Seorang gadis baru saja pulang dari kampusnya setelah menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-temannya.
Hujan yang sejak siang mengguyur kota akhirnya reda, menyisakan udara sejuk dan jalanan yang masih basah.
Dengan mengendarai motor matic kesayangannya, Azel melaju menuju sebuah daycare yang letaknya tak jauh dari kampus. Daycare itu milik umanya. Hampir setiap selesai kuliah, ia selalu menyempatkan diri mampir untuk membantu mengurus anak-anak atau sekadar bermain bersama mereka.
Di salah satu ruas jalan, terdapat banyak lubang yang dipenuhi air hujan hingga membentuk genangan cukup besar. Azel berhasil melewatinya dengan hati-hati.
Namun nahas... Sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah belakang menerobos genangan tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan.
BYUR!
Air bercampur lumpur menyembur ke arah Azel. Seragam kampus, gamis, kerudung, bahkan wajahnya langsung basah dan dipenuhi bercak lumpur.
"Astaghfirullah! Yang nyetir nggak punya mata apa, sih? Nyebelin banget! Kalau nggak bisa bawa mobil, jangan sok-sokan!" teriaknya kesal.
"Lo pasti dapat SIM karena nembak, ya!"
Mobil itu terus melaju seolah tak terjadi apa-apa. Azel yang sudah dikuasai emosi langsung memutar balik motornya dan mengejar mobil tersebut.
"Enak aja kabur!"
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya berhasil menyalip dan menghadang mobil itu hingga pengemudinya terpaksa mengerem mendadak.
Tin... tin...
Klakson mobil berbunyi beberapa kali, meminta Azel menyingkir. Bukannya bergeser, Azel justru mengetuk pelan kap mobil.
"Turun! Ayo turun!"
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan wajah datar dan tatapan dingin.
"Apa-apaan ini?"
Begitu melihat wajah pria itu, mata Azel langsung membulat. Lho... Ini kan dosen itu?
Ia mengenali pria tersebut. Meski tidak pernah diajar olehnya, hampir seluruh mahasiswa di kampus tau sosok dosen yang terkenal tegas, kaku, dingin, dan sangat pelit nilai itu. Baru satu tahun mengajar, tetapi sudah menjadi momok bagi banyak mahasiswa.
"Kenapa sekarang malah diam?" tanya pria itu datar. "Tadi kelihatannya semangat sekali menghadang mobil saya."
Azel segera tersadar. "Ya jelas saya kesal! Mobil Anda tadi menerobos genangan air sampai baju saya begini!"
Pria itu melirik pakaian Azel sekilas. "Oh... ternyata ada orang."
Azel melongo. "Maksud Anda?"
"Saya tidak melihat."
"Ya lihat yang benar, dong!"
Pria itu menatap Azel dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
Nada bicaranya datar, tetapi justru membuat Azel semakin emosi.
"Jadi, kamu minta saya bertanggung jawab?" tanyanya.
"Iya."
"Baik." Pria itu mengangguk pelan.
"Buka baju kamu."
"Hah?!"
Wajah Azel langsung memerah. "Jangan ngomong sembarangan, ya!"
"Tadi kamu minta saya bertanggung jawab. Baju dan kerudungmu kotor. Saya akan mencucinya."
Azel memijat pelipis. "Bukan gitu maksud saya! Minimal minta maaf kek!"
"Oke." Pria itu mengangguk lagi.
"Maaf."
Lalu ia menambahkan dengan nada datar, "Selesai?"
Azel sampai kehabisan kata-kata. Ini orang robot, ya?
Baru saja pria itu hendak kembali masuk ke mobil, pintu belakang terbuka. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun turun sambil tersenyum lebar.
"Kak Azel!"
Azel menoleh. "Arjun?"
Ia langsung mengenali bocah itu. Arjun adalah salah satu anak yang dititipkan di daycare milik umanya.
Arjun berlari menghampiri lalu memeluk pinggang Azel. "Kak Azel!"
Azel tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Arjun, kok ada di sini?"
Arjun menunjuk pria di belakangnya. "Ayah. Tadi Ayah jemput Arjun."
Lalu ia menoleh kepada ayahnya. "Ayah, ini Kak Azel."
Azel dan pria itu saling menatap beberapa detik.
"Jadi... Ayahnya Arjun?" gumam Azel pelan.
Pria itu hanya mengangguk singkat.
"Ayah kenal?" tanya Arjun polos.
"Ayah tidak pernah mengenal gadis yang sopan santunnya seperti ini," jawab pria itu tanpa perubahan ekspresi.
Azel langsung melotot. "Eh, jangan asal ngomong, Pak!"
"Saya bukan bapak kamu."
"Yaudah... Om."
"Saya juga bukan paman kamu."
Azel mendengus pelan sebelum menatap Arjun dengan wajah prihatin. "Arjun... kamu yang lucu dan ganteng begini, kok bisa punya ayah seaneh ini, sih?"
Arjun hanya mengedip bingung.
Sementara pria itu menarik napas pelan, seolah baru kali ini bertemu seseorang yang mampu membuatnya kehilangan sedikit kesabaran.
Azel masih memasang wajah jutek sambil mengusap cipratan lumpur yang mengering di pipinya. Tatapannya bergantian antara Arjun dan pria di hadapannya.
Pria itu justru sama sekali tidak terlihat terganggu. Ia membetulkan jam tangan di pergelangan kirinya, lalu menatap Arjun.
"Sudah?"
Arjun mengangguk kecil. "Sudah, Yah."
"Kalau sudah, kita pulang."
"Sebentar, Yah."
Bocah itu kembali memeluk Azel. "Kak Azel kok kotor?"
Azel tersenyum tipis. "Ini gara-gara ada orang yang nyetirnya kayak pembalap."
Arjun menoleh ke arah ayahnya. "Ayah?"
Pria itu menjawab tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Genangan air."
"Iya, terus Ayah ngebut."
"Tidak."
"Ngebut."
"Tidak."
Azel menyilangkan kedua tangan di dada. "Tuh, bahkan anak kecil aja tau."
Pria itu menghela napas pelan. "Kecepatan saya empat puluh kilometer per jam."
"Empat puluh itu tetap aja ngebut kalau ada genangan!"
"Sesuai batas kecepatan."
"Tapi nggak sesuai perasaan saya!"
Pria itu terdiam beberapa detik, seolah sedang memproses kalimat barusan.
"..."
Azel mendecak. "Nah, bingung kan?"
"Bukan bingung."
"Terus?"
"Saya sedang berpikir bagaimana cara mengukur 'sesuai perasaan' sebagai satuan ilmiah."
Azel sampai membuka mulutnya. Ini dosen apa ensiklopedia berjalan?
Arjun malah tertawa kecil. "Kak Azel lucu."
"Bukan Kak Azel yang lucu. Ayah kamu yang aneh."
Pria itu memasukkan tangan ke saku celana. "Kalau urusan sudah selesai, saya pergi."
"Belum selesai."
"Apa lagi?"
"Baju saya."
"Anda sudah meminta maaf."
"Saya yang minta maaf?"
"Maksud saya, saya sudah meminta maaf."
"Nah, gitu dong dari tadi."
"Tapi?"
"Tapi apa?"
"Kerugian kamu."
Azel mengangguk cepat. "Nah! Akhirnya peka juga."
Pria itu mengeluarkan dompetnya. "Berapa harga bajunya?"
Azel langsung menggeleng. "Saya nggak minta diganti."
"Lalu?"
"Saya cuma pengen orang yang nyipratin saya sadar kalau tindakannya salah."
Pria itu memandang Azel cukup lama. Sorot matanya yang semula datar kini sedikit berubah, seolah sedang menilai gadis di depannya.
"Baik."
"Hah?"
"Saya mengerti."
"Udah?"
"Sudah."
"Loh?"
"Kamu bilang hanya ingin saya sadar."
Azel memejamkan mata sesaat. Ya Allah... ngomong sama tembok aja kayaknya lebih nyambung.
Arjun menarik tangan ayahnya. "Ayah..."
"Hm?"
"Kak Azel baik."
"Baik menurut kamu," jawab Ibra datar.
Kemudian pandangannya beralih kepada Azel. "Dan kamu."
"Apa?"
"Siapa nama kamu?"
Azel mengernyit. "Tadi nggak dengar ya waktu Arjun manggil saya?"
"Dengar."
"Terus ngapain masih nanya?"
Ibra menatap Azel tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. "Kamu memang mahasiswa."
"Iya."
"Tapi cara bicaramu sungguh tidak sopan."
Azel langsung mendengus. "Lho? Saya yang nggak sopan? Justru Bapak—eh, Anda duluan yang nyipratin saya pakai air lumpur."
"Itu tidak disengaja."
"Terus saya ngomel juga refleks."
"Itu pilihan."
"Kalau saya diam, nanti dikira rela."
Ibra mengangguk tipis. "Setidaknya sekarang saya tau."
"Tau apa?"
"Kalau tingkat keberanianmu jauh lebih tinggi daripada tingkat sopan santunmu."
Azel tersenyum sinis. "Dan sekarang saya juga tau."
"Tau apa?"
"Kalau dosen killer yang sering diceritain mahasiswa ternyata memang dingin beneran."
"Kamu beruntung tidak pernah masuk kelas saya."
Azel mengangkat sebelah alis. "Memang kenapa kalau saya masuk kelas Anda?"
"Saya pastikan kamu akan saya cecar dengan banyak pertanyaan."
Azel terkekeh pelan. "Tidak takut."
Ibra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya lurus ke arah Azel, seolah sedang menilai keberanian gadis itu.
"Baiklah."
Azel mengernyit. "Apanya yang baiklah?"
Ibra tidak menjawab. Sudut bibirnya nyaris terangkat, meski hanya sepersekian detik hingga sulit dipastikan apakah itu benar-benar senyum atau hanya ilusi.
Ia kemudian menggenggam tangan Arjun. "Ayo."
Arjun menurut, tetapi sebelum masuk ke dalam mobil, bocah itu melambaikan tangan dengan semangat.
"Bye, Kak Azel!"
Azel ikut melambaikan tangan. "Bye, Arjun! Besok ketemu lagi, ya!"
"Iya!"
Arjun masuk ke mobil, sementara Ibra menutup pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Azel. Mobil itu perlahan melaju meninggalkan lokasi.
Azel masih berdiri di tempatnya sambil memandangi mobil yang semakin menjauh.
"Aneh banget dosen satu itu," gumamnya. "Dingin, kaku, ngomongnya bikin darah tinggi."
Di dalam mobil, Arjun menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah."
"Hm?"
"Ayah marah sama Kak Azel?"
"Tidak."
"Terus kenapa Ayah jutek?"
Ibra melirik putranya sekilas. "Ayah memang seperti ini."
"Tapi Kak Azel lucu."
Ibra tidak menjawab. Entah mengapa, bayangan gadis yang berani menghadang mobilnya itu justru terus terlintas di benaknya.
Tidak takut, ya...
Kalimat Azel barusan kembali terngiang. Sudah lama ia tidak bertemu mahasiswa yang berani menatapnya tanpa sedikit pun merasa gentar.
Mobil itu melaju membelah jalanan yang masih basah oleh sisa hujan.
Ibra menggenggam kemudi dengan satu tangan, sementara pikirannya justru kembali pada gadis yang baru saja beradu mulut dengannya.
Azel.
Nama itu terasa begitu akrab di telinganya.
Sejenak ia terdiam. Nama itu mengingatkannya pada seorang gadis yang sudah lama ingin ia temui. Seseorang yang hingga kini belum pernah benar-benar ia datangi karena masih belum memiliki keberanian untuk menghadapi pertemuan itu.
Tatapannya menerawang ke depan.
"Ah... mungkin hanya namanya yang sama," gumamnya pelan.
"Nama seperti itu juga banyak."
Ibra menghela napas tipis, lalu mengenyahkan pikiran tersebut. Tidak mungkin orangnya sama.
Lagi pula, dunia terlalu luas untuk mempertemukan dua orang hanya karena memiliki nama yang serupa.
Ia kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya, sementara Arjun yang duduk di kursi belakang mulai mengantuk setelah seharian beraktivitas di daycare.
Mobil BMW itu melaju perlahan melewati sebuah bangunan yang begitu akrab di benak Ibra.
Sebuah pesantren.
Tatapannya mengikuti bangunan itu hingga perlahan menghilang dari kaca spion.
Belasan tahun yang lalu, tempat itulah yang menjadi rumah keduanya. Di sana ia belajar mengaji, menghafal Al-Qur'an, dan menimba ilmu agama dari para kiai yang begitu dihormatinya.
Namun semua berubah ketika usianya menginjak tiga belas tahun. Ayahnya dipindahtugaskan ke Jakarta, memaksa mereka meninggalkan kota itu beserta seluruh kenangan yang ada.
Kehidupan di kota besar perlahan menyeretnya ke arah yang berbeda. Kesibukan, ambisi, dan kerasnya persaingan membuat ilmu agama yang dahulu begitu dijaganya mulai terabaikan. Salat sering ditunda, mengaji menjadi kebiasaan yang hilang, sementara hatinya semakin jauh dari ketenangan yang dulu pernah ia rasakan.
Tak jarang penyesalan datang menyergap di malam-malam yang sunyi. Ditambah lagi trauma masa lalu yang belum pernah benar-benar sembuh, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang dingin, sulit mengekspresikan perasaan, dan cenderung menutup diri dari orang lain.
Pandangannya beralih ke kursi belakang. Arjun telah terlelap dengan kepala bersandar di sandaran kursi, wajah polosnya terlihat begitu damai.
Tanpa sadar, sudut bibir Ibra melunak.nHanya sesaat.nIa kembali teringat pada pesan terakhir almarhum ibunya sebelum berpulang.
"Ibra... jangan terus hidup dengan luka yang kamu simpan sendiri. Berubahlah. Jadilah ayah yang hangat untuk Arjun. Anak itu tidak butuh ayah yang sempurna, dia hanya butuh ayah yang bisa membuatnya merasa dicintai."
Pesan itu terus terngiang hingga sekarang. Ibunya juga memintanya melakukan satu hal lagi.
Kembali ke pesantren tempat ia pernah menimba ilmu. Menemui para guru yang dahulu membimbingnya. Meminta maaf atas semua tahun yang telah ia lewatkan tanpa kabar.
Dan... Menemui seorang gadis.
Teman masa kecilnya. Gadis yang begitu disayangi almarhum ibunya hingga berkali-kali disebut dalam setiap doa dan pesannya.
"Kalau Allah masih mengizinkan kalian bertemu, temuilah dia."
Ibra mengembuskan napas pelan. Entah gadis itu masih mengingatnya atau tidak.
Kemungkinan besar tidak. Saat ia meninggalkan kota ini, usianya sudah tiga belas tahun. Sementara gadis kecil itu baru berusia sekitar tiga tahun.
Barangkali, wajahnya pun sudah lama hilang dari ingatan gadis itu.
"Kalau memang berjodoh..." gumam Ibra lirih. "Pasti Allah akan mempertemukan kami dengan cara-Nya."
Tanpa ia sadari, beberapa menit yang lalu takdir telah mempertemukannya dengan seseorang yang selama ini diminta ibunya untuk ia temui.
Hanya saja... Tak satu pun dari mereka menyadarinya.
***
Azel akhirnya tiba di daycare milik umanya. Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk ke dalam bangunan dengan pakaian yang masih dipenuhi bercak lumpur.
Senyum ramah para pengasuh langsung menyambut kedatangannya. Namun, beberapa di antara mereka tampak heran melihat penampilan Azel yang berantakan.
"Astaga, Ning, habis kehujanan?" tanya salah seorang pengasuh.
Azel mengembuskan napas panjang. "Bukan kehujanan... korban genangan air gara-gara orang yang nyetirnya kayak lagi balapan."
Sambil masih mengomel pelan, ia berjalan menuju ruang kerja umanya. Selain ingin bertemu, ia juga berniat menjemput sang uma agar mereka bisa pulang bersama.
"Assalamu'alaikum, Uma."
"Wa'alaikumussalam. Iya, masuk saja, Zel."
Azel membuka pintu ruang kerja sang uma. Perempuan paruh baya yang semula sedang merapikan beberapa berkas itu langsung mendongakkan kepala.
Namun, begitu melihat penampilan putrinya, dahinya seketika berkerut. "Astaghfirullah..."
Pandangannya menyapu pakaian Azel yang dipenuhi bercak lumpur, kerudung yang masih lembap, hingga sepatu yang tak kalah kotornya.
"Kenapa baju kamu kotor begitu, Nak?" tanyanya khawatir sambil berdiri dari kursinya.
Azel mengembuskan napas panjang, masih kesal mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. "Tadi di jalan ada genangan air, Uma. Aku sudah pelan-pelan lewatnya. Eh, tiba-tiba ada mobil dari belakang ngebut, langsung nerobos genangan. Byur! Air bercampur lumpurnya nyiprat semua ke aku."
Ia merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan pakaian yang dikenakannya. "Lihat, Uma. Jaket almamater, kerudung, bahkan gamis yang di dalam juga ikut basah dan kotor."
"Innalillahi... kasihan sekali kamu."
"Iya. Mana orangnya nyebelin lagi."
"Terus dia kabur?"
"Nggak. Aku kejar sampai berhasil aku hadang."
Sang uma menatap Azel dengan mata membulat. "Kamu ngejar mobilnya?"
"Iya."
"Ya Allah, Zel. Untung nggak kenapa-kenapa."
Azel hanya meringis kecil. "Yang bikin kaget, ternyata yang nyipratin aku itu ayahnya Arjun."
"Arjun siapa?"
"Arjun, salah satu anak yang dititipkan di sini."
"Oh..." sang Uma mengangguk pelan. "Mungkin dia anak yang baru beberapa bulan ini, ya? Soalnya Mbak Hesti memang pernah cerita ada anak yang hanya dititipkan beberapa jam setiap hari."
Azel mengangguk.n"Iya, Uma."
"Kamu juga tau sendiri, akhir-akhir ini Uma jarang ke daycare karena harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk urusan keponakan kamu. Jadi banyak anak baru yang belum sempat Uma kenal."
"Iya, tadi juga aku baru tau ternyata ayahnya yang jemput."
"Lalu bagaimana? Ayahnya minta maaf?"
Azel mendengus pelan. "Awalnya malah nyebelin banget."
"Kenapa memang?"
"Dia bilang, 'Oh, ternyata ada orang.'"
Sang uma menghela napas sambil menggeleng pelan. "Lalu?"
"Terus dia bilang aku terlalu kecil sampai nggak kelihatan."
Uma spontan tertawa kecil meski berusaha menahannya. "Astaghfirullah... kok bisa begitu?"
"Lucu ya, Uma? Aku yang jadi korban malah dibilang kecil."
"Terus akhirnya?"
"Ya... akhirnya sih minta maaf."
"Alhamdulillah."
"Tapi minta maafnya juga nyebelin."
"Memangnya bagaimana?"
"'Oke. Maaf. Selesai?'"
Sang uma kembali terkekeh pelan. "Kayaknya orangnya memang sulit mengekspresikan diri."
"Itu bukan sulit, Uma. Itu namanya bikin emosi."
Mendengar putrinya masih menggerutu, sang uma tersenyum tipis lalu mengusap kepala Azel dengan penuh kasih sayang. "Sudahlah. Yang penting kamu tidak kenapa-kenapa. Sekarang kita pulang dulu. Kamu harus segera mandi air hangat dan ganti baju, nanti masuk angin."
Azel mengangguk. "Iya, Uma."
***
Begitu mobil BMW itu memasuki halaman rumah, Ibra mematikan mesin dan menoleh ke kursi belakang.
Arjun masih terlelap. Bocah itu bahkan tidak terbangun saat sabuk pengamannya dilepaskan.
Ibra membuka pintu belakang, lalu mengangkat tubuh kecil putranya dengan hati-hati. Kepala Arjun secara refleks bersandar di bahunya, sementara kedua tangan mungilnya memeluk leher sang ayah.
Ibra melangkah masuk ke dalam rumah yang begitu sunyi. Setelah menaiki tangga, ia membuka pintu kamar Arjun.
Perlahan, ia membaringkan putranya di atas ranjang. Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, ia melepaskan sepatu sekolah yang masih melekat di kaki Arjun, kemudian merapikannya di samping tempat tidur. Kaus kaki kecil itu pun ia lepaskan agar putranya bisa tidur lebih nyaman.
Saat Ibra hendak menarik selimut, suara lirih terdengar dari bibir Arjun yang masih terpejam.
"...Aku pengen punya Mama...."
Deg!
Gerakan tangan Ibra seketika terhenti. Dadanya terasa sesak. Tatapannya tak lepas dari wajah putranya yang masih tertidur lelap, seolah kalimat itu hanyalah igauan biasa.
Namun bagi Ibra.... Kalimat sederhana itu terasa seperti menghunjam tepat ke dalam hatinya.
Ia tau, selama 5 tahun hidupnya, Arjun tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu.
Memang, almarhum ibunya telah mencurahkan seluruh cinta kepada Arjun sejak bayi. Bocah itu tumbuh dalam pelukan sang nenek, tidak pernah kekurangan perhatian maupun kasih sayang.
Tetapi... Kasih sayang seorang nenek tetap tidak akan pernah sama dengan pelukan seorang ibu. Dan Ibra menyadari itu.
Selama ini ia terlalu sibuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan luka masa lalu hingga lupa bahwa putranya juga memikul kehilangan yang sama. Bahkan mungkin, jauh lebih berat.
Arjun kehilangan sosok ibu sebelum sempat mengenalnya.
Sementara dirinya, ia justru gagal menjadi ayah yang mampu mengisi kekosongan itu.
Rasa bersalah perlahan memenuhi dadanya.
"Ayah minta maaf..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Jemarinya mengusap lembut rambut Arjun. "Ayah masih belajar."
Ia kemudian menyelimuti tubuh kecil itu hingga ke dada. Beberapa saat Ibra hanya berdiri memandangi putranya, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
Dengan langkah pelan, ia mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram.
Pintu kamar ditutup perlahan agar tidak membangunkan Arjun.
Begitu berada di luar, Ibra menyandarkan punggungnya pada dinding lorong. Matanya terpejam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasa bahwa kehidupan yang dingin dan penuh luka yang ia jalani seharusnya tidak ikut diwariskan kepada putranya.
Arjun berhak tumbuh dalam kehangatan.
Dan mungkin... Sudah saatnya ia menepati janji yang pernah ia ucapkan kepada almarhum ibunya.
***
"Huft... Alhamdulillah, akhirnya bersih juga. Tinggal nunggu kering, deh."
Azel mengembuskan napas lega sambil merapikan jemuran. Jaket almamater, gamis, dan kerudung yang baru saja selesai ia cuci kini tergantung berjajar di bawah hangatnya sinar matahari sore.
"Ning."
Azel menoleh. "Iya, Mbak?"
Seorang perempuan paruh baya menghampirinya sambil membawa keranjang berisi pakaian bersih. "Kenapa nggak minta tolong saya aja buat nyuci semuanya?"
Perempuan itu adalah Mbak Ratna, khadijah ndalem yang sudah lama bekerja di rumah tersebut. Bagi Azel, Mbak Ratna sudah seperti keluarga sendiri.
Azel tersenyum.n"Nggak apa-apa, Mbak. Mbak Ratna kan sudah banyak kerjaan. Lagian ini baju aku sendiri, masa masih nyuruh Mbak juga. Aku masih bisa nyuci sendiri, kok."
Mbak Ratna tersenyum haru. "Ning memang dari dulu baik banget."
Azel terkekeh kecil. "Ih, Mbak. Masa cuma gitu aja dibilang baik?"
"Iya, Ning. Soalnya nggak semua orang mau ngerjain sendiri kalau di rumah ada yang bisa bantu."
Azel hanya mengangkat bahu. "Selama aku masih mampu, ya aku kerjain sendiri. Kasihan juga kalau semua dibebanin ke Mbak."
Wajah Mbak Ratna semakin teduh mendengarnya. "Masya Allah... semoga Allah selalu jaga Ning."
"Aamiin."
Azel kemudian menyenggol pelan lengan Mbak Ratna sambil tersenyum usil. "Tapi... yang paling penting sekarang, Mbak Ratna masak yang enak buat aku, ya."
Mbak Ratna langsung tertawa. "Hahaha... itu mah sudah pasti, Ning."
"Hari ini masak apa?"
"Kesukaan Ning."
Mata Azel langsung berbinar. "Serius? Jangan bilang..."
Mbak Ratna mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Ada ayam goreng, sayur asem, sama sambal dadak."
"Masya Allah!"
Azel langsung memegang perutnya. "Pantesan dari tadi perut aku demo."
Mbak Ratna menggeleng geli melihat tingkah gadis itu. "Ya sudah, cepat mandi dulu. Habis itu baru makan."
"Siap, Mbak Ratna!"
Dengan langkah ringan, Azel berlari kecil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mbak Ratna yang hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan melihat tingkah ceria gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Keesokan paginya, Azel tampak mondar-mandir di teras rumah sambil sesekali melirik jam tangan.
"Kak Arshaf ke mana, sih..."
Ia kembali menekan tombol panggil di ponselnya. Sudah entah berapa kali ia menghubungi sang kakak, tetapi tak kunjung diangkat.
"Aduh... aku bisa telat."
Hari itu ia memang berencana menggunakan motor milik Gus Arshaf karena motornya sendiri sedang masuk bengkel untuk servis ringan.
Beberapa menit kemudian, suara motor akhirnya terdengar memasuki halaman rumah.
Gus Arshaf turun dari motornya sambil melepas helm. "Ada apa, sih, Zel? Telepon kakak terus."
Azel langsung berjalan menghampirinya dengan wajah cemberut. "Ya Allah, Kak. Aku udah hampir telat ke kampus. Kan hari ini aku mau pakai motor ini."
Gus Arshaf menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lho, mana kakak tahu? Kakak kira hari ini kamu dianter Abi."
Azel mendengus pelan. "Kalau dianter Abi, ngapain aku nelepon Kakak berkali-kali?"
"Iya juga, sih."
"Udah ah, aku benar-benar telat."
Azel buru-buru mengambil helmnya, lalu menaiki motor. Gus Arshaf menyerahkan kunci motor sambil tersenyum kecil.
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
"Jangan ngebut."
Azel mengangguk asal. "Iya, iya."
"Serius, Zel. Jangan karena telat terus kamu kebut-kebutan."
"Iya, Kak. Aku tau."
Setelah mengenakan helm, Azel segera menyalakan mesin motor. "Bismillah."
Motor itu pun melaju keluar dari halaman rumah.
Gus Arshaf masih memperhatikan adiknya hingga menghilang di ujung jalan.
"Semoga nggak kenapa-kenapa," gumamnya pelan sebelum kembali masuk ke dalam rumah.
Begitu tiba di area parkir Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Azel langsung mematikan mesin motor. Ia bahkan tidak sempat merapikan anak rambut yang keluar dari balik kerudungnya.
Tas ransel segera disampirkan ke bahu.
Lalu...
Bruk!
Jok motor ditutup, dan ia langsung berlari menuju gedung perkuliahan.
"Aduh... semoga belum mulai."
Ia melirik jam tangan. Wajahnya langsung meringis. "Ya Allah... udah telat sepuluh menit."
Napasnya mulai memburu saat menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Untung pagi ini Bu Maya. Beliau baik hati. Paling cuma disuruh minta maaf terus masuk."
Sesampainya di depan ruang kelas, Azel berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Huft... hufth..."
Setelah napasnya sedikit teratur, ia membuka pintu kelas perlahan.
Ceklek.
Baru saja kepalanya menyembul dari balik pintu, Sekar yang duduk di bangku depan langsung menoleh. Tatapan sahabatnya itu terlihat aneh. Seperti sedang memberi kode. Sekar menggeleng pelan sambil membulatkan mata, tetapi Azel sama sekali tidak mengerti maksudnya. Azel pun mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum."
Ruangan mendadak hening. Saat pandangannya beralih ke depan kelas, mata Azel langsung membulat sempurna.
Lho...?
Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
Pria yang berdiri di depan papan tulis itu... Adalah laki-laki yang kemarin menyipratinya dengan air lumpur.
"Dosen kaku...." Batin Azel menjerit. Apa aku salah masuk kelas?
Namun ketika melihat wajah teman-temannya yang sama-sama tampak terkejut, ia sadar... Bukan ia yang salah kelas. Melainkan dosen di depannya itulah yang menggantikan Bu Maya.
Di depan kelas, Ibra menyunggingkan senyum tipis. Bukan senyum ramah. Melainkan sebuah smirk yang nyaris tak terlihat. Tentu saja ia masih mengingat mahasiswi yang kemarin berani menghadang mobilnya di tengah jalan.
"Permisi, Pak," ucap Azel pelan. "Maaf, saya terlambat."
Tanpa berani menatap lebih lama, ia segera melangkah menuju bangkunya.
"Berhenti." Suara datar Ibra membuat langkah Azel terhenti.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk?"
Azel menelan ludah. "Maaf, Pak."
Ibra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. "Kamu terlambat sebelas menit empat puluh lima detik."
Seluruh mahasiswa menahan napas.
"Tapi, Pak, saya—"
"Saya belum selesai bicara."
Azel langsung terdiam.
Ibra melangkah perlahan dari depan kelas. "Saya tidak menoleransi keterlambatan. Tidak peduli apa pun alasannya."
Tatapan tajamnya berhenti tepat di depan Azel.
"Karena dalam dunia kerja nanti, waktu tidak akan berhenti hanya untuk menunggu satu orang."
Azel mengepalkan kedua tangannya.
Dalam hati ia menggerutu. Ya Allah... kenapa dari semua dosen yang ada, justru dosen es batu ini yang gantiin Bu Maya?
Ibra kembali membuka suara. "Karena ini pertemuan pertama saya dengan kelas ini, saya hanya akan memberi satu kesempatan."
Azel mengangkat wajahnya sedikit.
"Sebutkan nama lengkap, NIM, dan jelaskan kepada seluruh kelas mengapa seorang mahasiswa harus menghargai waktu."
Mata Azel langsung membesar. Lho... disuruh pidato?
Azel mengembuskan napas pelan. Mau tidak mau, ia berdiri tegak di depan kelas dengan puluhan pasang mata yang kini tertuju kepadanya.
"Perkenalkan, Pak. Nama saya Arzelia Nayesha Mahina Ghazi."
Kalimat itu membuat Ibra yang semula hendak menuliskan sesuatu di papan tulis menghentikan gerakannya. Spidol di tangannya terdiam. Sorot matanya perlahan beralih ke arah Azel.
"Ghazi..."
Nama belakang itu terasa begitu familier. Sejenak, pikirannya melayang jauh ke belasan tahun yang lalu.
"Ghazi... bukankah itu nama belakang Kiai Alif dan Kiai Abidzar?"
Ia masih mengingat dengan jelas kedua laki-laki yang ia hormati itu. Sosok yang pernah mengajarinya membaca Al-Qur'an dan menanamkan banyak nasihat ketika ia masih kecil.
Ibra kembali menatap Azel. "Tunggu."
Azel yang hendak melanjutkan perkenalannya berhenti. "Iya, Pak?"
"Siapa nama lengkapmu tadi?" "Arzelia Nayesha Mahina Ghazi, Pak."
"Nama belakangmu... Ghazi?"
"Iya, Pak."
Ibra terdiam beberapa saat. "Ghazi..." batinnya kembali mengulang nama itu. "Nama yang tidak asing."
Apakah hanya kebetulan?
Atau... Jangan-jangan gadis di hadapannya masih memiliki hubungan dengan seseorang yang pernah begitu berjasa dalam hidupnya.
Namun Ibra segera mengenyahkan dugaan itu. Indonesia bukan negara kecil. Kesamaan nama keluarga bukan berarti memiliki hubungan darah.
Ia kembali memasang ekspresi datarnya. "Baik. Lanjutkan."
Azel mengangguk pelan, meski dalam hati merasa heran. "Kenapa beliau tiba-tiba nanya nama lengkapku dua kali?"
Ia pun menarik napas sebelum mulai menjawab pertanyaan berikutnya. "Menurut saya, seorang mahasiswa harus menghargai waktu karena disiplin adalah bagian dari tanggung jawab. Datang tepat waktu bukan hanya bentuk menghargai dosen, tetapi juga menghargai teman-teman yang sudah hadir lebih dulu. Selain itu, kebiasaan disiplin selama kuliah akan sangat berpengaruh ketika nanti memasuki dunia kerja."
Jawaban itu membuat beberapa mahasiswa mengangguk pelan.
Ibra memperhatikan Azel tanpa menyela sedikit pun. Setelah Azel selesai berbicara, ia bertanya lagi.
"Kamu tinggal dengan siapa?"
Azel mengernyit. "Maaf, Pak?"
"Saya bertanya, kamu tinggal dengan siapa?"
"Dengan Abi, Uma, sama kakak-kakak saya."
"Nama ayahmu?"
Azel semakin bingung. "Pak... ini masih ada hubungannya sama materi kuliah?"
Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka juga tidak mengerti mengapa dosen yang terkenal dingin itu tiba-tiba menanyakan identitas Azel sedetail itu.
Ibra tersadar bahwa pertanyaannya mulai keluar dari konteks perkuliahan.
Ia menghela napas pelan. "Tidak. Silakan duduk."
"Iya, Pak."
Azel segera menuju bangkunya.
Sementara itu, Ibra kembali menghadap papan tulis. Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada materi kuliah.
Nama Ghazi terus terngiang di kepalanya.
"Kalau memang ada hubungannya dengan beliau... Berarti... kemungkinan itu memang ada."
Setelah menjelaskan materi perpajakan selama hampir satu setengah jam, Ibra menutup spidol yang sedari tadi digunakannya.
Ia menyapu seluruh isi kelas dengan tatapan tenang, tetapi cukup membuat suasana kembali hening.
"Sebelum saya akhiri perkuliahan hari ini, saya ulangi sekali lagi."
Seluruh mahasiswa langsung menegakkan posisi duduk.
"Saya berada di kelas ini untuk menggantikan Bu Maya selama beliau menjalani cuti. Selama saya mengajar, ada beberapa aturan yang wajib kalian patuhi."
Ia mengangkat satu jari. "Pertama, saya tidak menerima alasan apa pun untuk keterlambatan. Datanglah sebelum jam kuliah dimulai."
Jari kedua terangkat. "Kedua, saya tidak mentoleransi kecurangan dalam bentuk apa pun. Mencontek tugas, ujian, menjiplak karya orang lain, ataupun menggunakan cara-cara yang tidak jujur."
Beberapa mahasiswa mulai saling melirik.
Jari ketiga menyusul. "Ketiga, selama saya menjelaskan materi, saya ingin seluruh mahasiswa memperhatikan. Tidak ada yang mengobrol sendiri."
Tatapannya berkeliling ke setiap sudut ruangan.
"Kalau tidak mengerti, angkat tangan dan bertanya. Saya lebih menghargai mahasiswa yang berani bertanya daripada mahasiswa yang pura-pura paham."
Ruangan kembali sunyi.
"Jelas?"
"Jelas, Pak," jawab seluruh mahasiswa hampir bersamaan.
Ibra mengangguk tipis. "Saya juga tau..."
Pandangan matanya berhenti sejenak ke arah beberapa mahasiswa di barisan tengah, termasuk Azel.
"...ada beberapa dari kalian yang belum pernah mendapatkan kelas saya."
Azel refleks menundukkan kepala. Entah mengapa ia merasa kalimat itu ditujukan kepadanya.
"Dan sekarang...akhirnya kalian merasakannya."
Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum yang sulit diartikan.
"Bagaimana?" Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan, "Happy?"
Seketika suasana kelas menjadi canggung. Beberapa mahasiswa saling pandang.
Ada yang ingin tertawa, tetapi takut. Ada pula yang menelan ludah. Dengan ragu-ragu, beberapa mahasiswa mengangguk kecil.
"He-he... happy, Pak," jawab mereka lirih.
Azel yang duduk di bangku tengah hanya bisa memejamkan mata sejenak. "Ini pasti nyindir aku."
Ia teringat perkataannya kemarin di jalan. "Dasar dosen es batu."
Dan kini... Rasanya dosen es batu itu sedang menikmati momen ketika akhirnya menjadi dosennya.
"Ya Allah... satu semester bakal panjang banget kayaknya."
Sementara di depan kelas, Ibra menangkap ekspresi pasrah Azel. Meski wajahnya tetap datar, dalam hati ia hampir saja tersenyum. "Tidak takut, ya?"
Ia masih mengingat dengan jelas ucapan mahasiswi itu kemarin. Kini, ia ingin melihat apakah keberanian Azel hanya muncul di jalan raya... Atau juga bertahan di dalam ruang kelas.
Begitu Ibra keluar dari kelas, suasana yang semula hening seketika berubah ramai.
Beberapa mahasiswa langsung mengembuskan napas lega. "Huft... akhirnya selesai juga."
Azel menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Ya Allah... baru pertemuan pertama aja udah bikin jantung mau copot."
Sekar memutar kursinya menghadap Azel. "Kok bisa, sih, lo telat hari ini, Zel?"
Azel langsung mendengus. "Jangan ditanya. Kak Arshaf bawa motor dari pagi. Mana susah banget dihubungin. Pas dia pulang, waktu gue udah mepet."
"Hahaha... apes banget."
"Iya. Mana yang ngajar malah dia."
Sekar mengangguk paham. "Jujur, gue juga syok waktu masuk kelas. Gue kira masih Bu Maya."
Azel memegang dahinya. "Kenapa harus dosen itu, sih, yang gantiin Bu Maya?"
Bela yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikut menyahut. "Ya mau gimana lagi. Kita semua juga kaget, Zel."
Ia menghela napas panjang. "Entah deh nasib kita satu semester ke depan bakal gimana."
Azel kembali menyandarkan kepalanya. "Gue udah punya firasat buruk."
Sekar dan Bela langsung mengangguk kompak. "Sama."
Bela tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya!"
"Apa?"
"Lo tau nggak?"
"Tau apaan?"
"Gue denger dari Kak Fariz..." Bela sengaja menggantung kalimatnya.
Azel mulai penasaran. "Apa, Bel? Cepat ngomong."
"Pak Ibra sekarang jadi dosen pembina BEM Fakultas." Sahut Sekar.
"Hah?!" Suara Azel spontan meninggi hingga membuat beberapa mahasiswa menoleh.
"Masa, sih?"
"Iya."
Azel langsung menoleh ke Sekar. "Sekar, jangan ikut-ikutan ngerjain gue, ya."
Sekar menggeleng cepat. "Gue serius. Kak Fariz sendiri yang cerita."
Azel masih belum percaya. "Serius?"
"Iya. Kak Fariz kan Ketua BEM. Lo aja yang nggak ikut rapat kemarin."
Azel mengembuskan napas panjang. "Ya gimana, Sek. Kemarin gue capek banget."
"Makanya, rugi sendiri."
"Ya Allah..." Azel menepuk dahinya pelan.
"Kenapa lagi?" tanya Bela sambil menahan tawa.
"Gue kan pengurus Humas BEM."
Sekar dan Bela saling berpandangan. "Oh iya... Kita juga dong berati ya?"
"Nah baru sadar lo!"
Azel langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Ya Tuhannnn.... Baru kemarin gue ribut sama beliau di jalan."
Sekar mengernyit. "Ribut? Maksudnya gimana?"
Azel langsung mengangkat kepalanya. "Jadi kemarin tuh gue kecipratan air lumpur gara-gara mobil."
"Hah?"
"Gue kesel banget. Akhirnya gue kejar mobilnya sampai berhasil gue hadang di tengah jalan."
"Masa?!"
"Iya!"
"Terus?"
"Pas yang turun dari mobil..." Azel berhenti sejenak. "...Pak Ibra."
"Hah?!" Kali ini Sekar dan Bela yang kompak berteriak.
"Iya! Mana gue tau kalau itu beliau. Orang dia keluar mobil langsung pasang muka jutek. Gue juga udah terlanjur ngomel."
Sekar menepuk meja sambil tertawa. "Astaga, Zel! Berani banget lo."
"Berani dari mana? Gue kan belum tau itu dosen."
"Lah terus?"
"Ya makin apes lagi, ternyata di mobilnya ada Arjun."
"Arjun siapa?"
"Anak daycare punya Uma. Ternyata Pak Ibra itu ayahnya."
Bela menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Jadi... lo marah-marah ke dosen lo sendiri?"
"Iya."
"Sebelum tahu beliau dosen?"
"Iya!"
Sekar sudah tidak mampu menahan tawanya. "Hahahaha... pantes tadi beliau senyum pas lo telat."
"Iya, ya?"
"Iya! Kayaknya beliau langsung ingat sama cewek yang kemarin ngadangin mobilnya."
Azel memukul pelan bahu Sekar. "Jangan ngomong gitu, napa!"
Bela masih tertawa. "Terus, lo ngomong apa aja kemarin?"
Azel memejamkan mata. "Jangan diungkit."
"Pasti parah."
"Parah."
"Coba cerita."
Azel menggeleng cepat. "Nggak mau."
"Kenapa?"
"Gue malu."
Sekar dan Bela saling berpandangan.
Azel... Malu?
Mereka justru semakin penasaran.
"Zel..."
"Apa lagi?"
"Lo jangan-jangan..."
"Apa?"
"...udah masuk daftar mahasiswa yang diingat Pak Ibra."
Azel terdiam beberapa detik. Lalu ia kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Fix! Hidup gue mulai hari ini resmi nggak tenang."
***
Sementara itu, di ruang kerjanya, Ibra belum juga menyentuh berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Pikirannya masih terpaku pada satu nama.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu memejamkan mata sejenak.
"Ghazi..."
Nama belakang itu benar-benar tidak asing.
Ingatannya perlahan kembali menelusuri masa belasan tahun silam.
Pesantren. Suara lantunan Al-Qur'an selepas Subuh. Dan sosok seorang kiai yang begitu ia hormati.
Kiai Alif Arshad Ghazi.
Beliau adalah salah satu guru yang paling berjasa dalam hidupnya. Sosok yang mengajarkannya Al-Qur'an, adab, dan banyak pelajaran hidup selama ia mondok di sana.
Bahkan hingga kini, setiap kali mengingat nama sang guru, hati Ibra selalu dipenuhi rasa hormat.
"Kalau tidak salah..." gumamnya pelan. "Beliau punya dua cucu kembar."
Ingatannya kembali pada dua anak laki-laki yang usianya hanya terpaut beberapa tahun di bawahnya.
Arshaf dan Aryan.
Dua anak yang hampir selalu bersama ke mana pun pergi. Meski usianya lebih tua, Ibra cukup akrab dengan keduanya karena sering bermain di halaman pesantren sepulang mengaji.
Ia masih ingat bagaimana Aryan kecil yang lebih usil dibanding saudara kembarnya, sementara Arshaf cenderung lebih tenang dan mudah diajak bicara.
Tanpa sadar, sudut bibir Ibra terangkat tipis mengenang masa kecil mereka.
Namun senyum itu segera memudar. "Kalau memang Azel masih ada hubungan dengan keluarga Ghazi... Berarti kemungkinan besar mereka masih tinggal di sekitar pesantren."
Ia kembali teringat pesan terakhir almarhum ibunya. "Temuilah guru-gurumu... dan temuilah gadis itu."
Ibra mengembuskan napas pelan. Selama bertahun-tahun ia selalu mencari alasan untuk menunda kepulangannya ke kota itu.
Entah karena pekerjaan atau karena ia belum siap menghadapi masa lalu yang pernah ia tinggalkan.
Kini, hanya karena sebuah nama belakang yang diucapkan mahasiswinya, seluruh kenangan itu kembali bermunculan satu per satu.
"Apa ini hanya kebetulan..." gumamnya lirih.
"Atau memang Allah sedang menunjukkan jalan agar aku kembali?"
Ia menatap jendela ruangannya cukup lama. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, keinginan untuk kembali menginjakkan kaki di pesantren tempat ia dibesarkan terasa begitu kuat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!