Bab 1
Jaga Malam di Usia 37
Pukul tiga lewat tujuh menit, nyeri tumpul di pinggang Nan Shin menjalar sampai ke pangkal paha.
Ia menyandarkan sisi tubuhnya ke troli perawatan, menekan punggung dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih mencocokkan lembar instruksi dokter dengan label obat. Lampu putih di Instalasi Gawat Darurat RSUD Serpong Utama membuat kertas di depannya tampak pucat. Bau antiseptik bercampur keringat, kopi dingin, dan udara pendingin ruangan yang terlalu tajam.
Belum sempat ia meluruskan pinggang, suara roda brankar berderak dari pintu triase.
“Suster, pasien sesak dari bed empat saturasinya turun!” seru Suster Ayu.
Nan Shin langsung berdiri tegak. Rasa sakit tadi seolah dimasukkan ke dalam laci yang hanya boleh dibuka setelah giliran jaga selesai.
“Berapa?”
“Delapan puluh delapan. Sudah pakai kanul tiga liter.”
“Naikkan sesuai instruksi dokter. Posisikan setengah duduk. Aku panggil Dokter.”
Ia berjalan cepat menuju bed empat. Seorang pria lanjut usia terengah-engah di balik masker oksigen. Putrinya berdiri di samping brankar dengan wajah pucat, kedua tangan mencengkeram tas kain.
“Suster, Papa saya kenapa? Tadi masih bisa bicara.”
Nan Shin memeriksa sambungan oksigen sebelum melihat monitor. “Kami sedang bantu napasnya dulu, Bu. Tolong jangan lepas maskernya. Sejak kapan sesaknya memburuk?”
“Sejak di mobil. Di rumah dia bilang dadanya berat, tapi masih bisa jalan.”
“Ada riwayat sakit jantung atau pernah dirawat karena sesak?”
“Gagal jantung. Obatnya dibawa, tapi saya nggak hafal namanya.”
“Berikan kantong obatnya kepada Suster Ayu. Kapan terakhir Papa minum obat?”
“Sesudah makan malam. Suster, apa dia harus masuk ICU?”
Nan Shin menahan tatapannya. “Dokter perlu memeriksa dulu. Sekarang bantu kami dengan menjawab pertanyaan sejelas mungkin.”
Perempuan itu mengangguk cepat. Nan Shin mencatat, lalu menyampaikan informasi singkat kepada dokter jaga yang baru datang.
“Riwayat gagal jantung. Sesak memburuk sejak satu jam lalu, Dok. Saturasi sempat delapan puluh delapan dengan kanul tiga liter.”
Dokter jaga mengangguk dan memberikan instruksi. Tidak ada kalimat yang terbuang. Nan Shin menyiapkan alat, Ayu mengambil obat, lalu keduanya bergerak di sisi berlawanan brankar seperti mengikuti irama yang sudah dihafal tubuh.
“Ubah oksigen sesuai target, pasang monitor lengkap, dan siapkan akses,” kata dokter jaga. “Saya periksa paru dan jantungnya.”
“Ayu, ambil kantong obat dari keluarga dan catat nama terakhir yang diminum,” kata Nan Shin.
“Siap.”
Putri pasien memegang ujung tirai. “Saya boleh tetap di sini?”
“Boleh di sisi kepala, Bu. Jangan menghalangi jalur alat, dan beri tahu kami kalau Papa mencoba melepas maskernya.”
“Ayu, cek ulang nama dan dosis.”
“Sudah, Suster Nan Shin.”
“Baca keras.”
Ayu membacanya. Nan Shin mencocokkan lagi dengan gelang identitas pasien.
Baru setelah angka pada monitor perlahan naik, bahu putri pasien itu turun sedikit. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
“Terima kasih, Suster.”
Nan Shin hanya mengangguk. “Belum selesai, Bu. Dokter masih akan evaluasi. Kalau Papa merasa makin berat, langsung panggil kami.”
Ia bahkan belum sempat kembali ke troli ketika suara petugas keamanan terdengar dari pintu. Seorang pemuda korban kecelakaan sepeda motor didorong masuk, celana jinsnya robek di bagian lutut. Darah menetes ke lantai. Di belakangnya, seorang teman terus bicara terlalu cepat.
“Dia nggak pingsan, Suster. Tadi cuma jatuh, tapi kepalanya kena aspal sedikit.”
Nan Shin menatap temannya. “Sedikit itu bagaimana? Dia memakai helm?”
“Pakai, tapi talinya longgar. Setelah jatuh dia sempat diam.”
“Berapa lama?”
“Mungkin sepuluh detik. Aku nggak yakin.”
“Ada muntah, kejang, atau lupa kejadian?”
Pemuda di brankar membuka mata. “Aku ingat motornya selip. Nggak muntah.”
“Bagus. Tetap jangan bangun sendiri sebelum dokter memeriksa kepala dan lehermu.”
“Ayu, lanjutkan observasi bed empat,” kata Nan Shin. “Saya pegang pasien baru.”
Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Menanyakan nama. Memastikan jalan napas. Memeriksa kesadaran. Menghitung nadi. Menahan tangan pasien ketika pemuda itu refleks ingin menyentuh lukanya sendiri.
“Jangan digosok. Tarik napas pelan.”
“Sakit, Sus.”
“Saya tahu. Kami bersihkan dulu supaya dokter bisa lihat lukanya.”
Pemuda itu mengerang saat cairan pembersih menyentuh kulit. Temannya kembali bertanya apakah luka itu perlu dijahit. Nan Shin menjawab seperlunya tanpa menghentikan tangannya. Di IGD, orang sering meminta kepastian pada orang pertama yang terlihat tenang. Selama dua belas tahun, orang itu hampir selalu dirinya.
Ketika ia membungkuk untuk membuang kasa, pinggangnya seperti ditusuk dari dalam.
Tangannya sempat berhenti di udara.
Hanya satu detik.
“Suster Nan Shin?” Ayu sudah berdiri di dekatnya. “Sakit lagi?”
“Cuma pegal.”
“Duduk dulu. Biar aku lanjut.”
Nan Shin melirik luka yang belum selesai dibersihkan, lalu ke wajah Ayu. Perawat muda itu tampak cemas, tetapi tangannya sudah siap mengenakan sarung tangan baru.
“Kamu bisa?”
“Bisa. Kalau ragu, aku panggil.”
Nan Shin menyerahkan pinset. “Jangan tutup dulu sebelum dokter periksa bagian kepala. Tadi temannya bilang sempat terbentur.”
“Siap.”
Ia mundur dua langkah, bukan untuk duduk, hanya untuk memberi ruang. Keringat dingin menempel di tengkuknya meski pendingin ruangan terasa menusuk lengan.
Ayu baru enam bulan ditempatkan di IGD. Gerakannya masih cepat dengan cara orang yang belum tahu bagian tubuh mana yang akan lebih dulu menyerah setelah bertahun-tahun berdiri. Sepatunya putih bersih. Seragamnya belum kehilangan warna. Bahkan kartu identitas yang tergantung di dadanya masih mengilap saat terkena lampu.
Tanpa sadar, Nan Shin menunduk pada kartu identitasnya sendiri.
Plastik pelindungnya buram dan sudut tali birunya sudah berbulu. Di bawah foto Nan Shin yang diambil bertahun-tahun lalu, ada stiker kecil bertuliskan “12 Tahun Mengabdi”. Huruf pada ujung stiker itu mulai mengelupas.
Ayu mengikuti arah pandangnya. “Stiker itu masih ada, ya?”
Nan Shin mengusap bagian yang terangkat dengan ibu jari. “Kalau dicabut, bekas lemnya lebih jelek.”
Ayu tersenyum kecil, lalu menatap kartunya sendiri. “Punyaku belum ada apa-apa.”
“Bagus. Berarti belum banyak kena cipratan obat.”
Mereka tertawa pendek. Tawa yang segera tenggelam oleh bunyi monitor dan dering telepon meja perawat.
Dokter jaga keluar dari bed empat sambil melepaskan sarung tangan. “Suster Nan Shin, pasiennya lebih stabil. Tolong siapkan pemindahan ke ruang observasi begitu ada tempat.”
“Baik, Dok.”
“Dan yang kecelakaan, setelah lukanya dibersihkan, bawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Dokter itu melihat wajah Nan Shin sebentar. “Kamu pucat. Sudah makan?”
Nan Shin ingin menjawab sudah. Kebohongan kecil itu biasanya keluar otomatis.
Namun ia teringat kotak makan yang masih utuh di loker.
“Belum sempat.”
“Lima menit pun jadi. Kalau kamu ikut tumbang, kami kehilangan orang paling hafal alur malam ini.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Anehnya, dada Nan Shin justru terasa berat.
Orang paling hafal alur. Orang yang selalu dicari saat keadaan kacau. Orang yang dua belas tahun berada di tempat yang sama.
Tetapi pada kartu identitasnya, tepat di bawah nama Nan Shin Sim, statusnya tetap tertulis kecil: karyawan kontrak.
Tak pernah berubah.
Ia kembali ke meja perawat setelah keadaan sedikit terkendali. Jam digital di dinding menunjukkan pukul empat kurang dua puluh. Kopi dalam gelas kertas sudah dingin. Nan Shin baru sempat meneguk satu kali ketika Ayu duduk di kursi sebelah sambil mengembuskan napas.
“Suster sudah baca pengumuman di grup internal?” tanya Ayu pelan.
“Pengumuman apa?”
“Katanya minggu depan ada evaluasi sumber daya manusia. Semua kepala unit diminta kirim ulang daftar karyawan tetap dan kontrak.”
Jari Nan Shin berhenti di sisi gelas.
“Siapa yang bilang?”
“Teman aku di administrasi. Tapi belum resmi, sih.” Ayu menurunkan suara. “Mungkin cuma pembaruan data.”
“Mungkin.”
“Suster takut?”
Nan Shin memutar gelas kopi yang dingin. “Takut tidak mengubah surelnya.”
“Tapi dua belas tahun pasti diperhitungkan, kan?”
“Seharusnya.”
Ayu menatap stiker di kartu identitasnya. “Kalau mereka lupa, kami ingat siapa yang paling sering menyelamatkan shift malam.”
“Jangan bicara seolah sudah ada keputusan. Kita baca datanya dulu.”
Nan Shin menatap layar komputer di depan mereka. Di sudut kanan bawah, ada notifikasi surel rumah sakit yang belum dibuka. Judulnya pendek: Pemutakhiran Data Kepegawaian.
Di grup unit, Bu Ratna juga baru meneruskan pesan singkat: Semua perawat diminta membaca surel sebelum pergantian shift.
Ia mengekliknya. Isinya hanya tiga paragraf formal, penuh kata evaluasi, efisiensi, dan penyesuaian kebutuhan layanan. Tidak ada satu pun kalimat yang menyebut pengurangan pegawai.
Namun dua belas tahun di rumah sakit mengajarinya satu hal. Kabar buruk selalu datang lebih dulu dalam bahasa yang terdengar netral.
“Suster Nan Shin?”
Nan Shin menutup surel itu. “Kita selesaikan laporan dulu.”
Ayu mengangguk, meski tatapannya masih menyimpan pertanyaan.
Menjelang subuh, suara di IGD akhirnya menurun. Pasien sesak sudah dipindahkan ke ruang observasi. Luka pemuda korban kecelakaan telah ditangani. Lantai yang tadi terkena darah kembali bersih, seolah malam panjang itu tidak pernah terjadi.
Nan Shin berdiri di depan wastafel dan membiarkan air mengalir di kedua tangannya lebih lama dari perlu. Kulit di sela jarinya terasa perih. Saat ia mengangkat kepala, bayangannya di cermin tampak lebih tua daripada tiga puluh tujuh tahun.
Ia merapikan rambut, menekan lagi stiker “12 Tahun Mengabdi” yang hampir terlepas, lalu mengambil ponsel dari saku seragam.
Layar menyala.
Ada tiga panggilan tak terjawab dari Mama.
Bab 2
Suami yang Juga Sibuk
Ponsel Nan Shin masih berada di tangannya ketika ia hampir bertabrakan dengan suaminya di koridor rumah sakit.
Cheng An baru keluar dari area kamar operasi. Penutup kepalanya sudah dilepas, tetapi garis bekas masker masih tercetak di wajah. Jas putihnya terbuka di atas baju operasi berwarna hijau tua. Di tangan kanannya ada segelas kopi dingin dari mesin dekat lobi bedah.
Nan Shin memegang gelas yang sama.
Titik-titik air menempel di kedua gelas plastik sekali pakai itu. Mereka membeli kopi dari mesin yang sama, bekerja di gedung yang sama, dan pulang ke rumah yang sama. Namun Nan Shin tidak ingat kapan terakhir kali mereka duduk untuk menghabiskan satu gelas bersama.
Langkah keduanya berhenti bersamaan.
“Udah makan?” tanya Cheng An.
Nan Shin menggeleng.
“Mama menelepon aku tiga kali.”
Cheng An mengerutkan kening. “Jam berapa?”
“Sebelum subuh. Kamu tahu ada apa?”
“Nggak. Semalam aku juga di kamar operasi.”
“Kamu bisa telepon Mama nanti?”
Cheng An menatap jam di pergelangan tangannya. “Kalau sudah selesai laporan. Kamu pulang dulu dan lihat anak-anak.”
“Aku juga baru selesai kerja, Cheng An.”
“Aku tahu.” Tatapannya bertahan sesaat. “Makanya aku tanya kamu sudah makan atau belum.”
Tatapan Cheng An turun sekilas ke wajahnya, lalu ke seragam perawat yang sudah kusut. Nan Shin sempat berpikir suaminya akan mengatakan sesuatu tentang matanya yang merah atau rambutnya yang mulai lepas dari ikatan. Mungkin juga bertanya kenapa Ibu Kho menelepon tiga kali sebelum subuh.
Namun seorang dokter residen memanggil dari ujung koridor.
“Dok, hasil lab pasien kamar operasi dua sudah keluar.”
Cheng An menoleh. Tangannya langsung mengangkat gelas kopi sedikit, seperti salam singkat yang menggantikan semua hal yang tidak sempat mereka bicarakan.
Nan Shin membalas dengan anggukan.
Lalu mereka berjalan ke arah berlawanan.
Sol sepatu Cheng An menjauh menuju ruang dokter, sementara sepatu Nan Shin membawanya ke lift karyawan. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan di bahu. Bahkan tidak ada pesan agar berhati-hati di jalan.
Pintu lift menutup di antara mereka.
Di dalam kotak logam yang dingin itu, Nan Shin melihat bayangannya pada dinding mengilap. Gelas kopi di tangannya bergetar pelan mengikuti gerakan lift. Ia baru sadar Cheng An juga tidak menjawab pertanyaannya, sebab ia memang tidak sempat bertanya balik.
Sudah hampir sebelas tahun mereka menikah. Dulu satu pertanyaan pendek seperti itu akan disusul banyak hal. Mau makan apa? Pulang bareng? Ada uang untuk belanja? Kapan jadwal libur kita sama?
Sekarang, “udah makan?” terdengar seperti sapaan antara dua rekan kerja yang kebetulan saling mengenal.
Lift berhenti di lantai dasar. Ketika pintunya terbuka, suara rumah sakit menyambut lagi: troli sarapan pasien, pengumuman dari pengeras suara, dan keluarga yang mulai memenuhi loket pendaftaran pagi.
Nan Shin menyingkir untuk memberi jalan kepada seorang petugas yang mendorong kursi roda. Tubuhnya terlambat bergerak. Bahunya hampir tersenggol pegangan besi.
“Maaf, Suster.”
“Nggak apa-apa.”
Jawaban itu keluar otomatis.
Di dekat mesin absensi, Suster Ayu sedang merapikan jaketnya sebelum pulang. Wajah perawat muda itu juga lelah, tetapi langkahnya masih ringan.
“Suster Nan Shin pulang sekarang?”
“Iya. Kamu?”
“Aku dijemput kakakku.” Ayu melirik gelas di tangan Nan Shin. “Itu belum diminum dari tadi, kan?”
Nan Shin baru menyadari es di dalamnya hampir mencair seluruhnya. “Nanti di jalan.”
“Jangan cuma kopi. Makan juga.”
“Kalau aku ketiduran di mobil, bangunnya mungkin sudah siang,” kata Nan Shin.
Ayu mengerutkan hidung. “Jangan bercanda begitu. Suster pucat sekali.”
“Aku cuma kurang tidur.”
“Tadi ketemu dr. Kho, kan?”
Nan Shin melirik ke arah lift yang sudah tertutup. “Ketemu.”
“Terus kalian nggak pulang bareng?”
“Dia masih ada laporan. Aku harus pulang lihat anak-anak.”
Ayu menarik tali jaketnya. “Kalian kerja satu gedung, tapi jadwalnya seperti beda kota.”
“Kadang beda kota malah masih sempat telepon.”
Ayu mengucapkannya sambil tersenyum, tetapi kalimat itu membuat Nan Shin teringat Cheng An. Pertanyaan yang sama, perhatian yang seharusnya sama, hanya saja dari suaminya tidak pernah ada waktu untuk menunggu jawaban.
“Kamu juga,” balas Nan Shin.
Mereka berpisah di pintu karyawan. Ayu berjalan ke area penjemputan, sementara Nan Shin duduk sebentar di bangku dekat lobi untuk memesan mobil lewat aplikasi. Ia terlalu lelah membawa motor setelah jaga malam. Pandangannya beberapa kali kabur saat membaca pelat kendaraan di layar.
Ponselnya masih menampilkan tiga panggilan dari Mama.
Nan Shin menekan nama itu, lalu berhenti sebelum sambungan dibuat. Pukul enam lewat tiga puluh. Di rumah, Yi Ming seharusnya sedang bersiap ke sekolah. Yi Chen biasanya masih harus dibujuk turun dari tempat tidur. Bekal mereka belum ia periksa. Seragam Yi Ming mungkin belum disetrika jika Mama tidak mengingatkan.
Ia mengetik pesan singkat.
Ma, aku baru selesai jaga. Aku pulang sekarang.
Pesan itu terkirim, tetapi tidak langsung dibaca.
Mobil pesanannya tiba tujuh menit kemudian. Nan Shin masuk, menyebutkan tujuan untuk memastikan, lalu menyandarkan kepala ke kursi.
“Habis jaga malam, Bu?” tanya sopir setelah melihat seragamnya dari kaca tengah.
“Iya, Pak.”
“Kalau AC-nya terlalu dingin, bilang saja.”
“Begini sudah pas. Tolong bangunkan saya kalau sudah dekat Cluster Verona.”
“Siap. Ibu tidur saja. Saya jalan pelan.”
Nan Shin belum sempat memejamkan mata ketika ponselnya bergetar. Bukan balasan dari Ibu Kho, melainkan panggilan dari telepon rumah. Ia segera mengangkatnya.
“Mama?” Suara Yi Ming terdengar pelan.
“Iya, Sayang. Mama sedang di jalan pulang. Kamu sudah sarapan?”
“Sudah. Popo cari Mama dari tadi.”
“Ada apa di rumah?”
“Aku nggak tahu. Popo bilang bekalku belum siap, tapi tadi sudah dimasukkan.”
“Kamu jangan khawatir. Periksa buku dan botol minummu saja.”
“Mama sakit?”
Nan Shin menatap bayangannya di kaca mobil. “Cuma lelah setelah jaga malam.”
“Papa pulang sama Mama?”
“Papa masih bekerja.”
“Padahal rumah sakitnya sama.”
Nan Shin menelan sesuatu yang terasa pahit. “Jadwal Papa berbeda. Nanti Mama jelaskan.”
Suara Ibu Kho terdengar mendekat dari belakang. “Yi Ming, jangan main telepon. Cepat pakai sepatu.”
“Popo datang,” bisik Yi Ming.
“Berikan teleponnya.”
Ada bunyi gesekan, lalu suara Ibu Kho terdengar kaku. “Kamu di mana?”
“Sudah dekat rumah, Ma. Tadi saya kirim pesan.”
“Pulang dulu. Kita bicara setelah kamu sampai.”
Sambungan ditutup sebelum Nan Shin sempat bertanya tentang tiga panggilan itu.
Jalan menuju BSD sudah mulai padat. Sepeda motor menyelip di antara mobil. Matahari pagi memantul pada kaca gedung dan membuat kelopak matanya terasa panas. Setiap kali mobil berhenti mendadak, nyeri di pinggangnya kembali berdenyut.
Sopir menyalakan radio dengan volume rendah. Penyiar membacakan berita lalu lintas, tetapi kata-katanya terdengar seperti bunyi jauh. Nan Shin mencoba memejamkan mata. Yang muncul justru wajah Cheng An di koridor, garis masker di pipinya, gelas kopi di tangan, dan langkah yang tidak pernah melambat untuknya.
Ia tahu suaminya sibuk.
Sejak dipercaya menangani lebih banyak operasi, nama dr. Kho semakin sering disebut dalam rapat rumah sakit. Jadwalnya penuh, teleponnya hampir tidak pernah diam, dan setiap pembicaraan keluarga selalu kalah oleh pasien atau pekerjaan.
Nan Shin pun sibuk. Hanya saja kesibukannya tidak pernah dianggap alasan.
Malam sebelumnya, sebelum berangkat jaga, ia sudah mencoba membagi pekerjaan dengan Cheng An.
“Besok pagi kamu bisa cek tas Yi Ming sebelum pergi?” tanyanya sambil memasukkan kotak makan ke rak.
“Aku masuk lebih awal.”
“Lima menit saja.”
“Kenapa nggak minta Mama?”
Nan Shin menutup pintu kabinet. “Karena Yi Ming juga anakmu.”
Cheng An sudah membaca pesan di ponselnya. “Kalau sempat, aku cek.”
“Kalau sempat berarti aku tetap harus menyiapkannya.”
“Nan, aku sedang pegang kasus besar. Jangan mulai sekarang.”
Setelah pulang jaga malam, ia tetap harus memeriksa kebutuhan sekolah dua anak, mencuci seragam, memastikan stok dapur, membayar tagihan bulanan, dan mendengarkan Mama membicarakan apa saja yang belum dikerjakannya. Kalau Cheng An pulang larut, semua orang memaklumi. Kalau Nan Shin terlambat tiga puluh menit, rumah seolah berhenti berfungsi.
Sopir melirik kaca tengah. “Ada yang harus dijemput ke sekolah, Bu?”
“Tidak, Pak. Saya hanya perlu sampai rumah sebelum anak-anak berangkat.”
“Kalau jalur depan macet, saya lewat sisi taman. Lebih jauh sedikit, tapi biasanya bergerak.”
“Silakan. Saya tidak mau anak saya pergi sambil mengira Mamanya hilang.”
Mobil berbelok memasuki Cluster Verona. Deretan rumah bergaya Eropa berdiri rapi di balik pagar pendek. Petugas keamanan mengenali alamatnya dan membuka palang tanpa banyak bertanya.
Nan Shin memandangi rumahnya dari balik kaca.
Cat krem di dinding depan masih bersih. Dua pot tanaman di teras tersusun simetris. Dari luar, rumah itu tampak tenang, milik keluarga mapan dengan seorang dokter, seorang perawat, dua anak, dan seorang ibu yang membantu mengurus rumah.
Hanya orang di dalamnya yang tahu bantuan selalu punya harga.
Mobil berhenti. Nan Shin membayar, mengucapkan terima kasih, lalu turun perlahan. Kakinya kesemutan. Tas kerjanya terasa lebih berat daripada saat berangkat semalam.
Pintu depan tidak terkunci.
Begitu Nan Shin mendorongnya, aroma bubur ayam dan bawang goreng menyambut dari arah dapur. Televisi menyala tanpa suara. Sepasang sepatu sekolah Yi Ming sudah diletakkan dekat rak, tetapi rumah terlalu sunyi untuk pagi hari dengan dua anak.
“Mama?” panggil Nan Shin.
Tidak ada jawaban.
Ia baru melangkah masuk ketika melihat Ibu Kho berdiri di ambang ruang keluarga. Wanita itu sudah berpakaian rapi. Kedua tangannya terlipat di depan dada, wajahnya kaku, seolah telah menunggu sejak lama.
Tatapan Ibu Kho turun pada jam dinding, lalu kembali ke wajah Nan Shin.
“Akhirnya kamu pulang,” katanya.
Setelah itu, bibirnya mengatup lagi, menahan kalimat berikutnya.
Bab 3
Ibu Mertua Menelepon
“Kalau dulu kamu nggak usah kerja di rumah sakit, mungkin nggak secapek ini.”
Kalimat Ibu Kho jatuh begitu saja di ruang keluarga, tepat setelah Nan Shin menutup pintu di belakangnya.
Nan Shin masih memegang tas kerja. Tali tas itu menekan bahu yang kaku. Ia belum sempat melepas sepatu, belum sempat menanyakan kenapa Mama menelepon tiga kali, tetapi kesalahannya sudah diputuskan lebih dulu.
Ia pulang terlalu lambat.
Ia terlihat terlalu lelah.
Dan menurut Mama, semua itu terjadi karena ia memilih bekerja.
“Ma, tadi malam IGD ramai,” jawab Nan Shin. “Ada pasien yang harus dipindahkan ke ruang observasi sebelum aku bisa serah terima.”
Ibu Kho menghela napas. “Mama nggak tanya alasanmu. Yi Ming sebentar lagi dijemput, tapi bekalnya belum masuk tas. Yi Chen juga belum mandi.”
Dari lantai atas terdengar langkah kaki kecil, lalu suara Yi Chen memanggil dengan nada mengantuk.
“Mama?”
Nan Shin mendongak. Putra bungsunya berdiri di anak tangga terakhir dengan piyama bergambar dinosaurus. Rambutnya mencuat ke segala arah. Begitu melihat Nan Shin, wajahnya langsung cerah.
“Mama pulang!”
Yi Chen berlari. Nan Shin menurunkan tasnya dan membuka kedua tangan, tetapi saat tubuh kecil itu menabrak pinggangnya, rasa nyeri menyambar begitu tajam sampai napasnya tertahan.
Ia tetap memeluk putranya.
“Mama gendong,” pinta Yi Chen.
“Mama pegang tangan dulu, ya.” Nan Shin mengusap rambutnya. “Kita mandi.”
“Nggak mau mandi.”
“Tiga menit aja.”
“Mama ikut.”
“Iya, Mama temani.”
Yi Chen cemberut, tetapi akhirnya menggenggam tangan ibunya.
Ibu Kho memperhatikan dari ruang keluarga. “Jangan selalu dituruti. Sudah besar masih minta digendong.”
Nan Shin tidak menjawab. Ia membawa Yi Chen ke kamar mandi, membantu anak itu menyikat gigi, lalu memandikannya secepat mungkin. Kelopak matanya terasa berat. Dua kali ia salah mengambil botol sampo, dan sekali tangannya hampir menjatuhkan gayung.
“Mama ngantuk?” tanya Yi Chen.
“Sedikit.”
Anak itu mengangkat kedua telapak tangannya yang penuh busa. “Tidur sama aku.”
Nan Shin tersenyum tipis. “Nanti setelah kamu sekolah.”
Saat mereka keluar, Yi Ming sudah duduk di meja makan dengan seragam SD. Anak sulungnya lebih tenang daripada adiknya. Ia mengunyah roti tanpa suara sambil sesekali melirik ibunya.
“Mama belum tidur?” tanyanya.
“Belum.” Nan Shin merapikan kerah seragamnya. “Buku matematikamu sudah masuk tas?”
Yi Ming mengangguk. “Sudah. Popo yang cek.”
Ibu Kho muncul dari dapur membawa kotak makan. “Kalau Popo nggak cek, bisa-bisa buku tugasmu ketinggalan lagi.”
Yi Ming menunduk pada rotinya. Nan Shin melihat jari anak itu berhenti merobek pinggiran roti.
“Kemarin bukan ketinggalan,” kata Nan Shin pelan. “Bukunya tertinggal di meja guru karena dikumpulkan.”
“Sama saja. Yang penting anak harus dibiasakan rapi.” Ibu Kho memasukkan kotak makan ke tas Yi Ming, lalu menatap Nan Shin. “Termasuk ibunya.”
Nan Shin menarik kursi untuk Yi Chen. Ia mengambil bubur yang masih hangat, meniup satu sendok, lalu menyuapkannya. Yi Chen menggeleng dan menutup mulut.
“Mau telur.”
“Telurnya habis,” kata Ibu Kho.
Nan Shin membuka kulkas. Di rak pintu masih ada dua butir telur.
“Ini masih ada, Ma.”
“Itu untuk Cheng An. Dia pulang siang nanti.”
Tangan Nan Shin berhenti di gagang pintu.
Yi Chen menatap telur itu, lalu menatap ibunya. “Aku mau.”
“Biar telur satu untuk Yi Chen,” kata Nan Shin. “Cheng An bisa makan yang lain.”
Wajah Ibu Kho langsung berubah. “Mama sudah atur bahan makanan untuk hari ini.”
“Cuma satu telur, Ma.”
“Masalahnya bukan satu telur. Kalau semua orang ambil sesuka hati, rumah ini jadi nggak teratur.”
Nan Shin menatap dua telur di rak pintu. “Ma, ini makanan di rumah, bukan persediaan operasi.”
“Justru karena di rumah, harus ada yang mengatur.”
Yi Ming mengecilkan suara. “Telurku boleh untuk adik.”
Nan Shin segera menutup kulkas. “Kamu tidak perlu menyerahkan sarapanmu.”
“Aku sudah makan roti.”
Ibu Kho mengambil tas Yi Ming. “Lihat? Anak saja tahu berbagi.”
“Berbagi itu memilih memberikan, bukan diminta mengalah karena orang dewasa sudah membuat jatah tanpa bertanya.”
“Jangan membuat satu telur jadi pelajaran besar pagi-pagi.”
“Saya juga tidak ingin begitu. Goreng saja satu untuk Yi Chen, nanti Cheng An bisa makan sup.”
“Kalau Cheng An pulang lapar?”
“Dia bisa mengambil makanan lain. Dia orang dewasa.”
Suara mobil antar-jemput terdengar membunyikan klakson pendek dari depan rumah. Yi Ming buru-buru berdiri.
Nan Shin menutup kulkas tanpa mengambil telur. Ia meraih tas putranya dan mengantar Yi Ming ke pintu.
Sebelum keluar, Yi Ming menatapnya. “Mama tidur aja. Aku bisa berangkat sendiri.”
Anak sembilan tahun itu mengucapkannya dengan sangat pelan, seolah khawatir kebaikannya akan membuat orang lain marah.
Nan Shin berjongkok dan merapikan tali sepatunya. Pinggangnya berdenyut, tetapi ia menahan wajah tetap tenang.
“Mama antar sampai mobil.”
“Nggak apa-apa.”
“Mama mau.”
Di depan rumah, udara pagi sudah terasa panas. Nan Shin memastikan Yi Ming naik, melambaikan tangan sampai mobil itu berbelok di ujung jalan, lalu kembali masuk.
Ketika melewati dapur, matanya tertahan pada selembar kertas baru yang menempel di pintu kulkas.
Kertas itu dibuat dengan penggaris. Baris dan kolomnya rapi, tulisan tangan Ibu Kho lurus dan tegas.
Jadwal Rumah Tangga.
Sarapan dan bekal: Nan Shin.
Seragam dan tas sekolah: Nan Shin.
Belanja mingguan: Nan Shin.
Kamar anak: Nan Shin.
Tagihan rumah: Nan Shin.
Nama Cheng An tidak muncul satu kali pun.
Di bagian bawah ada catatan dengan tinta merah: Selesai sebelum pukul 06.30.
Nan Shin menyentuh sudut kertas itu. Selotipnya masih baru, begitu kuat hingga kertas tidak bergerak sama sekali. Jadwal tersebut tampak seperti daftar tugas, tetapi di matanya lebih mirip surat putusan. Semua sudah ditentukan. Tidak ada tempat untuk jadwal malam, pasien gawat, atau tubuh yang butuh tidur.
“Mama buat tadi malam,” kata Ibu Kho dari belakangnya. “Biar ke depannya jelas. Rumah ini nggak bisa terus berantakan hanya karena jadwal kerjamu.”
Nan Shin membalikkan badan. “Rumah ini berantakan di mana, Ma?”
Ibu Kho tampak tidak menyangka ia akan bertanya balik. “Kamu lihat sendiri. Anak-anak hampir telat. Bekal belum siap. Yi Chen belum mandi.”
“Yi Ming sudah duduk makan sebelum saya datang. Tasnya juga sudah siap.”
“Karena Mama yang mengerjakan.”
“Terima kasih. Tapi membantu sekali tidak berarti semua pekerjaan itu otomatis menjadi kewajiban saya.”
“Memangnya Mama bilang otomatis?”
Nan Shin menunjuk setiap baris pada kertas. “Nama saya tertulis lima kali. Nama orang lain tidak ada. Itu cukup jelas.”
“Cheng An dokter. Jadwalnya tidak bisa disamakan.”
“Saya perawat IGD. Jadwal saya juga tidak bisa hilang hanya karena tidak ditulis di kulkas.”
“Aku baru selesai jaga malam.”
“Itu dia.” Ibu Kho menunjuk seragamnya. “Kalau dulu kamu nggak usah kerja di rumah sakit, mungkin nggak secapek ini. Kamu bisa urus suami dan anak-anak dengan benar.”
Kali ini kalimat itu terasa lebih tajam.
Nan Shin menatap tangan Ibu Kho yang masih mengarah pada seragamnya. Dua belas tahun ia mengenakan pakaian itu. Dengan seragam itu, ia pernah menahan perdarahan pasien, membantu anak yang kejang, dan berdiri berjam-jam agar keluarga lain tidak kehilangan orang yang mereka sayangi.
Di rumah sendiri, seragam yang sama dianggap sebagai penyebab semua kekurangannya.
Yi Chen menarik ujung bajunya. “Mama, telur.”
Nan Shin menunduk. Wajah kecil itu masih menunggu jawaban untuk masalah yang sangat sederhana.
Ia mengambil satu telur dari kulkas.
“Aku masak sekarang.”
Ibu Kho mendecakkan lidah, tetapi tidak mencegahnya. Nan Shin menyalakan kompor. Minyak mendesis saat telur menyentuh wajan. Ia berdiri di depan api dengan mata perih, tidak yakin apakah karena panas atau karena ia sudah terlalu lama menahan semuanya.
Setelah Yi Chen selesai makan, mobil antar-jemput TK datang. Nan Shin memasangkan tas kecil di punggungnya dan mengantar anak itu sampai gerbang.
“Mama tidur,” pesan Yi Chen.
“Iya.”
Yi Chen mengulurkan jari kelingking. “Mama janji tidur?”
Nan Shin mengaitkan jarinya. “Mama janji mencoba tidur setelah kamu berangkat.”
“Kalau Popo panggil?”
“Mama bilang sedang istirahat.”
Yi Chen mengangguk puas. “Bilang Mama habis jaga orang sakit.”
“Jangan kerja lagi.”
Nan Shin membeku sesaat. Ia tidak bertanya dari mana anak itu mendapatkan kalimat tersebut. Yi Chen sudah berlari kecil menuju pendamping antar-jemput, lalu melambaikan tangan.
Saat Nan Shin kembali ke dapur, Ibu Kho sedang berdiri di depan jadwal rumah tangga. Ujung jarinya merapikan kertas yang sebenarnya sudah menempel sempurna.
Rumah kini sunyi. Tidak ada anak-anak yang bisa mengalihkan pembicaraan.
Ibu Kho menoleh dan berkata, “Kamu mandi dulu. Nanti kita bicara baik-baik.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!