Udara panas khas pertengahan musim panas di Los Angeles menyengat kulit, namun di dalam ruangan steril klinik kawasan Beverly Hills ini, suhu ruangan terasa sedingin es.
Bau antiseptik yang tajam Menusuk hidung, bercampur dengan dentang detik jarum jam dinding yang seolah berdetak dua kali lebih lambat dari biasanya.
Lux Victoria duduk kaku di atas kursi periksa berbahan kulit sintetis. Tangannya yang gemetar meremas ujung gaun floral musim panasnya. Di depannya, seorang dokter spesialis berpakaian jas putih rapi tengah meneliti selembar kertas hasil laboratorium.
Dokter itu menghela napas pelan, menggeser kacamata di pangkal hidungnya, lalu menatap Lux dengan senyum profesional yang berusaha bersahabat.
Tangannya mengulurkan lembaran kertas tersebut.
"Selamat, Nona Lux. Anda hamil. Kadar hormon hCG dalam sampel urine Anda sangat tinggi. Untuk kepastian usia kandungan dan kondisinya secara lebih detail, Anda bisa langsung melakukan pemeriksaan USG di ruang obgyn di lorong sebelah."
Deg.
Jantung Lux seakan berhenti berdetak saat itu juga. Tenggorokannya mendadak kering, dan seluruh isi dadanya serasa dijatuhkan dari puncak gedung pencakar langit Downtown LA.
"Sialan... Hamil?" kata Lux spontan.
Kata itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa bisa ditahan. Suaranya serak, penuh penolakan yang membuncah.
Sang dokter tidak terkejut—ia sudah terlalu sering melihat reaksi penolakan dari pasien muda. Dokter itu hanya mengangguk pelan, memberikan gestur empati yang terasa sangat formal.
Di samping Lux, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun mendadak mematung.
Eleanor Victoria, ibu dari Lux, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua matanya yang berwarna abu-abu jernih mendadak berkaca-kaca, memantulkan rasa syok yang teramat sangat. Air mata menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja.
Eleanor berusaha menegakkan punggungnya, mencoba menguasai diri meski bahunya bergetar hebat. Ia menatap sang dokter dengan wajah sepucat kertas.
"Maafkan putri saya, Dokter... Terima kasih atas informasinya," bisik Eleanor dengan suara bergetar.
"Kami... kami permisi dulu."
Hancur dan kecewa. Dua kata itu seolah terpatri jelas di setiap lekuk wajah Eleanor.
Kabar ini seperti petir di siang bolong. Putrinya baru berusia sembilan belas tahun.
Hanya tinggal menghitung hari sebelum Lux resmi melangkahkan kaki sebagai mahasiswi baru di salah satu universitas bergengsi.
Masa depan yang sudah dirancang begitu indah kini hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Lux terdiam kaku. Kakinya terasa seberat timah saat berdiri. Tangannya secara refleks bergerak turun, menyentuh permukaan perutnya yang masih datar di balik gaun.
Hamil? Dokter brengsek itu bagaimana mungkin mengatakan diriku hamil? lirihnya dalam hati.
Matanya mulai berkaca-kaca saat rasa hangat air mata menumpuk di sudut matanya. Pandangannya kabur.
Ia berjalan gontai mengekor di belakang ibunya yang melangkah cepat menelusuri koridor rumah sakit.
Di area parkir luar yang disiram cahaya matahari terik, sebuah sedan mewah hitam sudah menanti.
Di dalam mobil itu, sang ayah—Marcus Victoria—sedang duduk santai sambil menyesap kopinya, tidak tahu-menahu tentang badai yang baru saja meledak di dalam klinik.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Lux menyejajari langkah ibunya. "Mom... Ini tidak benar. Aku tidak pernah—"
"Kau mengecewakan Mommy, Lux!" potong Eleanor dengan nada suara yang tertahan namun penuh penekanan. Ia berbalik sebentar, menatap Lux dengan tatapan hancur. "Dan bagaimana cara Mommy akan mengatakan hal ini pada Daddy-mu, Lux? Katakan sendiri padanya! Dengan siapa kamu melakukannya?!"
"Mom, aku—"
"Kau tidak pernah membawa kekasih ke rumah! Lalu bagaimana mungkin... ah, tidak!" Eleanor menggelengkan kepalanya panik, memegang pelipisnya yang mulai berdenyut. "Bagaimana cara Mommy menjelaskan hal ini pada semua orang di mansion? Kau tahu betapa sulitnya posisi kita selama ini, Lux. Kau benar-benar mematahkan hati Mommy..."
"Mom! Tolong percaya padaku, aku tidak pernah melakukannya! Mommy tahu itu!" Lux memohon, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Kutolong percaya padaku... Ayo kita lakukan USG sekarang di tempat lain agar lebih akurat! Hasil tes urine itu pasti salah!"
Namun, Eleanor hanya diam. Pandangannya lurus ke depan, enggan menatap putrinya lagi. Sikap dingin itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Sejak kecil, Eleanor selalu memberikan kebebasan penuh pada Lux. Ia bukan tipe orang tua yang mengekang.
Ketika Lux memutuskan untuk membuat tato kecil berukir artistik di lengan dan bahunya, Eleanor menerimanya. Ia hanya menasihati dengan lembut, ‘Mana yang baik dan buruk, hanya dirimu yang tahu.’
Bahkan ketika Lux memilih gaya berpakaian yang berani khas anak muda Los Angeles, Eleanor tidak pernah membatasinya. Ia menaruh kepercayaan penuh pada putri tunggalnya itu.
Dan kini, Eleanor merasa kepercayaan yang dibebaskannya itu justru memicu petaka. Kebebasan itu dianggapnya telah membuat sang putri melangkah terlalu jauh hingga mengandung anak yang tidak jelas siapa ayahnya.
Tampak dari jauh, Marcus menyadari kehadiran anak dan istrinya. Dari balik kaca mobil, sang ayah menyambut mereka dengan senyum hangat. Ia keluar sebentar, membukakan pintu mobil dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana pemeriksaannya, Sayang?" tanya Marcus ceria, tanpa menyadari beban teramat berat yang dibawa oleh istri dan anaknya.
Eleanor hanya tersenyum tipis—sebuah senyum palsu yang dipaksakan—lalu melangkah masuk ke kursi penumpang depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lux menyusul masuk ke kursi belakang, menundukkan kepala dalam-dalam.
Marcus menghidupkan mesin mobil. Sedan hitam itu menyusuri jalanan kota Los Angeles yang padat. Garis-garis pohon palem di sepanjang jalan melintas cepat di luar jendela, berbanding terbalik dengan kecemasan yang membeku di dalam kabin mobil.
Sepanjang 20 menit perjalanan menuju kawasan permukiman elite di Bel-Air, tidak ada satu pun suara yang terdengar selain suara radio yang sengaja dipelankan.
Lux memeluk dirinya sendiri di kursi belakang. Pikirannya berputar hebat. Niat awalnya mendatangi klinik sederhana itu sebenarnya sangat sepele.
Beberapa minggu terakhir, tubuhnya sering terasa sangat lelah tanpa alasan. Wajahnya sering terlihat pucat di depan cermin, dan yang paling mengganggu, ia selalu merasakan nyeri seperti terbakar setiap kali buang air kecil. Ia mengira itu hanya infeksi saluran kemih biasa atau efek dari kurang minum air putih.
Dokter memang menyuruhnya melakukan tes urine untuk mengecek infeksi tersebut. Namun, bagaimana mungkin hasil tes urine itu justru menyatakan ada hormon kehamilan di dalamnya?
Hasil tes tadi benar-benar ada yang salah. Ada yang tidak beres, batin Lux menahan geram dan kebingungan.
...*****...
Ketika mobil melaju memasuki gerbang besi tempa yang megah dan berhenti di pelataran mansion keluarga Victoria, Eleanor langsung keluar dari mobil tanpa menunggu siapa pun. Ia berjalan cepat memasuki rumah besar itu, mengabaikan sapaan dari para pelayan.
Marcus yang menyadari perubahan sikap istrinya tampak bingung, namun ia mencoba mengalihkan perhatian pada Lux yang baru keluar dari pintu belakang.
"Kau baik-baik saja, Lux?" tanya Marcus lembut seraya mendekati putrinya. Ia mengamati wajah Lux yang pucat. "Apa hasilnya? Sudah Daddy katakan, jangan terlalu lelah mempersiapkan kebutuhan kuliahmu."
Lux menelan ludah yang terasa pahit. Ia tidak sanggup menatap mata ayahnya yang penuh kasih sayang. "Dad... A-aku harus beristirahat."
Marcus mengusap rambut Lux pelan. "Ya, istirahatlah, Sayang. Nanti Daddy minta pelayan antar makanan ke kamarmu."
"Terima kasih, Dad."
Lux melangkah cepat melintasi tangga melingkar menuju lantai dua. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu rapat-rapat dan memutar kunci.
Tubuhnya merosot di balik pintu kayu yang tebal.
Isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Lux membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Jika benar aku hamil... bagaimana bisa? pikirannya terus berputar liar.
Apa aku diperkosa? Tapi oleh siapa? Dan kapan?! Wah, sialan... Aku bahkan tidak pernah minum alkohol sampai mabuk berat! Aku selalu sadar dengan siapa aku pergi! Lalu... bagaimana mungkin aku diperkosa tanpa pernah menyadarinya?
Pertanyaan-pertanyaan membingungkan itu terus menghantuinya, menggerogoti logikanya.
Rasa takut, marah, dan bingung bercampur menjadi satu. Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Cahaya matahari musim panas Los Angeles yang terang perlahan tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang dipenuhi gemerlap lampu kota di kejauhan.
Lux mengabaikan ketukan pintu dari pelayan yang memanggilnya untuk makan malam bersama. Ia menyendiri di dalam kamar yang gelap, bergelut dengan frustrasi yang kian memuncak.
Sekitar pukul sepuluh malam, Lux bangkit dari tempat tidurnya. Ia mematikan lampu kamar, berjalan cepat ke kamar mandi, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin bertubi-tubi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—matanya sembap dan merah, namun ada kilat ketegasan yang mulai muncul di sana.
"Ini salah. Hasil tes itu pasti salah seratus persen!" tegasnya pada diri sendiri.
Ia tidak pernah menyerahkan tubuhnya pada pria manapun. Ia masih suci, dan ia yakin betul akan hal itu. Satu-satunya cara untuk membungkam tuduhan ini dan mengembalikan kepercayaan ibunya adalah dengan membuktikannya sendiri secara mandiri.
Lux memoleskan sedikit lipbalm di bibirnya, menyambar jaket kulit hitam dan kunci mobilnya. Ia berlari kecil keluar kamar, menuruni tangga dengan senyap agar tidak memicu kegaduhan di dalam rumah, lalu menuju garasi. Ia akan pergi ke apotek 24 jam untuk membeli alat tes kehamilan. Ia harus mengujinya sendiri malam ini juga.
...****...
Mobil hatchback milik Lux melaju membelah jalanan Los Angeles yang mulai senggang. Deretan lampu jalan menyinari aspal kelam. Targetnya adalah sebuah apotek 24 jam yang terletak di pinggir jalan utama dekat kawasan Sunset Boulevard.
Jarum jam di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul 10.15 malam ketika Lux memarkirkan mobilnya. Ia turun tanpa ragu.
Lux tidak merasa malu sedikit pun, apalagi berusaha menyembunyikan wajahnya dengan topi atau masker.
Untuk apa malu? Dia tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan itu.
Pembelian ini hanyalah sebuah prosedur verifikasi untuk membersihkan namanya di hadapan sang ibu. Ia tidak ingin ketidakadilan ini merusak hubungannya dengan kedua orang tuanya.
Lonceng di atas pintu apotek berdentang pelan saat Lux melangkah masuk. Suasana di dalam apotek cukup tenang dengan pencahayaan lampu neon yang terang benderang.
Lux berjalan lurus menuju kasir. "Berikan aku beberapa merek testpack yang berbeda. Aku mau empat jenis yang paling akurat," mintanya langsung tanpa ragu pada petugas kasir wanita paruh baya di balik konter.
Kasir itu menatap Lux sejenak dengan alis terangkat, namun segera berbalik untuk mengambilkan pesanan tersebut. Beberapa kotak alat tes kehamilan dari berbagai merek ternama diletakkan di atas meja konter.
"Totalnya jadi—"
Belum sempat sang kasir menyelesaikan kalimatnya, seorang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di samping Lux. Langkahnya sempoyongan dan napasnya terdengar berat.
"Tolong... bisa berikan saya kasa dan alkohol steril?" ucap pria itu dengan suara lemah.
Wajahnya terlihat sangat pucat, dan ada noda darah segar yang merembes di balik jaket jeans yang ia kenakan. Pria itu menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan dolar ke atas konter.
Lux menoleh ke samping. Melihat kondisi pria itu yang tampak membutuhkan pertolongan medis darurat, Lux menggeser posisinya sedikit ke samping, membiarkan pria itu dilayani terlebih dahulu.
"Dahulukan dia saja," ujar Lux pelan pada kasir.
Pria itu menyambar bungkusan kasa dan alkohol yang diserahkan kasir tanpa banyak bicara, lalu berjalan cepat keluar dari apotek, meninggalkan bau anyir darah yang samar di udara.
Lux menggelengkan kepala pelan—Los Angeles memang penuh dengan hal-hal aneh di malam hari. Ia kembali menatap kasir. "Jadi, berapa total belanjaan saya?"
Namun, sebelum kasir sempat menjawab, sebuah suara raungan mesin mobil sport mewah berkapasitas silinder besar mendadak memecah kesunyian malam di luar apotek.
Suara raungannya begitu keras, membakar ban di atas aspal hingga berdecit nyaring sebelum berhenti tepat di depan pintu kaca apotek.
Lux sempat menoleh ke belakang melalui dinding kaca.
Beberapa pemuda berpenampilan ala anak jalanan kaya—berandal dengan pakaian high-street fashion—terlihat berteriak-teriak dari atas mobil konvertibel tersebut sambil tertawa-tawa.
Belum sempat Lux kembali fokus pada kasir, tubuhnya mendadak terdorong ke samping secara kasar.
Seorang pria lain bertubuh tinggi besar menyorongkan tubuhnya ke depan konter tanpa permisi, memotong antrean Lux begitu saja.
"Berikan aku satu kotak pengaman terbaik. Cepat!" suruh pria itu dengan nada memerintah yang sangat tidak sopan.
Lux meringis memegangi lengannya yang tersenggol. Kekesalannya yang sudah menumpuk sejak siang akhirnya mencapai puncak.
"Kau bisa mengantri, Tuan!" tegur Lux dengan nada suara yang diusahakan tetap sopan namun penuh penekanan tajam.
Pria kasar itu mengabaikannya, menaruh uang di konter dan merebut kotak kontrasepsi yang diletakkan kasir.
Pada saat yang sama, kasir selesai membungkus empat kotak testpack milik Lux ke dalam kantong plastik bening dan menyebutkan total harganya.
Bungkusan plastik bening berisi alat tes kehamilan itu terlihat sangat jelas di atas konter.
Pria kasar tadi, beserta seorang pria lain yang baru saja menyusul dari mobil sport di luar, langsung menangkap keberadaan bungkusan tersebut.
Pria kedua yang baru masuk memiliki postur tubuh yang sangat atletis, mengenakan jaket bomber mahal dengan gaya yang terkesan amat santai namun memancarkan aura dominan yang kuat. Wajahnya kelewat tampan, dengan garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang tajam sekaligus jahil.
Pria itu menyandarkan bahunya di konter, memindai bungkusan testpack milik Lux, lalu menatap wajah Lux dari atas ke bawah.
Sebuah senyum miring nan provokatif terukir di bibirnya.
"Gadis kecil yang ceroboh..." ujar pria itu dengan suara berat yang santai. "Makanya gunakan pengaman agar kau tidak hamil."
Bukan pria kasar tadi yang mengatakannya, melainkan pria berjaket bomber yang baru datang ini.
Lux meremas kantong plastiknya tajam. Matanya menyipit penuh amarah saat berbalik menatap langsung ke sumber suara. "Aku tidak mengenalmu, Brengsek! Kau tidak tahu apa-apa!" bisik Lux tajam, matanya berkilat menahan murka.
Pria itu bukannya merasa bersalah atau tersinggung, malah terkekeh pelan.
Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari wajah Lux, berhentinya persis di area bibir gadis itu.
"Bibirmu cantik," ucap pria itu santai, seolah baru saja mengomentari cuaca malam.
Lux menghembuskan napas keras, menganggap pria di depannya ini hanyalah salah satu berandal kaya yang terlalu banyak mengonsumsi alkohol malam ini.
"Ya, aku tahu aku memang cantik!" ketus Lux sambil menyambar kantong plastiknya dan berbalik berjalan menuju pintu keluar, berniat menuju mobilnya.
Namun, baru dua langkah Lux melangkah, suara berat yang sama kembali terdengar dari belakang punggungnya.
"Mau ciuman?" tanya pria itu lagi.
Lux menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. Ia menatap pria itu dengan pandangan tak percaya. "Kau gila?!" serunya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Pria itu melangkah maju mendekati Lux dengan ketenangan yang mengintimidasi.
Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai apotek. "Bibirmu... aku ingin menciumnya. Apa boleh?"
"Dalam mimpimu, Bre—"
Belum sempat Lux menyelesaikan kalimat makiannya, pria itu sudah memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Lux sempat melayangkan tamparan atau mundur menghindar, tangan kekar pria itu sudah mencengkeram tengkuk Lux dengan lembut namun mengunci.
Detik berikutnya, pria itu menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Lux.
Sebuah ciuman yang menuntut, sedikit brutal, dan penuh dominasi. Sensasi dingin bercampur hangat menyerbu indra perasa Lux seketika, membuat gadis itu membeku di tempat karena kejutan yang tidak pernah ia sangka-sangka.
Pria itu adalah Braxton Valerio Desmon.
Seorang pemuda kaya raya, narsis, dan selalu yakin bahwa pesona serta ketampanannya tidak akan pernah sanggup ditolak oleh wanita manapun di kota Los Angeles ini.
Malam ini, Braxton yang tinggal di asrama kampus bersama teman-temannya baru saja terlibat dalam sebuah permainan taruhan konyol yang memacu adrenalin.
Tantangannya sangat sederhana: ia harus mencium wanita berwajah cantik pertama yang ia temui di depan apotek malam ini.
Dan ciuman brutal di bawah pendar lampu neon apotek 24 jam itulah yang sedang ia lakukan sekarang—tanpa menyadari bahwa gadis yang baru saja diciumnya akan mengubah jalan hidup mereka berdua selamanya.
...----------------...
Happy reading kak 🌷 Selamat Datang dicerita Braxton Valerio Desmon putra AJ, Sequel novel "Not Our Time".
Sensasi sapuan bibir asing itu membuat seluruh tubuh Lux membeku. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena romansa, melainkan karena syok dan kemarahan yang mendidih di dalam dadanya.
Namun, di tengah keterkejutannya saat hendak melayangkan dorongan kuat pada dada pria asing itu, cengkeraman tangan pria itu di tengkuknya mendadak mengendur.
Pria itu merenggangkan posisi wajahnya hanya beberapa milimeter. Bibir mereka tidak lagi bersentuhan, melainkan hanya ujung hidung mereka yang saling menempel. Napas hangat pria itu berembus tidak teratur di atas kulit wajah Lux.
"Maafkan aku... demi Tuhan, kau boleh membunuhku setelah mereka pergi," bisik pria itu dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam di antara dentum musik dari mobil sport.
Ada nada kepanikan dan permohonan yang teramat sangat dalam bisikannya. "Tolong jaga reputasiku malam ini. Please..."
Deg.
Lux terbelalak. Rasa terkejut kembali menghantamnya.
Pria ini bukannya sedang melecehkannya secara membabi buta, melainkan tengah memainkan sebuah drama di hadapan teman-temannya.
Menyadari bahwa pria ini hanya menggelengkan kepalanya perlahan—menciptakan ilusi dari kejauhan seolah-olah mereka sedang berciuman panas tanpa benar-benar menyentuh bibirnya lagi—Lux mengerti situasi konyol ini.
Ini pasti sebuah taruhan murahan khas anak muda kaya sombong.
Logika Lux bekerja cepat. Jika ia menjerit atau memukul pria ini sekarang, suasana akan semakin keruh dan perhatian akan tertuju padanya.
Dengan napas tertahan, Lux akhirnya memutuskan untuk tidak memberontak. Ia membiarkan kepala pria itu bergerak perlahan menyamping, sesekali membalas miringan kepala pria gila ini demi menyempurnakan drama licik tersebut.
"Aku akan membunuhmu nanti," bisik Lux tajam melalui sela-sela giginya yang rapat, memberikan ancaman mati yang sangat dingin.
Pria itu mengangguk pelan dalam kebohongan mereka. Tangannya turun dan merapatkan jemarinya di pinggang Lux, menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat agar terlihat semakin meyakinkan bagi empat pasang mata yang mengawasi dari luar apotek.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti siksaan abadi bagi Lux, pria itu akhirnya menyudahi aksinya. Ia melepaskan pegangannya, berbalik, lalu mengangkat tangannya pada empat pemuda di dalam mobil sport konvertibel itu.
"Aku akan pulang ke apartemennya! Kalian duluan saja!" teriak pria itu dengan nada santai dan percaya diri yang dibuat-buat.
Sorakan riuh dan siulan godaan serta-merta membahana dari arah mobil sport tersebut.
Teman-temannya di atas mobil bersorak seakan sangat mengerti dan kagum atas 'keberhasilan' teman mereka menaklukkan seorang gadis cantik dalam hitungan detik.
Vroomm!
Dengan raungan mesin V8 yang memekakkan telinga dan decitan ban yang membakar aspal, mobil mewah itu akhirnya melaju kencang meninggalkan area parkir apotek, membelah kegelapan Sunset Boulevard.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, keramahan palsu di wajah Lux menguap sepenuhnya.
Bugh!
Satu pukulan telak dan keras dari kepalan tangan Lux mendarat tepat di ulu hati pria itu.
"Ugh!" Pria itu membungkuk seketika, meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Napasnya tersengal akibat hantaman mendadak yang tidak main-main kekuatannya.
"Brengsek! Aku benar-benar akan membunuhmu!" geram Lux dengan mata menyala-nyala. Tangannya mengepal, siap melayangkan pukulan kedua.
Pria itu buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara dengan posisi menyerah, meski wajahnya masih meringis menahan sakit.
"Aku minta maaf! Aku terpaksa! Lagipula... kau harus bahagia karena itu tadi adalah ciuman pertamaku!" belanya dengan nada narsis yang sama sekali tidak berkurang. "Aku akan meminta maaf pada baby-mu nanti karena sudah menciummu. Lagipula tadi aku sudah izin, kan?"
"Izin katamu, Brengsek?!" seru Lux murka. "Aku bahkan belum menjawabnya!"
Lux benar-benar dibuat gila oleh tingkat keangkuhan pria di depannya ini. Ia tidak terima dimanfaatkan sebagai bahan taruhan konyol oleh anak-anak kaya frustrasi.
Tanpa membuang waktu lagi, Lux berbalik memunggungi pria itu dan melangkah cepat menuju mobilnya.
"Hei, tunggu!" panggil pria itu sambil menyusul langkah cepat Lux.
"Boleh aku menumpang sampai di lampu merah depan sana? Aku tidak bisa kembali ke asramaku malam ini... Dan aku berjanji akan menjelaskan semuanya pada kekasihmu nanti."
Pria itu bersikap sok akrab, menunjuk bungkusan di tangan Lux.
Lux menghentikan langkahnya di dekat pintu mobil, menatap pria itu dengan tatapan jijik.
"Tidak! Aku tidak akan membantumu sedikit pun. Kau sudah sangat lancang menciumku. Menyingkir dariku, Sialan!"
"Cuma sampai jalan di depan sana, sungguh," bujuk pria itu lagi. Wajah tampannya kini memasang raut memohon. "Aku kesulitan mendapatkan taksi jam segini. Ponselku ada di dalam mobil teman-temanku tadi."
"Modus murahan," cetus Lux seraya berusaha membuka pintu mobilnya.
Namun, pria itu melangkah cepat dan menahan daun pintu mobil Lux agar tidak bisa dibuka.
"Baiklah, kalau begitu bantulah memesankan taksi untukku lewat ponselmu. Aku berjanji tidak akan melupakan kebaikanmu. Dan aku juga akan membalas permintaan maaf atas ciuman tadi dengan mengajakmu makan malam. Bagaimana?"
Lux menatapnya tak percaya. "Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau beli dengan makan malam?"
Pria itu terkekeh pelan, menatap kantong plastik bening yang dipegang Lux dengan pandangan sok tahu.
"Iya, aku tahu. Kau pasti seorang istri yang sedang menantikan seorang baby, kan? Makanya kau ke apotek malam-malam begini." Pria itu berbicara dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit, merasa tebakannya sangat akurat.
Sabar Lux runtuh sepenuhnya.
Mulut pria sok tahu ini benar-benar memancing amarahnya ke tingkat tertinggi. Tanpa berpikir panjang, Lux mengayunkan kantong plastik berisi empat kotak testpack tebal itu dengan keras, memukulkannya tepat ke dada pria tersebut.
Puk!
Bungkusan plastik itu terlepas dari genggaman Lux akibat benturan keras, membuat empat kotak alat tes kehamilan itu terlempar dan berserakan di atas aspal parkiran yang dingin.
"Aww! Kau kasar sekali!" gerutu pria itu.
Meski mengeluh, pria itu menunduk dan bersikap gentleman dengan memunguti kotak-kotak tes kehamilan yang berserakan di tanah.
Namun, saat jarinya baru saja memegang kotak terakhir dan ia mulai menegakkan kembali tubuhnya—
SREET! BRAKK!!!
Tiba-tiba, tiga buah SUV hitam berukuran besar meluncur kencang dan langsung mengepung mobil Lux serta area parkiran apotek tersebut.
Suara decitan ban yang kasar memecah heningnya malam.
Pintu-pintu mobil SUV itu terbuka secara bersamaan, dan beberapa pria bertubuh tegap berpakaian setelan jas hitam melompat keluar dengan gerakan sigap.
Sebelum pria di hadapan Lux sempat menyadari apa yang terjadi, dua orang pengawal berbadan besar langsung menyergap kedua tangannya dari belakang, menguncinya dengan telak dan menekan tubuh pria itu ke kap mobil hingga tak bisa berkutik.
Penyergapan itu terjadi begitu cepat dan efisien, persis seperti penangkapan buronan kelas berat.
"Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" teriak pria itu panik, mencoba memberontak namun cengkeraman di lengannya seperti jepitan besi.
Lux berdiri mematung di tempatnya. Matanya menganga lebar, tidak percaya dengan pemandangan di depannya.
"Dad...?" bisik Lux tercekat.
Dari dalam salah satu SUV hitam yang pintu depannya dibukakan, melangkah keluar Marcus Victoria dengan wajah yang sangat dingin dan mengintimidasi—sebuah ekspresi yang belum pernah Lux lihat sebelumnya dari sang ayah yang biasanya selalu ramah.
Di belakang Marcus, melangkah keluar pula dua orang pamannya yang berwajah keras, serta Eleanor, sang ibu, yang berdiri di samping mobil dengan wajah sembap dan mata merah akibat menangis.
Apakah... apakah mereka mengikutiku sejak keluar dari mansion? batin Lux bergetar hebat. Rasa dingin mendadak menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala.
Marcus berjalan pelan mendekati pria yang sedang dikunci oleh para pengawalnya.
Matanya menatap tajam ke arah kotak-kotak testpack yang masih tergeletak di atas kap mobil, lalu mengalihkan pandangannya pada pria muda berjaket bomber tersebut.
"Kau..." suara Marcus terdengar berat, dalam, dan penuh keputusasaan yang tertahan. "Kau harus bertanggung jawab atas putriku."
"Apa?!" Pria berjaket bomber itu membelalakkan matanya, mengandai-andai apakah ia salah mendengar kata-kata pria tua di depannya.
"Malam ini juga, kau harus menikahi Lux!" tegas Marcus tanpa ragu sedikit pun.
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi pria berjaket bomber itu. Otaknya mendadak macet total.
"What??? Menikah?!" serunya dengan nada suara meninggi, panik setengah mati. "Ini salah paham! Bukankah dia—"
"Tutup mulutmu, Anak Muda!" potong salah satu paman Lux dengan nada membentak yang menggelegar. "Kau tidak bisa lari dari tanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada Lux!"
Pria itu membelalakkan mata, menatap tidak percaya ke arah Lux—wanita yang baru saja ia cium beberapa menit lalu demi sebuah taruhan konyol.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Apa-apaan ini?! Apa ini akibat dari permainan taruhan konyol itu? jeritnya dalam hati.
Ciuman pertamanya baru saja terenggut, dan sekarang ia malah ditangkap seperti penjahat kelamin serta dipaksa menikah di tempat?!
Lux... tapi bisa saja dia sedang hamil! Bagaimana mungkin aku harus bertanggung jawab atas anak orang Lain?! batin pria itu ingin berteriak histeris menembus langit malam Los Angeles.
Interior mobil SUV hitam yang melaju kencang menyusuri jalanan malam Los Angeles terasa begitu mencekam.
Bau kulit jok yang mahal bercampur dengan ketegangan yang pekat. Di kursi baris paling belakang, Lux Victoria dan pria asing bernama Braxton duduk bersisian dalam kurungan yang ketat.
Di baris tengah, dua orang pengawal bertubuh tegap berjas hitam duduk kaku seperti benteng bernapas, memastikan tidak ada satu pun dari kedua anak muda itu yang mencoba melompat keluar dari mobil yang sedang melaju.
"Demi Tuhan, Dad! Aku tidak hamil! Ini semua kesalahpahaman!" jerit Lux histeris dari kursi belakang.
Suaranya serak, matanya yang sembap berkilat penuh frusutrasi. "Tolong dengarkan aku! Hasil tes di klinik tadi pasti keliru! Dan pria di sebelahku ini... aku bahkan baru melihat wajahnya sepuluh menit yang lalu!"
Namun di kursi depan, suara Lux seolah hanya menjadi angin lalu. Marcus Victoria terus memegang kemudi dengan buku-buku jari yang memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Wajah sang ayah mengeras seperti batu granit.
Di samping Marcus, Eleanor hanya bisa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menangis sesenggukan tanpa henti.
Hatinya teriris menjadi serpihan-serpihan kecil. Dalam benak Eleanor, jeritan penolakan Lux hanyalah bentuk kepanikan seorang remaja yang takut menghadapi kenyataan.
Entah apa yang ada di pikiranmu, Sayang... Apakah kau begitu takut hingga berpikir untuk tidak bertanggung jawab atas janin itu?
Tidak... Mommy tidak akan pernah membiarkanmu menggugurkan kandunganmu. Kau harus menikah dengannya, malam ini juga, batin Eleanor meratapi nasib putrinya seraya menatap bayangan lampu-lampu jalanan kota yang melintas samar di kaca mobil.
Di baris belakang, Lux mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dengan kasar. Ia menoleh ke samping, menatap pria yang duduk di sebelahnya.
Pria itu tampak terdiam, menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sulit diartikan—campuran antara syok, takjub, dan kebingungan yang luar biasa.
"Maafkan aku..." bisik Lux pelan, nada suaranya mendadak melunak penuh penyesalan saat menatap Braxton. "Kau... kau terseret dalam masalah besar keluargaku."
Braxton menoleh pelan. Ia menatap gadis di sebelahnya yang kini terlihat begitu rapuh meski beberapa menit lalu sanggup melayangkan pukulan keras ke ulu hatinya.
Pria itu menelan ludah, lalu berbisik sangat pelan agar tidak terdengar oleh dua pengawal tegap di depan mereka.
"Jika aku harus menikahi seorang janda atau wanita dengan masa lalu rumit, aku mungkin tidak akan terlalu kaget..." bisik Braxton dengan nada datar. "Tapi dirimu... kau hamil, kan? Testpack yang terjatuh tadi itu untuk..."
"Aku sama sekali tidak hamil, dasar bodoh!" potong Lux cepat dengan bisikan yang mendesis tajam. Matanya melotot marah. "Ini semua salah paham! Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal gila itu dengan siapa pun! Paham?!"
Braxton menaikkan sebelah alisnya. "Kau serius?"
"Tentu saja aku serius, Sialan! Bantu aku untuk menjelaskan pada ayahku!" desak Lux dengan raut wajah memohon yang amat sangat. "Katakan pada mereka kalau kita bahkan tidak saling kenal!"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan detail wajah Lux di bawah pendar lampu interior mobil yang remang-remang.
Mata abu-abu gadis itu yang berkilat marah, tato artistik dilengannya hingga tato yang mengintip di balik kerah jaketnya, serta keberaniannya yang tak terduga.
Di mata Braxton, Lux Victoria bukan sekadar gadis ngawur yang ia temui di apotek—dia adalah wanita galak yang sangat menarik.
Sebuah senyum miring yang tipis dan jahil mendadak terukir di sudut bibir Braxton.
"Aku Braxton," ucapnya tiba-tiba, memperkenalkan diri dengan santai di tengah badai krisis ini. "Braxton Valerio Desmon."
Lux membelalakkan mata, tidak percaya pria ini malah mengajak berkenalan. "Aku tidak peduli siapa namamu!"
"Well, jika boleh jujur..." Braxton menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Lux dengan tatapan yang mendadak percaya diri. "Aku sebenarnya tidak keberatan jika harus menikahimu. Syukurlah kalau kau ternyata tidak hamil."
Kata-kata itu membuat Lux mendelik tak percaya. "Apa yang kau katakan, Sialan?! Aku tidak mau menikah! Apalagi menikah dengan pria stres dan lancang sepertimu!"
Tanpa memedulikan bisikan Braxton, Lux kembali memajukan tubuhnya sejauh yang diizinkan oleh rentangan tangan pengawal di depannya. Ia berteriak lagi ke arah depan.
"Dad! Demi Tuhan, percaya padaku! Aku tidak hamil! Aku bahkan tidak mengenal pria ini, Dad! Mommy... tolong bicara pada Daddy!" seru Lux menahan tangisnya.
Mendengar jeritan Lux yang tiada henti, Braxton tiba-tiba menegakkan tubuhnya.
Tatapan matanya yang jahil berubah menjadi tatapan penuh drama. Dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa—terdengar begitu penuh penyesalan, lembut, sekaligus dramatis—Braxton memotong jeritan Lux.
"Baby... kumohon, jangan berkata seolah-olah kau tidak mengenalku seperti itu," potong Braxton dengan nada memohon yang sangat meyakinkan.
Deg.
Seketika itu juga, keheningan membeku di dalam mobil.
Di kursi depan, kepala Marcus dan Eleanor terangkat secara bersamaan. Pandangan mereka berdua terpaku pada kaca spion tengah, menatap sosok Braxton di belakang dengan tatapan tak percaya.
Kata "baby" yang lolos dari mulut pria asing itu seolah menjadi paku terakhir yang menyegel kebenaran dalam pikiran kedua orang tua Lux.
Lux membeku. Matanya nyaris keluar dari rongganya saat menoleh ke arah Braxton. "Kau... apa yang kau—"
Belum sempat Lux menyelesaikan makiannya, Braxton menatap lurus ke arah kaca spion tengah, menantang pandangan mata Marcus yang menyala-nyala.
Pria muda itu mengambil napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh sisa harapan Lux malam ini.
"Saya akan bertanggung jawab atas kehamilan Lux, Sir."
CITTTTTTTTTTTTTTTTT!
Decitan ban beradu kasar dengan aspal malam yang sepi. Marcus menginjak pedal rem sekuat tenaganya. Sedan SUV besar itu terhenti secara mendadak di pinggir jalan tol yang sepi, membuat seluruh penumpang di dalamnya terdorong ke depan secara dramatis.
Bau karet ban yang terbakar menyeruak masuk melalui sistem ventilasi mobil. Keheningan yang mengerikan menyelimuti kabin selama beberapa detik.
Lux memegang kepala dan dadanya yang naik turun berpacu cepat. Matanya menatap Braxton dengan rasa panik dan kegilaan yang membuncah.
"Kau bosan hidup, hah?!" teriak Lux histeris pada Braxton, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian malam.
Napas Lux memburu hebat, dadanya kempas-kempis menahan gelombang amarah yang terasa siap membakar seluruh interior mobil SUV tersebut.
Tangannya bergetar hebat saat ia mencengkeram kerah jaket bomber milik Braxton, menarik pria itu mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Kau pikir ini lucu?!" jerit Lux lagi, suaranya kini pecah berhias kefrustrasian yang luar biasa. "Kau baru saja menghancurkan hidupku! Apa yang kau katakan pada orang tuaku?!"
Braxton sama sekali tidak membalas cengkeraman itu.
Pria itu hanya menatap Lux dengan sepasang mata cokelatnya yang berkilat misterius. Ada sedikit rasa bersalah di sana, namun tertutupi oleh dorongan keputusasaan dan jiwa nekat khas anak muda yang menyelimuti pikirannya malam ini.
Braxton tahu betul, jika ia mengaku bahwa mereka tidak saling kenal dan ciuman di apotek tadi hanyalah taruhan konyol, pria paruh baya berkharisma di depan sana bersama para pengawalnya tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia bisa dituntut atas tuduhan pelecehan seksual, atau lebih buruk lagi: dihajar habis-habisan di tempat oleh para pengawal tegap ini.
Satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup adalah dengan 'mengikuti' arus permainan gila ini—setidaknya untuk sementara waktu.
"Lux, tenanglah..." bisik Braxton sangat pelan, hampir tak terdengar, berusaha meredakan amarah gadis di depannya.
"Jangan menyuruhku tenang, Sialan!" amuk Lux seraya mendorong dada Braxton hingga pria itu terbentur keras ke sandaran kursi belakang.
Brak!
Suara pintu depan yang terbuka kasar menghentikan pertengkaran mereka seketika.
Marcus Victoria turun dari kursi kemudi. Langkah kakinya yang berat mengikis aspal jalanan sepi di pinggir Sunset Boulevard.
Wajah sang ayah yang biasanya memancarkan ketenangan hangat seorang pengusaha sukses, kini gelap gulita tersapu amarah yang teramat sangat.
Pintu baris belakang ditarik terbuka dari luar oleh salah satu pengawal.
Udara malam Los Angeles yang dingin menusuk masuk ke dalam kabin mobil yang terasa panas.
Marcus membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam mata Braxton. Aura intimidasi yang dipancarkan pria tua itu begitu kuat hingga Braxton secara refleks menegakkan posisinya, menelan ludah yang terasa sesak di tenggorokan.
"Kau..." suara Marcus terdengar rendah namun begitu bergetar menahan gejolak emosi. "Siapa namamu?"
Braxton mengambil napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketenangannya yang kini diuji di batas maksimal. "Braxton, Sir. Braxton Valerio Desmon."
Mendengar nama belakang tersebut, kening Marcus mengerut sejenak.
Pamannya Lux yang duduk di dalam SUV lain yang kini ikut berhenti di belakang mereka, bergegas turun dan mendekat.
"Desmon?" gumam Marcus, matanya menyipit tajam. "Anak dari AJ Desmon?"
Braxton mengangguk perlahan. "Ya, Sir. Austin Jaxon Desmon adalah ayah saya."
Keheningan sejenak kembali melingkupi mereka. Nama keluarga Valerio-Desmon bukanlah nama sembarangan di kalangan atas Los Angeles.
Mereka adalah dinasti pemilik properti dan bisnis real estat papan atas. Fakta ini, bukannya meredakan amarah Marcus, justru semakin mempertegas keputusan dingin yang sudah dibuatnya sejak di apotek tadi.
Seorang penerus keluarga Desmon telah menghamili putri tunggalnya dan membuat masa depan putrinya hancur sebelum sempat melangkah ke jenjang perguruan tinggi—begitulah skenario yang tertanam kokoh di dalam kepala Marcus Victoria saat ini.
"Bagus," ucap Marcus dingin, tanpa sedikit pun keraguan dalam intonasinya. "Paling tidak putriku tidak dihamili oleh pria gelandangan yang tidak bertanggung jawab."
"Dad! Stop! Demi Tuhan, dengarkan aku dulu!" Lux mencoba menyela, air matanya kembali menetes deras membasahi pipinya. Ia memegang lengan kemeja ayahnya dari dalam mobil.
"Dia bohong! Dia cuma pria gila yang ketakutan! Kami sama sekali tidak punya hubungan apa-apa! Kami tidak pernah tidur bersama! Sungguh, Dad! Percaya padaku..."
Marcus menatap putrinya dengan pandangan terluka yang teramat dalam. "Cukup, Lux. Jangan membuat dirimu terlihat semakin menyedihkan dengan terus berbohong dan mencoba melarikan diri dari kenyataan. Pria ini sudah mengakui perbuatannya di depan mata dan kepala Daddy sendiri. Dan dia baru saja menolak untuk membiarkanmu menanggung beban ini sendirian."
"Tapi aku tidak hamil, Dad!" jerit Lux frustrasi, merasa suaranya seperti menghantam dinding tebal yang tak berongga.
"Cukup!" bentak Marcus keras, hingga Lux terlonjak kaget. Selama sembilan belas tahun hidupnya, ini adalah pertama kalinya sang ayah membentaknya dengan suara seperti itu.
Marcus lalu kembali menatap Braxton dengan tatapan tajam yang mengunci. "Kau sudah mendengar vonisku di apotek tadi, Braxton. Kau bilang kau mau bertanggung jawab, bukan?"
Braxton merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya. Taruhan konyol di depan apotek bersama teman-teman asramanya kini berbalik menjadi perangkap besi yang siap mencengkeram kebebasannya.
Namun, tatapan membunuh dari dua pengawal tegap dan wajah tegas Marcus tidak memberinya pilihan untuk mundur.
"Ya, Sir," jawab Braxton dengan suara yang dibuat semenandak mungkin, meski hatinya menjerit histeris. "Saya akan bertanggung jawab."
"Bagus. Karena malam ini juga, kau tidak akan kembali ke manapun," tegas Marcus dingin. Ia berpaling pada para pengawalnya.
"Bawa mereka berdua ke mansion. Hubungi pendeta keluarga dan pengacara kita sekarang juga. Saya ingin dokumen pernikahan ini disiapkan sebelum fajar menyingsing."
"Dad! Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" histeris Lux dari dalam mobil. Tangannya menggapai-gapai pintu, namun pengawal dengan cepat menutup pintu belakang kembali.
Brak!
Mobil SUV itu kembali melaju membelah kegelapan malam Los Angeles, membawa dua jiwa yang terjebak dalam pusaran kesalahpahaman raksasa menuju satu takdir yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Di kursi belakang yang kini terasa makin sempit, Lux bersandar ke pintu mobil, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menangis tanpa suara.
Seluruh pertahanannya runtuh. Impian masa kuliahnya, kepercayaan ibunya, dan kehidupannya yang bebas kini lenyap terbawa angin malam.
Di sebelahnya, Braxton menatap keluar jendela. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Braxton Valerio Desmon—pria paling berkarisma dan narsis di kampusnya—merasa sangat bodoh. Ia menoleh pelan ke arah Lux yang bahunya terguncang oleh heningnya tangisan.
Braxton mengulurkan tangannya ragu-ragu, mencoba menyentuh bahu gadis itu untuk memberikan sedikit rasa tenang. Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh Lux, gadis itu menepis tangannya dengan kasar tanpa mengangkat kepala.
"Jangan sentuh aku, Brengsek..." bisik Lux, suaranya mengandung kebencian yang begitu murni. "Aku bersumpah demi hidupku... aku akan membuat setiap detik dalam pernikahan konyol ini menjadi neraka untukmu."
Braxton hanya menelan ludah seraya menarik kembali tangannya. Ia mengusap wajahnya yang mendadak terasa kebas, menyadari bahwa malam ini, sebuah permainan taruhan konyol telah resmi menyeretnya ke dalam neraka yang diciptakannya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!