Hujan turun dengan sangat deras membasahi jalanan aspal ibukota Jakarta malam ini.
Seorang pemuda berusia dua puluh tahun bernama Deni berteduh di bawah jembatan layang sambil mengusap wajahnya yang basah.
Deni menatap jaket oranye terang bertuliskan Shopee Food yang baru saja dia pakai pagi ini.
Di dalam hatinya dia benar-benar masih tidak percaya dengan nasib tragis yang sedang menimpanya saat ini.
"Deni, ilmu bela dirimu sudah sangat hebat dan hampir mencapai puncak, tapi hatimu masih terlalu kosong dan naif," gumam Deni menirukan suara gurunya yang menggema di kepalanya.
"Kamu harus turun gunung sekarang juga dan jadilah kurir pengantar makanan jika kamu ingin menembus batas," lanjut Deni masih menirukan suara tua gurunya itu.
Deni menghela nafas panjang dan menendang kerikil di dekat kakinya karena kesal.
"Guru tua bangka itu benar-benar tidak masuk akal, kenapa dari sekian banyak pekerjaan di dunia ini aku harus jadi kurir?" keluh Deni sendirian.
Padahal sejak kecil dia sudah berlatih keras di Gunung Kawi hingga muntah darah berkali-kali.
Tiba-tiba sebuah suara aneh terdengar berdenging di dalam kepala Deni.
[Sistem Raja Kurir Mengingatkan: Tuan harus segera mendapatkan ulasan bintang lima pertama]
[Syarat Membuka Kunci Kekuatan Tingkat Satu: Kumpulkan 1000 ulasan bintang lima dari pelanggan yang puas]
"Diam kau sistem cerewet, aku tahu aturannya jadi jangan terus-terusan mengangguku!" bentak Deni pada udara kosong.
Sistem aneh ini tiba-tiba masuk ke dalam jiwanya tepat saat gurunya menendangnya jatuh dari tebing gunung kemarin.
"Ting!"
Suara notifikasi dari ponsel murah milik Deni tiba-tiba berbunyi memecah lamunannya.
Deni buru-buru mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan melihat layar yang retak itu.
"Wah, akhirnya ada pesanan masuk juga setelah aku menunggu tiga jam di tengah hujan begini," ucap Deni dengan mata berbinar.
Dia membaca detail pesanan itu dengan sangat teliti agar tidak melakukan kesalahan di hari pertamanya.
"Satu porsi Bubur Ayam Spesial dan Teh Hangat," baca Deni.
"Alamat pengiriman ke Apartemen Grand Nirvana, lantai empat puluh, kamar penthouse nomor satu."
Deni langsung memakai helm bututnya dan menyalakan mesin motor matic yang dia pinjam dari kenalan gurunya.
"Baiklah, demi ulasan bintang lima pertamaku, aku akan mengantar bubur ini dengan kecepatan kilat!" teriak Deni penuh semangat.
Motor matic itu melaju menembus hujan deras di malam hari dengan sangat lincah.
Meskipun motor itu jelek, tapi insting bela diri Deni membuatnya bisa bermanuver menghindari kemacetan Jakarta dengan sangat mudah.
Setengah jam kemudian, Deni sudah memarkir motornya di lobi apartemen mewah yang sangat megah.
Dia berjalan masuk dengan pakaian yang sedikit basah sambil membawa kantong plastik berisi makanan.
"Hei kurir, tunggu di sana saja, jangan mengotori lantai lobi," tegur seorang satpam dengan wajah meremehkan.
Deni berhenti melangkah dan menatap satpam itu dengan tenang.
"Maaf Pak, tapi pelanggan meminta makanannya diantar langsung sampai ke depan pintu kamarnya," jawab Deni sopan.
"Lagipula sepatuku sudah aku lap di keset luar jadi tidak akan mengotori lantai granit kalian."
Satpam itu mendecakkan lidah dan melambaikan tangannya dengan malas.
"Ya sudah sana cepat naik ke lantai empat puluh pakai lift barang di belakang, jangan pakai lift utama," usir satpam itu.
Deni tidak marah karena gurunya selalu mengajarkan kesabaran, jadi dia hanya mengangguk dan berjalan ke arah lift belakang.
"Orang-orang kota memang suka menilai orang lain hanya dari penampilannya saja," batin Deni sambil menekan tombol lift.
Lift perlahan naik menuju lantai paling atas gedung apartemen elit tersebut.
Ketika pintu lift terbuka, Deni disambut oleh lorong yang sangat sepi dan tertutup karpet merah tebal.
Hanya ada dua pintu besar di ujung lorong itu yang menandakan kamar penthouse yang eksklusif.
Deni berjalan mendekati pintu nomor satu sesuai dengan alamat yang ada di aplikasinya.
Saat jaraknya tinggal lima meter dari pintu, langkah kaki Deni tiba-tiba berhenti.
Hidungnya yang sudah dilatih dengan teknik pernapasan naga tiba-tiba mencium aroma yang sangat aneh.
"Bau apa ini? Kenapa ada bau almond pahit yang sangat menyengat bercampur dengan bau gosong?" gumam Deni curiga.
Deni mempertajam indera pendengarannya dan menempelkan telinganya di dekat celah bawah pintu baja tersebut.
"Uhuk... uhuk... tolong..."
Deni melebarkan matanya saat mendengar suara rintihan seorang wanita yang sangat lemah dari dalam.
"Gawat, bau almond pahit ini adalah karakteristik dari gas hidrogen sianida yang sangat beracun!" batin Deni terkejut.
Seseorang pasti sengaja memasukkan gas beracun ke dalam saluran ventilasi kamar ini untuk membunuh penghuninya.
"Permisi! Shopee Food! Apakah ada orang di dalam?" teriak Deni sambil menggedor pintu baja itu dengan keras.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam selain suara batuk yang semakin melemah.
Deni melihat ke arah gagang pintu dan mencoba memutarnya, tapi pintunya dikunci menggunakan sistem digital yang rumit.
"Sistem, apakah ada aturan yang melarang kurir merusak pintu pelanggan?" tanya Deni cepat.
[Sistem Menjawab: Tidak ada aturan khusus, tapi jika pelanggan marah dan memberi ulasan buruk, tuan akan gagal]
"Persetan dengan ulasan buruk, ada nyawa manusia yang sedang dalam bahaya di dalam sana!" tegas Deni.
Deni mundur dua langkah ke belakang dan mengambil nafas dalam-dalam.
Udara di sekitarnya seolah bergetar saat Deni mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya.
"Teknik Kaki Naga Penghancur Gunung!" teriak Deni di dalam hatinya.
Deni melompat dan menendang tepat di bagian kunci pintu baja tersebut dengan kekuatan penuh.
"Brakkkk!"
Suara ledakan keras terdengar saat pintu baja tebal yang diklaim anti peluru itu terlepas dari engselnya dan terpelanting ke dalam ruangan.
Asap putih pekat yang berbau sangat menyengat langsung mengepul keluar dari dalam ruangan menyapu wajah Deni.
Deni segera menahan nafasnya dan menutup pori-pori kulitnya menggunakan teknik perlindungan Qi agar racun tidak masuk ke tubuhnya.
Dia menerobos masuk ke dalam ruang tamu penthouse yang luar biasa mewah itu.
Di atas karpet berbulu tebal, Deni melihat dua orang wanita sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Wanita pertama memakai jas kerja berwarna hitam yang elegan, wajahnya sangat cantik bak dewi namun kini terlihat pucat pasi.
Wanita kedua memakai pakaian rapi dan kacamata yang sepertinya adalah asisten wanita pertama.
"Mereka sudah kehabisan oksigen, aku harus segera membawa mereka keluar dari ruangan beracun ini," gumam Deni.
Deni tidak berpikir panjang lagi, dia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh kedua wanita itu sekaligus.
Tangan kirinya menggendong pinggang wanita berjas, sedangkan tangan kanannya memanggul asisten berkacamata.
Meskipun membawa dua orang dewasa, Deni berlari keluar kamar dengan kecepatan yang setara dengan angin.
Dia meletakkan kedua wanita itu di lantai lorong dekat lift yang udaranya masih bersih.
"Gawat, detak jantung mereka sangat lemah dan racunnya sudah mulai masuk ke aliran darah," analisa Deni setelah menyentuh urat nadi mereka.
Deni segera duduk bersila di belakang wanita berjas itu dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang wanita.
"Maaf nona, aku terpaksa menyentuh punggungmu untuk mengalirkan tenaga dalam penyembuh," ucap Deni pelan.
Deni mengalirkan Qi murni dari tubuhnya untuk mendorong gas beracun keluar dari paru-paru wanita itu.
Beberapa detik kemudian, wanita cantik berjas itu tiba-tiba tersedak dan memuntahkan cairan hitam.
"Uhuk... uhuk... haah... haah..."
Wanita itu membuka matanya dengan susah payah dan meraup udara segar sebanyak-banyaknya.
Deni melakukan hal yang sama pada asisten berkacamata hingga dia juga siuman dan terbatuk keras.
"K-kita masih hidup? Apa yang terjadi Siska?" tanya wanita cantik itu dengan suara serak sambil memegangi dadanya.
"S-saya tidak tahu Nona Clara, saya ingat kita sedang rapat lalu tiba-tiba kepala saya pusing dan gelap," jawab Siska sang asisten sambil menangis ketakutan.
Clara, sang CEO cantik yang terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis itu menoleh ke belakang.
Dia sangat terkejut melihat seorang pemuda berjaket oranye basah kuyup sedang berdiri menatap mereka.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di lantai pribadiku?" tanya Clara dengan nada curiga dan waspada.
Dia langsung berusaha berdiri untuk melindungi asistennya dari pria asing itu.
Deni tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Halo Nona, nama saya Deni dan saya adalah kurir Shopee Food yang mengantar pesanan bubur ayam anda," jawab Deni dengan nada santai.
"Tadi saya mencium bau gas beracun dari kamar anda, jadi saya terpaksa mendobrak pintu dan menarik kalian keluar."
Clara melebarkan matanya yang indah dan melihat ke arah kamarnya yang pintunya sudah hancur lebur.
Asap putih masih perlahan keluar dari dalam sana.
"Kamu... kamu mendobrak pintu baja seberat seratus kilogram itu sendirian?" tanya Clara tidak percaya.
"Ya, pintunya lumayan rapuh jadi mudah didobrak," jawab Deni beralasan asal-asalan.
Siska sang asisten memandang Deni dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
"Nona Clara, kurir ini baru saja menyelamatkan nyawa kita berdua dari pembunuhan berencana," ucap Siska bergetar.
Clara terdiam menatap mata Deni yang jernih dan tidak memiliki niat buruk sama sekali.
Sebagai seorang pebisnis yang sering bertemu banyak orang licik, Clara bisa melihat ketulusan di mata kurir rendahan ini.
"Terima kasih banyak Deni, kamu telah menyelamatkan nyawaku hari ini," ucap Clara dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku akan memberimu imbalan berapa pun yang kamu minta, sebutkan saja nominalnya."
Mendengar hal itu, mata Deni langsung berbinar penuh harapan.
Dia buru-buru menyodorkan kantong plastik berisi bubur ayam yang untungnya tidak tumpah sama sekali.
"Ini pesanan bubur ayam anda Nona, masih hangat kok," ucap Deni bersemangat.
"Untuk imbalannya, saya tidak butuh uang, saya hanya mohon tolong buka aplikasinya dan beri saya ulasan bintang lima beserta komentar yang bagus ya!"
Clara dan Siska seketika melongo mendengar permintaan Deni.
Mereka baru saja selamat dari percobaan pembunuhan yang tragis, tapi pria di depan mereka ini malah memikirkan ulasan aplikasi.
"Kamu... kamu hanya meminta ulasan bintang lima setelah menyelamatkan nyawa seorang CEO Grup Nirvana?" tanya Clara memastikan karena merasa sangat bingung.
"Tentu saja! Bagi saya, ulasan bintang lima dari anda jauh lebih berharga dari uang satu miliar sekalipun!" jawab Deni mantap.
Clara menatap Deni seolah sedang menatap makhluk asing dari planet lain.
"Baiklah, aku akan memberimu ulasan bintang lima sekarang juga," ucap Clara sambil mengambil ponselnya yang masih ada di sakunya.
[Ting! Ulasan Bintang Lima Diterima!]
[Sistem Raja Kurir: Selamat! Tuan mendapatkan 1 dari 1000 ulasan. Teruslah berjuang!]
Deni tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.
"Terima kasih banyak Nona Clara! Kalau begitu saya permisi dulu karena masih harus mencari orderan lain," pamit Deni sambil membalikkan badannya.
"Tunggu dulu!" panggil Clara dengan cepat menghentikan langkah Deni.
Deni menoleh ke belakang dengan bingung.
"Ada apa lagi Nona? Apakah buburnya kurang kecap?" tanya Deni polos.
Clara menatap mata Deni dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan khas seorang CEO.
"Mulai besok pagi kamu tidak perlu mengambil orderan dari orang lain lagi," ucap Clara dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah.
"Hah? Kenapa begitu? Nanti saya dipecat oleh aplikasi kalau tidak bekerja," protes Deni.
Clara menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Karena mulai besok, aku mempekerjakanmu sebagai kurir pribadiku dengan gaji seratus juta per bulan."
Deni menelan ludahnya mendengar nominal gaji yang disebutkan oleh CEO cantik di depannya ini.
Cerita perjalanan kurir Deni di ibukota baru saja dimulai dengan cara yang sangat tidak terduga.
Deni terdiam mematung mendengar ucapan Clara barusan.
Seratus juta rupiah per bulan adalah jumlah uang yang tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.
Di Gunung Kawi, gurunya hanya memberinya uang saku lima puluh ribu per minggu untuk jajan di warung bawah gunung.
"Maaf Nona Clara, uang seratus juta itu sangat banyak," ucap Deni sambil mengusap dagunya perlahan.
"Tapi saya tidak bisa menerima tawaran itu jika harus berhenti menerima orderan dari aplikasi."
Clara mengerutkan keningnya karena merasa sangat heran dengan jalan pikiran pemuda berjaket oranye di depannya ini.
"Kamu bodoh atau bagaimana Deni?" tanya Clara dengan nada sedikit meninggi.
"Gaji kurir itu paling banyak hanya beberapa juta sebulan, dan aku menawarkan seratus juta tanpa kamu harus capek mengantar makanan."
Siska yang sudah mulai bisa bernafas normal juga ikut menatap Deni dengan pandangan tidak percaya.
"Benar Deni, tawaran Nona Clara ini tidak datang dua kali lho," bujuk Siska dari lantai karpet.
"Kamu bisa hidup enak dan bisa membeli motor baru yang lebih bagus dari motor bututmu di bawah sana."
Deni menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak bisa Nona, ini masalah prinsip hidup dan jalan bela diri yang harus saya tempuh," tolak Deni dengan tegas.
"Saya harus mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari berbagai pelanggan yang berbeda, bukan hanya dari satu orang saja."
Deni melihat Clara menghela nafas panjang, wanita itu sepertinya tidak mengerti apa hubungannya bela diri dengan ulasan aplikasi makanan.
Tapi sebagai seorang pebisnis handal, Clara terlihat sedang memikirkan cara bernegosiasi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Bagaimana kalau begini saja," tawar Clara mengambil langkah kompromi.
"Kamu tetap menjadi kurir pribadiku dan melindungiku, tapi di waktu luang saat aku tidak butuh, kamu bebas mengambil orderan dari orang lain."
Deni tampak berpikir sejenak mendengar tawaran baru dari CEO cantik itu.
"Jadi saya tetap dibayar seratus juta dan bebas cari ulasan saat Nona sedang sibuk bekerja?" tanya Deni memastikan.
"Ya, asalkan kamu selalu siap sedia dalam waktu sepuluh menit jika aku menelponmu," jawab Clara dengan nada serius.
"Nona Clara, bukankah ini terlalu berlebihan untuk seorang kurir?" bisik Siska yang merasa heran bosnya sangat gigih.
Clara menoleh ke arah asistennya dan menggelengkan kepala pelan.
"Siska, pria ini baru saja mendobrak pintu baja seberat seratus kilogram hanya dengan satu tendangan," balas Clara mengingatkan.
"Orang yang mencoba membunuh kita malam ini pasti akan mencoba lagi, kita butuh pengawal sekuat dia."
Siska seketika terdiam dan hanya bisa mengangguk pelan membenarkan ucapan bosnya.
"Ting nong!"
Suara bel lift khusus tiba-tiba berbunyi memecah percakapan mereka bertiga.
Pintu lift terbuka dan menampilkan lima orang berseragam polisi lengkap dengan senjata api di tangan mereka.
"Angkat tangan dan jangan bergerak!" teriak polisi yang berada di barisan paling depan.
Mereka semua langsung menodongkan senjata ke arah Deni yang masih berdiri di dekat Clara dan Siska.
Deni menatap kelima polisi itu dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun di wajahnya.
"Bapak-bapak polisi santai saja, saya ini kurir yang menyelamatkan mereka, bukan penjahatnya," ucap Deni dengan nada santai.
"Diam di tempat dan jangan banyak alasan!" bentak polisi bertubuh besar sambil berjalan mendekati Deni.
Polisi itu langsung mengeluarkan borgol besi dari pinggangnya.
"Nona Clara, kami mendapat laporan dari sistem keamanan gedung tentang perusakan pintu kamar Anda," lapor polisi besar itu kepada Clara.
"Kami akan mengamankan pemuda mencurigakan ini dulu untuk dimintai keterangan."
Clara langsung berdiri dan merentangkan tangannya untuk menghalangi polisi tersebut.
"Tunggu dulu Komandan, kalian salah paham," potong Clara dengan nada memerintah khas seorang pemimpin perusahaan.
"Pemuda ini memang kurir makanan, dia yang menyelamatkan saya dan asisten saya dari gas beracun di dalam kamar."
Komandan polisi itu tampak ragu dan menatap Deni dari atas sampai bawah.
"Tapi Nona Clara, kami melihat dari rekaman CCTV kalau pemuda ini mendobrak pintu baja Anda dengan sangat brutal," bantah komandan itu.
"Pintu baja tingkat empat itu tidak mungkin bisa didobrak oleh manusia biasa, kami curiga dia menggunakan peledak yang bisa membahayakan penghuni gedung."
Deni menghela nafas kasar mendengar tuduhan dari polisi bertubuh besar itu.
"Pak, saya tidak pakai peledak, saya cuma menendangnya satu kali saja," jelas Deni membela diri.
"Hahaha, kamu pikir kami bodoh?" tawa polisi lain yang berjaga di belakang.
"Tidak ada manusia yang bisa menendang pintu itu sampai jebol."
Komandan polisi itu kembali maju dan mencoba meraih tangan Deni untuk diborgol paksa.
"Ikut kami ke kantor sekarang juga, kami akan menggeledah tas dan jaketmu," perintah komandan itu kasar.
Tangan besar polisi itu mencengkeram lengan kanan Deni dengan sangat kuat.
Deni merasa sangat tidak nyaman diperlakukan seperti penjahat padahal dia baru saja menolong orang.
"Saya bilang saya bukan penjahatnya Pak," ucap Deni dengan suara sedikit dingin.
Deni hanya memutar bahunya sedikit dan menggeser posisi kakinya beberapa sentimeter menggunakan teknik pergerakan daun jatuh.
"Srak!"
Tiba-tiba komandan polisi bertubuh besar itu kehilangan keseimbangan seperti ditarik oleh tenaga tak kasat mata.
"Gubrak!"
Komandan itu jatuh tertelungkup ke lantai berkarpet dengan posisi yang sangat memalukan.
Empat polisi lainnya seketika panik dan langsung mengarahkan moncong pistol mereka tepat ke kepala Deni.
"Berani melawan petugas ya! Cepat tiarap di lantai sekarang juga!" teriak mereka bersahutan.
Clara dan Siska berteriak kaget melihat insiden yang terjadi begitu cepat di depan mata mereka.
"Hentikan semuanya!" teriak Clara dengan suara paling keras yang bisa dia keluarkan.
Suara CEO wanita itu berhasil menghentikan pergerakan para polisi yang sedang emosi.
Komandan yang jatuh tadi segera bangun sambil mengusap hidungnya yang memerah akibat terbentur lantai.
"Nona Clara, tolong jangan menghalangi tugas kami, pemuda ini sangat berbahaya," ucap komandan itu sambil menahan marah.
Clara melangkah maju dan berdiri tepat di antara moncong senjata polisi dan tubuh Deni.
"Saya adalah korban di sini, dan saya saksi mata utamanya," tegas Clara menatap tajam para polisi itu satu per satu.
"Deni tidak membawa peledak apapun, dia mendobrak pintu itu dengan kakinya sendiri dan menyelamatkan nyawa saya."
Polisi-polisi itu saling pandang dengan tatapan bingung dan tidak percaya satu sama lain.
"Kalau kalian ingin menangkap seseorang, tangkap orang yang memasukkan gas beracun itu melalui saluran ventilasi AC kamarku," lanjut Clara memberikan petunjuk.
Komandan polisi itu akhirnya menyuruh anak buahnya menurunkan senjata mereka perlahan-lahan.
"Baiklah Nona Clara, kami akan memeriksa saluran ventilasi seperti yang Anda katakan," ucap komandan itu mengalah.
"Tapi pemuda ini tetap harus ikut ke kantor polisi sebagai saksi kejadian malam ini."
Deni menganggukkan kepalanya karena gurunya pernah berpesan bahwa menjadi saksi adalah kewajiban warga negara yang baik.
"Tidak masalah, saya akan ikut untuk memberi keterangan," jawab Deni dengan santai.
"Tapi tolong cepat sedikit karena malam ini saya belum tidur sama sekali."
Deni melihat Clara menatapnya dengan pandangan lega bercampur kagum.
"Siska, kamu ikut ke rumah sakit dulu pakai ambulans untuk mengecek kondisi paru-parumu," perintah Clara kepada asistennya.
"Baik Nona, Nona juga harus periksa ke dokter setelah dari kantor polisi," balas Siska yang sudah berdiri dibantu oleh staf medis yang baru saja tiba.
Satu jam kemudian, Deni dan Clara sudah berada di dalam ruang pemeriksaan kantor polisi Jakarta Pusat.
Deni menceritakan semuanya dengan jujur mulai dari dia menerima orderan bubur ayam sampai dia mencium bau almond pahit.
Polisi yang mengetik laporan tampak geleng-geleng kepala saat Deni menceritakan proses dia mendobrak pintu.
"Jadi kamu bilang kamu pakai tenaga dalam untuk mendobrak pintu?" tanya polisi pemeriksa itu dengan nada menyindir.
"Benar Pak, di gunung saya biasa menendang batu besar sampai hancur, jadi pintu baja itu tidak ada apa-apanya," jawab Deni polos.
Deni melihat Clara memijat pelipisnya mendengar jawaban jujurnya itu.
"Pak Polisi, tolong abaikan saja bagian itu, intinya dia yang menyelamatkan saya," potong Clara agar urusan cepat selesai.
"Fokus saja pada siapa yang mencoba membunuh saya, apakah tim kalian sudah menemukan bukti di apartemen?"
Polisi itu membalik dokumen di mejanya dan menatap Clara dengan serius.
"Tim forensik kami menemukan tabung gas hidrogen sianida ukuran kecil di ruang mesin AC apartemen Anda Nona," jelas polisi itu.
"Pelakunya pasti orang yang tahu persis denah apartemen Anda dan punya akses masuk ke ruang mesin yang terkunci itu."
Deni melihat Clara mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
"Pasti ini ulah orang dalam yang ingin mengincar posisiku," gumam Clara pelan dengan rahang mengeras.
"Terima kasih atas informasinya Pak, saya harap polisi bisa segera menangkap pelakunya," ucap Clara sambil berdiri dari kursinya.
Deni juga ikut berdiri dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena kelamaan duduk di kursi kayu.
Mereka berdua berjalan keluar dari kantor polisi saat langit Jakarta sudah mulai memunculkan sinar matahari pagi.
Udara pagi terasa dingin tapi cukup menyegarkan setelah malam yang sangat panjang dan melelahkan.
"Deni, tentang tawaran kerjaku tadi, aku anggap kamu sudah setuju ya," ucap Clara memecah keheningan di tempat parkir.
Deni menoleh dan menatap wajah cantik Clara yang terlihat sangat kelelahan namun tetap menawan di bawah sinar matahari pagi.
"Baiklah Nona Clara, saya setuju menjadi kurir pribadi merangkap pengawal anda," jawab Deni akhirnya mengalah.
"Sistem memperbolehkan saya punya bos selama saya masih bisa mengumpulkan ulasan dari orang lain di waktu luang."
Clara tersenyum kecil mendengar kata sistem yang dia anggap hanya bagian dari cara bicara Deni yang berkhayal.
"Bagus, nanti siang datanglah ke kantor pusat Grup Nirvana, aku akan menyiapkan kontrak kerja dan fasilitas untukmu," perintah Clara.
"Tunggu sebentar Nona, fasilitas apa maksudnya?" tanya Deni penasaran.
"Tentu saja motor baru, apartemen, dan ponsel baru yang layarnya tidak retak seperti milikmu itu," jawab Clara santai.
Deni membelalakkan matanya mendengar semua fasilitas mewah yang dijanjikan oleh bos barunya itu.
Dia merasa keputusannya turun gunung ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan semalam.
Tiba-tiba suara sistem di kepala Deni kembali berbunyi.
[Sistem Raja Kurir Mengingatkan: Jangan terlena dengan kemewahan duniawi]
[Tugas Harian Baru: Selesaikan tiga pesanan pengiriman hari ini dan dapatkan ulasan bintang lima]
[Hukuman Jika Gagal: Tuan akan diare selama tiga hari berturut-turut tanpa bisa disembuhkan dengan obat]
Deni seketika mematung dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Sistem sialan, hukuman macam apa itu, kau ingin membunuhku secara perlahan ya?" rutuk Deni di dalam hati.
"Ada apa Deni? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?" tanya Clara yang memperhatikan perubahan ekspresi Deni.
"Tidak apa-apa Nona, saya harus segera mencari orderan sekarang juga sebelum perut saya bermasalah," jawab Deni buru-buru.
Deni langsung berlari menuju motor matic bututnya yang diparkir di dekat pos satpam.
Dia menyalakan mesin motornya dan melambaikan tangan kepada Clara.
"Sampai jumpa nanti siang di kantor Nona Clara!" teriak Deni sambil menggas motornya meninggalkan area kantor polisi.
Deni memacu motornya menembus jalanan pagi ibukota untuk segera mencari mangsa pelanggan pertamanya hari ini.
Dari kaca spionnya yang retak, dia melihat Clara masuk ke dalam mobil jemputan dari perusahaannya dengan aman.
Hari pertama Deni di ibukota berjalan dengan sangat gila, tapi dia tahu petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Matahari pagi mulai terasa menyengat kulit saat Deni memacu motor matic bututnya membelah jalanan ibukota.
Jalanan mulai macet oleh kendaraan orang-orang yang berangkat kerja tapi Deni tidak peduli dan terus selap selip.
"Aduh gawat ini, aku harus cari tiga pesanan secepat mungkin," gumam Deni sambil terus melihat ke layar ponselnya yang retak.
"Sistem ini benar-benar tidak punya hati sama sekali, masa hukumannya akan diare tiga hari."
[Sistem Raja Kurir Merespon: Tuan dilarang mengumpat pada sistem jika tidak ingin hukumannya ditambah]
"Iya iya cerewet sekali kau ini, aku cuma bicara sendiri kok," balas Deni kesal pada udara kosong.
Ting!
Suara notifikasi yang sangat merdu akhirnya terdengar dari ponsel Deni.
"Nah ini dia, pesanan pertama hari ini masuk juga akhirnya!" teriak Deni kegirangan.
Deni segera menepi sebentar untuk mengecek alamat pengambilan pesanan tersebut.
"Ayam Geprek Spesial Pedas Mampus tiga porsi, diambil di Restoran Rasa Nusantara cabang Sudirman," baca Deni.
Deni langsung menarik gas motornya dalam-dalam menuju lokasi restoran tersebut.
Bruum!
Motor matic itu melaju kencang dan tiba di depan sebuah restoran berdesain tradisional modern dalam waktu sepuluh menit.
Deni memarkirkan motornya dengan rapi lalu berjalan masuk ke dalam restoran sambil melepas helmnya.
Namun saat baru membuka pintu kaca restoran, Deni langsung disambut oleh suara gebrakan meja yang sangat keras.
Brak!
"Hei pemilik restoran, kau mau meracuni kami ya!" teriak seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga di lengannya.
Deni berhenti di dekat pintu dan melihat ada tiga pria berwajah preman sedang berdiri mengelilingi satu meja.
Di depan mereka berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik menggunakan celemek khas koki.
Wanita cantik itu tampak sangat ketakutan dan hampir menangis menghadapi bentakan tiga preman tersebut.
"Maafkan saya Pak, tapi kebersihan dapur kami selalu dijaga dengan sangat ketat," ucap wanita cantik itu dengan suara bergetar.
"Tidak mungkin ada kecoa yang masuk ke dalam sup ayam pesanan Bapak."
Preman bertato naga itu menendang kursi di dekatnya hingga jatuh ke lantai.
Trang!
"Kau bilang tidak mungkin? Lalu ini benda hitam apa yang mengambang di mangkokku hah!" bentak preman itu lagi.
"Matamu buta ya, ini kecoa sebesar ibu jari dan kau bilang dapurmu bersih!"
Deni melipat tangannya di dada dan mengamati situasi dari jauh.
"Wah wah, baru hari pertama kerja saja aku sudah melihat drama sinetron langsung di depan mata," batin Deni santai.
Wanita cantik yang merupakan pemilik restoran itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya benar-benar minta maaf Pak, saya akan mengganti pesanan Bapak dengan yang baru gratis," tawar wanita itu memelas.
"Saya juga akan mengembalikan uang pembayaran Bapak seratus persen."
Preman kedua yang berambut botak tertawa sinis mendengar tawaran itu.
"Kau pikir gampang begitu saja urusannya Nona manis?" sahut preman botak itu.
"Bos kami ini punya riwayat penyakit jantung lemah, kalau dia jantungan melihat kecoa ini lalu mati bagaimana!"
Preman ketiga yang berwajah kurus ikut menimpali dengan suara cempreng.
"Benar sekali, kau harus bayar biaya ganti rugi pengobatan trauma psikologis bos kami sebesar sepuluh juta rupiah!" ancam preman kurus itu.
"Kalau kau tidak mau bayar, kami akan hancurkan restoran ini dan memviralkan kejorokan tempat ini di internet!"
Wanita cantik itu membelalakkan matanya mendengar angka sepuluh juta.
"Sepuluh juta? Saya tidak punya uang tunai sebanyak itu Pak, tolong beri saya keringanan," mohon wanita itu sampai menitikkan air mata.
Deni menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tiga pria dewasa yang menindas seorang wanita lemah.
Gurunya selalu berpesan agar tidak ikut campur urusan orang kota.
Tapi melihat ketidakadilan di depan matanya membuat jiwa pendekar Deni meronta-ronta.
Apalagi pesanan ayam gepreknya belum dibuat karena pemilik restorannya sedang disibukkan oleh preman-preman ini.
"Permisi numpang lewat, Shopee Food mau ambil pesanan nomor seratus dua belas," ucap Deni dengan suara lantang memecah ketegangan.
Semua mata di dalam restoran itu langsung menoleh ke arah Deni yang memakai jaket oranye terang.
Preman bertato naga memelototi Deni dengan tatapan membunuh.
"Woi kurir gembel, jangan ikut campur urusan orang, tunggu di luar sana!" usir preman bertato itu dengan kasar.
Deni sama sekali tidak mempedulikan usiran itu dan malah berjalan santai mendekati meja para preman.
"Saya tidak ikut campur urusan kalian kok, saya cuma mau bilang tolong cepat selesaikan transaksinya," jawab Deni sambil tersenyum.
"Pesanan ayam geprek saya belum dibuat Nona, nanti pelanggan saya marah kalau kelamaan nunggu."
Wanita cantik itu menatap Deni dengan pandangan minta tolong.
"Maaf Mas kurir, saya sedang ada masalah sedikit di sini," ucap wanita itu sambil mengusap air matanya.
"Bisa tolong tunggu sebentar lagi ya."
Deni mengangguk tapi matanya justru menatap tajam ke arah mangkok sup ayam di atas meja.
Sebagai seorang yang hampir mencapai puncak ilmu bela diri, mata Deni bisa melihat hal-hal mikroskopis yang tidak terlihat manusia biasa.
Dia memfokuskan Qi ke kedua matanya untuk meneliti bangkai kecoa yang mengambang di kuah sup tersebut.
"Oh jadi masalahnya kecoa ini ya Nona," ucap Deni sambil menunjuk mangkok itu.
"Iya Mas, Bapak-bapak ini menemukan kecoa di dalam supnya," jawab wanita itu lesu.
Deni tiba-tiba tertawa cukup keras hingga membuat tiga preman itu merasa tersinggung.
"Hahaha, kalian ini kalau mau menipu orang belajar dulu yang pintar," ejek Deni sambil menatap tiga preman itu bergantian.
Preman botak langsung maju dan menarik kerah jaket oranye Deni.
"Kau bilang apa barusan kurir sialan? Kau menuduh kami menipu hah!" bentak preman botak tepat di depan wajah Deni.
Deni tidak bergeming sedikitpun dan hanya meniup poni rambutnya yang sedikit panjang.
"Lepaskan tanganmu yang bau terasi ini dari jaketku, atau kau akan menyesal," ancam Deni dengan nada datar namun dingin.
Aura membunuh yang tipis keluar dari tubuh Deni membuat preman botak itu tiba-tiba merinding tanpa alasan.
Preman botak itu melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah secara refleks.
"Nona pemilik restoran, kamu tidak perlu bayar sepuluh juta, mereka ini cuma preman kelas teri yang sedang cari uang uang kecil," ucap Deni santai kepada wanita itu.
"Apa buktinya kau menuduh kami begitu!" teriak preman bertato tidak terima.
Deni mengambil sendok bersih dari meja sebelah dan mengangkat bangkai kecoa itu dari dalam mangkuk sup.
"Buktinya ada di kecoa ini," jelas Deni sambil menunjukkan kecoa itu ke depan wajah para preman.
"Coba kalian lihat baik-baik, sayap kecoa ini masih sangat utuh dan tidak layu sama sekali."
Semua orang di restoran termasuk wanita pemiliknya ikut memperhatikan penjelasan Deni.
"Kalau kecoa ini masuk saat sup sedang dimasak di panci yang mendidih, sayap dan sungutnya pasti sudah hancur atau melengkung karena panas," lanjut Deni menjelaskan panjang lebar.
"Lalu lihat juga di celah-celah perutnya, tidak ada noda kuah sup atau minyak yang meresap ke dalam tubuhnya."
Deni membalik kecoa itu menggunakan sendok agar semua orang bisa melihat perut kecoa yang masih bersih.
"Itu artinya kecoa ini sudah mati kering sebelum sup ini disajikan, lalu ada orang iseng yang menaruhnya dari dalam saku bajunya langsung ke mangkok yang sudah dingin ini," pungkas Deni dengan senyum meremehkan.
Wajah ketiga preman itu langsung pucat pasi karena trik rahasia mereka dibongkar begitu saja oleh seorang kurir makanan.
Wanita cantik pemilik restoran itu langsung sadar dan menatap marah pada ketiga pria di depannya.
"Jadi kalian sengaja menaruh kecoa mati itu untuk memeras uangku!" teriak wanita itu marah.
Preman bertato naga mengertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kurang ajar kau kurir sialan, beraninya kau ikut campur dan merusak rencana kami!" maki preman bertato itu.
"Hajar dia sampai mati!" perintah preman bertato kepada dua anak buahnya.
Preman botak dan preman kurus langsung melompat maju menyerang Deni secara bersamaan.
Preman botak mengayunkan pukulan lurus ke arah wajah Deni, sedangkan preman kurus menendang ke arah perut Deni.
Wush!
Deni hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan untuk menghindari pukulan preman botak.
Lalu dengan santai Deni mengangkat lutut kanannya untuk menangkis tendangan preman kurus.
Buk!
Tulang kering preman kurus berbenturan dengan lutut baja Deni.
"Aaaaargh!" teriak preman kurus itu kesakitan sambil memegangi kakinya yang terasa seperti menabrak tiang listrik.
Deni tidak membuang waktu, tangan kirinya bergerak secepat kilat meraih kerah baju preman botak.
Lalu dengan gerakan memutar yang halus, Deni melempar tubuh besar preman botak itu ke arah preman bertato yang baru mau maju menyerang.
Brakkk!
Tubuh kedua preman itu bertabrakan dengan keras dan jatuh bergulingan di atas lantai restoran menabrak beberapa kursi.
"Aduh pinggangku patah!" rintih preman bertato kesakitan di bawah tindihan preman botak.
Deni menepuk kedua tangannya seolah sedang membersihkan debu.
"Nah, karena masalahnya sudah selesai, bisakah Nona tolong segera buatkan pesanan ayam geprek saya?" tanya Deni menoleh ke arah wanita cantik itu.
Wanita itu masih melongo menatap kejadian yang berlangsung tidak sampai sepuluh detik itu.
"Ah iya Mas, tunggu sebentar saya buatkan sekarang juga!" jawab wanita itu tersentak kaget lalu buru-buru berlari ke dapur.
Tiga preman itu tertatih-tatih bangun dan saling membantu berdiri.
Mereka menatap Deni dengan ketakutan seolah melihat monster.
"Kalian masih mau di sini minta ganti rugi sepuluh juta?" tanya Deni sambil memajukan langkahnya satu tindak.
"Tidak tidak! Kami minta maaf, kami pergi sekarang!" teriak preman bertato panik.
Ketiga preman itu langsung berlari kocar-kacir keluar dari restoran tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Suasana restoran kembali tenang meskipun beberapa kursi masih berantakan di lantai.
Beberapa pelanggan lain yang menonton dari meja ujung bertepuk tangan pelan melihat aksi heroik kurir tersebut.
Deni hanya tersenyum tipis dan merapikan kembali kursi-kursi yang berjatuhan itu.
Sepuluh menit kemudian, wanita cantik itu keluar dari dapur membawa kantong plastik pesanan.
"Ini pesanan ayam gepreknya Mas kurir, maaf jadi menunggu lama," ucap wanita itu sambil menyerahkan kantongnya.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Rina, saya benar-benar berterima kasih atas bantuan Mas kurir tadi."
Deni menerima kantong itu dan menganggukkan kepalanya sopan.
"Sama-sama Nona Rina, saya Deni," balas Deni singkat.
"Bantuan tadi itu cuma analisis kecil saja karena saya sering masak di gunung jadi tahu bedanya kecoa direbus dan kecoa kering."
Rina tertawa kecil mendengar jawaban polos Deni.
"Tetap saja Mas Deni sudah menyelamatkan restoran saya dari kebangkrutan," ucap Rina tulus.
"Sebagai tanda terima kasih, mulai sekarang Mas Deni boleh makan gratis di restoran ini kapan saja."
Mata Deni seketika berbinar mendengar kata makan gratis.
"Wah benarkah? Kalau begitu saya pasti akan sering-sering mampir ke sini Nona Rina," ucap Deni bersemangat.
"Tapi sekarang saya harus buru-buru mengantar pesanan ini dulu sebelum pelanggannya marah."
Deni melambaikan tangan kepada Rina dan berlari keluar menuju motor maticnya.
"Hati-hati di jalan Mas Deni!" panggil Rina dari ambang pintu sambil tersenyum manis.
Deni segera menyalakan mesin motornya dan melesat menuju alamat pengiriman.
Dua puluh menit kemudian dia sampai di sebuah kos-kosan mahasiswi dan menyerahkan ayam geprek itu tepat waktu.
"Terima kasih Mas, ini tip buat Mas kurir karena cepat sampainya," ucap mahasiswi itu memberikan uang sepuluh ribu.
"Tidak usah pakai uang tip Mas, tolong kasih saya ulasan bintang lima saja di aplikasi ya," tolak Deni dengan cepat.
Mahasiswi itu tampak bingung tapi dia tetap mengambil ponselnya dan memberikan bintang lima.
Ting!
[Sistem Raja Kurir: Tuan mendapatkan 2 dari 1000 ulasan]
[Tugas Harian: Sisa 2 pesanan lagi untuk menghindari hukuman diare]
Deni menarik nafas lega melihat notifikasi dari sistem di kepalanya.
"Bagus, tinggal dua pesanan lagi dan aku aman dari ancaman diare mengerikan itu," gumam Deni penuh tekad.
Deni kembali menaiki motor maticnya dan berkeliling mencari orderan dari pelanggan selanjutnya di bawah terik matahari Jakarta.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!