Indonesia
NovelToon NovelToon

Anak Kembar Yang Kusembunyikan

BAB 1 PERKENALAN TOKOH

SELAMAT MEMBACA !!!

Zhafira Nayara Humaira gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian yang lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang kuliah dengan jalur beasiswa.

Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan ia pacarnya. Tapi selalu ia tolak meski dengan cara halus. Ia tak ingin pikirannnya terganggu.

“Fira…!” panggil Elena sahabatnya dari awal masuk kuliah. Tapi mereka beda jurusan, jika Fira masuk jurusan desain. Sedangkan Elena sendiri masuk jurusan Manajemen ekonomi.

Elena Prameswari anak orang yang cukup kaya di Kota ini, tapi sifatnya baik dan tak sombong. Ia baik sama semua orang yang bersikap baik dengannya tapi jika orang itu jahat, ia juga akan bersikap jahat dengan orang itu.

Fira membalikan tubuhnya ke belakang, mendapati Elena yang berlari ke arahnya.

“Halo, Sayangku bagaimana kabarnya?” tanya Fira dengan tersenyum menyambut kedatangan sahabatnya.

“Fir, nanti malam aku ikut tidur di Kostmu ya. Di rumah sepi Mama sama Papa ingin berangkat keluar kota,” ujar Elena meminta izin kepada sahabatnya.

Fira mengangguk mantap, "Silakan saja kalau mau menginap di kosku. Tapi kamu tahu sendiri kan betapa sempitnya tempat tinggalku itu?"

Wajah Elena langsung berseri-seri penuh senyum, begitu lega dan senang mendengar izin dari sahabatnya itu. Tak ada sedikit pun keberatan di hatinya, yang penting bisa berada di dekat Fira.

Mereka berjalan ke arah kelasnya masing-masing yang kebetulan kelas mereka sangat dekat, hanya beda gedung saja.

Di perjalanan menuju kelasnya Fira dan Elena dihadang oleh geng cewek jurusan manajemen, sejurusan dengan Elena tapi beda kelas. 

“Hei kau anak beasiswa!” panggilnya dengan suara lantang, semua orang yang lalu lalang di sana berhenti. Siapa sih yang tak kenal gadis itu. Anak Dekan di kampusnya namanya Sabrina yang punya sikap sesuka hatinya dan sering membully anak-anak yang lemah.

“Anda panggil saya? Siapa ya El yang dipanggilnya?” tanya Fira kepada Elena pura-pura tak mengerti siapa yang dipanggil Sabrina.

"Memangnya di sini masih ada anak beasiswa lain selain kamu, bodoh!" seru Sabrina kesal karena Fira malah bersikap seakan tak tahu apa-apa.

“Lho siapa tau ada anak beasiswa lainya? Lagian ya saya kasih tau nih. Nama saya itu Zhafira Nayara Humaira, biasa dipanggil Fira. Bukan anak beasiswa. Ya walaupun benar sih saya ini anak beasiswa. Terus apa tadi saya bodoh…apa nggak sah salah ucap?”

Hmmm…orang-orang yang melihat kejadian itu dan kebanyakan anak desain terkekeh mendengar jawaban dari seorang mahasiswa berpredikat genius itu.

“Awas kamu! Saya peringatkan ya, jangan pernah berani mendekati Bryan lagi! Dia itu pacarku!” bentaknya sekali lagi sambil menunjuk tajam ke arah Fira.

Kerumunan mahasiswa yang melihat kejadian itu makin memadat, seolah sedang menyaksikan pertunjukan drama yang tak terduga pagi itu.

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat tegas, dingin, dan berwibawa membelah keramaian. "Ada apa sebenarnya disini? Kenapa semua berkumpul disini?”

Semua orang seketika terdiam dan menoleh ke arah sumber suara itu. Siapa yang tak kenal orang itu, anak donatur utama di Kampusnya.

“Bry…Bryan!” panggil Sabrina dengan lembut, nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat dibanding saat tadi sedang memaki Fira.

Bryan hanya menatap Sabrina dengan pandangan tajam dan dingin, seolah tak mendengar sama sekali panggilan halus dari Sabrina.

Bryan Putra Danendra anak pengusaha no satu di Negeri ini. Mempunyai sifat dingin kepada siapapun kecuali keluarga dan teman dekatnya.

Fira yang malas melihat drama mereka, tanpa kata ia pergi dari kerumunan teman-temannya menuju ke kelasnya sendiri.

Bryan menatap kepergiaan Fira, dalam hatinya salut dia tak pernah takut dengan siapapun yang ingin menindasnya. Bryan semakin kagum dengan Fira.

“Semua bubar, sebentar lagi pelajaran pertama akan segera dimulai!” perintah Bryan dengan dingin.

 Sabrina hanya bisa mengepalkan tangannya kesal mendengar nada perintah Bryan yang tak bisa dibantah sedikitpun. Ia menghentakkan kakinya kuat-kuat di lantai, lalu berbalik pergi dengan wajah merah padam meninggalkan kerumunan mahasiswa yang masih memperhatikan mereka.

Sesampainya di depan ruang kelas, Fira langsung melangkah masuk dan duduk di sebelah sahabat karibnya, Tasya.

Nama lengkapnya Tasya Melisa Putri, ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan kaya raya di negeri ini. Meski demikian, ia tak pernah membedakan teman dan selalu setia mendampingi Fira dalam suka maupun duka.

“Tumben telat, Fir?” tanyanya dengan sedikit khawatir.

Fira tersenyum sambil berbisik, “Biasa ada drama dari  Cinderella Sabrina hahahaha,” jawab Fira dengan tertawa cukup keras, membuat teman-teman sekelasnya melihat ke arah mereka.

“Hmmm…hmmm ada apa nih? Pagi-pagi sudah pada tertawa saja. Semangat dengan pelajaran Bapak ya?” tanya Dosen itu.

“Huuuu….Siapa yang semangat, Pak. Yang ada kepala saya sudah pusing duluan!” seru salah satu teman sekelasnya Fira.

Dosen itu tersenyum penuh arti dan tak marah, ia tau semua mahasiswa banyak yang tak menyukai pelajarannya yang terkesan membosankan.

“Kalian itu harus semangat, sebentar lagi menghadapi semester tiga, jadi kalian harus semangat seperti Neng Fira yang cantik dan pintar itu,” ucap Dosen itu lagi sebelum mulai pelajarannya.

“Huuu…huuu…giliran yang bening-bening saja ingat, Pak. Ingat yang dirumah!” seru salah satu temannya Fira yang selalu ceplas-ceplos kalau berbicara.

Dosen itu memulai menerangkan pelajarannya dengan serius, Fira memperhatikannya tanpa menoleh kemana-mana. Dia harus semangat dan nilainya harus tinggi jika tak ingin beasiswanya dicabut.

Tanpa terasa pelajaran pertama telah selesai, wajah-wajah yang lesu tadi sekarang berubah dengan senyum kelegaan.

“Alhamdulilah ya Allah, Engkau telah memutar waktu begitu cepat, sehingga kepala ini tak mengeluarkan asap!” seru temannya Fira yang bernama Zafran, ia juga termasuk salah satu sahabatnya Fira.

Zafran Andika anak yang kocak, selalu bisa mencairkan suasana yang tegang menjadi rileks kembali. Zafran anak kedua dari dua bersaudara, Mamanya ingin mempunyai anak perempuan tapi sudah tak bisa mengandung karena ada kista di rahimnya sehingga dengan terpaksa kandungannya harus diangkat. Jadi saat melihat Fira main ke rumahnya. Mamanya langsung menganggap Fira putri kandungnya.

"Hahahaha..." Tawa riang langsung meledak dari mulut semua orang mendengar ucapan jenaka Zafran. Suasana yang tadi sempat tegang seketika mencair, dan suasana hati mereka pun kembali terasa ringan serta rileks.

Fira hanya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat sekaligus saudaranya itu yang kelewat kocak, seolah tak habis pikir tapi dalam hati ikut tertawa.

“Fira, Sayang! Yuk kita ke kantin, aku yang akan mentraktir kamu dan Tasya…hmmm jangan lupa si Lena juga dikabari!” serunya mengajak kedua sahabatnya.

"Woy...Zaf! Kok cuma Fira sama Tasya aja yang ditraktir? Kami juga mau lho!" seru Denis protes tak terima, merasa Zafran selalu pilih kasih hanya memperhatikan kedua gadis itu saja.

Zafran seolah tak mendengar dan tak menanggapi sedikitpun teriakan Denis. Ia langsung berjalan keluar kelas menuju kantin begitu saja.

Denis yang ditinggal begitu saja kemudian menoleh ke arah Fira dengan wajah bingung. "Fir, kenapa sih Zafran seolah-olah selalu pilih kasih kalau lagi mentraktir teman? Kamu tahu nggak alasannya?" tanyanya.

BAB 2 HADIAH MISTERIUS

SELAMAT MEMBACA !!!

Denis yang ditinggal begitu saja kemudian menoleh ke arah Fira dengan wajah bingung. "Fir, kenapa sih Zafran seolah-olah selalu pilih kasih, kalau lagi mentraktir teman? Kamu tahu nggak alasannya?" tanyanya.

Fira hanya menarik bahunya ke atas, tak ingin berkomentar masalah Zafran. Fira dan Tasya berjalan bersebelahan menuju ke kantin kampus.

"Neng Fira, sini duduk sama Abang!" seru salah satu Mahasiswa yang selalu datang ke kantin itu.

"Huu...dasar playboy cap buaya!" seru semua orang yang berada di kantin itu.

Zhafira hanya tersenyum saja, lalu berjalan ke arah Zafran yang sudah mencari tempat duduk untuk tiga sahabatnya.

Fira tersenyum ceria saat diatas meja di depannya Zafran sudah tersedia makanan untuk mereka, "Terima kasih Abang Zafran yang paling ganteng."

Mereka berdua lalu duduk di depannya Zafran. Fira mengambil satu mangkok bakso, lalu membumbuinya dengam saos, kecap dan tentu tak lupa sambal yang merah merona itu.

Tanpa menunggu lama, Elena langsung jatuh duduk di samping Zafran sambil napasnya tersengal-sengal.

"Minum dulu, El! Kenapa lari sampai terengah-engah begitu? Kayak habis dikejar anjing gila saja lho!" seru Tasya sambil menyodorkan botol minumnya, penuh rasa ingin tahu.

Elena yang ditanya langsung nyengir, "Hehehe...aku takut kalian tinggal. Nanti rugi dong, tak dapat traktiran dari Abang ganteng ini," jawab Elena tanpa dosa sambil mencolek-colek tangannya Zafran yang sedang menikmati baksonya.

"Ih, kayak orang susah banget deh kamu! Padahal kamu kan sanggup beli segerobak baksonya Mang Didin sendirian tanpa perlu ditraktir Zafran," ujar Tasya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.

Mendengar itu Elena malah terkekeh geli, "Kan beda, Besty! Kalau ini kan gratis, nggak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Rasanya itu jadi jauh lebih nikmat dan beda sekali lho!"

Tanpa mereka sadari dari tadi ada yang memperhatikan keseruan empat Mahasiswa yang sedang makan bakso itu.

Sampainya di kelas, di mejanya Fira sudah banyak hadiah yang diletakkan di atas mejanya.

"Wah, ini namanya rezeki nomplok, Fir. Dari siapa lagi hadiah segitu banyaknya!" seru Tasya heran, ia heran setiap hari selalu saja ada yang mengirimkan hadiah misterius untuk Fira.

Fira hanya mengangkat kedua bahunya pelan, tanda ia sungguh tidak tau menahu soal hal itu. Dan juga tak mau tau

Pelajaran kedua sudah dimulai, pelajaran yang paling disukai oleh Fira. Lihatlah wajahnya sudah tak berkedip menatap ke layar yang sedang di putar oleh Dosennya.

Dua jam telah berlalu dan sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Fira dan Tasya membereskan perlengkapan kuliahnya, lalu bagaimana dengan semua hadiahnya.

"Zaf...bagaimana hadiah ini? Huh seperti orang kurang kerjaan saja. Apa tak lebih baik bicara saja pada orangnya, daripada kasih dengan sembunyi-sembunyi begini. Lagian aku juga tak mau pacaran takut mengganggu konsentrasi belajarku!" seru Fira sengaja bilang begitu. Ia hanya menebak saja, apa mungkin yang memberikan hadiah itu teman sekelasnya.

Zafran yang ditanya sahabatnya, dan mau diapakan hadiah yang begitu banyaknya, lalu seketika ia tersenyum. Membuat Fira dan Tasya mengernyitkan dahinya penasaran. Melihat perubahan raut wajah Zafran itu.

"Ada apa, Zaf?" tanya Fira cepat.

Zafran tersadar dari lamunannya, "Bagaimana kalau hadiah ini kita bawa ke panti saja. Itu lebih berguna daripada mubazir, Fir, Sha!" seru Zafran kasih ide kepada dua sahabatnya itu.

Fira mengangguk setuju, namun segera menambahkan dengan cemas, "Sebaiknya kita buka saja dulu ya, Zaf. Takutnya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dari tadi."

Zafran pun setuju, lalu mereka bertiga bersiap membuka bungkusan itu perlahan dengan perasaan sedikit berdebar.

Tasya membelalakan matanya, saat melihat ada kertas kecil di sana ada tulisan Gibran.

"Hei, Besty...!" seru Elena yang baru masuk ke dalam kelasnya Fira.

"Huzzztt...jangan keras-keras, El. Ayo bantuin kita buka hadiah ini. Dan kalian harus baca kertas ini!" tegur Tasya sambil menyodorkan kertas kecil itu.

Fira mengambil kertas itu dari tangan Tasya dan membacanya, di sana tertulis nada Gibran dan pernyataan sukanya ke Zhafira. Gibran juga menulis menunggu jawaban Fira di kelas sebelah.

Zhafira berjalan keluar ingin berbicara dengan Gibran di kelas sebelah.

Tok tok tok

Pintu diketuk oleh Fira saat melihat Gibran masih duduk di salah satu kursi sambil melamun.

"Fir...Fira..!" panggilnya gugup.

"Ya ini aku, Bran. Aku hanya ingin mengonfirmasikan soal pernyataan rasa sukamu kepadaku, Bran. Mohon maaf sebelumnya, Bukan aku ingin menyakiti hatimu, Bran. Tapi aku tak bisa menerimanya karena aku ingin fokus ke kuliahku dulu, aku tak ingin pikiranku bercabang dan mempengaruhi nilai kuliahku. Kamu sendiri tau kan kalau aku anak beasiswa," jawab Fira dengan lembut dan menunduk ia tak enak dengan Gibran.

Gibran yang paham dengan ucapannya segera berucap, "Maaf ya, Fira. Aku telah lancang seperti ini. Tak apa-apa aku paham apa yang kamu ucapkan tadi, Fir. Sekali lagi maafkan perbuatanku tadi," jawab Gibran dengan legowo hatinya.

"Dan maaf, Bran. Kalau barang-barang yang kamu kirim akan aku bawa ke panti. Apa kamu ikhlas?" tanya Fira dengan lembut.

Gibran tersenyum melihat pertanyaannya Fira, "Silahkan, Fir. Dalamnya juga hanya jajan kok, silahkan kalau mau di bawa ke panti aku ikhlas," jawab Gibran.

Setelah mendapatkan jawaban dari Gibran, Zhafira pergi kembali ke dalam kelasnya, kemudian mengajak sahabatnya pergi ke panti asuhan permata untuk mengantarkan barang-barang yang dari Gibran.

Mereka berempat berjalan ke arah parkiran mobil milik Zafran. Mereka langsung menaruh barang-barangnya di bagasi mobil.

Saat dalam perjalanan, Tasya langsung bertanya kepada sahabatnya itu. "Fir, bagaimana tadi?"

Fira tersenyum sambil wajah penasaran sahabatnya. "Gibran bisa menerima apa yang aku ucapkan soal penolakan pernyataannya, Sha. Seperti yang biasa aku lakukan kepada yang lain. Aku menolak karena ingin fokus dengan kuliahku."

Mereka bertiga menganggukan kepalanya, mereka tau apa yang dipikirkan Fira demi untuk menjaga nilai kuliahnya dan Fira juga sudah pernah bilang tak mau pacaran takut tambah banyak dosanya.

Sampainya di depan pintu gerbang panti, mereka berempat turun dengan membawa banyak jajanan dari Gibran tadi.

"Assalamualaikum," sapa mereka berempat.

"Walaikumsalam, Kakak. Kalian datang lagi," jawab salah satu anak yang sudah mengenal mereka berempat.

Mereka dipersilahkan untuk duduk dan Zafran menaruh semua jajanan itu di depan mereka.

"Lho, Nak Zafran, Nak Tasya, Nak Elena, Nak Fira. Kalian ke sini lagi kan baru dua hari yang lalu pada ke sini?" tanya Ibu pengasuh Panti, Mereka berempat berdiri dan mencium tangan Ibu panti.

BAB 3 TUDUHAN FITNAH

SELAMAT MEMBACA !!!

"Lho, Nak Zafran, Nak Tasya, Nak Elena, Nak Fira. Kalian ke sini lagi kan baru dua hari yang lalu pada ke sini?" tanya Ibu pengasuh Panti, Mereka berempat berdiri dan mencium tangan Ibu panti.

"Ya, Bu...Alhamdulilah kami ada sedikit jajanan buat adik-adik, Bu," jawab Zafran mewakili ketiga sahabatnya.

            ☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆

Hari terus berjalan tanpa terasa liburan semester tiga telah tiba. Zhafira mulai pekerjaan sampingannya di restoran milik keluarganya Zafran.

"Selamat siang, silahkan masuk!" sapanya ramah sambil sedikit menundukkan kepala.

Tanpa disadari oleh Fira, sudah ada empat pasang mata yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan sinis dan tak bersahabat. Di antaranya ada yang menyunggingkan senyum penuh arti, seolah sedang menyimpan rencana buruk untuknya.

"Kalian bertiga tau kan apa yang harus kalian lakukan?" tanya sambil menatap ketiga temannya.

Mereka bertiga balik menatap orang itu dengan tersenyum misterius.

Mereka pun mulai memesan minuman, namun secara sengaja meminta agar Zhafira yang mengantar pesanan itu.

Rekan kerja Zhafira yang kebetulan mendengarnya langsung mengernyitkan dahi penuh kebingungan, dalam hatinya bertanya-tanya, "Aneh sekali, kenapa harus Zhafira yang disuruh? Padahal kan bisa minta ke pelayan lain saja." Ia pun merasa ada yang tak beres dari tatapan dan nada bicara mereka.

Ia pun langsung beranjak pergi, lalu berjalan cepat masuk ke dalam dapur mencari sosok Zhafira yang dibicarakan pelanggannya itu.

Setelah menemukan Zhafira yang sedang menyiapkan pesanan, ia langsung berbisik, "Fira...meja nomor lima ada empat orang yang sedang memesan minuman tapi dia memintamu khusus untuk mengantarkannya. Kayaknya akan terjadi sesuatu deh, Fir. Kamu harus hati-hati!" seru temannya itu sambil berpesan kepadanya untuk berhati-hati.

Fira tersenyum lembut mendengarnya, "Terima kasih banyak atas perhatian dan nasehatnya, Mbak. Aku sudah cukup kebal hal-hal seperti ini. Ya sudah, aku antarkan minumannya dulu ya, Mbak, " jawab Fira tenang.

Saat ia baru keluar dari dapur dan bisa melihat meja nomor lima, ia tersenyum sinis ternyata yang memesan minuman itu geng Cinderella ratu drama.

"Permisi, maaf saya mengantarkan pesanan minuman kalian!" seru Fira agak keras, sengaja agar terdengar jelas dan menarik perhatian orang

Benar saja tak hanya mereka di meja itu, namun banyak pengunjung lain yang ikut menoleh ke arahnya.

Tiba-tiba dari salah satu dari mereka dengan sengaja menyambar gelas minumannya itu. Lalu menumpahkan ke tubuhnya. Ia melakukannya begitu cepat, sehingga terlihat seolah-olah Zhafira yang melakukannya.

"Hei pelayan tak becus! Kamu sengaja ya?" teriaknya dengan keras sambil berdiri. Ia sengaja ingin menarik perhatian semua orang. Ia ingin menjebak Fira agar terlihat salah. Tapi yang tak ia sadari bahwa semua orang sudah memperhatikan mereka, semenjak Fira datang dan menaruh minuman itu ke meja.

"Ma...maaf, Mbak. Bukan saya yang menumpahkan minuman itu!" serunya sambil menundukkan kepalanya, ia dalam hatinya bersorak gembira bisa membalikkan jebakan itu.

Orang itu semakin bersemangat melontarkan tuduhan, wajahnya dibuat seakan ia yang tersakiti.

"Enak saja cuma bilang minta maaf. Kamu tak tau kan kalau baju saya ini sangat mahal. gajimu sebulan bahkan tak cukup untuk sekedar mengganti baju saya kotor dan basah ini!" serunya dengan lantang biar terdengar oleh pengunjung lain dan membuat Fira terdesak.

Fira pura-pura kaget dan mendongakan wajahnya menatap orang itu tak percaya, "Saya kan sudah meminta maaf tak sengaja, Mbak.."

"Mbak...mbak katamu?! Memangnya aku ini mbakmu?! Enak saya seenak memanggil begitu!" bentaknya dengan penuh amarah. Tanpa sadar tangannya mendorong tubuhnya Fira, sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang hampir terjatuh. Namun untungnya ada seorang yang menangkap tubuhnya.

"Kamu tak apa-apa?" tanya laki-laki itu yang sengaja ingin mendekat ke arah kerumunan itu.

Fira perlahan sadar dari rasa terkejutnya setelah didorong begitu kuat. Jantungnya masih berdebar kencang, ia berpikir akan jatuh ke lantai.

Ia perlahan mendongakan wajahnya, ingin berterima kasih kepada orang yang sudah membantunya. Betapa terkejutnya saat melihat orang itu, bahkan keempat orang itu juga terkejut saat ditatap oleh orang itu.

"Bry...Bryan!" lirih mereka berempat.

"Terima kasih...sudah membantu saya," ucapanya tulus, meskipun hatinya masih berdebar kaget saat di dorong oleh orang itu.

Tiba-tiba datang seorang yang berpakaian rapi menyapanya, "Ada apa ini?" tanyanya dingin dan tegas.

Sabrina yang melihat orang yang berpakaian rapi itu yang kemungkinan sang Manager Restoran, ia langsung bereaksi, melupakan kalau disini ada seseorang yang ditaksirnya.

"Begini lho, Pak. Pelayan anda yang tak becus itu dengan sengaja menumpahkan minuman ke tubuh sahabat saya, Pak!" serunya dengan semangat.

Mendengar itu, manajer langsung mengernyitkan dahinya ragu, menatap bergantian ke arah orang yang menuduh dan ke arah Fira. Ia tak langsung memarahi Fira, karena ia tau bagaimana kinerja Fira selama ini. Walaupun dia bekerja diwaktu liburan kuliah saja.

"Apa benar begitu, Fira?" tanyanya.

"Halah, mana mungkin dia mau mengaku jujur begitu saja, Pak. Kan pepatah bilang, maling mengaku penjara penuh!" timpalnya lagi dengan nada meremehkan, seolah-olah tuduhannya itu sudah pasti benar adanya.

Tiba-tiba seorang pengunjung mendekat ke arah kerumunan itu. "Jangan percaya dengan ucapan mereka bertiga, Pak Manager. Orang itu sengaja memfitnah, Mbaknya ini!" serunya membela Fira.

"Hei, Bu. Kalau tak tau apa-apa, jangan ikut campur!" teriak Sabrina kepada Ibu paruh baya itu.

Ibu itu tersenyum simpul, ia bahkan punya bukti waktu tangan gadis itu menyiramkan minuman itu ke dirinya sendiri.

"Lihatlah, Pak Manager. Saya tak mengada-ngada asal membela orang. Aku juga tak mau ikut campur kalau tak ada unsur fitnah dan penindasan di sini!" ucapnya lagi.

Sabrina dan ketiga temannya langsung berubah pucat wajahnya, saat Ibu itu menyerahkan hapenya kepada Manager restoran.

Manajer itu langsung menatap tajam keempat gadis yang berdiri di hadapannya, suaranya terdengar tegas dan tak mau dibantah sedikitpun.

 "Kalian hanya punya pilihan, mau minta maaf secara tulus kepada Fira! Atau mau aku laporan kepada pihak berwajib tentang tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!" ucap tegasnya.

Keempat gadis itu ketakutan dan seketika wajahnya berubah pucat pasi. Tapi bagi Sabrina minta maaf itu hanya akan merendahkan harga dirinya. Tanpa kata dia langsung pergi tanpa bicara apapun.

Para pengunjung yang berada di restoran itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Fira menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, hatinya terasa sangat hangat dan terharu. "Terima kasih banyak, Ibu... sungguh saya tidak menyangka masih ada orang baik yang berani membelaku seperti ini," ucapnya lirih dengan suara yang sedikit bergetar.

Ibu itu tersenyum lembut sambil mengusap bahu Fira, "Sama-sama, Nak. Yang benar tetaplah benar, kita tidak boleh membiarkan orang baik kena tuduhan fitnah keji itu," ucapnya menenangkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!