Dari sebuah kantor berlantai delapan, beberapa karyawan tampak keluar dari gedung tersebut. Hari sudah gelap ketika kelima karyawan itu keluar dari kantor. Mereka terpaksa lembur karena pekerjaan yang menggunung dan harus diselesaikan secepatnya.
“Nilan, kamu pulang naik apa?” tanya rekan kerjanya, Rama.
“Naik bus.”
“Kenapa nggak naik taksi?”
“Nggak apa-apa. Ada yang mau kubeli dulu di minimarket dekat halte.”
“Mau kuantar?”
“Nggak usah.”
“Yakin? Tapi ini sudah malam,” Rama melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Tenang aja, daerah rumahku ramai kok.”
“Ya sudah, hati-hati.”
Rama segera menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Pria itu melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan pelan.
Sesampainya di dekat Nilan, pria itu semakin memperlambat laju motornya. Dia sengaja menemani rekannya sampai ke halte.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, bus yang ditunggu Nilan tiba. Wanita itu segera masuk ke dalamnya.
Rama masih tetap di atas motornya hingga bus yang ditumpangi Nilan menghilang di tikungan. Karena khawatir pada wanita itu, Rama memutuskan mengikuti dari belakang.
Tidak sampai dua puluh menit, bus yang ditumpangi sudah sampai di halte yang dituju Nilan. Wanita itu segera turun di halte.
Melihat bus di depannya berhenti, Rama pun menghentikan motornya. Matanya terus mengikuti Nilan yang berjalan menuju minimarket dekat halte. “Syukurlah dia sampai dengan selamat. Sebentar lagi dia sampai rumah. Tapi, apa aku ikuti terus sampai rumahnya?”
Ketika Rama masih menimbang, ponselnya berdering. Pria itu segera menjalankan motornya begitu selesai menjawab panggilan.
Usai membeli beberapa barang, Nilan pun melajutkan perjalanan. Jarak dari minimarket ke rumahnya cukup jauh.
Biasanya dia selalu menggunakan ojek pangkalan saat pulang. Namun malam ini, tidak ada satu pun tukang ojek yang berada di pangkalan.
Nilan menunggu beberapa menit sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah. Rumah Nilan berada di bagian ujung. Harus melewati jalan lurus yang cukup panjang.
Seratus meter pertama, masih ada deretan perumahan warga. Namun setelahnya, sekitar tiga ratus meter hanya jalanan sepi. Di sebelah kanan terdapat hamparan sawah, sementara di sebelah kiri terdapat kebun jagung, pisang, dan singkong.
Nilan mendongak saat merasakan titik air menimpa kepalanya. Wanita itu mempercepat langkahnya. Perjalanannya masih cukup jauh.
Suasana di sekitarnya semakin sepi. Tidak ada kendaraan, apalagi orang yang melewati jalan yang dilaluinya. Kepala Nilan menoleh ketika telinganya menangkap suara di belakangnya. Namun tidak ada siapa pun di sana.
Nilan melanjutkan langkahnya, mengira kalau tadi dia hanya salah dengar saja. Namun baru beberapa langkah, suara langkah itu terdengar lagi.
Refleks Nilan berhenti dan suara di belakangnya juga berhenti. Perasaan takut mulai menjalari hatinya. Tanpa menoleh lagi, Nilan melanjutkan langkahnya.
Kali ini wanita itu mempercepat langkahnya, apalagi rintik hujan perlahan semakin deras. Dia berlari kecil agar bisa cepat melewati hamparan sawah dan kebun di kanan, kirinya.
Nilan berhenti sebentar untuk mengambil napas. Wajahnya sudah basah oleh rintik hujan, begitu juga dengan pakaiannya.
Ketika wanita itu hendak melanjutkan langkahnya, dari arah belakang muncul seseorang. Dia membekap mulut Nilan sambil menyeretnya ke kebun jagung yang ada di sebelah kiri.
Nilan berusaha berontak, tetapi tenaga pria di belakangnya begitu kuat. Wanita itu menancapkan kukunya ke tangan sang pria, dan berhasil.
Pria itu melepaskan bekapannya dengan kasar, membuat tubuh Nilan terhuyung ke depan dan jatuh terjerembab ke tanah.
Dengan cepat dia berbalik. Di hadapannya sekarang berdiri seorang pria berpakaian serba hitam. Dia tidak bisa melihat wajah sang pria karena tertutup topeng Rahwana. Topeng berwarna merah menyala, mata lebar, dan senyum menyeringai, membuat bulu kuduk Nilan berdiri.
Nilan beringsut mundur ketika pria di depannya mendekat. Wajah wanita itu semakin ketakutan ketika melihat pria di depannya mengeluarkan palu dari balik pinggangnya. “S-Siapa kamu?”
Pria bertopeng Rahwana itu hanya membisu. Hanya langkahnya saja yang semakin mendekat. “Akh!” Nilan memekik kesakitan ketika telapak tangannya menekan batu hingga terluka.
Sementara pria di depannya hanya diam mematung, tapi dari balik topengnya, matanya menatap tajam pada Nilan. Kepalanya dimiringkan ke kanan, seolah sedang mengamati mangsanya. Dari lubang mata topeng Rahwana, tatapannya tak lepas dari Nilan, membuat wanita itu semakin tercekat.
Tanpa mempedulikan luka dan rasa sakitnya, Nilan berusaha pergi. Dia berbalik kemudian merangkak agar pergerakannya lebih cepat. Namun dia tak mampu bergerak lebih cepat dari pria yang mengejarnya. Dalam waktu singkat pria itu sudah berada di dekatnya.
“AARRGGHH!”
Nilan menjerit kencang ketika pria itu memukulkan palu ke pergelangan kakinya. Tubuhnya langsung terjerembab ke tanah. Ketika wanita itu membalikkan tubuhnya, sang pria kembali menghantamkan palu ke kaki Nilan.
Teriakan dan tangis Nilan terdengar memecah kesunyian di kebun jagung tersebut. Namun sayang, tidak ada satu pun yang mendengar teriakannya.
Kedua pergelangan kaki Nilan sudah tidak bisa digerakkan lagi. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit dan takut yang menyerangnya bersamaan.
“S-Siapa kamu? A-Apa salahku? Tolong lepaskan aku,” mohon Nilan sambil menangis.
Tak menghiraukan permohonan Nilan, pria itu kembali menghantamkan palunya berkali-kali. Bukan hanya ke kaki, tapi juga ke tubuh dan wajah Nilan. Darah yang keluar dari luka hantaman menyebar ke mana-mana.
Tanah tempat Nilan berbaring sudah basah oleh darah wanita itu. Tubuhnya juga sudah tidak bergerak lagi. Dia tidak cukup kuat menahan luka hantaman palu di tubuhnya. Nyawanya hilang seketika saat palu menghantam kepalanya beberapa kali.
Melihat korbannya sudah tidak bergerak, sang pria menghentikan aksinya. Dia kemudian menyeret tubuh Nilan memasuki perkebunan jagung lebih dalam lagi. Setelah berada di tengah perkebunan, pria tersebut berhenti.
Dia mengatur posisi Nilan meringkuk, persis seperti posisi bayi di dalam janin. Kemudian dia mengambil spidol dari saku jaketnya. Dia membuat titik kecil hitam tepat di atas telapak ibu jari kaki Nilan. Selesai melakukan itu, pria itu mengambil kamera polaroidnya lalu memotret Nilan.
Dari balik topengnya dia tersenyum melihat hasil jepretannya. Wajahnya menunjukkan kepuasan tersendiri. Setelahnya dia segera meninggalkan tempat tersebut sambil bersiul pelan, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Selang beberapa jam, hujan masih menyirami bumi. Walau hanya hujan kecil, tapi cukup membuat orang malas keluar rumah. Mereka menarik selimut untuk menghangatkan tubuh agar tidurnya tidak terganggu oleh hawa dingin.
Sementara di perkebunan jagung, jasad Nilan masih tergeletak di sana. Tak jauh dari jasad itu berdiri arwah Nilan. Wanita itu menatap tubuhnya yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, seakan belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati. “Apa salahku? Kenapa kematianku mengenaskan seperti ini?”
Cukup lama Nilan terdiam di sana sebelum akhirnya tubuhnya menghilang tertiup angin malam.
Dapat Nilan rasakan tubuhnya melayang tak tentu arah. Hingga akhirnya dia mendekati sebuah rumah yang terlihat masih ada kehidupan di dalamnya.
Beberapa pemuda tampak masih bermain game dengan ponselnya sambil sesekali terdengar makian pelan dari mulut mereka.
Nilan mendekati mereka. Dia berdiri di depan empat pemuda yang sedang asyik bermain game, tetapi tidak ada satu pun yang menyadari keberadaannya. Tak mau menyerah dia melambaikan tangan sambil berkata, “Apa kalian bisa melihatku? Tolong aku!”
Semua usahanya sia-sia. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaannya. Nilan meninggalkan mereka. Dia memasuki kamar demi kamar, mencari orang yang bisa melihat keberadaannya, tetapi hasilnya tetap sama.
Akhirnya Nilan berhenti di pintu terakhir. Sambil berharap penghuni terakhir bisa melihatnya, dia menembus pintu tersebut.
Nilan melihat seorang pemuda sedang tertidur pulas. Tubuh Nilan melayang mendekati pemuda itu. Dengan suara lirih dia berbisik di dekat telinga sang pemuda. “Tolong aku.”
Mendengar bisikan halus di telinganya, pemuda itu sontak membuka matanya. Dia terkejut saat melihat di dekatnya berdiri seorang wanita dengan wajah rusak dan berlumuran darah.
“WHUAAAAA!!!”
***
Nino dan Asep come back🤗
Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5 ya, makasih🤗
Saking kencangnya teriakan pemuda itu, Nilan langsung menghilang. Setelah sosok menyeramkan itu menghilang, pemuda bernama Gilang itu terbangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya, kemudian menyapu seluruh ruangan.
Apa gue cuma mimpi ya? Gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Nilan tidak benar-benar pergi. Hantu wanita itu bersembunyi di balik gorden. Dia masih mengintip Gilang yang masih terlihat bingung.
Karena masih mengantuk, Gilang memutuskan kembali tidur. Baru saja dia merebahkan tubuhnya, Nilan kembali mendekatinya. Dia berdiri di ujung ranjang.
“WHUAAAAA!”
Kembali Gilang berteriak, tetapi kali ini Nilan yang sudah kebal tidak langsung menghilang. Dia tetap berdiri di tempatnya sambil memandangi Gilang yang tampak ketakutan.
Pemuda itu duduk di ranjang sambil memeluk gulingnya. Dia berusaha menutupi wajah dengan guling.
Gilang mengintip dari balik gulingnya dan ternyata makhluk menyeramkan itu masih berada di tempatnya. “Siapa kamu? Pergi! Aku nggak pernah ganggu kamu, pergi!” usir Gilang sambil mengibaskan tangannya.
Nilan tetap berdiri tanpa bergerak. Dia terus menatap Gilang dan semakin membuat pemuda itu ketakutan. Dengan cepat Gilang turun dari ranjang lalu keluar dari kamar, lalu segera mendekati teman-teman satu kosnya yang sedang asyik mabar.
“Kenapa, Lang?” tanya salah satu temannya.
“Di kamar gue ada setan.”
“Yang benar?”
“Iya. Sumpah serem banget mukanya.”
“Kuntilanak?”
“Kayaknya bukan, soalnya nggak pake baju putih panjang kayak di film-film.”
“Masa?”
Salah seorang teman Gilang yang memang pemberani bangkit dari duduknya lalu berjalan ke kamar Gilang. Begitu dia masuk ke dalam, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar. Pemuda itu kembali keluar. “Nggak ada siapa-siapa.”
“Sumpah, tadi ada,” Gilang bersikeras.
“Perasaan elo aja kali.”
“Beneran. Sumpah mukanya seram banget. Kayak habis dipukul pakai apa gitu, darahnya juga banyak. Hiiii ....”
Gilang bergidik sendiri membayangkan kembali wajah hantu yang dilihatnya tadi. “Gue tidur di sini aja bareng kalian, lebih aman.”
Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, Gilang langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Karena masih mengantuk, pemuda itu kembali terlelap. Meski suara teman-temannya yang sedang mabar masih terdengar, Gilang tetap tertidur pulas.
Gilang semakin terlelap dalam tidurnya. Wajahnya tanpa sadar menyunggingkan senyuman saat pemuda itu bermimpi foto bareng dengan atlet bola favoritnya.
Sambil melihat ke kamera, Gilang mengangkat jempol tangannya. Terdengar suara shutter kamera mengabadikan gambarnya dengan Erling Haaland. Setelahnya Gilang menoleh ke pemain favorit yang berdiri di sampingnya.
Senyum di wajah Gilang memudar ketika wajah Erling Haaland berubah menjadi sosok hantu wanita yang tadi mengganggunya. Sontak pemuda itu membuka matanya. Dan sekarang hantu wanita itu benar-benar ada di hadapannya.
“WHUAAA!! Kampret! Kenapa lo nongol terus sih!” maki Gilang seraya bangun dari tidurnya.
Pemuda itu melihat sekeliling. Suasana di ruang tengah sudah sepi. Semua temannya yang tadi sedang mabar sudah masuk ke kamar masing-masing.
Kampret tuh anak-anak, bukannya bangunin gue! Sungut Gilang dalam hati. Pemuda itu segera bangkit lalu masuk ke kamarnya.
Baru saja dia berbalik setelah menutup pintu kamar, Nilan sudah berdiri di depannya.
“Ampun gusti … lo kenapa ngintilin gue? Kagak ngaca apa, lo? Muka lo nyeremin tahu! Bikin orang sawan!”
“Tolong aku,” ujar Nilan.
“Gue bukan mbah dukun, sana ke dukun aja kalau minta pertolongan.”
Gilang menuju ranjangnya kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di sana. Jam digital di layar ponsel menunjukkan pukul 05.35. Buru-buru dia masuk ke kamar mandi. Takut terlewat shalat shubuh.
Gilang mengembuskan napas lega. Setelah selesai shalat shubuh, hantu menyeramkan itu sudah tidak berada di kamarnya.
Pemuda itu kembali ke ranjangnya lalu membaringkan tubuhnya lagi. Baru sekitar lima menit berbaring, Nilan kembali muncul.
“Tolong aku,” pintanya lagi.
“Buset, hantu emangnya kagak ada jam kerja? Matahari udah mau nongol, kenapa lo masih bebas berkeliaran?” kesal Gilang.
“Tolong aku. Sampai kamu mau menolongku, aku akan terus mengikutimu.”
“Minta tolong apaan sih?”
“Aku ini korban pembunuhan. Tolong temukan mayatku. Jangan biarkan mayatku kedinginan di sana.”
“Kalau kamu korban pembunuhan, ngapain juga datangin aku. Sana ke kantor polisi!”
“Kalau aku bisa, aku akan langsung ke sana. Tapi di sana nggak ada yang bisa lihat aku. Cuma kamu yang bisa bantu aku. Tolong ….”
Nilan menangkupkan kedua tangannya. Di balik wajah menyeramkannya, bisa Gilang lihat tatapan sendu dan memohon hantu wanita itu. Karena tak tega, akhirnya Gilang setuju untuk membantunya.
“Oke, tapi gue mandi dulu. Lo jangan ikut gue ke kamar mandi. Gue masih perjaka nih!”
Nilan hanya memutar bola matanya saja mendengar cerocosan Gilang. Pemuda itu segera masuk ke kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya.
***
Dua jam kemudian Gilang dan Nilan sudah berada di depan kantor Polsek. Nilan sudah memberitahukan di mana dirinya dibunuh. Lokasinya berada di daerah dekat rumahnya. Dan sekarang keduanya sudah berada di kantor Polsek yang menaungi daerah di mana Nilan tinggal.
Gilang segera mendekati meja petugas piket. “Pagi, Pak.”
“Pagi. Ada perlu apa, Dek?”
“Ehm … gini, Pak. S-Saya mau melaporkan kasus pembunuhan.”
“Pembunuhan?” petugas itu terkejut sekaligus heran mendengar pengakuan pemuda di depannya.
Sejenak dia memandangi Gilang dari atas sampai bawah sebelum akhinya dia memandu pemuda itu ke rekannya yang berada di dalam.
“Anak ini mau melaporkan kasus pembunuhan,” ujar petugas itu pada rekannya.
“Pembunuhan di mana?”
“Kejadiannya di kebun jagung yang ada di desa Ciasem.”
“Desa Ciasem yang ada di dekat sini?” tanya sang petugas memastikan.
“Iya, Pak.”
“Siapa nama korbannya?”
Gilang refleks melihat pada Nilan yang berdiri di sampingnya. Sejak pertama bertemu, hantu wanita itu belum menyebutkan namanya sama sekali.
“Nilan Sari,” jawab Nilan.
“Namanya Nilan Sari, Pak. Dia tinggal di Desa Ciasem.”
“Kapan kejadiannya?”
“Tadi malam, Pak.”
“Dari mana kamu tahu soal ini?”
“Arwah Nilan yang datang menemui saya, Pak.”
Petugas polisi itu berhenti mendokumentasikan semua yang dikatakan Gilang setelah mengetahui sumber berita pembunuhan tersebut.
“Kamu jangan main-main, ya!”
“Saya nggak bohong, Pak. Tolong dilihat dulu di lokasi yang saya sebut tadi. Tolong, Pak. Saya nggak mau diikuti dia terus,” Gilang melirik pada Nilan yang masih berada di sampingnya.
Sang petugas berunding sebentar sebelum akhirnya mereka memutuskan memeriksa lokasi yang disebutkan Gilang.
Menggunakan mobil patroli, dua petugas segera menuju lokasi di mana jasad Nilan berada. Gilang juga diminta untuk ikut.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di lokasi. Lewat arahan Nilan, Gilang membawa dua petugas polisi tersebut ke lokasi pembunuhan.
Mereka berjalan cukup jauh memasuki kebun jagung hingga akhirnya tiba di lokasi. Jasad Nilan masih terbujur kaku dengan posisi meringkuk seperti bayi.
Melihat kondisi Nilan, perut Gilang langsung bergejolak. Dia segera memuntahkan isi perutnya.
Sang petugas segera menghubungi satuan reskrim. Mereka pun segera membuat garis pembatas di sekitar TKP. Salah satu petugas bicara pada rekannya.
“Awasi anak itu, jangan sampai kabur. Bisa jadi dia adalah pembunuhnya.”
***
Yang teriak bukan Nino atau Asep ya😂
Suasana kebun jagung yang tadinya sepi, kini mulai ramai. Petugas yang menemukan jasad Nilan langsung menghubungi satuan reskrim.
Dalam waktu singkat kesunyian di pagi hari itu pecah dengan bunyi raungan sirine. Mobil patroli, ambulans dan tim forensik terparkir di jalan dekat kebun jagung. Warga yang tengah melintas pun dibuat penasaran.
Kabar penemuan mayat di kebun jagung langsung menyebar ke seluruh desa. Warga pun mulai berdatangan. Namun mereka dilarang mendekati lokasi. Khawatir akan merusak TKP karena penyelidikan masih berjalan.
Gilang masih belum bisa pergi. Pemuda itu ditahan oleh dua petugas tadi.
“Bagaimana kamu tahu kalau ada mayat di sini?” tanya sang petugas lagi.
“Kan saya sudah bilang, Pak. Arwah Nilan yang bilang sama saya.”
“Kamu jangan main-main, ya! Bisa saja kamu menggunakan alibi itu untuk menutupi kejahatanmu sendiri.”
“Bapak nuduh saya yang bunuh Nilan?” tanya Gilang dengan ekspresi terkejut. Niatnya ingin membantu arwah Nilan untuk menemukan jasadnya, justru sekarang dirinya yang dicurigai.
“Karena hanya itu penjelasan yang masuk akal. Hanya kamu yang tahu di mana mayat Nilan. Kamu juga mengatakan kalau dia dibunuh pada malam hari.”
“Coba Bapak lihat muka saya. Apa muka saya mirip pembunuh? Nggak mungkin saya yang ganteng dan soleh ini jadi pembunuh, Pak. Tega-teganya Bapak nuduh saya sebagai pembunuh Nilan. Apa Bapak punya bukti?”
“Kalaupun kamu bukan pembunuhnya, bisa jadi kamu adalah kaki tangannya. Kamu terbukti bersalah atau tidak, nanti akan diputuskan setelah penyidikan.”
“Ngapain saya harus menjalani penyidikan. Saya nggak salah. Saya aja nggak kenal Nilan. Apa motif saya bunuh dia?
Saya tahu jasadnya di sini karena dia sendiri yang datang ke sana dan minta dibantu menemukan jasadnya. Harusnya Bapak berterima kasih sama saya, bukannya nuduh saya,” sewot Gilang.
Sang petugas mengorek telinganya yang terasa pengang mendengar ocehan Gilang yang tanpa jeda.
Perlahan ketakutan mulai merayapi hati Gilang.
Bagaimana kalau polisi tidak mempercayai perkataannya?
Bagaimana kalau dirinya benar-benar dijadikan tersangka pembunuh Nilan?
“Haaiisshh … sial!” Gilang mengacak-acak rambutnya. Pemuda itu melihat pada Nilan yang sedang berdiri di dekat jasadnya. “Gara-gara nolong elo, gue jadi kena getahnya,” rutuk Gilang.
Bukannya dia tidak bersimpati pada Nilan. Namun keadaannya saat ini juga berada di ujung tanduk. Dia harus bisa membuktikan kalau dirinya bukanlah pembunuh Nilan.
Para warga mulai banyak berkerumun di jalan dekat kebun jagung. Mereka masih bertanya-tanya, mayat siapa yang ada di kebun jagung tersebut.
Dari tengah kerumunan, seorang pria muncul. Mendengar penemuan mayat di kebun jagung, pria itu bergegas menuju ke sana. Sejak semalam istrinya belum pulang ke rumah. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Pria bernama Dadan itu hendak masuk ke kebun jagung untuk melihat mayat di sana. Namun dia segera ditahan oleh tiga petugas yang berjaga di jalan masuk menuju kebun.
“Tolong ijinkan saya masuk, Pak. Saya mau lihat siapa mayatnya,” mohon Dadan.
“Polisi dan petugas forensik masih melakukan penyelidikan. Harap Bapak bersabar.”
“Saya hanya ingin tahu apa itu istri saya. Dia tidak pulang sejak semalam, Pak.”
“Bapak tetap tidak bisa masuk!”
Ketiga petugas itu tetap menahan Dadan yang memaksa masuk. Salah seorang tetangga Dadan yang berada di sana langsung menenangkan pria itu. Dia mengajak Dadan sedikit menjauh.
“Sabar, Dan. Belum tentu mayat itu istrimu.”
Dadan hanya bisa mengamini dalam hati. Dia juga berharap kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Namun sejak semalam perasaannya tidak enak dan dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil mendekat. Mobil tersebut berhenti beberapa meter dari jalan masuk menuju kebun jagung.
Dari dalamnya keluar dua petugas polisi mengenakan pakaian serba hitam. Di bagian belakang kaos hitam yang mereka kenakan tertera tulisan TURN BACK CRIME.
Petugas bernama Nino dan Asep itu segera menuju TKP.
Nino dan Asep sudah empat tahun bekerja di kepolisian. Keduanya tergabung di Direktorat Reserse Kriminal Umum, Subdit Jatanras atau Kejahatan dan Kekerasan. Mereka berada di tim dua, di bawah pimpinan Miko.
Cukup banyak kasus yang sudah mereka selesaikan. Tentu saja prestasi keduanya tidak luput dari peran Ahqam dan Eris. Kedua makhluk astral itu masih setia mendampingi duo kancing cetet tersebut.
Saking sibuknya menangani kasus, baik Nino dan Asep sampai saat ini masih setia menyandang status jomblo.
Keduanya kalah oleh Ahqam yang sudah memiliki pasangan. Dan pasangannya siapa lagi kalau bukan Eris.
Sesampainya di TKP, tampak petugas forensik tengah melakukan tugasnya. Selain itu, mereka melihat arwah Nilan berdiri di dekat jasadnya. Nino dan Asep mengenakan dulu sarung tangan sebelum mendekati TKP.
Nino berjongkok di dekat mayat Nilan. Dia melihat luka-luka yang ada di tubuh korban. Pakaiannya masih utuh, itu artinya korban bukanlah korban pelecehan seksual.
Kalung dan cincin juga masih berada di tubuhnya, berarti bukan korban perampokan juga.
“Dilihat dari jasadnya, sepertinya baru semalam dia dibunuh,” ujar Nino.
“Ya. Dia juga bukan korban pelecehan seksual dan perampokan”, sahut Asep.
“Dilihat dari luka-luka yang dialami, sepertinya pelaku memiliki dendam pada wanita ini.”
“Dia tidak langsung menghabisinya. Dia menyiksa perempuan ini dengan memukulnya beberapa kali.”
“Apa penyebab kematiannya, dok?” tanya Nino pada dokter forensik yang juga datang ke lokasi.
“Diperkirakan luka di kepalanya. Seperti yang kamu bilang, pelaku memang menyiksanya lebih dulu, seolah sedang melampiaskan kemarahan atau ada dendam di antara mereka.”
“Jam berapa perkiraan kematiannya?” kini Asep yang bertanya.
“Diperkirakan dia dibunuh saat malam hari,” dokter bernama Bagas itu melihat jam di pergelangan tangannya sebentar. “Kurang dari dua belas jam. Tapi akan diketahui pastinya setelah dilakukan autopsi.”
Asep hanya menganggukkan kepalanya. Dia melihat pada Ahqam yang sedari tadi hanya berdiri di dekatnya.
Lewat isyarat mata dia memerintahkan pada jin pendampingnya itu untuk mulai mencari informasi pada teman sejenisnya yang ada di lokasi.
Ahqam mendelik kesal pada Asep. Namun akhirnya jin itu melakukan juga tugas yang diberikan padanya.
Nino mengambil tas Nilan yang tergeletak tak jauh dari jasadnya. Pria itu mengeluarkan isi tas korban, kemudian mengambil dompetnya. Di kartu identitas tertera nama Nilan Sari dan alamat tempat tinggalnya ternyata tidak jauh dari sini.
“Tadi di depan aku sempat mendengar ada pria yang ingin masuk. Dia bilang kalau istrinya tidak pulang semalam. Cepat bawa dia ke sini untuk mengidentifikasi jenazah,” titah Nino pada salah satu petugas.
Tanpa menunggu lama, petugas tersebut langsung mencari pria yang dimaksud Nino.
Sementara Asep yang berdiri di dekat Nilan sudah gatal ingin bertanya. Namun dia menahan diri. Soal kemampuannya dan Nino hanya diketahui Miko saja.
“Siapa yang pertama menemukannya?” tanya Asep pada petugas yang menghubunginya tadi.
“Ada yang melaporkannya, anak itu,” tangan sang petugas menunjuk pada Gilang yang sedang duduk berteduh di dekat pohon pisang. “Dia melaporkan ada mayat di kebun jagung. Dia mengatakan siapa nama korban, kapan korban meninggal. Bahkan dia yang mengantar kami ke sini.”
“Dia bilang tahu dari mana?”
“Katanya arwah korban yang kasih tahu dia. Dasar gila!”
Tidak ada jawaban dari Asep. Pria itu memandangi Gilang yang sedang asyik memainkan ponselnya. Melihat pemuda itu, dia jadi teringat masa di awal-awal mendapat kemampuan melihat makhluk astral.
Sementara itu, Dadan yang diizinkan masuk oleh petugas segera berlari menuju TKP. Begitu jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi, pria itu langsung berteriak kencang. “NILAAAAN!”
***
Siapa ya yang bunuh Nilan?🤔
Jangan lupa klik bintang 5 ya🤗
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!