Indonesia
NovelToon NovelToon

Dia Menjadikanku Selir Ketika Dia Menjadi Kaisar

Bab 1

"Titah Kaisar tiba!"

Di aula utama kediaman keluarga Bai yang masih dipenuhi kain duka berwarna putih, suasana hening menyelimuti setiap sudut.

Asap dupa mengepul perlahan di depan altar arwah Jenderal Bai dan para putra keluarga Bai yang gugur di medan perang demi mempertahankan Kerajaan Sanghyang.

Tangis lirih para pelayan dan kerabat terdengar sesekali, menambah pilu suasana berkabung.

Di tengah kesunyian itu, Kasim Wang melangkah masuk bersama rombongan pengawal istana. Wajahnya datar ketika membuka gulungan titah kekaisaran.

Semua orang yang ada di aula itu berbalik, dan segera berlutut menerima titah dari kaisar yang baru menjabat 3 hari yang lalu.

Pria yang berwajah tirus dan elegan itu mulai membuka gulungan titah berwarna kuning dengan tapi bordir hitam di setiap tepinya. Para wanita yang tengah berduka itu bahkan mengernyitkan kening mereka. Itu bukan titah yang akan memberi mereka kabar baik.

"Dengan titah Yang Mulia Kaisar. Bai Ningyuan, putri keluarga Bai, mulai hari ini diturunkan dari kedudukannya sebagai permaisuri putri mahkota menjadi Selir Ning. Mengingat Perdana Menteri Su telah berjasa besar bagi kerajaan, maka putrinya, Su Qingyue diangkat sebagai Permaisuri Kerajaan Huaming. Semua pihak wajib mematuhi titah ini. Barang siapa melanggar, akan dianggap menentang kehendak kaisar."

Setelah kata-kata itu selesai dibacakan, seluruh aula terdiam.

Bai Ningyuan berdiri membeku. Wajahnya yang pucat karena berkabung kini semakin kehilangan warna. Tatapannya perlahan beralih ke altar arwah ayah dan saudara-saudaranya. Air matanya jatuh tanpa suara.

Ayahnya, Jenderal Bai, bersama seluruh pria keluarga Bai telah mengorbankan nyawa di garis depan demi mempertahankan negeri dan takhta yang kini diduduki sang kaisar.

Darahh mereka masih belum kering di medan perang, namun bahkan sebelum masa berkabung berakhir, keluarga Bai justru menerima penghinaan sebesar ini.

Sebaliknya, Perdana Menteri Su yang selama perang tetap berada dengan nyaman di ibu kota menikmati keamanan di balik tembok istana, makan dengan tenang, dan tidur tanpa mendengar suara dentuman perang, justru dipuji sebagai penyumbang jasa terbesar bagi kerajaan. Putrinya bahkan dianugerahi mahkota permaisuri.

Beberapa pelayan keluarga Bai menggertakkan gigi menahan amarah. Mata mereka memerah, tetapi tak seorang pun berani bersuara. Mereka tahu, melawan titah kekaisaran sama artinya dengan mencari kematian.

Bai Ningyuan menarik napas panjang. Dengan kedua tangan yang gemetar, ia menerima gulungan titah itu. Bibirnya membentuk senyum tipis yang lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Jadi... beginilah balasan kerajaan kepada keluarga Bai." lirihnya.

Dia tidak lagi memikirkan pria yang dia cintai dan dia dukung selama tiga tahun ini telah mengkhianatinya. Perasaannya tak lagi penting, tapi keluarganya? apakah mereka layak mendapatkan penghinaan seperti ini?

"Keluarga Bai menyerahkan seluruh putranya untuk gugur di medan perang. Sebagai balasannya, anakku kehilangan posisinya, kehormatannya sebagai permaisuri? sementara putri seorang menteri yang tak pernah mencium bau darahh di medan perang justru mengenakan mahkota permaisuri." lirih Lin Qingxue, ibu Bai Ningyuan. Janda Jenderal Bai Chengfeng.

Aula kembali tenggelam dalam kesunyian. Para pelayan menangis sedih. Para menantu hanya bisa mengepalkan tangan mereka dalam tangis.

Bahkan Kasim Wang menundukkan kepala sejenak, seolah tak sanggup menatap altar para pahlawan yang gugur ketika membacakan titah yang terasa begitu kejam.

"Nyonya, terimalah titah Kaisar!" kata Kasim Wang yang memang mau ikut berduka juga tidak bisa melakukan apa-apa.

Tangan Bai Ningyuan gemetar ketika terangkat untuk menerima titah itu. Suaminya telah menjadikannya selir setelah semua yang dia korbankan selama tiga tahun ini.

"Aku Bai Ningyuan, menerima titah Kaisar!" katanya yang membuat tatapan Lin Qingxue menjadi penuh kebencian melihat gulungan titah itu.

"Nyonya, silahkan berkemas. Mulai sekarang nyonya harus meninggalkan istana Timur dan pindah ke istana Hanzi!" kata Kasim Wang yang segera berbalik dan pergi.

Dia benar-benar tak sanggup, melihat semua tatapan wanita-wanita yang ditinggalkan oleh suami mereka yang gugur di medan perang. Juga tatapan Bai Ningyuan, yang telah menemani suka dan duka putra mahkota sampai jadi Kaisar. Tapi, ketika putra mahkota sudah menjadi seorang Kaisar, dia malah menurunkan posisi istrinya.

"Nyonya..." lirih Lin'er pelayan setia Bai Ningyuan dengan mata yang sudah basah.

"Lin'er, cepat berkemas. Suamiku memintaku menjadi selir, maka aku akan menjadi selir!"

"Ning'er..." lirih Lin Qingxue.

"Kaisar benar-benar kejam, bagaimana bisa dia melakukan semua ini pada Ning'er kita!" kakak ipar Bai Ningyuan sampai emosi.

"Orang-orang istana memang sangat licik!"

Bai Ningyuan menatap papan nama ayahnya di atas aula itu. Tangannya terkepal. Ayahnya, semua saudaranya gugur demi tahta itu. Tapi apa balasan kaisar, pria itu menginjak-injak kehormatan keluarga Bai.

'Xuan Pingyan! aku harap kamu tidak akan pernah menyesali keputusan mu ini. Aku Bai Ningyuan, akan membalas kalian semua yang tertawa di atas darahh dan semua mayatt keluarga Bai ku!' batin Bai Ningyuan dengan tangan terkepal.

Kereta kuda sudah menunggu di depan istana timur. Tak ada banyak barang yang dibawa oleh Bai Ningyuan. Bahkan tak sampai dua peti. Pelayan pun, hanya Lin'er yang merupakan pelayan bawaan saat Bai Ningyuan masuk ke istana timur yang boleh ikut bersama Bai Ningyuan.

"Nyonya, barang nyonya semuanya sudah di bawa ke kereta!" kata Wu mama, kepala pelayan di istana timur.

"Terima kasih Wu mama!" kata Bai Ningyuan sopan.

Mata wanita tua itu berkaca-kaca.

"Jika saja saya boleh ikut dengan nyonya..."

Bai Ningyuan seger menepuk bahu Wu mama.

"Jodoh kita mungkin hanya sampai di sini Wu mama. Terima kasih selama sudah menjaga ku dengan baik. Selamat tinggal Wu mama!"

Bai Ningyuan naik ke kereta di bantu oleh Lin'er. Kereta mulai berjalan, jendela kereta itu tersingkap perlahan terkena angin.

Terlihat gerbang istana timur yang selama tiga tahun ini tidak berubah sama sekali. Kenangan melintas begitu saja di kepala Bai Ningyuan. Kala itu, Xuan Pingyan hanyalah pangeran ketiga yang tidak punya kekuatan apapun. Dia bisa menjadi putra mahkota setelah bertunangan dengan putri sulung jenderal Bai, Bai Ningyuan.

Begitu mereka menikah, janji yang pertama kali diucapkan oleh Xuan Pingyan, ketika menjemput tandu pengantin Bai Ningyuan di depan gerbang itu, dengan pakaian merah, dan tangan terulur adalah,

'Selamat datang putri mahkota ku, aku berjanji akan selalu mencintai dan melindungi mu. Tidak akan ada selir, hanya ada aku dan kamu. Suatu saat nanti saat aku menjadi Raja, hanya kamu yang akan menjadi Ratuku. Jika aku ingkar janji, langit akan menghukum ku!'

Air mata Bai Ningyuan menetes begitu saja.

'Kau ingkar janji Xuan Pingyan, kau ingkar janji! jika langit tidak menghukum mu, aku yang akan melakukannya' batin Bai Ningyuan, hatinya yang dulu hanya dipenuhi cinta untuk Xuan Pingyan, kini berubah menjadi dendam yang tak akan pernah terhapuskan.

***

Bersambung...

Bab 2

Kereta kuda itu sampai di sebuah istana yang tampaknya baru saja dibersihkan, masih banyak para pelayan yang keluar masuk mengganti tirai dan membawa sapu, juga barang-barang yang usang.

"Nyonya, bukankah ini istana selir paling belakang. Apa maksudnya kaisar meminta nyonya tinggal di tempat ini? nyonya adalah istri pertama kaisar..."

Tangan Bai Ningyuan terangkat. Sebuah isyarat yang dia tunjukkan pada Lin'er. Agar pelayannya yang setia itu diam.

Dia bukan lagi gadis berusia 17 tahun yang begitu naif. Sekarang dia sudah 20 tahun, sudah menjadi seorang ibu, dan sudah kehilangan seluruh anggota pria di keluarganya. Tiga tahun berada di lingkungan istana, cukup membuatnya memahami intrik dan tipu daya orang-orang yang berebut kekuasaan di istana.

Sayangnya, dulu dia hanya diam dan menyaksikan. Dukungan dan usahanya semuanya tertuju pafa Xuan Pingyan. Tak perduli orang lain terluka, atau kesulitan, yang penting suaminya tidak terluka dan tidak kesulitan. Rupanya suaminya sendiri yang sekarang membuka matanya. Tak ada yang namanya kasih sayang tulus di istana. Semua hanya intrik untuk mendapatkan kekuasaan.

"Jangan bicara buruk tentang Kaisar di tempat umum Lin'er. Bahkan tembok bisa mendengar di istana ini!" kata Bai Ningyuan memperingatkan Lin'er.

"Maafkan aku nyonya"

Bai Ningyuan turun dari kereta, setelah penjaga di depan gerbang membuka pintu gerbang itu dengan lebar. Dan membantu kusir menurunkan peti barang milik Bai Ningyuan dan Lin'er.

"Ohooo, lihat siapa yang baru datang!"

Langkah Bai Ningyuan dan Lin'er yang tadinya mau masuk ke dalam istana Hanzi. Terhenti, ketika mendengar suara seorang wanita dan beberapa langkah di belakang mereka.

Bai Ningyuan semakin menghela nafas. Di depannya sudah ada tiga wanita dengan pakaian mewah dan tiga pelayan mereka di belakangnya. Serta seorang wanita yang berjalan di belakang mereka, membuat mereka bertiga membuka jalan untuk wanita berpakaian sutra emas itu.

"Yang mulia permaisuri!" sapa ketiga wanita itu dengan penuh hormat.

Wanita berpakaian sutra emas itu adalah Su Qingyue. Anak sulung perdana menteri Su yang diangkat menjadi permaisuri bersamaan dengan pengangkatan putra mahkota menjadi kaisar. Bahkan disaat yang sama, Bai Ningyuan mendengar ada 4 orang selir lain yang juga di angkat menjadi selir dengan berbagai gelar mereka. Anak pada pejabat, perdana menteri dan para penasehat. Anehnya, tak ada sama sekali anak jenderal sepertinya yang menjadi selir.

"Selir Bai" ucap Su Qingyue dengan kekehan meremehkan di ujung katanya.

"Yang mulia permaisuri sedang bicara padamu. Kenapa tidak memberi hormat?" Putri penasehat kiri Song Wanqing tampak terang-terangan menjilatt permaisuri Su.

Lin'er mengepalkan tangannya di belakang punggung. Dia bahkan ingin menangis karena marah melihat nyonya nya yang dulu sangat baik pada semua putri bangsawan itu, diperlakukan seperti itu.

Namun berbeda dengan Bai Ningyuan. Dia tidak terlihat marah. Tidak terlihat emosi, ekspresi wajahnya sangat datar. Bahkan dia meletakkan kedua tangannya di pinggang sebelah kiri, dan memberi hormat pada permaisuri Su.

"Salam hormat yang mulia permaisuri!" kata Bai Ningyuan dengan lantang.

Su Qingyue merasa sangat puas. Senyum lebar penuh kemenangan tersungging di bibirnya yang merah merona itu.

"Aku terima hormat mu, selir Bai. Sayangnya kamu datang belakangan, jadi hanya istana ini yang bisa aku berikan padamu. Pangkatmu bahkan tidak seperti empat selir yang lain yang jelas diumumkan oleh yang mulia Kaisar. Sayang sekali, hubungan kalian yang katanya begitu dalam itu..." permaisuri Su menjeda ucapannya, namun terkekeh pelan di bagian akhir kalimatnya.

Seolah menertawakan betapa tak berharganya dia di mata Kaisar saat ini. Namun alih-alih merasa marah atau sedih, Bai Ningyuan malah tersenyum.

"Siapa yang mengatakan hubunganku dan kaisar begitu dalam? kami menikah atas titah Kaisar sebelumnya, tak ada perasaan semacam itu di antara kami. 3 tahun, sudah cukup untuk aku mendapatkan perhatian dan tempat di sisi putra mahkota. Istana belakang juga baik, tempat ini sepi, udaranya bersih, dan karena jarak yang begitu jauh, aku bahkan harus menggunakan kereta menuju ke istana Permaisuri untuk memberi salam pagi. Itu benar-benar menghemat tenaga!"

Tangan permaisuri Su mengepal. Kalau dia bilang tidak boleh menggunakan kereta. Bukankah artinya sama saja dengan sengaja menyulitkannya. Di depan, Mash banyak istana kosong.

Permaisuri mengangkat dagunya.

"Bagus kalau selir Bai suka tempat ini. Maka selamanya silahkan tinggal disini!"

Setelah mengatakan itu, permaisuri Su segara berbalik dan pergi. Para pelayannya yang jumlahnya sangat banyak itu segera mengikutinya. Sudah jelas, kalau dia datang memang hanya untuk sombong pada Bai Ningyuan. Ingin menunjukkan pelayannya yang banyak, pengawalnya yang tak terhitung. Dan kekuasaannya yang bisa menentukan tempat tinggal selir yang dia inginkan.

Tiga selir lainnya, mendengus kasar. Selir song bahkan maju melangkah mendekati Bai Ningyuan.

"Tahu tempatmu sekarang kan! dulu begitu angkuh, semua orang harus menunduk hormat padamu. Bagaimana sekarang rasanya menunduk hormat pada orang lain?" tanya Song Wanqing dengan sombongnya.

Bai Ningyuan menatap wanita di depannya itu dengan tegas. Dia adalah putri sulung jenderal Bai. Satu-satunya wanita kaisar yang pernah mengangkat pedang di medan perang. Hanya sekumpulan wanita-wanita manja yang tahunya menangis dan merengek. Sudah mau membuatnya kecil hati? itu tidak mungkin!

Bai Ningyuan melangkah dua langkah. Memangkas jarak antara dirinya dengan Song Wanqing. Tatapannya yang tajam, membuat selir Song gugup dan malah mundur dengan spontan.

"Mau apa kamu...?"

"Kamu tanya bagaimana rasanya menundukkan kepala pada seseorang dan memberi hormat? kamu tanya seperti itu padaku? bukankah kamu juga melakukannya. Dan yang sudah pasti adalah, kamu bahkan pernah melakukan itu, menundukkan kepala mu sangat rendah padaku. Sedangkan aku, tidak! aku tidak pernah dan tidak akan pernah menundukkan kepala padamu!"

"Kau..."

"Aku sangat lelah, jika memang mau mencari keributan, aku malas meladeni main kalian dengan hanya bicara. Bagaimana kalau aku memberikan mu pedang, dan kamu lawan aku! siapa yang pertama kali berdarahh, dia yang harus berlutut..."

"Apa yang kamu katakan? siapa yang mau bermain pedang denganmu. Mana ada selir kaisar main pedang...!"

"Kalau begitu pergi!!" pekik Bai Ningyuan menyela, yang membuat ketiga selir itu terjingkat kaget dan saling mendekat.

Tatapan ramah itu, berubah menjadi sangat tajam dan penuh emosi.

Ketiga selir manja itu segera pergi meninggalkan tempat itu dengan kalang kabut.

Bai Ningyuan kembali berjalan ke gerbang istana Hanzi. Tapi tangannya masih terkepal kuat.

'Xuan Pingyan! penghinaan ini, harus kau juga yang membayarnya. Tunggu saja!' batin Bai Ningyuan yang begitu emosi, tapi tidak menunjukkannya pada siapapun.

***

Bersambung...

Bab 3

Lin'er menghentikan langkahnya, ketika dia melihat semua pelayan yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan mereka pergi meninggalkan istana Hanzi. Hanya ada dua pengawal yang berdiri di depan gerbang. Istana itu bahkan sangat sepi, terlalu sepi rasanya.

Lin'er mengalihkan pandangannya ke arah dapur. Tak ada asap mengepul di cerobong. Apakah artinya mereka harus menyiapkan makanan mereka sendiri? seperti inikah? pada akhirnya kehidupan mereka selanjutnya.

Lin'er menuju ke dapur istana Hanzi itu. Ukurannya memang besar. Tapi, ketika Lin'er masuk ke dalamnya. Bahkan tidak ada apapun disana yang bisa di masak. Hanya gentong air yang bahkan baru terisi setengahnya.

Lin'er kembali masuk ke istana. Bai Ningyuan sedang merapikan buku dan alat tulisnya di meja belajar, di salah satu ruangan dekat kamar tidur utama.

"Nyonya, para pelayan itu bahkan tidak menyiapkan bahan makanan. Tidak ada apapun di dapur!" keluh Lin'er.

Biasanya, yang namanya istana akan ditinggali itu, pasti akan disiapkan bahkan makanan. Lin'er menduga, kalau permaisuri yang memang mengatur semua istana di kerajaan Huaming itu memang sengaja mempersulit istana Hanzi ini.

Bai Ningyuan meletakkan pemberat kertas pemberian dari ayahnya di atas meja. Benda itu salah atau benda kesayangannya. Setelah itu dia mengangkat pandangannya dan tersenyum pada Lin'er.

"Bukankah itu bagus, kita tak perlu memasak. Ambil beberapa keping perak di tempat penyimpanan kita Lin'er, dan beli makanan yang enak. Bagaimana kalau kita rayakan pindah ke tempat baru dengan minum arak, juga makan bebek panggang?"

"Tapi nyonya, kenapa harus menggunakan uang pribadi nyonya. Bukankah seharusnya segala pengeluaran..."

"Lin'er!" sela Bai Ningyuan, "kita tidak bisa mengandalkan orang lain, dan tidak perlu!"

Lin'er segera menganggukkan kepalanya.

"Baik nyonya, aku akan segera membeli makanan enak untuk nyonya!"

"Bawa token kita, mungkin orang-orang itu juga akan mempersulit kita untuk keluar masuk istana!"

"Baik nyonya!"

**

Sementara itu di kediaman jenderal Bai, seorang pria dengan ikat kepala putih di kepalanya, hanfu putih bersama dengan beberapa pengawal di belakangnya tampak berjalan masuk ke aula utama.

"Pangeran kedua..." ucap Lin Qingxue dengan suara bergetar perlahan.

"Nyonya Lin, aku turut berduka. Maaf, aku baru bisa kembali..."

Brukk

Lin Qingxue jatuh berlutut di depan Xuan Ziyuan. Para menantu juga ikut berlutut memberikan penghormatan pada pangeran kedua.

Mata Xuan Ziyuan berkaca-kaca melihat Isak tangis seluruh wanita di kediaman jenderal Bai. Hatinya terasa sakit, dadanya juga sesak. Dia bahkan dikirim pergi, ketika dia berusaha memperingatkan jenderal Bai dan pasukannya oleh kaisar sebelumnya, yang juga ayahnya sendiri.

Jenderal Bai adalah gurunya, yang pertama kali mengajarinya cara menggunakan pedang dengan benar.

Tes

Air matanya jatuh seketika, namun pangeran kedua segera menyeka air matanya. Sekarang, dia bahkan tidak akan dipanggil pangeran kedua lagi. Sekarang gelarnya adalah pangeran Ziyu. Artinya seseorang yang tidak akan ikut campur lagi dengan masalah internal di istana kerajaan.

Wilayah kekuasaannya, hanya sebatas kediamannya dan juga wilayah yang sudah di tunjuk oleh mendiang kaisar sebelumnya. Dan juga bertanggung jawab atas perbatasan wilayah timur kerajaan Huaming.

"Maafkan aku nyonya...!" lirih pangeran Ziyu.

"Kaisar terlalu tidak adil, pangeran..." adu Mu Wanqing, menantu tertua yang saat ini sedang hamil tua.

Pangeran Ziyu menoleh. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Semuanya sudah terlambat.

"Jika ada yang bisa aku lakukan..."

"Jagalah Ning'er kami, pangeran. Dia adalah satu-satunya yang masih harus berada dalam belenggu istana yang sangat kejam itu. Dia sendirian disana!" kata Lin Qingxue dengan mata merah dan basah.

"Benar pangeran, dia bahkan mendapatkan penghinaan. Kaisar kejam dan tidak adil itu menurunkan posisinya tanpa dia melakukan kesalahan. Hatinya pasti hancur saat ini. Bantulah dia pangeran, jika memang ayahku dan suamiku masih pangeran anggap guru dan saudara seperguruan!" sambung Mu Wanqing.

Mata pangeran Ziyu segera tertuju pada papan nama paling kecil yang ada paling pojok. Tertulis disana Bai Yuchen, usianya bahkan baru 14 tahun. Dia adalah anggota termuda dari keluarga jenderal Bai.

Tanpa Xuan Ziyuan sadari, tangannya terkepal kuat begitu saja. Intrik perebutan kekuasaan di istana memang benar-benar kejam. Bahkan remaja yang jika bertemu dengannya selalu ceria itu, harus gugur untuk pertempuran pertamanya membela orang yang bahkan tidak perduli nyawanya.

"Aku berjanji pada kalian. Aku pasti akan melindungi Ningyuan. Bagaimana pun caranya, aku tidak akan biarkan dia dilukai oleh orang-orang yang haus kekuasaan itu!"

Pangeran Ziyu meninggalkan tempat itu setelah memberikan janji yang bukan hanya omong kosong pada keluarga Bai. Kalau dia lama-lama di tempat itu, memang sangat tidak aman, justru bagi keluarga Bai sendiri.

Sekarang keluarga Bai sangat lemah, jenderal Bai dan semua pria sudah gugur. Akan sangat mudah mencari kesalahan, dan membuat keluarga itu menderita.

Pangeran Ziyu hanya bisa melindungi keluarga gurunya itu dari jauh.

Setelah pangeran Ziyu pergi. Lin Qingxue bangkit perlahan dibantu oleh pelayan pribadinya. Dia menghampiri menantunya yang sedang hamil besar dan membantunya bangkit.

"Ibu, apakah pangeran kedua akan..."

"Kita lupa Wanqing, harusnya kita memanggilnya pangeran Ziyu. Dia bahkan tidak bisa menentukan dia harus berbuat apa. Kenapa aku sampai bicara tidak masuk akal, bahkan memintanya melindungi Ning'er" kata Lin Qingxue resah.

"Ibu, pangeran Ziyu adalah murid kesayangan ayah. Dia sangat menghormati ayah, sangat menyayangi Ning'er seperti adik sendiri. Dia pasti akan berusaha menjaga Ning'er!"

"Ibu harap begitu. Tapi bahkan ibu tidak berani berharap banyak!"

Kedua wanita yang kini telah menjanda itu saling merangkul dan menguatkan. Mereka sungguh merasa begitu kecil saat ini. Bahkan tak bisa berbuat apapun, padahal ketidakadilan sudah terjadi berkali-kali pada mereka. Semua anggota keluarga pria telah gugur, bahkan tidak mendapatkan kehormatan apapun. Justru, putri sulung mereka mendapatkan penurunan pangkat. Hidupnya di Harem istana pasti akan sangat sulit.

Namun, mereka juga tidak bisa melawan. Sungguh akhir yang sangat menyedihkan, bagi orang-orang yang benar-benar tulus membela kerajaan.

Di tempat berbeda, malam sudah semakin mendekat. Seorang pria berjubah emas dan duduk di singgasana yang begitu megah menutup lembaran dokumen terakhir yang harus dia periksa.

"Yang mulia, Kasim Chen datang. Membawa 5 plakat selir yang..."

"Aku ingin istirahat di istana ku sendiri. Beberapa hari ini sangat melelahkan. Aku tidak punya tenaga meladeni wanita-wanita manja itu!" sela kaisar.

Dialah Xuan Pingyan. Suami yang telah menjadikan istri pertamanya sendiri sebagai selir ketika menjadi seorang kaisar.

"Baik yang mulia!" kata Kasim Wang meski belum selesai bicara.

"Bagaimana keadaannya?"

Kasim Wang cukup paham, kemana arah bicara kaisar nya.

"Sudah pindah ke istana Hanzi yang mulia, sesuai pengaturan permaisuri Su!"

"Malam ini dingin, tambahkan arang dan kayu bakar ke istananya!"

"Baik yang mulia!"

***

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!