Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa.
Di tengah kubangan lumpur hitam yang setengah membeku itu, seorang bocah berusia sembilan tahun tersungkur. Namanya Kala.
Tubuhnya kurus kering, hanya dibalut selembar kain rami usang yang telah robek di berbagai sisi. Namun, bukan penampilannya yang membuat orang-orang menjauhinya dengan pandangan jijik, melainkan wajahnya. Kala tidak memiliki bola mata hitam seperti manusia normal. Kedua kelopak matanya jika terbuka hanya menampilkan selaput putih pucat tanpa pupil, kosong dan mati. Di dunia yang mengagungkan kesempurnaan fisik dan kesucian aliran energi (Qi), sepasang mata putih milik Kala dianggap sebagai tanda kutukan abadi, seonggok sampah yang mengotori tanah suci perguruan.
"Bangun, anak pembawa sial! Berani-beraninya kau menumpahkan air pembasuh kaki milik Tuan Muda?!"
Sebuah bentakan menggelegar memecah keheningan pagi yang membeku. Seorang murid luar Perguruan Pedang Langit berdiri di depan Kala dengan jubah biru yang bersih, sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Di tangan kanannya, sebuah cambuk kulit berduri berdesing di udara, memancarkan fluktuasi energi angin tingkat rendah—bukti bahwa dia berada di r****anah nadi fana tingkat awal
TASS!
Cambuk itu menghantam punggung kurus Kala dengan telak. Kulitnya yang tipis langsung robek, menyemburkan darah segar yang dalam beberapa detik membeku menjadi kristal merah di atas salju hitam. Kala mengerang pendek, giginya menggertak menahan rasa sakit yang membakar batinnya. Dia tidak berteriak. Jeritan hanya akan membuat para penyiksa itu semakin bersemangat.
"Jika bukan karena kebaikan hati Tetua Luar yang membiarkanmu tinggal, kau dan wanita tua bangka itu sudah lama menjadi pupuk di kebun herbal!" Murid itu meludah, bersiap mengayunkan cambuknya untuk kedua kali.
Di dalam benak Kala yang limbung, dia tidak benar-benar mendengar makian tersebut. Di balik rasa sakit yang mendera fisiknya, ada sesuatu yang jauh lebih ganjil sedang terjadi di dalam kepalanya. Sejak dia bisa mengingat, ada sebuah suara ketukan konstan yang selalu bergema di pusat jiwanya.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Suara itu berdetak secara ritmis, menyerupai detak jam mekanis kuno. Dan anehnya, setiap kali detak itu bergema, persepsi Kala terhadap dunia luar melambat. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana ujung cambuk kulit itu bergerak membelah udara, bagaimana partikel salju hitam berputar perlahan ditiup angin, dan bagaimana urat-urat wajah murid perguruan itu menegang karena amarah. Semuanya bergerak seperti siput di matanya, meski fisiknya yang lemah tetap tidak bisa menghindar karena keterbatasan Ranah Nadi Fana miliknya yang bahkan belum terbuka.
"Kala!"
Tiba-tiba, sebuah jeritan parau terdengar dari kejauhan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pencuci kain yang basah kuyup berlari terengah-engah, menerobos kerumunan budak yang menonton dengan dingin. Itu adalah Maryam, ibu angkat Kala. Wanita fana tanpa kekuatan kultivasi sama sekali, namun memiliki keberanian yang melampaui siapa pun di tempat itu.
Maryam langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh Kala, memeluk bocah itu erat-erat untuk melindungi punggungnya dari cambukan berikutnya. "Mohon ampun, Tuan Muda! Anak hamba buta, dia tidak sengaja menyenggol ember tersebut! Tolong cambuk hamba saja, jangan anak hamba!" ratap Maryam dengan air mata yang membasahi wajahnya yang dipenuhi kerutan penderitaan.
Murid luar itu menurunkan cambuknya sejenak, tersenyum sinis. "Menjijikkan. Sampah merawat sampah. Minggir, wanita tua! Atau aku akan memastikan kalian berdua tidak akan melihat matahari esok hari!"
Kala bisa merasakan kehangatan tubuh Maryam yang gemetar di atasnya. Di dalam hati kecilnya yang terdalam, sebuah pusaran emosi yang pekat mulai bergejolak. Rasa benci, amarah, dan rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu, membuat detak jantungnya tiba-tiba berakselerasi dengan gila. Deg... Deg... Deg... Deg!
Dan bersamaan dengan puncak kemarahannya, suara di kepalanya bergema dengan dentang yang sangat keras.
DENG!
Seketika, seluruh dunia kehilangan suaranya.
Cambuk yang hendak diayunkan kembali oleh murid perguruan itu mendadak membeku kaku di udara, tepat satu jengkal di atas kepala Maryam. Serpihan salju hitam yang beterbangan tertahan di atmosfer, melayang seperti ribuan jarum kristal yang terperangkap dalam ruang hampa. Murid luar itu berdiri mematung dengan mulut terbuka setengah, matanya melotot kaku tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan napas Maryam yang memeluknya terasa berhenti, dadanya tidak bergerak naik turun.
Waktu telah berhenti.
Kala membuka matanya yang putih pucat. Di dalam keheningan total ini, tidak ada rasa sakit, tidak ada makian, dan tidak ada ancaman. Hanya ada dia dan dunia yang telah lumpuh. Kala mencoba menggerakkan tangannya, menarik ujung baju Maryam. Namun, sesaat kemudian, rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Jantungnya terasa seperti diperas oleh tangan tak kasat mata, dan seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
Kekuatan ini... menguras esensi kehidupannya. Menjadi waktu dunia fana saat dirinya masih berada di titik terendah adalah hal yang tabu.
Tik.
Dunia kembali berputar. Angin menderu, salju berjatuhan, dan murid luar itu menyelesaikan ayunan cambuknya. Namun, karena Kala sempat menggeser tubuh Maryam beberapa senti saat waktu berhenti, cambuk itu hanya menghantam tanah lumpur, menimbulkan suara deburan yang keras.
Murid itu mengernyit bingung, merasa ada yang aneh dengan ingatannya yang seolah melompat selama beberapa detik, tetapi dia mengabaikannya. "Beruntung kalian. Cepat bersihkan lumpur ini sebelum matahari tenggelam, atau aku sendiri yang akan memotong jatah makanan kalian selama seminggu!" Ancaman itu menjadi penutup sebelum sang murid berbalik dan berjalan pergi dengan angkuh.
Maryam segera bangkit, memeriksa tubuh Kala dengan tangan yang gemetar. "Kala, kamu tidak apa-apa? Maafkan Ibu... Ibu tidak bisa melindungi mu dengan baik," bisik wanita itu, memeluk kepala Kala ke dadanya yang hangat.
Kala menggeleng perlahan, menyeka darah di bibirnya agar tidak terlihat oleh ibunya. "Kala tidak apa-apa, Ibu. Jam di kepala Kala... tadi berdetak lagi."
Maryam tertegun. Dia tahu tentang rahasia itu. Sejak menemukan Kala bayi di dalam gerobak sampah dengan mata putih bersih, Maryam tahu anak ini memikul takdir yang sangat berat. Dia selalu berpesan agar Kala tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun di Perguruan Pedang Langit, karena jika para kultivator serakah itu tahu, mereka akan membedah tubuh Kala untuk mencari tahu rahasia sihirnya.
Saat Maryam menuntun Kala kembali ke barak mereka yang beralaskan jerami kering, dari balik celah kabut salju hitam di kejauhan, seorang gadis kecil berusia delapan tahun memperhatikan mereka dengan mata penuh kekhawatiran. Gadis itu adalah Ayla, anak seorang tabib fana di pinggiran sekte. Ayla memegang sebuah botol kecil berisi salep tanaman penyembuh luka, bersiap untuk menyelinap ke barak Kala malam nanti, seperti yang biasa dia lakukan.
Mereka bertiga hanyalah semut di kaki raksasa Perguruan Pedang Langit. Mereka belum menyadari, bahwa rantai takdir telah mulai bergerak. Jauh di atas awan bersalju hitam itu, di balik dimensi langit yang tidak terjangkau oleh mata fana, pasang-pasang mata entitas agung yang bersemayam di Istana Langit sedang mengamati pergerakan energi waktu yang baru saja bergetar di bumi. Para Dewa telah mencium aroma anomali, dan badai yang sesungguhnya akan segera meratakan dunia kecil Kala.
Malam di wilayah luar Perguruan Pedang Langit selalu datang bersama dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin melolong melewati celah-celah dinding barak budak yang terbuat dari kayu lapuk dan jerami kering. Di dalam ruangan sempit berukuran beberapa langkah itu, sebuah lampu minyak kecil berkedip-kedip, berjuang melawan kegelapan yang pekat.
Kala berbaring di atas tumpukan jerami dengan tubuh yang demam. Punggungnya yang robek akibat cambukan pagi tadi terasa panas dan berdenyut kencang. Setiap kali dia menarik napas, rasa sakit itu seperti mencengkeram paru-parunya. Namun, di dalam kepalanya, suara itu masih ada. Tik... Tok... Tik... Tok... Detak misterius itu kini terdengar lebih lambat, seolah ikut merasakan kelelahan fisiknya.
"Tahan sedikit ya, Kala. Ini agak perih," sebuah suara bisikan lembut memecah keheningan.
Ayla, gadis kecil berusia delapan tahun itu, duduk bersimpuh di samping Kala. Tangan kecilnya yang gemetar memegang sebilah bambu tipis, mengoleskan salep hijau pekat yang berbau menyengat ke punggung Kala. Salep itu adalah racikan sisa yang dicuri Ayla dari paviliun medis ayahnya.
Saat tanaman obat itu menyentuh lukanya, Kala mendesis menahan perih. Urat-urat di dahinya menegang. Maryam, yang duduk di sisi lain, segera menggenggam tangan Kala, menyalurkan kehangatan seorang ibu melalui telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
"Terima kasih, Ayla. Jika tidak ada kamu, luka anak ini pasti sudah membusuk karena dingin," bisik Maryam dengan mata yang berkaca-kaca.
Ayla tersenyum kecil, menyeka keringat di dahi Kala dengan ujung lengan bajunya yang kusam. "Kala adalah satu-satunya temanku, Bibi. Aku tidak takut pada matanya. Di mataku, Kala hanya sedang menyembunyikan sesuatu yang indah."
Mendengar kata-kata itu, Kala membuka pelupuk matanya. Selaput putih pucat tanpa pupil itu menatap Ayla. Di dunia yang mengutuknya sebagai monster, ketulusan Ayla adalah cahaya kecil yang membuat Kala tetap ingin bertahan hidup sebagai manusia. "Ayla... suatu hari nanti, aku akan melindungimu," bisik Kala dengan suara parau.
Namun, takdir tidak pernah memberikan waktu bagi si lemah untuk bermimpi.
BOOM!
Pintu barak kayu itu mendadak hancur berkeping-keping. Semburan energi angin yang sangat tajam merobek dinding jerami, menerbangkan debu dan menghancurkan lampu minyak hingga padam seketika. Kegelapan malam langsung menelan ruangan, digantikan oleh cahaya obor kemerahan yang dibawa oleh belasan orang dari luar.
"Di sini rupanya tikus-tikus fana ini bersembunyi," sebuah suara arogan bergema di ambang pintu.
Seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun melangkah masuk dengan angkuh. Dia mengenakan jubah sutra biru muda dengan sulaman benang emas berbentuk awan di dadanya—pakaian khusus untuk murid inti Perguruan Pedang Langit. Dia adalah Tuan Muda Liu, putra dari salah satu Tetua Agung sekte tersebut. Liu berada di Ranah Nadi Fana Tingkat Puncak, selangkah lagi menuju Ranah Pengendali Jiwa. Di belakangnya, berdiri murid luar yang mencambuk Kala pagi tadi, memegang obor dengan senyum licik.
Maryam dengan panik langsung berdiri di depan Kala dan Ayla, menyembunyikan kedua anak itu di balik punggungnya. "Tuan Muda Liu! Ada kesalahan apa yang kami perbuat hingga Anda mendatangi barak kotor ini?" suara Maryam bergetar hebat karena ketakutan.
Liu tidak menjawab Maryam. Matanya yang dingin berfokus penuh pada Kala yang merangkak bangun. "Pagi tadi, alat pendeteksi energi spiritual di aula utama bergetar hebat. Ada fluktuasi hukum kuno yang terdeteksi di area budak luar. Dan muridku ini bilang, bocah cacat ini sempat membuat waktu terasa melompat sebelum cambukannya meleset."
Liu melangkah maju, melepaskan tekanan energi (Qi) miliknya. Tekanan itu terasa seperti batu besar yang tidak kasat mata, menekan dada Maryam hingga wanita tua itu batuk darah dan berlutut di tanah.
"Serahkan pusaka atau teknik sihir rahasia yang kau sembunyikan, bocah sialan! Sampah seperti kalian tidak berhak menyimpan sesuatu yang bisa menggerakkan hukum alam!" bentak Liu, matanya berkilat serakah.
"Kami tidak punya apa-apa, Tuan! Kala lahir cacat, dia tidak tahu apa-apa tentang sihir!" ratap Maryam, mencoba merangkak untuk memeluk kaki Liu, memohon belas kasihan.
"Minggir, wanita tua bangka!" Liu mengayunkan kakinya, menendang dada Maryam dengan kekuatan penuh yang dilapisi energi angin.
KRAKK!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar jelas di dalam kegemaran malam. Tubuh kurus Maryam terpental menghantam tiang barak, lalu terkapar tak bergerak. Darah segar mengalir deras dari mulutnya, membasahi jerami kering di bawahnya. Matanya yang perlahan meredup masih menatap Kala dengan penuh kekhawatiran.
"IBU!!!"
Jeritan Kala memecah malam. Jiwanya terguncang hebat melihat wanita yang merawatnya sejak bayi kini sekarat di tanah. Kemarahan yang tak terkendali meledak di dalam dadanya. Jantungnya berdegup dalam frekuensi yang sangat mengerikan. Deg... Deg... Deg... DEB!
DENG!
Dunia kembali membeku. Kobaran api di obor para murid membatu di udara, tidak lagi bergerak atau memancarkan panas. Serpihan kayu pintu yang hancur melayang diam di atmosfer. Tuan Muda Liu mematung dengan kaki yang masih setengah terangkat setelah menendang Maryam.
Kala merangkak dengan air mata darah yang mulai mengalir dari selaput putih matanya. Dia mencoba menggerakkan tubuh ibunya, mencoba mencari detak jantung Maryam, namun di dalam dunia yang membeku ini, segalanya diam. Dada Kala kembali terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit karena memaksakan kehendak waktu pada ranah fana membuatnya memuntahkan darah hitam. Usia hidupnya berkurang drastis dalam hitungan detik. Dia terlalu lemah. Dia tidak bisa merubah luka ibunya.
Dengan sisa tenaganya, Kala terpaksa melepaskan kendali waktunya.
Tik.
Waktu kembali berjalan. "Bawa bocah itu dan seret gadis kecil itu ke paviliun medis untuk diinterogasi!" perintah Liu dengan dingin, sama sekali tidak sadar bahwa waktu baru saja dijeda.
Ayla, yang melihat Maryam tidak bergerak, menangis histeris. Dia mengambil sebilah bambu runcing di tanah dan nekat berlari menuju Tuan Muda Liu. "Penjahat! Kau membunuh Bibi Maryam!"
"Ayla, jangan!" teriak Kala parau.
Namun, perbedaan ranah mereka terlalu jauh. Liu bahkan tidak perlu menoleh. Dengan lambaian tangan kirinya, sebilah bilah angin yang tajam melesat dari ujung jarinya.
SLASSH!
Bilah angin itu merobek leher kecil Ayla tanpa ampun. Tubuh gadis kecil itu terhenti, matanya membelalak menatap Kala, sebelum akhirnya tumbang ke tanah di samping jasad Maryam. Botol salep kecil yang dipegangnya jatuh, isinya tumpah bercampur dengan genangan darah merah yang mengalir pekat di atas lumpur dan salju hitam.
Dua orang yang dicintainya... tewas dalam sekejap mata di depan wajahnya.
"Ah... tidak sengaja terbunuh. Biarlah, ayahnya hanya seorang tabib fana rendahan," ucap Liu dengan nada yang sangat santai, seolah baru saja menginjak seekor semut. Dia kemudian menatap Kala yang kini bersujud di tanah, tubuhnya gemetar hebat bukan karena takut, melainkan karena dendam yang telah membakar habis sisa kemanusiaannya.
"Tangkap dia!"
Saat para murid luar mendekat, Kala mendongakkan kepalanya. Air mata darah mengalir membasahi pipinya. Kedua matanya yang putih polos tiba-tiba bergetar, memancarkan aura dingin yang membuat para murid luar terhenti karena ketakutan yang instan.
"Aku... akan membunuh kalian semua. Aku akan meratakan perguruan ini... hingga menjadi abu," bisik Kala. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara anak sembilan tahun, melainkan gaung dari dasar neraka.
Liu yang merasa terhina oleh tatapan bocah buta itu menjadi murka. Dia maju, mencengkeram kerah baju Kala, dan menyeretnya keluar dari barak. Di luar, badai salju hitam semakin menggila. Mereka berjalan menuju tebing di belakang sekte—sebuah tempat yang dikenal sebagai Jurang Kematian (The Abyss of Extinction). Jurang tak berdasar yang dipenuhi gas racun purba, tempat membuang mayat-mayat budak dan musuh sekte.
"Karena kau tidak mau bicara tentang rahasiamu, maka matilah di tempat yang cocok untuk sampah seperti dirimu!" Liu mengangkat tubuh kurus Kala dan melemparkannya tanpa ragu ke dalam kegelapan jurang yang menganga lebar.
Tubuh Kala melayang jatuh, menembus kabut hitam yang berbau busuk dan tajam. Angin malam merobek pakaiannya, dan dinginnya atmosfer mulai membekukan kesadarannya. Saat dia tenggelam semakin dalam ke dalam kegelapan abadi jurang tersebut, suara ketukan di kepalanya berbunyi untuk terakhir kalinya sebelum dia kehilangan kesadaran penuh.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Kala jatuh ke dasar terdalam, ke tempat di mana takdir baru telah menunggunya di dalam sarang sang Naga Purba.
Rasa dingin yang menusuk tulang adalah sensasi pertama yang merayap kembali ke dalam kesadaran Kala. Dia tidak tahu sudah berapa lama dirinya terjatuh. Ketika kelopak matanya yang putih pucat terbuka dengan susah payah, pemandangan di sekitarnya tertutup oleh kabut ungu pekat yang berbau belerang dan pembusukan. Udara di tempat ini begitu berat, seolah setiap jengkal atmosfer mengandung racun korosif yang siap melelehkan paru-paru manusia fana.
Kala mencoba menggerakkan jemarinya. Sentuhan pertamanya bukan pada tanah atau lumpur, melainkan pada permukaan yang keras, kering, dan rapuh.
KRAKK.
Itu adalah suara tulang manusia yang patah. Kala meraba sekelilingnya dengan panik. Di mana pun tangannya mendarat, yang ada hanyalah tumpukan kerangka. Ribuan, atau mungkin jutaan jasad budak dan musuh Perguruan Pedang Langit telah dibuang ke tempat ini selama berabad-abad, menciptakan lautan tulang-belulang yang mengerikan di dasar Jurang Kematian.
"Uhukk!" Kala memuntahkan seteguk darah hitam.
Fisiknya hancur. Tulang kakinya patah akibat hantaman jatuh dari ketinggian ribuan meter. Anehnya, dia tidak mati. Sesuatu yang tidak kasat mata—seperti bantalan energi yang sangat tebal—telah memperlambat laju jatuhnya di detik-detik terakhir sebelum menyentuh dasar jurang.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Detak jam di dalam kepalanya tidak lagi terdengar konstan. Suara itu berdentang liar, seolah-olah ditarik oleh magnitudo energi raksasa yang tertanam di dalam kegelapan di depannya.
"Makhluk fana yang menarik... Jiwa kecil yang dipenuhi oleh racun kebencian yang begitu murni..."
Sebuah suara menggelegar dari kedalaman kabut ungu. Suara itu bukan terdengar melalui telinga, melainkan bergaung langsung di dalam ruang batin Kala, getarannya begitu kuat hingga membuat tumpukan tulang di sekelilingnya bergetar dan runtuh. Tekanan yang dihasilkan oleh suara itu seribu kali lebih menindas daripada energi Qi milik Tuan Muda Liu.
Kala memaksakan dirinya untuk duduk, menyeret kakinya yang patah di atas tengkorak-tengkorak kering. Di balik kabut yang perlahan menipis, sepasang lampu raksasa berwarna emas vertikal menyala. Itu bukan lampu. Itu adalah sepasang mata vertikal setinggi rumah, memancarkan aura
kuno yang telah melintasi jutaan tahun sejarah semesta.
Itulah Naga Primal Kronos—sang Ouroboros.
Makhluk mitologi itu memiliki tubuh raksasa yang melingkari dasar jurang seperti barisan pegunungan hitam. Namun, kondisinya sangat mengenaskan. Enam buah pasak raksasa yang terbuat dari energi elemental—Api, Air, Angin, Matahari, Cahaya, dan Kegelapan—menancap dalam di sepanjang tulang belakangnya, mengunci tubuhnya ke dinding jurang. Rantai-rantai energi dewa tersebut terus-menerus membakar dan menyerap esensi kehidupan sang naga, menyisakan sisik-sisik hitam yang retak dan daging yang membusuk perlahan.
"Manusia buta, bagaimana kau bisa mendarat di sarang penjaraku tanpa hancur menjadi debu?" naga itu menundukkan kepalanya yang seukuran bukit kecil, mengembuskan napas yang membawa aroma waktu yang usang ke wajah Kala.
Kala tidak mundur. Kehilangan Maryam dan Ayla telah mencabut rasa takut dari jiwanya. Dengan mata putih polosnya yang menatap langsung ke arah mata emas raksasa itu, Kala menjawab dengan suara yang dingin dan datar. "Aku dibuang oleh orang-orang di atas sana. Mereka membunuh ibuku. Mereka membunuh sahabatku. Jika kau ingin memakan seonggok sampah ini, lakukanlah. Tetapi jika aku hidup, aku bersumpah akan merangkak kembali ke atas dan mencabik-cabik mereka."
Naga Kronos tertegun sejenak. Keheningan total melanda dasar jurang sebelum akhirnya makhluk purba itu meledak dalam tawa yang pahit sekaligus menggelegar.
"Hahaha! Balas dendam? Kepada para kultivator semut di atas sana? Bocah kecil, musuhmu bukan hanya mereka! Tahukah kau siapa yang mengunciku di sini? Siapa yang merancang penderitaan di dunia ini agar manusia terus meratap? Mereka adalah para Dewa Atas! Enam bajingan serakah yang mencuri takhta kosmis dariku!"
Naga itu menatap Kala dengan intensitas yang semakin tajam. Kilatan rasi bintang kuno tampak berputar di dalam pupil emasnya. "Selama sepuluh ribu tahun, aku menunggu wadah yang tepat. Seseorang yang lahir dengan Segel Kosmos di matanya... Seseorang yang memiliki garis keturunan yang bisa menghentikan detik waktu, namun dikutuk oleh takdir. Itu adalah dirimu, Kala!"
"Apa maksudmu?" Kala mengernyit, memegang dadanya yang terus berdenyut.
"Mata putihmu itu... bukanlah cacat. Itu adalah penutup dari kekuatan yang ditakuti oleh langit. Namun, fisik fanamu terlalu lemah untuk membukanya. Hari ini, ajalku telah tiba. Rantai dewa ini akan menghancurkan jiwaku dalam hitungan hari. Aku menolak membiarkan esensiku habis dihisap oleh mereka! Jadilah pewarisku, Kala! Ambil jantungku, hancurkan takdir para dewa, dan gulung kembali semesta yang korup ini!"
Naga purba itu tiba-tiba melolong panjang. Lolongan yang dipenuhi rasa sakit ekstrem itu memicu getaran hebat. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, naga itu memaksakan tubuhnya bergerak melawan enam pasak dewa yang menancap di punggungnya. Darah naga berwarna perak berkilau menyembur keluar, membakar lautan tulang di bawahnya menjadi abu dalam sekejap.
Dari balik dadanya yang robek, sebuah bola cahaya hitam pekat seukuran kepalan tangan melayang keluar. Bola itu berputar dengan kecepatan gila, namun di dalamnya terdapat jutaan partikel bintang dan galaksi mini yang bersinar redup. Itu adalah Inti Jiwa dan Jantung Kronos—pusat dari segala manipulasi waktu dan ruang.
Terima kutukan dan mahkota ini, Dewa Waktu yang baru!"
Bola cahaya kosmik itu melesat cepat, bukan menuju ke dada Kala, melainkan menghantam langsung ke arah kedua matanya yang putih polos.
"AAARRRGGGHHH!!!"
Jeritan Kala memecah kegelapan Jurang Kematian. Rasa sakit yang menghantamnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya seolah-olah kedua bola matanya dicungkil keluar, lalu digantikan oleh jutaan meteor cair yang membakar isi kepalanya secara instan. Darah segar berwarna merah pekat bercampur perak mengalir deras dari kelopak matanya, membasahi wajah dan lumpur di bawahnya.
Di dalam kesadarannya yang terbakar, Kala melihat penglihatan tentang penciptaan semesta, kehancuran planet-planet, dan bagaimana waktu mengalir seperti sungai yang bisa dibelokkan. Jiwa fana Kala dipaksa melebur dan berevolusi, ditarik secara paksa dari Ranah Nadi Fana langsung melompati batas kemanusiaan menuju Ranah Penempa Jiwa Tingkat Awal. Tulang kakinya yang patah menyatu kembali dengan cepat, diperkuat oleh sumsum naga yang mengalir di pembuluh darahnya.
Setelah beberapa jam yang terasa seperti keabadian, badai energi di dasar jurang akhirnya mereda.
Tubuh raksasa Naga Primal Kronos kini telah kehilangan seluruh kilauannya. Kulit dan dagingnya berubah menjadi abu putih yang beterbangan ditiup angin purba, menyisakan struktur tulang belakangnya yang panjang dan berkilau seperti untaian pedang baja hitam yang belum ditempa. Sang Naga telah punah, namun warisannya telah berpindah.
Kala perlahan bangkit berdiri. Dia tidak lagi merasa kedinginan atau sesak akibat gas racun jurang. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kedua kelopak matanya yang sempat tertutup rapat.
Dunia di dasar jurang tidak lagi terlihat sama dalam pandangannya.
Kedua matanya telah berubah total. Tidak ada lagi selaput putih pucat yang mati. Sekarang, kornea matanya berwarna hitam pekat tanpa dasar—sebuah Black Hole (Lubang Hitam) yang sanggup menelan cahaya apa pun. Namun, di dalam lingkaran hitam legam tersebut, terdapat jutaan bintang, rasi, dan pusaran galaksi mini yang berputar lambat dengan keanggunan kosmis.
Setiap kali Kala memfokuskan pandangannya pada sebutir debu atau tulang yang melayang jatuh di depannya, benda tersebut langsung menua menjadi abu atau kembali menjadi utuh dalam hitungan detik, murni karena pancaran gravitasi waktu dari sepasang matanya yang baru: Netra Kosmos Black Hole.
Kala mengepalkan tangannya yang kini dipenuhi oleh urat-urat energi perak. Dia menatap tumpukan tulang naga yang berkilau di depannya, lalu mengalihkan pandangannya ke atas—menembus kabut ungu, menembus salju hitam, langsung mengarah ke puncak di mana Perguruan Pedang Langit berdiri dengan angkuh.
"Tunggu aku," bisik Kala dengan nada sedingin es. "Waktu penderitaan kalian... baru saja dimulai."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!