Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku Bukan Ojol Biasa

bab 1

Kelopak matanya terbuka perlahan, mengerjap pelan saat hawa dingin langsung menyengat kulit. Langit-langit asing yang membentang di atasnya perlahan mulai jelas terlihat.

"Aaaaaaa!"

Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.

"Aaaaaa!"

"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"

Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.

"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.

"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.

"Kamu!"

"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.

"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"

"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"

Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Sambil menahan amarah yang membakar, Amira meraih sepatu di dekatnya dan—PLAK!—mendaratkan pukulan telak ke tubuh pria itu.

"Aku yang kamu rugikan, kenapa malah kamu yang menangis?!" kesal Amira.

Tanpa membuang waktu, mereka buru-buru memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Baru saja hendak mengenakannya, pintu kamar mendadak terbuka kasar.

BRUK!

"Amiraaaaa!" Suara melengking terdengar memecah ruangan. Ratna, wanita paruh baya sekaligus ibu Amira, berdiri di ambang pintu dengan wajah syok.

"Mamah... ini nggak seperti apa yang Mamah lihat—"

"Astaga, Amira..." sahut Risma, memotong ucapan Amira. Tatapannya memancarkan kepuasan atas kemenangan yang nyata. "Seminggu lagi kamu akan menikah dengan Raka, tapi kamu malah selingkuh?"

"Nggak! Aku nggak selingkuh!"

"Kenyataannya kamu memang selingkuh!"

"Enggak!" pekik Amira histeris.

"DIAM KALIAN SEMUA!" bentak Ratna lantang.

Ruangan itu mendadak hening seketika. Hanya terdengar helaan napas Amira yang patah-patah dan tidak beraturan.

"Amira..."

Sebuah suara pria terdengar dari balik pintu. Amira mendongak, matanya membelalak tak percaya. "Ra... Raka? Bukannya kamu lagi di luar kota?"

"Aku kecewa sama kamu," bentak Raka keras. Matanya memerah, memancarkan amarah dan tatapan tajam yang menusuk. "Kamu tega, Amira. Baru saja aku pamit mau keluar kota, kamu sudah selingkuh di belakangku!"

"Ini salah paham... Aku mohon dengarkan aku dulu—"

"Aku batalkan pernikahan kita!"

"Jangan! Aku mohon..." jerit Amira di antara isaknya.

"BATAL!" Raka memutar badan, melangkah lebar meninggalkan ruangan tanpa berpaling sedikit pun.

Pria di samping Amira buru-buru angkat bicara. "Tante, saya nggak akan lari. Saya pasti tanggung jawab."

"Diam kamu! Siapa yang suruh kamu bicara?!" bentak Amira makin frustrasi.

Risma tersenyum sinis. "Kalau dia tidak bertanggung jawab, lalu bagaimana, Amira? Kamu harus menikah dengan pria itu!"

"TIDAKKKKK!" Amira berteriak histeris seraya menutup rapat kedua telinganya.

"Diam!" Ratna memotong tegas. Tatapannya dingin melirik sang putri. "Bereskan baju kamu. Mamah tunggu di lobby bawah." Tanpa menunggu balasan, Ratna membalikkan badan dan berlari pergi.

Risma mendekat, menatap Amira dengan pandangan merendahkan. "Gagal menikah dengan pria kaya, akhirnya malah menikah sama gembel. Menyedihkan sekali."

"Risma... Kamu pasti yang menjebakku, kan?!" tuduh Amira dengan mata menyalang.

Risma makin memangkas jarak, lalu berbisik pelan di telinga Amira, "Ya, aku yang menjebak kamu... dan aku berhasil."

Amira melotot, tubuhnya gemetar hebat. "Kamu..."

"Kamu sekarang hancur," sambung Risma dingin. "Dan seperti biasa, kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang, nikmati saja penderitaanmu."

Risma membalikkan badan dan melangkah pergi diiringi tawa ringan yang menusuk telinga.

Amira menggigit bibirnya erat-erat. Potongan ingatan semalam mendadak berputar di kepalanya. Semalam ia berencana menemui klien bersama sekretarisnya, Rini. Namun, di tengah-tengah meeting, Rini mendadak menghilang. Tak lama setelahnya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk—mengatakan Rini dalam bahaya dan menyebutkan satu nomor kamar.

Sebagai teman dekat, Amira panik dan buru-buru menyusul ke kamar tersebut. Sayangnya, kepala Amira sudah sangat pusing akibat minuman saat meeting tadi. Tubuhnya terasa panas, penglihatannya makin kabur. Begitu pintu kamar terbuka, seorang pengemudi ojek online masuk. Amira yang tak sanggup menahan pengaruh zat misterius itu langsung menarik sang driver—menjadi pihak yang jauh lebih dominan malam itu.

"Ini semua salah kamu!" ucap Amira dan pria itu secara bersamaan, memecah lamunan.

"Salah kamu!" tembak Amira.

"Kamu yang salah!" balas pria itu tak mau kalah.

Amira memegang kepalanya yang berdenyut. "Ah, pusing aku!"

"Nggak usah pusing."

"Enak aja!"

"Ya emang enak..."

"Dasar bajingan!" Amira melempar bantal tepat ke wajah pria itu.

"Semalam kamu yang membanting, mendorong, dan bertingkah kayak macan betina! Kamu yang melecehkanku semalam!"

"DIAMMMM!" teriak Amira melengking.

"Kita jangan cuma diam."

"Terus apa?!"

"Pakai baju kita yang bener."

Pria itu bangkit berdiri, hanya mengenakan celana boxer. Amira spontan memalingkan wajah.

"Ahhhhh! Kenapa kamu telanjang?!"

"Aku pakai celana!"

"Pergi kamu!" teriak Amira.

"Nggak akan pergi."

"Pergi!"

"Aku akan jadi suami kamu, aku nggak akan pergi."

"Nggak mau..."

"Harus mau."

"Kenapa?!"

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"

"Nggak bisa!" isak Amira, kepalanya kian berat.

"Bisa."

"Nggak bisa..."

"Kenapa lagi?" tanya pria itu.

"Kita bahkan nggak saling kenal!"

Pria itu menghentikan gerakannya sebentar. "Oh. Kenalkan, namaku Luki Perdana."

"Siapa yang suruh kenalan?!"

"Lho, tadi katanya nggak kenal?"

Saat Amira hendak membalas, Luki mengacungkan tangannya. "Nanti dulu debatnya. Pakai dulu baju kamu yang bener... Aku ini lelaki normal."

Amira buru-buru menarik selimut untuk membungkus tubuhnya kembali. "Dasar mesum!"

"Aku cuma mengingatkan." Luki menghela napas lalu membalikkan badan. Ia mulai mengenakan celana jins kusam dan jaket ojol kebanggaannya. "Balik badan sana, cepat ganti baju."

Amira mengambil pakaiannya satu per satu dengan tangan gemetar. Masih dengan selimut yang melilit tubuh, ia berjalan setengah berlari menuju kamar mandi. Namun, langkahnya mendadak terhenti pelan. Rasa nyeri yang tajam menusuk di area sensitifnya, memaksa Amira melangkah sangat lambat.

Begitu berhasil masuk dan mengunci pintu kamar mandi, Amira menyandarkan tubuhnya ke dinding cold. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata yang kembali menetes.

"Hancur... Hancur sudah..." gumamnya liris.

Sementara itu, Luki mengenakan celana jins lusuh, kaus polos, dan menyampirkan jaket ojol kebanggaannya.

"Ah... kenapa juga semalam aku melangkah masuk ke kamar ini? Ini pasti jebakan," gumamnya pelan.

Ia melangkah mendekati cermin, menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari. Tatapannya menatap bayangannya sendiri dengan rasa tak percaya.

"Mamah... anakmu sudah menodai wanita," bisiknya miris.

Luki kemudian berjalan ke arah jendela. Dari ketinggian, pemandangan kota membentang luas di bawah sinar matahari pagi. Sambil memandang jauh ke luar, ingatan semalam kembali berputar di kepalanya.

Awalnya, ia hanya menerima orderan makanan ke Hotel Perdana. Biasanya, antaran cukup dititipkan di meja resepsionis. Namun, sang pemesan mewanti-wanti agar makanan diantar langsung ke depan kamar. Begitu ia melangkah masuk, situasi dengan cepat berubah menjadi kekacauan tak terduga. Luki ingat betul ia sempat panik dan berlari ke arah pintu, tetapi gagang pintu itu seolah terkunci rapat dari luar. Hingga akhirnya... kejadian itu benar-benar tak terelakkan.

Luki merogoh saku, meraba ponselnya, lalu membuka aplikasi untuk memeriksa riwayat orderan.

"Yang pesan atas nama Rini," gumamnya heran. "Terus kenapa malah Amira yang di dalam?"

Ia menghela napas panjang, lalu terkekeh geli menertawakan kemalangan dirinya sendiri. "Ah, mungkin ini takdir. Niatnya lari dari perjodohan gara-gara nggak mau nikah, malah terjebak hal gila begini. Tuhan sepertinya lagi berdialog humor."

Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering nyaring. Nama Mamah tertera jelas di layar.

"Di mana kamu?" suara dari seberang langsung menyambar begitu sambungan terhubung.

"Tumben tanya-tanya?" sahut Luki santai.

"Sudahlah. Lusa kamu harus tunangan sama Lisa," pangkas Yohana, mamah Luki, tanpa basa-basi.

"Nggak bisa, Mah."

"Kenapa lagi?! Kurang apa Lisa? Dia itu baik, cantik, lembut—"

"Aku nggak suka."

"Kenapa nggak suka? Kamu masih normal, kan?"

"Astaga, Mah... aku masih normal!"

"Kalau normal, ya nikah!"

"Iya, nanti aku nikah."

"Ya udah, sama Lisa!"

"Nggak bisa, Mah."

"Kenapa?!"

"Lisa itu temanku dari dulu. Aneh aja rasanya, masa tiba-tiba dari teman jadi pasangan?"

"Justru karena teman, kalian sudah saling kenal!"

"Nggak lucu, Mah."

"Ini pernikahan, Luki, bukan lelucon!" tegas Yohana tajam.

"Iya, Mah... Nanti aku nikah, kok."

"Sama siapa?!"

"Nanti Mamah juga tahu sendiri."

"Awas ya, jangan sembarangan cari perempuan! Mamah harus seleksi dulu!"

"Ih, dikira lagi cari karyawan apa pakai diseleksi segala?"

"Eh, calon karyawan aja diseleksi, apalagi calon istri kamu!"

"Mah... tolong, jangan atur-atur hidupku lagi," potong Luki pelan namun tegas.

Luki langsung mematikan sambungan telepon begitu mendengar engsel pintu kamar mandi berdecit terbuka.

.........

Mohon tinggalkan jejak berupa Like ya

salam Penulis

BAB 2

Akhirnya Amira selesai memakai pakaiannya: sebuah rok panjang di bawah lutut, kemeja putih beraksen merah muda, lalu dibalut blazer. Ya, Amira selalu berdandan sederhana, tidak berlebihan, dan tidak memakai pakaian ketat. Ia terlihat sopan namun tetap elegan. Karisma utamanya justru memancar dari kegigihannya—di usianya saat ini, ia sudah dipercaya menjabat sebagai CEO di perusahaan distributor obat.

Ceria, ambisius, dan pekerja keras—tiga kata itu yang paling tepat menggambarkan sosok Amira.

Namun saat ini, hatinya kacau balau. Kejadian semalam berjalan terlalu cepat dan terasa amat rumit untuk dicerna.

"Baiklah... Semua pasti bisa dinegosiasikan... Tapi Raka... kenapa kamu sama sekali nggak percaya sama aku?" desisnya lirih, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.

"Lama banget sih di kamar mandi," celoteh suara di depannya.

Amira menatap tajam lelaki yang kini berdiri santai di hadapannya. Tiga kata yang langsung terlintas di otak Amira: tampan, tinggi, dan tengil.

"Berapa nomor rekening kamu?" tanya Amira blak-blakan.

"Mau apa?"

"Sebutkan saja."

"Mau apa dulu?"

Amira menggertakkan giginya gemas. "Lupakan kejadian semalam, dan pergi dari hidupku."

"Eh, emang aku cowok apaan? Kamu kira aku Gigolo ,,,Aku nggak bakal pergi. Aku bakal bertanggung jawab."

"Aku nggak nuntut tanggung jawab kamu!"

"Tapi aku yang mau... Karena aku lelaki sejati."

"Hentikan!"

"Kenapa?"

"Kita hidup di dunia yang berbeda!"

"Hanya karena aku tukang ojol?"

"Bukan cuma itu!"

"Terus?"

"Pokoknya lupakan!"

"Terus kalau kamu hamil, bagaimana?"

Amira mendadak terdiam. Lidahnya kelu.

“Pokoknya aku ga bisa menikah dengan kamu”

“Bukan masalah bisa dan ga bisa, kita sudah terlanjur melakukan itu dan kita harus menikah”

“arghhh” erang Amira “kamu buat aku kesal”

“Bukan masalah kesal kita memang harus menikah”

“enggak bisa”

“harus bisa anak yang kamu kandung adalah anaku”

“Aku belum hamil,”

“kemungkinan besar hamil”

“kenapa?”

“ya karena kita sudah,,,,”

Belum sempat mereka melanjutkan perdebatan sengit itu, pintu kamar diketuk. Amri, sopir pribadi Nyonya Ratna, berdiri di ambang pintu. "Nyonya Ratna menyuruh Anda turun sekarang."

"Baik..." jawab Amira. Ia bangkit dan melangkah keluar kamar, diikuti oleh Luki di belakangnya.

Amira menoleh sedikit dan berbisik cepat, "Kalau ibuku menyuruh kamu menikah denganku, bilang kamu nggak siap."

"Aku siap."

"Bilang nggak siap!"

"Tapi aku emang siap."

"Kamu menyebalkan!"

"Aku cuma mau bertanggung jawab."

"Aku nggak mau!"

"Harus mau."

"Nggak bisa!"

"Kenapa lagi?"

"Kita nggak saling kenal!"

"Nggak kenal, tapi kita udah tahu luar-dalam."

Amira menggigit bibirnya rapat-rapat. Rasa-rasanya ia ingin lari ke Kutub Utara saat itu juga tiap kali teringat ingatan samar tentang kegilaan semalam...

Mereka akhirnya sampai di sebuah private room di lantai lobby. Di sana, sebuah meja oval dikelilingi oleh Ratna, Risma, Angga (ayah tiri Amira), dan Kakek Handoko.

"Kamu mengacaukan segalanya, Amira!" tembak Ratna tanpa basa-basi begitu Amira melangkah masuk. "Raka membatalkan pernikahan! Hampir saja kerja sama dengan pabrik farmasi milik keluarga Raka ikut gagal... Untung saja Risma mau menggantikan posisi kamu."

Amira melirik sinis ke arah Risma. Saudara tirinya itu berpura-pura memasang raut wajah sendu seolah-olah dirugikan, padahal Amira tahu betul bahwa Risma memang sudah lama mengincar Raka.

"Maaf, semalam itu—"

"Nggak usah dijelaskan!" potong Ratna dingin. "Sehebat apa pun kamu menyangkal, kenyataannya kamu tidur dengan lelaki ini!"

"Luki, Tante. Namaku Luki," sela Luki santai sambil mengangkat tangan pelan.

Semua orang di ruangan itu menatap Luki dengan pandangan meremehkan—melihat jaket hijau kusam dan gayanya yang terkesan sembarangan.

"Kamu harus menikah dengan dia," tegas Ratna pada Amira.

"Nggak bisa, Mah! Oke, aku gagal nikah sama Raka, tapi aku nggak mau nikah sama dia!"

"Iya, Ratna, jangan terburu-buru," sela Angga dengan nada lembut namun penuh rasa beracun. "Biarkan mereka saling kenal dulu, kita nggak bisa memaksa Amira. Maklum, anak muda zaman sekarang kadang suka 'coba-coba' sebelum resmi."

Amira mengepalkan tangannya. Ia tahu itu bukan pembelaan, melainkan sindiran halus untuk makin menjatuhkan harga dirinya. Risma dan ayah kandungnya sama-sama munafik.

"Nggak bisa, Mas," ucap Ratna pada suaminya. "Amira itu anakku, aku harus mendidiknya dengan benar." Ratna menatap Amira dengan pandangan kecewa berat. "Kamu harus menikah dengan dia."

"Nggak bisa, Mah!"

"Harus! Jangan melakukan tindakan tidak bermoral di keluarga ini!"

"Kak Amira, Kamu harus menikah dengan dia..." sahut Risma dengan nada iba buatan. "Walau dia cuma ojol, kamu harus terima. Kamu sendiri kan yang memasukkan dia ke kamar kamu?"

"Ya, Amira. Sepertinya kamu memang harus menikah dengan dia," tambah Angga. "Tidak ada jalan lain. Dan ingat, jangan memandang rendah orang lain."

"Saya pria sejati, saya siap menikahi Amira," potong Luki tiba-tiba dengan suara tegas dan mantap.

Amira menggertakkan giginya. Ia menatap Risma tajam. Jebakan Risma benar-benar rapi hingga tak menyisakannya pilihan.

"Ya... aku akan menikah," lirih Amira akhirnya, menyerah pada keadaan.

"Bagus. Dan kamu juga harus menyerahkan jabatan CEO kamu pada Risma," tambah Ratna cepat.

Brak!

"Ratna!" Kakek Handoko mengeram keras sambil mencengkeram tongkat kayunya erat-erat. "Amira sudah mau mengalah dan menikah dengan pria asing yang tidak dikenalnya! Jangan melakukan tindakan keterlaluan! Amira adalah cucuku... Coba-coba kamu menggeser posisi Amira dari perusahaan, aku cabut seluruh sahamku detik ini juga!"

Ruangan seketika hening mencekam.

Wajah Risma dan Angga langsung berubah kecewa berat, sementara Ratna tampak bimbang. Amira selalu merasa hangat tiap kali Kakek membelanya. Andaikan tidak ada Kakek Handoko, Amira benar-benar tidak punya tempat bersandar lagi setelah ibunya menikah lagi.

"Ayah Mertua..." ucap Ratna membela diri dengan suara melemah. "Perusahaan yang dipimpin Amira grafiknya terus merosot. Sepertinya Risma lebih kompeten—"

"Baiklah!" kata Kakek Handoko dingin. "Serahkan saja pada orang lain... tapi kembalikan 50% saham milikku sekarang."

"Tapi Ayah... kalau perusahaan Amira makin merosot, jangan salahkan saya karena tidak mengingatkan," cicit Ratna.

"Lebih baik perusahaan itu bangkrut daripada diserahkan pada orang lain!" tegas Kakek Handoko tak terbantahkan.

Angga dan Risma menggertakkan gigi menahan emosi. Lelaki tua itu memang tidak pernah menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Tapi mereka bisa apa Angga adalah pria yang numpang hidup di kekayaan Ratna, melawan Handoko? “belum saatnya”

Ratna menghela napas pasrah. Ia tidak bisa berkutik—Kakek Handoko adalah ayah kandung dari almarhum suami pertamanya, pemegang kendali aset utama.

"Baiklah, terserah Ayah Mertua saja," ucap Ratna akhirnya. Ia lalu menoleh ke arah Amira dan Luki. "Nanti malam kalian menikah."

"APA?!" teriak Amira dan Luki kaget bersamaa

.....

Mohon Dukungannya untuk meninggalkan jejak berupa like

BAB 3

"Kenapa?" tanya Ratna pelan. "Tadi kamu sendiri yang bilang mau tanggung jawab."

"Iya, pasti. Mamah Mertua tenang saja, aku pasti tanggung jawab," jawab Luki santai.

Amira mendecih pelan dalam hati. Pede banget ojol satu ini. Berani-beraninya manggil Mamah Mertua, padahal nikah aja belum.

"Aku pasti tanggung jawab, tapi aku butuh persiapan," lanjut Luki.

Tiba-tiba terdengar isak tangis yang tertahan dari Risma.

"Kenapa kamu, Sayang?" tanya Ratna lembut, mengalihkan perhatian sepenuhnya pada anak tirinya itu.

Setiap kali melihat interaksi mesra antara Risma dan ibunya, jemari Amira refleks mengepal kuat. Ia selalu heran, bagaimana bisa seorang ibu kandung justru lebih menyayangi dan membela anak tirinya ketimbang darah dagingnya sendiri?

"Mamah..." bisik Risma di balik isakannya. "Aku... aku nggak mau menikah sama Raka."

Ratna menatapnya serius. "Kenapa, Nak?"

"Bagaimanapun, orang-orang tahu kalau Mas Raka itu bertunangan sama Kak Amira. Kalau aku tiba-tiba jadi istri pengganti, orang-orang bakal menganggap aku adik tiri yang merebut tunangan kakaknya sendiri..."

Suasana ruangan mendadak hening. Ratna dilanda dilema. Padahal Risma sebelumnya sudah setuju, tetapi kenapa mendadak menolak? Risma melirik ragu ke arah Angga, ayahnya.

Memahami kode sang anak, Angga maju lalu mengelus lembut pundak Risma. "Ada apa, Sayang? Kenapa tadi kamu setuju, tapi sekarang malah menolak?"

Risma terisak makin jadi hingga suaranya terdengar serak. Ia sempat melirik Amira dan Luki sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam. "Apa kata orang kalau Kak Amira belum menikah, sementara aku melangkahinya nikah sama Mas Raka? Aku pasti disebut adik tiri yang jahat! Aku mau berkorban untuk keluarga ini, tapi aku juga butuh dilindungi..."

Dari sana, Ratna langsung menangkap maksud terselubung Risma.

"Malam ini kamu menikah. Tidak ada bantahan!" tegas Ratna dengan nada dingin yang menancap tajam ke arah Amira.

Luki menyela tenang, "Mamah Mertua, beri aku waktu dua minggu."

Risma makin terisak melengking. "Enggak bisa! Harus malam ini!"

"Aku harus ambil baju, menyiapkan mas kawin, dan memberi tahu keluargaku dulu, Mah," ujar Luki memberikan alasan logis.

"Enggak bisa! Orang tuamu tidak usah datang!" potong Ratna tajam. "Kamu saja sudah bikin malu. Aku tahu keluarga kamu pasti orang kampungan—bisa-bisa satu desa diangkut ke sini nanti!"

"Aku bukan orang kampung, Mah," potong Luki pelan.

"Sudah, jangan mengelak! Soal baju dan mas kawin, itu jadi tanggung jawab saya," sergah Ratna tanpa beban. "Pokoknya kamu harus menikah dengan Amira malam ini. Kalau dalam waktu empat bulan Amira tidak hamil, kamu harus ceraikan dia. Tapi kalau dia hamil, kamu baru boleh cerai setelah Amira melahirkan! Amira ini bagaimanapun anak saya, tidak mungkin saya menyerahkan masa depannya sembarangan pada orang seperti kamu."

Perkataan tajam itu justru menyenggol harga diri Luki. "Di keluarga saya tidak ada budaya cerai. Kecuali kalau pasangannya selingkuh."

"Apa kamu punya hak untuk membantah, hah?! Memangnya siapa kamu?!" bentak Ratna murka.

"Saya suami—eh, calon suami Amira."

"Ini cuma insiden! Jangan berharap lebih dari sebuah kecelakaan!" tekannya keras. "Menikahi anak saya cuma untuk memberi status yang jelas pada keturunan saya kelak. Ini cuma pernikahan sementara, jangan pernah bermimpi untuk selamanya!"

"Tidak bisa," kekeh Luki. "Saya akan memberikan kehidupan yang layak buat Amira."

"Jangan membual!" timpal Angga kesal. "Sudah, ikuti saja saran istri saya! Memangnya dengan apa kamu mau membahagiakan Amira?"

"Ya dengan semua yang saya punya," sahut Luki tak gentar. "Tenang saja, saya ini pekerja keras. Nggak bisa cuma diam di rumah, apalagi mengandalkan uang istri."

Muka Angga mendadak merah padam. "Kamu menyindir saya?!"

"Menyindir yang mana?" balas Luki santai. "Paman kan pasti pekerja keras juga dan nggak tergantung sama istri, kan?"

"DIAM!" bentak Ratna menengahi.

Di sudut ruangan, Amira merasa sedikit terhibur dengan ucapan Luki. Kata-kata itu adalah sindiran tajam yang selama ini ingin ia semburkan ke wajah Angga. Dulu, ibunya adalah pebisnis handal yang membangun semuanya. Lalu datanglah Angga dan Risma yang awalnya hanya menumpang hidup, hingga perlahan menguasai seluruh peninggalan almarhum ayahnya.

"Amira, bawa calon suamimu itu ke mall. Beli baju yang layak lalu ajak ke salon! Walaupun dia miskin, aku nggak mau dia terlihat kucel di acara nanti," perintah Ratna dingin.

"Baiklah." Amira berdiri. Sungguh, ia sudah tidak tahan berada di ruangan ini berlama-lama. Lagipula, memang tidak ada jalan keluar lain untuknya saat ini.

Sebelum melangkah keluar, Luki mendekati Handoko—kakek Amira—lalu mencium tangannya dengan penuh hormat. Ia juga menyalami Angga, Ratna, dan Risma satu per satu.

Handoko mengamati gerak-gerik Luki dan terkesan dengan kesopanannya. Mungkin dia memang pria baik-baik untuk cucuku, gumam Handoko dalam hati. Dulu ia bisa menerima Ratna yang berasal dari keluarga kurang mampu menjadi menantunya, jadi baginya latar belakang Luki bukanlah masalah besar.

Sebaliknya, Ratna, Angga, dan Risma justru semakin yakin kalau sikap sopan Luki adalah bukti nyata bahwa ia hanyalah pria kampungan yang lugu.

Amira dan Luki akhirnya berjalan meninggalkan kamar hotel.

"Ayah Mertua, nanti malam jangan lupa datang ke rumah, ya," panggil Ratna lembut pada Handoko.

"Cucuku menikah, tentu saja aku datang," jawab Handoko datar. Ia merogoh ponselnya dan menelpon seseorang. Tak lama kemudian, dua pria berbadan tegap masuk dan membantunya keluar ruangan dengan sigap.

Begitu Handoko pergi, Ratna mengusap bahu anak tirinya. "Terima kasih ya, Sayang... Kamu sudah menyelamatkan nama baik keluarga ini."

"Iya, Mamah..." Risma memasang raut bersalah. "Maaf ya, aku sedikit memaksa Kak Amira untuk langsung nikah. Aku benar-benar nggak sanggup kalau harus dituduh jadi pelakor."

"Tenang saja. Lagipula, kamu memang jauh lebih cocok bersanding dengan Raka."

Risma menggigit bibirnya, pura-pura ragu. "Tapi, Mah... apa Mas Raka masih mau bekerja sama dengan perusahaan kita kalau Kak Amira masih menjabat sebagai CEO? Mas Raka kan merasa dikhianati Kak Amira... Aku takut dia membatalkan kerja samanya."

Ratna menghela napas berat. Perusahaan Raka adalah produsen obat-obatan skala menengah yang sangat potensial; keuntungan perusahaan mereka akan melonjak tajam jika berhasil menjadi distributor utamanya.

"Sekali lagi Mamah minta tolong, kamu bujuk Raka ya, Nak?"

"Aku sudah coba bujuk, Mah," desah Risma lesu. "Tapi dia tegaskan nggak mau kerja sama kalau CEO-nya masih Kak Amira. Dia mau melanjutkan pernikahan dengan keluarga kita cuma demi menjaga nama baik keluarga besarnya. Belum tentu juga Mas Raka cinta sama aku... jadi sepertinya agak sulit kalau aku yang bujuk."

Ratna mendadak termenung memikirkan nasib posisi CEO di perusahaannya.

"Jangan terlalu dipikirkan, Sayang," potong Angga lembut merangkul istrinya. "Yang penting Risma menikah dulu dengan Raka. Perlahan Risma bisa membujuk Raka kembali, dan kamu juga harus pelan-pelan membujuk Pak Handoko."

Ratna tersenyum tipis lalu bersandar di dada suaminya. "Iya, Mas. Makasih ya, kamu selalu ada buat aku."

----

MOHON DUKUNGANNYA UNTUK TINGGALKAN LIKE

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!