Rangga duduk di tepi kolam renang berbentuk kupu-kupu raksasa, ujung jari-jarinya yang mungil memainkan permukaan air yang berkilau kebiruan. Kolam itu terbuat dari mozaik Italia berwarna safir dan pirus, dihiasi patung-patung marmer yang menyemburkan air ke udara seperti tarian balet yang abadi. Di sekelilingnya, taman seluas dua hektar tertata rapi dengan bunga-bunga eksotis—anggrek bulan, mawar merah berduri, dan melati yang semerbak baunya setiap senja. Rumahnya, atau lebih tepat disebut istana, berdiri megah di atas bukit tertinggi di kompleks perumahan elit itu. Dindingnya dilapisi kaca berlapis emas dua puluh empat karat, sehingga ketika matahari sore menyinari, bangunan itu menyala seperti obor raksasa yang menyilaukan. Dari sini, Rangga bisa melihat seluruh kota di bawah—gedung-gedung pencakar langit, kemacetan jalan raya yang bagaikan semut, dan lampu-lampu neon yang mulai menyala satu per satu.
Namun Rangga, yang baru berusia sembilan tahun, tidak merasakan kegembiraan sedikit pun. Ia menggenggam ponsel terbaru di tangan kanannya—layarnya menunjukkan notifikasi kosong. Tidak ada pesan dari ayahnya. Tidak ada panggilan dari ibunya. Jam tangan Rolex Oyster Perpetual melingkar di pergelangan tangan kirinya, hadiah ulang tahun ketujuh yang ia terima dari seorang asisten ayahnya, bukan dari orang tuanya sendiri. Sepatu kulit buatan Italia yang ia kenakan bahkan tidak pernah ia pilih—semua pakaiannya dipesan oleh tim personal shopper. Hidupnya adalah kemewahan yang terjadwal, tetapi hatinya adalah padang pasir yang tandus.
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma klorin kolam dan wangi rumput yang baru dipotong oleh mesin pemotong yang berdengung di kejauhan. Dua orang satpam berseragam hitam berjaga di gerbang depan, sementara tiga asisten rumah tangga sibuk membersihkan jendela-jendela kaca. Di dapur, seorang koki berlatar belakang Prancis sedang menyiapkan makanan mewah untuk makan malam. Tapi Rangga hanya duduk sendiri, seperti patung yang terlupakan di tengah taman yang terlalu luas untuk seorang anak kecil.
Ia memandangi langit yang mulai jingga. Di benaknya, ia sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak biasa. Ia membayangkan pulang sekolah, disambut oleh ibu yang memeluknya erat dengan aroma masakan rumahan yang sederhana—mungkin sayur sop atau ayam goreng. Ia membayangkan ayahnya yang pulang kerja tepat waktu, lalu mengajaknya bermain bola di halaman rumah mungil. Ia membayangkan dimarahi karena celananya kotor, tetapi dimarahi dengan cinta. Tapi semua itu hanya mimpi. Di rumah ini, yang ia dapatkan adalah meja makan sepanjang delapan meter, tempat ia menyantap foie gras dan steak wagyu sendirian, ditemani oleh cahaya lilin dan keheningan yang mencekam.
“Nak, Ayah dan Ibu pergi ke kantor dulu. Ada rapat penting dengan Pak Hartono dan investor asing dari Jepang.”
Suara ayahnya, Fajar Hidayat, terdengar dari teras. Rangga menoleh. Pria berkumis tebal itu mengenakan jas navy buatan Savile Row, dasi sutra merah marun, dan sepatu pantofel mengkilap. Wajahnya tampak lelah—lingkaran hitam di bawah mata, kerutan di kening yang semakin dalam—tetapi ia tetap memancarkan kewibawaan seorang konglomerat yang namanya tercantum di deretan orang terkaya di Indonesia. Fajar Hidayat adalah raja properti yang menguasai hampir separuh lahan komersial di ibu kota. Namanya selalu muncul di majalah ekonomi, fotonya menghiasi sampul bisnis bersama menteri-menteri. Tapi di depan anak tunggalnya, ia hanya bayangan yang datang dan pergi.
Rangga hanya mengangguk tanpa menoleh. Ia sudah hafal rutinitas itu—ayahnya pergi sebelum matahari terbenam, ibunya menyusul, dan mereka kembali ketika Rangga sudah tertidur. Kadang mereka membawa oleh-oleh mahal, boneka beruang dari Singapura atau mainan robot dari Jepang, tetapi semua itu tidak pernah menggantikan kehangatan pelukan sebelum tidur.
“Rangga, sayang,” ibu yang berparas cantik dengan gaun sutra hitam panjang dan perhiasan berlian berton-ton menghampiri. Wangi parfum Chanel No. 5 menyengat hidung Rangga. Ibu mengecup keningnya, cepat dan dingin—seperti cap stempel. “Besok kita liburan ke Singapura, ya? Ibu janji. Kita naik jet pribadi. Kau suka kan? Nanti Ibu belikan sepatu baru di Orchard Road.”
Rangga tersenyum tipis. Tawaran liburan itu ia dengar bulan lalu, dua bulan lalu, dan tahun lalu. Semua janji itu selalu terkubur oleh tumpukan pekerjaan dan pertemuan bisnis yang tak pernah habis. Ia sudah tidak percaya lagi. Yang ia percayai hanya suara mesin pemotong rumput yang terus berdengung tanpa lelah, seolah menggantikan suara kehidupan yang hilang di rumah ini.
“Ibu, bolehkah aku main ke rumah teman?” tanyanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik air kolam. “Teman sekolahku, Rizky, mengajakku ke rumahnya. Katanya ibunya membuat kue bolu.”
Ibu dan ayahnya saling pandang. Ada keraguan di mata mereka. “Maaf, Nak. Nanti malam kita ada jamuan makan dengan pejabat tinggi dan beberapa pengusaha besar. Kau harus ikut. Kau kan penerus kami, generasi emas Hidayat Group. Orang-orang harus mengenalimu sejak dini.”
Rangga menunduk, menatap air kolam yang terus bergelombang. Di bawah permukaan, ia melihat bayangannya sendiri—seorang anak kecil dengan mata kosong, tersesat di tengah kemewahan yang tak ia inginkan. Ia tidak ingin menjadi generasi emas. Ia hanya ingin menjadi anak kecil yang dicintai.
Pukul tujuh malam, Rangga mengenakan setelan mini berwarna krem buatan Armani, dasi kupu-kupu yang mengikat lehernya seperti tali pengikat. Di ruang makan utama yang diterangi lampu kristal dari Murano—ratusan kristal berkilauan seperti bintang jatuh—ia duduk di kursi kepala meja yang terlalu tinggi untuk kakinya yang menggantung. Di sekelilingnya, ada dua belas orang tamu. Mereka tersenyum manis, tetapi Rangga bisa melihat mata mereka—mata-mata yang menghitung, menimbang, dan menakar.
Di ujung meja, Pak Hartono duduk dengan tubuh gemuknya yang membeludak keluar dari jas. Pria itu tertawa keras, menunjukkan gigi emas, dan sering menepuk pundak ayah Rangga. “Pak Fajar, saya dengar proyek Tanjung Mas itu sudah di kantong! Selamat! Investornya dari Jepang pasti tergiur dengan angka-angka kita.”
Ayah Rangga tersenyum, tetapi matanya waspada. “Terima kasih, Pak Hartono. Tapi kita belum aman. Masih ada yang mengintai.”
“Siapa?” tanya seorang tamu berkumis.
“Keluarga Dharma,” jawab ibu Rangga, yang sedari tadi diam. Suaranya bergetar tipis. “Mereka juga mengincar lahan itu. Dan mereka punya koneksi di pemerintahan pusat.”
Rangga mendengar nama itu—Keluarga Dharma. Ia tidak mengerti siapa mereka, tetapi ia melihat semua tamu diam mendadak. Udara menjadi tegang. Salah satu tamu, pria botak yang duduk di pojok ruangan, mengenakan kacamata hitam meskipun di dalam ruangan yang terang. Pria itu tidak berbicara sepanjang malam. Ia hanya duduk, sesekali menyesap wine merah, dan tatapannya—yang tersembunyi di balik lensa gelap—terus mengarah ke ayah Rangga. Ada sesuatu di balik kacamata itu yang membuat bulu kuduk Rangga merinding. Sebuah ancaman yang tak terucap.
Pak Hartono tertawa canggung untuk memecah kebekuan. “Ah, Keluarga Dharma itu cuma pengusaha kelas dua. Mereka tidak punya modal. Hanya akal-akalan dan gertakan.”
Tapi ibu Rangga tetap gelisah. Tangannya yang memegang gelas wine bergetar, buku-buku jarinya memutih karena terlalu erat menggenggam. Ayah Rangga mencondongkan tubuh ke arah Pak Hartono, berbisik sesuatu yang tidak didengar Rangga. Namun yang jelas, sejak saat itu, semua pembicaraan berubah menjadi gosip ringan dan tawa pura-pura.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika jamuan usai. Rangga diantar pengasuhnya ke kamar tidur yang luasnya setara dengan tiga rumah sederhana. Kamar itu penuh dengan mainan mahal—robot transformer yang bisa bergerak, mobil-mobil remote control, dan rak buku berisi ensiklopedia edisi terbatas. Tempat tidurnya adalah ranjang ukuran king dengan kasur ortopedi, selimut sutra, dan bantal bulu angsa. Tapi Rangga tidak bisa tidur. Ada firasat aneh yang menggelitik dadanya—seperti angin badai yang datang sebelum hujan, seperti bunyi guntur yang terasa meski langit masih cerah.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi bulan purnama di luar jendela kaca besar. Bulan itu bundar sempurna, begitu terang sehingga ia bisa melihat bayangan pohon-pohon di taman bergoyang. Namun di balik keindahan itu, ada kegelapan yang menghantui. Ia merasakan ada sesuatu yang salah—sebuah aroma bahaya yang tak kasat mata.
Pukul sebelas malam, ia mendengar suara mobil menyala. Beberapa mesin kendaraan berat meraung. Ia mengintip dari balik tirai—ayah dan ibunya keluar rumah, memasuki mobil hitam Mercedes-Benz, diikuti dua mobil pengawal berwarna gelap. Lampu depan menyala terang, lalu rombongan itu meluncur turun dari bukit, menghilang di antara kelokan jalan yang dipenuhi pepohonan.
Rangga menutup tirai. Dadanya berdebar keras. Ia tidak tahu mengapa, tetapi air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Ia berlutut di samping ranjang—sebuah posisi yang tidak pernah ia lakukan karena ia tidak pernah diajari berdoa. Namun pada malam itu, naluri seorang anak yang ketakutan membawanya pada kata-kata yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Tuhan… aku tidak tahu siapa Engkau. Tapi tolong jaga Ayah dan Ibu. Bawa mereka pulang dengan selamat. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik. Aku tidak akan meminta mainan lagi. Aku tidak akan rewel. Tolong… jaga mereka.”
Bisikannya lirih, tertelan oleh kesunyian kamar yang luas. Ia tidak tahu bahwa doa itu adalah doa terakhirnya sebagai anak yang masih memiliki orang tua. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, dunia yang ia kenal akan runtuh, dan kehidupannya akan berubah seperti halaman buku yang disobek dan dilempar ke dalam api.
Rangga berbaring, memeluk guling, matanya tetap terbuka menatap langit-langit yang dihiasi lukisan bidadari. Di luar, angin malam menderu kencang, membawa daun-daun kering beterbangan. Dan di kejauhan, dari arah kota, terdengar suara sirine polisi yang melengking—suara yang biasa ia dengar, tetapi malam ini terasa begitu dekat dan mengancam.
Tapi Rangga memejamkan mata, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Besok, ia akan bangun, dan ayah-ibunya akan kembali seperti biasa. Besok, ia akan kembali menjadi anak kaya yang kesepian di istana kacanya. Setidaknya, ia pikir, kesepian masih lebih baik daripada kehilangan. Ia tidak tahu bahwa kehilangan sudah mengintai di tikungan, dan ia tidak akan pernah kembali menjadi anak itu lagi.
---
[Bersambung...]
---
Rangga terbangun dari tidurnya karena suara benturan keras yang mengguncang seluruh rumah. Bukan benturan biasa—bunyi itu seperti petir yang menyambar di dalam ruangan, disusul oleh pecahan kaca berhamburan dan teriakan-teriakan kasar yang memecah kesunyian malam. Jam dinding antik dari Jerman di dinding kamarnya menunjukkan pukul 01.30, tetapi di luar jendela, langit yang sedari tadi cerah berbulan kini tampak suram—awan hitam menggulung, menelan cahaya rembulan satu per satu.
Rangga duduk tegak di ranjang, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di telinga. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Ia menoleh ke jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Lampu-lampu taman yang biasanya menyala terang sepanjang malam kini padam total. Hanya kegelapan yang ia lihat, ditembus sesekali oleh kilatan cahaya dari lampu senter yang bergerak-gerak liar. Bayangan-bayangan tinggi melintas di balik tirai—bayangan yang tidak ia kenali.
“Ayah? Ibu?” panggilnya lirih, suaranya bergetar seperti daun kering tertiup angin.
Tidak ada jawaban. Yang ia dengar justru suara langkah kaki berat di koridor luar, diiringi oleh suara laki-laki yang bertubi-tubi. Ada yang berteriak dalam bahasa asing yang tidak ia pahami, ada yang menggerutu dalam bahasa Indonesia dengan logat kasar, “Cepat! Ambil dokumen di brankas! Jangan buang waktu!” Dan suara lain yang lebih serak, lebih dingin, seperti bilah pisau yang menggores kaca: “Pastikan tidak ada saksi. Semua harus bersih. Tidak boleh ada yang hidup.”
Rangga merasa darahnya membeku. Ia ingat ayahnya pernah berkata di suatu malam, saat mereka berdua duduk di ruang kerja, “Nak, kalau terjadi sesuatu yang berbahaya, kau harus sembunyi. Ada ruang bawah tanah di belakang dapur. Ingat, jangan pernah keluar sampai ada yang menjemput.” Kata-kata itu dulu terasa seperti cerita petualangan yang berlebihan. Kini, ia menyadari itu bukan cerita—itu peringatan.
Dengan tubuh gemetar, Rangga merangkak turun dari ranjang. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, membuatnya menggigil. Ia merangkak menuju pintu kamar, membukanya perlahan-lahan, dan menyelinap ke koridor gelap. Aroma aneh memenuhi hidungnya—campuran bubuk mesiu, asap, dan sesuatu yang lebih mengerikan: bau logam yang ia kenali dari film-film perang. Bau darah.
Di ujung koridor, ia melihat sesosok tubuh tergeletak. Itu adalah Pak Jono, satpam yang selalu tersenyum padanya setiap pagi. Sekarang, tubuhnya terbujur kaku di lantai, seragamnya berlumuran merah. Mata Pak Jono terbuka lebar, menatap langit-langit dengan ekspresi terkejut yang tak pernah padam. Rangga menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan jeritan. Air mata mengalir deras, tetapi ia tidak berani mengeluarkan suara.
Ia berbalik dan berusaha merangkak lebih cepat menuju tangga belakang yang jarang dipakai—tangga menuju ruang penyimpanan anggur dan dapur bawah tanah. Namun sebelum mencapai anak tangga pertama, sebuah tangan besar mencekik lehernya dari belakang. Tangan itu kasar, berbulu, dan begitu kuat sehingga Rangga terangkat dari lantai seperti boneka kain.
“Ada anak kecil di sini!” teriak suara berat di belakangnya.
Rangga berusaha menendang, berusaha berteriak, tetapi cengkeraman itu menghalangi napasnya. Wajahnya membiru, matanya berkunang-kunang. Ia dibawa dengan kasar ke ruang tengah—ruang besar dengan lampu kristal yang kini hanya menerangi setengah ruangan karena sebagian mati. Di sana, Rangga melihat pemandangan yang akan membekas dalam ingatannya selamanya, yang akan muncul dalam mimpi buruknya bertahun-tahun kemudian.
Ayah dan ibunya tergeletak di lantai marmer putih yang kini berlumuran darah merah pekat. Darah itu mengalir seperti sungai kecil di antara sela-sela ubin, menciptakan genangan yang memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Ayahnya masih mengenakan jas navy, tetapi jas itu kini robek dan basah oleh darah. Matanya terbuka lebar, menatap ke arah Rangga dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin peringatan, mungkin penyesalan, mungkin cinta yang tak sempat diucapkan. Ibunya, yang dulu begitu cantik dengan gaun sutra hitam, kini terbaring miring, tangannya masih terulur seolah hendak meraih sesuatu—atau seseorang.
“Ayah! Ibu!” jerit Rangga, suaranya pecah menjadi tangisan yang tidak terkendali. Ia meronta-ronta di tangan pria yang memegangnya, berusaha melepaskan diri, ingin berlari ke arah orang tuanya. Tetapi cengkeraman itu semakin erat.
“Diam kau!” pria yang memegangnya adalah seorang berperawakan besar dengan topeng ski hitam yang hanya memperlihatkan mata kejamnya. Ia mengguncang Rangga dengan kasar. “Kalau kau berisik lagi, kau akan menyusul mereka!”
Di sudut ruangan, sosok pria botak bertopi hitam—yang tadi malam duduk diam di ruang makan dengan kacamata hitam—berdiri dengan tenang. Ia sekarang melepas kacamatanya, memperlihatkan mata sipit yang dingin dan tanpa ekspresi. Di tangannya, ia memegang pistol yang masih mengepulkan asap tipis. Ia berjalan mendekati Rangga, menekuk lututnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah anak kecil itu.
“Kau anak Fajar Hidayat, ya?” tanyanya pelan, suaranya seperti bisikan ular. “Sayang sekali. Kau seharusnya tidak melihat ini. Tapi… tidak apa. Hidup di dunia ini kejam, Nak. Kau akan belajar hari ini.”
Pria itu mengangkat pistolnya, mengarahkan larasnya tepat ke dahi Rangga. Rangga memejamkan mata, tubuhnya lemas, pasrah. Ia merasakan ujung logam yang dingin menyentuh kulitnya. Di dalam hati, ia berdoa—doa yang sama seperti tadi malam, tetapi kali ini bukan untuk meminta perlindungan, melainkan agar kematiannya cepat dan tidak menyakitkan.
Namun, pria berbadan gemuk lain—yang berwajah seperti rubah dengan kumis tipis—menghampiri dan menepuk tangan pria botak itu. “Jangan di sini, Bos. Terlalu berisik. Rumah ini akan segera dipenuhi polisi. Kita harus pergi sekarang. Bawa anak itu ke hutan. Buang dia di sana. Biar dia mati kelaparan atau dimakan binatang. Kalau ditembak di sini, polisi akan mencium bau pembunuhan. Kita butuh waktu.”
Pria botak itu mengangguk, lalu menurunkan pistolnya. Ia menatap Rangga dengan senyum sinis. “Kau beruntung, Nak. Kau dapat waktu ekstra untuk hidup. Tapi ingat, kau tidak akan pernah kembali ke kehidupanmu. Selamat menikmati hutan.”
Rangga digulung dengan selimut tebal yang diambil dari kamar tidurnya—selimut sutra biru dengan bordiran nama inisialnya. Ia dibungkus seperti paket, lalu diangkat dan dibawa keluar rumah. Dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki di atas kerikil, suara pintu bagasi dibuka, dan kemudian tubuhnya dilempar ke dalam ruang gelap yang sempit. Bau karet dan oli menyengat hidungnya. Mesin mobil menyala dengan suara menderu, dan kendaraan itu mulai bergerak.
Di dalam bagasi yang gelap dan sesak, Rangga memeluk lututnya, tubuhnya terus berguncang karena tangisan dan ketakutan. Ia mendengar suara-suara dari kabin—pria-pria itu tertawa, bercerita tentang uang dan kekuasaan, seolah mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan biasa. Salah satu dari mereka berkata, “Pak Hartono pasti senang. Sekarang lahan Tanjung Mas jadi milik kita. Keluarga Dharma tidak akan menyangka kita bergerak secepat ini.” Nama Pak Hartono menggema di telinga Rangga. Itu adalah nama yang tadi malam dipanggil ayahnya dengan ramah, nama yang disebut dalam jamuan makan. Pak Hartono, yang tertawa lebar dan menunjukkan gigi emas. Pak Hartono, yang ternyata merencanakan semua ini.
Perjalanan terasa sangat lama. Rangga kehilangan orientasi waktu—mungkin satu jam, mungkin dua jam. Ia merasakan mobil berbelok-belok di jalan yang tidak rata, berguncang naik turun, seolah melewati jalan berbatu. Suara mesin meredam tangisnya. Ia mencoba mengingat wajah ayah dan ibunya, tetapi yang muncul justru wajah mereka yang terbujur kaku, berlumuran darah. Hatinya hancur berkeping-keping. Di usianya yang kesembilan tahun, ia seharusnya memikirkan mainan atau PR sekolah, bukan memikirkan kematian dan pembunuhan.
Akhirnya, mobil berhenti. Pintu bagasi terbuka, dan cahaya rembulan yang redup menyinari wajahnya. Ia diseret keluar oleh tangan-tangan kasar. Udara malam yang dingin menyergap—jauh lebih dingin daripada udara di rumahnya yang ber-AC. Wangi tanah basah, daun busuk, dan bunga hutan memenuhi indra penciumannya. Ia melihat pepohonan tinggi menjulang, gelap dan menakutkan, dengan cabang-cabang yang bergoyang seperti tangan-tangan hantu. Suara jangkrik dan kodok riuh, tetapi di sela-sela itu, ada suara lolongan anjing hutan di kejauhan.
“Ini cukup,” kata suara rubah. “Lempar ke semak di bawah. Hutan ini lebat. Tidak ada yang akan menemukannya sampai mayatnya membusuk.”
Rangga digulung kembali—kini lebih erat, lebih menyakitkan—lalu didorong. Tubuhnya menggelinding menuruni lereng curam, terbentur akar-akar pohon yang menjulur, tergores batu tajam, dan terbanting ke semak berduri. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya—di lengan, di punggung, di kepala. Darah mengalir dari beberapa luka di dahinya, tetapi ia tidak berani berteriak.
Ia mendengar mobil menjauh, suara mesin menghilang perlahan, lalu keheningan total. Hanya angin malam yang berdesir di antara dedaunan, dan suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.
Rangga terbaring di semak belukar, selimut sutranya kini berlumuran tanah dan darah. Langit di atas tertutup awan tebal, tetapi sesekali bulan muncul di antara celah, menyinari wajahnya yang pucat dan penuh luka. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya. Ia kedinginan, kesakitan, dan sangat ketakutan. Gigi-giginya bergemeletuk karena suhu udara yang begitu rendah. Ia merasakan kematian merayap mendekat—seperti selimut hitam yang ingin menyelubunginya untuk selamanya.
“Ayah… Ibu…” bisiknya dengan suara serak. “Aku tidak mau mati. Aku takut. Tolong… ada yang menolongku?”
Ia memejamkan mata, pasrah dengan nasibnya. Namun, di tengah keputusasaannya, ia mendengar sesuatu. Langkah kaki. Pelan, berderak di atas dedaunan kering. Tidak seperti langkah kaki manusia biasa—lebih ringan, lebih hati-hati. Dan di sela-sela itu, ia mendengar suara parau yang melantunkan doa dalam bahasa Jawa, lembut dan penuh ketenangan.
“Astaghfirullahal’adzim… Gusti, mugi kawula tansah diparingi kawilujengan… Ya Allah, sapa sing ninggal anak cilik neng kene?...”
Rangga membuka matanya. Di hadapannya, seorang nenek tua berkerudung putih lusuh berdiri, membawa obor plastik dari minyak tanah yang apinya berkedip-kedip diterpa angin. Wajahnya keriput, penuh garis-garis usia, tetapi matanya—matanya jernih dan teduh seperti air sungai di pagi hari. Nenek itu menunduk, menyentuh kening Rangga yang panas karena demam. Tangannya kasar, penuh kapalan, tetapi sentuhannya lembut seperti kapas.
“Nak, kau sakit parah,” kata nenek itu. “Mari Nenek bawa pulang.”
Rangga membuka mulut, tetapi yang keluar hanya isakan kecil. “Nenek… tolong aku…” bisiknya sebelum kesadarannya mulai kabur.
Nenek Saroh—itulah nama yang akan ia kenal kelak—menggendongnya dengan susah payah. Tubuh Rangga memang masih kecil, tetapi beban itu terasa berat bagi nenek yang ringkih. Namun ia tidak menyerah. Ia menggendong Rangga melintasi hutan yang gelap, menembus semak dan akar, dengan obor sebagai satu-satunya penerang. Sepanjang perjalanan, ia terus mengucapkan doa-doa pendek, memohon perlindungan bagi anak malang yang ia temukan di pinggir hutan.
Rangga mendengar doa-doanya seperti mimpi—kata-kata yang lembut, menenangkan, seolah merangkumnya dalam selimut kasih sayang yang tidak ia kenal. Dalam pelukan nenek itu, untuk pertama kalinya setelah malam yang mengerikan, ia merasa aman.
---
[Bersambung...]
---
Rangga terbangun dari mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Dalam mimpinya, ia melihat ayahnya memanggil-manggil namanya dari kejauhan, tetapi setiap kali ia berlari mendekat, sosok ayahnya berubah menjadi genangan darah yang mengalir di lantai marmer. Ia berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Ia menendang, tetapi kakinya terasa berat seperti batu. Kemudian, ia mendengar suara parau yang lembut—seperti nyanyian nenek-nenek di masa lalu—dan ia terbangun.
Matahari pagi bersinar terang melalui celah-celah atap rumbia yang berlubang. Sinar itu jatuh di lantai tanah yang padat, menciptakan titik-titik terang seperti bintang-bintang jatuh di siang hari. Rangga memejamkan mata beberapa kali, beradaptasi dengan cahaya yang menusuk. Tubuhnya terasa sangat sakit—setiap otot, setiap sendi, setiap luka di kulitnya berdenyut nyeri. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi terasa berat. Di sekujur tubuhnya, ada selimut kain perca yang hangat—bermotif kotak-kotak pudar dengan banyak tambalan, tetapi baunya harum, seperti minyak kayu putih dan jahe.
Ia menoleh perlahan. Ruangan itu sangat kecil—mungkin hanya tiga kali empat meter. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah berwarna kecokelatan karena usia, dengan celah-celah kecil yang membiarkan angin pagi masuk. Di salah satu sudut, ada tungku batu sederhana dengan api kecil yang masih menyala, di atasnya tergantung panci tanah liat yang mengeluarkan uap harum. Di sudut lain, ada meja kayu jati tua yang permukaannya sudah lekuk oleh penggunaan bertahun-tahun, di atasnya teronggok beberapa butir telur ayam dan seikat sayuran hijau.
Di dekat pintu, seorang nenek tua duduk bersila di atas tikar pandan, tangannya sibuk menumbuk cabai di cobek batu dengan gerakan ritmis yang penuh pengalaman. Ia mengenakan kain jarik cokelat tua dengan motif parang rusak, kebaya lusuh berbahan katun tipis, dan rambut putihnya disanggul sederhana dengan tusuk konde dari kayu. Wajahnya keriput seperti buah yang dikeringkan, tetapi di balik itu ada cahaya kehangatan yang luar biasa.
Melihat Rangga terbangun, nenek itu berhenti menumbuk dan tersenyum. Senyumnya menunjukkan giginya yang tinggal beberapa di bagian depan, tetapi senyum itu begitu tulus sehingga Rangga merasa seperti disentuh oleh sinar matahari.
“Alhamdulillah, kau sadar, Nak,” ucapnya dengan suara parau yang lembut. “Tadi malam kau meracau sepanjang malam. Nenek takut kau meninggal. Tapi kau kuat, anakku. Nenek sudah memberi ramuan kunyit dan jahe, dan kau meminumnya meskipun pahit.”
Rangga mencoba duduk, tetapi tubuhnya lemas. Nenek itu segera menghampiri, menopang punggungnya dengan tangan yang ringkih tapi mantap. “Diam dulu, Nak. Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih demam. Nenek buatkan bubur dulu.”
Ia berjalan ke tungku dan mengambil mangkuk tanah liat. Di dalamnya, ada bubur yang masih mengepul—hanya nasi yang dimasak dengan banyak air, ditambah sedikit garam dan irisan daun bawang. Sangat sederhana, tidak ada daging, tidak ada telur, hanya bubur polos yang hangat. Tetapi bagi Rangga yang perutnya keroncongan, bubur itu terlihat seperti hidangan terbaik di dunia.
Nenek Saroh menyuapinya pelan-pelan, meniup setiap sendok agar tidak panas. Rangga membuka mulut, menelan bubur yang lembut. Rasa hangat menyebar dari perut ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia merasakan sesuatu yang hangat di dalam dirinya—bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Ada kehadiran yang mengasuhnya, yang tidak menuntut apapun selain ia makan dan sembuh.
“Nenek… aku di mana?” tanyanya di sela-sela suapan, suaranya serak dan pelan.
“Di rumah Nenek. Dusun Sumbermulyo, Desa Kedungwungu. Jauh dari kota,” jawab Saroh sambil menyeka sudut bibir Rangga dengan kain lap. “Kau Nenek temukan di pinggir hutan, terbungkus selimut, penuh luka. Siapa yang melakukan ini padamu, Nak?”
Rangga menunduk. Air mata mengalir di pipinya, mengingatkan pada malam pembunuhan, wajah ayah dan ibunya, pria botak dengan pistol, dan suara rubah yang memerintahkan pembuangannya. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi kata-kata itu terasa terlalu berat, terlalu menyakitkan untuk diucapkan. Mulutnya terbuka, tetapi yang keluar hanya isakan.
“Sudahlah,” kata Nenek Saroh cepat, tangannya mengusap rambut Rangga yang kusut. “Kau tidak usah cerita sekarang. Yang penting kau selamat. Nenek tidak akan memaksamu. Nanti kalau kau sudah kuat, kau bisa cerita. Atau tidak sama sekali. Itu hakmu. Nenek hanya ingin kau tahu, di sini kau aman. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi.”
Rangga mendongak, menatap mata nenek itu. Matanya jernih dan teduh, tidak ada kepalsuan di dalamnya. Ia ingat ibunya, yang juga memiliki mata indah, tetapi sering kali tidak bisa ia temukan karena sibuk dengan dunia bisnis. Di sini, di gubuk reot ini, ia menemukan tatapan yang selalu ia rindukan—tatapan yang berkata, “Kau berharga.”
Sepanjang pagi, Rangga berbaring di tikar sambil memandangi sekeliling. Gubuk itu tidak memiliki kursi atau lemari—hanya perabot seadanya. Di dinding tergantung cangkul, sabit, dan beberapa anyaman bambu. Di luar, ia melihat hamparan sawah yang menguning, pohon-pohon kelapa yang bergoyang lembut, dan beberapa ekor ayam kampung yang mematuk tanah mencari cacing. Suasana begitu sunyi, hanya suara burung yang berkicau di dahan, dan sesekali kokok ayam jantan yang terdengar dari kejauhan. Tidak ada klakson, tidak ada deru mesin, tidak ada suara pesawat melintas. Hanya alam yang bernapas dengan tenang.
“Nenek, boleh aku lihat ke luar?” tanya Rangga setelah merasa sedikit lebih kuat.
Nenek Saroh mengangguk, lalu membantunya berdiri. Rangga berpegangan pada dinding bambu, melangkah pelan-pelan ke ambang pintu. Begitu ia melangkah keluar, matanya membelalak. Di hadapannya terbentang pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Sawah-sawah bertingkat membentang hijau kebiruan, seperti tangga raksasa yang terbuat dari tanaman padi. Gunung di kejauhan menjulang dengan puncak diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan seperti kerudung sutra. Di bawah, sebuah sungai kecil berliku-liku mengalir di antara batu-batu besar, airnya jernih dan berkilau. Aroma tanah basah, rumput, dan bunga liar memenuhi udara—aroma yang tidak pernah ia temukan di toko parfum manapun.
“Ini… indah sekali,” gumamnya, setengah tidak percaya.
“Ya,” kata Nenek Saroh di sampingnya, “ini rumah Nenek. Mungkin kecil, mungkin reot, dan Nenek tidak punya harta duniawi. Tetapi di sini, semua orang saling membantu. Tidak ada kejahatan, tidak ada kebohongan. Hanya orang-orang sederhana yang bekerja keras dan berbagi rezeki. Kau bisa tinggal di sini selama kau mau, Nak.”
Rangga menatap neneknya. “Tapi Nenek, aku tidak punya apa-apa. Aku tidak bisa bayar. Aku hanya—”
“Hush,” Nenek Saroh memotong dengan jari telunjuk di bibirnya. “Nenek tidak minta bayaran. Nenek minta satu hal saja: kau mau belajar hidup sederhana. Mau membantu Nenek di ladang, menjaga ayam, memikul air. Bukan karena kau harus membayar, tetapi karena itu akan membuatmu kuat. Kau anak pintar, Nenek bisa lihat dari matamu. Kau punya masa depan yang cerah. Nenek hanya ingin kau tidak lupa, bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari emas dan permata. Kebahagiaan datang dari hati yang tulus dan tangan yang mau bekerja.”
Rangga mengangguk. Di dalam hatinya, ia membuat janji. Suatu hari, ia akan kembali ke kota, ia akan menemukan kebenaran tentang pembunuhan orang tuanya, dan ia akan menghukum para pelaku. Tetapi untuk saat ini, ia ingin merasakan menjadi anak desa. Ia ingin merasakan pelukan hangat, meskipun datang dari gubuk reot dan kain perca. Ia ingin merasakan bahwa ia dicintai—bukan karena nama atau kekayaan, tetapi karena ia adalah dirinya sendiri.
Sore harinya, setelah makan siang berupa sayur asem dan ikan asin bakar, Nenek mengajak Rangga ke belakang gubuk. Di sana, ada sepetak kebun kecil yang ditanami kacang panjang, cabai, tomat, dan singkong. Nenek mengajari Rangga cara mencabut rumput liar tanpa merusak akar tanaman.
“Lihat, Nak. Rumput ini harus dicabut dari pangkalnya, jangan dipotong. Kalau dipotong, ia tumbuh lagi. Begitu juga dengan masalah hidup. Kalau masalah dihindari, ia akan kembali. Tetapi kalau kau hadapi dari akarnya, kau selesai dengan selamanya,” kata Nenek sambil menunjukkan gerakan mencabut yang tepat.
Rangga memperhatikan dengan serius, lalu meniru. Tangannya yang dulu hanya memegang ponsel dan sendok perak kini kotor oleh tanah, tetapi ia tidak peduli. Ia malah menikmati sensasi lumpur yang membasahi jari-jarinya. Ia merasakan kegembiraan aneh—kegembiraan karena melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Malamnya, mereka duduk di teras gubuk. Langit malam di desa begitu bersih—tidak ada polusi cahaya, tidak ada gedung-gedung tinggi yang menghalangi. Bintang-bintang terhampar begitu banyak, begitu terang, seperti berlian yang ditaburkan di atas kain beludru hitam. Rangga bahkan bisa melihat gugusan Bima Sakti—sesuatu yang hanya ia lihat di buku pelajaran.
“Nenek, bintang yang banyak itu apa?” tanya Rangga sambil menunjuk.
“Itu Bima Sakti, Nak. Kata orang tua, di sanalah arwah orang baik tinggal. Mereka menatap kita dari atas, menjaga kita yang masih hidup,” jawab Nenek Saroh sambil membelai rambut Rangga.
Rangga memikirkan ayah dan ibunya. Apakah mereka di sana? Apakah mereka menatapnya dari kejauhan? Air mata perlahan mengalir, tetapi kali ini bukan karena ketakutan—melainkan karena kerinduan yang bercampur syukur. Ia masih hidup. Ia ditemukan. Ia dirawat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang datang dari dasar hati.
“Nenek,” katanya pelan, “terima kasih telah menyelamatkanku.”
Nenek Saroh memeluknya erat. “Tidurlah, Nak. Besok kita mulai hari pertama. Hari pertama kehidupan barumu.”
Rangga berbaring di tikar, memeluk selimut perca yang hangat. Meskipun kasur itu keras dan kamar itu sempit, ia merasa lebih nyaman daripada di ranjang king size di istananya. Karena di sini, ia tidak sendirian. Ada degup jantung nenek yang berdetak di ruangan yang sama, ada api tungku yang menyala menghangatkan, dan ada cinta yang tulus yang merangkulnya seperti selimut terhangat di dunia. Ia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak malam pembunuhan, ia tertidur dengan damai—tanpa mimpi buruk, tanpa teriakan, tanpa darah. Hanya keheningan yang penuh kasih.
---
[Bersambung...]
---
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!