Indonesia
NovelToon NovelToon

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Episode 1

Bab 1

Pintu Besi yang Terbuka

Kaki kiri Keira Pratama yang telah berubah bentuk terseret pelan ketika ia melewati pintu besi Lapas Perempuan Tangerang.

Krek.

Sol sepatu kainnya menggesek aspal. Satu langkah, satu tarikan napas. Gerbang di belakangnya menutup dengan bunyi berat, seolah lima tahun hidupnya baru saja dikunci di sisi lain.

Keira tidak menoleh.

Matahari pagi menyentuh wajahnya yang kurus dan pucat kekuningan. Seragam SMA abu-abu putih yang melekat di tubuhnya sudah pudar. Bagian sikunya tipis, roknya terlalu longgar, dan benang pada lambang sekolah di dada telah terurai.

Itulah satu-satunya pakaian yang dikembalikan kepadanya.

Pakaian yang ia kenakan saat masuk pada usia delapan belas tahun.

Di seberang jalan, sebuah Bentley hitam mengilap menunggu di bawah bayangan pohon. Mesin mobil itu menyala halus. Kaca belakangnya gelap, bodinya bersih tanpa setitik debu.

Pintu pengemudi terbuka.

Kevin Pratama turun dengan setelan biru gelap dan jam tangan yang harganya mungkin cukup untuk membayar makan satu blok lapas selama berbulan-bulan. Ia menatap Keira dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada kaki kiri Keira, tetapi hanya sesaat.

"Akhirnya keluar juga."

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan apakah ia sakit.

Keira berdiri di depan gerbang dengan kantong plastik bening berisi kartu identitas lama, selembar surat pembebasan, dan uang sisa yang bahkan tidak cukup untuk naik taksi sampai Jakarta Selatan.

Kevin berjalan mendekat. Alisnya berkerut ketika Keira tidak menyambutnya seperti dulu.

Lima tahun lalu, gadis itu akan berlari kecil sambil memanggil, "Ko Kevin," hanya karena kakaknya datang menjemput dari sekolah. Ia akan tersenyum meski Kevin menyuruhnya duduk jauh dari Vanessa. Ia akan mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia mohon.

Hari ini, Keira hanya memandangnya seperti memandang orang asing.

"Masuk ke mobil," kata Kevin. "Papa dan Mama sudah menyiapkan pesta sambutan di rumah. Jangan membuat semua orang menunggu hanya karena kamu ingin terlihat menyedihkan."

Jari Keira mengencang pada kantong plastik.

Ada rasa getir yang sempat naik ke pangkal lidahnya. Begitu cepat, begitu akrab. Kalimat pertama dari keluarganya setelah lima tahun tetap sebuah tuduhan.

Ia menelannya kembali.

"Aku memang berjalan seperti ini."

Suara Keira serak karena terlalu jarang digunakan. Namun setiap katanya terdengar jelas.

Kevin kembali melirik kakinya. "Kamu baik-baik saja saat masuk. Jangan bilang sekarang kamu pincang."

Keira tidak menjawab. Angin pagi meniup ujung rambutnya yang dipotong tidak rata. Di balik kain seragam, tulang yang pernah dihancurkan enam tongkat telah menyatu dalam posisi yang salah. Setiap langkah menekan rasa sakit lama ke atas lututnya.

Kalau Kevin benar-benar ingin tahu, ia punya enam puluh bulan untuk bertanya.

Suara langkah cepat terdengar dari sisi jalan.

"Keira!"

Tubuh Keira membeku sebelum ia sempat mengendalikan diri.

Lucas Lukas berlari ke arah mereka. Kemeja putihnya rapi, tas kerja kulit tergantung di bahu, dan sepatu hitamnya memantulkan cahaya. Lima tahun telah mengubah pemuda kurus dari panti asuhan menjadi seorang pengacara yang terlihat mapan.

Namun Keira masih bisa melihat lelaki yang berdiri di ruang sidang dengan toga hitam, mengarahkan telunjuk kepadanya, lalu menyusun kebohongan demi kebohongan untuk membela Vanessa.

Lucas tahu Keira tidak mendorong Evelyn dari tangga.

Lucas juga tahu siapa yang melakukannya.

Tetapi di depan hakim, lelaki yang pernah berjanji akan melindunginya justru berkata bahwa Keira pemarah, iri, dan terobsesi mengambil tempat Vanessa di keluarga Pratama.

Lima tahun penjara dijatuhkan sesudah kesaksiannya.

"Aku menunggumu sejak tadi," ujar Lucas, terengah. "Aku datang untuk menjemputmu. Kita bisa bicara dulu."

Keira melewatinya.

Lucas meraih pergelangan tangannya, tetapi Keira segera menarik diri. Gerakannya membuat kaki kirinya kehilangan tumpuan. Tubuhnya oleng, kantong plastik di tangannya berderak keras.

Tidak satu pun dari dua lelaki itu sempat menangkapnya.

Keira menahan tubuh pada kap mobil. Telapak tangannya tergores permukaan logam yang panas. Ia menegakkan punggung sendiri.

"Jangan sentuh aku."

Wajah Lucas memucat. "Keira, aku tahu kamu marah. Waktu itu aku hanya menjalankan tugasku sebagai pengacara. Vanessa adalah klienku."

"Kamu menjalankan tugasmu dengan baik." Keira menatap lurus ke matanya. "Lima tahun penuh."

"Dengarkan penjelasanku dulu."

"Tidak perlu."

Lucas melangkah menghalangi pintu mobil. "Aku bisa membantumu memulai lagi. Kamu tidak harus kembali ke keluarga Pratama."

Tawaran itu seharusnya terdengar seperti jalan keluar. Delapan tahun lalu, di panti asuhan, Keira mungkin akan mempercayainya tanpa berpikir. Lucas pernah berbagi setengah roti dengannya. Pernah berdiri di depan anak-anak yang mengejeknya. Pernah berkata mereka hanya memiliki satu sama lain.

Justru karena itulah pengkhianatannya paling mudah diingat.

"Minggir," kata Keira.

"Keira..."

"Setidaknya Kevin tidak pernah memberiku harapan palsu."

Lucas terdiam.

Kevin juga tidak segera bergerak. Rahangnya menegang, seakan tidak tahu apakah kalimat itu penghinaan atau pengakuan.

Keira membuka pintu belakang Bentley. Aroma parfum bunga yang manis menyerangnya. Sebuah bantal merah muda dengan sulaman huruf V memenuhi sudut kursi. Di saku belakang jok depan terselip foto Kevin dan Vanessa yang tersenyum di sebuah pesta. Di sampingnya tergantung gaun putih berlabel butik mewah, terbungkus plastik pelindung sebening kaca.

Tidak ada ruang yang disiapkan untuk Keira. Bahkan di mobil yang katanya datang untuk menjemputnya.

Ia menggeser ujung gaun itu agar tidak menyentuh seragamnya, lalu duduk. Kaki kirinya harus ia angkat dengan kedua tangan. Keringat dingin muncul di pelipis ketika sendi yang rusak itu menekuk.

Kevin masuk ke kursi pengemudi. Lucas berdiri di luar, telapak tangannya menempel pada kaca.

"Aku akan menghubungimu," katanya.

Keira memalingkan wajah.

Mobil bergerak meninggalkan gerbang. Melalui kaca samping, Keira melihat Lucas makin kecil, lalu hilang di tikungan. Tidak ada rasa lega. Hanya sebuah pintu lama yang akhirnya ia tutup tanpa ragu.

Beberapa menit pertama diisi dengung pendingin udara.

Kevin berkali-kali melihatnya melalui kaca spion. "Kamu bisa berhenti bersikap seolah kami membuangmu. Papa sibuk mengurus perusahaan. Mama juga tidak sanggup melihatmu di tempat seperti itu. Aku sendiri harus mengurus banyak hal."

Keira menatap foto Vanessa yang bergoyang kecil di bawah kaca spion.

"Lima tahun itu lama, Kei," lanjut Kevin. "Kami semua punya hidup."

"Enam puluh bulan," jawab Keira.

Kevin mengernyit. "Apa?"

Keira mengangkat pandangannya. Untuk pertama kali pagi itu, ia menatap kakaknya melalui kaca spion.

"UU Pemasyarakatan menjamin hak kunjungan. Enam puluh bulan, setiap bulan boleh dikunjungi satu kali." Suaranya tetap datar. "Total kunjungan: nol."

Tangan Kevin menegang pada setir.

Bentley sempat bergeser mendekati garis putih sebelum ia meluruskannya kembali. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada satu alasan pun yang keluar.

Keira tidak memberinya waktu untuk menyusun kebohongan.

"Jadi jangan bilang kalian tidak membuangku, Ko Kevin. Angkanya tidak setuju denganmu."

Panggilan itu terdengar sopan. Justru jaraknya membuat tengkuk Kevin kaku.

Ia menekan pedal gas lebih dalam. Gedung-gedung Tangerang tertinggal, digantikan jalan menuju Jakarta. Di layar navigasi, tujuan mereka muncul jelas: Pondok Indah.

Keira kembali memandang foto di bawah kaca spion. Vanessa berdiri di tengah, pipinya menempel pada bahu Kevin, mengenakan mahkota kecil dan senyum seorang putri yang tidak pernah kehilangan apa pun.

Sudut bibir Keira terangkat tipis.

Di rumah keluarga Pratama, sebuah pesta sambutan sedang menunggunya.

Episode 2

Bab 2

Pesta Sambutan yang Palsu

Pesta sambutan itu terlihat bahkan sebelum Bentley memasuki halaman rumah keluarga Pratama di Pondok Indah.

Karangan bunga berjajar di sepanjang pagar. Mobil-mobil mewah memenuhi jalur masuk. Dari balik jendela tinggi, lampu kristal berpendar di atas puluhan tamu yang berdiri sambil membawa gelas.

Keira menatapnya tanpa berkedip.

Lima tahun lalu, ketika polisi membawanya pergi dari rumah ini, tidak ada satu pun orang yang mengantar sampai gerbang. Hari ini, keluarganya mengundang separuh kalangan elite Jakarta untuk menyambut kepulangannya?

Ia hampir ingin tertawa.

Kevin menghentikan mobil di depan pintu utama. Seorang petugas valet segera berlari mendekat. Kevin keluar lebih dulu tanpa menunggu. Keira mengangkat kaki kirinya dengan kedua tangan, menurunkannya perlahan, lalu bertumpu pada pintu mobil.

Seorang pembantu rumah tangga yang tidak dikenalnya menghampiri dengan wajah tergesa.

"Kamu anak magang dari hotel, ya? Pintu staf di belakang." Tatapannya menyapu seragam abu-abu putih Keira. "Jangan lewat sini. Tamu sudah datang."

Keira memandang pintu besar yang pernah ia bersihkan diam-diam setiap kali Yolanda mengeluh ada sidik jari di permukaannya.

"Saya tinggal di sini."

Pembantu itu mengerutkan kening. "Di sini?"

"Dulu."

Kevin, yang sudah menaiki dua anak tangga, berbalik dengan wajah kesal. "Dia Keira. Buka pintunya."

Wajah pembantu itu langsung kehilangan warna. "Maaf, Tuan Kevin. Saya baru bekerja dua tahun. Saya tidak tahu..."

"Tidak apa-apa," kata Keira.

Memang tidak ada yang perlu dimaafkan. Foto Keira tidak pernah dipajang di rumah ini. Namanya tidak pernah disebut. Wajar jika orang baru mengira anak kandung keluarga Pratama sebagai pekerja kiriman hotel.

Begitu pintu terbuka, suara musik dan tawa menyambut mereka.

Sebuah layar besar berdiri di ujung aula. Foto Vanessa mengenakan toga memenuhi layar, dikelilingi tulisan emas: SELAMAT ULANG TAHUN DAN SUKSES UNTUK VANESSA.

Meja hadiah dipenuhi kotak bermerek. Di tengah ballroom kecil itu berdiri kue lima tingkat berwarna putih merah muda, dengan huruf V dari gula di puncaknya.

Tidak ada nama Keira.

Tidak ada satu pun tanda yang menyebut kepulangannya.

Jadi, inilah pesta sambutan yang dimaksud Kevin.

Sambutan untuk Vanessa.

"Kevin!"

Yolanda Pratama berjalan mendekat dalam gaun biru muda. Kalung berlian di lehernya memantulkan cahaya setiap kali ia bergerak. Senyumnya sempat muncul, lalu membeku ketika melihat Keira.

"Kenapa kamu membawanya masuk sekarang?" bisiknya. "Vanessa masih bersiap. Para tamu belum tahu Keira sudah pulang."

"Mama bilang ada pesta sambutan," jawab Kevin.

"Mama bilang kita sekalian menyambutnya. Acara utama tetap ulang tahun dan kelulusan Vanessa. Semua undangan sudah dikirim sebulan lalu."

Keira berdiri cukup dekat untuk mendengar setiap kata.

Edmond Pratama muncul dari antara para tamu. Setelan hitamnya sempurna, ekspresinya tidak. Matanya turun ke seragam Keira, kemudian ke kaki kirinya yang miring.

"Kamu tidak punya pakaian lain?" tanyanya tanpa salam.

Beberapa kepala mulai menoleh. Bisikan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain.

"Itu putri keluarga Pratama yang dipenjara?"

"Katanya baru bebas hari ini."

"Kenapa masih memakai seragam sekolah?"

Kevin mendengar bisikan itu. Wajahnya menegang.

"Kamu sengaja, ya?" Suaranya lebih keras dari yang diperlukan. "Datang memakai seragam lama supaya semua orang kasihan?"

Percakapan di dekat mereka perlahan berhenti.

Keira melihat pelayan membawa nampan sampanye menahan langkah. Seorang nyonya mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi, kameranya mengarah ke mereka.

Kalau keluarga Pratama ingin membuatnya menjadi tontonan, Keira tidak melihat alasan untuk melindungi kehormatan mereka.

"Aku tidak punya uang untuk membeli pakaian," jawabnya tenang.

Kevin tertawa pendek, tetapi tidak ada humor di sana. "Jangan mengada-ada. Setiap anak keluarga Pratama mendapat uang saku."

"Aku tidak."

"Bagian keuangan mentransfernya setiap bulan."

"Kalau begitu, telepon mereka."

Yolanda langsung memegang lengan Kevin. "Tidak perlu membahas uang di depan tamu. Mama akan meminta orang mencarikan baju untuknya."

Keira menangkap perubahan kecil pada wajah ibunya. Mata yang menghindar. Jari yang menekan terlalu kuat pada lengan Kevin.

Gerakan yang sama lima tahun lalu, saat Yolanda berkata rekaman CCTV di dekat tangga tiba-tiba hilang.

"Kenapa tidak perlu?" tanya Keira. "Ko Kevin yakin aku berbohong. Bukankah lebih baik dibuktikan?"

Tatapan para tamu kini benar-benar tertuju kepada mereka.

Kevin menarik ponselnya. "Baik."

Ia menekan nomor kepala bagian keuangan Pratama Group, lalu menyalakan pengeras suara. Nada sambung terdengar jelas di aula yang makin sunyi.

"Selamat sore, Pak Kevin," jawab suara lelaki dari seberang.

"Periksa rekening uang saku Keira Pratama. Berapa transfer terakhir yang dikirim kepadanya sebelum dia dipenjara?"

Terdengar suara papan ketik.

"Mohon tunggu sebentar, Pak."

Keira berdiri dengan satu tangan pada sandaran kursi. Kaki kirinya mulai berdenyut setelah perjalanan panjang, tetapi ia tidak mengubah posisi. Di depannya, Yolanda menahan napas. Edmond menatap ponsel itu seolah ingin menghancurkannya.

"Pak Kevin?"

"Ya."

"Tidak ada transfer kepada Nona Keira."

Alis Kevin berkerut. "Maksudmu bulan terakhir?"

"Bukan, Pak. Tidak ada satu pun transfer sejak akun tunjangan beliau dibuat. Selama tiga tahun sebelum masa penahanannya, jumlahnya nol rupiah."

Bisikan langsung pecah di seluruh ruangan.

Kevin menatap Keira, lalu Yolanda. "Kenapa?"

Suara dari ponsel terdengar ragu. "Ada instruksi tertulis dari Nyonya Yolanda untuk membatalkan tunjangan Nona Keira."

"Alasannya?"

"Di catatan internal tertulis..." Lelaki itu berhenti sejenak. "Nona Keira dibesarkan di panti asuhan dan dikhawatirkan menjadi mata duitan jika diberi akses ke uang keluarga."

Seseorang menarik napas tajam.

Yolanda memucat. "Itu bukan maksud Mama. Mama hanya ingin mendidiknya agar sederhana."

Keira menatap berlian di lehernya. Lalu kue lima tingkat, meja hadiah, dan gaun putih mahal yang baru saja dibawa dari mobil untuk Vanessa.

Kevin belum selesai. "Bagaimana dengan Vanessa?"

"Tunjangan Nona Vanessa dinaikkan dari lima puluh juta menjadi seratus juta rupiah per bulan pada tanggal yang sama."

Kali ini, tidak ada bisikan.

Keheningan jauh lebih kejam.

Seorang tamu menurunkan gelasnya perlahan. Perempuan yang memegang ponsel kini tidak lagi menyembunyikan kameranya. Para direktur dan sosialita Jakarta baru saja mendengar sendiri bagaimana putri kandung keluarga Pratama menerima nol rupiah, sementara anak yang mereka besarkan sebagai putri mendapat seratus juta setiap bulan.

"Cukup," kata Edmond. "Matikan teleponnya."

Kevin tidak bergerak.

"Kevin!" bentak Edmond.

Panggilan akhirnya terputus. Namun angka-angka itu sudah terlepas ke ruangan. Tidak ada yang bisa memasukkannya kembali ke laporan keuangan.

Yolanda mendekati Keira dengan senyum yang dipaksakan. "Nak, kita bicarakan ini setelah pesta. Sekarang naiklah ke kamar, ya. Mama akan meminta pembantu menyiapkan sesuatu."

Keira memandang tangan yang hendak meraih bahunya.

Yolanda menghentikannya di udara.

"Kamarku?" tanya Keira pelan. "Aku masih punya kamar di rumah ini?"

Wajah Yolanda makin pucat.

Kevin menatap ibunya, lalu Keira. Untuk pertama kalinya sejak tiba, kemarahannya kehilangan sasaran. Ia diam cukup lama, seolah baru melihat seragam pudar itu sebagai bukti, bukan pertunjukan.

Kemudian pandangannya jatuh pada lambang sekolah di dada Keira.

"Kamu sekolah di mana?"

Sudut bibir Keira terangkat sedikit.

"Kau bahkan tidak tahu aku sekolah di mana."

Episode 3

Bab 3

Nilai Sempurna yang Tersembunyi

"Kau bahkan tidak tahu aku sekolah di mana."

Kalimat Keira tidak diucapkan keras, tetapi berhasil membuat seluruh ballroom menunggu jawaban Kevin.

Kevin menatap lambang sekolah yang benangnya sudah terurai. "Bukankah kamu sekolah di SPH bersama Vanessa?"

Keira menggeleng.

"Vanessa yang sekolah di SPH. Aku di SMAN 1 Jakarta."

Seorang lelaki paruh baya di antara tamu mengangkat kepala. Ia mengenali lambang pada seragam itu, lalu mendekat setengah langkah.

"SMAN 1?" katanya. "Sekolah negeri dengan persaingan masuk paling ketat itu?"

"Ya."

Bisikan kembali menyebar.

Kevin masih tampak tidak percaya. "Kenapa tidak pernah bilang?"

Pertanyaan itu hampir membuat Keira kehilangan ketenangannya.

Ia pernah bilang.

Tiga tahun sebelum masuk penjara, Keira berdiri di depan ruang kerja Kevin dengan formulir pendaftaran di tangan. Saat itu usianya lima belas tahun. Seragam SMP-nya masih kebesaran karena berasal dari kotak sumbangan panti asuhan.

"Ko Kevin, aku butuh dua juta rupiah untuk daftar ulang dan ongkos bulan ini."

Kevin sedang berbicara melalui headset. Ia menutup mikrofon dengan telapak tangan, menatap Keira sekilas, lalu wajahnya langsung mengeras.

"Dua miliar? Baru beberapa minggu tinggal di rumah ini kamu sudah berani meminta sebanyak itu?"

"Bukan dua miliar. Dua juta, Ko. Aku bisa kembalikan setelah mendapat beasiswa."

"Jangan ganggu aku saat bekerja. Belajar dulu dari Vanessa bagaimana menjadi anak yang tahu diri."

Pintu ruang kerja ditutup di depan wajahnya.

Keira berdiri di lorong cukup lama sampai kertas di tangannya basah oleh keringat. Malam itu, ia mencari informasi beasiswa melalui komputer tua di gudang. Ia tidak pernah meminta lagi.

Ingatan itu berlalu dalam satu tarikan napas.

"Aku sudah bilang," jawab Keira. "Ko Kevin tidak mendengarkan."

Rahang Kevin mengeras. "Aku tidak ingat."

"Tentu saja. Bagi Ko Kevin, dua juta dan dua miliar terdengar sama kalau yang meminta adalah aku."

Beberapa tamu menahan ekspresi. Lelaki yang mengenali lambang sekolah tadi memandang Kevin dengan keterkejutan terbuka.

"Kamu pasti salah paham," sela Yolanda. "Kevin sangat sibuk waktu itu. Mama juga mengira biaya sekolahmu sudah diurus bagian rumah tangga."

"Bagian rumah tangga tidak tahu aku tinggal di sini."

Keira melirik pembantu yang tadi mengiranya anak magang hotel. Perempuan itu langsung menunduk, bukan karena bersalah, melainkan karena takut terseret ke dalam aib keluarga majikannya.

Edmond maju satu langkah. "Cukup membicarakan urusan keluarga di depan orang luar."

"Papa yang mengundang mereka," kata Keira. "Aku tidak."

Mata Edmond menyipit. "Jaga caramu bicara."

Tubuh Keira mengenali nada itu. Bahunya sempat menegang. Kulit punggungnya seolah mengingat bunyi sabuk yang ditarik dari pinggang. Namun kakinya tidak mundur.

Lima tahun lalu, satu tatapan Edmond cukup untuk membuatnya meminta maaf bahkan sebelum tahu kesalahannya.

Hari ini, ia terlalu lelah untuk takut.

Lelaki paruh baya tadi membuka percakapan dengan hati-hati. "Maaf, saya hanya penasaran. Tahun berapa kamu lulus dari SMAN 1?"

"Lima tahun lalu."

"Nama lengkapmu Keira Pratama?"

"Ya."

Pria itu terdiam, lalu menoleh kepada beberapa tamu di sampingnya. "Saya ingat namanya. Putri saya mengikuti seleksi olimpiade tahun itu. Keira Pratama selalu berada di peringkat pertama."

Kevin menatapnya tajam. "Peringkat pertama di kelas?"

Keira menjawab sebelum tamu itu sempat bicara. "Di angkatan. Setiap tahun."

"Tidak mungkin." Kevin menggeleng kecil. "Laporan yang kami terima bilang kamu sering membuat masalah dan nilaimu biasa saja."

"Laporan dari siapa?"

Kevin tidak menjawab.

Semua orang di ruangan itu tahu nama yang menggantung di antara mereka.

Vanessa.

Keira menggeser berat tubuh ke kaki kanan. Rasa sakit dari tulang kirinya merayap sampai pinggang. Ia menahan sandaran kursi lebih kuat, tetapi suaranya tetap tenang.

"Kalau Ko Kevin ingin bukti, catatan sekolahku masih ada. Piagamnya juga mungkin masih tersimpan di gudang, kalau belum dibuang."

"Piagam apa?"

"Peringkat pertama. Lomba matematika. Debat. Sains. Ada beberapa."

Kening Kevin berkerut makin dalam, seolah setiap jawaban mencabut satu bagian dari Keira yang selama ini ia kira ia kenal.

"Lalu setelah lulus?" tanya seorang tamu perempuan. "Kamu masuk universitas mana?"

Keira menatap layar raksasa dengan wajah Vanessa di atas tulisan kelulusan. Di bawahnya, meja hadiah dipenuhi kotak yang mungkin berisi jam, tas, dan perhiasan. Lima tahun lalu, ketika surat penerimaannya tiba, Keira hanya menyelipkannya ke bawah kasur lipat agar tidak terinjak.

"UI."

Suara gelas menyentuh meja terdengar dari belakang.

"Jurusan apa?" tanya lelaki paruh baya itu.

"Aku diterima melalui hasil UTBK. Nilainya sempurna."

Ballroom benar-benar sunyi.

Kevin menatap Keira seolah baru pertama kali melihat wajah adiknya. "Nilai sempurna?"

"Surat penerimaannya ada di gudang."

Yolanda menggenggam tas kecilnya. "Kenapa kamu menyimpan surat penting di gudang?"

Keira menoleh perlahan.

"Karena itu kamarku."

Satu kalimat itu jatuh lebih berat daripada semua angka sebelumnya.

Tamu-tamu yang sejak tadi berusaha menjaga sopan santun mulai saling bertukar pandang tanpa menyembunyikannya. Rumah keluarga Pratama memiliki tiga lantai, kamar tamu berderet, dan sayap belakang yang cukup luas untuk staf. Namun putri kandung mereka menyebut gudang sebagai kamar.

"Tidak mungkin kami menempatkanmu di gudang," kata Kevin.

"Ada ranjang lipat dan meja tua di sana. Tidak ada jendela. Ko Kevin boleh melihatnya sendiri."

"Kenapa kamu tidak pernah mengeluh?"

Keira tersenyum tipis. Pertanyaan Kevin selalu datang terlambat.

"Kalau aku mengeluh, siapa yang akan mendengar?"

Kevin membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Yolanda mengangkat tisu ke sudut mata. Air mata muncul tepat ketika semakin banyak tamu menatapnya.

"Keira, Mama benar-benar tidak tahu semuanya separah ini. Mama pikir kamu nyaman. Kamu selalu bilang tidak apa-apa."

"Aku bangun pukul empat pagi," ujar Keira.

Tisu di tangan Yolanda berhenti.

"Dari sini aku naik angkot, lalu KRL. Kalau tidak terlambat berganti kendaraan, perjalanan ke sekolah sekitar dua jam."

"Kamu bisa minta sopir," kata Kevin cepat.

"Vanessa memakai mobil dan sopir untuk pergi ke SPH. Aku dilarang ikut karena arah kami berbeda."

"Seharusnya ada mobil lain."

"Ada. Papa bilang bahan bakarnya terlalu mahal untuk mengantar anak yang bukan siapa-siapa."

Semua mata beralih kepada Edmond.

Wajah lelaki itu berubah gelap. "Jangan memelintir kata-kataku."

"Aku tidak perlu memelintir apa pun. Kata-kata Papa sudah cukup tajam."

Edmond hendak mendekat, tetapi beberapa ponsel yang terangkat membuat langkahnya tertahan. Di ruang rapat, ia bisa memerintah orang menutup pintu. Di depan puluhan mitra bisnis dan keluarga elite Jakarta, satu gerakan kasar akan langsung menjadi rekaman.

Keira melanjutkan, "Aku tidak mendapat uang makan. Saat istirahat, aku minum air putih di dekat ruang guru. Malam hari aku menunggu sampai semua selesai makan, lalu mengambil sisa dari dapur."

Seorang pembantu lama di dekat pintu dapur menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk kecil, nyaris tidak terlihat, membenarkan setiap kata.

Kevin melihat gerakan itu.

Warna wajahnya memudar.

"Tiga tahun?" tanyanya, suara mulai serak. "Kamu melakukan itu selama tiga tahun?"

"Tidak setiap hari. Kadang tidak ada sisa."

Kalimat sederhana itu membuat seorang tamu perempuan menunduk. Di seberang ruangan, seorang lelaki mematikan ponselnya setelah mengirim pesan. Aib keluarga Pratama tidak lagi berada di dalam rumah. Ia sedang bergerak ke grup WhatsApp, meja arisan, dan ruang direksi Jakarta.

Yolanda mulai menangis sungguhan, atau setidaknya air matanya kini jatuh lebih cepat.

"Maafkan Mama, Nak. Mama lalai. Mama terlalu banyak urusan. Kalau Mama tahu, Mama pasti tidak akan membiarkanmu kelaparan."

Keira memandang perempuan yang melahirkannya.

Ia teringat sebuah layar CCTV yang mati. Teringat Yolanda memegang kedua tangannya di kantor polisi dan berbisik, "Kamu lebih kuat dari Vanessa. Akui saja dulu. Mama akan menolongmu nanti."

Pertolongan itu tidak pernah datang.

Seperti uang saku. Seperti mobil sekolah. Seperti kunjungan ke penjara.

"Tante Yolanda tidak perlu meminta maaf," kata Keira.

Tangis Yolanda terputus. "Tante?"

"Anda memang tidak pernah salah, setidaknya di mata Anda sendiri. Bukan saat uangku dihentikan. Bukan saat rekaman yang bisa menyelamatkanku tiba-tiba hilang."

Mata Yolanda melebar.

Edmond langsung memotong, "Jangan membuka kasus lama tanpa bukti."

"Aku tidak bilang rekaman apa."

Edmond membeku.

Beberapa tamu menangkapnya. Bisikan baru muncul, kali ini lebih tajam. Yolanda memegang lengan suaminya, tetapi Edmond menepisnya.

Kevin berdiri di antara mereka dengan wajah pucat. Ia melihat seragam Keira, kaki yang bengkok, lalu meja hadiah Vanessa. Setiap benda di ruangan itu seolah sedang menuduhnya.

"Kei..." Untuk pertama kalinya, panggilan itu tidak terdengar seperti teguran. "Surat UI itu masih ada?"

"Seharusnya."

"Aku akan mencarinya."

"Untuk apa?"

Kevin tidak punya jawaban. Memastikan bahwa adiknya memang jenius tidak akan mengembalikan lima tahun. Menemukan surat itu juga tidak akan membuat Keira sempat menjalani satu hari pun sebagai mahasiswa UI.

Sebelum siapa pun sempat bicara lagi, pintu ballroom terbuka.

Seorang gadis melangkah masuk dengan gaun desainer putih bernilai ratusan juta rupiah. Berlian kecil berkilau di telinganya. Rambutnya ditata lembut, senyumnya manis seperti wajah di layar raksasa.

Semua kepala menoleh kepadanya.

"Ko Kevin, aku pulang!"

Vanessa berjalan masuk dengan tangan terbuka, siap menerima pelukan yang selalu menunggunya.

Keira memandang wajah perempuan yang lahir pada hari yang sama dengannya itu.

Tatapannya sedingin pintu besi yang baru tertutup pagi tadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!