Indonesia
NovelToon NovelToon

TEROR!

Prolog....

Rian melangkah menyusuri area parkir basement B3 dengan langkah tenang. Cahaya lampu berwarna putih redup menggantung di langit-langit beton, beberapa di antaranya berkedip pelan seolah sebentar lagi akan mati.

Suasana di sana begitu sunyi. Hanya terdengar gema langkah sepatunya yang memantul di antara deretan mobil yang terparkir rapi.

Tangannya menggenggam kunci mobil sambil sesekali menekan tombol pembuka, membuat lampu mobilnya berkedip dua kali dari kejauhan.

Rian mempercepat langkah. Yang ia inginkan saat itu hanyalah segera pulang dan bertemu dengan pacarnya.

Begitu tiba di samping mobil, Rian mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, tubuhnya mendadak menegang. Bulu kuduknya berdiri, rasa dingin menjalar perlahan dari tengkuk hingga ke punggungnya.

Perasaan itu datang begitu saja, tanpa sebab yang jelas. Seolah-olah, baru saja ada seseorang yang melintas tepat di belakangnya.

Refleks, tangan Rian berhenti di udara. Ia tidak berani langsung menoleh. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, sementara telinganya berusaha menangkap suara sekecil apa pun di tengah keheningan basement.

Tok...

Suara langkah kaki terdengar samar, Rian segera membalikkan badan.

Lorong parkir di belakangnya hanya dipenuhi deretan pilar beton dan mobil-mobil yang diam membisu. Tidak ada siapa pun. Bahkan suara langkah tadi pun lenyap begitu saja, seolah tidak pernah ada.

Rian mengembuskan napas panjang sambil menggeleng pelan. Mungkin hanya perasaannya yang terlalu lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.

Lagi pula, basement seluas ini memang sering menimbulkan gema yang menipu pendengaran.

Ia memilih mengabaikan firasat aneh itu. Dengan cepat Rian membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengunci seluruh pintu secara otomatis.

Mesin mobil dinyalakan, disusul suara pendingin udara yang mulai berembus pelan memenuhi kabin.

Rian menyandarkan punggungnya ke jok. Matanya sempat memandang ke kaca spion tengah. Pantulan kursi belakang tampak kosong. Tidak ada siapa pun.

"Dasar... kebanyakan pikiran," gumamnya lirih.

Ia meraih ponsel yang tergeletak di konsol tengah, lalu mencari nama seseorang di daftar kontak. Senyum tipis mulai terukir di wajahnya ketika menemukan nama yang dicarinya.

Larasati..

Tanpa berpikir lama, Rian menekan tombol panggil. Baru dua kali nada sambung terdengar, panggilan itu langsung diangkat.

"Halo, sayanggg..." suara Larasati terdengar manja dan mendayu-dayu dari seberang, menyapa dengan nada centil khasnya.

"Kamu lagi di rumah, hm?" tanya Rian.

"Iya, bebe... Aku lagi bosan banget tahu di rumah, sendirian terus," sahut Larasati sambil terkekeh pelan, nada suaranya dibuat-buat agak merajuk.

"Kenapa, ih? Kangen ya sama aku?"

Rian tersenyum tipis mendengar respons kekasihnya itu.

"Malam ini ikut aku, yuk."

"Emmm... mau diajak ke mana sih, bebe? Jangan bilang cuma makan biasa ya, aku bosan tahu."

"Kita ke diskotik," jawab Rian mantap.

"Lalu habis puas joget dan minum-minum... kita lanjut main di tempatku semalaman. Gimana?"

Larasati tertawa manja, terdengar sangat senang dengan ajakan tersebut.

"Aww... nakal banget sih! Tapi aku suka, ih. Serius nih kita mau pesta terus lanjut main di ranjang?"

"Serius, sayang. Aku lagi butuh pelampiasan penat. Capek sih habis kerja, tapi kalau bayangin bakal di kamar sama kamu semalaman, capeknya langsung hilang."

"Ih, pinter banget ambil hati aku! Yaudah deh, aku mau siap-siap dulu pakai baju paling seksi malam ini khusus buat kamu," balas Larasati centil, diakhiri dengan tawa kecilnya yang menggoda.

"Siap. Dua jam lagi aku jemput kamu ya."

"Oke bebe! Jangan lama-lama ya, aku udah nggak sabar nih. Mwah! Hati-hati di jalan sayanggg..."

Panggilan pun berakhir. Rian meletakkan ponselnya kembali, lalu memasukkan gigi mobil ke posisi mundur.

Tanpa menyadari, dari balik salah satu pilar beton yang remang, sepasang mata memandang ke arah mobilnya tanpa berkedip sedikit pun, mengikuti kendaraan itu hingga perlahan meninggalkan basement B3.

****

Larasati berdiri di depan pintu apartemen Rian dengan wajah dipenuhi amarah.

Tangannya berkali-kali menggedor pintu hingga suaranya bergema di lorong yang masih lengang pada pagi itu.

Brak! Brak! Brak!

"Rian! Buka pintunya!" teriaknya dengan nada kesal.

Tak ada jawaban. Larasati kembali menggedor pintu lebih keras.

Kesabarannya benar-benar habis.

Semalam Rian telah berjanji akan menjemputnya tepat dua jam setelah menelepon untuk pergi ke diskotik dan menghabiskan malam bersama.

Karena percaya pada ucapan kekasihnya itu, Larasati bahkan sudah berdandan sangat seksi sejak sore.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Tiga jam.

Rian tak kunjung datang.

Awalnya Larasati berpikir Rian terjebak macet. Namun, ketika berkali-kali menghubungi nomor Rian, telepon itu hanya berdering panjang tanpa pernah diangkat.

"Rian! Buka pintunya!" teriak Larasati sambil menggedor pintu apartemen berkali-kali.

Brak! Brak! Brak!

Suaranya menggema di lorong, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Larasati mengembuskan napas kasar, berusaha menahan amarah yang sejak semalam terus memuncak.

Dengan kesal, ia mengeluarkan kartu akses yang pernah diberikan Rian kepadanya. Rian memang sengaja memberikan satu kartu cadangan agar Larasati bisa masuk kapan saja.Larasati menempelkan kartu itu pada panel pemindai.

Bip.

Kunci elektronik berbunyi pelan, lalu pintu apartemen terbuka.

"Rian?" panggilnya sambil melangkah masuk.

Apartemen itu sunyi. Pendingin ruangan masih menyala, tetapi tidak terdengar suara televisi, musik, ataupun aktivitas apa pun. Hanya keheningan yang menyambut kedatangannya.

Larasati menutup pintu, lalu berjalan cepat menuju kamar tidur. Ia yakin Rian sengaja mengabaikannya karena masih tertidur, mungkin pacarnya itu bersenang-senang semalam tanpa dirinya, atau mungkin saat ini ada perempuan lain yang tidur di sampingnya. Pikir Larasati.

Sesampainya di depan pintu kamar, Larasati kembali mengetuk dengan keras.

Tok! Tok! Tok!

"Rian! Bangun! Ini aku!"

Tak ada sahutan. Kesabarannya habis. Ia mulai memukul pintu dengan kepalan tangan.

Brak! Brak!

"Rian! Cepat buka pintunya!"

Lagipula, tidak mungkin pergi, karena mobilnya masih terparkir di basement apartemen.

Kesabaran Larasati sudah berada di batas puncak. Ketukan beruntun pada pintu kayu di hadapannya tak kunjung membuahkan hasil.

Dengan napas terengah menahan kejengkelan, ia menggeledah isi tasnya secara kasar hingga jemarinya menemukan kunci cadangan.

"Awas aja kamu ya, Rian!" gumam Larasati sengit dengan gigi mengatup rapat.

Rasa jengkel membakar dadanya. Rian benar-benar keterlaluan. Kekasihnya itu sudah membuatnya menunggu semalam hingga larut dengan pakaian seksi, mengabaikan belasan panggilan telepon, dan sekarang, pria itu pasti sedang enak-enakan tidur nyenyak di dalam tanpa rasa bersalah sedikit pun. Atau bahkan dia sedang di temani perempuan lain yang tidur disebelahnya.

"Dasar brengsek! Awas aja kamu kalau ada cewek di dalam!" Kesalnya.

Dengan emosi, Larasati memasukkan mata kunci ke dalam lubangnya. Suara klek, terdengar nyaring. Ia memutar gagang pintu dan mendorongnya lebar-lebar, siap menyemburkan amarah yang sudah tersusun rapi di kepalanya.

Namun, kalimat makian itu mendadak mati di tenggorokan. Pemandangan di hadapannya meremukkan seluruh emosi Larasati, menyisakan kepanikan yang membuat darahnya berdesir dingin.

Di tengah ruangan yang remang-remang, sosok Rian tergantung kaku. Tubuhnya berayun sangat pelan, terjerat kabel lampu yang melilit lehernya dan terikat kuat pada langit-langit kamarnya.

Pria itu masih mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Dan matanya terbuka.

"Argh......!!! " Teriakannya menggema menatap ngeri pada Rian yang sudah menjadi mayat.

Awal pertemuan..

LIMA TAHUN LALU, ENAM BULAN SEBELUM KEMATIAN SABRINA..

Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan rindang yang berjajar di sepanjang selasar utama Universitas Artha Persada.

Udara masih cukup sejuk, tetapi suasana kampus sudah mulai dipenuhi hilir-mudik mahasiswa yang terburu-buru mengejar kuliah jam pertama.

Di antara deretan mahasiswa itu, Sabrina melangkah setengah berlari. Tangannya mendekap erat tumpukan buku dan modul tebal, mulai dari Manajemen Operasional Hotel, Sanitasi & Hygiene, hingga dua jilid buku Food & Beverage Management, yang tingginya hampir menutupi pandangan mata.

Napasnya tersendat, sementara tali tas punggungnya terus-menerus meluncur turun dari bahu kiri.

Dia tergesa-gesa. Namun, persis di belokan dekat perpustakaan pusat, nasib berkata lain.

Seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan, tampak tergesa-gesa sambil menatap fokus ke layar ponsel di tangannya, muncul secara mendadak dari balik pilar besar.

Brak!

Benturan keras tak terelakkan. Bahu kokoh pria itu menghantam tubuh Sabrina. Saking kencangnya dorongan tersebut, Sabrina terpental beberapa langkah ke belakang.

Tumpukan buku tebal yang ia pertahankan mati-matian terlepas begitu saja dari pelukannya, melayang bebas sebelum meluncur dan berserakan di atas lantai ubin.

Lembar-lembar catatan selipan modul praktikumnya ikut berhamburan tertiup angin koridor.

"Aduh!" ringis Sabrina, refleks memegang bahunya yang.

Pria itu terhenti mendadak, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak kembali.

Pandangannya beralih seketika dari ponsel menuju tumpukan buku yang berserakan di sekitar kaki mereka, lalu terangkat menatap Sabrina dengan raut terkejut.

"Aduh, maaf! Maaf banget, aku benar-benar nggak lihat jalan," ringis pria itu. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan langsung berlutut di atas ubin koridor.

Dengan gerakan cepat dan cekatan, jemarinya mengumpulkan lembar-lembar modul yang terancam terbang, lalu merapikan tumpukan buku tebal milik Sabrina.

Tatapan matanya penuh rasa bersalah saat menyerahkan kembali buku-buku itu.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit atau luka?" tanyanya memastikan. Dari pin logo Fakultas Ekonomi dan Bisnis UAP yang tersemat di tali tasnya, terlihat jelas ia adalah seorang senior dari jurusan Manajemen.

Sabrina yang masih memijat bahunya yang agak ngilu menggeleng perlahan, menerima tumpukan buku itu.

"Tidak apa-apa. Cuma kaget saja. Lagipula tumpukan bukuku memang terlalu tinggi. Makasih ya."

Julian tersenyum tipis, merasa lega sekaligus masih merasa bersalah.

"Tetap saja salahku jalan sambil nunduk menatap layar HP. Sebagai gantinya, biar aku bantu bawakan buku-buku tebal ini sampai ke kelasmu. Kamu mau ke gedung mana?"

Sabrina meremas pelan ujung kemejanya, mencoba menutupi debar halus di dadanya. Wajahnya terasa sedikit hangat melihat sikap santun dan perhatian dari senior di hadapannya ini.

"Emm... boleh, kalau tidak merepotkan," sahut Sabrina pelan, malu-malu. Ia menyerahkan separuh tumpukan buku yang paling tebal kepada Julian.

"Aku ada kelas Bu Maya di Gedung B, lantai dua."

Julian tersenyum makin lebar, menyambut tumpukan buku itu dengan mudah.

"Sama sekali nggak merepotkan, kok. Kebetulan aku juga mau ke arah sana."

Mereka berdua mulai berjalan berdampingan melintasi koridor UAP. Langkah kaki Julian yang jangkung sengaja disesuaikan agar tetap selaras dengan langkah Sabrina.

"Kamu anak Manajemen Perhotelan tingkat awal, ya?" tanya Julian membuka percakapan, melihat judul modul yang dibawanya.

"Buku-buku operasional sama standar pelayanan begini biasanya jadi makanan wajib anak Perhotelan."

Sabrina terkekeh pelan, rasa malunya pelan-pelan terkikis oleh keramahan Julian.

"Iya, aku anak baru." Jawab Sabrina.

"Pantesan," Julian terkekeh pendek.

"Lain kali kalau butuh bantuan bawa barang berat di sekitar kampus, atau kalau butuh koneksi ke anak-anak jurusan Manajemen, cari aja aku. Aku angkatan atas di Manajemen." katanya.

"Oiya, aku Julian." Julian menyebut namanya. memperkenalkan diri pada Sabrina.

"Aku Sabrina." Balas Sabrina.

"Nama yang bagus." puji Julian.

Julian tertawa pelan, suara renyah yang terdengar tulus, mencoba mencairkan kecanggungan yang masih menyelimuti Sabrina.

Sabrina hanya tertunduk malu-malu mendapat pujian itu.

Mereka berjalan bersisian menyusuri selasar panjang menuju Gedung B. Cahaya matahari pagi yang tadi terasa cerah, entah kenapa, terasa sedikit meredup saat mereka memasuki area bayangan pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan.

"Jadi, anak baru ya?" Julian kembali membuka percakapan, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Sabrina.

Wajah Sabrina memerah, perpaduan antara malu dan senang karena senior setampan Julian, bisa bersikap begitu ramah padanya.

Ia kembali menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipisnya di balik tumpukan buku yang masih ia dekap.

"Karena baru kamu pasti masih binggung kan? ." kata Julian.

"Iya," Sabrina mengangguk paham.

Mereka terus berjalan, melewati pintu-pintu kelas yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara dosen yang sedang mengajar, diselingi tawa pelan mahasiswa.

​Mereka menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua Gedung B. Sesampainya di atas, Julian menghentikan langkah dan menoleh.

"Nah, kita sudah di lantai dua. Kelas Bu Maya ruang berapa tadi?"

​"Ruang 204, di ujung lorong sebelah kiri," tunjuk Sabrina halus.

​Mereka berjalan beberapa meter lagi hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu kayu bernomor 204. Dari balik panel kaca pintu, terlihat Bu Maya belum hadir, tetapi beberapa teman seangkatan Sabrina sudah mulai memenuhi bangku kelas.

​Julian mengulurkan tumpukan modul Manajemen Operasional Hotel milik Sabrina dengan sangat hati-hati. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan singkat saat Sabrina menyambut buku-buku tersebut, menyalurkan sentuhan hangat yang membuat debar di dada Sabrina kembali berpacu.

​"Ini bukunya. Pas ya, nggak ada yang tertinggal atau lecek," ujar Julian seraya tersenyum manis, mengusap pelan bagian belakang lehernya.

​"Makasih banyak ya. Benar-benar sangat membantu. Maaf juga sudah bikin repot dan terhambat kakak mau antar berkas," balas Sabrina tulus, memeluk erat seluruh modulnya.

​"Sama sekali nggak merepotkan. Justru aku yang harusnya minta maaf karena tadi jalan sambil lihat HP," jawab Julian ramah.

"Ya sudah, masuk sana. Semoga kuliahnya lancar ya, Sabrina. Sampai ketemu lagi di sekitaran kampus."

​Julian mengedipkan sebelah matanya jahil sebelum akhirnya berbalik, berjalan santai menyusuri selasar Gedung B dengan langkah tegapnya.

Sabrina berdiri mematung sejenak di depan pintu, menatap punggung seniornya yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong, meninggalkan simpul senyum manis yang enggan pudar dari wajahnya.

Kamu Hebat

Jam perkuliahan terakhir baru saja usai. Matahari sore mulai menyurat batas horizon, membiaskan warna jingga kemerahan di atas langit Universitas Artha Persada.

Sabrina melangkah keluar dari lobi utama dengan helaan napas lega. Bahunya terasa begitu ringan setelah seharian bergelut dengan tumpukan modul Manajemen Operasional Hotel.

Ia berjalan pelan menyusuri trotoar menuju gerbang utama.

Di sekelilingnya, deretan mobil mewah dan motor berkapasitas mesin besar berlalu-lalang menembus area parkir kampus. Sebagai kampus elit ternama, mayoritas mahasiswa kampus itu memang berasal dari kalangan berada yang membawa kendaraan pribadi setiap harinya.

Hanya Sabrina, satu dari sedikit mahasiswa yang berhasil menembus kampus melalui jalur beasiswa penuh, yang harus mengandalkan transportasi umum untuk mobilitas hariannya.

Sabrina berencana menunggu bus kota atau ojek di luar gerbang. Namun, sore itu arus lalu lintas di depan kampus terlihat sangat padat dan merayap.

Sabrina mendesah pelan seraya berdiri di tepi jalan, sibuk menatap layar ponselnya yang tak kunjung mendapatkan pengemudi ojek.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam berkilau melambat dan berhenti tepat di samping tempatnya berdiri. Kaca jendela bagian depan perlahan turun, memperlihatkan sosok pria yang tak asing lagi baginya.

"Sabrina?" panggil sebuah suara bernada hangat.

Sabrina agak tersentak dan menoleh. Di balik kemudi, Julian tersenyum ramah. Ia telah melepas blazer organisasinya, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku.

"Eh, Kak Julian," sapa Sabrina, mengulas senyum canggung.

"Mau pulang, kan? Ayo masuk, aku antar sekalian," tawar Julian seraya membukakan kunci pintu penumpang.

Sabrina mendadak serba salah. Rasa minder dan sungkan sebagai anak beasiswa mendadak menyergapnya.

"Ah, tidak usah, Kak. Makasih banyak. Aku mau naik bus atau tunggu ojek online saja."

Julian menatapnya heran, lalu melirik ke arah jalanan luar kampus yang macet total.

"Yakin? Jam segini jalanan macet parah, ojek online pasti susah dapetnya dan bus bakal lama banget. Ini juga udah mau gelap."

"Tapi... nanti malah merepotkan Kak Julian. Kost Ku lumayan jauh dari area kampus," tolak Sabrina halus, jemarinya meremas tali tasnya penuh ragu.

Julian tertawa pelan, suara renyah yang terdengar tulus seperti tadi pagi.

"Sama sekali nggak merepotkan, Sabrina. Lagian, anggap aja ini penebus salahku yang tadi pagi bikin buku-buku kamu berserakan dan bahumu sakit. Beneran, santai aja. Ayo naik."

Ia menatap Sabrina dengan pandangan menyejukkan yang jujur dan tanpa pretensi sedikit pun, membuat rasa canggung di hati mahasiswi tingkat awal itu perlahan luruh.

Melihat situasi jalanan yang kian padat dan langit sore yang meredup, Sabrina akhirnya mengangguk pelan seraya mengulas senyum tipis.

"Ya Udah deh... kalau beneran nggak mengganggu, aku mau. Makasih banyak ya, Kak."

"Sama-sama. Nah gitu, dong," sahut Julian gembira.

Sabrina membuka pintu penumpang depan lalu masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan sejuk. Begitu pintu tertutup rapat, bisingnya arus kendaraan di luar seketika tergantikan oleh alunan musik instrumental pelan.

Julian melajukan sedannya perlahan, membelah gerbang kampus, menyisakan debar halus yang kembali berderu di dada Sabrina.

Julian memutar kemudi dengan santai saat mobilnya tertahan lampu merah di persimpangan jalan.

Ia melirik sekilas ke arah samping, melihat Sabrina yang duduk agak kaku seraya meremas lembut tali tasnya di atas pangkuan.

"Kamu ngekost di sini?" buka Julian kembali melontarkan pertanyaan, mencoba mencairkan kecanggungan yang masih membayang di antara mereka.

Sabrina menoleh tipis, lalu mengangguk mengiyakan.

"Iya, Kak," sahutnya dengan suara pelan dan santun.

"Aku kost."

Julian mengangguk-angguk mengerti, tangannya terangkat mengetuk-ngetuk setir kemudi secara teratur mengikuti ritme lagu.

Sorot matanya menunjukkan rasa tertarik yang ramah, bukan sekadar basa-basi kosong.

Lampu lalu lintas berganti hijau, dan ia kembali menginjak pedal gas secara perlahan.

Lalu, Julian bertanya lagi.

"Berarti nggak ada keluarga sama sekali di kota ini? Mungkin kerabat, paman, atau saudara jauh?"

Sabrina menggelengkan kepala perlahan. Wajah cantiknya membiaskan ketegaran yang samar di bawah temaram cahaya lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu.

"Tidak ada, Kak," jawab Sabrina, mengulas senyum tipis yang jujur.

"Aku benar-benar sendirian di kota ini. Kedua orang tuaku ada di desa."

Jawaban singkat itu membuat Julian terdiam sejenak. Pengakuan sederhana dari mahasiswi tingkat awal tersebut terasa begitu kontras dengan latar belakang sebagian besar mahasiswa Universitas Artha Persada yang datang dari keluarga bergelimang harta dan serba ada.

Julian menoleh sekilas, menatap Sabrina dengan binar tatapan yang mendadak berubah penuh rasa kagum.

"Hebat ya kamu," puji Julian tulus, suaranya terdengar begitu hangat dan menyejukkan.

"Berani merantau sendirian jauh-jauh dari desa ke kota besar. Nggak semua orang punya keberanian dan kecerdasan seperti kamu, Sabrina."

Mendengar pujian yang meluncur begitu alami tanpa kesan merendahkan sedikit pun dari seniornya, pipi Sabrina mendadak terasa hangat.

Warna kemerahan menyapu lembut parasnya yang ayu. Ia menunduk sebentar, berusaha menyembunyikan senyum malu-malu yang terukir di bibirnya.

"Makasih banyak, Kak Julian," bisik Sabrina lembut.

"Aku cuma berusaha sebisa mungkin supaya nggak mengecewakan orang tua di kampung."

"Dan aku yakin mereka pasti bangga banget punya anak seperti kamu," balas Julian mantap, mengulas senyum manis yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Percakapan sederhana itu perlahan-lahan mengikis dinding canggung di antara mereka.

Kehangatan sikap Julian membuat rasa minder yang sempat hinggap di hati Sabrina perlahan meluruh, menyisakan debar halus yang makin berdesir di dalam dadanya seiring mobil terus melaju menuju tempat kosnya.

Setelah menembus kemacetan kota yang cukup parah di jam pulang kantor, akhirnya satu jam berlalu hingga sedan hitam milik Julian berhenti tepat di depan sebuah gang yang agak sempit.

Di sudut gang tersebut, berdiri bangunan tempat kos Sabrina yang tampak sederhana namun rapi.

Julian mematikan mesin mobilnya, membuat kabin mendadak senyap diselimuti alunan musik instrumental pelan.

Ia menoleh ke arah Sabrina, lalu menatap sekeliling area permukiman itu dengan dahi sedikit berkerut, tampak mengamati situasi jalanan.

Sebelum Sabrina sempat melepaskan sabuk pengaman dan bersiap turun, Julian memajukan sedikit tubuhnya dan kembali membuka suara.

"Kok kamu nggak kost yang di dekat kampus aja?" tanya Julian penuh rasa penasaran.

"Ini lumayan jauh, lho. Dari kampus ke sini makan waktu hampir satu jam kalau lagi macet begini. Kasihan kamu harus bolak-balik tiap hari."

Sabrina menghentikan gerakannya sejenak. Ia berpaling menatap seniornya itu, lalu menyunggingkan senyum tipis yang jujur dan tanpa rasa malu sedikit pun.

"Kalau di dekat kampus, harga kos-kosannya mahal, Kak," sahut Sabrina santai, disertai kekehan pelan.

"Daerah sekitar UAP kan rata-rata fasilitasnya mewah, jadinya harganya melambung tinggi. Kurang masuk di kantong untuk anak beasiswa seperti aku. Kalau di sini harganya jauh lebih terjangkau, lagipula tempatnya lumayan tenang buat belajar."

Julian terdiam mendengar jawaban polos namun sangat realistis itu.

"Paham, sih..." gumam Julian pelan, mengangguk-angguk penuh empati. Senyum hangat kembali terukir di wajahnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!