Sembari membenahi pakaian lusuhnya yang penuh tambalan. Gadis berusia 7 tahun dengan rambut merah bak bunga mawar panjang yang terlihat kusam itu, meraih sepotong roti yang disodorkan oleh seorang wanita dengan gaun yang terlihat cukup mewah, berdiri di depannya.
Ella lantas menundukkan kepala, membiarkan beberapa helai anak rambut menutupi matanya. "Te-terima, kasih."
Suara tawa yang dibuat anggun sebagai respon dari pengucapan tidak lancar dari kalimat yang ia dengar, mengalun masuk ke telinga gadis kecil itu.
Ella tidak sedikitpun mengangkat pandangannya dari ujung gaun yang menjuntai indah ke tanah milik sang wanita bangsawan.
"Nah, Nak. Terima ini juga."
Tangan yang dibalut sarung tangan putih bermotif bunga Lilac indah itu memberikan 5 koin perak di atas telapak tangan kiri Ella yang wanita itu buka. "Berdoalah untukku saat Perayaan Cahaya Kekaisaran nanti sebagai balasannya, oke?"
Tersenyum, wanita itu lantas beranjak pergi dari dari tempatnya berdiri.
Seolah dirinya sudah tidak tahan berada disana sedari tadi, tanpa sekalipun berniat untuk kembali melihat keadaan sekitar yang jelas memerlukan bantuan.
Wanita itu segera menaiki kereta kuda yang telah menunggunya di ujung gang pemukiman untuk segera pergi meninggalkan daerah pemukiman kumuh tempat Ella tinggal.
Seperti pada umumnya, setiap kali mendekati hari perayaan besar kekaisaran, para bangsawan akan terlihat di sekitar daerah miskin untuk sekedar memberi sumbangan.
Bukan tanpa alasan, namun hal itu merupakan kewajiban mereka, para bangsawan, yang nantinya akan dimintai laporannya oleh pemimpin setiap daerah.
Formalitas.
Mengingat hal itu, Ella yang biasanya harus mengumpulkan barang bekas dengan mengelilingi kota Ador untuk ditukarkan menjadi beberapa koin perunggu agar dapat membeli setidaknya sepotong roti untuk ia makan hari itu, kini, gadis kecil itu hanya perlu berada di sekitar kawasan panti yang ia tinggali.
Ella mengangkat sedikit pandangannya setelah suara langkah dari sepatu hak tinggi wanita itu tidak lagi terdengar.
Sinar keemasan dari matahari sore menyapa wajah, menyipitkan matanya, membuat dahi Ella terlihat mengerut tipis.
Warna dari matahari terlihat menyatu dengan warna mata gadis itu, yang membedakan hanyalah warna mata Ella yang terlihat lebih keruh dibanding cahaya matahari yang memancarkan warna emas yang agung.
Warna dari netranya seolah sudah cukup untuk menjelaskan kehidupan yang telah dilewati Ella.
'Satu koin perak bisa membeli 2 roti. Kalau lima koin, berarti ... ' Senyum merekah di bibir Ella. Ada binar di kedua matanya saat memandangi koin-koin di atas telapak tangannya.
Ella melihat roti pemberian wanita tadi di tangan kanannya. ‘Jika aku membeli satu setiap harinya, aku bisa bertahan dan tidak kelaparan sampai tujuh hari menjelang perayaan!’
Cukup sampai dirinya pergi, kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...“Kau adalah anak yang dibuang dan tidak diinginkan untuk lahir. Kau tidak memiliki keluarga. Jadi, jika ingin terus menumpang hidup disini maka kau juga harus ...
...mengemis seperti yang lainnya setiap hari. Jangan pernah merengek seperti anak kecil."...
Ella kembali ke kamarnya di dalam panti. Terlihat ada beberapa ranjang kayu yang tak layak ditempati. Ia bergerak ke sudut ruangan dimana miliknya berada.
Setelah menyembunyikan koin-koin berharganya disebuah tas selempang yang terlihat memiliki tambalan di setiap sudut tas, Ella segera menaruh kembali tas yang bagaikan kotak harta karun baginya, dimana seluruh aset pribadi berharga seperti koin-koin perak yang berhasil ia sembunyikan dari anak-anak pemalak di panti, di bawah tempat tidur.
“Hei, Kau!”
Seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri congkak di pintu kamar setelah berteriak memanggil si pemilik ruangan.
Zero menyunggingkan senyumnya kala gadis kecil bagai boneka yang tak terawat itu berbalik kaku.
Ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Ella.
Perbedaan ukuran yang sangat kontras terlihat dimana Ella yang hanya sebatas dada anak itu, membuat perasaan Zero semakin angkuh.
“Kudengar kau keluar sepanjang hari ini. Apa yang kau dapatkan?” Zero memicing mendekatkan wajahnya.
Jemari gadis kecil itu mulai bergetar. 'Koin-koin berhargaku ... mereka tidak terlihat kan?' Pandangan mata Ella diam-diam melirik ke sudut.
Gotcha! Tas harta karunnya sudah masuk sempurna ke bawah ranjang.
Namun saat Ella kembali menundukkan pandangannya ke lantai kayu yang kasar, hal tersebut malah membuat emosi Zero mulai tersulut.
Anak laki-laki itu menganggap perilaku Ella saat ini adalah mengabaikan dirinya.
Tangan kanan Zero dengan ringan menarik rambut panjang Ella kuat.
Ella sontak meringis, pandangannya kini sedikit mengadah paksa menatap raut wajah Zero yang terlihat mengeras.
“Tadi, aku bertanya ... Apa yang kau dapatkan dari menjilat para bangsawan dengan wajah cantikmu hari ini?! Berani sekali tidak menjawab!"
“Da-dapat, roti. Sepotong roti.” Lengannya menunjuk ke arah nakas kecil di sebelah tempat tidur. Dimana sepotong roti terbungkus dengan aroma yang masih menguar tergeletak.
Zero melirik ke arah yang ditunjuk Angel. Menghembuskan napas kasar. “Menjawab pertanyaan mudah saja masih terbata tidak jelas padahal sudah berusia tujuh tahun? Dasar gadis bisu!”
Zero melepaskan cengkramannya dengan cepat dan merampas roti milik gadis itu.
"Pantas saja kau dibuang."
Zero melenggang keluar setelah merebut roti milik Ella dengan senyum mengejek.
Ella sudah menduga bahwa akan ada salah satu dari anak-anak yang berusia lebih tua di Panti, yang akan datang dan memalak sesuatu dari anak lain yang keluar.
'Untungnya aku sudah membeli roti cadangan untuk hari ini ... '
Gadis kecil itu lantas meraih pelan tas selempangnya dari bawah kasur. Mengambil sepotong roti lagi yang baru ia beli menggunakan koin yang diterimanya tadi.
Ella memilih merelakan rotinya diambil dibanding koin-koin berharganya, meskipun ia sedikit sedih, baginya yang sulit untuk makan sehari-hari, bahkan seperempat roti pun akan sangat berharga.
Panti Asuhan ini hanya menyediakan bangunan untuk tinggal. Sebuah bangunan yang sebenarnya jauh dari kata ‘layak huni’.
Jika tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan dari luar, terkadang anak-anak panti lain akan mencuri jika tidak ingin kelaparan hari itu.
Ella berpikir saat ini dirinya lebih baik bertahan dari ‘mati karena kelaparan' sampai hari perayaan festival cahaya. Hari dimana pastinya semua orang akan sibuk, bahkan para tetua di Panti akan pergi ke pusat kota Ador seperti saat hari perayaan besar lainnya.
Di saat itulah, Ella akan melangkah keluar dari tempat yang tidak bisa dijadikan rumah untuk pulang, tempat yang hanya bisa merampas dan memberikan luka padanya.
Gadis kecil itu memandangi isi tas selempang miliknya yang berukuran tidak terlalu besar. 'Aku tidak tau bagaimana dunia diluar sana'
Sorot matanya beralih menatap keluar jendela kamar. Tidak jauh dari halaman panti, pepohonan besar yang padat memenuhi pandangan.
Takut.
'Tapi, lambat laun aku akan mati jika terus disini tanpa ada kesempatan untuk hidup.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
7 hari setelahnya, dan Hari Perayaan Cahaya Kekaisaran Reis akhirnya tiba.
“Selesai!"
Ella kecil mengusap keringatnya. Memandangi gumpalan yang terbalut kain cokelat tua berisikan barang-barang yang sekiranya akan ia butuhkan saat meninggalkan panti diam-diam.
Di Greys, selain anak yang di beli oleh orang lain, bahasa halusnya 'diadopsi', anak-anak dilarang meninggalkan panti sebelum membayar uang tempat tinggal.
Maka dari itu Ella memutuskan untuk kabur, daripada pasrah menunggu dirinya dikeluarkan entah kemana, atau lebih parahnya menunggu dirinya dewasa itu sama saja dengan menunggu ajalnya sendiri.
Bukan tidak ada 1 atau 2 anak yang kehilangan nyawanya dalam satu bulan disebabkan berbagai macam faktor, entah kelaparan, dirundung, atau bahkan menjadi pelampiasan emosi saat para tetua panti sedang merasa kesal.
Kembali ke aktivitasnya, Ella juga tidak lupa menyiapkan tas selempang miliknya. Matahari telah terbenam beberapa saat lalu, membiarkan bulan dan bintang yang menyinari gelapnya malam.
Saat ini, anak-anak panti lain telah bergegas keluar untuk berebut, mencari lokasi yang sekiranya terdapat banyak bangsawan sedari tadi.
Keadaan panti yang saat ini bisa dibilang cukup sepi membuat perasaan gugup yang Ella rasakan berangsur lega.
'Siap!'
Gadis kecil itu dengan sigap menyampirkan tasnya, memeluk bungkusan kain yang berisikan barangnya dan melangkah keluar menuju pintu keluar panti asuhan.
Matanya menatap keadaan diluar panti. Cahaya keemasan yang berasal dari kota yang tidak jauh dari panti asuhan juga seluruh wilayah kekaisaran yang tengah berpesta.
Berbanding terbalik dengan keadaan lingkungan sekitar panti.
'Cantik sekali.' Sorot mata Ella sedikit terkagum melihat banyaknya lampion yang berterbangan, seolah ingin bersanding dengan bintang-bintang.
'Tapi jika aku lewat jalan utama, bagaimana jika bertemu dengan anak panti yang lain? Lebih buruknya bagaimana jika aku tertangkap basah oleh salah satu tetua?'
Ella memandangi sekitar, perasaan gugup mulai menyelimuti dirinya kala satu ide muncul dibenaknya.
Ke sisi lain pusat kota Ador dengan mengikuti arus hutan!
Berusaha melawan perasaan gugup, Ella menghela napas pelan dan menyemangati dirinya sendiri. 'Aku pasti bisa!'
Untuk yang terakhir kali ia memperhatikan ruang tengah panti asuhan. Memeriksa apakah ada yang tertinggal penting untuknya sebelum ia berlari untuk mencari tempat melanjutkan hidup dengan sedikit lebih aman.
‘Sudah kan, ya?' Sebelah tangannya menggenggam erat tali tas. Dadanya terasa sangat berat seketika, seolah ada sesuatu yang memenuhi dan membuat Ella merasa resah meninggalkan panti. 'Aku bisa pergi sekarang kan?'
Setelah yakin tidak ada hal penting lainnya, Ella dengan hati yang sedikit berat mulai melangkah berlawanan dari arah jalan yang menuju pusat pemukiman di Kota Ador – sebuah wilayah pemukiman yang berada di sebentang antara daerah selatan dan tenggara Kekaisaran Reis, menuju sisi seberang untuk memasuki kota itu.
Napas Ella memburu lelah. Dirinya mulai letih berlari karena takut masih ada seseorang di sekitar panti asuhan yang mengenalnya dan akan melapor kepada kepala panti.
10 menit berlalu, langkah gadis kecil itu perlahan memelan. Ella mulai memperhatikan situasi sekitar tempat dirinya berada.
Sisi sebelah kanannya tampak pepohonan yang berjarak saling berdekatan, dengan kegelapan di bagian dalam.
Itu adalah Hutan Cana, hutan panjang yang membatasi antara 3 wilayah Kekaisaran di Benua Astra yang terkenal akan hal-hal Magis di dalamnya.
Ella tau karena dirinya pernah sedikit mencuri dengar tentang hutan itu dari para tetua panti yang mengobrol.
Langkah Ella benar-benar terhenti kali ini. Ada perasaan aneh yang masuk ke dalam dirinya menggantikan rasa gugup yang sedari tadi melingkupi tubuhnya.
Matanya mencoba menelisik masuk ke dalam hutan, mencari sumber perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Sampai kedua matanya berkedip bingung kala menangkap beberapa titik cahaya kecil yang perlahan melayang keluar dari arah dalam hutan.
‘A-apa itu?’ Kaki Ella sontak mengambil langkah mundur dengan.
Dirinya ingin berlari lagi, namun entah karena apa kedua kakinya hanya mengambil jarak kecil dengan begitu pelan, bahkan tubuhnya tetap tegak menatap ke arah hutan, tidak bisa berbalik.
Sedetik kemudian, kala cahaya kecil itu semakin cepat terbang menuju dirinya Ella kecil yang seolah tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri itu lantas memejamkan erat kedua matanya dengan memeluk barang bawaannya,
ia pasrah.
Hening, tidak ada yang terjadi. Rasa sakit atau seolah ada yang menyerang tubuhnya pun tidak ada.
Ella membuka kedua matanya perlahan untuk mengintip situasi sekitarnya. Sekumpulan kunang-kunang cantik melayang tepat di sekitar tubuhnya, mereka bergerak kesana kemari seolah tengah menyapa.
Perasaan Ella perlahan melunak.
“H-hai ... “ Telunjuk gadis kecil itu mencoba menyentuh salah satu kunang-kunang
di depannya. Seolah memang menunggu, makhluk kecil itu bertengger gembira di atas jari telunjuk Ella.
Senyuman riang terukir jelas di wajah Ella. "Ka-kalian, ingin, menemani ... Aku?”
Kunang-kunang lain yang berada di sekitar Ella sontak terbang ke arah depan dan kembali lagi mendekat ke tubuhnya sebagai jawaban.
“Hihihi, terima ... kasih.” Perasaan Ella menghangat. Baru kali ini dirinya merasa tidak sendirian.
Gadis kecil itu kembali meneruskan pelariannya. Berjalan pelan di pinggiran Hutan Cana, ditemani kunang-kunang yang seolah menjadi teman perjalanan serta penerang di tengah gelapnya malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella mulai mengangkat pandangannya lurus kala keramaian mulai muncul kembali di depan matanya.
Kini dirinya telah tiba di sisi tenggara Kota Ador; sisi yang berlawanan cukup jauh dari panti asuhan Greys yang berada di sekitar daerah selatan kota Ador.
Ador yang merupakan daerah Grand Duchy Luelle, dengan sisi tenggara kota yang dijadikan tempat tinggal pemimpin wilayah yang memegang kendali 2 sisi Kekaisaran Reis, Grand Duke Aghasa Luelle.
Sebuah mansion besar nan tinggi yang menjulang gagah dapat Ella lihat di ujung keramaian. Dirinya memutuskan tempat pertama yang akan ia kunjungi adalah mansion grand duke Luelle.
Dan lagi, informasi mengenai kediaman grand duke juga ia curi dengar dari para tetua panti.
Mungkin saja disana masih membutuhkan tenaga kerja, dan Ella berharap mansion grand duke mau menerima anak kecil sepertinya sebagai pelayan, setidaknya, ia masih bisa menyapu dan melakukan pekerjaan bersih-bersih lainnya.
Meskipun kemungkinan yang ada kecil, Ella hanya menginginkan sebuah pekerjaan yang menghasilkan, setidaknya ia dapat membeli sebuah roti per-harinya.
“Kita ber, pisah disini ... kunang-kunang,” ujarnya lesu. Ella memandangi kumpulan
kunang-kunang kecil yang mulai membentuk satu di depannya.
Meskipun Ella merasa baru saja ia menemukan teman pertama yang tidak menekan ataupun menyakitinya bahkan menemani dirinya di kegelapan.
Sayangnya Ella tidak mau memaksa para kunang-kunang untuk ikut dengannya dengan pergi meninggalkan Hutan Cana yang merupakan rumah mereka.
“Terima ... kasih banyak.”
Senyuman cantik merekah dari wajah Ella, mengantar kepergian kunang-kunang
kecil yang perlahan mulai masuk kembali kedalam hutan.
Kembali memandang keramaian perayaan, Ella menghembuskan napas sebelum mulai melangkah memasuki padatnya Pusat Kota Ador.
‘Tidak apa-apa, tidak perlu takut’ batin Ella kala tubuhnya mulai berbaur dengan orang-orang yang tengah menikmati perayaan.
Sudut mata Ella menangkap gerobak penjual roti-roti hangat yang terlihat lembut.
Dirinya memutuskan melangkah untuk membeli sebuah roti sebagai bekal terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan pertama, Mansion Grand Duke Luelle.
“PENCURI! TOLONG, ORANG YANG MEMAKAI JUBAH HITAM ITU MENCURI TASKU!”
“HEI, BERHENTI DISANA!”
Teriakan dari seorang wanita serta beberapa suara berat seperti ksatria? Mengambil atensi Ella. Gadis yang baru saja menyimpan sebungkus roti hangat ke dalam tas penyimpanannya itu melihat ke sisi yang menghasilkan teriakan.
Sekerumunan orang-orang bergerak cepat tak terhindarkan membuat tubuh kecil Ella bertabrakan dan masuk di antara kerumunan tubuh orang-orang dewasa.
Sedetik setelahnya tanpa jeda untuk mencerna situasi, semakin banyak orang yang berkerumun tidak beraturan untuk melihat pengejaran yang dilakukan oleh beberapa ksatria berzirah perak mengkilap menggunakan kuda.
“Per-permisi, a-ku ingin ... lewat.” Berusaha untuk keluar dari kerumunan yang berdesakan tanpa memedulikan siapa orang yang mereka himpit.
Raut wajah Ella mulai pucat. “Tolongh, permisi ...“
Pasokan oksigen disekitarnya menipis. Perasaan tak karuan mulai menyelimuti dirinya.
Tubuh Ella mulai kehilangan keseimbangan dan kedua kakinya tak lagi mampu menopang.
Seperkian detik setelahnya, Ella merasa bahwa ruang disekitarnya mulai terasa lebih luas karena orang-orang tersadar ada anak kecil yang tergeletak.
Setelahnya Ella hanya mendengar banyak langkah kaki yang melingkari dirinya, pandangannya sudah sangat mengabur.
Sesaat sebelum semua indranya terasa seolah ditarik ke kegelapan. Ella mendengar suara berat nan tegas, yang mampu membisukan seluruh perbincangan khawatir yang saling terlontar satu sama lain di sekitarnya.
SEMENTARA ITU -
Rambut merah bak bunga mawar khas keluarga Luelle. Terlihat tetap menawan dibawah cahaya rembulan dengan perpaduan keemasan dari lampion yang terpasang disetiap sudut kota.
Tubuh tinggi dan tegap terbalut zirah perak yang memiliki motif berbeda dari ksatria lain, dengan jubah merah pekat yang tersampir di pundaknya serta pedang panjang yang tersimpan rapih di pinggang.
Visualnya yang tak hanya sekedar dikenali namun sangat disegani. Tidak hanya di kota Ador yang merupakan wilayah utama Grand Duchy Luelle, tapi juga satu Kekaisaran Reis.
Bahkan namanya selalu terdengar di Kekaisaran lain,
Pedang Reis
Ksatria Darah dari Reis,
Grand Duke Aghasa Luelle. Yang juga merupakan adik dari permaisuri kekaisaran Reis.
“Bagaimana dengan bedebah itu?”
Raut wajah datar dengan pandangan tegas memandang ke depan. Tubuhnya tetap tegak di atas kuda meskipun telah cukup lama ikut turun langsung dalam memantau penjagaan keamanan di malam sebelum hari pertama perayaan cahaya.
Derix - Ajudan Pribadi sang Grand Duke, menundukkan kepalanya pelan. “Saya telah mengirim sejumlah ksatria berkuda untuk mengejarnya, Tuan.”
Dahi Aghasa mengernyit tidak suka. “Malam sebelum perayaan, bahkan belum hari utama perayaan itu sendiri sudah terjadi kekacauan?”
“Maaf, Tuan.” Derix dengan perasaan menyesal telah mengecewakan sang tuan hanya dapat menunduk dengan mengendalikan kuda hitamnya di belakang tubuh tegap Aghasa.
Berdecak pelan. “Setelah ini pastikan untuk meningkatkan latihan para ksatria Luelle.”
“Baik,” jawab Derix sontak.
Mendengus menahan amarah, Aghasa kembali memperhatikan keadaan malam sebelum perayaan. Terlihat jelas warga yang berkerumun menyaksikan penangkapan pencuri yang bernasib sial karena tidak mengira bahwa sang grand duke sendiri yang memimpin penjagaan malam ini.
Dahi Aghasa mengernyit kala menangkap sesuatu yang menarik atensinya di tengah
kerumunan yang terlihat cukup jelas dari atas kuda putih gagah yang ia naiki.
Jelas-jelas tadi ia melihat, helaian rambut bewarna merah terkibas angin pelan di tengah-tengah kerumunan. Rambut panjang namun terlihat kecil.
Apa itu seorang anak kecil perempuan dengan rambut bewarna merah? Tidak mungkin.
Rambut merah itu menghilang seolah tenggelam di kerumunan membuat Aghasa semakin menyipitkan pandangannya untuk memastikan.
Di Kekaisaran Reis bahkan satu Benua Astra, hanya keturunan Luelle yang mampu memiliki warna bak bunga mawar merah yang pekat, itupun hanya beberapa keturunan yang terpilih.
Bahkan tiga anak sang kakak – para pangeran Kekaisaran Reis, ketiganya tidak dapat memiliki warna rambut keluarga Luelle dan malah mengikuti sang ayah, juga dikarenakan gen keturunan keluarga kaisar yang merupakan Archmage, sangat mendominasi.
‘Tunggu sebentar! Anak perempuan dengan rambut merah?’ Tersadar sesuatu, Aghasa lantas meloncat turun dari atas kuda dan dengan cepat kakinya mengambil langkah lebar menuju titik yang menarik atensinya.
Derix yang melihat sang tuan tergesa juga mengikuti dengan posisi sigap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dirinya berpikir bahwa sang tuan melihat satu kejahatan lagi di malam sebelum perayaan.
‘Kenapa para ksatria sangat lalai sih?! Sampai membuat grand duke sendiri turun tangan lagi’ keluhnya dalam hati.
Sementara itu, jantung Aghasa berdegup kencang. Perasaan tegang dan mendebarkan ini bahkan tidak pernah ia rasakan meski saat dirinya memenangkan perang besar kala itu.
Ia berharap yang dilihatnya tadi bukanlah halusinasi. Namun ia juga memiliki sedikit rasa takut untuk mengetahui kenyataan setelahnya.
“Minggir.”
Bariton tegas Aghasa meredam kebisingan dari orang-orang disekitar. Sontak, seluruh raga membungkuk, memberi hormat akan kedatangan pemimpin wilayah mereka. Para warga serentak membuka akses jalan agar sang grand duke dapat dengan leluasa untuk masuk.
Tenggorokan Aghasa tercekat. Napasnya seolah tertahan untuk beberapa detik dengan tubuh mematung akan pemandangan di depannya.
Derix yang baru dapat menyusul langkah Aghasa menatap bingung kenapa sang tuan yang berhenti dan berdiri kaku. Ia lantas menelusupkan pandangannya ke samping untuk melihat pemandangan apa sebenarnya yang berada di depan mata sang grand duke.
Seorang gadis kecil dengan tubuh kurus yang menurutnya pandangannya berusia sekitar 5 tahun, tengah terbaring di atas tanah sembari terengah-engah seolah udara di sekitarnya menghilang.
Mata Derix terbelalak. Dirinya sudah terbiasa dan tidak terlalu terkejut kala melihat pemandangan seseorang tengah sekarat karena ia menghabiskan masa mudanya di medan perang.
Namun yang sekarat di depan matanya kali ini adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah bak mawar, khas keluarga Luelle!
Derix berusaha kembali melihat ke arah sang tuan. Ingin memberitahunya apa yang juga telah di lihat oleh sang Grand Duke. “Tu-tuan ... Itu-“
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!