Indonesia
NovelToon NovelToon

Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Kepulan Asap Terakhir di Bumi

DUAARRR!

Suara ledakan keras memecah keheningan malam di pinggir jalan raya kota yang selalu sibuk itu.

Gelombang panas yang teramat sangat menyapu area seluas sepuluh meter dalam hitungan detik.

Sebelum ledakan gila itu terjadi, suasana di gerobak angkringan sederhana milik Lin Mo sebenarnya sangat tenang.

Aroma harum gurih dari lemak sate usus dan kikil membumbung tinggi ke udara malam.

"Mas Lin Mo, sate kikilnya sepuluh tusuk lagi, bakarnya agak garing ya!" seru seorang pembeli yang rela berdiri hampir satu jam.

Lin Mo tersenyum tipis sembari mengibas-ngibaskan kipas bambunya dengan irama yang sangat teratur.

Settt!

Jari telunjuk tangan kirinya menjentik secara tersembunyi ke arah tumpukan arang kayu di bawah panggangan besi.

Percikan api kecil berwarna agak keemasan melompat keluar dari jemarinya.

Itu adalah bakat rahasia milik Lin Mo yang tidak pernah diketahuinya secara pasti dari mana asalnya.

Ia bisa mengendalikan suhu dan pergerakan api hanya menggunakan kehendak pikirannya saja.

"Tenang saja, sate kikil garapan saya tidak pernah gagal membakar lidah," kata Lin Mo santai.

Pfffuuushhh!

Api di atas panggangan tiba-tiba membesar tipis melingkupi seluruh permukaan sate tanpa membuatnya gosong sedikit pun.

Daging kikil itu meresap bumbu kecap pedas gurih secara sempurna hingga ke serat terkubur paling dalam.

"Gila, aroma satemu ini benar-benar bikin ketagihan setengah mati, Lin Mo!" puji pelanggan lain yang sedang mengunyah penuh kenikmatan.

Lin Mo menyeringai bangga mendengar pujian yang sudah menjadi makanan sehari-harinya itu.

"Ini namanya teknik Api Murni Pemanggang Arang Level 99," gumam Lin Mo dalam hati sambil terkekeh pelan.

Pria muda berusia dua puluh empat tahun itu sangat menikmati hidupnya yang sederhana ini.

Ia tidak punya cita-cita tinggi seperti menjadi pengusaha kaya raya atau pejabat ternama.

Bagi Lin Mo, melihat orang makan sate buatannya sampai merem-melek sudah cukup memberikan kepuasan tiada tanding.

Kroookkk...

Tiba-tiba terdengar suara aneh berdesis sangat keras dari arah dapur rumah makan di belakang gerobaknya.

Desisan itu terdengar makin lama makin melengking dan menggetarkan tanah sekitar.

Lin Mo menghentikan gerak kipas bambunya dan menoleh ke arah sumber suara dengan dahi berkerut.

"Suara apa itu?" tanya salah satu pembeli yang mulai merasa tidak tenang.

"Sepertinya ada yang tidak beres dengan tabung gas rumah makan sebelah," sahut Lin Mo membatin dengan perasaan buruk.

Pshhhhh!

Bau gas yang sangat menyengat langsung memenuhi udara di sekitar angkringan dalam sekejap mata.

"Lari! Tabung gas besar di dalam bocor parah!" teriak seorang juru masak yang berlari keluar dari rumah makan tersebut.

Para pelanggan angkringan Lin Mo langsung panik dan berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.

"Hei! Sate kalian belum dibayar!" teriak Lin Mo panik melihat pelanggannya kabur begitu saja.

Namun sebelum Lin Mo sempat melangkah pergi menyelamatkan gerobak kesayangannya, nasib sial berkata lain.

Sebuah percikan api dari kompor sebelah menyambar semburan gas bertekanan tinggi tersebut.

DUAARRR!

Ledakan mahadahsyat tercipta dan menghancurkan bangunan rumah makan beserta gerobak angkringan Lin Mo.

Tubuh Lin Mo terlempar belasan meter ke udara bersamaan dengan serpihan kayu dan arang yang membara.

"Aduh... sate kikilku..." bisik Lin Mo meratapi nasibnya di tengah rasa sakit yang memuncak.

Pandangan mata Lin Mo secara perlahan mulai mengabur dan menjadi gelap gulita secara total.

Sensasi dingin melingkupi jiwanya yang perlahan memisah dari jasad di atas tanah membara.

Apakah ini rasanya mati?

Mengapa rasanya begitu hampa dan gelap tanpa ada aroma sate sedikit pun?

Tiba-tiba sebuah suara aneh bergema di dalam kepala Lin Mo secara mendadak.

TING!

[Jiwa terdeteksi cocok dengan Kualifikasi Dewa Api Sejati]

[Memulai proses transmigrasi jiwa ke Alam Fantasi Kerajaan Aethelgard]

[Mengaktifkan Sistem Angkringan Ilahi...]

"Suara apa ini? Sistem?" batin Lin Mo kaget di dalam kegelapan.

Sreeeeeshhh!

Rasa hampa itu mendadak hilang dan berganti dengan embusan angin segar yang menerpa kulit wajahnya.

Aroma tanah basah dan daun-daun asing yang belum pernah ia hirup sebelumnya masuk ke dalam indra penciuman Lin Mo.

Sinar matahari yang cukup terik menembus kelopak matanya yang perlahan mulai terbuka.

"Aduh, kepalaku rasanya mau pecah," gumam Lin Mo sambil berusaha duduk di atas tanah.

Ia menyapu pandangannya ke sekeliling dengan rasa bingung yang luar biasa hebatnya.

Di sekelilingnya bukan lagi jalanan kota yang dipenuhi bangunan beton dan asap kendaraan.

Ia berada di tengah-tengah hutan belantara dengan pohon-pohon raksasa setinggi puluhan meter.

Warna dedaunan di pohon-pohon itu bukan hijau biasa, melainkan berwarna ungu keemasan yang berkilau.

"Di mana aku sekarang? Apakah ini rumah sakit alam gaib?" tanya Lin Mo pada dirinya sendiri.

Lin Mo memperhatikan pakaian yang sedang ia kenakan saat ini.

Ia tidak lagi memakai kaos oblong dan celana pendek lusuh bekas berjualan angkringan tadi malam.

Tubuhnya kini terbungkus oleh sejenis jubah kain kumal berwarna cokelat keabu-abuan yang agak longgar.

TING!

[Selamat datang di Alam Kerajaan Aethelgard, Host Lin Mo]

Sebuah layar transparan berwarna biru berkilau mendadak muncul tepat di depan wajah Lin Mo.

Lin Mo melompat kaget ke belakang sampai hampir tersandung akar pohon besar.

"Wajahku! Maksudku, apa-apaan layar melayang ini?!" seru Lin Mo kaget bukan main.

[Sistem Angkringan Ilahi siap melayani kebutuhan Host]

[Tugas Utama Host: Bakar makanan enak di setiap sudut dunia, kumpulkan Poin Arang, dan jadilah Dewa Api Sejati!]

Lin Mo membaca tulisan di layar transparan itu dengan tatapan mata yang sama sekali tidak percaya.

"Dewa Api? Bakar makanan? Poin Arang?" ulang Lin Mo membaca kata demi kata di layar tersebut.

"Jadi aku benar-benar sudah mati karena ledakan tabung gas tadi?" tanyanya dalam hati.

[Benar. Tubuh lama Host di Bumi sudah hancur total akibat ledakan]

[Sebagai gantinya, jiwa Host telah dialihkan ke dunia ini dengan identitas Dewa Api Pengelana]

Lin Mo menghela napas panjang dan menepuk dahinya pelan.

"Luar biasa sekali takdir ini. Mati konyol gara-gara gas bocor rumah makan sebelah," sungut Lin Mo kesal.

"Lalu kenapa namaku harus jadi Dewa Api Pengelana? Aku kan cuma penjual sate kaki lima biasa," tambah Lin Mo lagi.

[Sistem telah menyesuaikan bakat bawaan Host berupa Kendali Api Tingkat Mistik dengan struktur dunia ini]

[Di dunia Kerajaan Aethelgard, api adalah salah satu elemen sihir tertinggi yang sangat dihormati]

"Begitu ya? Tapi tetap saja aku tidak punya niat jadi pahlawan atau perang melakoni intrik politik," balas Lin Mo santai.

"Aku cuma ingin jualan sate dan cari uang tenang," lanjutnya.

[Itulah mengapa Sistem Angkringan Ilahi diciptakan khusus untuk membantu Host berdagang kuliner di dunia ini]

[Setiap makanan yang berhasil Host bakar dan jual akan menghasilkan Poin Arang]

[Poin Arang dapat digunakan untuk membeli bumbu sihir, peralatan angkringan tingkat dewa, serta resep baru]

Lin Mo mengangguk-angguk kecil mendengarkan penjelasan dari layar biru yang mengapung di depannya.

"Mmm, kedengarannya tidak buruk juga. Setidaknya aku tidak disuruh tebas naga pakai pedang karatan," gumam Lin Mo.

Gukkk! Grrr...

Suara geraman berat dan menakutkan tiba-tiba terdengar dari balik semak-semak tak jauh dari tempat Lin Mo berdiri.

Dua mata berwarna merah menyala menatap tajam ke arah Lin Mo dari balik kegelapan semak-semak tersebut.

Seekor serigala berukuran sebesar mobil minibus melangkah keluar secara perlahan.

Tubuh serigala itu dilapisi oleh sisik besi berwarna hitam tebal dengan taring-taring tajam melengkung keluar.

"I-itu serigala jenis apa kotor begitu?" cicit Lin Mo dengan tubuh agak bergetar.

[Peringatan! Serigala Taring Besi Tingkat Rendah mendekat dengan niat membunuh]

[Host disarankan menggunakan Peralatan Angkringan Awal untuk bertahan hidup]

"Peralatan Angkringan Awal? Mana ada perang lawan serigala raksasa pakai peralatan angkringan?!" teriak Lin Mo panik.

Sreeeechh!

Tiba-tiba sebuah gerobak kayu tua bernuansa mistis muncul begitu saja melayang di samping tubuh Lin Mo.

Gerobak itu dilengkapi dengan tempat panggangan arang yang membara, kipas bambu, dan beberapa tusuk sate kosong.

Serigala Taring Besi itu melompat maju memandangi Lin Mo sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

Air liur serigala itu menetes membasahi rumput hingga menimbulkan asap tipis karena efek racun.

Aroma bau amis dari mulut serigala itu membuat Lin Mo hampir saja muntah di tempat.

"Aduh, busuk sekali bau mulut binatang ini!" seru Lin Mo sambil menutup hidungnya.

Lin Mo secara refleks menggenggam kipas bambu tua yang ada di atas gerobak terbangnya.

Saat tangannya menyentuh gagang kipas bambu tersebut, aliran panas mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya.

Kendali api tingkat mistik yang ia miliki sejak di Bumi terasa puluhan kali lipat lebih kuat dan pekat.

Arang kayu di dalam gerobak melayang itu mendadak menyala terang benderang bagaikan lava cair.

[Kemampuan Khusus Terdeteksi: Api Murni Pemanggang Arang]

"Baiklah, kalau kamu mau menggigitku, setidaknya harumkan dulu bau mulutmu itu!" gertak Lin Mo.

Lin Mo mengibaskan kipas bambunya ke arah Serigala Taring Besi yang sedang melayang di udara menargetkan lehernya.

Fwoooshhh!

Hembusan angin bercampur asap hitam tebal berpendar merah keluar menembus udara liar.

Aura Asap Pedas beraroma racikan bumbu bakar langsung menyelimuti pandangan mata sang serigala raksasa.

"Awoooo?!" serigala itu melengking bingung di udara karena matanya terasa sangat pedas dan perih luar biasa.

"Sekarang giliranku!" seru Lin Mo sambil mengambil seikat tusuk bambu tajam dari atas gerobaknya.

Sringgg!

Lin Mo menyalurkan api mistiknya ke ujung-ujung tusuk bambu tersebut hingga berwarna merah membara.

"Jurus Angkringan: Hujan Tusuk Sate Naga!" teriak Lin Mo sambil melempar seikat bambu itu ke arah serigala.

Brakkk! Crattt!

Puluhan tusuk bambu berapi itu menembus sela-sela sisik besi tebal milik Serigala Taring Besi dengan sangat mudah.

Panas dari api mistik Lin Mo langsung membakar daging dalam serigala itu secara instan.

"Awooooo!" serigala raksasa itu melengking kesakitan sebelum akhirnya roboh ke tanah dan tak berkutik lagi.

Kepulan asap beraroma daging panggang yang sangat lezat mendadak memenuhi area hutan belantara tersebut.

"Loh? Kenapa baunya malah mirip daging kambing bakar?" tanya Lin Mo sambil mencium aroma udara di sekitarnya.

TING!

[Monster Serigala Taring Besi berhasil dikalahkan]

[Anda mendapatkan Bahan Makanan: Daging Serigala Taring Besi x10 Kg]

[Anda mendapatkan: 50 Poin Arang]

"Wah, daging monster ini ternyata bisa dimakan dan jadi bahan sate?" mata Lin Mo langsung berbinar-binar.

[Benar. Daging monster di dunia Kerajaan Aethelgard mengandung energi mana yang sangat kaya]

[Jika dibakar menggunakan Api Murni Pemanggang Arang, rasanya akan menjadi sangat lezat dan meningkatkan energi pembeli]

"Ini baru menarik! Sate daging serigala raksasa pastinya bakal laku keras di pasar!" puji Lin Mo bersemangat.

Lin Mo langsung mendekati bangkai serigala tersebut dan mengolah bagian daging terbaiknya menggunakan pisau dari Sistem.

Dengan cekatan, Lin Mo memotong-motong daging gurih itu menjadi dadu-dadu kecil lalu menusukkannya ke bambu.

Jari-jemarinya bergerak begitu lihai layaknya seorang koki profesional yang sudah berpengalaman ribuan tahun.

Sssttt... Sssttt...

Lin Mo meletakkan sepuluh tusuk sate daging serigala awal di atas panggangan arang gerobak terbangnya.

Kipas bambunya kembali dikibaskan dengan sangat lembut dan perlahan.

Percikan api keemasan membelai daging serigala itu hingga lemaknya meleleh dan menetes ke atas arang.

Cusss!

Kepulan asap beraroma harum tiada tanding membumbung tinggi melewati pepohonan raksasa Hutan Ilusi.

"Warna dagingnya berubah jadi kecokelatan yang sangat cantik," gumam Lin Mo kagum pada hasil karyanya.

[Peringatan! Aroma harum masakan Host menarik perhatian pihak luar di sekitar lokasi Hutan Ilusi]

"Hah? Pihak luar? Monster lagi?" tanya Lin Mo sambil memegang kipas bambunya kembali bersiap.

Krasak-krusuk!

Suara semak-semak bergoyang keras terdengar dari arah barat hutan tersebut.

Dua orang manusia dengan jubah pelindung lusuh dan membawa pedang karat keluar sambil terengah-engah.

Seorang gadis muda bermata cokelat dan seorang pria paruh baya berewok tebal melangkah mendekati Lin Mo.

Pakaian mereka berdua tampak penuh dengan luka cakar dan kotoran tanah basah.

"Aroma apa ini... kenapa baunya bisa sedalam ini?!" seru pria berewok itu sambil mengendus udara gila-gilaan.

"Paman Chen, lihat itu! Ada orang yang jualan makanan di tengah Hutan Ilusi?!" bisik gadis muda itu kaget.

Gadis itu bernama Fang Mei, seorang petualang kelas F yang sedang berjuang bertahan hidup bersama paman pengawalnya, Chen Wei.

Mereka berdua sudah terjebak di dalam Hutan Ilusi selama tiga hari tanpa makanan dan air bersih sedikit pun.

Mata Chen Wei dan Fang Mei tertuju pada gerobak kayu melayang dan sepuluh tusuk sate yang sedang dibakar Lin Mo.

Air liur mereka berdua menetes tanpa bisa ditahan lagi saat melihat kilapan lemak daging bakar tersebut.

Kruuukkk~

Suara perut Chen Wei dan Fang Mei berbunyi sangat keras sampai membuat burung-burung hutan terbang kaget.

Lin Mo menatap kedua orang itu dengan pandangan bingung namun juga melihat peluang bisnis pertama di dunia baru ini.

"Permisi... apakah kalian berdua mau membeli sate?" tanya Lin Mo sambil tersenyum ramah pelayan angkringan.

"S-sate? Apa itu sate?" tanya Fang Mei sambil menyeka air liurnya dengan lengan baju.

"Ini daging bakar tusuk bambu dengan bumbu racikan khusus penembus jiwa," jawab Lin Mo mempromosikan barangnya.

"Berapa harganya?! Kami punya beberapa keping koin tembaga!" potong Chen Wei tak sabaran karena sudah sangat lapar.

Lin Mo menatap Sistem di dalam hatinya untuk memeriksa mata uang yang berlaku di dunia ini.

[Sistem Konversi: 1 Tusuk Sate \= 5 Koin Tembaga Kerajaan Aethelgard]

"Harganya lima koin tembaga per tusuk," ujar Lin Mo memberi tahu.

"Murah sekali! Berikan kami semua yang ada di atas panggangan itu!" teriak Chen Wei sambil melempar sekantong koin.

Ting!

[Transaksi Berhasil! Anda menerima 50 Koin Tembaga dan 100 Poin Arang]

Lin Mo menyerahkan sepuluh tusuk sate daging serigala yang baru saja matang sempurna itu kepada mereka berdua.

Fang Mei mengambil satu tusuk dan menggigit potongan daging pertama tanpa ragu-ragu.

Nyuttt!

Saat gigi Fang Mei merobek daging serigala berbumbu tersebut, ledakan rasa gurih dan pedas langsung memenuhi mulutnya.

Tekstur dagingnya begitu lembut di luar namun sangat juicy di dalam hingga meleleh di atas lidah.

"I-ini... rasanya gila sekali!" teriak Fang Mei dengan mata membelalak lebar.

Kehangatan aliran mana beraroma murni langsung mengalir dari tenggorokannya menuju ke seluruh sel-sel tubuhnya yang lelah.

Luka-luka kecil di tubuh Fang Mei dan Chen Wei perlahan memudar dan menutup secara ajaib.

"Rasa lelahku hilang total! Mana dalam tubuhku juga pulih sepenuhnya!" seru Chen Wei kaget setengah mati setelah menghabiskan lima tusuk sekaligus.

"A-apa makanan ini mengandung ramuan penyembuh tingkat tinggi?!" tanya Fang Mei panik memandangi Lin Mo.

Lin Mo hanya terkekeh pelan sambil mengibaskan kipas bambunya santai.

"Tidak ada ramuan penyembuh, itu cuma sate bakar arang biasa buatan Lin Mo," jawab Lin Mo santai.

"Biasa matamu! Ini adalah makanan tingkat obat ilahi!" teriak Chen Wei membatin dengan gemetar.

Mereka berdua menatap Lin Mo dengan rasa hormat dan takut yang luar biasa tinggi.

Bagi mereka, orang muda berbaju jubah kumal yang bisa memasak makanan ajaib di tengah hutan berbahaya ini pasti seorang pakar tersembunyi.

"Anu... Senior, siapa nama Anda yang terhormat?" tanya Fang Mei sambil membungkuk dalam-dalam.

"Nama saya Lin Mo, penjual angkringan keliling," jawab Lin Mo jujur.

"Penjual angkringan keliling?" ulang Chen Wei bingung dengan istilah asing tersebut.

"Iya, warung makan kaki lima yang bisa pindah-pindah tempat," jelas Lin Mo sederhana.

"Luar biasa... seorang Master Kuliner Tersembunyi sedang menyamar jadi pedagang kaki lima!" batin Chen Wei makin yakin.

"Senior Lin Mo, jika Anda tidak keberatan, Kerajaan Aethelgard ada di arah timur dari hutan ini," ujar Fang Mei memberi petunjuk.

"Di sana ada Kota Perbatasan Valen yang sangat ramai dengan pedagang dan pembeli," lanjut Fang Mei ramah.

"Kota Perbatasan Valen ya? Kedengarannya tempat yang bagus untuk jualan," gumam Lin Mo sambil mengangguk.

[Misi Baru Diterima: Buka Cabang Angkringan Pertama di Kota Perbatasan Valen]

[Hadiah Misi: Resep Sate Usus Naga Ilusi dan 500 Poin Arang]

Lin Mo tersenyum lebar melihat Misi baru yang diberikan oleh Sistem Angkringan Ilahi.

"Terima kasih atas informasinya. Kalian berdua hati-hati di jalan," kata Lin Mo sambil membereskan peralatan angkringannya.

Ssssssh!

Gerobak sihir milik Lin Mo melayang perlahan setengah meter di atas permukaan tanah.

Lin Mo melompat naik dan duduk santai di atas gerobak terbangnya bagaikan seorang pengelana sejati.

"Senior Lin Mo lari naik gerobak terbang?!" seru Chen Wei terperangah melihat pemandangan ajaib tersebut.

"Semoga kita bisa bertemu lagi di Kota Valen, Senior!" teriak Fang Mei melambaikan tangannya.

Lin Mo melambaikan tangan balasan sambil mengarahkan gerobak terbangnya menuju ke arah timur hutan.

Langkah pertamanya di dunia baru Kerajaan Aethelgard telah dimulai dengan aroma asap sate yang harum mewangi.

Ia tidak tahu bahwa takdir besar sedang menunggunya di balik tembok megah kerajaan kuno tersebut.

Sebuah takdir yang melibatkan intrik politik kotor, Kaisar Waktu Lin Dan, hingga Kaisar Penjaga Lin Fan yang protektif.

Namun bagi Lin Mo, semua konflik gila itu tidak penting selama ia masih bisa membakar sate dan mengumpulkan Poin Arang.

"Aethelgard, bersiaplah menyambut aroma angkringan terbaik di seluruh benua!" gumam Lin Mo penuh percaya diri.

Bangun di Hutan Ilusi dan Sistem

Sreeeeeshhh!

Gerobak sihir milik Lin Mo melayang santai sekitar setengah meter di atas jalanan tanah Hutan Ilusi.

Lin Mo duduk bersila di bagian belakang gerobaknya sambil mengunyah sisa sate daging serigala hasil olahannya sendiri.

"Mmm... bumbu bawaan Sistem ini benar-benar tidak main-main lezatnya," gumam Lin Mo sambil memegangi pipinya yang ketagihan.

[Terima kasih atas pujian Host]

[Bumbu Angkringan Ilahi dibuat khusus menggunakan ekstrak rempah-rempah tingkat mistik dari berbagai dimensi]

"Pantas saja dua orang tadi sampai merem-melek waktu memakannya," sahut Lin Mo terkekeh pelan.

Pria muda itu mengamati area sekitar hutan yang kini mulai terlihat lebih terang.

Pohon-pohon raksasa berdaun ungu keemasan perlahan berganti dengan pepohonan hijau biasa yang makin menipis.

Tanda-tanda kehidupan peradaban manusia mulai terasa lewat adanya bekas jejak roda pedati di atas tanah basah.

"Sepertinya aku sudah makin dekat dengan Kota Perbatasan Valen," bisik Lin Mo pada dirinya sendiri.

PING!

[Misi Sampingan Terdeteksi!]

[Tiba di Kota Perbatasan Valen tanpa lecet sedikit pun]

[Hadiah Misi: Resep Sate Usus Ayam Api dan 200 Poin Arang]

"Resep sate usus? Wah, ini favorit pelanggan angkringanku waktu di Bumi dulu!" seru Lin Mo bersemangat.

Satu hal yang paling dirindukan Lin Mo dari angkringannya adalah aroma gurih usus ayam yang dibakar setengah garing.

Jika ia berhasil mendapatkan resep tersebut, koleksi jualan angkringan terbangnya akan semakin bervariasi.

"Baiklah Sistem, misi ini akan kubereskan dengan sangat mudah," ujar Lin Mo percaya diri.

Namun baru saja Lin Mo menyunggingkan senyum lebar, beberapa bayangan hitam mendadak melompat turun dari atas pepohonan.

Brakkk!

Empat orang pria berbadan kekar langsung memblokir jalanan tanah tepat di depan gerobak melayang Lin Mo.

Pakaian mereka tampak compang-camping dengan rompi kulit murahan dan penutup wajah kain hitam yang kumal.

Masing-masing dari mereka menggenggam senjata tajam mulai dari golok besar, kapak karat, hingga tombak kayu.

"Hei, berhenti di tempatmu, Bocah!" teriak pria berbadan paling besar yang membawa golok berkarat.

Lin Mo menghentikan laju gerobak terbangnya secara mendadak hingga sedikit bergoyang di udara.

"Aduh, ada apa ini? Kenapa gerobakku diadang begini?" tanya Lin Mo sambil menatap empat orang di depannya.

[Peringatan! Kelompok Begal Jalanan Perbatasan mendekat dengan niat merampok]

[Tingkat Ancaman: Sangat Rendah]

Pria bertubuh besar itu melangkah maju dua langkah sambil menyeringai tajam di balik kain penutup wajahnya.

"Gila, lihat itu! Gerobak kayu tua itu bisa melayang di udara tanpa ditarik kuda!" seru begal bertombak di sebelahnya.

"Pasti itu item sihir mahal! Kita beruntung besar hari ini, Ketua!" sahut begal berkapak dengan mata berbinar serakah.

Sang Ketua Begal menatap Lin Mo yang masih duduk santai di atas gerobak tanpa rasa takut sedikit pun.

"Bocah kumal! Turun dari gerobak sihir itu dan serahkan semua koin emas serta barang berhargamu kalau mau selamat!" gertak Sang Ketua Begal keras.

Lin Mo menghela napas panjang lalu mengaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

"Aduh paman-paman sekalian, aku ini cuma pedagang angkringan kecil yang baru saja kena musibah," balas Lin Mo santai.

"Aku tidak punya koin emas. Yang punya cuma sate bekas dan beberapa koin tembaga murahan," lanjutnya jujur.

"Jangan bohong kamu! Orang yang punya alat sihir melayang tidak mungkin miskin!" teriak begal bertombak kesal.

"Betul! Cepat serahkan gerobak melayang itu atau kami akan mencincangmu jadi adonan roti!" ancam begal berkapak.

Lin Mo memandangi empat begal tersebut dengan pandangan prihatin dari atas gerobaknya.

"Kalian ini kasihan sekali. Sudah jadi begal, penampilannya kotor, mukanya galak, bau badannya juga tidak sedap," gumam Lin Mo pelan.

"Apa kamu bilang?!" Sang Ketua Begal langsung naik pitam mendengar cemoohan Lin Mo.

"Bocah tengil! Jangan salahkan kami kalau kepalamu terpisah dari lehermu sekarang juga!" teriak Ketua Begal ngamuk.

Sreeeechh!

Ketua Begal itu mengayunkan golok besarnya ke arah leher Lin Mo dengan sekuat tenaga.

Kecepatan tebasannya cukup lumayan untuk ukuran manusia biasa di daerah perbatasan.

Namun di mata Lin Mo yang memiliki *Kendali Api Tingkat Mistik*, pergerakan begal itu terasa sangat lambat bagaikan siput.

Settt!

Lin Mo hanya menggeser badannya sedikit ke kiri untuk membiarkan tebasan golok itu meleset menembus angin hampa.

Wushhh!

"Loh? Kok bisa luput?!" seru Ketua Begal kaget setengah mati saat tebasannya hanya menghantam udara kosong.

"Aduh Paman, gerakanmu kaku sekali. Kurang olahraga ya?" ejek Lin Mo sambil menyeringai tipis.

Lin Mo dengan santai meraih kipas bambu tua yang tergeletak di samping panggangan arang gerobaknya.

Saat jemari Lin Mo menggenggam gagang bambu itu, percikan api keemasan langsung menyala di sela-sela lipatan kipas.

Arang kayu di dalam gerobak terbangnya mendadak membara sangat terang hingga mengeluarkan asap tebal berwarna abu-abu pekat.

"Kalian berempat pasti belum pernah merasakan disembur asap panggangan sate kan?" tanya Lin Mo ramah.

"Asap apa? Jangan bertindak aneh-aneh kamu!" teriak ketiga begal lainnya yang mulai panik.

"Jurus Angkringan: Aura Asap Pedas Level 1!" seru Lin Mo sambil mengibaskan kipas bambunya kuat-kuat.

Fwoooshhh!

Gelombang asap hitam bercampur percikan api merah cabai langsung menyembur keluar menutupi tubuh keempat begal tersebut.

Asap itu mengandung ekstrak rempah-rempah pedas tingkat tinggi dari Sistem yang sengaja dirancang untuk melumpuhkan musuh.

"Uhukk! Uhukk! Uhukkk!"

"Aaaarghhh! Mataku! Mataku rasanya seperti disiram minyak mendidih!" teriak Ketua Begal sambil berguling-guling di tanah.

"Pedas sekali! Tenggorokanku terbakar! Ibuuuu!" jerit begal bertombak menangis histeris.

Keempat begal itu langsung melempar senjata mereka ke tanah dan meraba-raba wajah mereka yang terasa sangat panas dan perih.

Asap pedas buatan Lin Mo menembus hidung dan mata mereka tanpa ampun hingga membuat mereka tidak bisa melihat apa-apa.

"Hahaha! Nah, begitu dong! Belajar sopan santun dulu kalau mau menyapa orang di jalan!" tawa Lin Mo terbahak-bahak.

Lin Mo melompat turun dari gerobaknya dan berjalan mendekati Ketua Begal yang sedang tiarap meratapi nasibnya.

Plak!

Lin Mo menepuk pundak pria besar itu dengan gagang kipas bambunya pelan.

"Paman Begal, bagaimana rasa Aura Asap Pedas buatan Lin Mo? Mantap kan?" tanya Lin Mo polos.

"Ampun... ampun Senior! Kami mengaku salah! Jangan panggang kami!" jerit Ketua Begal sambil menyembah-nyembah di tanah.

"Kami cuma begal amatir yang belum makan dua hari! Ampuni nyawa kami, Senior!" tambah begal berkapak sambil merangkak ketakutan.

Lin Mo mendengus pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sudah kuduga. Kalian ini cuma orang-orang kelaparan yang salah jalan," gumam Lin Mo iba.

Sebagai seorang penjual angkringan di kehidupan sebelumnya, Lin Mo sangat paham betul rasa sakitnya menahan lapar.

"Bangun kalian semua!" perintah Lin Mo tegas.

Keempat begal itu dengan tubuh gemetaran dan mata merah berair berusaha berdiri tegak di hadapan Lin Mo.

"Kalian beruntung hari ini bertemu denganku, bukan dengan prajurit kerajaan," ujar Lin Mo sambil berjalan kembali ke gerobaknya.

Lin Mo mengambil empat tusuk sate daging serigala yang masih tersisa di dalam wadah penyimpanannya.

Sssttt... Sssttt...

Ia meletakkannya sebentar di atas arang panas dan mengipasinya dua kali hingga aromanya membumbung lagi.

Aroma gurih yang tiada tanding itu langsung menembus rasa pedas di hidung keempat begal tersebut.

Kruuukkk~ Kruuukkk~

Perut keempat begal itu berbunyi sangat nyaring secara bersamaan.

"Ini, makan!" seru Lin Mo sambil menyodorkan masing-masing satu tusuk sate kepada para begal.

Keempat begal itu menatap tusuk sate di tangan Lin Mo dengan pandangan tidak percaya.

"S-Senior... Anda tidak sedang meracuni kami kan?" tanya Ketua Begal ragu-ragu.

"Banyak bicara sekali! Kalau tidak mau ya sudah, buatku saja!" gertak Lin Mo berpura-pura hendak menarik kembali satenya.

"Mau! Kami mau, Senior!" jerit mereka berempat serentak.

Tanpa peduli lagi dengan rasa takut, mereka langsung melempar sate itu ke dalam mulut masing-masing.

Nyuttt!

Saat kunyahan pertama mendarat di lidah mereka, mata keempat begal itu mendadak membelalak sangat lebar.

Sensasi daging yang sangat empuk, gurih, bercampur dengan manis pedas bumbu rahasia meledak di dalam mulut.

"Enak... ENAK SEKALI!" teriak begal bertombak sampai meneteskan air mata kebahagiaan.

"Bagaimana bisa ada daging selezat ini di dunia?!" seru begal berkapak sambil mengunyah gila-gilaan.

Rasa hangat mengalir deras ke perut mereka yang kosong, memberi energi baru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

"Ajaib... rasa lelah dan lapar kami hilang sepenuhnya dalam sekejap!" cicit Ketua Begal terpana.

Keempat begal itu menatap Lin Mo dengan mata berbinar-binar penuh rasa kagum dan hormat yang teramat sangat.

Plak!

Ketua Begal tiba-tiba berlutut dengan kedua kakinya di atas tanah basah di depan Lin Mo.

Ketiga anak buahnya langsung mengikuti tindakan sang ketua tanpa ragu sedikit pun.

"Senior Lin Mo! Mulai hari ini kami berempat berjanji tidak akan membegal orang lagi!" teriak Ketua Begal mantap.

"Kami ingin menjadi pengikut Senior dan memakan sate ini setiap hari!" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Lin Mo tertegun sejenak memandangi empat pria kekar yang sedang berlutut di depannya ini.

"Ehh? Pengikut? Jangan bercanda, aku ini cuma penjual sate, bukan ketua gengster!" tolak Lin Mo panik.

"Tidak Senior! Makanan buatan Anda telah menyucikan jiwa kami yang penuh dosa ini!" seru begal bertombak dramatis.

Lin Mo menepuk jidatnya pelan sambil menghela napas pasrah.

"Aduh, repot sekali. Ya sudah, kalau kalian mau bertobat, bantu aku petunjuk jalan ke Kota Perbatasan Valen," ujar Lin Mo.

"Siap, Bos Besar! Kota Valen hanya berjarak lima ratus meter lagi di balik bukit itu!" tunjuk Ketua Begal bersemangat.

PING!

[Misi Sampingan Selesai!]

[Anda berhasil tiba di Kota Perbatasan Valen tanpa lecet]

[Hadiah Misi Diterima: Resep Sate Usus Ayam Api & 200 Poin Arang]

Lin Mo tersenyum puas melihat notifikasi layar biru yang muncul di depannya.

Total Poin Arang yang ia miliki sekarang sudah mencapai 350 poin, jumlah yang lumayan untuk modal awal pedagang.

"Baiklah paman-paman sekalian, aku berangkat dulu ke kota. Jangan membegal orang lagi ya!" pesan Lin Mo.

"Siap, Bos Besar Lin Mo! Kapan-kapan kami akan mampir ke angkringan Anda di kota!" teriak keempat mantan begal itu kompak sambil melambaikan tangan.

Gerobak sihir terbang milik Lin Mo kembali melaju melewati jalanan bukit kecil.

Begitu melewati puncaknya, pemandangan sebuah kota benteng yang sangat megah dan sibuk langsung terhampar di depan mata Lin Mo.

Tembok kota yang terbuat dari susunan batu hitam tebal berdiri gagah setinggi belasan meter.

Ratusan orang dengan berbagai jenis pakaian—mulai dari pedagang, petualang berarmor, hingga warga biasa—tampak mengantre di depan gerbang utama.

Panji-panji bendera bergambar simbol pedang dan jam pasir berkibar megah di atas menara benteng.

"Itu pasti lambang Kerajaan Aethelgard," gumam Lin Mo membatin.

Di masa lalu, kerajaan ini dipimpin oleh dua sosok legenda yang sangat ditakuti sekaligus dihormati.

Kaisar Waktu Lin Dan yang memimpin dengan aturan kaku dan ketat, serta Kaisar Penjaga Lin Fan yang sangat protektif.

Meskipun zaman kaisar tersebut telah berlalu, sisa-sisa pengaruh dan kejayaan mereka masih terasa pekat di setiap sudut bangunan kota.

"Kota Valen... tempat yang cocok untuk memulai bisnis angkringan konyolku ini," kata Lin Mo sambil menyeringai.

Lin Mo menurunkan ketinggian gerobak terbangnya hingga roda kayunya menyentuh tanah tepat di barisan belakang antrean gerbang.

Ia tidak ingin membuat kegaduhan terlalu dini dengan terbang melintasi penjaga gerbang kota.

"Halo Paman, antrean ini menuju pintu masuk utama ya?" tanya Lin Mo pada seorang pedagang sayur di depannya.

Pedagang sayur itu menoleh dan menatap pakaian jubah kumal Lin Mo serta gerobak kayunya yang aneh.

"Iya, anak muda. Tapi kamu bawa gerobak apa itu? Kok tidak ada kuda penariknya?" tanya pedagang sayur itu heran.

"Oh, ini gerobak dorong manual. Saya ini penjual angkringan keliling," jawab Lin Mo santai sambil tersenyum ramah.

"Penjual angkringan? Makanan jenis apa lagi itu?" dahi pedagang sayur itu berkerut bingung.

Sebelum Lin Mo sempat menjelaskan lebih jauh, suara bentakan keras tiba-tiba terdengar dari arah gerbang depan.

"Hei! Bayar pajak masuk sepuluh koin perak atau angkat kaki dari sini!" teriak seorang penjual gerbang berkulit kasar dengan zirah besi.

Penjaga kota itu tampak memeras seorang pedagang miskin yang tidak sanggup membayar biaya masuk yang terlampau mahal.

Lin Mo menyipitkan matanya memandangi penjaga gerbang yang tampak sangat menyebalkan itu.

"Sepertinya urusan perizinan dagang di kota ini bakal agak merepotkan," bisik Lin Mo dalam hati.

Namun Lin Mo tidak berkecil hati sedikit pun.

Dengan bakat kendali api mistik dan bumbu ilahi di tangannya, tidak ada penjaga kota yang tidak bisa dilunakkan oleh aroma sate bakar.

Babak baru petualangan Lin Mo di Kerajaan Aethelgard kini resmi dimulai.

Gerbang Kota dan Penjaga yang Haus Bumbu

"Kalau tidak punya sepuluh koin perak, angkat kaki dari barisan! Jangan menyita waktu para prajurit!" teriak penjaga gerbang berbadan tambun dengan zirah besi yang tampak berkarat di bagian bahu.

Pria paruh baya yang merupakan pedagang sayur miskin di depan Lin Mo hanya bisa menunduk pasrah sambil meremas kantong kainnya yang kempis.

"Ampun, Kapten Wang. Pajak masuk minggu lalu kan hanya tiga koin perak, kenapa sekarang naik drastis jadi sepuluh koin perak?" cicit pedagang sayur itu dengan suara bergetar.

Kapten Wang menyeringai sinis sembari menepuk gagang pedangnya yang tergantung di pinggang.

"Aturan di Kota Valen ini dibuat olehku saat aku bertugas di gerbang! Mau masuk ya bayar, kalau tidak punya uang ya silakan membusuk di luar tembok!" gertak Kapten Wang kasar.

Beberapa warga dan pedagang kecil di dalam antrean hanya bisa berbisik-bisik takut tanpa ada yang berani memprotes.

Lin Mo yang berdiri tepat di belakang pedagang sayur tersebut menghembuskan napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aduh, di mana-mana yang namanya oknum penjaga gerbang selalu saja begini," gumam Lin Mo dalam hati.

make_sense: Lin Mo melangkah maju dua langkah hingga posisinya sejajar dengan pedagang sayur yang malang itu.

"Permisi, Paman Kapten yang terhormat," sapa Lin Mo dengan wajah polos tanpa dosa.

Kapten Wang menoleh dengan dahi berkerut, menatap jubah cokelat kumal yang dikenakan Lin Mo serta gerobak kayu aneh di belakangnya.

"Siapa kamu? Pemuda kumal dari mana yang berani memotong pembicaraan?" bentak Kapten Wang galak.

"Saya Lin Mo, cuma seorang penjual angkringan keliling yang mau masuk untuk mencari sesuap nasi," jawab Lin Mo ramah sambil tersenyum lebar.

"Penjual angkringan? Makanan sampah apa lagi itu?" cemooh Kapten Wang dengan nada menghina.

"Sama seperti orang tua ini, kalau kamu mau masuk membawa gerobak kotor itu, bayar sepuluh koin perak!" tambah Kapten Wang sambil menadahkan tangannya.

Lin Mo merogoh saku jubahnya dan hanya mengeluarkan lima puluh koin tembaga yang ia dapatkan dari transaksi sebelumnya.

"Aduh Kapten, saya cuma punya lima puluh koin tembaga ini. Bagaimana kalau sisanya diganti pakai sate bakar racikan khusus?" tawar Lin Mo santai.

"Sate bakar? Kamu pikir penjaga gerbang Kerajaan Aethelgard bisa disogok pakai daging bakar murahan?!" teriak Kapten Wang merasa dilecehkan.

Dua prajurit penjaga di belakang Kapten Wang langsung mencabut tombak mereka dan mengarahkannya ke dada Lin Mo.

"Usir pemuda gila ini keluar dari area gerbang!" perintah Kapten Wang murka.

Lin Mo tidak panik sedikit pun.

Ia justru berjalan santai menghampiri gerobak kayu terbangnya yang kini mengapung rendah di atas tanah.

"Paman Kapten, jangan marah-marah dulu. Orang yang sering marah-marah biasanya cepat tua dan nafasnya bau," gurau Lin Mo tanpa beban.

"Kamu?!" Kapten Wang hampir saja menyuruh prajuritnya menebas leher Lin Mo saat itu juga.

Namun sebelum Kapten Wang sempat memberi perintah eksekusi, Lin Mo sudah mengibaskan kipas bambunya ke arah tempat arang di gerobaknya.

Fwoooshhh!

Arang kayu mistik di dalam panggangan langsung menyala dengan pendaran cahaya keemasan yang hangat.

[Mengaktifkan Resep Baru: Sate Usus Ayam Api]

[Bumbu Tambahan Khusus: Ekstrak Cabai Rawit Mistik]

Lin Mo mengambil beberapa tusuk usus yang sudah dibersihkan dan dibumbui secara otomatis oleh Sistem dari wadah penyimpanannya.

Tekstur usus ayam itu tampak sangat bersih, kenyal, dan berwarna kekuningan beraroma rempah murni.

Sssttt... Sssttt...

Lin Mo membeberkan sepuluh tusuk sate usus ayam api itu di atas panggangan arang yang membara merah.

Settt!

Jari telunjuk tangan kiri Lin Mo menjentikkan percikan *Api Murni Pemanggang Arang* ke arah tumpukan arang.

Suhu di sekitar gerobak mendadak naik beberapa derajat, menciptakan sensasi hangat yang sangat nyaman di kulit.

Lin Mo mengibaskan kipas bambunya dengan ritme yang sangat gemulai bagaikan seorang penari profesional.

Pfffuuushhh!

Asap tipis berwarna putih keemasan membumbung tinggi dari atas panggangan sate usus tersebut.

Aroma gurih yang tiada tanding, bercampur manis gurih kecap dan sengatan pedas yang menggugah selera, menyebar dalam radius lima puluh meter!

Gerrr...

Suara perut seseorang tiba-tiba berbunyi sangat keras di tengah keheningan gerbang kota.

Suara itu berasal dari perut Kapten Wang yang mendadak terasa sangat kosong dan lapar.

Bukan hanya Kapten Wang, dua prajurit tombak di sebelahnya bahkan sampai menelan ludah mereka sendiri dengan suara tersedak.

"B-bau apa ini... kenapa aromanya bisa sampai membakar tenggorokanku begini?!" batin Kapten Wang shock berat.

Selama puluhan tahun bertugas di kota perbatasan dan memakan hidangan mewah di restoran bintang lima Kerajaan Aethelgard, ia belum pernah mencium aroma makanan yang sebegitu dahsyatnya.

Aroma asap sate usus itu seolah-olah memiliki tangan gaib yang meremas-remas lambung siapa pun yang menghirupnya.

Seluruh antrean warga di belakang Lin Mo langsung heboh dan berdesak-desakan ingin melihat apa yang sedang dimasak oleh pemuda berjubah kumal itu.

"Gila! Bau apa ini?! Kenapa mendadak aku merasa lapar setengah mati?!" seru seorang petualang berarmor besi di tengah antrean.

"Wangi sekali! Makanan apa yang sedang dibakar pemuda itu?!" sahut wanita pedagang buah di sebelahnya.

Lin Mo menyeringai tipis melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.

"Daging kikil atau serigala memang enak, tapi usus ayam api bakar garing ini adalah senjata pamungkas penjual angkringan," bisik Lin Mo penuh percaya diri.

Lin Mo membolak-balikkan tusukan sate usus tersebut dengan kecepatan tangan yang sangat presisi.

Bagian luar usus ayam itu perlahan berubah warna menjadi cokelat keemasan yang agak garing, namun bagian dalamnya tetap lembut dan juicy.

Minyak gurih alami dari usus menetes ke atas arang panas, menimbulkan suara desisan manis yang memanjakan telinga.

Cusss!

Kepulan asap harum gelombang kedua terpancar keluar lebih pekat dari sebelumnya.

Kapten Wang yang tadinya berdiri tegap dengan gaya angkuh, kini melangkah mendekati gerobak Lin Mo secara tidak sadar bagaikan terkena hipnotis.

Matanya terbelalak lebar menatap gulungan usus ayam bakar berbalut bumbu karamel keemasan yang melambai-lambai di atas arang.

Air liur Kapten Wang menetes membasahi armor besinya tanpa ia sadari.

"B-bocah... maksudku, Adik manis... apa nama makanan yang sedang kamu bakar ini?" tanya Kapten Wang dengan suara gemetaran dan nada yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Dua prajurit tombak di belakangnya juga sudah ikut merapat dengan mata berbinar-binar penuh hasrat.

"Ini namanya Sate Usus Ayam Api garing renyah bumbu racikan rahasia Angkringan Dewa Mo," jawab Lin Mo sambil mengibaskan kipas bambunya santai.

"A-apa boleh aku mencicipinya satu tusuk?" tanya Kapten Wang sambil menyeka bibirnya yang basah.

Lin Mo pura-pura menunjukkan wajah ragu-ragu dan mendesah pelan.

"Wah, bagaimana ya Kapten? Kata Kapten tadi makanan saya ini cuma makanan sampah murahan," kata Lin Mo menyindir halus.

"Lagipula saya kan tidak punya sepuluh koin perak untuk bayar uang masuk gerbang," tambah Lin Mo dengan nada memelas yang dibuat-buat.

Wajah Kapten Wang langsung berubah merah padam karena malu sekaligus panik melihat Lin Mo hendak mematikan api panggangannya.

"Tidak! Jangan dimatikan apinya!" teriak Kapten Wang refleks memegang lengan baju Lin Mo.

"Tadi itu cuma bercanda! Siapa bilang makanan ini sampah?! Ini adalah karya seni kuliner tingkat tinggi!" puji Kapten Wang panik.

"Soal pajak masuk... gratis! Khusus untukmu dan gerobak melayangmu ini, bebas masuk kapan saja tanpa bayar sepeser pun!" lanjut Kapten Wang cepat-cepat.

"Benarkah Kapten? Tapi bagaimana dengan paman pedagang sayur di depanku ini?" tanya Lin Mo sambil menunjuk pedagang miskin tadi.

"Gratis juga! Semuanya gratis hari ini!" seru Kapten Wang tidak peduli lagi dengan aturan demi bisa mendapatkan tusukan sate di depan matanya.

Pedagang sayur tua itu tertegun kaget dan menatap Lin Mo dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Adik manis... terima kasih banyak!" bisik pedagang sayur itu terharu.

Lin Mo tersenyum puas di dalam hati.

"Sistem, ternyata kekuatan bumbu sate usus ini lebih ampuh daripada diplomasi politik," batin Lin Mo terkekeh.

[Sistem Angkringan Ilahi dirancang untuk menaklukkan perut semua makhluk hidup, termasuk Dewa sekalipun]

"Nah, karena Kapten Wang sudah sangat baik hati, ini tiga tusuk Sate Usus Ayam Api khusus untuk Kapten dan anak buah," ujar Lin Mo menyodorkan tiga tusuk sate yang baru saja diangkat dari panggangan.

Kapten Wang langsung menyambar tusukan sate tersebut bagaikan serigala kelaparan yang menemukan mangsa empuk.

Ia membagikan dua tusuk kepada dua prajuritnya, lalu tanpa ragu-ragu memasukkan seluruh gulungan usus di tusukan pertama ke dalam mulutnya.

Krikk! Nyuttt!

Bunyi renyah dari kulit luar usus yang garing pecah di antara gigitannya, disusul dengan ledakan rasa gurih pedas manis yang luar biasa kental.

Sensasi pedas dari cabai murni melesat cepat membakar lidahnya, namun rasa gurih rempah-rempahnya langsung membelai tenggorokannya dengan rasa nyaman yang memabukkan.

"KERAGAMARAN RASA APA INI?!" teriak Kapten Wang histeris sampai matanya melotot ke atas.

Bukan hanya itu, kehangatan murni dari energi api mistik yang ada di dalam sate usus itu mengalir deras menembus pembuluh darah Kapten Wang.

Sreeeeeshhh!

Tubuh Kapten Wang mendadak memancarkan pendaran cahaya merah tipis.

Penyumbatan energi mana di dalam dadanya akibat luka lama bekas pertempuran belasan tahun lalu tiba-tiba hancur dan terbuka secara instan!

Brakkk!

Tingkat kekuatan ranah sihir Kapten Wang yang sudah tertahan di Kelas Prajurit Tingkat Rendah selama sepuluh tahun mendadak terobos masuk ke Kelas Prajurit Tingkat Menengah!

"A-aku... aku menerobos ranah kekuatan?!" jerit Kapten Wang kaget setengah mati sambil menatap kedua tangannya yang kini dipenuhi energi aura pekat.

Dua prajuritnya yang juga baru saja menghabiskan sate usus mereka langsung berlutut di tanah karena energi stamina mereka mendadak terisi penuh seratus persen.

"Luar biasa! Makanan ini bukan sekadar enak, tapi bisa meningkatkan kultivasi dan menyembuhkan penyakit dalam!" teriak prajurit tombak terpana.

Seluruh warga dan pedagang di sekitar gerbang kota yang menyaksikan kejadian ajaib tersebut langsung ternganga lebar.

Memakan sate usus bisa langsung membuat seorang Kapten Penjaga menerobos ranah kekuatan?

Apakah pemuda berjubah kumal itu seorang Master Alkemis Agung yang sedang menyamar menjadi pedagang kaki lima?!

"Master! Ampuni kelakuan hamba yang tidak sopan tadi!" Kapten Wang langsung membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Lin Mo.

"Berapa harga Sate Usus Ayam Api ini per tusuknya? Hamba ingin membeli seratus tusuk sekarang juga!" seru Kapten Wang bersemangat.

Lin Mo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum santai.

"Maaf Kapten, stok sate usus untuk hari ini sudah habis. Saya mau masuk ke kota dulu untuk cari lapak dagang," jawab Lin Mo beralih alasan.

"Siap Master! Hamba sendiri yang akan mengawal Master menuju pusat Pasar Kota Valen!" tawar Kapten Wang penuh kesetiaan.

"Tidak perlu direpotkan Kapten, saya bisa jalan sendiri," tolak Lin Mo halus.

PING!

[Misi Berhasil: Menembus Gerbang Kota Valen]

[Hadiah Misi Diterima: 300 Poin Arang & Surat Izin Dagang Resmi Kota Valen]

Sebuah dokumen kertas perkamen berstempel emas mendadak muncul secara gaib di dalam saku jubah Lin Mo.

Lin Mo melambaikan tangan kepada Kapten Wang dan warga yang masih menatapnya dengan tatapan penuh pemujaan.

Sreeeeeshhh!

Gerobak sihir melayang milik Lin Mo perlahan meluncur melewati pintu gerbang batu yang megah tersebut, memasuki area dalam Kota Perbatasan Valen.

Kota Valen ternyata jauh lebih luas dan ramai daripada yang dibayangkan Lin Mo.

Jalanan utamanya terbuat dari susunan batu tebal yang bersih, diapit oleh bangunan-bangunan batu bertingkat tiga dengan arsitektur klasik Eropa kuno dipadukan gaya oriental.

Berbagai macam ras manusia, elf kerdil, hingga manusia setengah hewan tampak berlalu-lalang memenuhi trotoar jalan.

"Wah, kotanya hidup sekali. Banyak calon pelanggan potensial di sini," gumam Lin Mo sambil menyapu pandangannya dengan antusias.

Namun di balik keramaian dan kemegahan kota perbatasan ini, Lin Mo bisa merasakan adanya ketegangan terselubung di udara.

Banyak prajurit bertopeng dengan lambang jam pasir—simbol pengawal peninggalan Kaisar Waktu Lin Dan—yang berpatroli dengan wajah ketat dan penuh kejelian.

Setiap pedagang kaki lima di tepi jalan tampak diawasi dengan ketat oleh kelompok gangster lokal yang mengenakan rompi bersimbol taring serigala.

"Sepertinya pasar di kota ini dikuasai oleh kelompok preman lokal," bisik Lin Mo membatin.

Lin Mo terus mendorong gerobak melayang ringan milik dasarnya menuju area Pasar Kumuh yang terletak di bagian selatan kota.

Di sinilah tempat para pedagang kecil dan rakyat jelata berkumpul untuk mengadu nasib.

Lin Mo menemukan sebuah sudut lahan kosong yang cukup strategis di bawah rindangnya pohon beringin tua.

"Tempat ini cukup bagus. Teduh dan tidak terlalu sempit untuk gerobakku," kata Lin Mo puas.

Ia memarkir gerobak terbangnya di sudut tersebut lalu menurunkan penyangga kayu gerobaknya hingga menyentuh tanah.

Lin Mo kemudian mengeluarkan sebuah papan kayu kecil dari Sistem dan menuliskan nama warungnya menggunakan arang hitam:

[ANGKRINGAN DEWA MO - BUKA SEKARANG]

[Menu Hari Ini:]

Sate Daging Serigala Taring Besi - 10 Koin Tembaga

Sate Usus Ayam Api - 5 Koin Tembaga

Ia baru saja selesai menggantungkan papan nama tersebut ketika tiba-tiba tiga orang pria berwajah seram dengan tato taring di leher mereka melangkah menghampiri lapaknya dengan gaya angkuh.

Pria yang berdiri di tengah memegang tongkat kayu berlapis besi sambil memukulkannya ke telapak tangannya sendiri.

Brakkk!

Pria itu memukul ujung meja kayu gerobak Lin Mo dengan keras hingga membuat debu berterbangan.

"Hei, Bule Kertas! Siapa yang beri kamu izin buka lapak di wilayah Gangster Taring Hitam ini?!" bentak pria bertato itu galak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!