberapa detik berlalu...

​"HEI!"

​Teriakan membahana Penatua Ketiga memecah ketenangan sore.

​"SHEN YUNCHE!"

​Seketika itu juga, Yunche melesat lari sekuat tenaga keluar dari balai sambil memeluk piring kue.

​"Kembalikan kue itu!"

"Saya cuma mengambil satu, Penatua!"

"Kau mengambil satu piring, dasar bajingan kecil!"

"Ini fitnah! Tolong, ada penganiayaan!"

​Keributan kocak itu berangsur-angsur menjauh ke balik benteng halaman.

​Xiao Hanzhou ikut bungkam melihat tingkah konyol tersebut. Namun di sampingnya... Gu Qingli tanpa sadar tertawa kecil.

​"Pfft..."

​Xiao Hanzhou menoleh kaget. "Kau tertawa, Qingli?"

​Gu Qingli seketika menarik kembali senyumnya, memasang kembali raut dinginnya yang biasa. "Tidak."

​"Tadi jelas-jelas kau—"

​"Aku tidak tertawa," potong Gu Qingli tegas.

​Xiao Hanzhou tersenyum canggung. "Baiklah kalau begitu." Namun, tatapan matanya yang terarah ke jalur lari Yunche berubah sedikit lebih dingin.

​Sementara itu, di balik keributan dan kejar-kejaran konyol sore itu, ada benih kecil yang mulai bertunas. Sebuah rasa penasaran sederhana dan ketertarikan unik antar dua jiwa yang amat berseberangan.

​Sesuatu yang kelak akan menjadi pemantik dari takdir besar mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!