Indonesia
NovelToon NovelToon

Aversion To You

001

Lantai marmer putih Italia di kediaman Carser terasa sedingin es yang meresap hingga ke balik tulang. Namun, dinginnya ubin di bawah telapak kaki Aurora Borealis yang gemetar tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang menghantam tubuhnya.

Setiap incinya berdenyut kepayahan. Bekas jahitan operasi caesar yang belum genap tiga bulan berlalu itu menyengat ngilu setiap kali ia mengayunkan langkah yang terlalu lebar, seolah benang-benang di bawah kulitnya dipaksa membentang di batas putus.

Di dalam dekapannya, Draco—putra kecilnya—terkulai lemas.

Bayi mungil itu baru saja menerima suntikan cairan infus di ruang gawat darurat akibat dehidrasi dan demam tinggi. Napasnya yang kecil terasa hangat berembus kencang di ceruk leher Aurora, rapuh seperti kepakan sayap burung gereja di tengah badai.

Aurora mengecup puncak kepala bayinya yang halus, menghirup aroma bedak dan antiseptik rumah sakit yang bercampur di sana. Matanya sayu, dinaungi lingkaran hitam pekat dari malam-malam tanpa tidur.

Namun, di dalam istana bergaya neoklasik yang berdiri megah di kawasan elit ini, ketenangan adalah kemewahan yang tak pernah sudi disinggahi.

"Bisakah kau bergerak lebih cepat, Aurora Borealis?!"

Suara Jonathan Carser—suaminya—menggelegar dari balik pilar gading di ruang tengah.

Suaranya memantul kasar di langit-langit yang dihiasi lukisan fresco, memecahkan kesunyian rumah yang dingin. Jonathan berdiri tegak di dekat tangga melingkar, tampak begitu sempurna tanpa cela.

Pria itu dibalut setelan tuxedo pesanan khusus dari penjahit ternama di Milan—potongan bahunya yang tegas dan warna hitam pekatnya membuat Jonathan tampak bak pangeran yang melangkah keluar dari sampul majalah bisnis internasional.

Tanpa sedikit pun melirik ke arah Aurora yang bersusah payah melangkah, Jonathan menatap jam tangan Chronograph kemewahannya dengan raut wajah yang dipenuhi kekesalan.

"Kau terlalu lambat! Jangan biarkan kolega terpenting ku menunggu di restoran hanya karena kau tidak punya otak untuk mengatur waktu!" bentak Jonathan lagi.

Wajah tampannya yang terukir sempurna kini mengeras oleh amarah. Seolah-olah setiap detik yang terbuang dari hidupnya adalah kerugian bernilai jutaan dolar yang tak terampuni.

Aurora menghentikan langkahnya di dekat pilar. Bahunya naik turun menyusun napas yang compang-camping.

"Aku baru saja kembali dari rumah sakit, Jonathan," bisiknya. Suaranya parau, tersendat di tenggorokan yang kering.

"Draco dehidrasi parah. Tubuhnya sempat kejang tadi siang. Aku butuh waktu sebentar saja untuk menidurkannya, memberi instruksi pada pengasuh, dan berganti pakaian. Aku... aku sangat lelah."

Bukannya luluh, kata 'lelah' itu justru menyulut sulur api di mata Jonathan. Langkah kakinya yang mantap terdengar mengancam di atas lantai marmer saat ia mendekat.

Pria itu tidak menghampiri untuk membelai pipi istrinya yang pucat, tidak pula untuk memeriksa suhu tubuh anaknya yang terlelap. Sebaliknya, Jonathan mencengkeram rahang Aurora dengan jemarinya yang kaku, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang sedingin baja.

"Lelah?" Jonathan mendengus sinis, bibirnya terangkat membentuk cemoohan yang tajam. "Kau terlalu banyak menghabiskan waktu bertingkah sentimental bersama putramu itu sampai lupa siapa yang memberimu makan di rumah ini! Sedikit-sedikit putramu, sedikit-sedikit Draco menangis. Kau sengaja mencari-cari alasan konyol untuk menghindari kewajibanmu sebagai Nyonya Carser di sampingku!"

Aurora merintih, bukan hanya karena cengkeraman pada rahangnya, melainkan karena sebutan itu. Putramu.

Kata itu diucapkan Jonathan bagaikan mata belati berkarat yang dihunus tanpa ampun, merobek dada Aurora berkali-kali.

Sejak hari pertama Draco lahir ke dunia, Jonathan menolak mengakui bayi itu.

Pria itu membangun benteng tuduhan yang tak tertembus, menjadikan kehadiran Draco sebagai senjata psikologis untuk menyiksa batin Aurora setiap hari.

"Bagaimana mungkin Draco hanya putraku, Jonathan?" Suara Aurora bergetar hebat, diselimuti tangis yang tertahan di balik kelopak matanya.

Tapi di dasar jiwanya yang paling dalam, ada percikan keberanian yang menolak untuk padam. "Dia anakmu juga! Berhenti bicara seolah-olah kau tidak punya andil dalam kehadirannya di dunia ini. Dia darah dagingmu!"

Mendengar itu, Jonathan justru tertawa. Tawa yang keluar dari tenggorokannya terasa begitu kering, dingin, dan sama sekali tak menyisakan kehangatan manusiawi.

Pria itu memiringkan kepalanya, membisikkan kata-kata beracun tepat di samping telinga Aurora—napas hangatnya terasa seperti hembusan angin dari neraka.

"Darah dagingku? Bagaimana mungkin kau dinyatakan hamil delapan minggu di saat usia pernikahan kita baru berjalan dua minggu? Jawab aku, Aurora Borealis! Secara Medis, itu konyol. Secara medis, itu mustahil!"

DEG.

Tubuh Aurora seketika membeku. Seluruh darah di dalam pembuluh darahnya serasa berhenti mengalir.

Rahasia yang selama ini menggerogoti jiwanya—kebingungan dan ketakutan luar biasa yang bahkan tak berani ia telusuri sendiri jawabannya—kini dihantamkan Jonathan tepat di hadapan wajahnya.

Pernikahan mereka beberapa bulan lalu digadang-gadang sebagai Wedding of the Century.

Pesta megah digelar tiga hari tiga malam, mempertemukan konglomerat bisnis dan pejabat tinggi negara. Namun, baru dua minggu mengarungi hidup sebagai suami istri, Aurora jatuh pingsan di tengah acara jamuan teh.

Dan saat dilarikan ke rumah sakit, vonis dokter membalikkan dunianya seketika: usia kandungannya sudah akan memasuki minggu kesembilan.

Sejak detik berdarah itu, surga semu yang dijanjikan Jonathan hancur tak berbekas.

Tatapan memuja dan perlakuan lembut pria itu berganti menjadi kebencian dingin yang pekat. Jonathan menolak tidur di kamar yang sama. Ia mengunci pintu hatinya, menjadikan Aurora tak lebih dari sekadar pajangan berkelas yang hanya dipamerkan di depan kamera media atau jamuan kolega tinggi.

"Kau tahu aku tidak pernah mengkhianatimu, Jonathan," bisik Aurora, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang tirus. "Aku milikmu sejak malam pertama kita... aku tidak pernah disentuh pria lain sejak kita bersama."

"Milikku?" Jonathan melepaskan cengkeramannya pada rahang Aurora secara kasar, membuat wanita itu tersentak ke belakang. Ia memandang Aurora dari atas ke bawah dengan pandangan paling merendahkan yang bisa dihimpun seorang manusia.

"Jangan pernah berani bersumpah palsu di depanku. Kau pikir aku lupa siapa yang memilikimu sebelum aku? Kau pikir aku lupa pada sosok Braxley Valerio-Desmon?"

Nama itu diucapkan Jonathan seperti sebuah kutukan. Aurora merasa napasnya tertahan di kerongkongan.

"Pria arogan itu tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang pernah menjadi 'miliknya' pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak, bukan?" lanjut Jonathan dengan suara merendah yang sarat ancaman.

"Kau sendiri yang mengaku padaku sebelum kita menikah bahwa kau sudah tidak lagi murni! Kau yang bilang padaku bahwa Braxley telah mengambil segalanya darimu di Los Angeles! Jadi, jangan bersikap seolah aku pria bodoh yang bisa kau tipu dengan hitungan kalender kehamilan konyolmu ini!"

"Tidak! Demi Tuhan, Jonathan, itu tidak benar!" jerit Aurora tertahan, matanya membelalak panik. "Aku dan Braxley sudah benar-benar selesai! Kami putus hubungan secara total dua tahun penuh sebelum aku pertama kali bertemu denganmu!"

"Lalu jelaskan padaku kenapa Draco lahir dengan bentuk mata yang tajam, garis rahang, dan aura pemberontak yang sama sekali tidak mirip denganku?!" bentak Jonathan, suaranya menggelegar memenuhi lorong.

Gertakan keras itu memecahkan kesunyian. Draco yang berada dalam pelukan Aurora tersentak kaget dari tidur lelapnya.

Bayi mungil itu mulai menangis melengking, jeritannya sarat akan ketakutan mendalam.

Jonathan sama sekali tak tersentuh oleh tangisan darah daging yang selalu ia sangkal itu. Pria itu menunjuk wajah Aurora dengan jari telunjuknya yang kaku.

"Bawa anak itu ke atas sekarang! Ganti bajumu! Pakai gaun malam hitam yang kubelikan minggu lalu, dan tutupi wajah pucatmu itu dengan makeup tebal! Aku tidak sudi para kolega di pesta malam ini melihat istri seorang Jonathan Carser tampak lusuh dan berantakan seperti pelayan yang kelelahan!"

Tanpa menunggu balasan, Jonathan berbalik kasar. Langkah kakinya bergema tajam saat ia meninggalkan Aurora yang berdiri gemetar di tengah lorong yang dingin.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di depan cermin meja rias bertatahkan ukiran emas di kamar utama, Aurora berdiri mematung. Jemarinya yang gemetaran hebat memegang erat sebuah tabung lipstik berwarna merah darah.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri di balik kaca transparan.

Di sana, berdiri sesosok wanita bergaun silk velvet hitam berpotongan off-shoulder yang memeluk lekuk tubuhnya yang tirus.

Riasan smokey eyes dan bedak padat menutup sempurna lingkaran hitam di bawah matanya, memoles wajahnya dengan kecantikan yang dingin dan tajam. Ia terlihat bagaikan mahakarya lukisan yang sempurna—cantik, megah, namun mati di dalam.

Bagaimana mungkin ia bisa hamil secepat itu?

Pertanyaan mengerikan itu adalah hantu yang selalu berbisik di telinganya setiap kali kegelapan malam tiba.

Sejak diagnosis kehamilan Delapan Minggu itu keluar, Aurora tidak pernah berani meminta pendapat dari dokter lain. Ia terlalu ketakutan. Ia takut jika ia menggali lebih dalam, sebuah kenyataan medis yang tak masuk akal akan terkuak dan memusnahkan sisa-sisa kehidupannya. Ia takut Jonathan akan menggunakan hasil laboratorium sebagai bukti sah untuk membuangnya ke jalanan, membencinya seumur hidup, dan yang paling mengerikan: merebut Draco darinya.

Secara tak sadar, memori Aurora terlempar kembali menembus waktu, melintasi ribuan mil menuju sebuah penthouse mewah di Los Angeles dua tahun lalu.

Malam terakhirnya bersama Braxley Valerio-Desmon.

Malam yang dipenuhi badai amarah, derai air mata keputusasaan, dan gairah liar yang menyakitkan saat hubungan mereka hancur berkeping-keping.

Belum siap kehilangan masa mudanya, dan yang paling utama, belum siap terikat selamanya dengan rasa takut akan penolakan keluarga Braxley Valerio-Desmon. Ia terus-menerus mengonsumsi obat kontrasepsi darurat secara diam-diam, hingga suatu hari Braxley menemukannya.

Hari itu adalah hari terakhir mereka sebagai pasangan. Braxley tidak berteriak. Ia hanya menatap Aurora dengan kekecewaan yang begitu dalam hingga Aurora merasa lebih baik dipukul.

"Kandunganmu akan rusak jika kau sering mengonsumsi obat itu secara berlebihan, Sayang," ujar Braxley dengan nada yang sangat lembut namun mematikan. Ia mengelus rambut Aurora untuk terakhir kalinya.

"Aku selalu menggunakan pengaman untuk selang-seling karena aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Aku menjagamu, tapi kau justru menghancurkan dirimu sendiri karena tidak percaya padaku."

Braxley Valerio-Desmon pergi membawa rasa sakitnya.

Namun, perpisahan itu sudah berlalu sangat lama sebelum ia mengenal Jonathan. Secara logika medis mana pun, tidak ada kehamilan yang bisa bersembunyi selama belasan bulan tanpa terdeteksi!

Tapi mengapa... mengapa raut wajah Draco saat lahir membuat dadanya sendiri berdesir ketakutan? Mengapa mata bayi itu memiliki kilat ketajaman yang begitu familiar?

Aurora memejamkan mata rapat-rapat. Setetes air mata menetes, merusak garis eyeliner di sudut matanya.

Dengan cepat, ia mengusapnya kasar dan menorehkan lipstik merah menyala itu ke bibirnya. Warna merah yang berani itu adalah topengnya malam ini. Ia harus berpura-pura. Ia harus kembali memerankan lakon Nyonya Carser yang bahagia, terpelajar, dan dicintai di samping suaminya.

Setelah merapikan penampilannya, Aurora melangkah dengan anggun menuju kamar bayi di ujung lorong.

Di sana, seorang pengasuh berseragam rapi sudah menunggu. Aurora membungkuk di atas boks bayi, mendaratkan ciuman lembut di kening putranya yang hangat.

"Kau adalah anak Jonathan Carser, Sayang," bisik Aurora di telinga bayi mungilnya. Suaranya bergetar penuh tekad. "Ibu akan membuktikannya pada dunia. Ibu tidak pernah berbohong... Ibu tidak pernah mengkhianati ayahmu."

Di pelataran luar yang megah, mobil sedan hitam keluaran Jerman sudah menyala. Jonathan duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan raut wajah kaku. Ketika Aurora membuka pintu penumpang dan duduk di sampingnya, tidak ada patah kata pujian yang keluar.

Tidak ada tatapan kagum pada gaun hitam yang membingkai tubuh istrinya.

"Pasang senyum terbaikmu," perintah Jonathan dingin saat mobil mulai melaju membelah malam yang basah oleh sisa hujan.

"Malam ini, para petinggi tertinggi dari Desmon Group akan hadir di perjamuan gala. Ini adalah proyek akuisisi bernilai triliunan rupiah yang menentukan masa depan perusahaan keluargaku. Jangan berani-berani mempermalukanku dengan wajah melankolismu di depan mereka!"

Mendengar nama konsorsium raksasa itu diucapkan, tubuh Aurora mendadak kaku.

Desmon Group.

Konglomerasi multinasional berskala global yang dikuasai penuh oleh dinasti keluarga Valerio-Desmon. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam-dalam di dasar ingatan, kini mendadak muncul dan menghantam dadanya tanpa peringatan.

"Siapa... siapa yang akan hadir mewakili pihak Desmon malam ini?" tanya Aurora. Suaranya kecil dan goyah, hampir tenggelam oleh derum halus mesin mobil.

Jonathan melirik sekilas dari sudut matanya. Sebuah senyuman tipis yang sangat kejam dan penuh teka-teki tersungging di bibirnya yang kaku.

"CEO baru mereka. Seseorang yang baru saja menyelesaikan 'pelarian' panjangnya di Eropa setelah bertahun-tahun menghilang," jawab Jonathan dengan nada santai yang sarat racun. "Kau pasti mengenalnya dengan sangat baik, bukan?"

Bum!

Bagaikan disambar petir di tengah lautan es, Aurora mencengkeram tas genggam berbahan kulit di pangkuannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia di sekelilingnya seolah berputar hebat tanpa kendali.

Braxley Valerio-Desmon telah kembali.

Pria yang pernah menjadi badai terbesar dalam hidupnya, pria yang menjadi alasan dari seluruh penderitaan dan keraguan suaminya, kini telah menjejakkan kaki kembali di kota ini.

Dan dalam hitungan menit, Aurora harus melangkah ke dalam panggung perjamuan berkelas, berdiri di bawah sorotan lampu chandelier yang menyilaukan—sebagai istri dari pria yang membencinya, dan ibu dari seorang bayi yang menyandera rahasia tergelap dalam hidupnya.

Mobil sedan hitam itu terus melaju cepat, menembus kegelapan malam menuju gedung perkotaan yang menjulang tinggi. Aurora menatap keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota yang membias buram di balik kaca mobil yang basah—seburam masa depan dan takdir yang siap menerjangnya malam ini.

🌷🌷

Novel ini sequel dari novel "Not Our Time" Cerita Putra Austin Jaxon-Desmon (AJ). Happy reading 🦋

002

Ruangan privat di restoran The Obsidian itu terasa begitu menyesakkan, meski sistem pendingin udaranya bekerja sempurna.

Lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan membiaskan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Aurora, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang memanjangkan bayang-bayang ketakutannya.

Di seberang meja bundar itu, duduklah pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Braxley Valerio-Desmon.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh dan garis wajahnya yang semakin matang. Namun, yang paling menyakitkan bagi Aurora bukanlah penampilannya, melainkan matanya.

Mata biru kelabu yang dulu selalu berbinar dan mencari sosok Aurora di tengah keramaian high school hingga jenjang universitas, kini telah tiada.

Saat mata mereka bersinggungan, Braxley hanya menatapnya dengan pandangan dingin, kosong, dan asing—seolah Aurora hanyalah sekadar ornamen di ruangan itu, atau mungkin hanya istri dari kolega bisnis yang membosankan.

Tidak ada sapaan hangat, tidak ada getaran rindu, bahkan tidak ada benci yang nyata. Hanya kehampaan yang luar biasa.

Aurora menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat hancur di depan semua orang, terutama di hadapan pria yang pernah melihatnya di titik paling rapuh. Ia memaksa fokus pada pembicaraan bisnis yang mengalir.

Sebagai lulusan komunikasi bisnis di Los Angeles, istilah-istilah tentang akuisisi, merger, dan persentase saham bukanlah hal asing baginya.

"Saya rasa, perluasan pasar ke wilayah Asia Tenggara akan lebih stabil jika Desmon Group menggunakan infrastruktur logistik yang sudah dibangun oleh Carser," ujar Aurora tiba-tiba, menyela pembicaraan teknis antara Jonathan dan Clark–Asisten kepercayaan Braxley.

Jonathan tampak sedikit terkejut istrinya berani bicara, namun ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan kekesalan.

"Istriku selalu memiliki insting yang tajam," sahut Jonathan, walau nada suaranya terdengar seperti sedang memuji pajangan yang pintar bicara.

Braxley bahkan tidak menoleh ke arah Aurora saat ia merespons. "Kita lihat datanya nanti, Clark," ucapnya singkat.

Suaranya berat dan rendah, mengirimkan gelombang nostalgia yang menyakitkan langsung ke ulu hati Aurora.

Di tengah ketegangan itu, atmosfer di dalam ruangan mendadak bergeser menjadi makin ganjil.

Di sisi kiri Jonathan, duduk Berenda—asisten pribadi suaminya. Berenda mengenakan gaun yang sedikit terlalu berani untuk acara makan malam bisnis, dan wanita itu duduk sangat dekat dengan Jonathan, menyisakan jarak yang nyaris tak bertuan.

Aurora menatap Berenda dengan perasaan campur aduk.

Berenda adalah temannya saat masa-masa sulit di tempat kerjanya dulu. Aurora pulalah yang merekomendasikan Berenda kepada Jonathan saat wanita itu membutuhkan pekerjaan beberapa bulan lalu. Namun sekarang, melihat bagaimana Jonathan sesekali berbisik pada Berenda atau bagaimana Berenda dengan cekatan menuangkan air ke gelas Jonathan sebelum Aurora sempat melakukannya, sebuah kecurigaan pahit mulai tumbuh dan menggerogoti dadanya.

"Maaf, saya izin ke toilet sebentar," ujar Berenda dengan suara lembut yang dibuat-buat, sambil melirik Jonathan dengan tatapan yang sangat dikenal Aurora: tatapan memuja.

"Tentu," jawab Jonathan halus. "Oh, sekalian saja. Saya dengar restoran ini baru saja mendatangkan Vintage Bordeaux dari tahun 2005. Aku akan pergi ke gudang anggur mereka sebentar untuk memastikan mereka menyajikannya dengan benar untuk tamu kehormatan kita. Braxley, kau tidak keberatan menunggu sebentar?"

Braxley hanya mengangguk kecil, masih tanpa ekspresi.

Begitu Jonathan dan Berenda melangkah keluar dari ruangan, keheningan yang mencekam langsung menyergap.

Di meja itu kini hanya tersisa Aurora, Braxley, Clark, dan seorang wanita cantik di sebelah Braxley yang sejak tadi diam mengamati.

Baxeena Valerio-Desmon.

Kakak kandung Braxley itu menatap Aurora dengan binar mata yang sangat berbeda dari adiknya.

Apartemen Xeena adalah saksi bisu bagaimana seringnya Braxley menemani Aurora sejak mereka di bangku high school. Xeena tahu segalanya—tentang tawa mereka, pertengkaran kecil, hingga kehancuran yang menyisakan luka mendalam.

"Lama tidak bertemu, Aurora," Xeena memecah kesunyian. Suaranya hangat, sangat kontras dengan aura dingin adiknya.

"Lama tidak bertemu, Kak Xeena," jawab Aurora dengan senyum kaku. Ia bisa merasakan tatapan Braxley yang kini tertuju pada gelas anggurnya, seolah benda kaca itu jauh lebih menarik daripada keberadaan Aurora di sana.

"Kau beruntung cepat menikah," Xeena melanjutkan, mencoba mencairkan suasana. "Dan kudengar juga kau baru saja melahirkan? Berita itu sampai ke telingaku."

Aurora mengangguk pelan. "Ya, baru beberapa bulan yang lalu."

"Oh, congratulations!" Xeena tersenyum tulus. "Laki-laki atau perempuan? Siapa namanya? Aku selalu membayangkan kau akan memiliki anak-anak yang cantik."

Mendengar pertanyaan itu, Aurora merasa tenggorokannya tercekat seketika. Ia sempat melirik ke arah Braxley.

Untuk sepersekian detik, tangan Braxley yang memegang batang gelas tampak menegang hebat hingga buku-buku jarinya memutih, namun wajahnya tetap keras bagaikan pahatan batu es.

"Laki-laki," jawab Aurora lirih. "Namanya... Draco."

"Draco," Xeena mengulangi nama itu dengan nada manis. "Nama yang kuat. Apakah dia mirip dengan ayahnya? Jonathan pasti sangat bangga."

Pertanyaan basa-basi itu terasa seperti sabetan sembilu bagi Aurora.

Apakah dia mirip ayahnya?

Di kepalanya, terbayang wajah Draco yang tadi terbaring kejang dan dehidrasi, wajah bayi yang memiliki bentuk mata dan garis rahang yang persis dengan pria yang kini duduk di depannya—pria yang berpura-pura tidak mengenalnya.

"Dia... dia anak yang tampan," Aurora menjawab dengan suara tersendat, sebisa mungkin menghindari jawaban tentang kemiripan.

Klunting!

Braxley tiba-tiba meletakkan gelasnya ke atas meja dengan denting nyaring yang mengejutkan.

"Kak Xeena, kita di sini untuk bisnis, bukan untuk membicarakan urusan pribadi orang lain," potong Braxley tajam, suaranya mengandung nada memperingatkan.

Xeena mendengus pelan, tidak sedikit pun gentar pada gertakan adiknya. "Ayolah, Brax. Kita sudah lama tidak bertemu Aurora. Tidak ada salahnya bertanya tentang bayinya."

Braxley akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menembus lurus, memotong udara tipis di antara mereka hingga bertemu tepat dengan mata Aurora.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada kilatan emosi di sana—bukan cinta, melainkan sesuatu yang menyerupai amarah yang ditekan sedalam mungkin di balik samudra benci.

"Nama yang bagus," ujar Braxley dingin, suaranya pelan namun menusuk. "Semoga anak itu tidak mewarisi sifat ibunya yang... sulit diprediksi."

Aurora merasa napasnya tertahan di dada. Kata-kata itu adalah serangan terbuka.

Braxley masih menyimpan dendam atas bagaimana Aurora mengakhiri hubungan mereka secara brutal bertahun-tahun lalu.

Sebelum Aurora sempat menghimpun kata-kata untuk membalas, pintu ruangan privat itu terdorong terbuka.

Jonathan masuk bersama Berenda. Mereka tampak sedikit terengah-engah, dan matanya yang jeli menangkap noda lipstik yang sedikit berantakan di sudut bibir Berenda—yang segera dihapus oleh wanita itu dengan gerakan mengusap yang cepat dan canggung.

"Anggurnya akan segera datang," ujar Jonathan dengan nada riang yang terdengar begitu palsu dan berisik di telinga Aurora.

Aurora memandang suaminya yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa, lalu beralih menatap Berenda yang menunduk berpura-pura sibuk dengan ponselnya, dan terakhir menatap Braxley yang kembali memasang topeng dinginnya.

Ia terjebak di dalam panggung perjamuan yang dipenuhi pengkhianatan dan masa lalu yang belum usai.

Jonathan dengan skandal terselubungnya, Braxley dengan kebencian dan dendam yang berkobar, dan dirinya sendiri—seorang wanita yang gemetar memegang rahasia paling berbahaya tentang siapa sebenarnya ayah kandung dari bayi mungil yang ia tinggalkan di rumah.

Malam itu, Aurora menyadari satu hal: Braxley tidak hanya menganggapnya asing. Braxley sedang menghukumnya dengan cara yang paling kejam—dengan berpura-pura bahwa masa Lima tahun mereka tidak pernah ada, seolah-olah Aurora hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatunya yang mahal.

Namun, di balik sikap dingin itu, Aurora tahu. Kenapa Braxley tampak begitu terluka saat nama "Draco" diucapkan?

003

Restoran The Obsidian seakan menjadi saksi bisu atas drama yang tak kasatmata namun menyesakkan dada. Aroma daging panggang premium dan anggur merah tahun 2005 yang baru saja dituang Jonathan ke gelas masing-masing tidak mampu mencairkan kebekuan di antara mereka.

Udara di dalam ruangan privat itu terasa begitu tebal, dipenuhi kepalsuan, ego pria, dan dendam lama yang merayap pekat.

Aurora duduk dengan punggung tegak kaku. Jari-jarinya yang gemetar disembunyikan rapat-rapat di bawah meja, meremas kuat kain gaun silk velvet hitamnya yang mahal hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa nyeri di perut bawahnya—bekas jahitan operasi caesar yang baru berusia beberapa Minggu—terus berdenyut memprotes setiap gerakan kecil, namun rasa sakit fisik itu kalah pekat dibandingkan kehampaan yang merajai dadanya.

Di sampingnya, Jonathan tampak begitu bersemangat. Ia tertawa lebar, sesekali menyentuh lengan Berenda—asisten pribadinya—dengan dalih memberikan instruksi dokumen atau sekadar meminta tablet kerja.

Aurora melihat itu semua dengan tatapan dingin. Ia menyaksikan bagaimana binar mata Jonathan saat menatap Berenda jauh lebih hidup dan penuh kehangatan dibandingkan saat pria itu menatap Draco yang terbaring lemah di rumah sakit.

"Jadi, Braxley," Jonathan memulai, suaranya mengandung nada sok akrab yang memuakkan, sengaja dibikin berat untuk mengimbangi aura pria di depannya.

"Bagaimana rasanya kembali ke sini setelah bertahun-tahun di Eropa? Kudengar kau membangun dinasti baru di sana. Desmon Group sekarang menjadi raksasa yang makin menakutkan di pasar global."

Braxley mengangkat gelas kristalnya, menyesap anggur merah itu dengan gerakan lambat dan elegan—sebuah gestur yang mendadak melempar memori Aurora kembali ke masa lalu.

Dulu, di pinggir lapangan basket kampus, Braxley akan meminum soda langsung dari kaleng dengan gestur maskulin yang sama santainya.

Kini, pemuda arogan dengan jaket kulit itu telah sepenuhnya berubah menjadi seorang taipan dingin tanpa cela.

"Bisnis adalah bisnis, Jonathan. Tempat tidak relevan selama ada keuntungan yang masuk akal," jawab Braxley datar. Suaranya serak dan tenang, matanya tak sekalipun melirik ke arah Aurora, seolah-olah wanita yang duduk di seberangnya hanyalah benda mati yang tak disengaja berada di ruangan itu.

"Tentu, tentu saja," Jonathan manggut-manggut penuh simpati buatan. "Aku sangat menghargai prospek kerja sama ini. Apalagi istriku, Aurora, dia juga sangat antusias. Dia bahkan sempat belajar banyak tentang profil perusahaanmu sebelum kita berangkat ke acara makan malam ini."

Aurora tersentak kecil di kursinya.

Itu bohong. Jonathan bahkan tidak memberitahunya siapa yang akan mereka temui sampai sedan hitam mereka berada di tengah jalanan kota.

Jonathan hanya sedang memainkan peran sebagai suami sempurna dan suportif di depan rekan bisnis kelas atas.

"Benarkah?" Baxeena, kakak kandung Braxley, menimpali dengan senyum penuh arti. "Aurora memang selalu pintar sejak dulu. Dia mahasiswi lulusan terbaik di angkatannya, bukan? Tidak heran jika dia ikut membantumu dalam urusan persiapan kantor."

"Begitulah," sahut Jonathan singkat tanpa menatap Aurora, lalu ia beralih sepenuhnya pada Berenda. "Berenda, tolong tunjukkan skema distribusi yang kita diskusikan tadi sore di mobil pada pihak Desmon."

Kalimat itu—tadi sore di mobil—menghantam dada Aurora bagaikan pukulan benda tumpul.

Tadi sore, ia sedang berjuang sendirian di ruang gawat darurat, menahan tangis melihat selang infus menusuk kulit halus Draco yang dehidrasi parah.

Sementara suaminya, ayah dari bayi itu, sedang sibuk "berdiskusi" di dalam mobil mewah bersama asisten pribadinya.

Berenda tersenyum manis, membuka tablet kerjanya dan membungkuk sedikit untuk memperlihatkan grafik ekspansi kepada Braxley.

Saat Berenda membungkuk terlalu dekat ke arah Jonathan untuk menggeser dokumen, Aurora menangkap kilatan di mata Braxley. Itu bukan kilatan ketertarikan pada gaun berani Berenda, melainkan kilatan muak penuh kejijikan yang dilemparkan terang-terangan pada Jonathan.

"Skema ini tidak efisien," potong Braxley tiba-tiba. Suaranya yang dingin dan tajam langsung memutus penjelasan Berenda di tengah jalan. "Kalian membuang terlalu banyak anggaran di sektor pergudangan sekunder. Aku ingin skema yang jauh lebih ramping dan rasional."

Jonathan tampak sedikit tersinggung, garis rahangnya mengeras, namun ia segera menutupi kepedasan egonya dengan senyum profesional yang dipaksakan. "Tentu, kami bisa merevisinya malam ini juga. Berenda, catat poin itu."

Di sela-sela perdebatan teknis yang makin membosankan, Baxeena kembali memiringkan tubuhnya, menatap Aurora dengan raut wajah khawatir yang jujur.

"Aurora, kau terlihat sangat pucat. Apa kau baik-baik saja? Melahirkan dalam kurun waktu beberapa bulan lalu dan langsung menghadiri jamuan seberat ini... kau pasti sangat lelah."

Aurora mencoba mengukir senyum di bibirnya yang teroles lipstik merah menyala, meski rasanya otot-otot wajahnya akan retak.

"Aku hanya butuh sedikit udara segar, Kak Xeena. Terima kasih sudah perhatian."

"Bagaimana dengan bayimu?" tanya Baxeena lagi, sama sekali mengabaikan tatapan peringatan yang dilemparkan adik laki-lakinya. "Siapa tadi namanya? Draco? Apa dia sangat mirip dengan Jonathan? Biasanya anak laki-laki adalah fotokopi mutlak dari ayahnya."

Keheningan mendadak jatuh menimpa meja makan itu. Udara di ruangan terasa membeku seketika.

Pertanyaan polos dari Xeena itu bagaikan korek api yang dilempar ke atas genangan bensin—memicu bom waktu yang sejak tadi berdetak di antara mereka.

Aurora merasakan tenggorokannya kering kerontang. Ia melirik Jonathan dari sudut matanya. Suaminya itu justru berpura-pura sibuk berbisik mengenai jadwal esok hari dengan Berenda, seolah-olah topik tentang darah dagingnya sendiri adalah hal asing yang tidak layak ditanggapi.

"Draco... dia punya ciri khasnya sendiri," jawab Aurora dengan suara pelan yang nyaris tenggelam oleh derum halus pendingin udara.

"Aku sangat ingin melihat fotonya," desak Baxeena hangat. "Kau pasti punya banyak fotonya di ponselmu, kan?"

Aurora ragu. Jemarinya yang memegang tas genggam makin gemetar.

Jika ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto Draco, Braxley yang duduk tepat di seberangnya pasti akan melihatnya.

Dan jika pria itu menatap mata dan garis rahang bayi mungil tersebut—wajah yang merupakan cerminan murni dari masa lalu—apa yang akan tersisa dari sisa-sisa hidupnya?

"Ponselku... habis baterai," bohong Aurora, suaranya sedikit goyah.

"Oh, sayang sekali," ujar Baxeena lembut, menunjukkan kekecewaan yang tulus.

Tiba-tiba, suara berat yang amat dingin memotong keheningan.

"Mungkin karena bayi itu sama sekali tidak mirip dengan ayahnya," ujar Braxley dengan nada santai yang amat beracun. "Sehingga ibunya merasa malu untuk menunjukkannya pada orang lain."

Bum!

Kalimat itu dijatuhkan bagaikan granat aktif di tengah meja makan.

Jonathan serta-merta berhenti bicara dengan Berenda.

Pria itu menoleh kaku ke arah Braxley dengan tatapan mata membelalak tajam. Ego dan harga diri seorang pria Carser terusik hebat di depan bawahan dan tamunya.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu, Braxley?" tanya Jonathan dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.

Braxley menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya dominan.

Matanya yang sedalam samudra kelabu menatap Jonathan tanpa gentar sedikit pun, sebelum akhirnya bergulir—hanya untuk satu detik yang mematikan—ke arah Aurora. Tatapan sekilas yang sanggup membakar seluruh lapisan kulit dan pertahanan wanita itu.

"Hanya pengamatan acak," ujar Braxley tenang, hampir tanpa beban. "Biasanya, orang tua yang bangga akan memamerkan foto anak mereka tanpa perlu diminta dua kali. Tapi kalian berdua... kalian tampak jauh lebih sibuk dan intim dengan asisten masing-masing daripada membicarakan calon pewaris Carser."

Jonathan tertawa, namun nada tawa yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat dipaksakan dan sumbang.

"Kami hanya bersikap profesional di depan kolega bisnis, Braxley. Dan tentang Draco... dia masih terlalu kecil untuk dibilang mirip siapa. Tapi yang jelas, dia adalah masa depan resmi keluarga Carser."

Dada Aurora bergemuruh mual mendengar kebohongan itu. Masa depan keluarga Carser. Kata-kata itu terdengar begitu menjijikkan dan munafik saat keluar dari mulut pria yang baru beberapa jam lalu menyebut Draco sebagai "putramu" dan menuduh kehamilannya sebagai hasil Penghianatan.

Makan malam yang menyesakkan itu terus berlanjut dengan ketegangan yang kian merayap di bawah permukaan. Jonathan tak berhenti memberikan perhatian berlebih pada Berenda di bawah meja, sementara Braxley tetap menjadi kutub es yang tak tersentuh oleh percakapan apa pun.

Satu jam kemudian, Jonathan meminta izin untuk meninggalkan meja guna menjawab panggilan telepon penting di lobi luar yang lebih tenang.

Hanya berselang dua menit setelah suaminya menghilang di balik pintu kayu mahoni, Berenda berdiri menyusul dengan dalih ingin memperbarui riasan di toilet.

Di dalam ruangan privat itu, kini hanya tersisa Aurora di antara anggota keluarga Desmon.

"Jonathan benar-benar tidak berubah, ya," gumam Baxeena pelan, matanya menatap sinis ke arah pintu tempat Jonathan baru saja keluar. "Masih tetap sombong dan haus validasi seperti saat di kampus dulu."

Aurora tidak menjawab. Ia menunduk kaku, menatap permukaan anggur merah di gelasnya yang masih utuh tak tersentuh.

"Kenapa kau memilih menikah dengannya, Aurora?"

Pertanyaan tajam itu bukan datang dari Baxeena. Itu adalah suara Braxley.

Suara berat yang bertahun-tahun lalu selalu membisikkan janji manis dan kata-kata cinta di telinga Aurora saat mereka berpelukan, kini terdengar dingin dan tanpa ampun bagaikan vonis dari seorang hakim eksekutor.

Aurora membuang napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya yang pucat untuk menatap langsung ke dalam mata Braxley. "Itu bukan urusanmu lagi, Braxley."

"Tentu saja bukan," Braxley menyunggingkan senyum sinis yang amat menyakitkan. "Hanya saja aku merasa penasaran. Apa sebenarnya yang kau cari dari pria seperti dia? Kekayaan? Nama besar keluarga Carser? Atau kau hanya sedang mencari seorang pria yang cukup bodoh untuk bersedia menerima wanita yang sudah rusak sepertimu?"

PLAK!

Suara tamparan keras memecahkan kesunyian ruangan privat itu.

Sebelum Aurora menyadari apa yang dilakukannya, tubuhnya sudah berdiri tegak di samping meja, dengan telapak tangan kanan yang terasa panas dan gemetar hebat setelah mendarat telak di pipi kiri Braxley.

Clark, asisten Braxley yang berdiri di sudut ruangan, tersentak kaget dan hampir melangkah maju.

Baxeena dengan cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, terperangah melihat keberanian wanita di depannya.

Braxley sama sekali tidak tersungkur. Kepala dan wajahnya hanya berpaling sedikit akibat dorongan tamparan keras itu.

Secara perlahan dan mengerikan, ia mengembalikan posisi kepalanya, menatap lurus pada Aurora dengan iris mata kelabu yang kini membara oleh amarah murni yang membakar.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang harus kulalui selama ini!" desis Aurora, napasnya memburu dan air mata frustrasi mulai menggenang pekat di pelupuk matanya.

"Kau pergi meninggalkan kota ini, Braxley! Kau pergi begitu saja saat aku sedang hancur-hancurnya!"

"Aku pergi karena kau sendiri yang mendorongku keluar dari hidupmu, Aurora!" balas Braxley, suaranya naik satu oktaf, meluncur tajam meski ia masih berusaha menahannya agar tidak terdengar ke luar ruangan.

"Kau yang memilih untuk membunuh masa depan kita dengan pil-pil itu! Kau yang tidak pernah punya kepercayaan sedikit pun padaku!"

"Aku melakukannya karena aku takut!" teriak Aurora tertahan, seluruh pertahanannya runtuh saat ingatan traumatik itu berputar kembali. "Aku takut tidak akan pernah bisa menjadi wanita yang cukup pantas untuk mendampingimu!"

"Dan sekarang?" Braxley berdiri dari kursinya, menunjuk kasar ke arah pintu tempat Jonathan pergi. "Apa pria itu yang kau butuhkan dalam hidupmu?! Seorang suami yang bahkan tidak bisa membedakan mana batas untuk istri dan mana untuk asisten pribadinya??!"

Aurora terdiam mematung. Kata-kata Braxley menghantam kesadarannya bagaikan bilah-bilah pisau yang mencabik-cabik harga dirinya.

Dalam keputusasaan yang memuncak, kalimat-kalimat yang selama bertahun-tahun terpendam di dasar hatinya akhirnya meluncur lepas begitu saja dari bibir Aurora yang bergetar hebat.

"Jika saja... jika saja dulu kau mau berubah, Braxley! Jika saja kau tidak terus-menerus terlibat tawuran, tidak sibuk berlagak jadi jagoan jalanan yang mengabaikan masa depan, mungkin aku tidak akan pernah senekat itu meminum pil-pil kontrasepsi itu secara berlebihan! Aku takut... aku sangat takut kau memang belum siap dan tidak akan pernah siap untuk menjadi seorang ayah!"

Deg.

Ruangan itu mendadak hening total, seolah seluruh pasokan oksigen ditarik keluar secara paksa.

Braxley menatap Aurora dengan tatapan yang amat dingin dan mematikan. "Pembohong," bisik Braxley, suaranya pelan namun sanggup meremukkan jantung Aurora.

"Kau pikir aku tidak tahu tentang rumor kehamilanmu yang terlalu cepat itu? Aku tahu persis Jonathan meragukan keabsahan Draco setiap hari di rumahmu."

"Draco adalah anak Jonathan!" ucap Aurora cepat, suaranya melengking tinggi dalam kepanikan yang mendalam.

Braxley melangkah satu tahap melintasi meja, mengikis jarak di antara mereka.

Pria itu menatap lurus ke dalam iris mata Aurora dengan pandangan mata yang sangat dalam, seakan mampu membongkar seluruh rahasia tergelap yang disembunyikan wanita itu di dasar jiwanya.

"Jika kau masih terus membohongi dirimu dan dunia, kau hanya sedang membunuh dirimu sendiri secara perlahan, Aurora."

Sebelum Aurora sempat membalas ucapan bernada ancaman itu, gagang pintu kayu mahoni berputar tajam.

Pintu terdorong terbuka dan Jonathan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan bersama Berenda yang menyusul di belakangnya. Raut wajah Jonathan mendadak berubah keruh dan penuh kecurigaan saat melihat posisi istrinya dan Braxley yang berdiri berhadapan dalam jarak yang terlampau dekat.

"Ada apa ini?" tanya Jonathan tajam, matanya menatap bergantian antara wajah Aurora yang memerah basah oleh air mata dan raut wajah kaku Braxley.

Braxley tidak berkedip sedikit pun saat mengalihkan pandangannya pada Jonathan. Dengan ketenangan luar biasa yang dingin dan menakutkan, ia membenarkan posisi kerah jasnya.

"Istrimu... sepertinya tampak sangat tidak nyaman," kata Braxley penuh arti, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. "Mungkin dia butuh istirahat, Jonathan. Jangan menyiksa wanita yang baru saja melahirkan demi memamerkannya di meja perjamuan."

Jonathan tersentak pelan, egonya merasa tersindir hebat.

Namun sebelum ia sempat meluapkan amarah pada Braxley, Aurora sudah melangkah mundur, membelakangi mereka semua untuk menyapu air mata di pipinya.

Malam ini baru saja dimulai, namun reruntuhan masa lalu sudah siap menimbun mereka bertiga dalam kehancuran yang tak terelakkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!