Pada pagi hari di sebuah rumah hiburan mewah kota Qinghe.
Seorang pemuda baru keluar dengan pakaian yang sedikit berantakan sambil menguap.
"Tuan Shen, besok datang lagi yaa!!"
"Tuan, jangan lupakan kamarku..!!"
Teriak para wanita itu sambil melambaikan tangan dengan senyum manis.
Pemuda itu hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Di luar rumah hiburan, dua pelayan wanita keluarga Shen sudah menunggu dengan wajah pucat.
"Tuan muda... kita celaka."
Shen Yu menggaruk kepalanya.
"Ha memangnya ada apa?"
"Tuan muda semalam memukul putra keluarga Zhao."
"Oh..."
"Dan..."
"Menghancurkan liontin giok milik keluarga mereka."
Shen Yu berpikir sejenak.
"Itu hanya masalah kecil, aku akan menggantinya?"
Pelayan itu hampir menangis.
"Tuan mudaa... bagaimana tuan mau menggantinya itu barang berharga milik keluarga zhao."
Shen Yu tertawa puas.
"Barang berharga?, itu tidak lebih dari sebuah barang rongsokan."
Pelayan itu sangat khawatir dan hampir pingsan karena tak lama kemudian tuan muda Zhao datang bersama ayahnya dan para belasan pengawal keluarga Zhao menghadang jalan.
"Tangkap bajingan itu!"
Ujar Zhao Yang tuan besar keluarga Zhao, ayah dari Zhao Tian.
Orang-orang di sekitar jalan langsung mendekat untuk melihat keributan tersebut.
"Eh ada apa itu?, ayo ayo lihat!!"
"Itu tuan muda Shen"
"Seperti nya dia lagi cari gara - gara dengan tuan muda Zhao"
"Kasihan."
"Tuan muda Shen lagi."
"Pasti kali ini tamat."
Namun Shen Yu sama sekali tidak panik Ia malah menggandeng pundak dua pelayan nya karena sangat lelah dan mengantuk.
Semua orang bingung. Di depan ada belasan pendekar ia malah santai seperti itu.
Zhao Tian tertawa karena merasa sudah menang
"Hahaha Shen Yu sekarang kau tidak bisa lari"
"Maka terimalah nasibmu"
Pemimpin keluarga Zhao datang dengan wajah merah.
"Shen Yu! Cepat berlututlah dan minta maaf kalau tidak hari ini aku akan mematahkan kedua kakimu!"
Shen Yu hanya tersenyum kecil dan menganggap pemimpin keluarga Zhao tidak ada apa apanya
"Lakukan saja dasar pak tua."
Zhao Yang yg sudah sangat marah sekali karena merasa direndahkan langsung menyuruh pengawal nya menyerang Shen Yu.
"Bajingannn...."
"Sombong sekali kau bocah, pengawal serang dia!!!"
Saat semua mengira perkelahian akan terjadi...
Seorang pelayan tua keluarga Shen berlari tergesa-gesa. Berpenampilan seperti master beladiri datang dan langsung menghempaskan pengawal keluarga Zhao dengan 1 jurus.
"Selama ada aku jangan harap kalian bisa menyentuh tuan Shen Yu"
Keluarga Zhao kaget tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pelayan tua itu terlihat seperti master beladiri ratusan tahun.
"Pak tua Hong ada apa?, padahal aku sendiri bisa mengatasinya"
Ucap Shen Yu dalam keadaan setengah sadar karena mengantuk dan efek alkohol tadi malam.
"Maaf Tuan Shen, saya di perintah Nyonya"
"Nyonya Lin memanggil Tuan Shen pulang."
Mendengar nama itu suasana langsung berubah.
Wajah pemimpin keluarga Zhao membeku. Pemimpin keluarga Zhao menggertakkan gigi.
"Ayo... kita pulang."
Zhao Tian langsung menahan.
"Tapi ayah masalahnya belum selesai, aku belum membalas perlakuan Shen Yu"
"Nanti saja kita bahas, ayo kita pulang"
"Pengawal seret dia"
Ucap Zhao Yang tegas kepada Zhao Tian karena masih tidak terima belum membalas perlakuan Shen Yu.
Semua orang tercengang melihat keluarga Zhao yang memilih mundur karena kehebatan pelayan tua Shen Yu Pak Hong yang setara guru besar beladiri, walaupun keluarga Zhao yang harusnya menuntut.
"Ayo - ayo kalian semua bubar"
Orang orang yang mengerumuni mereka pun bubar.
Melihat keluarga Zhao yang pergi, Shen Yu berkata
"Lihat?"
"Aku bilang juga kalian tidak akan berani."
Para pelayan wanitanya pun tersenyum dan memuji tuan mereka.
"Iyaa Tuan muda yang paling hebat hehe"
"Ya sudah ayo kita pulang, Nyonya udah panggil"
Mereka pun akhirnya kembali, Shen Yu berjalan santai sambil menggandeng dua pelayannya.
Memasuki halaman rumah Keluarga Shen. Seorang nenek berambut putih sedang menyiram bunga plum.Tanpa menoleh, wanita tua itu berkata,
"Kau membuat masalah lagi?"
Shen Yu tersenyum kecil.
"Sedikit."
Wanita tua itu menghela napas.
"Ya sudahlah, ayo masuk"
"Nenek sudah menyuruh pelayan dapur menyiapkan makanan untukmu."
Shen Yu langsung tersenyum lebar.
"Nenek memang yang terbaik."
Lin Xue alias nyonya Lin tersenyum tipis sambil menuangkan semangkuk bubur hangat.
"Minumlah sup dulu. Kau terlalu banyak minum semalam."
Shen Yu hanya terkekeh.
"Kalian berdua layani Tuan Shen makan, setelah itu bantu dia membersihkan badan dan ganti pakaian"
Perintah Lin Xue kepada kedua pelayan wanita tersebut.
Mereka pun menjawab.
"Baik Nyonya"
Setelah itu Shen Yu langsung menarik salah satu pelayan wanita itu duduk di pangkuannya sambil menyuapinya dengan senyum malu-malu, dan satu pelayan lagi memijat nya dari belakang.
Hai! Ini karya terbaru ku. Mohon dukungan dan koreksinya ya kalau ada yang kurang pas. Masukan dari kamu bakal sangat membantu. Terima kasih😊😊
Saat Shen Yu masih menikmati makanannya. Ia pun bertanya kepada neneknya
"Nenek."
"Hm?"
"Kapan aku menikah?"
Dua pelayan yang sedang melayani langsung saling berpandangan sambil tersenyum kecil.
Lin Xue meletakkan cangkir tehnya.
"Kau baru ingat? Dasar"
"Aku hanya penasaran seperti apa calon istriku."
Jawab Shen Yu.
Lin Xue tersenyum tipis.
"Dua bulan yang lalu nenek sudah mengirim surat kepada Keluarga Mu. Mereka belum membalas."
Shen Yu berhenti mengunyah.
"Belum membalas?"
"Ya."
Ucap Lin Xue. Suasana ruang makan menjadi sedikit sunyi.
Shen Yu justru tertawa.
"Mungkin calon istriku tidak suka padaku."
Lin Xue mendengus pelan.
"Cucuku setampan ini, siapa yang tidak suka?"
Shen Yu langsung tersenyum bangga.
Lin Xue menoleh ke arah Pak Hong.
"Pak Hong."
"Hamba."
"Panggil Yan Luo."
Mata Pak Hong sedikit membesar.
"Apakah... Yan Luo?"
"Benar."
"Besok pagi, suruh dia menemani Yu'er pergi ke Keluarga Mu."
"Kalau mereka belum sempat membalas surat....biar cucuku yang datang sendiri membawa calon menantu kesini."
Shen Yu mengangkat alis.
Lin Xue tersenyum lembut.
"Kalau semuanya berjalan lancar.....besok kau pulang membawa istrimu."
Shen Yu yang tadinya santai langsung tersedak teh.
"Batuk... batuk..."
"Nenek! Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya!"
Lin Xue tertawa kecil.
"Kalau begitu, besok lihatlah sepuasmu."
Setelah selesai makan, Shen Yu lalu pergi untuk mandi, membersihkan badan dan mengganti pakaian dibantu dengan dua pelayan wanita nya.
Dua pelayan wanita membantu Shen Yu melepaskan pakaian luarnya.
"Tuan muda, angkat tangan."
"Hmm..."
Shen Yu menurut sambil menguap panjang. Air hangat memenuhi kolam pemandian pribadi. Begitu tubuhnya masuk ke dalam air, wajah lelahnya langsung berubah santai.
"Ah... hidup seperti ini memang nikmat."
Salah seorang pelayan mulai memijat pundaknya. Sementara yang lain menuangkan air hangat perlahan ke bahunya.
"Tuan muda."
"Hm?"
"Bagaimana rasanya hehe?"
Shen Yu menutup mata. Lalu memeluk pinggang pelayan nya dengan erat hingga mereka sedikit berhimpitan.
"Enak sekali....kalian berdua memang yang terbaik"
"Tuan muda bisa aja hehe"
Kedua pelayan itu pun tersipu malu, tersenyum dan saling berpandangan. Suasana kembali tenang. Air hangat terus mengalir.
Beberapa saat kemudian. Shen Yu keluar dari kolam. Kedua pelayan membantu memakaikan jubah putih bersih. Salah seorang dari mereka tersenyum.
"Tuan muda memang tampan."
Pelayan yang lain ikut mengangguk.
"Kalau Tuan tidak suka membuat masalah, pasti banyak nona muda mengejar Tuan."
Shen Yu tertawa.
"Aku tidak mau nona muda, aku hanya mau kalian saja."
Kedua pelayan itu tertawa malu.
"Tuan muda benar-benar tidak pernah berubah."
Pelayan nya pun tersipu malu, saat digoda oleh Shen Yu, lalu membimbing mereka berdua ke ranjang.
"Ah tuan..."
"Ada apa cantik, kalian mau menolak tuan muda tampan ini?."
Goda Shen Yu.
"Ini pertama kali, hamba mohon tolong lakukan dengan lembut."
Jawab para pelayan. Shen Yu pun membaringkan tubuh mereka berdua perlahan lalu tirai pun tertutup.
Setelah malam yang indah itu selesai, pagi pun tiba. Mereka bertiga bangun.
"Semalam kalian bekerja dengan baik"
Puji Shen Yu kepada kedua pelayannya tersebut. Kedua pelayannya pun malu lalu pergi meninggalkan Shen Yu untuk bertugas seperti biasa
"Ah tuan..jangan bicara seperti itu"
"Ayo kita kembali untuk siap siap"
Shen Yu berjalan santai menuju halaman depan sambil menguap panjang. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Di bawah pohon plum, Lin Xue sedang menikmati secangkir teh hangat.
Di belakangnya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan pakaian hitam sederhana. Wajahnya tenang, tatapannya tajam seperti pedang yang belum dicabut dari sarungnya.
Shen Yu melirik sekilas.
"Siapa dia?"
Lin Xue meletakkan cangkir tehnya.
"Namanya Yan Luo. Ia sudah mengikuti ku sejak usianya masih belasan tahun. Mulai hari ini, ia akan menemanimu."
Shen Yu mengangkat alis.
Yan Luo melangkah maju, lalu berlutut dengan satu lutut di hadapan Shen Yu.
"Hamba, Yan Luo, memberi hormat kepada Tuan Muda."
Shen Yu sedikit terkejut melihat sikapnya.
"Hehe iya sudah sudah ayo cepat bangun?"
Yan Luo menundukkan kepala.
"Sejak Nyonya menyelamatkan nyawa hamba puluhan tahun lalu, hamba telah bersumpah.bSelama Nyonya masih hidup, hamba akan mengabdikan diri kepada keluarga Shen. Dan mulai hari ini hamba akan melindungi Tuan Muda dengan nyawa hamba."
Suasana mendadak menjadi hening.
Shen Yu menatap Yan Luo beberapa saat, lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu mulai sekarang kita jangan terlalu kaku."
Yan Luo tetap menundukkan kepala.
"Bagi hamba, perintah Tuan adalah segalanya."
Lin Xue tersenyum melihat keduanya.
"Yu'er, mulai hari ini Yan Luo akan menemanimu pergi ke Keluarga Mu. Sudah saatnya kau menjemput calon istrimu."
Mendengar itu, Shen Yu langsung menggaruk kepalanya sambil tertawa kecut.
Pagi itu, dua ekor kuda berhenti tepat di depan gerbang megah Keluarga Mu.
Di belakangnya, belasan kereta kuda berjejer rapi membawa puluhan peti kayu berukuran besar. Setiap peti dihiasi kain merah sebagai tanda mahar.
Orang-orang yang melintas segera memperlambat langkah.
"Hei, lihat itu."
"Bukankah itu iring-iringan Keluarga Shen?"
"Kenapa mereka membawa mahar sebanyak itu?"
"Tentu saja untuk melamar Nona Mu"
Tak lama kemudian, jalan di depan kediaman Keluarga Mu dipenuhi warga yang ingin menyaksikan apa yang terjadi.
Shen Yu turun dari kudanya sambil mengibaskan kipas lipat di tangannya.
Ia menguap panjang.
"Haaah... jauh juga perjalanan ini."
Yan Luo berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun perubahan. Shen Yu menatap gerbang besar itu lalu tersenyum.
"Pak Tua Yan."
Perintah Shen Yu yang langsung dipahami Yan Luo
Yan Luo mengangguk pelan, lalu melangkah satu langkah ke depan. Dengan suara yang dipenuhi tenaga dalam, ia berseru.
"Keluarga Shen datang menjemput Nona Mu Xueyi sesuai perjanjian pertunangan!"
Suara itu menggema ke seluruh kompleks keluarga Mu. Bahkan dedaunan di sekitar gerbang ikut bergetar.
Tak lama kemudian...
Gerbang perlahan terbuka. Belasan pengawal keluar lebih dahulu. Di belakang mereka berjalan seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua. Dialah Kepala Keluarga Mu, Mu Zheng.
Di sisi kirinya berdiri seorang gadis bergaun putih dengan wajah cantik bak lukisan. Tatapannya yang jernih langsung berubah dingin ketika melihat Shen Yu.
"Jadi dia Shen Yu..."
gumamnya pelan.
Mu Xueyi sudah sering mendengar nama itu. Seorang tuan muda yang hanya tahu berjudi, mabuk, dan menghabiskan malam di rumah hiburan.
Pria seperti itu...
Tidak pantas menjadi suaminya.
Shen Yu justru melambaikan tangan dengan santai.
"Nona Mu, akhirnya kita bertemu juga."
Mu Xueyi mendengus pelan.
"Aku tidak pernah mengakui pertunangan itu."
Shen Yu membuka kipasnya.
"Tidak apa-apa. Nanti setelah menikah, pelan-pelan juga terbiasa."
"Kau!"
Wajah Mu Xueyi langsung memerah karena marah.
Sementara warga yang menonton mulai berbisik-bisik.
"Dasar Shen Yu."
"Masih sempat menggoda."
"Kali ini dia benar-benar mencari mati."
Mu Zheng melangkah maju dan berkata.
"Tuan Muda Shen. Kami memang menerima surat dari Nyonya Lin, Namun putriku tidak setuju. Karena itu, silakan kembali."
Shen Yu tersenyum tipis.
"Lalu mahar ini bagaimana?"
"Kami tidak membutuhkannya."
"Oh..."
Shen Yu mengangguk pelan.
"Kalau begitu sayang sekali."
Ia menoleh ke arah para kusir.
"Buka semuanya."
Satu per satu peti kayu dibuka. Kilauan emas langsung memantulkan cahaya matahari.
Peti berikutnya berisi sutra terbaik dari wilayah timur.
Peti lainnya dipenuhi tanaman obat berusia ratusan tahun.
Ada pula batu roh, mutiara laut, hingga pedang berkualitas tinggi. Kerumunan langsung gempar.
"Astaga..."
"Sebanyak ini?"
"Hanya maharnya saja sudah bisa membeli sebuah keluarga kecil."
Bahkan beberapa tetua keluarga Mu tampak terkejut.
Namun Mu Xueyi tetap menggeleng.
"Aku tidak akan menikah hanya karena harta."
Shen Yu tersenyum.
"Tidak masalah, karena kau tidak berhak membuat keputusan disini. Aku tetap akan membawa mu pergi ke kediaman keluarga Shen."
Mu Zheng akhirnya kehilangan kesabaran.
"Pengawal!, Usir mereka!"
Empat pengawal terbaik keluarga Mu melesat maju. Aura mereka langsung memenuhi halaman depan.
Warga yang menonton buru-buru mundur beberapa langkah.
Namun...
Yan Luo hanya melangkah pelan ke depan Shen Yu.
"Tuan Muda."
"Silakan mundur."
Shen Yu mengangguk santai.
"Jangan terlalu keras."
Yan Luo memberi hormat singkat.
"Hamba mengerti."
Empat pengawal itu menyerang bersamaan. Pedang mereka berkilat ke segala arah. Namun tepat sebelum serangan mengenai tubuh Yan Luo...
Sosoknya menghilang.
"Hilang?"
Salah satu pengawal membelalakkan mata.
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Empat tubuh terpental hampir bersamaan hingga menghantam tanah beberapa meter di belakang.
Pedang mereka bahkan terlepas dari genggaman.
Seluruh halaman mendadak sunyi. Tak seorang pun melihat kapan Yan Luo bergerak. Ia sudah kembali berdiri di tempat semula.
Seolah tidak pernah melakukan apa pun.
Mu Zheng menyipitkan mata.
Ekspresi para petinggi keluarga Mu langsung berubah.
Mu Xueyi yang semula memandang rendah Shen Yu kini mulai menatap Yan Luo dengan penuh kewaspadaan.
Sementara Shen Yu hanya mengibaskan kipasnya sambil tersenyum.
"Aku sudah bilang...Lebih baik kita bicara baik-baik. Kalau tidak....nanti malah tambah merepotkan."
Di sisi lain halaman, seorang tetua keluarga Mu menggenggam sebuah kotak kayu tua yang selama puluhan tahun tidak pernah disentuh.
Ia menatap Mu Zheng dan berkata dengan suara berat,
"Patriark...Kalau kita terus mundur....harga diri keluarga Mu akan hancur."
Mu Zheng terdiam beberapa saat. Lalu perlahan mengangguk.
"Bawa pusaka keluarga."
"Baik!"
Seorang pelayan berlari menuju aula leluhur.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah pedang kuno yang tersimpan di dalam kotak kayu hitam.
Begitu pedang itu dicabut...
Dengungan tajam memenuhi seluruh halaman.
Aura pedang yang kuat membuat para warga di luar gerbang tanpa sadar mundur.
"Itu Pedang Leluhur keluarga Mu!"
"Konon hanya digunakan saat keluarga Mu berada di ambang kehancuran."
Mu Zheng menggenggam pedang itu dengan kedua tangan.
Aura tubuhnya meningkat drastis.
Ia menatap Yan Luo dengan sorot mata tajam.
"Orang luar."
"Hari ini aku akan mempertahankan kehormatan keluarga Mu!"
Begitu kalimat itu selesai...
Mu Zheng melesat.
Pedangnya membelah udara, meninggalkan jejak cahaya yang memanjang.
Yan Luo tetap berdiri tanpa bergerak.
Baru saat pedang itu tinggal beberapa inci dari wajahnya...
Ia mengangkat dua jarinya.
Clang!
Pedang leluhur berhenti.
Mu Zheng membelalakkan mata.
"Dihentikan... dengan dua jari?"
Ia meraung marah lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Namun pedang itu tetap tidak bergerak sedikit pun.
Yan Luo menghela napas pelan.
"Masih terlalu lemah."
Jari-jarinya sedikit menekan.
Krak...
Retakan mulai menjalar di sepanjang bilah pedang.
"Tidak...!"
Mu Zheng mencoba menarik kembali pedangnya.
Terlambat.
Brak!
Pedang leluhur keluarga Mu hancur berkeping-keping.
Seluruh keluarga Mu membeku.
"Itu... pusaka keluarga..."
"Tidak mungkin..."
Belasan pengawal langsung menyerbu Yan Luo secara bersamaan.
Namun...
Yan Luo akhirnya mencabut pedangnya.
Sreeeng...
Satu tebasan.
Angin pedang menyapu seluruh halaman.
Boom!
Belasan pengawal terpental ke segala arah.
Sebagian menghantam dinding.
Sebagian lagi berguling di tanah sambil memuntahkan darah.
Dalam beberapa tarikan napas...
Tidak ada seorang pun yang masih mampu berdiri. Yan Luo perlahan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.
Tatapannya tetap tenang.
"Ada lagi?"
Tidak ada yang menjawab.
Mu Zheng mengepalkan tangannya hingga berdarah.
Namun ia tahu...
Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Kalaupun seluruh keluarga Mu maju bersama...
Hasilnya tetap sama.
Ia perlahan menundukkan kepala.
"Keluarga Mu..."
"...mengaku kalah."
Para tetua keluarga Mu saling berpandangan.
Tak lama kemudian, mereka ikut menundukkan kepala.
Satu per satu para pengawal yang masih sanggup berdiri juga meletakkan senjata mereka.
Mu Xueyi menggigit bibirnya.
Ia tidak pernah menyangka...
Keluarga yang selama ini ia banggakan dikalahkan hanya oleh satu orang pengikut keluarga Shen. Shen Yu menutup kipasnya sambil tersenyum puas.
"Nah, dari tadi begini kan enak."
Ia menatap Mu Zheng.
"Patriark Mu. Aku datang membawa mahar, bukan membawa permusuhan. Lalu sekarang...Aku akan membawa tunanganku pulang."
Tak seorang pun berani menghalangi.
Seluruh halaman dipenuhi keheningan.
Keluarga Mu...
Telah kalah sepenuhnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!