Indonesia
NovelToon NovelToon

One Piece: Puppet System

Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly

​Hujan turun dengan deras malam itu, membasahi jalanan aspal kota yang memantulkan cahaya neon dari papan reklame. Di trotoar yang sepi, seorang remaja laki-laki berjalan dengan langkah tenang. Tangannya memegang sebuah kantong plastik berisi beberapa barang kebutuhan sehari-hari dan sebuah manga volume terbaru yang baru saja ia beli.

​Namanya adalah Muzan Kibutsi. Usianya tujuh belas tahun. Di mata orang lain, ia hanyalah seorang siswa SMA biasa yang cenderung pendiam dan jarang bergaul. Tidak ada yang spesial dari kehidupannya, selain dedikasinya yang cukup tinggi terhadap dunia fiksi, terutama anime dan manga. Di antara ribuan cerita yang pernah ia baca, One Piece selalu menempati posisi teratas di benaknya. Dunia bajak laut yang luas, penuh kebebasan, misteri, dan strategi selalu berhasil memicu imajinasinya.

​Namun, imajinasi itu terpaksa berhenti malam ini.

​Semuanya terjadi terlalu cepat, namun bagi Muzan, detik-detik itu terasa seperti ditarik dalam gerakan lambat. Saat ia menyeberang di persimpangan jalan, sebuah truk kargo berukuran besar melaju dengan kecepatan di luar batas wajar. Pengemudinya tampak tertidur. Lampu depan truk itu menyorot tajam, menyilaukan mata Muzan.

​Muzan tidak menjerit. Ia tidak menangis. Sifatnya yang selalu tenang dan rasional bahkan di saat-saat kritis membuat otaknya bekerja dengan dingin.

​Kecepatannya sekitar delapan puluh kilometer per jam. Jaraknya kurang dari lima meter. Otot kakiku tidak akan sempat merespons untuk melompat menghindar. Sudut benturan ada di sisi kiri tubuhku.

​Analisis itu adalah pikiran terakhirnya.

​Brak!

​Suara tulang yang remuk kalah oleh derit rem yang terlambat dan hantaman besi melawan daging. Rasa sakit yang luar biasa meledak sedetik, sebelum akhirnya kegelapan total menelannya. Kematian tidak datang dengan malaikat penyambut, melainkan hanya kekosongan yang dingin dan sunyi.

​Entah berapa lama waktu berlalu. Mungkin satu detik, mungkin ribuan tahun.

​Muzan mulai merasakan sesuatu. Itu bukan rasa sakit akibat hantaman truk, melainkan rasa perih di sekujur kulit, hembusan angin yang membawa aroma garam yang sangat pekat, dan suara deburan ombak yang membentur karang.

​Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menyengat. Hal pertama yang ia lihat adalah langit biru yang sangat cerah, dihiasi burung-burung camar yang terbang berputar-putar.

​Muzan mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan ringan. Ia menunduk dan terdiam. Tangan yang ia lihat bukanlah tangannya. Tangan itu kecil, kurus, dipenuhi kotoran dan beberapa luka gores. Pakaiannya hanyalah kain compang-camping yang kebesaran, berbau apek, dan tidak layak disebut baju.

​Ia memejamkan mata, mengatur napasnya. Kepanikan adalah musuh terbesar dalam situasi yang tidak diketahui. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu menghembuskannya perlahan.

​Aku ditabrak truk. Aku seharusnya sudah mati. Tulang rusuk kiriku hancur lebur. Tapi sekarang, aku bernapas. Tubuh ini milik seorang anak kecil, usianya mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Aku bereinkarnasi.

​Muzan tidak membuang waktu untuk meratapi nasib atau berteriak kebingungan. Ia segera berdiri, mengandalkan dinding kayu lapuk di sebelahnya untuk menopang tubuh kurusnya. Ia berada di sebuah gang sempit yang kotor, di antara dua bangunan berbahan kayu dan batu bata yang terlihat berarsitektur klasik, mirip dengan kota-kota pelabuhan di Eropa pada abad pertengahan.

​Ia melangkah keluar dari gang dengan hati-hati. Begitu sampai di jalan utama, pemandangan yang terhampar di hadapannya membuat pupil matanya sedikit melebar.

​Di ujung jalan setapak berbatu itu, terdapat pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal kayu bersandar, namun bukan sekadar kapal biasa. Beberapa kapal memiliki layar besar dengan lambang tengkorak, sementara yang lain memiliki lambang burung camar biru memegang timbangan—lambang Angkatan Laut.

​Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang membawa pedang di pinggang mereka, ada yang memanggul senapan laras panjang, dan ada pula pedagang yang berteriak menjajakan barang. Di sebuah papan pengumuman kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri, tertempel beberapa lembar kertas buronan.

​Ia berada di dunia One Piece. Dan melihat dari perahu-perahu kecil serta seragam Angkatan Laut berpangkat rendah yang berpatroli, ia yakin saat ini ia berada di salah satu pulau di East Blue. Mungkin Loguetown, atau mungkin pulau pelabuhan kecil lainnya yang menjadi tempat singgah para pelaut.

​Dan siapa dirinya saat ini? Muzan menatap pantulan dirinya di genangan air sisa hujan. Seorang anak yatim piatu yang kurus kering. Bukan bagian dari klan D, bukan anak naga langit, bukan pemakan buah iblis, bahkan mungkin ia belum makan selama dua hari penuh.

​"Menarik," gumam Muzan pelan. Suaranya serak dan parau.

​Tepat pada saat itu, ketika ia baru saja menerima realitas barunya, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema di dalam kepalanya, bersamaan dengan munculnya sebuah panel holografik berwarna biru transparan tepat di depan matanya.

​«"Puppet System berhasil diaktifkan."»

​Muzan tidak terkejut. Ia hanya memundurkan wajahnya sedikit untuk membaca teks yang melayang di udara. Sistem tidak terlihat oleh siapa pun yang lalu lalang di sekitarnya. Orang-orang terus berjalan tanpa mempedulikan anak gembel yang sedang menatap kosong ke udara.

​«"Selamat datang di dunia One Piece, Host."»

​«"Puppet System adalah sistem eksklusif yang memungkinkan Host untuk memanggil, menyimpan, dan mengendalikan entitas 'Boneka' dari berbagai dunia dimensi lain."»

​Muzan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh layar biru itu. Jarinya menembus panel, tetapi pikirannya tampaknya bisa bernavigasi melaluinya. Dengan fokus mental, ia melihat menu utama dari sistem tersebut. Ada beberapa tab yang tersusun rapi:

​[Status]

​[Puppet Gacha]

​[Inventory]

​[Shop]

​[Mission]

​[Achievement]

​[Collection]

​[Puppet Storage]

​[Belly Counter]

​Sebagai seseorang yang sangat familiar dengan konsep seperti ini dari kehidupan sebelumnya, Muzan dengan tenang membuka tab [Status] terlebih dahulu. Ia harus mengetahui kapasitas tubuh barunya.

​[STATUS HOST]

Nama: Muzan Kibutsi

Usia: 14 Tahun

Afiliasi: Tidak Ada (Warga Biasa East Blue)

Kekuatan Fisik: 4 (Rata-rata orang dewasa normal adalah 10)

Kecepatan: 5

Ketahanan: 3

Kekuatan Mental: 85 (Tertinggi karena reinkarnasi jiwa dewasa)

Kapasitas Pengendalian Boneka: 1 (Maksimal jumlah boneka yang bisa dikendalikan secara bersamaan saat ini)

​Muzan menghela napas tipis. Seperti dugaannya, tubuh ini sangat lemah. Jika ia diserang oleh preman jalanan paling rendahan sekalipun, ia bisa mati konyol hari ini juga.

​Ia kemudian mengalihkan fokusnya ke fitur inti dari sistem ini: [Puppet System].

​Sebuah jendela penjelasan muncul.

​«"INFORMASI BONEKA (PUPPET):"»

«"1. Boneka adalah replika sempurna dari karakter berbagai dunia fiksi (anime, manga, dll)."»

«"2. Boneka memiliki penampilan, suara, cara berbicara, memori otot, kemampuan tempur, dan gaya bertarung persis seperti aslinya."»

«"3. PENTING: Boneka TIDAK memiliki kesadaran, emosi, atau kehendak sendiri. Mereka adalah cangkang kosong yang dikendalikan 100% oleh pikiran Host."»

«"4. Boneka akan bertindak sesuai kehendak Host. Host dapat membuat mereka berbicara, bertarung, dan bereaksi, di mana Sistem akan membantu menerjemahkan 'gaya asli' karakter tersebut secara otomatis agar tidak terlihat kaku, selama Host memberikan perintahnya."»

«"5. Boneka tidak bisa mengkhianati Host."»

«"6. Jika Boneka hancur, Host dapat memperbaikinya dengan biaya tertentu atau melakukan gacha untuk mendapatkan salinannya kembali."»

​Muzan menyipitkan matanya, menganalisis setiap kata. "Sistem boneka tanpa kesadaran... Ini adalah yang terbaik," batinnya.

​Sebagai orang yang tidak mudah percaya pada orang lain dan benci pengkhianatan, memiliki bawahan mutlak yang tidak punya emosi adalah aset yang tak ternilai. Ia tidak perlu khawatir soal kesetiaan, tidak perlu membangun ikatan emosional, dan tidak perlu repot mengurus drama bawahan. Mereka hanyalah alat. Alat yang sempurna. Jika ia memanggil pendekar pedang ahli, ia bisa membuat pendekar itu bertarung mati-matian melindunginya tanpa ada keraguan seperseribu detik pun.

​Ia beralih ke tab [Puppet Gacha].

​Layar berubah, menampilkan sebuah roda roulette besar dengan kilauan warna-warni mulai dari putih, hijau, biru, ungu, emas, hingga merah pekat. Di bawah roda itu, terdapat daftar harga yang membuat Muzan menghentikan napasnya sejenak.

​«"BIAYA GACHA:"»

​1.000 Belly → Gacha Tingkat Rendah (Karakter umum, prajurit biasa, kekuatan sangat rendah)

​10.000 Belly → Gacha Tingkat Menengah (Karakter dengan kekuatan tempur layak)

​100.000 Belly → Gacha Tingkat Kuat (Karakter ahli, letnan, pengguna kekuatan khusus)

​1.000.000 Belly → Gacha Tingkat Legenda (Karakter kelas atas, kapten, jenderal)

​10.000.000 Belly → Gacha Tingkat Mitos (Karakter puncak, dewa, entitas pemusnah)

​«"Mata uang yang digunakan terhubung langsung dengan harta duniawi yang dimiliki Host, yaitu Belly."»

​Mata Muzan terfokus pada tab di sudut kanan atas layarnya: [Belly Counter]. Ia mengarahkan pikirannya ke sana.

​«"Saldo Belly: 0"»

​Sebuah kesunyian yang ironis menyelimuti pikiran Muzan di tengah keramaian pelabuhan.

​"Tentu saja," gumamnya pelan, sudut bibirnya sedikit berkedut.

​Ia adalah gembel yang baru saja bereinkarnasi. Boro-boro sepuluh juta Belly, sepeser keping perunggu pun ia tak punya di sakunya. Bahkan untuk melakukan gacha paling ampas sekalipun seharga 1.000 Belly, ia tidak sanggup. Di dunia One Piece, harga koran yang diantar oleh News Coo saja sekitar 100 Belly. Ini berarti ia harus mencari uang. Bekerja, mencuri, berburu hadiah, atau berdagang.

​Muzan membuka tab [Mission].

​«"Tidak ada misi aktif. Jelajahi dunia untuk memicu misi."»

​Ia mencoba membuka tab [Shop].

​«"Fitur Shop terkunci. Akan terbuka setelah Host mencapai akumulasi kepemilikan 1.000.000 Belly."»

​Muzan bersandar kembali ke dinding bata di belakangnya. Perutnya berbunyi pelan. Kelaparan adalah masalah nyata saat ini. Jika ia tidak mendapatkan makanan dalam waktu dekat, sebelum ia sempat memikirkan strategi besar mengarungi dunia bajak laut, ia akan mati kelaparan di gang kotor ini.

​Ia nyaris mematikan sistem itu ketika pandangannya menangkap satu tab yang belum ia periksa: [Inventory].

​Dengan sisa harapan, ia membuka tab tersebut. Layar menampilkan puluhan kotak kosong (slot penyimpanan). Namun, di kotak pertama ujung kiri atas, ada sebuah ikon berbentuk kotak hadiah berpita merah.

​Muzan memfokuskan pikirannya pada ikon tersebut.

​«"Item: Paket Hadiah Pemula."»

«"Apakah Host ingin membukanya?"»

​"Buka," perintah Muzan dalam hati.

​Kotak itu bersinar keemasan di dalam layar, lalu terbuka. Suara notifikasi yang menyenangkan berbunyi.

​«"Selamat! Host mendapatkan [Tiket Gacha Karakter Kuat] x1."»

«"Tiket ini setara dengan melakukan satu tarikan Gacha senilai 100.000 Belly, dijamin mendapatkan Boneka berperingkat Kuat (Tier Biru/Ungu)."»

​Mata hitam Muzan memancarkan kilau kepuasan. Sistem ini tidak membiarkannya mati di hari pertama tanpa senjata. Satu karakter setara tarikan 100.000 Belly sudah cukup sebagai modal awal untuk bertahan hidup dan mulai mengumpulkan kekayaan di East Blue. Tingkat kekuatan di East Blue adalah yang paling lemah dibanding lautan lainnya. Seorang karakter tingkat "Kuat" dari dunia anime lain mungkin setara dengan kapten bajak laut elit atau petarung Angkatan Laut berpangkat tinggi di wilayah ini.

​"Sistem, gunakan Tiket Gacha Karakter Kuat sekarang."

​Panel berubah. Sebuah tiket emas melayang ke arah roda roulette di layar Gacha. Roda itu mulai berputar dengan kecepatan gila. Warna putih, hijau, biru, ungu, dan emas berbaur menjadi pusaran cahaya.

​Muzan memperhatikan tanpa berkedip. Ia adalah orang yang tidak percaya pada keberuntungan belaka, namun saat ini, semuanya murni probabilitas.

​Putaran roda mulai melambat. Jarum penunjuk melewati warna hijau, meluncur pelan di atas warna biru, hampir berhenti di sana, namun terus bergeser secara dramatis hingga terdengar bunyi KLIK! yang keras.

​Jarum itu berhenti tepat di warna ungu gelap yang memancarkan aura dingin.

​«"DING!"»

«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Kuat (Tier Ungu)!"»

«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan dengan hukum fisika dunia One Piece..."»

«"Ekstraksi selesai."»

​Sebuah kartu perlahan muncul dari layar. Kartu itu bergambar seorang pemuda bertubuh tegap, mengenakan seragam pemburu berwarna hitam gelap dengan haori (mantel luar) yang terbagi menjadi dua pola berbeda: sisi kanannya berwarna merah tua polos, sedangkan sisi kirinya memiliki pola geometris hijau, kuning, dan oranye. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang Nichirin dengan tsuba (pelindung tangan) berbentuk heksagonal.

​Ekspresi pemuda di kartu itu sangat datar, mata birunya terlihat sedingin dan sedalam lautan palung.

​Muzan membaca nama yang tertera di bawah kartu tersebut.

​«"Boneka Diperoleh: Giyu Tomioka"»

«"Asal Dunia: Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba)"»

«"Afiliasi Asli: Demon Slayer Corps (Water Hashira)"»

«"Gaya Bertarung: Water Breathing (Pernapasan Air)"»

«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»

​Jantung Muzan berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena kegembiraan yang kekanak-kanakan, melainkan antisipasi taktis. Giyu Tomioka, sang Pilar Air. Seorang master pedang dengan kecepatan dan refleks manusia super, mampu membelah baja dan iblis dengan satu tebasan. Terlebih lagi, teknik Pernapasan Air-nya sangat cocok dengan dunia maritim One Piece.

​Di lautan terlemah seperti East Blue, kekuatan seorang Hashira sudah berada di batas atas pertarungan fisik. Giyu tidak memakan buah iblis, yang berarti ia tidak takut air laut, sebuah keuntungan luar biasa di dunia ini.

​"Keluarkan Giyu Tomioka," perintah Muzan dengan pikiran yang difokuskan pada tab [Puppet Storage].

​«"Memanggil Boneka: Giyu Tomioka..."»

​Di udara kosong di depan Muzan, partikel-partikel cahaya ungu mulai berkumpul, membentuk pusaran energi yang perlahan menyusun bentuk manusia. Dimulai dari ujung kaki yang mengenakan sandal zori dan kaus kaki tabi putih, seragam hitam, haori dua pola, hingga rambut hitamnya yang diikat ke belakang.

​Hanya butuh tiga detik sebelum partikel cahaya itu memudar. Di sana, di dalam gang yang kotor, berdiri sosok Giyu Tomioka dalam wujud fisik yang sempurna. Hembusan napasnya pelan, pedang Nichirin tersarung rapi di pinggang kirinya.

​Namun, yang membuat bulu kuduk Muzan sedikit meremang adalah mata Giyu. Mata biru gelap itu sepenuhnya kosong. Tidak ada kehangatan, tidak ada kehidupan, tidak ada jiwa di baliknya. Giyu hanya berdiri mematung layaknya manekin lilin kualitas tinggi. Ia bahkan tidak berkedip jika tidak diinstruksikan.

​«"Sinkronisasi Pikiran dimulai. Harap Host fokus untuk mengambil kendali Boneka."»

​Muzan menutup matanya. Tiba-tiba, ia merasakan sensasi ganjil yang luar biasa. Pikirannya seolah bercabang menjadi dua layar monitor. Ia bisa merasakan angin laut menerpa wajahnya sendiri (Muzan), namun secara bersamaan, ia juga bisa merasakan berat pedang di pinggang 'dirinya' yang lain (Giyu).

​Ia membuka matanya kembali. Dari sudut pandang Muzan, ia melihat Giyu berdiri di depannya. Tapi dari sudut pandang Giyu, ia melihat seorang anak kecil kurus berpakaian compang-camping menatap ke arahnya. Ini adalah sensasi multi-tasking yang absolut.

​Dengan sebuah niatan, Muzan 'menggerakkan' boneka itu.

​Giyu Tomioka berkedip. Lalu, dengan gerakan halus yang mematikan, tangan kanan Giyu meraih gagang pedangnya, menariknya keluar sekitar satu inci. Suara gesekan logam yang tajam bergema di gang sempit itu.

​Muzan takjub. Otot-otot tubuh Giyu terasa begitu kuat, energinya terasa melimpah. Memori otot tentang teknik-teknik pedang Pernapasan Air ada di sana, siap diakses oleh Muzan kapan saja layaknya file di dalam komputer. Muzan tidak perlu tahu bagaimana cara berayun yang benar, karena tubuh boneka itu sudah diprogram untuk melakukannya secara sempurna. Muzan hanya perlu memberikan command (perintah).

​Sarungkan kembali, perintah Muzan.

​Klik. Giyu memasukkan kembali pedangnya dengan cepat dan mulus.

​Muzan tersenyum tipis, sebuah senyuman kalkulatif. "Dengan ini, aku tidak akan menjadi mangsa di dunia ini. Aku yang akan menjadi pemburu."

​Tiba-tiba, telinga Giyu yang jauh lebih peka daripada telinga Muzan menangkap suara langkah kaki berat mendekat dari arah ujung gang yang mengarah ke bagian dalam kota. Muzan segera merespons melalui pendengaran bonekanya.

​Tiga orang pria dewasa berjalan memasuki gang sempit tersebut. Mereka mengenakan pakaian bajak laut yang lusuh—kemeja tak dikancingkan, bandana kotor, dan celana longgar. Masing-masing dari mereka membawa senjata; satu orang membawa parang, satu membawa pisau belati, dan yang paling besar membawa pentungan kayu bertatahkan paku besi. Bau minuman keras yang murah menguar dari tubuh mereka.

​"Oi, oi, lihat apa yang kita temukan di sini," ucap pria yang membawa parang, matanya menatap liar ke arah tubuh kurus Muzan. "Seekor tikus kecil yang tersesat dari selokannya."

​Pria berbadan besar dengan pentungan tertawa kasar. "Kudengar rumah pelacuran milik Madame Kyla sedang mencari anak-anak baru untuk dijadikan pembantu atau... yah, mainan. Anak ini memang kotor, tapi kalau dimandikan, kita mungkin bisa dapat 5.000 Belly untuknya."

​Muzan tetap diam, berdiri bersandar di dinding. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Otaknya memproses informasi dengan cepat. Tiga pria bersenjata. Kemungkinan bajak laut kroco yang sedang singgah di pulau atau preman lokal. Nilai jualku 5.000 Belly. Mereka berniat menculik.

​"Tunggu, siapa pria di sebelahnya?" tanya pria pemegang belati, baru menyadari sosok Giyu yang berdiri diam dalam bayang-bayang gang. Haori aneh Giyu dan pedang di pinggangnya membuat mereka sedikit waspada.

​"Hanya orang asing yang kebetulan lewat," kata pria besar itu, meludah ke tanah. Ia mengangkat pentungannya, menunjuk ke arah Giyu. "Oi, samurai aneh! Serahkan bocah itu kepada kami dan pergilah. Kalau kau ikut campur, kami akan mengulitimu hidup-hidup. Kami ini bagian dari Bajak Laut Taring Berdarah!"

​Tentu saja, Giyu tidak merespons. Ia hanya menatap kosong ke arah ketiga preman itu.

​Bagi ketiga bajak laut itu, kebisuan Giyu dianggap sebagai penghinaan dan tantangan. Pria berparang itu menggeram marah. "Berani sekali kau meremehkan kami! Akan kupotong lidahmu!"

​Pria berparang itu berlari menerjang ke arah Giyu, mengangkat parangnya tinggi-tinggi untuk menebas leher pria berhaori aneh tersebut.

​Dari sudut pandangnya, Muzan hanya menonton. Detak jantungnya stabil. Jarak pria itu lima meter... empat meter... tiga meter...

​Terlalu lambat, pikir Muzan. Gerakan preman itu di mata Giyu terlihat seperti gerakan slow-motion yang penuh celah.

​Di saat parang itu hampir mencapai leher Giyu, Muzan akhirnya memberikan perintah pertamanya.

​Cabut pedangmu. Jangan bunuh dia. Putuskan tangan kanannya.

​Dalam sekejap mata, bahkan sebelum preman itu menyadari apa yang terjadi, sosok Giyu menghilang dari tempatnya berdiri.

​"Pernapasan Air, Bentuk Pertama: Tebasan Permukaan Air." (Muzan membiarkan sistem mengeluarkan suara Giyu yang datar dan dingin untuk intimidasi).

​SYAATT!!

​Sebuah kilatan cahaya biru berbentuk gelombang air yang indah membelah udara di gang gelap tersebut. Suara tebasan yang sangat jernih memotong keheningan.

​Preman berparang itu tiba-tiba berhenti. Matanya melotot. Ia melihat tangan kanannya yang masih memegang parang terbang ke udara, terpisah dari lengannya. Tiga detik kemudian, barulah rasa sakit yang mengerikan menjalar ke otaknya, diikuti oleh semburan darah merah pekat yang muncrat dari pangkal lengannya yang buntung.

​"AAAARRRGGGGHHHH!!!!"

​Jeritan melengking yang memekakkan telinga pecah. Pria itu jatuh berlutut, memegangi lengannya yang terpotong sambil berguling-guling di tanah yang basah.

​Dua bajak laut lainnya mematung. Wajah mereka pucat pasi. Pentungan kayu dan belati bergetar di tangan mereka. Mereka tidak melihat pria berhaori aneh itu mencabut pedangnya. Mereka hanya melihat kilatan air, dan tiba-tiba teman mereka kehilangan tangan.

​Giyu Tomioka berdiri di belakang preman yang jatuh itu. Pedang Nichirin-nya yang berwarna biru cerah tidak menyisakan setetes darah pun di bilahnya. Posisi berdirinya sempurna, tanpa celah, menatap dingin ke arah dua pria yang tersisa.

​Muzan, yang masih bersandar di dinding, menatap panel sistem di depannya dengan senyum tipis yang tak kentara.

​«"Misi Baru Terpicu: Basmi Ancaman Lokal."»

«"Tujuan: Kalahkan tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah."»

«"Hadiah: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»

​Mata Muzan berkilat. Ini bukan sekadar ajang bertahan hidup. Ini adalah sumber pendapatannya yang pertama.

​"Giyu," ucap Muzan dengan suaranya yang serak dan parau, berperan sebagai 'tuan' yang misterius di hadapan para musuh.

​Boneka Giyu tidak menoleh, namun pedangnya diangkat perlahan, mengarah pada preman bertubuh besar.

​"Habisi mereka. Tapi jangan merusak wajah mereka. Kita harus memastikan mereka punya harga buronan untuk ditukar."

​Satu perintah diberikan, dan malam di East Blue itu akan menjadi panggung pertama dari seorang dalang bayangan yang kelak akan mengguncang lautan dengan pasukan bonekanya. Perjalanan panjang mengumpulkan Belly demi supremasi baru saja dimulai

Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar

Gang sempit yang pengap dan berbau pesing itu mendadak hening. Hujan rintik-rintik yang mulai turun kembali menyentuh genangan air kotor di tanah, menciptakan suara gemericik pelan yang berpadu dengan napas terengah-engah dari dua bajak laut yang tersisa.

​Di tanah, pria yang tangan kanannya baru saja terpotong masih berguling-guling, mengerang dalam penderitaan yang tak tertahankan. Darah segar bercampur dengan lumpur, menciptakan aroma besi berkarat yang menyengat hidung Muzan.

​Muzan Kibutsi berdiri di posisinya, bersandar pada dinding bata yang dingin dan berlumut. Ekspresi wajah anak berusia empat belas tahun itu tidak berubah sedikit pun. Mata hitamnya yang dalam mengamati pemandangan berdarah di depannya seolah ia sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang membosankan. Tidak ada rasa mual, tidak ada getaran ketakutan. Mentalitasnya sebagai pria dewasa yang telah mengalami transmigrasi jiwa membuatnya mampu memproses kekerasan dengan rasionalitas yang dingin.

​Di depan sana, Giyu Tomioka berdiri mematung. Posturnya tegak lurus, sempurna tanpa celah. Ujung pedang Nichirin di tangannya diarahkan miring ke bawah, membiarkan sisa-sisa air dari teknik pernapasannya menetes jatuh. Mata birunya yang gelap dan kosong menatap lurus ke arah dua bajak laut yang tersisa, seolah mereka hanyalah kerikil yang tak pantas mendapatkan perhatian lebih.

​Pria berbadan besar yang memegang pentungan paku menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. Otot-ototnya yang kekar tiba-tiba terasa kaku. Ia menatap temannya yang kehilangan tangan, lalu menatap Giyu dengan tatapan horor.

​"M-Monster..." bisik pria pemegang belati yang berdiri di belakang si pria besar. Kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. "D-Dia bahkan tidak terlihat bergerak... Ilmu sihir apa itu tadi? Air? Kenapa ada air yang keluar dari pedangnya?!"

​Di dunia One Piece, fenomena aneh biasanya dikaitkan dengan Buah Iblis. Namun, mereka yang berada di East Blue—lautan terlemah dari keempat lautan—sangat jarang melihat pengguna Buah Iblis secara langsung. Bagi preman jalanan sekelas mereka, seorang pendekar pedang yang bisa memunculkan elemen air dari tebasannya adalah mimpi buruk yang melampaui akal sehat.

​Muzan, melalui ikatan telepati misterius yang disediakan oleh Puppet System, merasakan seluruh indera Giyu. Ini adalah sensasi yang luar biasa memabukkan. Ia bisa merasakan berat gagang pedang Nichirin di telapak tangannya, ia bisa merasakan aliran energi yang tenang di dalam paru-paru boneka tersebut, dan ia bisa melihat dunia dengan ketajaman visual yang jauh melampaui mata manusia normal.

​Jangan biarkan mereka berpikir, perintah Muzan dalam hatinya yang dingin. Selesaikan dengan cepat. Pria besar itu, pukul tengkuknya dengan punggung pedang. Pria berbelati, hantam ulu hatinya dengan gagang pedang. Jangan buat mereka berdarah lagi, nilai jual mereka bisa turun jika mereka mati.

​Begitu instruksi mental itu terkirim, tubuh Giyu merespons seketika tanpa delay sedikit pun. Sistem beroperasi dengan efisiensi absolut.

​Pria besar itu baru saja mengangkat pentungannya sambil berteriak histeris, "MATI KAU, BRENGSEK—!"

​Kata-katanya terputus di tenggorokan.

​Giyu Tomioka telah menghilang dari pandangannya. Bagi mata preman itu, Giyu hanya menyisakan bayangan kabur yang tersapu oleh angin. Namun bagi Muzan yang memegang kendali, ia melihat Giyu menggunakan teknik langkah kaki yang sangat cepat, meluncur di atas tanah basah seolah tidak ada gesekan.

​"Pernapasan Air, Bentuk Kedua: Roda Air," suara datar Giyu bergema, namun kali ini nadanya diatur sedemikian rupa oleh Muzan untuk mengintimidasi, dingin dan tanpa ampun.

​Alih-alih menebas secara vertikal menggunakan bilah tajam pedangnya, Giyu melompat ringan ke udara, memutar tubuhnya ke depan membentuk formasi roda, namun di detik terakhir, ia memutar pergelangan tangannya. Bilah tajam pedang Nichirin dialihkan ke atas, sementara punggung pedang yang tumpul menghantam tepat di bagian belakang leher pria berbadan besar itu dengan kekuatan yang diukur secara presisi.

​KRAK!

​Suara tulang yang bergeser terdengar mengerikan. Gelombang air biru yang mengikuti alur pedang Giyu menghantam tubuh raksasa itu, meredam sebagian dampak mematikan agar lehernya tidak patah sepenuhnya, namun cukup untuk menghentikan aliran darah ke otak secara instan.

​Mata pria besar itu memutih. Tubuhnya yang seberat lebih dari seratus kilogram ambruk ke depan, menghantam genangan air kotor dengan bunyi Bruk! yang keras. Ia pingsan sebelum wajahnya menyentuh tanah.

​Pria ketiga, si pemegang belati, menjerit ketakutan layaknya babi yang akan disembelih. Pemandangan itu telah menghancurkan kewarasannya. Ia membalikkan badan, bermaksud lari terbirit-birit keluar dari gang.

​Tahan dia, perintah Muzan, matanya tidak berkedip.

​Giyu mendarat dengan mulus dari putaran udaranya. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, ia menggunakan momentum pendaratannya untuk melesat ke depan bagaikan panah yang lepas dari busurnya. Jarak tiga meter dipangkas hanya dalam satu tarikan napas.

​Saat pria berbelati itu baru mengambil dua langkah, sosok Giyu sudah berada tepat di hadapannya, menghalangi jalan keluarnya. Pria itu menatap wajah Giyu yang pucat dan tanpa ekspresi, merasa seolah ia sedang menatap wajah malaikat maut.

​Giyu tidak menggunakan teknik pernapasan kali ini. Ia hanya mengayunkan tangan kirinya yang memegang sarung pedang (saya), menghantamkannya dengan telak ke ulu hati pria tersebut.

​BUGH!

​Sebuah pukulan tumpul yang sangat padat. Udara di dalam paru-paru pria berbelati itu terlempar keluar dari mulutnya dalam bentuk semburan ludah. Matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Sistem sarafnya lumpuh seketika akibat rasa sakit yang luar biasa di pusat saraf perutnya. Ia berlutut perlahan, lalu jatuh tertelungkup tak sadarkan diri, menyusul kapten regu kecilnya.

​Pertarungan—jika bisa disebut pertarungan—itu selesai dalam waktu kurang dari lima belas detik.

​Muzan menghela napas panjang. Ia melepaskan sebagian fokus kendalinya dari Giyu. Sensasi dual-vision perlahan mereda. Giyu kembali ke posisi netralnya, berdiri diam layaknya patung penjaga yang tak bernyawa, sarung pedang kembali ke pinggangnya, dan napasnya kembali beraturan.

​Sebuah suara mekanis yang dingin berdenting di dalam benak Muzan.

​«"DING!"»

«"Misi Selesai: Basmi Ancaman Lokal."»

«"Evaluasi: Sempurna. Tidak ada kerusakan berlebih pada target buronan."»

«"Hadiah didistribusikan: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»

​Muzan membuka panel sistemnya dan melihat tab [Belly Counter]. Angka 0 yang menyedihkan itu kini berubah menjadi 15.000 Belly.

​"Awal yang bagus," guman Muzan pelan. Ia berjalan perlahan, menyeret kaki kurusnya yang tidak beralas kaki mendekati ketiga tubuh yang tergeletak di tanah.

​Pria pertama yang tangannya terpotong kini sudah setengah pingsan karena syok dan kehabisan darah. Napasnya tersengal-sengal. Jika dibiarkan lebih lama lagi, ia pasti akan mati. Dan di dunia ini, buronan yang sudah mati terkadang nilainya dipotong hingga 30% oleh pihak Angkatan Laut karena mereka tidak bisa melakukan interogasi atau eksekusi publik. Muzan, sebagai seorang pragmatis yang sangat menghitung setiap sen keuntungannya, tidak akan membiarkan uangnya menguap begitu saja.

​Muzan memberi isyarat mental kepada Giyu.

​Boneka Giyu membungkuk, merobek paksa kain dari kemeja pria berbadan besar yang pingsan. Dengan gerakan yang sangat efisien dan cekatan (memori otot tentang pertolongan pertama yang dimiliki oleh seorang Hashira), Giyu mengikat erat pangkal lengan pria yang buntung itu untuk menghentikan pendarahan. Jeritan tertahan keluar dari mulut pria itu saat ikatan dikencangkan, membangunkannya sedikit dari kondisi setengah sadarnya.

​Muzan berjongkok di depan pria yang terluka itu. Wajah Muzan yang masih belia, kotor, dan kurus kering sangat kontras dengan aura dominasi dingin yang ia pancarkan.

​"Kau masih bisa mendengarku?" tanya Muzan dengan suaranya yang serak.

​Pria itu menatap Muzan, lalu menatap Giyu yang berdiri di belakang Muzan dengan tangan bersiap di gagang pedang. Ketakutan kembali menguasai matanya. Ia mengangguk lemah, air mata bercampur keringat mengalir di wajah kotornya. "T-Tolong... ampuni aku..."

​"Itu tergantung pada seberapa berguna informasi yang keluar dari mulutmu," jawab Muzan datar. "Siapa nama kelompok bajak laut kalian? Di pulau mana kita sekarang? Dan di mana kapten kalian berada?"

​Muzan sengaja bertanya tentang lokasi. Ia harus mengonfirmasi hipotesisnya. East Blue itu luas. Tanpa koordinat yang jelas, ia tidak bisa menyusun rencana jangka panjang.

​Pria itu terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. "K-Kami... Bajak Laut Taring Berdarah... K-Kami sedang berlabuh di... di Pulau Toroa... T-Tuan, tolong, biarkan aku hidup."

​Pulau Toroa, batin Muzan. Ia mencoba menggali ingatannya tentang lore One Piece. Toroa... Toroa... Ah, ia ingat. Pulau Toroa adalah sebuah pulau kecil yang memiliki kota pelabuhan yang cukup ramai, tempat di mana Zoro pernah mencari pedang baru dalam versi cerita lepas, atau setidaknya, itu adalah pulau persinggahan yang sering dikunjungi oleh pedagang dan bajak laut kelas teri sebelum menuju ke Loguetown. Letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk Grand Line, yang menjadikannya tempat yang strategis namun berbahaya.

​"Lanjutkan. Siapa kaptenmu dan di mana dia sekarang?" desak Muzan, matanya menatap tajam layaknya elang yang mengintai mangsa.

​"K-Kapten kami... 'Rahang Besi' Barts... D-Dia sedang minum-minum di bar di pusat kota pelabuhan... B-Bounty-nya... 2.200.000 Belly..." Pria itu merintih kesakitan, matanya perlahan menutup kembali karena kelelahan yang ekstrem. "Kami hanya disuruh... mencari budak baru..."

​"Rahang Besi Barts. 2,2 Juta Belly," Muzan mengangguk pelan. Itu adalah angka yang cukup besar untuk ukuran bajak laut kroco di East Blue, meski jika dibandingkan dengan nilai buronan Arlong (20 Juta Belly) atau Luffy (30 Juta Belly), angka itu hanyalah recehan. Namun bagi Muzan saat ini, uang 2,2 Juta Belly setara dengan dua kali putaran Gacha karakter tingkat Legenda atau dua puluh dua putaran tingkat Kuat. Itu adalah harta karun yang luar biasa.

​"Giyu," perintah Muzan. "Geledah kantong mereka. Ambil semua barang berharga yang mereka miliki."

​Giyu segera melaksanakan perintah tersebut. Tangan boneka itu dengan cepat menggeledah kantong celana dan baju ketiga preman tersebut. Ia menemukan beberapa keping koin emas, gulungan uang kertas yang basah, dan sebuah jam saku berlapis perak yang terlihat curian.

​Giyu menyerahkan semua barang itu kepada Muzan.

​Sistem segera memberikan notifikasi.

«"Menemukan mata uang fisik. Mengonversi ke dalam Belly Counter..."»

«"Total dikonversi: 4.850 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 19.850 Belly."»

​Muzan mengantongi jam saku perak tersebut ke dalam saku celananya yang robek. Ia bisa menjualnya nanti. Sekarang, prioritas utamanya adalah mengubah ketiga mayat hidup ini menjadi uang tunai di markas Angkatan Laut terdekat.

​"Ikat mereka berdua. Kita akan pergi ke markas Angkatan Laut."

​Giyu menemukan seutas tali tambang yang kasar di tumpukan sampah di sudut gang. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia mengikat tangan dan kaki ketiga bajak laut itu, menyambungkan mereka layaknya rentengan ikan hasil tangkapan. Giyu lalu memegang ujung tali tersebut dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bertumpu santai pada gagang pedangnya.

​Muzan menatap formasi mereka. Ia harus menentukan strategi penyamaran. Jika seorang anak kecil berusia 14 tahun yang mengenakan pakaian gembel terlihat menyeret tiga buronan berbahaya, itu akan menarik terlalu banyak perhatian yang tidak diinginkan. Organisasi bayangan atau perwira Angkatan Laut korup mungkin akan menculiknya untuk dijadikan bahan eksperimen atau budak peliharaan. Ia belum cukup kuat untuk melawan sistem kekuasaan dunia ini.

​"Mulai sekarang," gumam Muzan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Giyu, "Kau adalah Giyu Tomioka, seorang pendekar pedang bisu yang berkelana sebagai pemburu hadiah (Bounty Hunter). Aku hanyalah asistenmu, anak yatim piatu yang kau selamatkan dari jalanan dan kau pekerjakan untuk mengurus urusan administrasi dan memegang uangmu."

​Giyu, tentu saja, tidak menjawab. Wajahnya tetap datar. Namun sistem mencatat roleplay (peran) tersebut dan akan secara otomatis menyesuaikan mannerism (perilaku halus) Giyu saat berinteraksi pasif dengan orang lain, selama tidak bertentangan dengan kepribadian asli karakter Giyu.

​"Ayo jalan."

​Mereka berdua keluar dari gang sempit tersebut. Pemandangan Pulau Toroa menjelang sore mulai terlihat jelas. Hujan telah berhenti, menyisakan kabut tipis yang merayap di atas jalanan berbatu yang memantulkan cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.

​Kota pelabuhan itu cukup padat. Bangunan-bangunan kayu berlantai dua dengan atap genteng merah berjajar di sepanjang jalan utama. Kedai-kedai minuman mulai menyalakan lentera gas mereka, memancarkan cahaya hangat yang mengundang para pelaut dan pekerja pelabuhan untuk menghabiskan malam. Suara tawa kasar, dentingan gelas bir, dan musik akordeon terdengar bersahutan dari kejauhan.

​Namun, keramaian itu terhenti seketika ketika Giyu dan Muzan melangkah masuk ke jalan utama.

​Orang-orang yang berlalu lalang spontan menyingkir, membuka jalan bagaikan lautan yang terbelah. Mata mereka membelalak ngeri melihat pemandangan di hadapan mereka. Seorang pemuda tampan dengan haori aneh dua warna berjalan dengan wajah tanpa dosa, sementara satu tangannya dengan santai menyeret tiga pria dewasa yang bersimbah darah melintasi jalanan berbatu. Darah menetes membentuk jejak garis merah yang panjang.

​Di belakang pemuda itu, berjalan seorang anak kecil kurus yang menundukkan kepalanya, terlihat seperti pelayan yang ketakutan.

​Bisik-bisik mulai menyebar di antara kerumunan layaknya wabah.

​"H-Hei... bukankah itu si Jagal Kiri dari kelompok Taring Berdarah?" bisik seorang pedagang buah sambil menunjuk dengan tangan gemetar.

​"Ya Tuhan! Tangan kanannya putus! Dan itu Gorz Si Gada! Mereka berdua adalah buronan dengan nilai hadiah di atas ratusan ribu Belly!" balas seorang pelaut yang sedang memegang botol rum.

​"Siapa pendekar pedang itu? Apakah dia Roronoa Zoro si Pemburu Bajak Laut yang terkenal itu?"

​"Bodoh! Zoro menggunakan tiga pedang dan rambutnya hijau. Pria ini menggunakan pedang aneh dan auranya... auranya sedingin es. Aku tidak bisa merasakan emosi sedikit pun dari wajahnya. Dia benar-benar monster!"

​Muzan mendengarkan semua bisikan itu dengan saksama. Kepalanya tetap tertunduk, memainkan perannya sebagai asisten yang rendah hati, namun di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Reputasi. Di dunia bajak laut, reputasi adalah mata uang kedua setelah Belly. Dengan membangun persona Giyu sebagai pemburu hadiah yang kejam dan tak kenal ampun, orang-orang akan berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan mereka. Dan yang paling penting, tidak ada yang mencurigai bahwa dalang sebenarnya dari kekuatan mematikan itu adalah anak kecil kurus yang berjalan di belakangnya.

​Mereka menyusuri jalan utama selama sepuluh menit hingga akhirnya mereka melihat sebuah bangunan besar yang mendominasi pemandangan kota. Bangunan itu terbuat dari batu bata putih kokoh, dikelilingi oleh tembok tinggi dan meriam-meriam pertahanan di setiap sudutnya. Di atas gerbang utama yang terbuat dari besi tempa, terpampang bendera besar berwarna putih dengan lambang burung camar biru yang membentangkan sayap, memegang tulisan 'MARINE'.

​Markas Angkatan Laut Cabang ke-77.

​Di depan gerbang, dua orang prajurit Angkatan Laut yang sedang berjaga dengan senapan laras panjang tampak tegang. Mereka telah melihat kedatangan Giyu dari kejauhan, dan tangan mereka berkeringat memegang senapan.

​Ketika Giyu berhenti tepat dua meter di depan gerbang, kedua prajurit itu menyilangkan senapan mereka, membentuk barikade darurat.

​"B-Berhenti di sana!" teriak salah satu prajurit, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras terdengar berwibawa. "T-Tunjukkan identitasmu! Apa yang kau bawa itu?!"

​Melalui instruksi mental Muzan, Giyu melepaskan tali tambang di tangannya, membiarkan ketiga tubuh bajak laut itu teronggok di depan gerbang layaknya karung beras. Giyu tetap diam, menatap kedua prajurit itu dengan pandangan kosong.

​Kesunyian Giyu membuat suasana menjadi sangat canggung dan tegang. Kedua prajurit itu mulai berkeringat dingin di bawah tatapan mata biru gelap yang seolah menembus jiwa mereka.

​Di sinilah Muzan mengambil alih panggung.

​Ia melangkah maju dari balik punggung Giyu. Bahunya sedikit diturunkan, memberikan kesan rapuh. Ia menatap kedua prajurit itu dengan pandangan yang seolah penuh harap namun ketakutan.

​"M-Maafkan Tuan saya, Tuan-tuan Angkatan Laut yang terhormat," ucap Muzan dengan suara seraknya yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti anak kecil yang sopan. "Tuan Giyu adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kami adalah pemburu hadiah yang sedang melintas. Kami membawa tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah yang mencoba menyerang kami di gang tadi. Kami ingin menukarkan mereka dengan nilai buronan yang dijanjikan."

​Kedua prajurit itu menghela napas lega secara bersamaan. Ternyata hanya pemburu hadiah, bukan psikopat gila yang ingin menyerang markas.

​"P-Pemburu hadiah, ya? Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Perwira Jaga." Salah satu prajurit segera berlari masuk ke dalam markas, sementara yang satu lagi tetap berjaga, matanya terus melirik ke arah Giyu dengan penuh kewaspadaan.

​Beberapa menit kemudian, prajurit itu kembali dengan seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jas khas perwira Angkatan Laut berpangkat Letnan, lengkap dengan pedang kavaleri di pinggangnya. Letnan itu memiliki bekas luka sayatan di pipi kirinya dan mengisap sebatang cerutu.

​"Aku Letnan Roka," kata pria itu dengan suara berat bariton. Ia berjalan melewati gerbang dan berjongkok di dekat ketiga bajak laut yang tak berdaya itu. Matanya menyipit saat ia memeriksa wajah mereka satu per satu.

​"Gorz Si Gada... Dagger Pete... dan si Jagal Kiri," Letnan Roka bergumam, mengambil selembar kertas buronan kecil dari saku jasnya dan mencocokkannya. Ia bersiul pelan. "Luar biasa. Ketiga orang ini adalah eksekutif rendahan dari kelompok Taring Berdarah. Mereka sudah meneror pedagang di perairan sekitar selama dua bulan terakhir."

​Letnan Roka berdiri, mengembuskan asap cerutunya, dan menatap Giyu dengan pandangan menilai. Ia adalah seorang perwira yang telah melihat banyak pertumpahan darah, namun bahkan ia pun merasa terintimidasi oleh ketenangan absolut yang dipancarkan oleh pemuda berhaori itu. Tidak ada setetes darah pun di pakaiannya, dan pedangnya masih tersarung rapi. Bagaimana dia mengalahkan tiga monster kecil ini dengan begitu bersih?

​"Keterampilan yang luar biasa," puji Letnan Roka. "Kalian beruntung. Ketiganya memiliki total nilai buronan sebesar 650.000 Belly. Karena satu di antaranya cacat permanen namun masih hidup, kami tidak akan memotong nilainya."

​Mata Muzan sedikit berbinar di balik poni rambutnya yang kotor. 650.000 Belly. Angka itu melebihi ekspektasi awalnya. Tampaknya nilai buronan gabungan kru di East Blue cukup fluktuatif tergantung pada tingkat kerusakan yang mereka timbulkan belakangan ini.

​"Siapa namamu, Pendekar?" tanya Letnan Roka, berjalan mendekati Giyu.

​Muzan membuat Giyu menatap lurus ke mata Roka, lalu Giyu membuka mulutnya. Suara yang keluar sangat datar, dingin, dan berwibawa, sangat kontras dengan penampilannya yang relatif muda.

​"Giyu Tomioka."

​Itu adalah pertama kalinya warga lokal mendengar suara sang boneka. Dan hanya dua kata itu sudah cukup untuk membuat beberapa prajurit Angkatan Laut di sana merinding. Suara itu seolah tidak memiliki emosi manusiawi.

​"Tomioka..." Letnan Roka mengulang nama itu, mencoba menggali ingatannya. "Aku belum pernah mendengar nama itu di East Blue. Apa kau datang dari lautan lain? Dengan keahlian seperti ini, kau bisa dengan mudah menjadi Perwira menengah jika bergabung dengan Angkatan Laut. Apakah kau tertarik?"

​Penawaran rekrutmen. Hal yang wajar dilakukan oleh Angkatan Laut ketika melihat bakat yang menjanjikan, terutama setelah mereka kehilangan banyak moral akibat kekalahan beruntun markas-markas cabang oleh bajak laut baru yang bermunculan.

​Muzan mengontrol Giyu untuk menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."

​Hanya itu. Singkat, padat, dan menolak ruang untuk diskusi lebih lanjut.

​Letnan Roka tersenyum kecut, memahami tipe-tipe pendekar pedang penyendiri yang keras kepala. "Baiklah. Kami tidak bisa memaksa. Prajurit! Bawa ketiga sampah ini ke sel isolasi. Dan siapkan uang hadiahnya sebesar 650.000 Belly dari brankas!"

​"Siap, Letnan!"

​Kurang dari sepuluh menit kemudian, seorang prajurit membawakan sebuah koper kulit kecil berwarna cokelat tua. Letnan Roka membukanya sebentar, memperlihatkan tumpukan uang kertas Belly yang diikat rapi, sebelum menyerahkannya kepada Giyu.

​Namun, sebelum Giyu mengambilnya, Muzan dengan sigap melangkah maju dan menerima koper itu dengan kedua tangannya yang kurus. Koper itu cukup berat bagi tubuhnya saat ini, namun sensasi memegang uang sungguhan di dunia baru ini memberinya kepuasan tersendiri.

​"T-Terima kasih, Tuan Letnan. Kami akan pamit undur diri," kata Muzan, membungkuk sopan seraya memeluk koper itu di dadanya.

​Ia tidak langsung menyerap uang itu ke dalam Sistem. Melakukan sihir menghilangkan koper di depan mata Angkatan Laut adalah tindakan bodoh yang akan mengundang interogasi. Ia akan menyerapnya nanti saat mereka berada di tempat yang aman.

​"Berhati-hatilah," pesan Letnan Roka sebelum memutar tubuhnya kembali ke pangkalan. "Kalian baru saja menangkap anak buah Kapten Barts. Pria itu adalah monster seberat dua ratus kilogram dengan rahang berlapis baja yang bisa menghancurkan tiang kapal. Jika dia tahu kalian yang menyerahkan anak buahnya, dia akan memburu kalian sampai ke ujung pulau."

​"Kami akan mengingatnya," balas Muzan sopan, sambil memberi isyarat mental kepada Giyu untuk membalikkan badan dan pergi.

​Mereka berdua berjalan menjauh dari markas Angkatan Laut, kembali menyusuri jalanan kota yang kini mulai tertutup kegelapan malam. Lampu-lampu jalan menyala terang. Muzan merasa sangat puas. Rencana tahap pertamanya berjalan sangat mulus. Dengan tambahan 650.000 Belly, total saldo sistemnya akan mencapai sekitar 669.850 Belly. Ini adalah fondasi yang sangat kuat. Ia bisa menyewa kamar penginapan mewah malam ini, membeli makanan enak, pakaian baru, dan mandi air hangat.

​Ia mulai merencanakan masa depan. Jika aku bisa mengumpulkan hingga 1 Juta Belly, aku bisa membuka fitur Shop dan mungkin melakukan Gacha tingkat Legenda. Boneka tingkat Legenda mungkin sekelas dengan para Komandan Yonko atau Shichibukai di dunia ini.

​Namun, takdir di dunia One Piece jarang sekali membiarkan seseorang merencanakan hari esok dengan tenang.

​Tepat ketika Muzan dan Giyu berada di tengah alun-alun kota, berniat mencari penginapan, sebuah suara ledakan yang sangat menggelegar memecah keheningan malam.

​BOOOMMM!!!

​Gelombang kejut yang kuat menyapu jalanan, memecahkan kaca-kaca jendela kedai dan menerbangkan debu tebal ke udara. Orang-orang menjerit histeris dan berlarian panik.

​Muzan menoleh dengan cepat ke arah sumber ledakan. Matanya menyipit, mencoba menembus kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di langit malam.

​Arah ledakan itu berasal dari pelabuhan utama kota.

​Suara sirine bahaya dari markas Angkatan Laut tiba-tiba meraung-raung, suaranya melengking membelah malam. Di tengah kepanikan warga yang berlarian mencari tempat berlindung, Muzan bisa melihat siluet sebuah kapal raksasa bersandar secara paksa di pelabuhan, menghancurkan dermaga kayu. Bendera tengkorak dengan rahang besi tergambar di layarnya yang hitam.

​Dari arah asap ledakan, terdengar suara tawa yang begitu besar dan serak, seolah keluar dari tenggorokan seekor beruang raksasa.

​"ANGKATAN LAUT KEPARAT! KEMBALIKAN ANAK BUAHKU, ATAU AKU AKAN MERATAKAN KOTA INI MENJADI LAUTAN API!"

​Orang-orang di sekitar alun-alun menjerit semakin kencang.

​"I-Itu Kapten Barts! Rahang Besi Barts telah tiba!" teriak seorang warga yang ketakutan.

​Muzan berdiri diam di tengah arus manusia yang berlarian. Wajahnya yang kotor terpapar cahaya merah dari api yang mulai berkobar di kejauhan. Angin panas meniup rambutnya. Bukannya merasa takut, sudut bibir anak itu malah tertarik membentuk seringai tipis yang mengerikan.

​Sebuah panel biru transparan mendadak muncul di depan pandangannya, berkedip dengan warna merah peringatan.

​«"DING!"»

«"MISI DARURAT TERPICU: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»

«"Kondisi: Kapten Barts (Bounty: 2.200.000 Belly) telah menyerang Pulau Toroa untuk mencari anak buahnya."»

«"Tujuan Utama: Lindungi kota Toroa ATAU Kalahkan Kapten Barts beserta krunya."»

«"Hadiah Penyelesaian Misi: Tiket Gacha Karakter Menengah x3, 50.000 Belly ekstra, dan Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot)!"»

​Napas Muzan tertahan sejenak saat matanya membaca kalimat terakhir dari daftar hadiah tersebut.

​Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot).

​Ini berarti, jika ia menyelesaikan misi ini, ia tidak hanya mendapatkan uang tunai lebih dari dua juta Belly dari bounty Barts, tetapi sistemnya akan berevolusi, memungkinkannya mengendalikan dua boneka sekaligus secara bersamaan. Itu adalah lompatan kekuatan yang eksponensial. Kombinasi dua karakter anime yang kuat dalam satu pertarungan akan membuka peluang strategi yang tak terbatas.

​Muzan menatap Giyu Tomioka yang masih berdiri diam di sampingnya, tangan kirinya siap di gagang pedang Nichirin, menunggu perintah mutlak dari tuannya.

​"Giyu," bisik Muzan, matanya berkilat di tengah cahaya kobaran api. "Malam ini kita lembur. Kita akan berburu beruang."

Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi

Langit malam di atas Pulau Toroa yang tadinya tenang kini diwarnai warna jingga kemerahan akibat kobaran api. Asap tebal membumbung tinggi, menutupi cahaya bintang dan bulan sabit yang menggantung di ufuk timur. Jeritan kepanikan warga, suara ledakan mesiu, dan derit bangunan kayu yang runtuh berpadu menjadi

simfoni kehancuran yang memekakkan telinga.

Di tengah arus manusia yang berlarian menjauhi pelabuhan, Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming. Mata hitamnya yang dalam memantulkan kilatan api dari kejauhan. Otaknya, yang terbiasa memproses informasi dengan kecepatan dan rasionalitas tinggi, langsung memetakan situasi.

*Kapten Barts memiliki nilai buronan 2.200.000 Belly. Dia membawa seluruh krunya. Mereka bersenjata lengkap dan sedang mengamuk. Sementara itu, markas Angkatan Laut cabang ke-77 hanya memiliki prajurit berpangkat rendah yang dipimpin oleh seorang Letnan.*

Muzan menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Tangan yang memegang koper kulit berisi 650.000 Belly itu kurus dan gemetar ringan—bukan karena takut, melainkan karena batas fisik seorang anak berusia empat belas tahun yang kekurangan gizi. Kekuatan fisiknya hanya berada di angka 4. Satu peluru nyasar dari senapan *flintlock* atau serpihan kayu akibat ledakan meriam sudah cukup untuk mengakhiri kehidupan keduanya ini bahkan sebelum benar-benar dimulai.

"Aku tidak bisa membawa tubuh asliku ke medan pertempuran," gumam Muzan dalam hati. "Ini adalah kelemahan terbesar dari *Puppet System*. Tidak peduli sekuat apa pun boneka yang kumiliki, jika tubuh asliku hancur, semuanya selesai."

Ia menoleh ke arah bangunan-bangunan di sekitarnya. Matanya tertuju pada sebuah gereja tua yang terbuat dari batu bata abu-abu kokoh, berjarak sekitar lima ratus meter dari pusat pelabuhan. Gereja itu memiliki menara lonceng yang menjulang tinggi, memberikan titik pantau strategis yang sempurna untuk melihat seluruh kota tanpa terdeteksi.

"Kita bergerak ke menara itu," perintah Muzan secara mental kepada Giyu Tomioka yang berdiri setia di sampingnya.

Tanpa menarik perhatian warga yang sedang panik, Muzan berlari menuju gereja tersebut, diikuti oleh Giyu yang bergerak bagaikan bayangan. Sesampainya di gereja yang telah ditinggalkan oleh pendeta dan jemaatnya itu, Muzan segera menaiki tangga spiral kayu yang sempit dan berdebu menuju puncak menara lonceng.

Dari atas sana, angin laut berhembus kencang, membawa aroma belerang dan darah. Muzan meletakkan koper kulitnya di lantai kayu yang berderit. Ia duduk bersandar pada dinding lonceng perunggu raksasa, menyembunyikan dirinya sepenuhnya dalam bayang-bayang.

Muzan meletakkan tangannya di atas koper. "Sistem, serap semua mata uang fisik ini."

«"Mengonversi mata uang fisik ke dalam Belly Counter..."»

«"Total dikonversi: 650.000 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 669.850 Belly."»

Koper itu kini kosong. Muzan menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia menutup matanya dan memfokuskan seluruh kesadarannya pada *Sistem*.

"Mulai sekarang, aku akan mentransfer sembilan puluh persen kesadaranku ke dalam tubuh Giyu Tomioka. Sisakan sepuluh persen untuk menjaga insting bertahan hidup tubuh asliku," perintah Muzan.

«"Sinkronisasi Kesadaran Tingkat Lanjut diaktifkan."»

«"Peringatan: Mentransfer 90% kesadaran ke dalam Boneka akan membuat Host merasakan setiap sensasi yang dialami Boneka, termasuk benturan fisik, meskipun Boneka tidak bisa merasakan sakit secara biologis. Kelelahan mental akan meningkat secara signifikan."»

"Lakukan."

Dalam sekejap mata, persepsi Muzan berpindah. Kegelapan di menara lonceng tergantikan oleh pemandangan pelabuhan yang terbakar. Ia kini tidak lagi melihat melalui mata anak kecil yang rabun dan lelah, melainkan melalui sepasang mata biru gelap milik seorang Hashira—mata yang mampu melihat debu menari di udara, mata yang bisa membaca pergerakan otot musuh sebelum mereka menyerang.

Muzan menggerakkan jari-jemari tangan kanannya yang kini terbungkus seragam pemburu iblis.

Kekuatan, kelincahan, dan stamina yang meluap-luap mengalir di setiap pembuluh darah boneka ini. Ini adalah kekuatan puncak manusia yang telah dilatih hingga menembus batas neraka.

Ia menatap ke bawah, ke arah pelabuhan yang telah berubah menjadi medan pembantaian.

Dari atas menara, Muzan bisa melihat dengan jelas sang antagonis utama malam ini. Kapten Barts "Rahang Besi". Pria itu adalah raksasa setinggi dua setengah meter dengan otot yang menonjol seperti bongkahan batu. Sesuai julukannya, rahang bawah pria itu digantikan oleh pelat baja tebal berwarna perak kotor yang dipasang dengan baut-baut kasar menembus dagingnya. Di tangan kanannya, Barts memegang sebuah jangkar kapal raksasa berantai besi yang ia ayunkan layaknya mainan anak-anak.

Di sekeliling Barts, puluhan bajak laut bawahannya sedang menjarah dan membakar toko-toko.

Pasukan Angkatan Laut yang dipimpin oleh Letnan Roka telah tiba di lokasi, namun formasi mereka hancur berantakan. Senapan musket yang mereka tembakkan tidak mampu menembus otot tebal Barts, dan setiap kali Barts mengayunkan jangkarnya, tiga hingga empat prajurit Angkatan Laut terlempar ke udara dengan tulang yang remuk.

"Tembak! Terus tembak! Jangan biarkan dia maju ke alun-alun kota!" teriak Letnan Roka, wajahnya berlumuran darah dan jelaga. Ia mengangkat pedang kavalerinya, mencoba mencari celah untuk menyerang, namun raungan tawa Barts menggetarkan nyalinya.

"BAHAHAHA! Hanya ini kekuatan Angkatan Laut Cabang 77?!" Barts tertawa meremehkan. Suaranya terdengar seperti logam yang saling bergesekan. Ia menarik rantai jangkarnya, memutar senjata seberat ratusan kilogram itu di atas kepalanya menciptakan angin puyuh kecil, lalu menghantamkannya ke arah barisan prajurit Roka.

*BOOOM!*

Batu-batu jalanan hancur berkeping-keping. Letnan Roka nyaris tidak berhasil melompat menghindar, namun gelombang kejutnya membuat tubuh perwira itu terpelanting menghantam laras meriam yang hancur. Roka memuntahkan darah segar, pandangannya berkunang-kunang.

"Letnan!" teriak beberapa prajurit yang tersisa.

Barts berjalan mendekati Roka yang terkapar. Rahang besinya berderit saat ia menyeringai. "Katakan padaku, Letnan sampah. Di mana tiga anak buahku yang kau tangkap? Jika kau menyerahkan mereka kembali padaku beserta seluruh uang di brankasmu, aku mungkin akan menyisakan kepala di lehermu."

"M-Mimpi saja, kau bajingan..." Roka mendesis, mencoba berdiri meski kakinya gemetar. Sebagai prajurit, ia tidak akan memohon ampun pada bajak laut.

Barts mendengus kasar. "Kalau begitu, matilah!" Raksasa itu mengangkat jangkarnya tinggi-tinggi, bersiap meremukkan tubuh Letnan Roka menjadi daging giling.

Namun, sebelum jangkar besi itu sempat turun menjemput nyawa sang Letnan, sebuah suara yang sangat datar, dingin, dan tenang memotong riuhnya medan pertempuran. Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana, ia menembus hiruk-pikuk api dan teriakan.

"Kau berisik sekali."

Barts menghentikan gerakannya. Matanya yang liar mencari sumber suara. Letnan Roka, yang mengira ajalnya sudah tiba, perlahan membuka mata dan menoleh ke arah tumpukan reruntuhan atap kayu di sebelah kanannya.

Di atas reruntuhan kayu yang terbakar itu, berjongkok sesosok pemuda dengan haori dua warna yang khas. Tangan kirinya beristirahat santai di atas lututnya, sementara tangan kanannya memegang gagang pedang yang belum dicabut dari sarungnya. Angin malam meniup rambut hitamnya yang diikat acak. Matanya yang berwarna biru gelap menatap lurus ke arah Barts, memancarkan ketiadaan emosi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Itu adalah Giyu Tomioka, yang sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan Kibutsi.

Letnan Roka melebarkan matanya. "K-Kau... Pendekar Pedang Tomioka! Apa yang kau lakukan di sini? Menyingkirlah, dia monster!"

Muzan, melalui tubuh Giyu, sama sekali tidak mempedulikan peringatan Roka. Ia berdiri perlahan. Pandangannya tetap terkunci pada sosok raksasa di depannya. Dalam benaknya, kalkulasi matematis tentang pertarungan telah dimulai. *Tinggi musuh 2,5 meter. Berat diperkirakan 250 kilogram. Senjata: Jangkar besi berantai, jangkauan serang sekitar 4 meter. Titik buta: Kecepatan rotasi tubuh bagian bawahnya lambat. Titik vital yang terlindungi: Rahang bawah dan kemungkinan sebagian leher depan oleh pelat baja.*

"Siapa kau, bocah sialan?" geram Barts. Rahang besinya bergemeletuk. "Jangan ikut campur urusan Bajak Laut Taring Berdarah jika kau tidak ingin mati muda!"

Muzan tidak menjawab. Sebagai seorang perencana yang pragmatis, ia tahu penjahat sering mati karena terlalu banyak bicara. Ia tidak akan mengulangi klise kebodohan itu.

Giyu Tomioka mengambil napas dalam-dalam. Oksigen mengisi paru-parunya hingga kapasitas maksimal, mempercepat aliran darah yang membawa energi ke setiap serat ototnya. Ini adalah fondasi dari Ilmu Pernapasan (Total Concentration Breathing). Udara di sekitar Giyu tiba-tiba terasa lebih lembab dan dingin.

Tanpa sepatah kata pun, Giyu melompat dari reruntuhan bangunan itu. Alih-alih jatuh dengan berat ke tanah, kakinya menyentuh tanah berbatu dengan seringan bulu, dan dalam seperseribu detik kemudian, tanah di bawah kakinya retak.

Sosok Giyu menghilang dari pandangan Barts dan Letnan Roka.

"Cepat sekali!" batin Roka terkejut.

Barts, yang mengandalkan insting hewaninya untuk bertahan hidup di lautan, merasakan hawa dingin yang mematikan mendekat dari arah depan. Dengan panik, ia mengayunkan jangkarnya secara horizontal untuk menyapu apa pun yang mendekat.

Namun, ayunan itu hanya membelah udara kosong.

Muzan, dengan presisi luar biasa yang diwariskan oleh memori otot sang Hashira, telah memprediksi arah serangan itu berdasarkan pergerakan bahu Barts. Giyu merunduk di bawah ayunan jangkar besi seberat ratusan kilogram itu dengan jarak hanya selisih beberapa sentimeter dari ujung rambutnya.

Dalam posisi merunduk dan terus meluncur ke depan, tangan kanan Giyu mencabut pedang *Nichirin* dari sarungnya.

Suara *SRAATTT!* terdengar nyaring diiringi kilatan cahaya biru tua yang indah. Bilah pedang yang kini terekspos memancarkan aura dingin yang mengembunkan udara di sekitarnya.

**"Pernapasan Air, Bentuk Keempat: Pasang Surut Menyerang (Striking Tide)."**

Muzan mengarahkan pedang itu untuk melakukan serangkaian tebasan beruntun yang mengalir tanpa henti layaknya gelombang pasang surut. Sasarannya bukanlah bagian vital yang sulit dijangkau, melainkan titik-titik persendian musuh.

Tebasan pertama menyasar pergelangan tangan kanan Barts yang memegang jangkar.

Tebasan kedua mengarah ke tendon Achilles di kaki kiri Barts.

Tebasan ketiga membelah urat bisep di lengan kiri sang kapten raksasa.

Ketiga tebasan itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik. Begitu mulus, begitu elegan, namun sangat destruktif. Bilah *Nichirin* milik Giyu menebas daging dan otot musuh layaknya memotong mentega panas, diiringi ilusi aliran air biru yang mengikuti jejak lintasan pedang.

"AAARRRGGGGHHHH!!!!"

Raungan penderitaan yang luar biasa meledak dari tenggorokan Barts. Jari-jarinya kehilangan tenaga, membuat jangkar besinya terlepas dan menghantam tanah dengan suara dentuman keras. Ia terhuyung mundur, darah segar menyembur dari tiga luka sayatan yang sangat dalam. Otot-otot yang mengendalikan pergerakan utamanya telah diputus.

Para kru bajak laut yang tadinya sedang sibuk menjarah tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka. Mereka menoleh dan membeku melihat kapten mereka yang tak terkalahkan menjerit kesakitan, terhuyung mundur di hadapan seorang pemuda kurus yang pedangnya bahkan tidak memiliki noda darah di atasnya.

"K-Kapten!" teriak salah satu kru.

"Bunuh bocah itu! Cepat bunuh dia!" teriak bawahan lainnya yang panik.

Lebih dari belasan bajak laut mencabut pedang, tombak, dan senapan mereka, lalu berlari mengeroyok Giyu dari berbagai arah.

Di atas menara lonceng, sudut bibir Muzan sedikit terangkat membentuk seringai tipis. Pertarungan kelompok adalah tempat di mana Teknik Pernapasan Air bersinar paling terang. Fleksibilitas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan aliran musuh tidak tertandingi.

Muzan tidak membuat Giyu mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju ke tengah kepungan belasan orang tersebut.

"Tembak!" perintah salah satu bajak laut. Tiga orang penembak jitu mengarahkan senapan laras panjang mereka dan menarik pelatuk. Tiga butir peluru timah melesat dengan kecepatan tinggi ke arah tubuh Giyu.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kesebelas: Ketenangan Mati (Lull)."**

Ini adalah teknik orisinal ciptaan Giyu Tomioka sendiri, dan Muzan kini memegang kuncinya.

Seketika, lingkungan di sekitar Giyu seolah berhenti bergerak. Waktu terasa melambat. Semua suara hiruk pikuk pertempuran memudar, digantikan oleh keheningan mutlak dari sebuah danau yang sangat tenang tanpa riak sedikit pun.

Dengan pergerakan pedang yang sangat minim, halus, dan nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, pedang *Nichirin* Giyu menangkis ketiga peluru timah tersebut dalam waktu bersamaan.

*Ting! Ting! Ting!*

Ketiga peluru itu terbelah menjadi dua dan jatuh tanpa bahaya di dekat kaki Giyu.

Para bajak laut ternganga. Mata mereka seolah keluar dari rongganya. Menangkis peluru dengan pedang bukanlah hal yang mustahil di Grand Line, tetapi melihatnya secara langsung di East Blue adalah pemandangan yang menghancurkan nalar dan mental mereka.

Ketenangan itu hanya berlangsung sedetik, sebelum Muzan mengubah ritmenya menjadi serangan mematikan.

**"Pernapasan Air, Bentuk Ketiga: Tarian Arus (Flowing Dance)."**

Giyu mulai bergerak. Kakinya melangkah dengan pola yang sangat tidak teratur, meliuk-liuk bagaikan aliran air sungai yang membelah bebatuan. Ia berayun melewati kerumunan bajak laut itu layaknya penari yang sedang melakukan pertunjukan mematikan.

Setiap kali Giyu melewati seorang bajak laut, kilatan pedang air birunya menyusul.

Muzan memastikan tidak ada gerakan yang sia-sia.

Ia tidak menargetkan leher untuk menghindari cipratan darah yang berlebihan, melainkan menargetkan urat nadi di pergelangan tangan, urat lutut, dan bagian punggung pedang untuk menghantam titik saraf di ulu hati. Ia ingin melumpuhkan, bukan sekadar membunuh tanpa alasan, karena orang-orang ini mungkin masih memiliki nilai buronan kecil.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, Tarian Arus itu berhenti. Giyu kembali berdiri dalam posisi netralnya, memunggungi kerumunan belasan bajak laut tersebut. Air ilusi dari pedangnya memercik pelan ke tanah.

Di belakangnya, belasan bajak laut itu serempak menjatuhkan senjata mereka. Beberapa detik kemudian, luka-luka sayatan meledak secara bersamaan, menyemburkan darah ke udara. Mereka berjatuhan ke tanah satu per satu bagaikan daun kering yang ditiup angin badai. Erangan kesakitan menggema memenuhi alun-alun.

Pasukan Angkatan Laut yang tersisa, termasuk Letnan Roka, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mulut menganga. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka baru saja menyaksikan pembantaian artistik terindah dan paling menakutkan yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

"M-Monster..." bisik Letnan Roka tak percaya. "Apakah dia pemakan Buah Iblis? Kemampuan berpedang macam apa itu..."

Namun, pertarungan belum sepenuhnya usai.

Di ujung jalan setapak, Barts "Rahang Besi" menggunakan lengan kanannya yang masih berfungsi sebagian untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Matanya memerah akibat kombinasi rasa sakit yang luar biasa dan kemarahan yang mendidih. Ia telah kehilangan anak buahnya, harga dirinya, dan separuh kemampuan geraknya dalam hitungan detik.

"Sialan... KAU SIALAAAAAANNN!" Barts meraung keras hingga pita suaranya nyaris robek. "TIDAK ADA YANG BISA MEMPERMALUKAN RAHANG BESI BARTS!"

Dengan sisa tenaga terakhir yang didorong oleh adrenalin, Barts mengabaikan luka di kakinya. Ia berlari menerjang ke arah Giyu dengan mulut terbuka lebar. Rahang besinya, yang dilapisi logam keras dengan deretan gigi bergerigi tajam, siap mengoyak leher pemuda itu.

Ini adalah serangan bunuh diri terakhir. Kecepatannya jauh melampaui gerakan Barts sebelumnya. Tubuh besarnya bertindak seperti peluru meriam berdaging yang melesat untuk menghancurkan apa pun di depannya.

Muzan, dari atas menara lonceng, menatap serangan itu dengan dingin.

*Fisik yang luar biasa,* analisis Muzan. *Dunia One Piece memang memiliki manusia-manusia dengan vitalitas tidak masuk akal. Ototnya terpotong, tapi dia masih bisa menggunakan kontraksi paksa untuk menerjang. Sayangnya, tindakan emosional adalah jalan tercepat menuju kematian.

Muzan tidak menyuruh Giyu menghindar. Jika ia menghindar, tubuh raksasa Barts akan terus melaju dan menghantam markas Angkatan Laut atau warga yang mungkin bersembunyi di baliknya. Ia harus menghentikannya dari depan.

Giyu mengangkat pedangnya ke atas kepala. Ia mengambil napas yang jauh lebih dalam dan lambat dari sebelumnya. Oksigen mengalir menekan paru-parunya, memompa energi besar ke lengannya.

Udara di sekitar Giyu seolah berubah menjadi lautan yang bergejolak. Suara gemuruh air terjun gaib mulai terdengar menenggelamkan raungan kapten Barts.

**"Pernapasan Air, Bentuk Kedelapan: Benturan Air Terjun (Waterfall Basin)."**

Barts berada kurang dari satu meter di depan Giyu, rahang besinya siap mengatup leher sang Hashira.

Pada saat yang bersamaan, Giyu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tebasan vertikal ini tidak tajam seperti pisau yang menyayat, melainkan membawa massa yang sangat berat, seolah-olah ton berton-ton air terjun raksasa dijatuhkan dari langit langsung ke atas pedangnya.

*TRANGGGGG!!!!!*

Bilah pedang *Nichirin* menghantam telak bagian tengah rahang besi Barts.

Benturan antara baja kuat melawan baja pembasmi iblis yang dilapisi teknik pernapasan menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata. Gelombang kejut dari hantaman itu meledak, menyapu debu dan sisa-sisa reruntuhan kayu di sekitar mereka dalam radius sepuluh meter. Angkatan Laut yang menonton harus menutupi wajah mereka dari badai angin yang tercipta.

Waktu seolah membeku sesaat.

Mata Barts melotot lebar, urat-urat merah pecah di matanya. Ia tidak percaya pada apa yang dirasakannya. Raksasa seberat 250 kilogram yang menerjang dengan kecepatan penuh itu dihentikan sepenuhnya oleh tebasan vertikal seorang pemuda kurus, tanpa membuat pemuda itu mundur satu sentimeter pun dari posisinya!

Kemudian, terdengar suara kecil yang mematahkan kebuntuan itu.

*Kret... Krak...*

Garis retakan halus muncul di rahang baja kebanggaan Kapten Barts, tepat di bawah titik di mana pedang Giyu menekan.

*KRAK! PRANGGGG!!!*

Logam tebal itu hancur berkeping-keping. Tebasan *Waterfall Basin* yang sangat berat itu menerobos pertahanan besi Barts, membelah rahang buatan tersebut, dan terus melaju meremukkan tulang selangka serta tulang dada raksasa itu sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu.

Tanah alun-alun meledak terbuka, menciptakan kawah dangkal dengan retakan memanjang layaknya jaring laba-laba.

Barts menyemburkan darah segar dari mulutnya. Tubuh besarnya ambruk ke tanah, matanya memutih, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Rahang besinya yang menakutkan kini hanyalah rongsokan logam yang berserakan di genangan darah.

Giyu Tomioka berdiri di atas tubuh raksasa yang tumbang itu. Ia perlahan mengangkat pedangnya, mengibasnya dengan gerakan menyamping yang elegan untuk membuang sisa-sisa darah yang menempel di bilah *Nichirin*, lalu menyarungkannya kembali ke pinggangnya dengan bunyi *KLIK!* yang tajam.

Medan pertempuran itu kembali sunyi. Hanya suara api yang berderak melahap sisa bangunan yang terdengar. Pasukan Angkatan Laut dan Letnan Roka menatap Giyu dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan absolut.

Di atas menara lonceng yang tersembunyi dalam kegelapan, Muzan Kibutsi melepaskan kendali utamanya. Ia kembali bernapas dengan ritme normal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Mentransfer kesadaran penuh untuk pertarungan intens menggunakan stamina mentalnya secara drastis, menyebabkan sakit kepala yang berdenyut hebat.

Namun, rasa sakit itu hilang seketika saat sebuah layar holografik biru menutupi pandangannya, memancarkan cahaya kemenangan.

«"DING!"»

«"MISI DARURAT SELESAI: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»

«"Evaluasi: Pertunjukan Kekuatan Mutlak. Menyelesaikan konflik dengan dominasi total."»

«"Hadiah didistribusikan: 50.000 Belly, Tiket Gacha Karakter Menengah x3."»

«"PENGUMUMAN PENTING: Kapasitas Pengendalian Boneka meningkat! (+1 Slot)."»

«"Host kini dapat mengendalikan 2 Boneka secara bersamaan."»

Senyum kepuasan mengembang di wajah pucat Muzan. Namun, sebelum ia sempat memeriksa hadiah-hadiah barunya, sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan—terlalu pelan untuk didengar oleh telinga manusia biasa, namun tertangkap jelas oleh pendengaran sisa Giyu di alun-alun bawah—mendekat dari arah gang gelap di sebelah timur markas Angkatan Laut.

Di alun-alun, Giyu Tomioka tiba-tiba menoleh ke arah gang gelap tersebut. Tangan kirinya kembali mencengkeram gagang pedangnya.

Letnan Roka menyadari perubahan postur sang pendekar, dan segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiaga.

Dari dalam kegelapan gang yang tidak tersentuh cahaya api, keluarlah sosok seseorang. Hawa keberadaan orang ini sangat berbeda dengan gerombolan bajak laut rendahan yang baru saja disapu bersih oleh Giyu. Hawa ini tenang, tajam, dan mematikan.

Orang itu berjalan keluar dari bayang-bayang. Ia adalah seorang pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja tak dikancingkan, *haramaki* (sabuk perut tebal) berwarna hijau, dan celana gelap. Di pinggang kanannya, terselip tidak hanya satu, tidak dua,

melainkan tiga buah pedang katana bersarung rapi.

Rambut pria itu berwarna hijau lumut yang sangat mencolok.

Mata pria berambut hijau itu mengamati kehancuran di alun-alun, sebelum akhirnya tatapan tajam bagaikan pedang miliknya terkunci pada sosok Giyu Tomioka. Sudut bibirnya menyeringai antusias, memperlihatkan aura haus darah yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup di ujung mata pedang.

Di atas menara lonceng, mata Muzan menyipit tajam. Sakit kepalanya seolah menguap digantikan oleh lonjakan adrenalin baru.

*Roronoa Zoro,* batin Muzan.

Pemuda berambut hijau itu meletakkan tangan di gagang salah satu pedangnya. "Aku kebetulan sedang lewat karena mendengar ada bajak laut ber-bounty besar di kota ini," ucap Zoro dengan suara berat. Matanya menatap Giyu dengan tatapan menantang yang membakar. "Tapi sepertinya aku menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada uang. Hei, kau yang berhaori dua warna... Kau pengguna pedang, kan? Mau saling mengukur kekuatan denganku?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!