"Lowongan staf operasional junior saja penuh."
Petugas rekrutmen itu tidak mengangkat wajah ketika mengembalikan CV Raka Pradana.
"Pengalaman tetap Anda belum sampai satu tahun. Kampus juga bukan dari daftar prioritas kami. Untuk posisi dasar pun, kami biasanya memilih kandidat yang sudah punya magang korporat."
Dua pelamar di belakang Raka menahan tawa. Ini meja ketiga pagi itu. Jawabannya masih sama: kurang pengalaman, tidak ada koneksi, tidak cukup menjanjikan.
"Saya siap mulai dari tugas paling dasar," kata Raka. "Administrasi, input data, survei lapangan, apa pun yang dibutuhkan."
Petugas itu baru mengangkat wajah. Tatapannya turun ke kemeja Raka yang sudah dipakai berkali-kali, ke sepatu hitam yang solnya mulai menganga, lalu kembali ke CV.
"Mas, saya bicara terus terang saja. Perusahaan kami butuh orang yang bisa langsung dibawa ke klien. Bukan yang nanti masih harus diajari cara tampil rapi."
Tawa di belakangnya lebih jelas kali ini.
"Jadi saya tidak bisa ikut tahap berikutnya?"
"Belum cocok." Petugas itu mendorong CV-nya kembali dengan dua jari. "Antreannya panjang. Silakan beri kesempatan kepada kandidat lain."
Raka mengambil CV tersebut. Slogan kesempatan di layar belakang meja tidak membayar kamar kos.
Ia menepi dari antrean. Saat melewati dua pelamar tadi, salah satu dari mereka berbisik cukup keras untuk didengar.
"Kasihan. Melamar staf saja ditolak."
Raka berhenti setengah langkah.
Lalu ia melanjutkan berjalan.
Ia menemukan tangga darurat di belakang aula, duduk di anak tangga ketiga, dan mengeluarkan sebuah buku tipis bersampul merah dari tasnya.
Buku Kas Merah.
Di halaman terakhir, tiga baris tulisan tangannya tampak seperti vonis: kos jatuh tempo delapan hari lagi, obat Ibu harus ditransfer malam ini, biaya hidup tinggal tujuh hari.
Raka menekan ujung pena ke angka sisa saldo. Tinta membentuk noda kecil.
"Staf saja tidak lulus," gumamnya. "Bagus. Besok mungkin aku bisa jadi spesialis antrean pengangguran."
Permukaan kertas bergetar.
Raka mengangkat tangan.
Noda tinta tadi melebar, tetapi bukan seperti tinta yang meresap. Garis-garis biru pucat tumbuh dari tengahnya, menyusun kotak transparan di atas halaman.
[Sistem Arsitek Talenta diaktifkan.]
[Host terverifikasi: Raka Pradana.]
[Tujuan utama: membangun perusahaan melalui penempatan talenta yang terukur.]
Raka menatapnya selama tiga detik.
"Kurang tidur," katanya pelan.
[Sistem tidak disebabkan oleh kurang tidur.]
Raka memiringkan kepala. "Bisa menjawab?"
[Informasi dasar tersedia.]
Baris-baris baru muncul. Dana sistem hanya boleh dipakai untuk usaha legal dan tercatat. Penghasilan pribadi Raka hanya satu persen dari gaji karyawan yang benar-benar dibayarkan dan satu persen dari laba bersih yang telah diaudit.
Tidak ada karyawan, tidak ada penghasilan. Tidak ada laba, bagian laba bernilai nol.
Di bagian paling bawah muncul misi pertama.
[Misi Awal]
[Dapatkan jadwal pendirian badan usaha legal dalam 24 jam.]
[Bangun tim pertama: 0/10.]
[Sisa waktu: 23:58:41.]
Raka tidak langsung percaya. Ia menekan tulisan dana usaha, lalu memasukkan nomor rekening pribadinya. Jumlah kecil saja, cukup untuk biaya kos.
Sebuah garis merah memotong layar.
[Ditolak.]
[Rekening tujuan bersifat pribadi.]
[Pelanggaran pertama dicatat. Percobaan berikutnya dapat membekukan fasilitas dana selama tujuh hari.]
"Jadi kau punya uang, tapi membiarkanku diusir dari kos?"
[Sistem membangun perusahaan. Sistem tidak membiayai konsumsi pribadi host.]
"Pelayanannya buruk sekali."
Raka hampir tertawa. Halusinasi atau kesempatan terbesar dalam hidupnya, hasilnya sama: tidak ada rupiah yang datang jika ia hanya duduk di tangga.
Pintu darurat terbuka.
Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan masuk sambil menempelkan telepon ke telinga. Kemejanya rapi, tetapi simpul dasinya sudah longgar.
"Saya mengerti, Pak," katanya. "Tapi tim gudang masih punya dua pengiriman yang belum selesai. Kalau akses saya diputus hari ini, siapa yang serah terima?"
Ia mendengarkan.
Rahangnya mengeras.
"Baik. Tolong kirim surat pemutusan dan perhitungan hak saya secara tertulis. Jangan hanya lewat telepon."
Panggilan berakhir.
Pria itu tidak langsung bergerak. Jari-jarinya menekan ponsel terlalu keras. Di layar yang belum padam, Raka sempat melihat tiga panggilan tak terjawab dan satu notifikasi bank.
Ia membuka tas, mengeluarkan map berisi tabel, lalu memotretnya satu per satu. Bahkan setelah dipecat, ia masih memikirkan serah terima.
Garis biru muncul di sudut pandangan Raka.
[Kandidat terdeteksi.]
[Nama: Bima Wiratama.]
[Potensi utama: operasi, penjadwalan, pengendalian biaya.]
[Catatan: potensi bukan jaminan hasil. Loyalitas dan moralitas tidak dapat dibaca.]
Raka berdiri.
"Pak Bima?"
Pria itu berbalik tajam. "Kita pernah bertemu?"
"Belum. Saya mendengar nama Anda dari telepon. Maaf."
"Kalau Anda dari perusahaan tadi, saya sudah meminta semuanya tertulis."
"Saya bukan dari sana." Raka mengulurkan CV yang masih kusut di tangannya. "Saya ingin menawarkan pekerjaan."
Bima memandang CV itu, lalu memandang wajah Raka.
Kata pekerjaan membuat harapan yang sejak tadi ia tahan muncul terang di wajahnya.
"Anda serius?"
"Saya."
"Hari ini saya baru diberhentikan," katanya. Suaranya tetap rendah, tetapi tidak lagi kosong. "Kalau Bapak benar-benar memberi kesempatan, saya mau coba. Saya bisa mulai malam ini."
"Perusahaannya belum ada," kata Raka.
Bima terdiam.
Tiga hari terakhir ia sudah mengetuk terlalu banyak pintu. Ada yang menolak karena usianya, ada yang menawar gaji seperti barang bekas, ada yang bahkan tidak membaca riwayat kerjanya. Ia tidak bisa terus menunggu telepon yang tidak datang.
Raka juga baru ditolak. CV-nya kusut, matanya lelah, tetapi tawarannya terdengar seperti pekerjaan, bukan belas kasihan. Mungkin orang ini bisa dipercaya. Dan kalaupun ia salah, Bima tidak punya banyak pilihan lain.
"Kalau sedang dibangun, saya bantu dari awal, Pak Raka. Saya tidak sedang mencari kursi empuk. Saya mencari pekerjaan yang bisa saya pegang."
"Saya sedang mendirikan PT. Saya butuh orang operasi pertama."
"Apa yang harus saya siapkan?"
"Untuk mulai, saya perlu tahu tiga hal," kata Bima cepat. "Produk, modal, dan tempat."
"Produk belum diputuskan," jawab Raka. "Ada sumber dana, tapi hanya bisa digunakan setelah badan usahanya legal dan transaksinya terdokumentasi. Kantor belum ada."
"Berarti tugas pertama saya adalah membantu Bapak membuat yang belum ada menjadi daftar kerja."
"Ada syarat," kata Raka.
"Silakan."
Raka melanjutkan, "Saya tidak akan memberi kontrak palsu. Saya menawarkan surat minat bersyarat. Berlaku hanya jika badan usaha berhasil didirikan, jabatan dan target tertulis jelas, serta kontrak kerja memenuhi semua kewajiban. Kalau saya gagal, Anda tidak berutang apa pun."
"Itu cukup adil."
"Dan kalau berhasil?"
"Anda menentukan ruang kerja yang Anda perlukan, akses laporan, dan batas keputusan yang harus mendapat keberatan tertulis dari Anda."
"Terima kasih, Pak Raka."
"Belum ada yang perlu diterima kasih."
"Ada," kata Bima. "Orang lain baru saja menutup pintu. Bapak datang membawa pintu yang belum jadi."
Bima mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang sederhana dan penuh tenaga.
"Saya ikut. Tolong tunjukkan dokumennya."
Mereka kembali ke aula.
Petugas dari meja ketiga masih ada. Tatapannya langsung jatuh pada Raka, lalu pada Bima yang berjalan di sampingnya.
"Mas, kalau mau melamar lagi, antre dari belakang."
"Saya tidak melamar." Raka meletakkan selembar formulir kosong di meja konsultasi yang tidak terpakai. "Saya sedang merekrut."
Tawa kecil terdengar lagi.
Raka menyerahkan pena kepada Bima. "Tulis jabatan yang masuk akal. Tulis juga apa yang harus tersedia sebelum Anda mulai bekerja."
Bima menarik kursi.
Ia menulis: Kepala Operasi.
Di bawahnya, ia menambahkan hak akses anggaran, kewenangan menyusun proses, target tiga puluh hari, dan klausul bahwa surat itu batal bila badan usaha tidak terbentuk.
"Saya percaya Bapak mau membangun ini," katanya pelan. "Kalau ini berdiri, kita buat benar sejak hari pertama."
Terakhir, Bima membubuhkan nama serta tanda tangannya.
Panel biru muncul di atas Buku Kas Merah yang masih dipegang Raka.
[Kandidat pertama menyatakan komitmen bersyarat.]
[Tim awal: 1/10.]
Petugas rekrutmen yang tadi mengusir Raka tidak lagi tertawa. Matanya berpindah dari tanda tangan Bima ke CV kusut di tangan Raka.
Bima berdiri. "Kalau begitu, Pak Raka, kita mulai sekarang. Waktu kita kurang dari sehari, dan Bapak masih perlu janji dengan notaris."
Pak Raka. Dua kata itu terasa lebih mahal daripada semua jabatan yang ditolak pagi tadi.
Mereka meninggalkan aula tanpa menoleh lagi.
Di dalam kereta menuju Jakarta, Bima membuka laptop dan membantu Raka menjelaskan rencana bisnisnya dalam satu halaman. Raka baru menulis tiga baris ketika teleponnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
"Selamat malam, saya Nadia Kusuma dari Kantor Hukum Kusuma & Rekan," kata suara perempuan di seberang. "Saya menerima permintaan jadwal pendirian PT. Kalau Anda serius, datang besok pagi dengan data yang lengkap."
Panel SAT menyala di pantulan jendela kereta.
[Sisa waktu: 17:02:11.]
Raka menatap Bima.
Bima sudah membuka lembar kerja baru.
"Baik, Pak Raka," katanya. "Malam ini kita rapikan mimpi ini jadi rencana kerja."
"Malam ini kita rapikan mimpi ini jadi rencana kerja."
Bima memutar laptop ke arah Raka sebelum kereta melewati Stasiun Manggarai.
Di layar hanya ada satu halaman. Sebelah kiri berisi uang yang mereka miliki. Sebelah kanan berisi uang yang belum mereka miliki tetapi sudah ingin mereka belanjakan.
Kolom kanan jauh lebih panjang.
"Kau sengaja membuatnya terlihat buruk?" tanya Raka.
"Saya membuatnya terlihat jujur, Pak Raka."
"Panggil Raka saja kalau tidak sedang ada orang."
"Belum, Pak Raka. Biar nama itu tercatat rapi sejak awal. Saya ingin pekerjaan ini benar-benar jadi."
Raka mendecakkan lidah. Namun ia duduk lebih tegak dan mulai menjawab pertanyaan Bima.
Bisnis apa yang bisa dimulai?
Keahlian apa yang ia miliki?
Siapa calon pelanggan pertama?
Raka tidak punya jawaban bagus. Ia hanya tahu satu hal: SAT dapat membantu menemukan orang yang salah dinilai pasar. Masalahnya, pengetahuan itu tidak mungkin ia jelaskan kepada Bima.
Malam itu, satu halaman tersebut selesai dengan lebih banyak tanda tanya daripada angka.
Pukul delapan tiga puluh keesokan paginya, mereka duduk di ruang rapat kecil Kantor Hukum Kusuma & Rekan, Jakarta. Raka mengenakan kemeja terbaiknya. Kerahnya mulai berjumbai, tetapi setidaknya sudah disetrika.
Nadia Kusuma masuk membawa tiga map.
Ia tidak tersenyum basa-basi. "Siapa yang akan menjadi pemegang saham pengendali?"
"Saya," jawab Raka.
"Direktur?"
"Saya juga."
"Bidang usaha?"
Raka mendorong satu lembar yang mereka buat semalam. "Manufaktur, perdagangan, konsultasi, teknologi, media, logistik, ekspor, impor, pendidikan, dan mungkin makanan."
Nadia membaca sampai akhir.
Lalu mendorongnya kembali.
"Tidak."
Raka berkedip. "Tidak yang mana?"
"Semuanya, kalau jawabannya masih 'mungkin'. Saya tidak akan memasukkan daftar keinginan ke dalam dokumen perusahaan lalu membiarkan Anda mengira semua kegiatan otomatis boleh dijalankan."
Bima menunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat mirip senyum.
"Kita bisa menyesuaikan nanti," kata Raka.
"Bisa. Dengan dokumen dan proses yang benar. Sekarang jawab yang paling sederhana dulu. Produk pertama Anda apa?"
Raka menatap halaman merah kecil di meja. Buku Kas itu tidak menunjukkan panel apa pun.
Ia menyentuh sampulnya.
Dalam pandangannya, jendela SAT terbuka.
[Permintaan: rekomendasi bidang usaha.]
[Ditolak.]
[Keputusan strategis dan hukum merupakan tanggung jawab host dan profesional terkait.]
[Fitur tersedia: pemeriksaan konsistensi setelah keputusan dibuat.]
Raka menahan umpatan.
Sistem itu selalu muncul tepat waktu untuk mengatakan tidak.
"Kami belum punya produk," katanya akhirnya. "Tapi kami ingin memulai dari aset yang bisa dibeli atau disewa dengan jelas, lalu membangun produk dari tim yang kami rekrut."
Nadia menyandarkan punggung. "Setidaknya itu jawaban jujur."
Bima membuka tabelnya. "Kami membatasi tahap pertama pada manufaktur dan perdagangan. Ruang digital disiapkan untuk produk berikutnya, tetapi tidak dijalankan sebelum model dan kewajibannya jelas. Ini proyeksi tiga puluh hari, termasuk biaya notaris, rekening perusahaan, pajak, tenaga kerja, dan cadangan."
Nadia mengambil lembar itu.
Kali ini ia tidak langsung mengembalikannya.
"Anda siapa di perusahaan?"
"Calon Kepala Operasi dengan surat minat bersyarat," jawab Bima. "Bukan pemegang saham. Bukan pemilik saham titipan."
Raka menoleh. Bima sengaja menekankan kalimat terakhir.
Nadia menangkapnya. "Bagus. Banyak perusahaan baru mulai rusak dari saham yang 'hanya dititipkan sebentar'. Kita tidak melakukan itu."
Selama dua jam berikutnya, ruang rapat itu berubah menjadi tempat pembongkaran ambisi Raka.
Nadia mencoret kegiatan yang belum punya dasar. Bima memindahkan anggaran. Raka dipaksa memilih siapa yang boleh menandatangani apa, keputusan mana yang bisa ia ambil sendiri, dan dokumen mana yang tetap membutuhkan proses perusahaan.
"Akta pendirian mencatat dasar perusahaannya," kata Nadia sambil menunjuk map pertama. "Konfirmasi badan hukum diproses melalui AHU. Setelah itu ada OSS dan NIB untuk identitas berusaha, lalu perizinan lanjutan tergantung kegiatan dan risikonya. Jangan pernah berkata kepada calon pelanggan bahwa satu akta berarti Anda sudah boleh melakukan semuanya."
"Jadi mendirikan perusahaan bukan satu stempel."
"Bukan. Dan direktur bukan orang yang boleh memakai uang perusahaan sesuka hati."
Bima mengetuk tabel kas dengan ujung pena. "Saya suka bagian itu."
Raka menatapnya. "Aku belum menggajimu dan kau sudah menikmati pembatasan wewenangku."
"Itu alasan Anda merekrut saya."
Telepon Nadia berbunyi. Ia membaca pesan, kemudian menatap Raka.
"Ada satu masalah lagi. Sumber modal awal."
Raka sudah menduganya.
"Dananya legal."
"Semua orang bilang begitu sebelum diminta dokumen." Nadia menyilangkan tangan. "Siapa pemberinya? Apa dasar transfernya? Apakah utang, hibah, investasi, atau pembayaran? Siapa penerima manfaat akhirnya?"
Raka tidak mungkin menjawab bahwa uang tersebut berasal dari layar transparan yang hanya bisa dilihatnya.
Panel SAT muncul.
[Dokumen Pendanaan Usaha dapat dibuat.]
[Sifat dana: dukungan usaha bersyarat, hanya untuk transaksi legal dan terverifikasi.]
[Penerima: badan usaha setelah memenuhi verifikasi.]
[Kewajiban: pencatatan, pelaporan pajak, larangan penggunaan pribadi, pemeriksaan lawan transaksi.]
[Catatan: dokumen tidak menggantikan pemeriksaan bank.]
Raka membaca setiap baris dua kali. Tidak ada nama investor palsu. Tidak ada klaim pemerintah. Hanya kontrak pendanaan dengan syarat yang dapat diperiksa.
Ia membuka dokumen itu di ponsel lalu menyerahkannya kepada Nadia.
"Ini dasarnya. Saya belum menggunakannya karena rekening perusahaan belum ada."
Nadia membaca dengan wajah tanpa ekspresi. Bima berdiri di sampingnya.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
"Strukturnya bisa dipakai sebagai dasar awal," kata Nadia. "Tapi bank tetap akan meminta identitas pihak pemberi, asal dana, data penerima manfaat, dan dokumen pajak yang relevan. Kita siapkan semuanya. Jika ada bagian yang tidak lolos pemeriksaan, dananya tidak masuk. Jelas?"
"Jelas."
Raka tidak merasa kalah. Sebaliknya, untuk pertama kali ia memahami bentuk kekuatan yang diberikan SAT.
Sistem tidak memberinya koper uang.
Sistem memberinya peluru yang hanya bisa ditembakkan melalui senjata legal.
Kalau ia tidak mampu membangun senjatanya, peluru itu tidak berguna.
Menjelang pukul sebelas, Nadia meletakkan dokumen terakhir di tengah meja.
Di bagian atas tertulis nama yang telah mereka pilih.
PT Arunika Karya Nusantara.
Arunika, cahaya fajar.
Nusantara, tempat mereka ingin tumbuh.
"Baca sekali lagi," kata Nadia. "Jangan menandatangani sesuatu hanya karena waktumu sedikit."
SAT menunjukkan sisa waktu lima puluh dua menit.
Raka membaca setiap halaman. Bima memeriksa angka modal dan kewenangan. Nadia memperbaiki satu kesalahan alamat.
Baru setelah itu Raka menandatangani.
Nadia mengirim pengajuan tersebut. Suara notifikasi dari komputernya terdengar kecil, hampir biasa saja.
Namun panel biru di atas Buku Kas Merah meledak menjadi garis cahaya.
[Misi Awal selesai.]
[Akta Pendirian Nomor 17 telah diajukan.]
[Fasilitas baru dibuka: Pembayaran Usaha Terverifikasi.]
[Pembatasan: aktif setelah rekening perusahaan dan verifikasi transaksi tersedia.]
Raka mengembuskan napas panjang.
Ia belum punya produk. Belum punya kantor. Belum punya pelanggan.
Tetapi untuk pertama kali, ia memiliki sesuatu yang kemarin bahkan tidak ada di dunia: sebuah perusahaan dengan namanya di atas dokumen.
Di luar kantor, panas Jakarta menyambut mereka. Saldo pribadi Raka nyaris habis setelah membayar biaya awal yang wajib ditanggungnya.
Bima berdiri di trotoar, memandang salinan tanda terima pengajuan.
"Selamat, Pak Raka. Sekarang Anda resmi punya masalah yang lebih mahal."
Nadia menutup mapnya. "Saya akan menghubungi Anda setelah konfirmasi berikutnya dan daftar dokumen rekening siap. Jangan menandatangani kontrak operasional besar sebelum status serta izinnya jelas."
Raka mengangguk.
Panel SAT muncul sekali lagi.
[Tim awal: 1/10.]
Bima mengikuti tatapan Raka ke ruang kosong di udara, tetapi tentu saja tidak melihat apa pun.
"Perusahaan hampir ada," katanya. "Pertanyaan berikutnya sederhana."
Ia menepuk satu halaman rencana yang masih penuh tanda tanya.
"Kita mau menjual apa?"
"Kita mau menjual apa?"
Pertanyaan Bima masih belum terjawab empat jam kemudian.
Mereka sudah mendatangi dua kawasan kantor, menelepon enam nomor, dan menghabiskan uang untuk makan siang termurah yang bisa ditemukan dekat stasiun. Hasilnya satu tumpuk brosur, tiga penolakan, dan sebuah janji pertemuan yang baru tersedia dua minggu lagi.
Sore itu, Raka memesan mobil daring menuju Bekasi. Tarifnya membuat Bima menatap layar ponsel dua kali.
"Kalau kita terus bergerak tanpa tujuan, lebih murah menyewa bangku di stasiun," katanya.
"Kalau duduk di stasiun, produk tidak akan datang memperkenalkan diri."
"Produk juga tidak akan muncul hanya karena kita membayar tol."
Mobil abu-abu berhenti di depan mereka. Pengemudinya turun untuk membuka bagasi, meski mereka tidak membawa barang besar.
"Pak Raka?" tanyanya.
"Ya."
"Saya Arif. Silakan. Jalan tol agak padat, tapi saya punya rute alternatif kalau Bapak tidak keberatan sedikit memutar."
Di dashboard terpasang dua ponsel. Satu menampilkan navigasi, satu lagi daftar pesanan yang sedang sepi. Mobilnya bersih, tetapi sarung kemudi sudah mengilap karena terlalu sering digunakan.
Raka dan Bima duduk di belakang. Belum lima menit mobil bergerak, Bima membuka laptop lagi.
"Kita harus memilih," katanya. "Jasa konsultasi tidak punya kredibilitas. Perdagangan butuh barang. Manufaktur butuh aset dan orang."
"Justru orang yang akan menentukan barangnya."
"Kita tidak bisa merekrut sepuluh orang lalu bertanya mereka ingin membuat apa. Itu bukan strategi. Itu arisan."
Arif tertawa kecil dari kursi depan.
Bima mengangkat pandangan. "Ada yang lucu, Pak?"
"Maaf. Saya cuma sering mengantar orang rapat bisnis. Biasanya mereka menunggu sampai turun dari mobil sebelum bertengkar soal strategi."
Raka menyandarkan tubuh. "Kalau sering mengantar orang bisnis, Pak Arif pasti tahu bisnis apa yang sedang kesulitan."
"Tahu sedikit. Tidak semuanya berguna."
"Coba satu."
Arif melirik kaca spion. "Di Cikarang Selatan ada pabrik kecil yang besok mau dibongkar sebagian. Mesin dijual, pekerjanya sudah dua minggu menunggu kepastian. Kalau Bapak mencari aset dan orang sekaligus, tempat seperti itu lebih masuk akal daripada kantor ber-AC."
Bima menutup laptop perlahan. "Nama pabriknya?"
"Nama legalnya saya tidak hafal. Orang-orang sekitar menyebutnya pabrik kasur Pak Surya."
"Dari mana Anda tahu?"
"Penumpang."
"Penumpang yang mana?"
"Minggu lalu saya antar teknisi tua dari kawasan itu ke Tambun. Dua hari kemudian saya antar orang perusahaan pembongkar. Kemarin ada tiga pekerja pabrik pulang lebih awal karena listrik produksinya sudah diputus."
Bima menatap Raka. Tatapan itu berarti satu hal: jangan mudah percaya.
Ia kembali bertanya, "Ada berapa pabrik di kawasan yang sama?"
"Tiga yang sering disebut orang." Arif mengangkat satu jari dari kemudi. "Yang pertama masih punya pesanan, tapi pemiliknya menahan gaji. Yang kedua gudangnya pindah, bukan tutup. Yang ketiga pemiliknya sudah tidak pernah terlihat dan mesin akan dipotong besok pagi."
"Rute truknya?"
"Kalau pembongkar membawa mesin besar, mereka tidak akan lewat gerbang timur. Jembatannya dibatasi. Mereka masuk dari jalan servis selatan sekitar jam enam pagi sebelum lalu lintas karyawan padat."
Jawaban Arif tidak terdengar seperti gosip. Terlalu banyak waktu, arah, dan urutan yang bisa diperiksa.
Raka mencondongkan tubuh. Jarak mereka kurang dari dua meter.
Ia membuka Pemindaian Bakat.
Sebuah lingkaran cahaya tipis menyapu kabin. Hanya Raka yang melihatnya.
[Pemindaian digunakan.]
[Cooldown: 24 jam.]
[Arif Nugroho]
[Potensi: 4 bintang.]
[Karakteristik utama: Kompas Pasar.]
[Kekuatan terbentuk: membaca pola permintaan melalui mobilitas orang, waktu, dan jalur distribusi.]
[Batas: informasi harus diverifikasi melalui transaksi atau sumber yang sah. Tidak menjamin loyalitas maupun kebenaran semua kesimpulan.]
Empat bintang.
Raka baru memiliki satu calon karyawan dan perusahaan yang belum menjual apa pun. Kini seorang pengemudi yang bahkan tidak mereka cari duduk satu meter di depannya dengan potensi yang mungkin diabaikan ribuan penumpang.
Namun SAT sendiri sudah memberi peringatan.
Potensi bukan hasil.
"Pak Arif," kata Raka. "Kalau saya beri waktu tiga puluh menit, bisakah Anda mencari siapa yang berwenang bicara soal pabrik itu? Bukan tukang bongkar. Bukan satpam. Orang yang punya dasar hak atas bangunan atau mesin."
Arif melirik jam di dashboard. "Perjalanan Bapak bagaimana?"
"Kita berhenti di tempat aman. Waktu menunggu saya bayar."
Bima langsung menyela, "Raka."
Itu pertama kalinya ia menjatuhkan kata Pak.
Raka tahu artinya. Jangan menghamburkan uang.
"Tiga puluh menit," ulang Raka. "Kalau tidak dapat, kita lanjut dan saya tidak mengganggu pekerjaan Pak Arif lagi."
Arif keluar di area istirahat kecil dekat pintu tol. Ia mematikan status penerimaan pesanan sebelum menelepon, lalu membuka daftar kontak.
Telepon pertama menuju teknisi tua yang pernah menjadi penumpangnya. Tidak diangkat.
Telepon kedua kepada warung dekat pabrik. Pemilik warung hanya tahu pekerja masih berkumpul setiap pagi.
Bima melipat tangan. Menit kedelapan belas berlalu.
Arif tidak panik. Ia mencari nomor perusahaan pembongkar dari riwayat pembayaran digital, lalu menelepon kantor mereka sebagai calon pembeli alat bekas. Dari sana ia mendapatkan nama pihak yang memberi instruksi pembongkaran.
Nama itu ia cocokkan melalui nomor kantor pengelola kawasan yang tersedia untuk umum.
Pada menit kedua puluh tujuh, seseorang mengangkat telepon.
"Selamat sore, Pak," kata Arif. Suaranya berubah menjadi lebih formal. "Saya mewakili pihak yang ingin menanyakan aset pabrik di Cikarang Selatan. Kami tidak akan datang kalau status mesinnya tidak jelas. Siapa yang bisa menunjukkan daftar kepemilikan dan kewenangan penjual?"
Ia mendengarkan sambil menulis tiga nama di kertas parkir.
Setelah menutup telepon, Arif menyerahkan kertas itu kepada Bima.
"Ini wakil pemilik gedung. Ini agen yang memerintahkan pembongkaran. Ini pemasok yang masih mengklaim dua mesin belum lunas. Mereka mulai potong besok jam enam. Teknisi tua yang saya sebut tadi kemungkinan masih ada di lokasi malam ini."
Bima membaca catatan tersebut. "Nomor pemasoknya?"
"Di belakang. Saya belum menelepon karena kita bukan pihak dalam transaksi."
Untuk pertama kali sejak masuk mobil, Bima tidak punya pertanyaan lanjutan.
Raka menahan senyum.
Ia tidak hanya menemukan informasi. Ia menemukan orang yang tahu batas informasi.
"Pak Arif, bagaimana pendapatan bersih Anda enam bulan terakhir? Tidak perlu jawab angka kalau keberatan. Cukup stabil atau tidak?"
Arif kembali duduk di belakang kemudi, tetapi belum mengaktifkan aplikasi. "Tidak stabil. Kenapa?"
"Saya menawarkan PKWT tiga bulan untuk posisi penjualan dan intelijen pasar. Gaji tetapnya di atas rata-rata pendapatan bersih Anda, ditambah insentif dari transaksi yang benar-benar selesai. Jam kerja, target, BPJS, dan larangan memakai data penumpang akan tertulis."
Arif menatapnya lewat kaca spion.
"Bapak baru dua puluh empat tahun, bukan?"
"Ya."
"Perusahaan Bapak baru didirikan hari ini?"
"Pengajuannya hari ini. Konfirmasi AHU baru masuk satu jam lalu."
Bima mengangkat ponselnya. Pesan dari Nadia menampilkan dokumen konfirmasi dan daftar proses berikutnya.
"Dan Bapak mau menggaji saya lebih tinggi daripada pendapatan mengemudi?"
"Kalau informasi tadi membawa kami ke aset yang benar, nilainya lebih tinggi daripada biaya satu bulan gaji Anda. Saya membayar nilai, bukan nama jabatan lama."
Arif tertawa pendek. "Kalimat bagus. Bisa juga kalimat penipu."
"Karena itu Pak Bima akan menunjukkan dokumennya."
Bima memutar laptop dari kursi belakang. Ada tanda terima pengajuan, konfirmasi badan hukum, rancangan jabatan, target tiga bulan, dan klausul bahwa pekerjaan pengemudi daring Arif tetap terpisah. Tidak boleh membawa penumpang sambil menjalankan tugas perusahaan. Tidak boleh mengambil data perjalanan pribadi untuk kepentingan Arunika.
Arif membaca semuanya.
"Kalau perusahaan tidak punya produk dalam tiga bulan?"
"Kontrak berakhir sesuai ketentuan, hak Anda dibayar, dan kita tidak mengubah kegagalan saya menjadi utang Anda," jawab Raka.
"Kalau saya tidak menghasilkan penjualan?"
"Gaji dasar tetap gaji. Insentif yang tidak ada transaksinya bernilai nol."
Arif mengetuk kemudi dengan jari.
Kemudian ia mematikan aplikasi pengemudi untuk sisa hari itu.
"Saya mau lihat pabriknya dulu. Kalau tempat itu benar-benar ada, saya tanda tangan."
"Wajar," kata Bima.
Mereka pergi ke tempat cetak dokumen terdekat. Satu jam kemudian, setelah melihat gerbang dan memastikan nama perusahaan di papan lama, Arif menandatangani PKWT tiga bulan. Bima menyimpan satu salinan. Arif memegang salinan lainnya.
Panel SAT menyala.
[Talenta terverifikasi melalui tindakan nyata.]
[Arif Nugroho bergabung.]
[Tim awal: 2/10.]
[Aset intelijen pasar pertama diperoleh.]
Arif kembali ke kursi pengemudi, kali ini bukan sebagai mitra aplikasi yang membawa penumpang. Ia mencabut penanda layanan dari dashboard dan meletakkannya di laci.
"Sekarang saya sedang bekerja untuk PT Arunika Karya Nusantara," katanya. "Tujuan pertama?"
Raka menunjuk jalan gelap di depan.
"Cikarang."
Menjelang pukul setengah tujuh malam, mobil berhenti di depan gerbang besi Pabrik Cikarang Selatan. Lampu halaman masih menyala. Di balik pagar, sebuah truk pembongkar terparkir bersama alat potong berukuran besar.
Seorang pria tua berdiri di dekat pos keamanan, memeluk map lusuh ke dadanya.
Arif mematikan mesin.
"Itu teknisi yang pernah saya antar," katanya. "Dan kalau alat potongnya sudah datang malam ini, jadwal mereka mungkin dimajukan."
Raka menatap bangunan gelap di balik pagar.
Perusahaan mereka akhirnya menemukan sesuatu untuk dibangun.
Masalahnya, mereka hanya punya satu malam untuk mencegahnya dipotong menjadi besi tua.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!