SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA
Bab 1 - Kandidat Nomor 7
Private Room, Restoran Jepang Omakase di Hotel Mulia.
Sinta Aniswari, 21 tahun saat itu, merasa seperti sedang interview kerja untuk posisi yang tidak pernah ia lamar, bukan dijodohkan.
Bayangannya, perjodohan itu akan terjadi di ruang tamu yang hangat, dengan teh dan kue kering. Kenyataannya, dia duduk di private room sebuah restoran Jepang super mahal yang bahkan untuk baca menunya saja harus pakai Google Translate. Ruangan itu terlalu sunyi. Hanya ada suara denting es di gelas dan suara AC yang terlalu dingin. Di depannya ada meja kayu hinoki yang panjang dan mengkilap. Piring-piring kosong tertata rapi, sashimi premium yang belum ada yang menyentuh karena semua orang terlalu tegang. Bahkan pelayan yang berdiri di pojokan pun menahan napas.
Di depannya ada 3 orang. Papanya yang duduk di sebelahnya, yang keringat dingin padahal AC 16 derajat, yang dari tadi meremas-remas sapu tangan sampai basah. Lalu ada Bu Ratna, Mamanya Dean, perempuan elegan usia 50-an dengan sanggul rapi dan tatapan yang bisa menilai harga tas seseorang hanya dalam 2 detik. Dan di ujung meja, seorang pria yang sejak tadi menatap laptop tipis berwarna silver yang terbuka di samping piring sashiminya. Dia tidak menatap Sinta sama sekali.
Dean Galang Wijaya. 28 tahun saat itu. Kemeja putihnya licin tanpa kerutan sedikit pun, seolah baru keluar dari laundry bintang lima. Dasinya hitam, sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.00 tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Makan siang yang dijadwalkan seperti rapat direksi.
"Sinta Aniswari, 21 tahun, Fakultas Kedokteran semester akhir, IPK 3.9, hobi... " Bu Ratna membuka map berisi CV Sinta di atas meja makan, persis seperti sedang membuka menu untuk memesan makanan. Kacamata bacanya melorot sedikit. "...membaca dan merangkum jurnal medis, memasak, dan merawat tanaman? Wah, hobi yang sangat anggun."
Sinta yang asli — yang ceria, yang cerewetnya minta ampun — hampir saja tersedak air putihnya.
HOBI APA? MEMBACA JURNAL MEDIS? MERAWAT TANAMAN? TANTE, TANAMAN KAKTUS SAYA AJA MATI KARENA LUPA SAYA SIRAM! SAYA KIRA KAKTUS BISA HIDUP DARI KENANGAN! SIAPA YANG NULIS CV SAYA SE-AMBISIUS DAN SE-ANGELIC INI?
Sinta melirik Papanya di sebelah. Papanya langsung buang muka, pura-pura batuk keras dan fokus melihat lukisan ombak di dinding restoran dengan sangat serius, seolah lukisan itu adalah lukisan paling menarik di dunia.
OH JADI PAPA! JADI PAPA YANG NULIS! SAYA INGAT! SEMALAM PAPA BILANG 'BIAR PAPA SAJA YANG ISI PROPOSALNYA, KAMU GAK USAH PUSING'. TERNYATA INI ISINYA!
Bu Ratna melanjutkan membaca dengan anggukan puas, matanya berbinar. Dia memang mencari menantu seperti ini.
"Deskripsi dari ayahanda: Sinta adalah anak yang penurut, pemalu, tidak banyak bicara, sangat berprestasi, jago masak, pandai mengurus rumah, dan sangat menjaga wibawa keluarga. Anaknya kalem dan tidak neko-neko."
PENURUT? PEMALU? TIDAK BANYAK BICARA? JAGO MASAK? PANDAI NGURUS RUMAH? PAPA! APA PAPA SALAH NGISI FORMULIR ANAK ORANG LAIN? SAYA ITU KALAU DISURUH DIEM 5 MENIT AJA GATAL SELURUH BADAN, PAPA! JAGO MASAK APAAN, MASAK AIR AJA PERNAH SAMPAI GOSONG DAN PANCI HILANG! KALEM DARI MANA? SAYA KALAU KETAWA SATU KOS DENGER! INI BUALAN APA KARANGAN BEBAS BUAT LOMBA MENGARANG TINGKAT NASIONAL?
Sinta yang asli — yang kalau di kos ngomongnya bisa 3 jam nonstop tanpa jeda, yang kalau curhat bisa bikin temennya ketiduran tapi dia masih lanjut ngomong — rasanya ingin menjerit dan membongkar semua kebohongan itu. Dia ingin nyaut dengan gaya ceria khasnya, "Iya Tante, itu semua bohong Tante! Aslinya saya cerewet banget! Hobi saya ngomong! Bakat saya ngomong! Kalau disuruh diem saya bisa sesak napas, Tante!"
Tapi sebelum satu kata pun keluar, Papanya menginjak kakinya pelan di bawah meja. Keras. Sangat keras. Kode keras yang artinya: DIAM NAK, JANGAN BONGKAR! PAPA SUDAH TERLANJUR! INI DEMI RUMAH SAKIT KELUARGA KITA!
Sinta langsung menelan semua 1000 kata protesnya bulat-bulat. Dia hanya tersenyum. Senyum paling anggun, paling kalem, paling putri keraton yang pernah dia buat seumur hidupnya. Senyum yang dia latih 2 jam di depan kaca tadi pagi sampai rahangnya pegal.
"Baik, Tante."
Baik dari Hongkong! Papa tega banget jual anaknya dengan deskripsi palsu! Nanti kalau ketahuan gimana? Kalau Dean tahu aslinya saya berisik gimana?
Bu Ratna mengangguk, sangat puas dengan keanggunan palsu itu. "Hmm. Bagus. Kamu tidak pakai make-up tebal seperti kandidat kemarin. Dan deskripsi ayahmu sangat bagus. Dean memang butuh istri yang penurut dan tidak banyak tuntutan."
Baru saat itu Dean Galang Wijaya mengangkat kepalanya dari laptop. Akhirnya. Setelah 10 menit Sinta diceramahi mamanya dengan CV palsu itu, dia menatap Sinta untuk pertama kalinya. Tatapannya... ya Tuhan. Tatapannya tidak menilai cantik atau tidak. Tidak ada kekaguman seperti di sinetron. Tidak ada benci juga. Tatapannya datar. Kosong. Profesional. Seperti sedang menilai... efisiensi sebuah kulkas baru. Apakah kulkas ini hemat listrik? Apakah kulkas ini berisik?
"Nama saya Dean Galang Wijaya," katanya. Suaranya datar. Kaku. Dalam. Berat. Seperti robot customer service versi paling mahal di dunia yang baru di-update software-nya tapi lupa di-install fitur empati. "28 tahun. Pemilik Wijaya Group. Saya tidak punya waktu untuk pacaran."
Oke. Wow. Perkenalan macam apa ini? Ini perkenalan atau baca profil LinkedIn? Apa next-nya dia bakal bilang 'skill saya Microsoft Excel dan leadership'? Pak, ini restoran Jepang, bukan ruang interview HRD! Senyum dong Pak, dikit aja!
Sinta hanya bisa mengerjap. Menahan diri untuk tidak nyeletuk.
Dean menggeser map coklat itu perlahan di atas meja kayu yang mahal itu, melewati gelas air dan piring kecap asin. Gerakannya hati-hati. Dia mendorongnya ke arah Sinta.
"Mungkin Mama sudah menjelaskan di proposal," katanya, kali ini suaranya sedikit melunak, dan dia menatap Sinta, bukan laptopnya. Matanya hitam pekat dan jujur. Tidak ada main-main. "Saya membutuhkan seorang istri, Nona Sinta. Bagi saya pernikahan adalah soal tanggung jawab besar. Untuk menjaga nama keluarga dan membangun keluarga yang stabil. Saya akan memastikan kamu mendapat posisi dan penghargaan yang sepantasnya."
DEG.
Kalimatnya sopan. Sangat sopan. Jauh lebih sopan dari yang Sinta bayangkan. Dia memanggilnya Nona Sinta. Bukan 'kamu' yang kasar. Dan dia bilang akan memberi penghargaan yang sepantasnya. Tapi justru itu yang paling menyakitkan. Karena tidak ada kata cinta sama sekali di sana. Hanya tanggung jawab. Posisi. Penghargaan. Seperti sedang menawarkan jabatan komisaris, bukan pernikahan. Tapi setidaknya, Sinta merasa dihargai sebagai manusia, bukan sebagai barang lelang.
Sinta membuka map itu dengan tangan sedikit gemetar. Pelayan yang berdiri di pojokan ruangan ikut menahan napas melihatnya.
Isinya adalah... CV calon istri lain. Lengkap dengan foto studio mahal berbingkai emas.
Kandidat 1: Putri pengusaha sawit, S2 luar negeri, usia 26. Alasan ditolak: Terlalu banyak bicara soal liburan dan tas branded.
Kandidat 2: Dokter spesialis bedah, usia 29. Alasan ditolak: Tidak menginginkan anak dalam 5 tahun ke depan karena fokus karir. Visi keluarga tidak sejalan.
Kandidat 3: Model, brand ambassador, usia 24. Alasan ditolak: Tidak bisa diam selama 5 menit.
Kandidat 4: Anak pengusaha properti, usia 25. Alasan ditolak: Menangis saat dijelaskan pernikahan ini adalah komitmen jangka panjang.
Dan di halaman terakhir, dengan kertas yang lebih tipis, dirinya... Kandidat 7. Sinta Aniswari. Dokter umum co-ass. Foto 3x4 formal dengan rambut hitam sebahu yang disisir rapi, senyum tipis yang dipaksakan karena diminta fotografer. Bukan foto studio mahal, hanya foto untuk ijazah wisuda. Alasan dipilih: "Keluarga memiliki rumah sakit daerah, dapat disinergikan dengan portofolio kesehatan Wijaya Group. Karakter: penurut, kalem, tidak banyak tuntutan (menurut observasi awal). Ingin menjadi dokter anak - nilai plus untuk citra keluarga."
Darah Sinta berdesir. Panas dingin.
Jadi ini toh kenapa aku dipilih. Karena aku kelihatan penurut. Karena CV bualan Papa. Karena aku mau jadi dokter anak. Aku adalah opsi ketujuh. Cadangan dari cadangan. Kalau 6 orang di depan menolak, baru aku dipanggil.
Dean masih melanjutkan dengan nada lempengnya, tanpa sadar dia baru saja meremukkan sedikit harga diri Sinta, tapi juga memberinya sedikit harapan dengan kalimat sebelumnya.
"Saya sudah mewawancarai 6 kandidat sebelumnya. Kandidat 2 adalah dokter yang hebat, tapi visi kami soal keluarga tidak sama. Saya menghargai perempuan yang berkarir, Nona Sinta. Justru itu alasan saya memilih kamu. Kamu ingin menjadi dokter anak. Itu sejalan dengan visi saya. Saya butuh Nyonya Wijaya yang penyayang dan bisa membangun keluarga yang stabil, bukan hanya mengejar jabatan. Saya tidak akan melarang kamu bekerja."
Untuk pertama kalinya, Sinta menatap Dean dengan sedikit terkejut. Di balik kekakuannya, ada logika yang... adil. Dia tidak melarangnya jadi dokter.
"Kamu... dari tadi diam. Bagus. Sesuai deskripsi ayahmu. Saya suka yang tidak banyak tanya. Lebih efisien," lanjut Dean, kembali ke mode robotnya sambil melirik laptopnya yang menyala.
SAYA DIAM KARENA DISURUH PAPA! KAKI SAYA UDAH DIINJEK PAPA SAMPE MEMAR, PAK! ASLINYA SAYA CEREWET BANGET! KALAU SAYA JADI DIRI SENDIRI, RESTORAN MAHAL INI UDAH SAYA BIKIN JADI TEMPAT STAND-UP COMEDY 30 MENIT NONSTOP! EFISIEN APAANNYA!
Sinta hampir tersedak sashiminya sendiri.
"Jadi," Dean melirik jam tangannya lagi. Pukul 14.07. Tujuh menit. Makan siang bisnis ini sudah memakan waktu tujuh menit dari jadwalnya yang padat. "Apakah kamu bersedia menikah dengan saya, Nona Sinta? Pernikahan minggu depan. Selasa, jam 10 pagi. Jangan terlambat. Semua sudah saya siapkan. Kamu hanya perlu datang."
Semua orang di ruangan private itu menatap Sinta. Pelayan pun menatap Sinta dengan tatapan kasihan.
Papanya menatap dengan harap, dengan mata yang berkata tolong selamatkan rumah sakit keluarga kita, Nak. Papa tidak punya pilihan lain. Maafkan Papa harus berbohong.
Mamanya Dean menatap dengan penilaian, menunggu jawaban dari Kandidat Nomor 7 yang penurut itu.
Dan Sinta, gadis 21 tahun yang ceria dan cerewet itu, yang bermimpi menikah karena cinta dan dilamar dengan bunga dan lutut yang bertekuk di tepi pantai sambil sunset, harus menjawab lamaran paling tidak romantis di dunia di restoran Jepang yang dingin, di depan sashimi yang tidak dimakan, dari pria paling kaku yang pernah ia temui, dengan CV palsu buatan Papanya sendiri.
Sinta menarik napas panjang. Mengeluarkan senyum anggunnya lagi. Senyum yang akan ia pakai selama 2 tahun ke depan. Senyum topengnya.
"Ya, Pak Dean. Saya bersedia."
Dean mengangguk puas. Seperti baru saja berhasil merekrut manajer baru yang potensial. Dia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Akhirnya, makan siang selesai.
"Bagus. Keputusan yang bijak. Saya suka efisiensi."
Di dalam mobil pulang, Sinta tidak bisa lagi menahan senyum anggunnya. Senyum itu luruh seketika. Bahunya turun. Matanya yang tadi dibuat kalem dan sayu, sekarang kembali berbinar-binar cemas, cerewet, dan penuh air mata.
"Pah! Papa keterlaluan!" Sinta langsung meledak, kembali menjadi Sinta yang asli yang berisik. "Penurut? Pemalu? Tidak banyak bicara? Jago masak? Papa ngarang dari mana? Papa jual anak Papa dengan deskripsi kulkas hemat energi! Gimana kalau nanti dia tahu aslinya aku cerewet kayak toa masjid, Pah? Gimana?"
Papanya yang di sebelahnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus kepala anak gadisnya yang rambut sebahunya sudah sedikit berantakan.
"Maafkan Papa, ya, Sayang. Papa terpaksa. Papa tahu kamu anak yang paling ceria di dunia. Tapi... kita butuh ini."
Sinta menatap keluar jendela mobil. Jakarta macet. Sama macetnya dengan pikirannya. Restoran mahal itu sudah jauh di belakang, tapi bau dinginnya masih terasa.
Dan Sinta tahu, sejak hari itu, di usia 21 tahun, di private room restoran Jepang itu, dia harus mengubur Sinta yang ceria dan cerewet itu dalam-dalam. Setidaknya untuk 2 tahun ke depan.
Dan mulai belajar menjadi Sinta yang anggun, penurut, dan efisien sesuai CV bualan Papanya.
Seorang Nyonya Wijaya.
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA
Bab 2 - Protokol Malam Pertama
Pernikahan itu terjadi hari Selasa jam 10 pagi tepat, persis seperti yang dijadwalkan Dean seminggu lalu.
Tidak ada gedung mewah yang disewa, tidak ada ribuan undangan, dan tidak ada dekorasi bunga segar yang menghabiskan ratusan juta. Pernikahan Dean Galang Wijaya dan Sinta Aniswari hanya dihadiri oleh keluarga inti kedua belah pihak di sebuah ruangan privat di kantor urusan agama. Sah secara hukum, sah secara agama, selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Bagi Dean, pernikahan ini adalah komitmen legal dan transaksi bisnis strategis, jadi dia tidak melihat urgensi untuk membuat pesta besar yang tidak efisien.
Selesai akad, mereka langsung bertolak menuju tempat tinggal baru mereka. Sebuah penthouse mewah milik Dean di kawasan Kuningan yang luas, rapi, dan luar biasa dingin.
Malam harinya, Sinta duduk termenung di tepi ranjang king-size yang seprainya sewarna abu-abu arang. Sangat maskulin, sangat kaku, sangat Dean. Sinta masih memakai kebaya putih sederhana sisa akad nikah tadi pagi. Meskipun tidak ada pesta resepsi yang melelahkan, punggung Sinta rasanya tetap mau patah karena ketegangan mental yang dia rasakan seharian ini.
YA TUHAN... akhirnya selesai juga akting jadi wanita anggun seharian ini. Korset ini... astaga, lambungku kayak lagi diperas buat bikin jus! Pengen banget rasanya copot ini semua terus rebahan sambil makan mi instan pakai cabai rawit!
Pintu kamar mandi terbuka. Dean keluar dengan kaos oblong hitam polos dan celana panjang senada. Rambutnya yang biasa klimis disisir ke belakang kini tampak agak basah dan jatuh di dahinya, membuatnya kelihatan sedikit lebih muda. Tapi wajahnya? Tetap lempeng. Tetap datar seperti papan pengumuman kelurahan.
Dean berjalan ke arah meja kerja di sudut kamar, mengambil sebuah map kulit berwarna hitam, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia tidak duduk di sebelah Sinta, melainkan menarik sebuah kursi kerja ergonomis dan duduk tepat di hadapan Sinta. Jarak mereka sekitar satu meter.
Sinta langsung menegakkan punggungnya, memasang kembali senyum "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut".
"Capek?" tanya Dean. Suaranya berat, datar, tanpa intonasi naik turun.
"Sedikit, Pak Dean," jawab Sinta lembut.
Dean mengangguk sekali, lalu membuka map kulit di pangkuannya. "Wajar. Walaupun pernikahan kita tertutup tanpa pesta, tekanan mentalnya pasti ada. Ini ada beberapa hal yang harus kita sepakati untuk memulai operasional rumah tangga kita."
OPERASIONAL RUMAH TANGGA? Dia pikir ini pabrik tekstil?! Sinta membatin, menahan kedutan di sudut bibirnya.
Dean membalik halaman pertama. "Jadwal sarapan adalah pukul 06.30 tepat. Saya berangkat kerja pukul 07.15. Untuk urusan domestik, sudah ada kepala pelayan yang datang tiga kali seminggu. Kamu tidak perlu membersihkan rumah, fokus saja pada kuliah kedokteranmu. Dan..." Dean menjeda kalimatnya, menatap Sinta dengan mata hitamnya yang lurus tanpa ekspresi. "...soal kebutuhan biologis suami istri."
Jantung Sinta rasanya berhenti berdetak sesaat. Darahnya langsung berdesir naik ke pipi.
Dean melanjutkan dengan nada yang sama seperti orang sedang membaca laporan cuaca. "Saya menjadwalkan agenda ini satu bulan empat kali. Atau seminggu sekali, idealnya di hari Jumat malam atau Sabtu malam agar tidak mengganggu produktivitas kerja di hari kerja. Bagaimana, Nona Sinta? Apakah jadwal ini memberatkanmu?"
Hah? Dijadwal? Sebulan empat kali? Dia pikir ini jadwal rontgen atau shift malam co-ass?! Terus apa tadi? Biar gak ganggu produktivitas kerja?! Ya ampun, ini manusia apa robot rakitan Jepang sih?! Sinta menjerit-jerit histeris di dalam kepalanya.
Tapi di luar, Sinta hanya menunduk canggung, berpura-pura malu dan penurut. "Saya... saya mengikuti pengaturan Pak Dean saja."
Dean menatap Sinta beberapa detik, memperhatikan remasan tangan Sinta di atas kebayanya. Pria itu menutup map kulitnya dengan bunyi klek yang pelan.
"Hari ini hari Selasa. Bukan jadwalnya. Tapi karena ini malam pertama, secara teori konvensional, seharusnya kita melakukannya malam ini," kata Dean lempeng.
Sinta langsung menegang. Matanya membelalak kecil. Mampus! Malam ini langsung mulai?! Aku bahkan belum siap mental!
Melihat reaksi Sinta, Dean menyandarkan punggungnya ke kursi. Ekspresinya tidak berubah, tapi suaranya terdengar sangat tegas. "Tapi saya tidak akan memaksa kamu melakukannya malam ini, Nona Sinta. Saya tahu ini pernikahan bisnis. Kita belum saling mengenal dengan baik. Saya sangat menghormati kenyamanan dan pendapat kamu. Kalau kamu merasa lelah atau belum siap secara mental, kita bisa menundanya."
Sinta mendongak, menatap mata Dean. Di balik tatapan robotik itu, ada kejujuran yang mutlak. Pria ini tidak sedang bermain trik atau mencoba merayunya. Dia benar-benar memberikan pilihan bebas pada Sinta tanpa ada paksaan patriarki sama sekali. Ada rasa lega yang luar biasa besar yang mendadak mengalir di dada Sinta.
Oke... di balik sifat kaku bin anehnya, dia ternyata cowok budiman yang tahu arti kata 'consent'. Nilai plus buat Pak Robot.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Dean. Kalau boleh... jujur, saya memang masih agak lelah dan butuh waktu untuk beradaptasi," jawab Sinta dengan nada selembut mungkin, padahal hatinya menari-nari girang.
Dean mengangguk paham. "Baik. Kita tunda untuk malam ini. Kamu bisa istirahat."
Dean berdiri dari kursinya, hendak berjalan menuju sisi ranjangnya yang lain. Namun, baru dua langkah, pria itu mendadak berhenti. Dia berbalik, menatap Sinta lagi dengan muka lempeng tanpa dosa.
"Tapi, Nona Sinta," kata Dean dengan suara beratnya yang mantap. "Saya harap kamu tidak menundanya terlalu lama."
Sinta mengerjap. "Eh?"
"Saya pria dewasa yang normal secara biologis," lanjut Dean dengan nada sekaku dosen statistik yang sedang menjelaskan rumus matematika dasar. "Fungsi reproduksi dan hormon saya berjalan dengan sangat baik dan sehat sesuai hasil medical check-up bulan lalu. Jadi, menunda terlalu lama tidak akan baik untuk efisiensi kesehatan saya. Tolong dipertimbangkan."
UHUK!
Sinta hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot sempurna melihat punggung Dean yang sekarang dengan santai berjalan ke sisi ranjang, menarik selimut, dan merebahkan diri dengan posisi telentang sempurna—tangan bersedekep di atas perut, siap untuk tidur tepat waktu.
PRIA NORMAL?! SEHAT SESUAI MEDICAL CHECK-UP?! EFISIENSI KESEHATAN MATAMU, PAK DEAN! YA TUHAN, BISA-BISANYA DIA NGOMONGIN HAL MESUM DENGAN MUKA KAYAK LAGI PRESENTASI SAHAM RAKSASA!
Sinta buru-buru berdiri dan berlari kecil masuk ke kamar mandi sebelum mukanya matang karena menahan tawa sekaligus malu setengah mati. Pernikahan ini... sepertinya akan jauh lebih menguras emosi dan kewarasan daripada ujian komprehensif kedokteran yang paling horor sekalipun.
......................
Keesokan harinya, pukul 06.25 pagi.
Sinta sudah berdiri di area ruang makan penthouse dengan gaun rumahan sewarna pastel yang anggun. Di atas meja makan marmer, kepala pelayan sudah menyajikan menu sarapan: american breakfast berupa roti panggang, telur mata sapi, sosis, dan dua cangkir kopi hitam.
Tepat pukul 06.30, pintu kamar terbuka. Dean keluar dengan setelan kerja yang luar biasa rapi. Rambutnya sudah kembali klimis tanpa cela. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang sama dengan jam di dinding.
Sebagai gadis yang aslinya aktif dan tidak bisa diam, Sinta langsung berinisiatif menyapa duluan demi mencairkan suasana dingin di ruangan itu. Dia memasang senyum manis nan kalemnya. "Selamat pagi, Pak Dean."
Dean yang baru saja menarik kursi di ujung meja hanya melirik Sinta sekilas. "Pagi," jawabnya singkat. Suaranya berat, datar, tanpa intonasi.
Pria itu mulai memotong sosisnya dengan gerakan yang sangat rapi dan metodis. Tidak ada suara denting pisau yang berisik menabrak piring. Semuanya terukur.
Suasana langsung hening seperti kuburan. Sinta yang aslinya cerewet merasa tenggorokannya gatal kalau harus diam saja. Dia mencoba membuka obrolan lagi sambil menunjuk cangkir di dekat Dean. "Hmm, Pak Dean... kopinya mau ditambah gula? Atau susunya?"
Dean mengunyah makanannya, menelan, lalu menatap Sinta datar. "Tidak. Lebih efektif hitam polos. Terima kasih."
Lebih efektif hitam polos katanya? Singkat padat jelas ya, Pak Robot! Orang nanya baik-baik jawabnya kayak lagi ngisi kuesioner! Sinta mengelus dadanya di dalam hati, menahan kedutan di sudut bibirnya agar senyum anggunnya tidak runtuh.
Sinta tidak menyerah. Dia mencoba topik lain yang lebih umum tentang cuaca hari ini. "Oh ya, Pak Dean. Hari ini cuacanya agak mendung, ya. Apa perlu saya siapkan payung di mobil?"
Dean meminum kopinya sedikit, meletakkannya kembali tanpa suara. "Tidak usah. Sudah ada protokol standar di mobil."
PROTOKOL STANDAR PAYUNG?! BAHASAMU, PAK CEO!
Sinta langsung bungkam. Dia menunduk, menusuk sosisnya dengan garpu agak keras saking kesalnya. Sinta bukannya takut atau minder pada Dean. Sama sekali tidak. Dia diam karena menahan dongkol setengah mati!
Setiap kali dia mencoba bersikap ramah dan membuka obrolan normal, respon Dean selalu super singkat, kaku, dan seperlunya saja. Alhasil, sarapan pertama mereka sebagai suami istri pun berlanjut dalam keheningan yang hakiki sampai Dean selesai makan tepat waktu dan berangkat ke kantor.
...****************...
...----------------...
Aku usahakan sehari 1 BaB :v gk bisa kasih banyak2 dulu..
Parkha
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA
*BAB 3 - MISTERI CINCIN BERLIAN DAN GOSIP SEKRETARIS*
Waktu bergulir dengan sangat adil, membawa rutinitas baru yang aneh namun berjalan dengan sangat disiplin di dalam penthouse Kuningan.
Namun di luar sana, baru beberapa minggu pernikahan tertutup itu berjalan, lingkungan di sekitar Dean maupun Sinta mulai menyadari sebuah perubahan kecil di jari manis mereka masing-masing. Sebuah perhiasan mewah yang terpasang dengan tegas, memicu riak gosip yang tak terbendung di dua tempat kerja yang berbeda.
*DI KANTOR WIJAYA GROUP*
Di lantai teratas Gedung Wijaya Group yang megah, kasak-kusuk itu bermula dari kubikal divisi keuangan lalu menyebar cepat ke lantai-lantai bawah seperti api menyiram bensin.
"Serius, demi apa Pak Dean pakai cincin kawin?!" bisik Tari, staf administrasi, sambil mencondongkan badannya ke meja rekan kerjanya saat jam istirahat. Matanya melotot heboh, nyaris tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya pagi tadi. "Pria paling kaku se-Indonesia raya yang kalau ditatap cewek langsung ngeluarin aura kulkas dua pintu itu... udah nikah?!"
"Iya! Tadi pas gue anter berkas ke ruangan atas, gue lihat sendiri di jari manis tangan kirinya. Cincin platina dengan desain maskulin yang super elegan, bertahtakan potongan berlian hitam yang sangat langka," sahut Rian, staf dari divisi lain dengan nada berbisik yang menggebu-gebu. "Tapi pertanyaannya... nikah sama siapa? Gak ada resepsi, gak ada pengumuman di media, bahkan di akun sosial media perusahaan gak ada ucapan selamat dari jajaran direksi. Tiba-tiba aja Pak Bos pasang cincin mahal itu."
"Jangan-jangan... sama Mbak Anita?" Tari menebak, menjentikkan jarinya dengan heboh. "Kan sebelum Pak Dean pakai cincin, gosipnya mereka berdua ada hubungan spesial. Mbak Anita kan sekretaris pribadinya, ke mana-mana nempel Pak Dean terus. Malah dengar-dengar, Mbak Anita sendiri yang sering ngasih sinyal ke orang-orang kalau dia itu pacarnya Pak Bos!"
Faktanya, Anita memang sudah lama menaruh hati pada atasannya yang tampan namun kaku itu. Sebagai sekretaris pribadi tunggal, Anita sebenarnya murni hanya mengurus jadwal pekerjaan dan bisnis Dean.
Namun, dia tidak sengaja mengetahui status pernikahan Dean dari dokumen kerja sama strategis yang baru saja ditandatangani minggu lalu. Di dalam berkas sinergi portofolio antara Wijaya Group dan rumah sakit daerah milik keluarga Aniswari, tercantum klausul legal yang menyatakan bahwa Dean Galang Wijaya telah terikat dalam hubungan pernikahan bisnis dengan putri dari pemilik Rumah Sakit Santika tersebut.
Karena Anita belum pernah bertemu langsung dengan wanita dari keluarga Aniswari itu, dan melihat bagaimana Dean memperlakukan pernikahan ini seperti transaksi bisnis yang dingin—tanpa pesta, tanpa cuti menikah, bahkan langsung bekerja keesokan harinya—Anita menarik kesimpulan sepihak. Dia mengira sang istri hanyalah gadis perjodohan bisnis yang membosankan, kaku, dan sama sekali tidak dicintai oleh Dean.
Sifat cuek Dean yang selalu mengabaikan selentingan gosip kantor tentang hubungan mereka juga membuat Anita semakin besar kepala. Dia merasa diamnya Dean adalah bentuk lampu hijau baginya untuk tetap berakting seolah-olah dialah wanita yang paling mengerti sang CEO, sementara istri sahnya hanyalah pajangan di atas kertas dokumen.
Sore itu, setelah rapat direksi yang melelahkan selesai, Anita masuk ke ruang kerja Dean yang luas untuk merapikan tablet dan beberapa berkas di meja sang bos. Dia sengaja berdiri agak dekat, merapikan kerah bajunya yang sedikit rendah, lalu mencoba memancing obrolan dengan nada manja yang ditahan.
"Pak Dean," ucap Anita dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Ini ada beberapa undangan makan malam amal dari asosiasi pengusaha untuk bulan depan. Di dalam undangan tertulis... Pak Dean diharapkan hadir bersama pasangan. Apakah saya perlu mengonfirmasi kehadiran... istri Pak Dean? Putri dari keluarga Aniswari?"
Dean yang sedang menatap layar laptopnya bahkan tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Jemarinya yang mengenakan cincin berlian hitam itu mengetik di atas papan ketik dengan ritme yang sangat teratur.
"Tidak perlu," jawab Dean singkat. Suaranya datar, berat, dan dingin. "Konfirmasi kehadiran saya sendiri saja."
"Kalau begitu, apakah boleh saya yang menemani Anda dan menjadi pendamping Anda nanti malam?" tanya Anita dengan nada penuh harap, mengingat sebelum bosnya menikah, dialah yang selalu mendampingi Dean di setiap acara formal perusahaan.
Dean menghentikan ketikannya. Dia mengangkat kepala, menatap Anita dengan mata hitamnya yang lurus tanpa ekspresi. Tatapan dingin yang selalu sukses membuat Anita salah tingkah sekaligus merinding di tempatnya berdiri.
"Tidak perlu," kata Dean dengan nada sekaku mesin pemotong kertas. "Ini acara makan malam amal, bukan pameran bisnis yang membutuhkan asistensi sekretaris. Kehadiran saya sendiri sudah sangat efektif. Tolong urus konfirmasinya sekarang."
Mendengar kata "tidak perlu" dan jawaban dingin itu, senyum di wajah Anita sempat membeku sesaat. Namun, begitu dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan megah itu, sifat besar kepalanya kembali meraja.
_Pak Dean bahkan gak sudi membawa istrinya ke acara penting, dan dia menolak didampingi siapa pun demi menjaga privasi bisnis ini. Hubungan mereka pasti sangat hambar dan murni demi bisnis rumah sakit itu. Wanita keluarga Aniswari itu cuma nama di atas dokumen kerja sama, sementara aku tetap menjadi satu-satunya wanita yang paling dekat dengannya di kantor setiap hari,_ pikir Anita penuh percaya diri.
Anita tidak tahu saja, kalau di belahan Jakarta yang lain, putri keluarga Aniswari yang asli—yang berwajah anggun namun berhati "toa masjid"—sedang menjadi dirinya sendiri di rumah sakit, sangat kontras dengan sosok di rumah.
...----------------...
*DI RUMAH SAKIT SANTIKA*
Sementara itu, di Rumah Sakit Santika, suasana di poli anak terasa sangat hidup.
Di tempat kerjanya ini, Sinta benar-benar melepaskan seluruh topeng "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut" yang melelahkan itu. Di sini, dia kembali menjadi Sinta yang asli: ceria, aktif, dan cerewetnya minta ampun.
Memakai bando berbentuk telinga kelinci berbulu putih di atas kepalanya, Sinta sedang asyik menirukan suara bebek untuk membujuk seorang balita yang menangis histeris karena takut diperiksa.
"Wek, wek, wek! Tuh, kata Donal Bebek kalau anak pinter diperiksa dadanya nanti dapat stiker dinosaurus! Hebat kan? Sini, Dokter Sinta dengerin suara naga di perut kamu dulu yaaa, nyuuut!" Sinta mengoceh nonstop dengan ekspresi wajah yang sangat heboh, membuat anak kecil itu mendadak berhenti menangis dan malah tertawa cekikikan.
Para perawat yang lewat di koridor hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Dokter Sinta yang selalu punya energi cadangan seperti baterai tidak habis-habis.
Sinta baru saja selesai menempelkan stiker di punggung tangan si anak saat Dokter Reza, spesialis anak senior yang tampan dan ramah, bersandar di ambang pintu sambil bertepuk tangan pelan.
Dada Sinta berdesir agak perih sesaat melihat senyuman itu. Dokter Reza adalah senior yang diam-diam pernah ia taksir secara rahasia selama masa koas dulu. Namun, impian itu kini harus ia kubur dalam-dalam karena cincin berlian di jarinya adalah pengingat mutlak bahwa dia sudah mengikat janji dengan pria lain.
"Konsentrasi penuh dan komunikasi yang luar biasa, Dokter Sinta. Donal Bebeknya sangat meyakinkan," puji Dokter Reza dengan senyum hangat yang selalu sukses membuat hari-hari melelahkan di rumah sakit menjadi lebih berwarna.
Sinta langsung berdiri tegak, tertawa renyah tanpa canggung—sifat aslinya yang berisik keluar begitu saja. "Ah, Dokter Reza bisa aja! Ini taktik darurat, Dok. Kalau gak pakai suara bebek, poli kita bisa berubah jadi konser tangisan sekampung!"
"Bagus. Pertahankan performa kamu, ya. Jangan lupa istirahat dan makan siang," kata Dokter Reza lembut sambil menepuk pundak Sinta sekilas sebelum melangkah pergi untuk memeriksa pasien lain.
Sinta menatap punggung Dokter Reza dengan helaan napas kecil. _Ah... andai saja suamiku punya fitur senyum seramah Dokter Reza, walau cuma lima persen aja. Tapi ya sudahlah, nasib dapatnya robot rakitan._
Sinta kemudian melangkah masuk ke ruang istirahat dokter untuk meneguk segelas air putih hangat. Begitu dia duduk, dia langsung dikepung oleh Maya, dokter umum yang bertugas di poli yang sama, beserta dua teman sejawatnya. Maya langsung menarik tangan kanan Sinta tanpa permisi dan mengangkat jarinya tinggi-tinggi. Matanya berkilat menatap batu permata di sana.
"Sinta! Ayo mengaku! Ini cincin apa? Kamu beneran udah nikah beberapa minggu lalu?! Gila, berliannya gede banget, Ta! Ini asli kan?!" seru Maya heboh.
Sinta langsung cengengesan, kembali ke mode cerewetnya. "Ya asli lah, May! Gila aja kalau imitasi, jariku bisa gatal-gatal alergi seng! Iya, aku udah nikah beberapa minggu lalu."
"Hah?! Kok mendadak banget? Kok gak ada pesta? Gak ngundang kita-kita lagi!" protes dokter lainnya dengan bibir cemberut. "Terus... suami kamu siapa? Kerjanya apa? Kok bisa beliin berlian se-asli dan semahal ini tapi misterius banget? Dia gak pernah sekalipun kelihatan jemput kamu di depan lobi RS."
Sinta memutar bola matanya pelan, mengelus lingkar cincin berliannya dengan gaya santai. "Suamiku... orang biasa kok. Cuma pekerja kantoran biasa. Kemarin nikahnya memang tertutup cuma buat keluarga inti aja karena kami sama-sama sibuk setengah mati."
_Orang biasa Hongkong! Suamiku itu konglomerat yang kalau batuk aja bisa bikin bursa saham bergetar!_ jerit Sinta dalam hati, gemas sendiri dengan kebohongannya yang bertumpuk.
"Yah... orang biasa toh," Maya mendesah, nadanya mendadak berubah agak nyinyir dan meremehkan setelah mendengar kata 'pekerja kantoran'. "Paling suamimu maksain diri nyicil cincin ini biar kelihatan mentereng di depan keluarga dokter. Tapi Ta, masa iya pengantin baru dicuekin begini? Kamu pulang pergi naik taksi online terus, bahkan sering pulang larut malam sendiri. Suami kamu kok kayak gak peduli gitu ya? Jangan-jangan... kamu gak disayang ya sama suami kamu? Cuma dikasih modal cincin biar kamu gak banyak nuntut di rumah? Padahal di sini banyak yang naksir kamu, bahkan tadinya kami kira kamu bakal cinlok sama Dokter Reza."
Sinta langsung tertawa keras—tawa khasnya yang blak-blakan untuk menutupi rasa dongkolnya. "Aduh, May! Pikiranmu kejauhan kayak angkot nyasar! Dia sangat bertanggung jawab, kok. Finansial lancar jaya. Hanya memang... tipenya kaku kayak triplek proyek."
_Kaku banget malah! Jangankan urusan hati, diajak ngobrol soal cuaca pagi aja dia jawabnya pakai pasal protokol standar! Bisa darah tinggi aku lama-lama menghadapi ke-efisien-an hidupnya itu!_ Sinta membatin gemas, menahan tawa sekaligus dongkol yang bercampur jadi satu di dalam kepalanya.
Faktanya, di balik status "istri terabaikan" yang digosipkan orang-orang rumah sakit, Dean justru adalah pria yang sangat menghormati komitmen pernikahan mereka. Hubungan mereka memang terasa dingin dan kaku layaknya orang asing di luar, namun di dalam penthouse, mereka adalah dua orang asing yang sangat disiplin menjalani peran masing-masing dengan adil.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!