Jejak Langkah dan Mimpi yang Bertumbuh
Sore mulai merambat turun ketika sebuah mobil sedan putih memelankan laju dan berhenti tepat di depan bangunan dua lantai bertuliskan Anindiya Bridal & Makeup. Di luar, jalanan utama Kota A masih padat oleh kendaraan warga yang baru saja menyelesaikan jam kerja. Suara klakson sesekali bersahutan di tengah hiruk-pikuk langkah orang-orang yang tergesa mengejar waktu.
Anindiya mematikan mesin mobil, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak ke sandaran kursi. Kedua bahunya terasa amat pegal setelah seharian penuh bekerja tanpa menyisakan jeda untuk beristirahat. Sejak pukul tiga dini hari tadi, ia sudah bersiap di rumah calon pengantin, memastikan setiap goresan kuas dan detail riasan menempel sempurna hingga prosesi akad nikah selesai.
Sambil menghela napas panjang, ia mengusap pelan tengkuknya yang terasa kaku.
"Alhamdulillah..." bisiknya pelan.
Satu kata sederhana itu selalu berhasil mengukir senyum di wajahnya, seberapa pun lelahnya hari yang baru saja berlalu.
Ia meraih koper hitam tebal berisi perlengkapan rias dari kursi belakang. Bobotnya yang lumayan berat membuat otot lengannya menegang, tetapi Anindiya sudah terbiasa. Selama delapan tahun terakhir, koper itu telah menjadi saksi bisu dan teman setia yang menemaninya berpindah dari satu pesta pernikahan ke pesta lainnya.
Saat pintu kaca sanggar didorong terbuka, udara sejuk pendingin ruangan langsung menyapa kulitnya. Aroma bunga melati yang lembut berpadu samar dengan wangi bedak dan parfum kosmetik—aroma khas yang selalu menyambutnya pulang.
Anindiya menghentikan langkah di ambang pintu, membiarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan.
Di balik lemari kaca yang dipasangi lampu sorot lembut, deretan gaun pengantin berdiri anggun. Sofa empuk di ruang konsultasi tertata rapi, bersanding dengan beberapa album foto portofolio di atas meja kayu.
Bangunan ini bukan sekadar tempat ia mencari nafkah. Di sinilah tempat mimpi-mimpinya yang dulu terasa mustahil perlahan mewujud nyata.
Anindiya masih ingat betul masa-masa sulitnya. Dulu, ia hanya menerima jasa rias panggilan dari rumah sederhana milik ibunya, berbekal peralatan seadanya dan modal nekat. Sedikit demi sedikit ia menyisihkan penghasilan, membeli kursi rias yang lebih layak, menyewa sepetak ruko kecil, hingga akhirnya mampu berdiri di sanggar miliknya sendiri.
Jalannya tentu tidak pernah mulus. Pernah ada masa ketika dalam sebulan ia hanya mendapatkan dua pelanggan. Ada pula momen-momen pahit saat ia hampir menyerah karena seluruh tabungannya habis hanya untuk membayar sewa tempat. Namun, tiap kali melihat mata seorang pengantin berbinar bahagia saat menatap cermin, keyakinan Anindiya selalu kembali tegak.
Inilah dunia yang ia cintai.
Kling!
Suara bel di atas pintu memecahkan lamunannya. Rina melangkah masuk dari arah pintu samping sambil membawa dua gelas plastik kopi dingin.
"Belum sempat minum kan, Mbak?" tanya Rina seraya menyodorkan salah satu gelas.
Anindiya menyambut gelas itu dengan senyum lega. "Kamu seperti tahu saja apa yang lagi aku butuhin."
"Kelihatan dari muka lelahnya Mbak Anin," seloroh Rina diiringi tawa kecil.
Tiga tahun bekerja berdampingan membuat Rina hafal betul kebiasaan atasannya. Kalau sudah terhanyut dalam urusan pekerjaan, Anindiya kerap lupa makan, lupa minum, bahkan abai pada rasa lelahnya sendiri.
Anindiya menyesap kopi dinginnya perlahan, membiarkan rasa manis dan dingin mengalir menenangkan kerongkongannya. "Gimana sanggar hari ini, Rin? Ramai?"
Rina menyandarkan pinggulnya ke tepi meja konsultasi. "Lumayan, Mbak. Tadi ada beberapa calon pengantin yang telepon. Katanya tahu sanggar kita dari unggahan makeup terbaru di media sosial."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tapi..." Rina menggantung kalimatnya, ragu-ragu.
Anindiya menghentikan seruputan kopinya dan menoleh. "Kenapa?"
"Beberapa dari mereka juga nanya, apa kita ada koleksi gaun model baru untuk musim ini?"
Pertanyaan itu membuat Anindiya terdiam. Perlahan, pandangannya beralih menatap deretan gaun di balik lemari kaca.
Gaun-gaun itu masih terlihat sangat indah. Putih, bersih, dan dirawat dengan ketelitian tinggi. Namun, Anindiya tidak bisa memungkiri bahwa tren fashion pengantin bergerak jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Ia melangkah mendekati etalase, lalu membuka pintunya sedikit untuk merapikan ujung salah satu gaun sutra yang agak bergeser dari gantungannya. Gaun itu dulu adalah primadona—hampir setiap minggu ada saja pengantin yang memesannya. Namun kini, gaun itu sudah berbulan-bulan hanya berdiri diam di tempatnya.
"Aku rasa..." kata Anindiya pelan, lebih menyerupai gumaman untuk dirinya sendiri, "koleksi kita memang sudah mulai ketinggalan zaman."
Rina mendekat dan ikut memandangi gaun-gaun tersebut. "Selera orang sekarang memang makin cepat berubah, Mbak. Kalau lihat di media sosial, model gaun baru dari desainer luar selalu bermunculan tiap minggu."
Anindiya mengangguk paham. Industri pernikahan adalah industri yang terus berputar. Apa yang dianggap mewah dan elegan tahun lalu, belum tentu masih diminati hari ini.
"Aku pengin cari gaun yang beda, Rin," ujar Anindiya tegas, matanya memancarkan keseriusan seorang profesional. "Sesuatu yang punya karakter. Yang nggak cuma ngikutin tren, tapi punya daya tarik sendiri."
Rina tersenyum tipis, mengerti betul ambisi atasannya. "Ya sudah, besok kita keliling cari vendor atau butik baru."
Anindiya menoleh, sedikit terkejut. "Kamu mau ikut?"
"Ya mau lah. Kalau Mbak keliling sendiri, nanti malah lupa waktu lagi," goda Rina.
Anindiya terkekeh pelan. "Justru aku senang banget kalau ada temannya. Biar ada yang kasih pertimbangan."
"Sip. Berarti besok agenda kita resmi: berburu gaun!" Rina menaikkan gelas kopinya seolah mengajak bersulang.
Anindiya ikut tersenyum dan menyentuhkan gelasnya pelan. "Semoga besok kita pulang bawa kabar baik."
Pagi di Kota A dimulai lebih cepat daripada biasanya. Sinar matahari baru saja menyentuh sudut jendela ruang kerja ketika Anindiya sudah duduk tegak di depan laptopnya. Secangkir kopi hangat di samping laptop mulai kehilangan asap tipisnya, sementara layar di hadapannya dipenuhi puluhan foto gaun pengantin dari berbagai perancang busana.
Satu per satu ia memperbesar gambar yang menarik perhatian. Ada gaun bermodel ball gown yang dipenuhi detail payet berkilau, ada pula potongan A-line yang tampak modern dan minimalis. Semuanya indah, tetapi belum ada satu pun yang berhasil mengetuk instingnya.
Sambil menghela napas, ia menggeser satu demi satu .
"Masih belum ada yang pas?" gumamnya pelan pada ruangan yang hening.
Jarinya terus menari , menghentikan kursor pada sebuah gaun bergaya klasik Eropa. Selama beberapa detik Anindiya mengamatinya dengan saksama, sebelum akhirnya kembali menggelengkan kepala.
"Cantik... tapi rasanya terlalu pasaran. Model seperti ini sudah banyak di tempat lain."
Buku catatan bergaris di samping laptopnya sudah dipenuhi coretan. Hampir semua sketsa dan nama vendor yang ia catat semalam kini ditandai silang. Bukan karena gaun-gaun itu jelek, melainkan karena Anindiya menginginkan sesuatu yang berbeda—sebuah gaun unik yang mampu membuat calon pengantin jatuh hati pada pandangan pertama.
Ponsel di samping laptop bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari calon pengantin yang menanyakan ketersediaan jadwal konsultasi untuk bulan depan. Anindiya membalasnya dengan ramah dan cepat, seperti biasa. Tak butuh waktu lama, balasan berisi ucapan terima kasih lengkap dengan stiker senyum kembali diterima.
Senyum tipis mengukir bibir Anindiya.
Bagi Anindiya, setiap pengantin yang datang bukan sekadar klien, melainkan seseorang yang mempercayakan momen paling berharga dalam hidup mereka kepadanya. Karena itulah, ia selalu menuntut kesempurnaan pada setiap detail pekerjaannya.
Suara raungan halus mesin sepeda motor yang berhenti di halaman sanggar membuyarkan konsentrasinya.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terdorong. Rina muncul sambil menyunggingkan senyum lebar, memegang dua bungkus nasi uduk hangat di tangannya.
"Aku sudah tebak Mbak Anin pasti belum sarapan," cerocos Rina langsung meletakkan bungkusan itu di meja konsultasi.
Anindiya menutup laptopnya sembari tertawa kecil. "Padahal baru mau turun ke dapur, Rin."
"Untung aku datang tepat waktu. Kalau tidak, bisa-bisa Mbak cuma kenyang minum kopi dari tadi," balas Rina jenaka.
Merekapun duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela. Di sela sela sarapan, suasana pagi terasa begitu ringan. Mereka tertawa pelan saat Rina menceritakan kembali kejadian kemarin sore—tentang seorang calon pengantin pria yang saking gugupnya sampai tiga kali salah menyebutkan nama calon istrinya saat gladi bersih akad.
Bagi Anindiya, momen-momen sederhana seperti inilah yang menjadi jeda penenang sebelum mereka kembali tenggelam dalam riuk-pikuk pekerjaan.
Selesai sarapan, Anindiya membuka kembali buku catatan usahanya. Ia meneliti beberapa halaman daftar pengeluaran dan rencana penambahan inventaris sanggar. Pandangannya berhenti pada satu kalimat yang ia beri garis bawah tebal semalam: Koleksi Gaun Utama Baru.
Ia menarik napas panjang, merapikan letak kacamata bacanya, lalu menutup buku tersebut. "Yuk, siap-siap. Hari ini kita berburu," ujarnya.
Rina mengangguk antusias. "Siap, Mbak. Siapa tahu keberuntungan lagi di pihak kita hari ini."
Sebelum berangkat, mereka turun sebentar ke lantai bawah tempat ruang koleksi berada. Cahaya matahari pagi menembus kaca depan sanggar, memantulkan pendar lembut di atas deretan gaun yang tersusun rapi di dalam etalase.
Anindiya berjalan perlahan melintasi barisan manekin tersebut. Jemarinya dengan lembut merapikan lipatan kain salah satu gaun sutra. Gaun-gaun ini telah menjadi saksi dari begitu banyak air mata bahagia dan senyuman pengantinnya. Namun, zaman terus bergulir, selera pasar berubah, dan Anindiya sadar bahwa agar sanggarnya tetap bertahan, ia harus berani menghadirkan sesuatu yang baru.
Ia mematikan lampu ruang koleksi, memutus aliran listrik, lalu meraih kunci mobil dan tasnya dari meja resepsionis.
Beberapa menit kemudian, sedan putih Anindiya sudah melaju membelah jalanan Kota A. Keriuhan pagi mulai terasa; toko-toko mulai membuka tirai besinya, anak-anak sekolah menyeberang jalan, dan deretan kendaraan merayap pelan di persimpangan.
Semakin jauh mereka berkendara meninggalkan pusat kota, pemandangan di balik jendela perlahan berubah. Gedung-gedung bertingkat dan papan reklame modern berganti dengan deretan ruko tua berarsitektur era kolonial. Cat dindingnya yang mengelupas dan papan nama kayu yang lapuk dimakan usia justru memberi kesan magis dan nostalgia tersendiri.
Menurut alamat yang didapat Anindiya dari salah satu senior MUA yang ia hubungi semalam, butik yang mereka tuju berada di sudut kawasan kota lama ini—sebuah butik rumahan yang jarang tersentuh media sosial tetapi konon menyimpan koleksi gaun-gaun berkelas.
Mobil memelankan laju saat memasuki jalanan yang lebih sempit dan teduh oleh pepohonan tua.
"Itu tempatnya bukan, Mbak?" tunjuk Rina ke arah sisi kanan jalan.
Sebuah bangunan tua berdiri megah di antara deretan toko lainnya. Halamannya bersih terawat dengan jendela kaca yang lebar. Di balik kaca depan, beberapa gaun pengantin dipajang anggun pada manekin kayu.
Anindiya memarkir mobilnya tepat di depan ruko tersebut.
Sebelum turun, ia sempat memperhatikan butik itu dari balik kemudi. Tidak ada yang aneh. Tempat itu terlihat tenang, bersih, dan memancarkan aura nostalgia yang menenangkan.
Namun, saat Anindiya melangkah keluar dari mobil dan pandangannya menyapu bagian dalam butik lewat jendela kaca, matanya tertahan pada sebuah manekin di sudut paling belakang ruangan.
Letaknya cukup jauh dari etalase depan, tersembunyi di balik pilar kayu tebal. Gaun yang dikenakan manekin itu tidak terlihat utuh karena tertutup remang bayangan ruangan.
Meski begitu, ada sesuatu yang mendadak menahan napas Anindiya.
Bukan karena gaun itu terlihat paling mewah, bukan pula karena kilaunya. Ada perasaan asing yang mendadak menjalar di dadanya—sebuah tarikan aneh yang sulit dijelaskan kata-kata, seolah gaun di sudut gelap itu secara diam-diam sedang memanggilnya untuk mendekat.
"Mbak Anin? Jadi masuk sekarang?" tegur Rina, membuyarkan lamunan Anindiya.
Anindiya berkedip pelan, menetralkan desiran aneh di dadanya, lalu mengangguk. "Iya, ayo."
Ia mendorong gagang pintu kaca butik tersebut.
Kling!
Bunyi bel kecil di atas pintu berbunyi pelan, memecah keheningan butik yang sejak tadi terasa begitu sunyi.
Bunyi bel kecil di atas pintu memecah keheningan begitu Anindiya dan Rina melangkah masuk. Aroma melati samar bersanding dengan wewangian kayu manis langsung menyambut mereka, menciptakan suasana butik yang tenang dan sedikit hangat.
"Selamat pagi," sapa seorang perempuan paruh baya dari balik meja kasir.
Perempuan itu nampak berusia lima puluh tahunan. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disanggul rapi. Kebaya sederhananya yang berwarna cokelat muda membingkai fisiknya dengan anggun dan bersahaja.
"Selamat pagi, Bu," balas Anindiya sembari melempar senyum ramah.
"Silakan, Mbak. Dilihat-lihat dulu," ujar pemilik butik itu lembut sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada buku catatan di meja.
Sebagai seorang makeup artist yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di industri pernikahan, Anindiya memiliki insting alami tiap kali memasuki tempat seperti ini. Butik ini memang tidak seluas butik langganannya di pusat kota, tetapi kerapian tiap sudutnya membuktikan betapa terawatnya tempat ini. Barisan gaun pengantin tertata rapi berdasarkan jenis bahan, mulai dari gaun bermodel modern minimalis hingga potongan klasik yang kaya akan detail renda.
Jari-jemari Anindiya menyusuri deretan kain sutra dan organza yang tergantung. "Bahannya bagus-bagus, Rin," bisiknya pelan, sambil memegang tepi salah satu gaun.
Rina yang berjalan melangkah di sampingnya ikut meneliti. "Iya, potongannya rapi banget. Cocok buat konsep pernikahan yang elegan."
Anindiya mengangguk setuju. Mereka terus menyusuri ruangan, berdiskusi kecil soal padu padan tata rias yang pas untuk beberapa model gaun di sana. Namun, pergerakan Anindiya mendadak terhenti di sudut paling belakang.
Di sana, sebuah etalase kaca berdiri sendiri. Terpisah cukup jauh dari rak-rak gaun lainnya, seolah sengaja diposisikan agar tidak bersentuhan dengan gaun apa pun di dalam ruangan.
Di balik kaca tebal itu, sebuah manekin mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading.
Anindiya terpaku. Ada puluhan, bahkan ratusan gaun indah yang pernah ia lihat selama menjadi MUA. Ada yang berharga ratusan juta, buatan desainer ternama, hingga yang bertabur kristal megah. Tetapi gaun satu ini memancarkan aura yang benar-benar berbeda.
Gaun itu tidak mencolok. Potongannya cenderung sederhana, namun kesederhanaan itulah yang justru membuatnya nampak menawan. Payet-payet kecil di bagian dada memantulkan cahaya lampu butik dengan pendar lembut yang tenang. Renda halus menjulur rapi melingkupi lengan dan pinggang, sementara ekor gaunnya jatuh menjuntai anggun ke lantai.
Secara refleks, langkah Anindiya mendekati etalase tersebut.
"Mbak Anin?" tegur Rina, menyadari langkah temannya yang tertinggal. "Kenapa?"
Anindiya tidak langsung menjawab. Matanya terpaku menyusuri tiap lekuk jahitan gaun tersebut.
"Indah banget, Rin," gumam Anindiya pelan, hampir menyerupai bisikan.
Rina menyusul berdiri di sampingnya. Begitu menatap gaun di balik kaca itu, Rina pun sempat terdiam beberapa saat. "Iya sih... beda banget sama gaun-gaun di depan tadi."
"Aku belum pernah lihat detail potongan yang sehalus ini," ujar Anindiya sembari menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin. Di dalam benaknya, bayangan gaun ini berada di studio miliknya langsung berputar. Gaun ini akan menjadi mahakarya di sanggarnya—gaun unik yang mampu membuat pengantin mana pun merasa begitu istimewa.
Bagi Anindiya, riasan wajah yang sempurna tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa gaun yang tepat. Dan gaun di hadapannya ini seperti memiliki 'jiwa' yang belum pernah ia temukan pada gaun-gaun lainnya.
"Gaun yang itu memang sering membuat orang berhenti melangkah."
Suara lembut namun berat dari arah belakang mengejutkan mereka. Pemilik butik telah berdiri tak jauh di samping etalase.
Anindiya menoleh, matanya berbinar. "Bu, apa gaun ini dijual?"
Raut wajah perempuan berke baya cokelat itu mendadak berubah. Hanya sebuah kejap singkat—garis bibirnya menegak dan matanya sedikit membesar—sebelum ia dengan cepat menguasai ekspresinya kembali. Namun, keraguan itu tak luput dari pengamatan Anindiya.
Tatapan pemilik butik pada gaun itu bukanlah tatapan seorang penjual yang sedang menimbang harga, melainkan tatapan seseorang yang memandang ingatan lama yang menyakitkan.
"Maaf, Nak," jawab perempuan itu pelan. "Gaun yang itu tidak dijual."
Dahi Anindiya berkerut halus. "Tidak dijual?"
Perempuan paruh baya itu menggeleng tegas. "Itu hanya pajangan butik ini."
Anindiya kembali berpaling menatap gaun di dalam kaca, mengamati kecantikannya yang seolah terus memanggilnya. "Kalau begitu, saya ingin membelinya untuk koleksi pribadi sanggar saya, Bu. Saya MUA, dan saya yakin bisa merawatnya dengan sangat baik."
"Tidak bisa, Nak," potong pemilik butik dengan nada yang semakin dingin.
Jawaban spontan itu justru menyalakan rasa penasaran Anindiya. "Kenapa, Bu? Apakah gaun ini milik orang lain? Atau pesanan khusus?"
Pemilik butik terdiam cukup lama. Tatapannya tertuju lurus pada manekin di dalam kaca. "Bukan karena masalah siapa pemiliknya."
"Lalu karena apa?" desak Anindiya lembut.
Namun, tidak ada jawaban yang keluar. Pemilik butik itu hanya tertegun mengamati gaun tersebut, membiarkan keheningan menguasai ruangan di antara mereka.
Rina yang berdiri di samping Anindiya mulai merasa ada atmosfer yang ganjil. Perubahan aura di ruangan itu membuatnya tidak nyaman. Ia menyenggol pelan lengan Anindiya. "Mbak... mungkin kita lihat gaun lain aja di depan. Banyak kok yang bagus."
Dalam kondisi biasa, Anindiya pasti akan mengalah dan mendengarkan saran Rina. Namun entah mengapa, sore itu ada dorongan kuat di dalam dadanya yang menolak untuk berbalik arah. Ia merasa tidak bisa meninggalkan butik ini tanpa membawa gaun itu bersamanya.
"Saya benar-benar serius menginginkan gaun ini, Bu," paksanya, melangkah satu cangkul lebih dekat ke arah pemilik butik.
Perempuan paruh baya itu menarik napas panjang. Matanya menatap Anindiya dengan sorot yang sulit diartikan. "Nak... kadang sesuatu yang terlihat begitu indah tidak selalu membawa kebahagiaan bagi pemiliknya."
Kalimat itu terucap begitu dalam hingga sempat membuat Anindiya bungkam. Namun, ambisi profesional dan rasa penasaran di kepalanya menepiskan firasat itu.
"Kalau masalah harga, Ibu tidak perlu khawatir. Saya sanggup membayar lebih dari harga pasaran gaun ini," tegas Anindiya. "Berapa pun yang Ibu minta."
Keheningan melingkupi butik itu. Suara gemericik air terjun buatan di luar toko menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Pemilik butik menatap Anindiya cukup lama, seolah sedang menilai seberapa keras kepala wanita muda di hadapannya ini.
Tatapan itu lalu beralih kembali pada gaun di dalam etalase. Ada guratan kesedihan mendalam dan keletihan yang amat sangat di wajah perempuan tua itu, seakan ia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan berat yang sudah lama ia hindari.
Perlahan, langkah kaki berbalut sandal kain itu berjalan menuju etalase. Jemarinya yang mulai berkerut merogoh saku kebaya, mengeluarkan sekeping kunci perak.
Namun tepat ketika kuncinya hampir menyentuh lubang slot etalase, tangannya terhenti.
"Nak..." panggilnya dengan suara parau tanpa menoleh.
Anindiya menahan napas. "Iya, Bu?"
"Kalau suatu hari nanti kamu menyesal..." Perempuan itu menggantung kalimatnya.
Anindiya mengernyit. "Maksud Ibu?"
Perempuan paruh baya itu tidak lagi menjawab. Ia memutar kunci tersebut. Suara klak pendek dari engsel pintu kaca terdengar menyayat di tengah keheningan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendorong pintu etalase hingga terbuka lebar.
Di tempatnya berdiri, Anindiya tersenyum lega. Kepuasan langsung memenuhi dadanya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak detik pertama matanya terkunci pada gaun putih gading itu... sebuah rahasia lama yang terbungkus rapi puluhan tahun baru saja dibangunkan kembali.
Dan tanpa disadarinya, Anindiya baru saja melangkah masuk ke dalam takdir yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!