Indonesia
NovelToon NovelToon

KARMILA

Wanita trauma

Langkah tertatih menapaki tangga, secara fisual mirip film horor tapi enggak layak di untuk apartemen kelas menengah di Tengah kota Jakarta.

Tumben nya lift dalam perbaikan memakan waktu hampir 2 hari,hah enggak jelas nih.

Tangan lentik putih meraih handuk, membasuh tubuh membuat busa tanda kebersihan tubuh telah di selesaikan. 'Kak, Mama Oma pengen kamu pulang...Oma sudah sakit-sakitan sekarang.' Eh Mama tumben jam 21:30 WIB dia mengingat ku.

Oh prihal ibunya, ku tatap jam dinding menunjukkan pukul 23:00 kembali ketempat tidur untuk bersiap menyambut pagi, nyatanya mimpi' itu datang kembali. rumah tua,banyak hutan ilalang namun ada sekolahan kamar mandi dan ketakutan ku layaknya film horor, ternyata hanyalah mimpi semata.

Sprei katun cokelat semula rapi kini tak berbentuk motif nya, pandangan ku tertuju pada jam dinding sudah hampir 3 jam aku tidur, rasanya tak ngantuk lagi. Segelas kopi menjadi wadah untuk bertukar pikiran.

'Kamu gak jawab pesan ku?' Pacar sialan... Batin itu selalu menimpali jika aku ingin membalas pesan nya.

Dia donatur berbentuk laki-laki, awalnya aku ketemu dengan dia dalam satu komunitas dan ceritanya ketika awal bertemu dengan ku sangat unik.

Flashback:

Ketika aku kecil,aku memiliki saudara laki-laki Pandi namanya...ia kecelakaan akibat Mama kurang becus dalam menjaga kami, mama menjalani hubungan terlarang setelah resmi menjadi istri Papa. Kau tau gong nya, aku bukan anak kandung Papa yang ku kenal sudah 9 Tahun lamanya, berulang kali rasa kecewa yang diberikan Mama, Papa terus bertahan.

Termasuk dengan hadirnya aku Papa masih menerima Mama dengan baik, Mama tidak mensyukuri itu dalam hidup nya. Sekarang jangan tanya bagaimana kabar Mama ku, aku bahkan gak tau ada berapa anak yang hidup setelah pandi.Semuanya Mama hilangkan identitas nya,apa aku mencari mereka? Oh tidak...

Masa kecil ku terlalu suram dibuat perempuan bergelar ibu itu, belum

trauma masa kecil dari keluarganya

membuat ingatan semakin kacau.

Aku pernah tinggal dengan saudara laki-laki ibu, berhubung dia wanita karir di kota dan saudara laki-laki nya baru menikah butuh seorang teman untuk istrinya di desa. Aku terbiasa manja tak sanggup rasanya harus bangun pukul 5 pagi atau 6 pagi untuk bersiap membereskan rumah sekaligus persiapan bekal untuk ke kebun. Berulang kali aku menelepon nya untuk segera pulang.

"Pemalas"

"Enggak tau diri"

"Ibu udah kek gitu,mau jadi apa kau."

"Sama kau kek bapak mu."

"Ntah apa kau datang jadi beban aja."

Kata-kata yang selalu menjadi trauma tersendiri bagiku. Tanpa menutup mata untuk istirahat kembali aku sudah mulai berteman dengan air kembali, apartemen sunyi ternyata lift sudah berfungsi. Malam dan subuh sudah sama rasanya, aku kembali dengan trasum dan ya selain wanita independen di kota Jakarta aku juga wanita ontime ya... Didikan keras itu ada bagus nya menciptakan aku sebagai wanita yang kuat.

"Lo jadi pindah kampus?" Teman ku datang jalan bersama ku menuju kantor,ya antara apartemen dan kantor bisa di tuju dengan satu transportasi yang bernama KAI. "Ia, kata pak Abram kampus sekarang gak mendukung untuk aku jadi kepala cabang. "Hemmm good luck ya Adriella." tepuk nya padaku.

Dimeja petak otak bulat pun mulai berputar untung nya aku memiliki ruang pribadi untuk ku, pacar ku menelepon. Ia seorang Pelaut, alasan kenapa aku memilih dia? Karena bayangan masa kecil itu, ketika aku dijemput pihak Papa kandung ku. Aku dan dia berpisah, aku tidak tau pada masa itu itu dia namanya siapa dan tinggal nya dimana... Yang ku ingat namanya Joko/ Jaka gitu kalau pacar ku yang ini bukan Joko dia Dean sekiranya dengan hadirnya dia, dia bisa menambah cerita baru dalam hidup ku.

Intinya di desa enggak masuk peta bernama Sindar dolok aku menemukan laki-laki itu,ketika itu aku ingat dia dan saudara nya di bawa papa mereka ke rumah kebun istilahnya, mereka menanam Jahe dan ikut masa panen masa itu, kalau berhubungan dengan Jahe sudah tau dong dimana cerita ini terjadi. Ya daerah Sumatera Utara.

Singkat nya moment kebersamaan seperti dia mendorong ku dengan andong atau alat bantu bewarna merah, mengambil buah alpukat untuk ku dan kami memelihara ikan itu menjadi kenangan terindah sendiri untuk masa kecil ku, bagiku dia cinta pertamaku.

"Aku butuh uang Delapan juta lagi untuk RPL di kampus baru." Tanpa basa-basi aku menelepon nya langsung dengan todongan tanggung jawab. "ntar ya sama uang jajan mu, September aku pulang. Aku enggak bilang ke orang tua kalau mau pulang, nanti dah bisa mulai cari apartemen buat aku atau enggak aku di apartemen kamu." Perintahnya kepada ku.

"Ntar aku cari," jawab ku.

Jangan salahkan sifat cuek ku, aku pernah mencoba ramah namun hubungan ini terlalu tinggi tembok nya, aku enggak sanggup jika seorang ibu menangis hebat didepan ku memohon supaya anaknya kembali dengan dia, huhuhu pedih hati ini.

Itulah alasan mengapa aku terkesan memanfaatkan uangnya beberapa waktu belakangan ini.

"Hampa banget ya," ucap nya penuh tanya. "Hemm" jawab ku malas

Dalam hati tersayat hati ini, mengapa begini adanya percintaan ku. Salah ku memulai sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, ia juga tau alasan kenapa aku cuek seperti ini dengan nya. "Hahh,capek banget cinta." ucap nya seraya berbaring.

"Kapan ke Laut?" Enggak ah aku takut tenggelam, batinku kala itu. Semenjak aku tenggelam akibat balas dendam dua keluarga hatiku perlahan menutup ingatan masa kecil sampai seolah menjadi orang lupa ingatan. Bahkan kau tau hidupku hampa rasanya saat ini, enggak tau tujuannya apa dan mau kemana tapi puji Tuhan lewat Tante Yanti aku bisa sampai disini. Mulanya dia merawat ku ketika aku dibuang oleh keluarga ku, dia seorang ibu penuh dengan rasa ke ibuan, dia sekarang menjadi tempat ku pulang. Dan oleh dia lah aku sampai kesini.

Aku mengakui,Rika, Ara,Ryan sebagai adekku,jika orang bertanya ke Tante kenapa jarak ku dan adik-adik terlalu jauh dia pasti membuat cerita real bahwa aku anak mereka.

Tante dan om ku itu romantis vibes orang nya, Om ku juga seorang Pelaut sama dengan pacarku. Mereka memiliki Offshore sebagia ladang pencarian, ya tau sendirilah mengapa dalam cerita ku mereka jarang timbul.

Besok weekend begini ada alasan untuk aku pulang ke rumah, Tante Yanti belum pulang ke rumah, adik-adik ku masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kenapa aku bisa masuk? Layaknya anak aku memiliki akses kunci kamar dan rumah pribadi.

Menikah lah

Suara mobil awal aku merintis karir hingga akhirnya berkarir pulang, membawa cerita tersendiri buat Tante. "Mama kakak Adri datang," aku datang menghampiri Tante, memeluknya dan seperti biasa memanjakan dia dengan membawa tas dan laptop nya.

"Kapan datang dri?" Tante duduk disambut kami anak-anaknya, ada juga bibi cuman ia hanya melaksanakan tugasnya. "Udah-udah mami mau ngobrol sama kakak dulu,kalian belajar sana." dapur simpel yang kami ubah menjadi mini bar sederhana adalah tempat cerita panjang terjadi.

"Umur mu berapa dri?" Tante datang dengan segelas minuman "23 Tan, baru ini aku ambil S1 Tan, enggak bisa lagi D3 itu penyelamat di Bank." Curhat ku ke Tante.

Begitulah wanita itu, dia wanita yang realistis serta dapat mengimbangi manja dan tegas sehingga aku dan anak-anaknya dapat menjadi orang disiplin serta bertanggung jawab atas hidup.

"Baguslah, tuntaskan lah... Kan sebentar itu." Aku mengangguk pelan."Om mu itu ada atasan nya, baik Dri Cina. Yang terpenting satu agama." Sendirian kuat nihhh.

"Bagus juga tu Tan,boleh lah bagi nomor." Kata ku tertawa.

"Oh iya Tan," segelas minuman sekali teguk membuatku berani menanyakan hal ini kepada Tante, " apa?" pelan namun tegas.

"Waktu Tante pun masih merintis di Jakarta, Kenapa Tante mau bawa aku ke hidup Tante? Sampai dibilangin orang Tante punya anak diluar nikah karena aku."

Diam seperti itu yang tak ku suka, ia tau aku ingin mulai mengulik kisah lama. " huhh." Senyuman tipis itu mengundang air mata.

"Kalau di ingat ya Dri,Dulu itu... Hah... Masih kecil bangett kau sama Tante kelas 1 SMP kau ku bawa ke Jakarta,urus ini itu ribetnya minta ampun sampai ku bikin dulu surat adopsi mu... Ih kalau ingat itu misalnya enggak kau anggap aku Mamak mu aku enggak tau lah aku kek mana kau."

"Enggak lah Tan, walaupun bukan manggil mami atau ibu aku ke Tante dengan dirawat Tante aja udah senang kali aku."

Tante bikin wajah lelucon, terus bibi datang menghampiri kami dengan buah potong.

"Adriella ni dulu bukan siapa-siapa ku Bi, Mama Bapak nya cerai. Terus tinggal sama neneknya satu kampung kami, entah Kenapa waktu itu mereka ribut besar dua keluarga. Ini anak ya, kelas 4 atau 5 SD udah berdarah-darah, itu keloid di dengkul sama di keningnya dulu dalam banget lukanya enggak tau aku ini anak di apain sama keluarganya... Yang aku tau dan dengar mereka kesusahan lah ngerawat ini anak, bapak ku dulu yang ambil dia, dibawa kerumah.Mama sayang bangett sama ini anak sayang nya kan dia masih kecil kali masih butuh perhatian jadi enggak sanggup lah orang mamak ngerawat dia, mau dibikin ke panti Asuhan..."

Aku menangis haru melihat Tante menceritakan detail sekali, dia masih seingat itu tentang kisah ku. " aku kan bagian hukum, tau lah aku kan gimana Amanin ini anak. Ku bikin dulu dia di panti Asuhan, ada kali 5-7 kali buat permohonan untuk adopsi."

Hahaha bibi yang awal nya gak mau rumpi juga ikut ngerumpi dengan kami. " Ya gak bilang apa itu juga alasan kenapa aku nikahnya lama,tapi puji Tuhan nya ketemu bapak. Itu Bapak mulai SMA Lo naksir sama aku, cuman dulu kehidupan kita jauh banget ekonomi nya enggak berani jadinya Bapak dekat-dekat sama aku eh taunya dia merantau ke luar negeri. Ya mungkin itulah jodoh kali ya ."

"Untung nya ibu juga belum nikah."

"Benar-benar"

"Berarti kalau soal urusan nikah, Tante enggak terlalu maksain aku bangett kan?" Tanya ku lembut.

"Enggak! Sembuhkan dulu trauma mu, baru kau berani bahas pernikahan,Konsultasi lah ke psikolog tentang gangguan tidur mu, Tante takut Lo Dri kamu stress dan gak fokus karena itu." Aku mengangguk pelan. "Iya Tan."

Kembali ke kamar ku, aku memiliki kamar pribadi di sini, harusnya ini kamar ku sendiri cuman sekarang Rika adikku sudah mulai dewasa dia sudah mulai tau privasi,dan sekarang ia mengikuti langkahku menuju kamar ia lah hanya untuk meminta kunci kamar agar diserahkan padanya. "Ara sudah aku suruh tidur di kamar Mami cuman kalau Papi pulang pasti di dibalikin ke aku. Aku sebel."

"Iya udah,kamar kakak buat adek...tapi dirawat ya." Dia senang sampai-sampai memeluk ku erat, "kakak kenapa sih enggak lebih lama tinggal di rumah." Aku paham betul dibalik ucapan itu, apalagi Rika sudah ku anggap adikku sendiri.

"Makan apa ya?" Hahahaha kebiasaan lama nihhh entah kenapa adek itu suka banget dengan namanya menikmati harta kakak.

"Cek out gih." Senangnya luar biasa, terlebih anak SMP emang lagi puber-pubernya jadi untuk urusan segala hal yang booming mereka jago nya.

"Kak ini cakep kan bajunya."

"3 barang cukup ya dek." Mulai kecil aku membiasakan didikan dengan tegas dan batasan yang real supaya dia tidak merasa diabaikan permintaan nya dan tidak terlalu semena-mena akan permintaan nya. "Papi kalau pulang itu sering nanyain kakak, wajar sih dah lama kan kakak sama papi gak ketemu."

"Benar sihh dek.Ntar kita family time ya ajak papi kalau udah pulang."

"Kakak masih ingat gak sih yang jatuh dari motor waktu dijemput Papi, aku masih Play ground itu ya."

"Iya masih kecil, kening kamu juga luka kan dek? Ada bekasnya mirip kakak?"

Poni tersingkap dari wajahnya, bekas keloid itu terjadi karena waktu kami jatuh dari motor dia terpental lumayan jauh... enggak ada pembedaan Om antara anaknya dan diriku, ketika menyelamatkan ia lebih dahulu menolong orang yang membutuhkan. Itu alasan Tante memilih dia sebagai ayah kami di rumah.

Panjang cerita berakhir kami tidur sama, malam yang tenang membangunkan ku dengan mimpi-mimpi aneh itu lagi. Entah kenapa sosok anak itu datang lagi ke dalam mimpi ku "Kalau kamu mau pergi aku kasih gambar ku ya buat kamu." Ingatan ku berusaha mengingat-ingat wajah kecil itu sampai sakit rasanya.

"Tuhan, jikalau boleh aku meminta tolong pertemukan aku dengan dia lagi." Hatiku tenang dengan segelas air dingin.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Menjelang pagi Tante sudah selesai dengan olahraga nya, rencana kami pagi ini ke pasar dengan motor sesuai dengan permintaan Tante.Nostalgia dengan motor itu merupakan quality time sempurna untuk hubungan anak dan ibu tanpa aliran darah ini.

Untuk pertama kalinya aku dapat di bonceng oleh Tante,dia menunjukkan skil bawa motor di kawasan komplek dengan ku. "Lumayan lah Tan, walaupun belokan nya patah." kata ku tertawa dan kalau kami tertawa itu dipastikan kuntilanak insecure,parah ributnya.

"Hahahaha "

"Ehhhh"

"Dri...driii" suara selain motor matic suspensi 150.

Ya walaupun di plastik putih merah hitam itu kebanyakan gorengan dan makanan sudah saji yang terpenting kebahagiaan kami sudah tercapai.

"Belajar masak lah kau Dri, biar jualan kita." kata Tante padaku... Inilah salah satu hal yang ku syukuri punya ibu seperti Tante tidak menuntut anak lebih tapi tetap terus berharap dengan cara tidak putus asa dalam memberikan arahan.

Dugem

'Dri dimana? Kuyy malming (malam Minggu ) clubing." ajakan nya membuat mu tergoda. "Tan sore aku balik ya." kataku setelah semua makanan tersaji di meja.

"Tumben akhir-akhir ini kamu begitu, biasanya pulang itu berangkat kerja dari sini." Tante mulai curiga dengan ku kah? Memang semenjak berteman dengan mereka kehidupan ku jauh lebih bebas, aku menemukan arti melupakan masalah lewat 4 teman wanita ku, kehidupan mereka sama broken nya cuman terselamatkan lewat pilihan untuk enggak percaya dengan namanya orang tua. Itu makanya mereka bisa bebas walaupun begitu ada batasan nya jadi itu juga alasan ku untuk percaya bahwa pertemanan ini bukan racun untuk kehidupan ku.

"Iya Tan, ada teman ngajakin jalan."

Tante paham kalau anak nya yang satu ini, juga sudah mulai memiliki kehidupan pribadinya.

Berangkat dari rumah lewat dari waktu yang seharusnya, kembali ke apartemen siap dengan style terbaik ku. Wkwkwk aku hanya menikmati goyangan lagu DJ dan juga santai nya minuman tidak ada kata melenceng dalam hidupku. Itu sangat menyenangkan, dan ketika aku siap salah satu teman ku datang dengan mobil nya, dia sabar menunggu sampai kami memilih club terdekat dengan penginapan yang sudah kami pesan terlebih dahulu.

"Kacau nihh, istrinya pacar ku sudah tau hubungan kami gimana nih menurutmu..."

Layar handphone berhenti untuk scroll nya."Privasi akun mu, and jangan ada akses lagi untuk hubungan kalian berlanjut...

stop it !!!

"Andaikan ya Dri waktu itu Jaka dan aku tau perasaan kami masing-masing enggak mungkin kamu jalani pernikahan tanpa cinta seperti ini, Jaka juga enggak bahagia dengan pasangan nya begitu juga dengan aku."

"Iya itulah mungkin alasan kalian di persatukan kembali, enggak ada yang salah dengan ini... Hanya kalian tidak hanya membohongi diri kalian sendiri tapi juga menyakiti hati orang lain."

Dia diam merenungi masalah nya, diantara ke 4 teman wanita ku tentu nya slalu jadi tempat cerita adalah ADRIELLA, wanita ini selalu dianggap sebagai tempat ternyaman tanpa ada kata menghakimi dari bibirnya.

"Hubungan Lo sama Dean gimana?"

"Iya gitu, Lo enggak tau Emaknya Dean di kampung kan dah jodohin Dean...Bahkan Dean tu dah tunangan."

"Dan Lo masih mau?"

"Like you." Kami sama-sama tertawa diatas kebodohan kami, bodohnya bertahan dalam hubungan semu ini.Maf ya di bab ini aku baru kasih tau tentang sisi gelap ku.

"Artinya Lo juga selingkuhan dong DRI?" Ia ikut memakai booth sama seperti ku, mengganti style kemeja menjadi outfit Sabrina. Woww bodynya pear sheep idaman semua laki-laki.

"Kalau gue bilang sih enggak, bukan nya pembelaan ya... Kan wanita itu yang berani masuk ke hubungan kami, ya walaupun seperti kita tau realita nya hubungan ini semu."

"Terus Lo masih bertahan dengan Dean apa dong?"

"Hemm...Saat ini sih uang ya, gue kuras sampai mampus tu anak. Dendam banget sumpah kalau di ingat perlakuan emaknya sebelum dengan halus minta anaknya dari gue."

Dan sesama pendosa saling menguatkan, tepukan dibahu bukan sebuah isyarat ketabahan melainkan wujud untuk saling menyadarkan.

Langkah kami seperti menemukan titik terang daripada kehidupan, dan ya begitu jelas ini tempat nya kelepasan beban serta kebebasan tanpa arah tujuan.Tarian dan musik DJ belum terdengar begitu menggoda di jam-jam segini.

"Minum sampai puas." Ketiga teman lainnya sudah ada di tempat.Mereka bagian seksi konsumsi sementara kami bagian tempat sungguh kerja sama yang tepat.

Oh iya sekilas perkenalan aja ya, rambut pendek dan hidung mancung itu namanya Riana dan itu yang kecil mungil layaknya anak SMP padahal bukan... Dewi! dan itu famy wanita tinggi dengan body sama seperti Tina.

Dengan ke empat wanita ini aku menemukan sisi lain dari ADRIELLA, ya sungguh indah arti nama itu dan itu layak disandang kan Tante untuk nama ku cuman untuk saat ini itu tidak ku pakai di tempat ini. Tidak ada teman-teman ku atau apa pun menyingkat identitas ku terpampang di sini.

Satu botol sampai 2 gelas minuman tuang membuatku hilang kontrol, aku teruyung-uyung naik ke atas meja seraya bergoyang hebohketika lagu berjudul Karmila di mainkan dengan musik DJ breakbeat.

Tangan satu pria menarik ku turun, ia membawa ku menjauh dari teman-teman. Pikiran yang tak karuan membuatku ikut cuman entah siapa pria itu menarik kembali ketempat ku. Sampai nya aku pusing dan tak sadarkan diri.

Bangun dalam keadaan sempurna aku yakin ini di hotel tempat kami sediakan sebagai alternatif tempat persinggahan "Kacau Lo!!" Teriak Tina menimpali badan ku. "Apaan!!"

"Untung ya dia ada yang angkat." Aku tersenyum kecil, aku enggak tau mau tanggapi apa. Berhubung kepala juga pusing jadi aku tidak ikut turun untuk serapan pagi.

Lama tidak bergabung dengan dunia malam ya begini, Kacau banget.

Ya kalau bareng mereka cuman batas sampai jam 10 pagi doank gak ada acara lebih dari itu.

Dan ya aku kembali memulai langkah kecil untuk sampai ke apartemen, Tina dan aku berpisah di basement dia ada schedule tambahan.Ya aku tidak ada kegiatan selepas ini, mulai memeriksa KRS (Kredit semester) lewat layar pipih bernama laptop sudah keluar dan menurut informasi prodi aku hanya menyelesaikan S1 tidak sampai 2 Tahun terhubung dengan adanya pembelajaran RPL.

'Baik pak terimakasih.' ku akhiri pesan setelah beberapa pertanyaan. Seperti nya antara aku dan kepala prodi kampus lumayan terbuka aksesnya untuk sekedar bertukar cerita atau mendapatkan informasi tentang dunia perkuliahan, lumayan care juga prodi akuntansi kampus ungu ku.

Kenapa ya duniaku hampa enggak ada kah cerita unik, hah walaupun aku sudah mendapatkan pengganti Mama disini cuman dalam hati kecil ku masih merindukan kehidupan ku di usia 9 Tahun ku. Lewat media sosial aku bisa pantau kegiatan Mama dan Papa ku, mereka bahagia ya dengan keluarga barunya. Papa kandung ku juga.

Senyuman manis tanda kepedihan bukan awal kebahagiaan,"Bisanya mereka bahagia tanpa aku." Di pernikahan Mama sekarang ia mendapati anak sambung dan kandung yang ia inginkan. Sudah lumayan lama dia berumah tangga syukurlah dia bertobat asal jangan suaminya aja yang tomat. Lama-kelamaan aku bisa gila lihat kebahagiaan mereka kenapa aku enggak bisa seperti mereka ya membuat kebahagiaan ku sendiri,Apa gunanya aku membawa semua beban ini hingga sampai saat ini.

"Morning baby, mumpung ada sinyal aku mau kasih kabar kalau aku baru selesai kerja (Dean menunjukkan kuku hitam dan stelan baju seperti habis menyelesaikan pembongkaran mesin.) Nanti kita ketemu ya honey." Itu video terkirim bukan panggilan telepon, Kalau ku lanjutkan hubungan ini dengan Dean gimana ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!