Gedung Grand Ballroom Hotel Bintang Lima di pusat kota Jakarta hari itu disulap menjadi lautan kemewahan yang memesona. Dekorasi ribuan tangkai white avalanche roses yang diimpor langsung dari Belanda, berpadu sempurna dengan juntaian lampu crystal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Alunan musik instrumental dari string quartet mengalun lembut, menciptakan atmosfer sakral nan romantis. Seluruh tamu undangan dari kalangan elite pebisnis, pejabat tinggi, hingga para pesohor negeri telah memenuhi setiap kursi yang disediakan.
Di ruang tunggu pengantin pria, detak jantung Rangga Pratama seirama dengan denting jam dinding yang berputar cepat. Pria berdarah bangsawan bisnis dengan postur tinggi tegap itu berdiri di depan cermin besar. Setelan tuksedo rancangan desainer Italia melekat sempurna di tubuh atletisnya, membuat garis rahangnya yang tegas semakin terlihat memesona.
Namun, bukan kemewahan jas atau statusnya sebagai CEO muda Pratama Group yang memenuhi pikirannya saat ini. Senyum lebar tak henti-hentinya mengembang di bibirnya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Wanita yang selama ini bertahta di singgasana hatinya, Resti gadis anggun dan lembut yang telah mengisi hari-harinya selama tiga tahun terakhir—akan resmi menjadi pendamping hidupnya.
"Hei, wajahmu sudah mau robek karena senyum terus, Rangga," gurau Chandra, sang ayah, yang baru saja masuk ke ruangan bersama Evelyn, ibunya.
Rangga berbalik, tawa kecil lolos dari bibirnya. "Ayah bisa saja. Siapa yang tidak bahagia? Hari ini aku menikahi wanita yang paling aku cintai di dunia ini, Resti."
Evelyn merapikan kerah jas putranya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Ibu sangat bangga padamu, sayang. Resti adalah gadis yang sempurna untukmu. Lembut, penyayang, dan sangat mencintaimu."
"Aku tahu, Bu," jawab Rangga penuh keyakinan. Bayangan senyum manis Resti, suara lembutnya, dan keanggunannya saat berjalan di sisinya selama ini berkelebat di kepala Rangga. Pria itu sudah menyiapkan masa depan yang indah. Bagi Rangga, pernikahan ini adalah puncak dari segala pencapaian hidupnya.
Di luar ruangan, pintu utama ballroom mulai terbuka perlahan. Musik pengantar pengantin bergeser menjadi melodi yang jauh lebih agung. Saatnya tiba. Rangga melangkah keluar dengan dada membusung bangga, bersiap menyambut sang kekasih hati di ujung altar.
Badai di Ruang Rias dan Paksaan yang Mengerikan
Namun, kebahagiaan itu seketika menguap tanpa sisa di ruangan rias bagian timur gedung.
Suara isak tangis tertahan dan kepanikan luar biasa memenuhi ruangan tersebut. Andre, ayah Resti, berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat pasi hingga keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Sementara Sarah, sang ibu, terduduk lemas di sofa sambil memegang sebuah amplop putih berukuran sedang. Itu adalah amplop dari anak sulungnya Resti.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Andre?! Tamu sudah berkumpul di luar! Pendeta dan saksi sudah siap!" Jerit Sarah histeris, meremas gaun mahalnya sendiri.
Andre merosot ke kursi, menjambak rambutnya frustrasi. "Anak itu... Resti benar-benar anak durhaka! Beraninya dia melakukan ini di hari pernikahannya sendiri!"
Di sudut ruangan, berdiri seorang gadis dengan balutan kaos polos lusuh dan celana jeans belel—Rania, adik kandung Resti. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan, melainkan ekspresi jengkel yang teramat sangat. Rania baru saja datang dari toko rotinya setelah dijemput paksa oleh dua orang algojo suruhan ayahnya. Di tangan Rania saat ini terselip secarik surat yang ditinggalkan Resti. Dia mengambilnya tadi.
'Ayah, Ibu, maafkan Resti. Aku tidak bisa menikahi Rangga. Aku sangat mencintainya, tapi mimpiku jauh lebih besar. Hari ini aku sedang penerbangan menuju Paris. Aku ingin mengejar impianku menjadi Supermodel Internasional. Tolong maafkan aku.."
'Ayah, Ibu, maafkan Resti. Aku tidak bisa menikahi Rangga. Aku sangat mencintainya, tapi mimpiku jauh lebih besar. Hari ini aku sedang penerbangan menuju Paris. Aku ingin mengejar impianku menjadi Supermodel Internasional. Tolong maafkan aku...
...Resti'...
Rania mendengus kasar, melipat surat itu dengan gerakan sembrono. "Ck, luar biasa drama keluarga kita hari ini. Kak Resti memang gila. Bisa-bisanya dia meninggalkan miliarder sepadan Rangga Pratama demi ambisi setengah matang jadi model di Paris. Tinggi badan saja pas-pasan, mau jadi model haute couture?" maki Rania tajam.
"Rania! Jangan banyak komentar!" bentak Andre dengan mata melotot merah. Pria paruh baya itu berdiri, lalu mencengkeram kedua bahu Rania dengan kasar. "Kau dengar ayah? Pernikahan ini tidak boleh batal! Keluarga Pratama adalah mitra bisnis terbesar kita, dan rasa malu akibat pengantin kabur akan menghancurkan kita selamanya!"
Rania menepis tangan ayahnya dengan kasar, melipat tangan di dada. "Lalu apa urusannya denganku? Mau keluarga Pratama hancur lebur jadi abu, itu bukan urusanku. Aku sibuk, Ayah! Toko roti Sweet Crumb milikku sedang kebanjiran pesanan tart pernikahan untuk akhir pekan ini. Aku harus kembali mengadon adonan!"
"Kau harus menggantikan Resti!" sergah Sarah, bangkit dari sofanya dengan mata menatap Rania penuh ancaman kejam. "Kau harus pakai gaun pengantin itu dan jalan ke altar!"
"Hah? Ogah!" tolak Rania mentah-mentah, suaranya meninggi tak kalah garang. "Aku tidak gila mau menyerahkan hidupku untuk pria sinis seperti Rangga Pratama! Aku lebih baik mati kelaparan daripada jadi pengantin pengganti!"
Sarah menyeringai dingin. Wanita paruh baya itu tahu persis kelemahan terbesar putri bungsunya yang terkenal pelit, perhitungan, dan gila kerja itu.
"Oh, kau menolak?" Sarah melangkah mendekat, lalu mengeluarkan sebuah surat kepemilikan tanah dan bangunan dari dalam tasnya. "Ingat toko roti kesayanganmu itu, Rania? Ruko tempat tokomu berdiri itu sepenuhnya atas nama Ayah. Jika kau menolak mengenakan gaun ini sekarang juga, detik ini juga Ayah akan menyuruh orang menyiram bensin dan membakar toko roti sialan milikmu beserta seluruh oven mahal dan resep rahasiamu!"
Rania tertegun. Napasnya tercekat. Matanya melebar menatap lembaran kertas di tangan Sarah, lalu beralih menatap tajam ke arah ayahnya yang mengalihkan pandangan karena rasa bersalah. Toko roti itu bukan sekadar tempat usaha bagi Rania; itu adalah darah, keringat, air mata, dan satu-satunya sumber kekayaan independen yang ia bangun dari nol setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kakaknya yang manja.
'Sialan! Tua bangka licik!' batin Rania meraung marah.
Dalam sepersekian detik, kalkulator di kepala Rania berputar kencang. Jika toko rotinya terbakar, kerugiannya mencapai miliaran rupiah, belum lagi hilangnya mata pencaharian karyawannya yang sangat ia sayangi. Rela berkorban demi karyawan setianya adalah prinsip mutlak bagi Rania. Di sisi lain, menjadi istri seorang CEO kaya raya... hm, bukankah itu berarti ada banyak celah finansial yang bisa ia manfaatkan?
Rania menarik napas panjang, meredam gejolak amarah di dadanya, lalu memasang senyum paling sinis dan dingin yang ia miliki.
"Baiklah. Kalian menang," ucap Rania penuh penekanan, merebut gaun pengantin mewah bertabur kristal Swarovski dari tangan ibunya. "Tapi catat ini baik-baik di kepala kalian: Begitu toko rotiku dipindahtangankan secara sah atas namaku tanpa ada campur tangan kalian lagi, aku akan membuat hidup pria bernama Rangga Pratama itu jungkir balik di tanganku!"
•
•
•
•
Di Bawah Cadar Putih dan Janji Palsu di Altar. Beberapa menit kemudian, transformasi kilat itu selesai. Rania berdiri dengan balutan gaun pengantin putih menjuntai yang sangat megah. Namun, sesuai dengan rencana darurat agar pihak keluarga Pratama tidak curiga sebelum perjanjian damai diteken, wajah Rania ditutupi rapat menggunakan veil atau cadar pengantin berenda tebal berwarna putih gading. Kain itu cukup transparan bagi Rania untuk melihat luar, tapi cukup buram untuk menyembunyikan identitas aslinya dari pandangan para tamu.
Pintu samping ballroom terbuka. Andre mendampingi putrinya yang dianggap sebagai Resti berjalan pelan menuju altar utama.
Di ujung altar, Rangga berdiri dengan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Pria itu menatap sosok wanita di balik cadar putih yang berjalan mendekat. Ada sedikit rasa ganjil yang melintas di benaknya—cara berjalan wanita itu terasa lebih tegas, tidak gemulai seperti biasanya. Namun, Rangga menepisnya, menganggap itu hanyalah kepanikan wajar seorang mempelai wanita di hari pernikahan.
Saat tangan Resti diserahkan oleh Andre kepada Rangga, pria itu menggenggam jemari tersebut dengan hangat.
Dalam hati Rania, ia mendengus sinis.
'Pria bodoh ini sedang tersenyum lebar pada orang yang salah. Kalau saja dia tahu wanita di depannya ini bukanlah Resti, dia pasti sudah lari ketakutan.'
Acara pemberkatan berjalan khidmat. Suara pendeta mengesahkan ikatan suci di antara mereka, disusul tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan yang hadir.
Tibalah pada prosesi puncak acara: pengantin pria diizinkan membuka penutup wajah untuk memberikan ciuman pertama kepada istrinya.
Rangga mengangkat tangannya perlahan ke arah veil putih tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menatap wajah wanita yang sangat dicintainya. Namun, sebelum kain itu tersingkap seluruhnya, Rania dengan sigap menarik sedikit kain tersebut agar hanya bagian keningnya saja yang terbuka, sementara bagian hidung ke bawah tetap terlindung bayangan cadar.
Rangga mengernyitkan alisnya, merasa aneh. "Resti, kenapa cadarmu tidak dibuka semua? Aku ingin melihat wajahmu dengan jelas."
Dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan setengah berbisik—meski terdengar dibuat-buat di telinga Rania sendiri—ia menjawab, "Aku... aku masih terlalu gugup dan malu, Mas. Biarkan seperti ini dulu."
Rangga mendengus pelan, menganggap itu sikap pemalu khas wanita pujaannya. Ia tidak memaksa. Pria itu memajukan wajahnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan penuh kasih tepat di bibir dibalik cadar wanita di hadapannya itu.
Rania memejamkan mata sejenak, menahan geli sekaligus rasa kesal yang membuncah di dadanya. 'Ciuman pertamanya melayang ke orang yang salah,' batin Rania mengejek dirinya sendiri.
Namun, di balik senyum manis palsu yang ia pamerkan ke arah para juru kamera, otak cerdas Rania sudah mulai merancang strategi bisnis tingkat tinggi. Pernikahan ini mungkin adalah sebuah jebakan pemerasan bagi toko rotinya, tapi bagi Rania Pratama si ratu efisiensi anggaran pernikahan ini adalah peluang emas untuk mengeruk keuntungan finansial tanpa batas dari kerajaan bisnis keluarga Pratama.
•
•
•
•
Pintu kayu mahoni berukir klasik di kamar utama Penthouse milik Rangga Pratama tertutup rapat, Rangga sengaja membeli Penthouse ini untuk mereka tinggal setelah menikah, agak jauh memang dari kedua orang tua mereka. Dan mereka kesini mengendarai mobil pernikahan mereka.
Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu kontras dengan kemegahan luar. Ruangan luas berdesain modern minimalis itu kini disulap menjadi tempat peristirahatan malam pertama yang sangat romantis.
Aroma aromatherapy beraroma lavender dan white musk menguar lembut di udara, berpadu dengan pijar ratusan lilin aromaterapi yang diletakkan di atas nakas, sudut ruangan, dan meja rias. Di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam legam, kelopak bunga mawar merah dan putih ditaburkan memenuhi permukaan kasur membentuk pola hati yang besar. Lampu ruangan diredupkan sengaja, menciptakan temaram cahaya keemasan yang hangat dan intim.
Bagi seorang pria yang sedang mabuk kepayang dalam asmara, tempat ini adalah surga dunia. Namun, bagi Rania, ruangan ini terasa seperti ruang interogasi berkedok kamar pengantin.
Rania melangkah masuk dengan gaun pengantin megah yang terasa semakin berat menghimpit tubuhnya. Kakinya terasa kaku. Kain cadar putih berenda tebal masih menutupi wajahnya rapat-rapat, sengaja ia pertahankan karena ia tahu malapetaka besar akan segera meledak begitu kain tipis itu tersingkap.
Rangga berjalan di belakangnya, melepas jas tuksedo hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa tunggal dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu Kota Jakarta dari ketinggian. Pria itu menghela napas panjang, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah berjam-jam berdiri menyalami ribuan tamu undangan. Meski penat, senyum tipis masih menghiasi bibir indahnya. Di dalam kepala Rangga, malam ini adalah awal dari babak baru kehidupan indahnya bersama wanita yang selama tiga tahun terakhir bertahta di hatinya.
Rangga berbalik, lalu melangkah mendekati Rania yang berdiri kaku di tengah kamar. Dengan gerakan lembut yang penuh kehangatan, Rangga meraih tangan Rania yang terbalut sarung tangan renda putih. Kulit tangan itu terasa sedikit berbeda—lebih dingin dan tidak selentur biasanya—tetapi Rangga lagi-lagi menepis kecurigaan itu sebagai akibat dari kelelahan fisik istrinya.
"Kemarilah, sayang," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang lembut dan menghanyutkan.
Ia menuntun Rania perlahan untuk duduk di atas kasur king-size yang bertaburan kelopak bunga mawar harum. Rania menurut dengan ogah-ogahan, pantatnya mendarat hati-hati di tepi tempat tidur, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari tumpukan bunga tersebut.
Rangga tidak langsung duduk di sampingnya. Pria itu justru berlutut di lantai tepat di hadapan Rania, menyamakan tinggi wajah mereka. Kedua tangan Rangga menggenggam jemari Rania erat-erat, memancarkan binar ketulusan yang luar biasa dari matanya yang tajam.
"Kau tahu, Resti, aku sangat gugup setengah mati hari ini." Ujarnya dengan antusias dengan mata yang berbinar cerah.
Rania di balik cadarnya langsung memutar bola matanya malas.'Gugup? Huh, kalau kau tahu siapa aku sebenarnya, bukan cuma gugup yang kau rasakan, tapi serangan jantung mendadak,' batin Rania mendengus tajam.
Rangga meneruskan kata-katanya, sama sekali tidak menyadari badai sinisme yang sedang berkecamuk di balik cadar putih itu. "Dari tadi siang di altar, jantungku tidak berhenti berdegup kencang. Aku takut mengecewakanmu, aku takut ada hal yang kurang dari penyambutan keluargaku. Tapi melihatmu berdiri anggun di sampingku tadi, semua keteganganku menguap begitu saja. Aku merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi ini karena akhirnya kau resmi menjadi milikku, Resti."
Rangga mendongak, menatap lekat-lekat kain cadar yang masih menutupi wajah istrinya. Ada antusiasme yang membara di matanya.
"Sudah waktunya sekarang, kan?" bisik Rangga lembut, sebelah tangannya perlahan terangkat hendak meraih ujung kain cadar pengantin tersebut. "Buka cadar ini, istriku. Izinkan aku menatap wajah wanita yang paling aku cintai di malam pertama kita yang suci ini."
Jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan karena bisnisnya di ambang batas eksekusi. Sebelum tangan Rangga sempat sepenuhnya mencengkeram kain penutup wajah itu, Rania dengan sengaja menepis tangan Rangga secara kasar, lalu menarik kain cadar di wajahnya dengan satu gerakan cepat.
Srek!
Kain cadar putih itu terlepas sepenuhnya, melayang jatuh ke atas tumpukan kelopak mawar.
Cahaya temaram dari lilin aromaterapi menyinari wajah wanita yang duduk di hadapan Rangga saat itu juga. Alih-alih wajah lembut, manis, dan penuh keanggunan milik Resti yang menyapa pandangannya, Rangga justru mendapati sepasang mata tajam yang sedang menatapnya dengan seringai sinis, alis yang terangkat sebelah, dan rahang tegas yang sangat familiar baginya.
Rangga tertegun. Detik berikutnya, napas pria itu tercekat. Seluruh darahnya mendesak naik ke kepala, membuat wajahnya memerah padam dalam sekejap.
"RA-RANIA?!" teriak Rangga histeris, spontan melompat mundur dari posisi berlututnya hingga hampir tersandung tepian tempat tidur. Pria itu menunjuk wajah wanita di hadapannya dengan jari yang bergetar hebat karena syok luar biasa. "K-Kau?! Apa-apaan ini?! Di mana Resti?!"
Rania dengan santainya mengubah posisi duduknya, menyilangkan kedua kaki dan melipat tangan di depan dada. Ia bahkan tidak menunjukkan secuil pun rasa bersalah atau ketakutan di wajahnya.
"Halo, suami tercinta," sapa Rania dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis racun tikus. "Selamat malam pertama ya. Wah, kamarnya harum sekali, banyak bunga. Cocok untuk malam penyambutan kita."
"JANGAN BERCANDA, SIALAN!" bentak Rangga, suara dingin dan berwibawanya langsung pecah digantikan oleh amarah yang membakar dada. Pria itu maju dua langkah, mencengkeram seprai kasur dengan buku-buku jemari yang memutih. "Bagaimana bisa kau yang ada di sini?! Di mana Kakakmu, Resti?! Apa yang kau rencanakan untuk menjebakku hah?!"
Rania mendengus pelan, memutar bola matanya jengah menghadapi ledakan emosi pria di depannya. "Ck, kecilkan sedikit suaramu itu, Kak. Bikin sakit gendang telingaku saja. Kakak kesayanganmu itu sudah kabur ke Paris sejak siang tadi untuk jadi supermodel. Dia meninggalkan surat cinta yang romantis sekali, mau kulihatkan fotonya di ponselku?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dia tidak seperti itu." murka Rangga. Urat-urat di pelipis dan leher pria itu menonjol keluar menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Harga dirinya sebagai seorang CEO muda yang cerdas mendadak hancur berkeping-keping setelah menyadari dirinya telah ditipu mentah-mentah di hari pernikahannya sendiri di depan seluruh relasi bisnis penting.
Rangga maju dengan langkah menghentak, mencengkeram kedua bahu Rania dengan kasar dan mengguncangnya kuat-kuat. "Kau! Gadis licik, tidak tahu malu! Kau pasti sengaja merencanakan sandiwara menjijikkan ini agar kau bisa menguras harta Pratama kan? Kau yang mengusir Resti kan? Jawab aku Rania!"
Rania tidak bergeming. Meski bahunya dicengkeram kuat, ia justru menatap tajam mata Rangga tanpa rasa takut sedikit pun. Alih-alih menangis atau merengek seperti gadis manja pada umumnya, Rania justru balas menatap dengan pandangan meremehkan.
"Hei, Tuan CEO yang terhormat," ucap Rania dingin, tangannya dengan berani mencengkeram pergelangan tangan Rangga yang ada di bahunya, lalu menepisnya kasar. "Pertama, jangan sentuh aku pakai tangan kotor itu kalau tidak mau kukasih nota tagihan laundry. Kedua, sadar diri sedikit! Memangnya kau pikir aku sudi menikah dengan pria sinis, sombong, dan tukang tuduh sepertimu. Aku juga terpaksa melakukannya bodoh."
"Kau—!" Rangga terperangah, kehabisan kata-kata sesaat mendengar jawaban blak-blakan yang sama sekali tidak tahu malu dari wanita di depannya. "Jadi benar! Kau memanfaatkan situasi ini demi uang! Dasar wanita rendahan! Matre!"
"Matre? Halo? Istilah ekonomi yang benar itu efisiensi aset dan perlindungan modal , bukan matre," koreksi Rania dengan wajah tanpa dosa, bahkan sempat-sempatnya merapikan lipatan gaun pengantinnya yang kusut. "Asal kau tahu ya, aku rugi ratusan juta hari ini karena harus meninggalkan oven dan adonan roti yang sedang mengembang demi melayani drama keluarga kalian di altar! Jadi, berhentilah berteriak seperti orang kesurupan."
Kemarahan Rangga mencapai puncaknya. Harga diri dan gengsinya sebagai pria tertusuk telak oleh sikap dingin, cuek, dan sama sekali tidak merasa bersalah dari Rania. Dada bidang Rangga naik turun dengan cepat, napasnya memburu menahan benci yang teramat sangat.
"Cukup!" bentak Rangga lantang, menunjuk tepat di depan wajah Rania. "Aku tidak peduli dengan alasan konyolmu atau toko roti murahanmu itu! Dengar baik-baik sumpahnya, Rania... Hari ini, detik ini, aku bersumpah Aku tidak akan pernah sudi menyentuh wanita rendah sepertimu! Jangan pernah berharap ada cinta, kehangatan, atau kemesraan di antara pernikahan palsu ini. Di mata hukum kita suami istri di atas kertas demi menjaga reputasi keluarga, tapi di dunia nyata, kau bukan siapa-siapa bagiku!"
Rania mengangkat sebelah alisnya, sama sekali tidak ciut. "Baguslah kalau begitu. Syukur kalau kau tidak mau menyentuhku. Aku juga jijik disentuh pria galak sepertimu."
"Tutup mulutmu!" tukas Rangga tajam, nafasnya memburu. Pria itu menunjuk ke arah sudut kamar di dekat jendela besar. "Mulai malam ini, dan seterusnya selama kita terikat pernikahan neraka ini, tempat tidur itu adalah wilayah kekuasaanku mutlak! Jangan pernah berani tidur di kasurku! Kau ambil bantal dan selimut tipis, lalu tidur di sofa keras itu!"
Rangga berbalik dengan geram, menendang kecil sebuah vas bunga kecil di dekat meja rias karena luapan emosinya, lalu berjalan dengan langkah menghentak menuju kamar mandi untuk membanting pintu di sana dengan sangat keras hingga dinding penthouse bergetar.
Di atas ranjang yang bertabur kelopak mawar merah, Rania menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak menangis. Sebaliknya, sebuah senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya.
Rania turun dari kasur, melangkah anggun menuju sofa empuk panjang di dekat jendela. Ia mengambil selimut beludru dan bantal tambahan, merebahkan tubuh lelahnya dengan santai sambil meraba ponsel di saku gaunya.
'Bagus Tuan Rangga Pratama,' batin Rania sambil membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan senyum penuh rencana bisnis.
''Silakan kau kuasai kasurnya. Selama rekening bersama dan bisnisku berjalan dengan lancar tanpa gangguan, tidur di sofa adalah liburan gratis untukku,'
•
•
•
•
Selamat membaca! Maaf kalau kaku soalnya aku pemula dan mohon beri saran jika ada yang salah. Makasih😉
Matahari pagi menyapa Penthouse mewah keluarga Pratama melalui dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke lanskap gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Sisa-sisa kemewahan malam pernikahan tadi malam telah berganti dengan keheningan pagi yang kaku.
Di atas sofa panjang tempat tidurnya semalam, Rania meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku. Gadis itu bangkit tanpa beban, sama sekali tidak terlihat seperti pengantin baru yang sedang meratapi nasib sial. Sebaliknya, otak nya berputar begitu indra penciumannya mendeteksi sesuatu yang ganjil di pagi hari ini: tidak ada aroma kopi segar atau derap langkah pelayan rumah tangga yang biasa disiapkan untuk melayani kediaman CEO kaya raya.
Rania melangkah keluar dari kamar utama menuju dapur pantry terbuka yang bernuansa modern minimalis dengan dominasi warna marmer hitam. Di atas meja pulau kitchen island, tergeletak selembar memo kecil ber tuliskan tangan dari kepala pelayan rumah.
'Nyonya Resti, mohon maaf yang sebesar besarnya. Seluruh staf dapur mendadak harus mengambil cuti darurat hari ini karena keracunan makanan ringan semalam. Bahan bahan segar tersedia di lemari pendingin. Mohon bantuannya untuk menyiapkan sarapan pagi Tuan Rangga.'
Rania mengerjap dua kali, menatap memo itu dengan tatapan tidak percaya. "Hah? Cuti darurat? Keracunan massal? Astaga, manajemen rumah tangga macam apa ini? Gaji mahal-mahal tapi urusan perut bosnya saja bisa kolaps begini," gerutu Rania dengan nada ketus, melipat tangan di dada.
"Atau karena ibu dan ayah mertua sengaja melakukan ini ya?" Monolog Rania pada diri sendiri.
Namun, alih-alih panik atau menelepon layanan pesan antar makanan mewah yang bisa menghabiskan biaya mahal, kalkulator di kepala Rania langsung aktif. Membeli sarapan dari luar berarti membuang-buang uang secara percuma, padahal persediaan bahan makanan di lemari pendingin Penthouse ini sangat melimpah dan sepenuhnya dibiayai oleh sang suami.
"Bagus. Ini kesempatan emas untuk membuktikan bahwa toko roti Sweet Crumb tidak hanya jago jualan, tapi juga mandiri dalam situasi krisis. Lagi pula, kalau aku memasak sendiri, aku bisa mengajukan klaim penggantian bahan makanan ke bagian keuangan kantor Rangga nanti," gumam Rania menyeringai licik.
Ritual Pembuatan Roti Panggang Susu Legendaris
Rania langsung mengenakan apron katun putih milik pelayan yang tergantung di balik pintu dapur. Rambut panjangnya ia ikat menjadi ekor kuda yang rapi, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang. Tangannya bergerak lincah membuka lemari pendingin raksasa, mengeluarkan bahan-bahan berkualitas tinggi: mentega anchor impor, susu segar full cream murni berlemak tinggi, telur omega, dan tepung terigu protein tinggi khusus pembuatan brioche.
Sebagai seorang pemilik toko roti yang sangat perfeksionis soal rasa dan pengeluaran, Rania tidak pernah berkompromi dengan kualitas. Bagi Rania, makanan enak tidak harus mahal jika diolah dengan teknik yang presisi.
Ia mulai bekerja dengan kecepatan tangan seorang profesional berpengalaman. Pertama-tama, ia mencampurkan tepung terigu protein tinggi dengan ragi instan dan sejumput garam halus di dalam mangkuk adonan keramik besar. Dengan telaten, Rania menghangatkan susu segar murni di atas kompor dengan api kecil, menambahkan sedikit ekstrak vanila murni untuk memperkuat aroma dasar tanpa harus menggunakan bahan pengawet buatan yang mahal.
"Susu hangat... bukan air biasa. Kuncinya ada di kelembapan adonan," ucap Rania pada dirinya sendiri, matanya fokus mengamati tetesan susu yang ia tuangkan perlahan ke dalam mangkuk.
Ia mulai menguleni adonan dengan tangan kosong. Gerakannya ritmis, penuh tenaga namun terkontrol. Suasana dapur mulai dipenuhi oleh suara kepalan adonan yang beradu dengan meja marmer bersih. Rania menambahkan mentega cair secara bertahap, memastikan lemak nabati dan hewani itu meresap sempurna ke dalam serat-serat terigu hingga menghasilkan adonan yang super elastis, dan tidak lengket di tangan.
Setelah adonan didiamkan sejenak hingga mengembang sempurna dua kali lipat, Rania memotongnya dengan pisau dough scraper presisi, membentuk lembaran roti tebal bertekstur fluffy yang kaya akan kandungan susu.
Ia memanaskan wajan tebal di atas kompor dengan api sedang, lalu melelehkan sesendok mentega hingga berdesis harum. Rania merendam lembaran roti buatan tangannya itu ke dalam rendaman campuran susu segar dan telur yang dikocok lepas, lalu memanggangnya perlahan di atas wajan.
Dalam hitungan menit, keajaiban dapur pun terjadi. Aroma manis susu hangat yang berpadu dengan karamelisasi mentega anchor yang terpanggang sempurna langsung menguar memenuhi seluruh sudut Penthouse. Wangi gurih, manis, dan begitu memikat itu merayap perlahan melewati lorong lantai atas, menembus pintu kamar utama tempat Rangga masih terlelap.
•
•
•
•
Di dalam kamar utama, Rangga Pratama perlahan membuka matanya. Pria itu mengerjap, merasakan tenggorokannya kering dan perutnya berkeroncongan. Semalam ia tidur dengan hati yang panas dan dongkol akibat insiden penipuan pengantin, membuat tidurnya tidak nyenyak di atas ranjang king-size yang luas.
Rangga hendak beranjak turun, ketika indra penciumannya tiba-tiba menangkap aroma yang sangat menggugah selera. Bau harum mentega panggang yang berpadu dengan keharuman susu hangat langsung menyerbu hidungnya, begitu kuat dan begitu menggoda hingga membuat air liurnya hampir menetes.
"Bau apa ini?" gumam Rangga serak khas suara bangun tidur, mengusap wajahnya dengan kasar.
Karena penasaran sekaligus lapar, Rangga bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan jubah mandinya, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah malas menuju sumber aroma tersebut. Begitu tiba di dekat area dapur pantry, pandangan Rangga langsung tertuju pada sesosok wanita berbalut apron putih yang sedang sibuk membalik lembaran roti di atas wajan dengan gerakan gesit.
Rania membalik roti panggang susu itu hingga warnanya berubah menjadi kecokelatan keemasan yang cantik. Di atas piring saji keramik putih, ia menata roti tersebut dengan tambahan taburan gula halus tipis dan siraman madu murni secukupnya.
Rangga berdiri terpaku di dekat meja bar dapur. Matanya menatap punggung Rania, lalu beralih ke piring berisi roti panggang susu yang mengepulkan uap hangat dengan aroma yang benar-benar menyiksa perutnya yang kosong.
Merasa ada sepasang mata tajam yang mengawasinya, Rania menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik, bersidekap sambil menatap Rangga dengan senyum sinis dan sebelah alis terangkat.
"Selamat pagi, suami pelit," sapa Rania tajam, suaranya memecah keheningan pagi. "Bangun juga Tuan Muda. Untung saja aku bangun lebih pagi dan berinisiatif menyelamatkan isi perutmu yang mulia itu dari kelaparan, mengingat seluruh staf dapur rumahmu sedang keracunan massal akibat salah makan kemarin."
Rangga mengernyitkan dahi, gengsinya langsung melonjak tinggi begitu mendengar sindiran tajam dari wanita yang sangat dibencinya itu. Ia menegakkan tubuhnya, memasang wajah sedingin es untuk menutupi rasa laparnya.
"Siapa juga yang meminta kue murahan buatanmu itu?" cibir Rangga sinis, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. "Jangan berani-berani meracuniku dengan makanan sisa dapurmu, Rania. Aku bisa memanggil chef pribadi bintang lima kapan pun aku mau!"
Rania mendengus geli, memutar bola matanya jengah menghadapi gengsi setinggi langit pria di hadapannya.
"Silakan saja panggil chef bintang lima kalau kantongmu masih sanggup bayar biaya darurat pagi ini, Tuan CEO," balas Rania tanpa gentar, mendorong piring berisi roti panggang susu yang masih mengepulkan uap harum tepat ke hadapan perut Rangga. "Tapi ingat, kalau lambungmu kelaparan dan pingsan di tengah rapat penting gara-gara sok jual mahal, jangan salahkan aku kalau saham Pratama Group anjlok karena CEO-nya mati kelaparan di atas meja kerja!"
•
•
•
•
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!