Kota Zenith 20 Juli 2026
Ayyasy sedang berada di rumahnya, asyik bermain game online bersama Arkan, Abzari, Night, dan Rehan. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, menandakan mereka sudah bermain cukup lama.
"Eh, bre! Udah jam 12 nih. Udahan yuk, tidur!" seru Ayyasy lewat obrolan suara.
"Yaudahlah yuk, besok lagi ya," sahut Abzari setuju.
Arkan menimpali, "Oke, siap. Dah, gih, pada tidur sono."
Setelah mematikan ponselnya, Ayyasy berjalan ke jendela kamar untuk menikmati keindahan langit malam. Namun, saat ia sedang memandang ke luar, tiba-tiba—WUSHHHH! Seberkas cahaya terang membelah kegelapan. Sebuah bintang jatuh melesat dan mendarat di area bukit belakang komplek perumahan mereka.
"Hah? Ini gue nggak salah lihat, kan?" bisik Ayyasy tak percaya. Tanpa berpikir panjang, ia segera bergegas keluar untuk mengecek tempat jatuhnya bintang tersebut.
Di tempat berbeda, Night yang sedang meneguk segelas air langsung tersedak. Ia melihat fenomena aneh yang sama dari jendela rumahnya. Rasa penasaran membuatnya langsung meletakkan gelas dan berlari keluar. Begitu pula dengan Azkailah yang batal menarik selimutnya, serta Serafe yang baru saja selesai mencuci piring.
"Bintangnya jatuh ke gunung belakang? Penasaran deh, ke sana ah," gumam Serafe sambil bergegas memakai jaketnya.
Sementara itu, suasana di jalan komplek mendadak ramai. Abzari, Arkan, dan Rehan ternyata sudah berlari lebih dulu menuju lokasi kejadian.
"Lu berdua tadi lihat kan ada bintang jatuh ke gunung belakang?" tanya Rehan terengah-engah di tengah lari mereka.
"Iya, iya, gue lihat! Jelas banget kok!" balas Abzari antusias.
"Yaudah, buruan atuh! Keburu ada orang lain yang lihat!" seru Arkan memacu langkahnya lebih cepat.
Sementara itu, Sintia yang sedang berjalan pulang ke rumahnya setelah membeli sesuatu dari warung, ikut menyaksikan fenomena tersebut. Ia menengadah, menatap lampu pijar alami itu hingga benar-benar mendarat.
"Kayaknya dekat deh," ujarnya dengan penuh rasa penasaran. Tanpa pikir panjang, ia memutar arah langkahnya.
Secara tidak langsung, mereka semua bergerak ke gunung itu secara bersamaan. Uniknya, tidak ada satu pun dari mereka yang sadar kalau teman-temannya yang lain juga sedang menuju ke titik yang sama.
Ayyasy menjadi orang pertama yang tiba di lokasi. Demi keamanan, ia langsung bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Dari celah dedaunan, mata Ayyasy berbinar melihat sebuah batu misterius yang memancarkan cahaya warna-warni yang memukau.
Tanpa sepengetahuan Ayyasy, di balik semak-semak yang lain, Arkan, Abzari, dan Rehan juga sedang tiarap sambil menahan napas. Kebetulan yang sama juga terjadi pada Night, Azkailah, Serafe, dan Sintia. Mereka semua mengepung batu itu dalam diam, saling bersembunyi satu sama lain.
Kresek... kresek...
Tiba-tiba semak di dekat batu itu bergoyang. Suasana instan berubah mencekam. Para remaja yang sedang bersembunyi langsung memasang mode waspada. Sintia seketika ketakutan, Serafe menduga ada hewan buas yang keluar, sementara Night sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Di sudut lain, Arkan, Abzari, dan Rehan justru sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu.
"Weh... weh... pulang aja yuk. Takut banget gua," ucap Arkan ketakutan, badannya sudah bergetar.
"Yaelah... takut amat lu, lemah!" sahut Abzari sambil berbisik tajam, mencoba menenangkan temannya walau ia sendiri tegang.
Rehan menimpali dengan sinis, "Alah, Zar, Zar! Kalo ada apa-apa, palingan juga lu yang kabur duluan sambil panik!"
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik semak-semak itu. Ternyata itu Ayyasy!
Melihat wajah familier itu, semua orang yang mengintip langsung merasa lega, sekaligus kaget. Namun, tidak dengan Sintia. Gadis itu sudah terlanjur ketakutan setengah mati karena mengira suara gesekan semak tadi berasal dari hewan buas atau makhluk halus. Rasa takutnya instan berubah menjadi amarah yang meluap-luap.
Tanpa aba-aba, Sintia berlari kencang mendekati Ayyasy dan melayangkan satu pukulan telak tepat ke wajah cowok itu. BUGH!
"Lu tuh ya, bikin orang takut tahu nggak!" bentak Sintia dengan napas terengah-engah.
Ayyasy yang sama sekali tidak menyangka ada Sintia di sana, langsung terhuyung memegangi pipinya. "Kenapa lu ada di sini sih?! Aduhhh..." rintih Ayyasy kesakitan. Melihat Ayyasy dan Sintia malah bertengkar, satu per satu dari mereka akhirnya keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Suasana semak-semak yang tadinya sepi mendadak ramai.
"Heh, Ayyasy! Sintia! Udah, udah, jangan berantem!" seru Serafe yang langsung berlari menengahi mereka.
Begitu semua berkumpul, mereka saling pandang dengan tatapan tidak percaya. Ternyata, seluruh geng mereka berkumpul di gunung ini hanya demi melihat bintang jatuh tersebut.
"Kalian ke sini juga?" tanya Azkailah heran, matanya mengerjap menatap teman-temannya.
"Iya!" jawab mereka kompak bersamaan.
Sejurus kemudian, perhatian mereka mulai teralih pada batu meteor yang berkilau indah di depan mereka. Mereka sibuk berspekulasi dan mengaguminya, sementara di latar belakang, Ayyasy dan Sintia masih saja saling melempar tatapan sinis dan beradu mulut.
Di tengah keriuhan itu, Serafe justru berjalan terhipnotis mendekati sang bintang jatuh. Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Langkah demi langkah ia ambil dengan sangat pelan, hingga tangannya terjulur, hampir menggapai permukaan batu yang berpendar itu. Sintia yang pertama kali menyadari tindakan nekat itu langsung membelalakkan mata. "Serafe! Jangan!" teriak Sintia panik. Namun, peringatan itu terlambat. Jari-jari Serafe sudah menyentuh permukaan batu misterius tersebut.
BOOM!
Batu itu mendadak memancarkan gelombang cahaya yang sangat menyilaukan, disusul dengan ledakan energi skala kecil yang mengempaskan mereka semua. Selama beberapa detik, pandangan mereka putih total. Telinga mereka berdenging, tak bisa melihat ataupun mendengar apa-apa. Ketika efek ledakan perlahan memudar dan penglihatan mereka kembali normal, keheningan mencekam melanda. Ada sesuatu yang aneh—sesuatu yang masif dan tak masuk akal—sedang bergejolak di dalam tubuh mereka masing-masing.
Ayyasy mengerang, merasakan seluruh tubuhnya mendadak panas membara bagai panggangan, anehnya kulitnya sama sekali tidak melepuh. Di sebelahnya, Azkailah gemetar hebat saat merasakan sengatan tegangan listrik tinggi merambat ekstrem di dalam aliran darahnya, memercikkan kilatan biru dari ujung jarinya. Sementara itu, Night terpaku menatap tanah. Ia merasa bayangan benda-benda di sekitarnya seolah hidup dan tunduk pada kehendaknya. Di sudut lain, Arkan terpekik kaget saat menyadari tanah tepat di bawah pijakan kakinya retak menjalar hanya karena ia menghentakkan kaki. Kebingungan pun melanda Abzari; setiap kali ia menggerakkan lengan, embusan angin kencang berputar mengikuti polanya. Rehan yang terduduk lemas secara tidak sengaja menyentuh tanah kosong, dan dalam hitungan detik, tanaman-tanaman merambat tumbuh dengan cepat dari tempat yang ia sentuh.
"Kenapa... kenapa jadi dingin banget?" gumam Sintia memeluk tubuhnya sendiri. Tanpa ia sadari, area di sekitar tempatnya berdiri perlahan membeku, tertutup lapisan es tipis.Dan di pusat semua kejadian itu, Serafe menatap kedua telapak tangannya yang kini memancarkan cahaya putih yang sangat terang dan murni. Mereka semua terdiam, saling pandang dengan ketakutan sekaligus takjub.
"Apa... apa yang terjadi sama kita?" suara Arkan bergetar, ia tak berani melangkah karena takut meruntuhkan tanah di sekitarnya lagi.
Tidak ada yang bisa menjawab. Semua terlalu sibuk mengendalikan sensasi aneh yang bergejolak di dalam diri mereka. Suasana malam yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi panggung kekuatan supranatural. Batu meteor yang tadi meledak kini telah hancur menjadi abu, meninggalkan delapan remaja dengan takdir baru yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di atas bukit, terdengar suara geraman rendah yang sangat menyeramkan. Sepasang mata merah menyala perlahan muncul dari balik pepohonan, menatap lapar ke arah mereka. Tampaknya, ledakan energi dari batu bintang tadi tidak hanya membangkitkan kekuatan mereka, tetapi juga memancing sesuatu yang mengerikan dari dalam kegelapan gunung.
Setelah cukup lama mereka kebingungan, Abzari melihat jam di handphone nya. Jam menunjukkan pukul 01:34. “weh, udah jam segini guys! ayo cepat pulang besok masih sekolah” ucap Abzari sambil terlihat panik. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang bersama ke rumah mereka masing-masing. Mereka pulang membawa kekuatan besar dan tanpa mereka ketahui, ancaman besar juga akan muncul selagi mereka masih menyimpan kekuatan itu.
Keesokan harinya, Ayyasy tersentak bangun dari tidurnya. Begitu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.40, matanya langsung membelalak. Ia terlambat!
Dengan panik, Ayyasy segera menyambar selembar handuk, mandi kilat, dan menyumbat mulutnya dengan sepotong roti sebagai sarapan darurat. Tanpa membuang waktu, ia langsung berhamburan keluar rumah untuk berangkat ke sekolah.
Biasanya, Ayyasy harus mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari mengejar waktu. Namun, pagi ini terasa sangat berbeda. Setiap kali kakinya menghentak aspal, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Angin pagi yang menerpa wajahnya terasa bergesekan ekstrem, memicu hawa panas membara yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya.
Hah? kok lari gua bisa secepat ini?! tanya Ayyasy dalam hati. Ia benar-benar kebingungan melihat tiang-tiang listrik di pinggir jalan terlewati dalam sekejap mata.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, gerbang sekolah sudah terpampang di depan mata. Ayyasy mengerem langkahnya mendadak, menyisakan kepulan asap tipis dari sepatu ketsnya. Di dekat gerbang, ternyata teman-temannya yang semalam juga sudah berkumpul, tampak sedang menunggunya dengan ekspresi wajah yang sama-sama tegang.
“yas! lu tadi sadar gak? pas lu lari, lu ngeluarin api terus lari lu makin cepet” tanya Sintia kepada Ayyasy yang baru saja sampai. Ayyasy terlihat kaget bahkan tidak percaya dengan perkataan Sintia tadi.
Karena bel sekolah sebentar lagi akan berbunyi, mereka memutuskan untuk tidak memikirkan itu dulu dan langsung lari menuju kelas mereka.
pelajaran pun dimulai seperti biasa. Tidak terjadi apa-apa, aman, damai, tentram. Tapi ketika jam pelajaran kedua berlangsung. Ada sebuah ledakan yang membuat seluruh gedung sekolah bergetar. Ledakan itu berasal dari arah pinggir kota. Para siswa mulai melihat keluar jendela. Asap mengepul tebal di tempat ledakan tadi terdengar. Perlahan, sesuatu yang mengerikan muncul. Dari dalam asap itu keluar sesosok makhluk yang mengerikan. Ia berdiri tegak menatap kota Zenith. Matanya merah, giginya tajam tajam, badannya besar, tangannya empat. Semua orang yang melihat itu langsung lari ketakutan.
Monster itu kemudian langsung menyerang warga-warga yang ada di sekitar. Ayyasy dan teman-temannya yang melihat itu merasa tidak bisa tinggal diam. Mereka kemudian berlari keluar kelas lalu melesat menuju monster itu. Entah kenapa, padahal jarak sekolah mereka dengan pinggir kota itu lumayan jauh. Tapi mereka bisa sampai hanya dalam satu menit. Sesampainya disana Ayyasy langsung maju berhadapan dengan monster itu. Belum sempat melawan, Ayyasy malah lari ketakutan ke belakang night.
"lu ngapain sih!" ucap Sintia marah ke Ayyasy sambil narik Ayyasy ke depan.
Mereka berdelapan mulai saling pandang. Tiba-tiba dari dalam tubuh mereka mengalir sebuah kekuatan hebat. Mereka merasa bahwa mereka harus segera melawan monster itu.
Ayyasy akhirnya maju duluan dan langsung memukul tepat di wajah monster itu. Ketika ia memukul monster itu, ada api yang keluar dari pukulannya tersebut. Ayyasy kaget dan ga nyangka ternyata batu bercahaya kemarin memberikannya kekuatan. Melihat Ayyasy menggunakan kekuatan , yang lain pun mencoba menggunakan kekuatan mereka. Tapi kekuatan mereka malah ga terkendali. Mulai dari rehan yang numbuhin terlalu banyak rumput. Arkan yang malah bikin lubang di bawah kakinya dan dia jatuh ke lubang itu. Abzari yang malah terapung kesana kemari. Azkailah yang nyamperin petir kemana mana. Serafe yang malah silau sendiri. Sintia yang malah bekuin Night. Semuanya tampak chaos sekali. Monster melihat mereka yang sedang kacau. Ia memanfaatkan celah dan menyerang mereka. Mereka berdelapan terpental dan kesakitan. Karena efek serangan monster tadi, es yang membekukan Night pecah. Night langsung berlari menuju monster itu dan menyerangnya menggunakan tusukan bayangan yang terbuat dari bayangannya sendiri. Monster itu tertusuk tepat di dadanya. Ia mengerang ksakitan dan seketika melebur menjadi abu, menghilang dalam sekejap.
Setelah melihat monster tersebut hilang, delapan orang tadi saling pandang. Mereka sangat terkejut sekali dengan apa yang terjadi. Mereka berjalan kembali menuju sekolah sambil bertanya-tanya "jadi kita beneran dapet kekuatan nih? dan kita harus ngelindungin orang orang dari serangan monster. kayak monster tadi?" batin mereka dalam hati.
Sesampainya di halaman sekolah, suasana sudah benar-benar kacau. Para siswa dan guru berlarian panik di koridor, beberapa ambulans dan mobil polisi terdengar melintas di luar pagar dengan sirine yang meraung-raung. Mumpung suasana sedang riuh, Ayyasy dan tujuh temannya menyelinap masuk kembali ke area sekolah tanpa disadari siapa pun.
Mereka akhirnya berkumpul di belakang gedung olahraga—tempat yang cukup sepi dan aman dari jangkauan Pak Jaka maupun siswa lainnya.
"Parah... asli parah banget!" Arkan membuka suara sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor penuh tanah akibat jatuh ke lubangnya sendiri tadi.
"Kita baru aja ngelawan monster bertangan empat! Dan Night... lu tadi keren banget, bro! Bayangan lu bisa jadi tombak gitu!!
Night yang dari tadi diam sambil menggigil akibat sisa-sisa efek es Sintia hanya mengangguk pelan. "Gue cuma refleks. Pas esnya pecah, gue ngerasa bayangan di bawah kaki gue kayak bisa ditarik dan dibentuk."
"Tapi jujur, kita tadi ngaco banget," celetuk Rehan sambil tertawa hambar. Ia melihat jarinya yang masih meneteskan getah tanaman. "Gue malah bikin lapangan pinggir kota jadi kaya hutan rimba. Terus Abzari melayang-layang kayak balon gas meleset!"
"Ya mau gimana lagi!" potong Abzari tidak terima sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakan kena angin.
"Gue kan belum dapat buku petunjuk cara terbang yang bener! Lagian Azkailah juga nyaris nyambar gue pake petirnya!"
"Sori, sori! Listrik di badan gue tadi responsnya terlalu cepat!" sahut Azkailah sambil menyeringai polos.
Di tengah perdebatan kecil itu, Ayyasy menatap kedua kepalan tangannya. Sisa-sisa hawa hangat dari api yang keluar saat ia memukul monster tadi masih terasa. Ia lalu menatap teman-temannya satu per satu dengan raut wajah yang berubah menjadi serius.
"Batu jatuh semalam... batu itu bukan sekadar meteor biasa," ujar Ayyasy tegas. Suasana mendadak hening. "Batu itu ngasih kita kekuatan ini bukan buat pamer atau main-main. Monster tadi, matanya merah sama persis kayak mata yang ngintip kita di gunung semalam."
Sintia melipat dadanya, raut wajahnya yang galak kini berganti menjadi cemas. "Maksud lu... bakal ada monster-monster lain yang muncul setelah ini?"
"Kemungkinan besar iya," jawab Serafe pelan. Ia melepas sarung tangannya sebentar, menatap telapak tangannya yang berpendar halus. "Ledakan batu semalam kaya menyebarkan sinyal. Monster-monster itu pasti terancam atau justru tertarik sama keberadaan kekuatan kita di kota Zenith ini."
Mereka semua saling pandang. Rasa takut tentu ada, tapi bayangan warga kota yang bisa terancam jika monster-monster itu menyerang lagi membuat rasa tanggung jawab tumbuh di dalam diri mereka.
"Jadi... kita ini semacam tim pahlawan super sekarang?" tanya Arkan sambil mencoba tersenyum, meski kakinya masih agak gemetar.
"Kelihatannya gitu," jawab Ayyasy. "Tapi kalau kita bertarung kayak tadi—kacau, saling serang tak sengaja, dan nggak bisa ngendaliin kekuatan—kita bukannya menyelamatkan kota, malah bikin kota hancur duluan."
"Terus kita harus gimana?" tanya Sintia.
Ayyasy menatap ke arah gunung di belakang sekolah mereka. "Kita harus latihan. Mulai nanti sore habis pulang sekolah, kita kumpul lagi di tempat batu itu jatuh. Kita harus belajar menguasai kekuatan masing-masing sebelum monster berikutnya datang."
Semua mengangguk setuju. Sebuah ikatan baru kini terjalin di antara kedelapan remaja tersebut. Mereka bukan lagi sekadar teman nongkrong atau teman main game online, melainkan pelindung kota Zenith.
Sore hari pun tiba. Angin sejuk pegunungan menyambut mereka yang sudah berkumpul di bekas titik jatuhnya bintang. Sisa-sisa abu meteorit semalam masih membekas tipis di tanah.
Saat Ayyasy dan yang lainnya sibuk berdiskusi serius menyusun rencana latihan mengendalikan kekuatan, Serafe malah melamun dan matanya melirik ke sana-sini. Karena bosan mendengarkan perdebatan Arkan dan Abzari, Serafe diam-diam keluyuran menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bukit.
Tak jauh dari sana, langkah Serafe terhenti. Matanya membelalak takjub. Di balik semak belukar yang lebat, berdiri sebuah bangunan dua lantai bergaya villa tua yang sudah lama terbengkalai. Dindingnya ditumbuhi tanaman merambat, catnya mengelupas, dan atapnya penuh dedaunan kering, tapi strukturnya masih terlihat cukup kokoh.
"Guys! Guys! Ikut aku sebentar! Lu semua wajib lihat ini!" teriak Serafe sambil berlari terengah-engah kembali ke arah teman-temannya.
"Ngapain sih, Ser? Jangan keluyuran sendirian, ntar kalau ada monster lagi gimana?" omel Sintia sambil melipat tangan.
"Udah, ikut aja dulu! Pokoknya keren!" potong Serafe antusias.
Dipimpin oleh Serafe, mereka berdelapan menerobos jalan setapak kecil hingga sampai di depan bangunan tua tersebut. Mereka semua terpana menatap bangunan dua lantai di hadapan mereka.
"Wah... ini mah peninggalan tua," gumam Night sambil mengamati bayangan bangunan yang menjulang tinggi.
"Bentar... kalau bangunan ini kosong dan terpencil, berarti gak akan ada orang yang tahu kalau kita di sini, kan?" cetus Ayyasy, matanya mulai berbinar. "Tempat ini cocok banget buat jadi markas rahasia kita! Sekalian tempat kita latihan!"
"Setuju!" sahut Rehan cepat. "Tapi masalahnya... tempat ini kotor dan berantakan banget."
"Yaudah, kita bersihin dan renovasi sekarang! Pakai kekuatan kita masing-masing!" seru Abzari bersemangat.
Maka, aksi "renovasi markas" paling kacau sepanjang sejarah pun dimulai.
"Biar gue tiup semua debu dan daun kering di dalam!" ujar Abzari percaya diri. Ia mengayunkan tangannya, menciptakan pusaran angin kecil. Niatnya baik, tapi anginnya terlalu kencang! Debu dan dedaunan bukannya keluar, malah berputar-putar di dalam ruangan, membuat Ayyasy dan Sintia terbatuk-batuk hebat.
"Abzari! Lu bukannya bersih-bersih malah bikin badai debu!" bentak Sintia kesal. Karena emosi, telapak tangan Sintia mendadak dingin ekstrem. Saat ia menyentuh pintu kayu tua yang lapuk, pintu itu langsung membeku total dan pecah menjadi serpihan es! "Ups... sori, sengaja..." gumam Sintia meringis polos.
Di sisi lain, Rehan mencoba membantu merapikan halaman luar. "Tenang, tanaman merambatnya biar gue yang atur." Rehan memegang akar pohon liar, berniat menyuruhnya menyingkir. Namun, kekuatannya malah meluap; tanaman merambat itu justru tumbuh makin ganas dan sempat melilit kaki Arkan sampai cowok itu terbalik bergelantungan di pohon.
"Rehan! Lepasin gue! Kepala gue di bawah nih!" teriak Arkan panik. Saat berusaha lepas, kaki Arkan menghentak tanah, membuat lantai teras depan mendadak retak dan ambles beberapa sentimeter.
Sementara itu, Azkailah mencoba menyalakan generator tua yang tergeletak di sudut ruangan. "Coba gue kasih sedikit daya..." PZZZZT! Percikan listrik biru keluar dari jarinya. Bukannya menyala pelan, generator itu malah meledak kecil dan mengeluarkan asap hitam yang membuat wajah Azkailah gosong ingusan.
"Aduh, perih..." rintih Azkailah sambil menyengir.
"Duh, kalian ini bukannya ngebantu malah ngerusak!"
cetus Serafe sambil menepuk jidatnya. Mengingat tempat itu sangat gelap karena tertutup asap dan abu, Serafe mengangkat kedua tangannya. Cahaya putih terang dan murni memancar dari telapak tangannya, menerangi seluruh isi bangunan bagaikan lampu gantung raksasa.
"Nih, gue penerangnya. Ayyasy, tolong bakar sampah-sampah yang udah dikumpulin!"
Ayyasy mengangguk. Dengan hati-hati, ia memfokuskan hawa panas di jarinya dan menyentuh tumpukan sampah kayu di halaman. FUSHHH! Api menyala dengan pas tanpa membakar hal lain.
Night, yang memanfaatkan cahaya terang dari Serafe, menggunakan bayangan-bayangan yang terbentuk di dinding untuk mengangkat balok-balok kayu berat dan membuangnya keluar dengan rapi.
Meskipun diwarnai ledakan generator, lantai retak, pintu membeku, dan Arkan yang sempat tersangkut di pohon, perlahan tapi pasti bangunan tua itu mulai terlihat rapi dan layak huni.
Setelah berjam-jam bekerja keras penuh gelak tawa dan kekonyolan, mereka berdelapan akhirnya terduduk lelah di teras lantai dua, menatap pemandangan kota Zenith dari kejauhan yang mulai dihiasi lampu-lampu malam.
"Nggak nyangka ya... kita punya markas sendiri sekarang," gumam Ayyasy sambil tersenyum puas, menikmati terpaan angin malam.
Hari-hari setelahnya berlangsung begitu cepat dan padat. Setiap kali bel pulang sekolah berbunyi, Ayyasy dan teman-temannya tidak lagi nongkrong di warung atau langsung pulang ke rumah untuk bermain game online. Langkah mereka langsung tertuju pada satu tempat: villa tua di atas bukit yang kini resmi menjadi markas rahasia mereka.
Di sana, mereka berlatih tanpa kenal lelah. Dari yang tadinya saling membekukan kawan sendiri atau jatuh ke lubang buatan sendiri, perlahan insting dan kendali kekuatan mereka makin terasah tajam.
Bahkan, kekuatan ajaib itu tidak hanya mereka gunakan saat bertarung melawan monster, tetapi juga untuk membantu kebutuhan sehari-hari dan menolong warga Kota Zenith dalam situasi darurat.
Contohnya, saat ada mobil bak warga yang mogok dan kemasukan lumpur di tanjakan, Arkan hanya perlu menghentakkan sarung tangannya ke tanah untuk mendorong mobil itu naik dengan mudah. Ketika terjadi pemadaman listrik massal di komplek perumahan, Azkailah dengan senang hati menjadi "pembangkit listrik cadangan" agar warga tidak kegelapan. Sintia sering membantu pedagang es krim yang mesin pendinginnya rusak agar dagangannya tidak meleleh, sementara Rehan menggunakan kekuatannya untuk membantu petani menyelamatkan tanaman yang layu agar tumbuh segar kembali dalam hitungan detik.
Menjalani dua kehidupan sebagai pelajar sekaligus pahlawan super rahasia memang terasa sangat berat. Rasa lelah, tugas sekolah yang menumpuk, hingga alasan yang harus dikarang untuk orang tua kerap membuat mereka kewalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa dengan ritme hidup yang baru ini.
Dua bulan telah berlalu sejak peristiwa bintang jatuh di bukit.
Sore itu, di dalam markas yang kini sudah rapi dan dilengkapi berbagai fasilitas sederhana, kedelapan remaja tersebut berkumpul. Mereka merasa ikatan di antara mereka bukan lagi sekadar kawan biasa, melainkan sebuah tim pelindung yang utuh.
"Kita nggak bisa terus-terusan dipanggil 'anak-anak misterius' sama warga atau berita di TV," ujar Ayyasy sambil berdiri di tengah ruangan. "Kita butuh nama tim."
Setelah melalui berbagai perdebatan seru dan saling lempar ide kocak, mereka akhirnya sepakat memilih satu nama yang mewakili keajaiban yang mereka terima: Miracle.
Tidak hanya nama tim, untuk memaksimalkan potensi tempur dan menyalurkan energi elemen mereka agar tidak liar, mereka juga merancang dan membuat senjata khas masing-masing:
* Ayyasy: Menggemgam sebuah pedang api besar (Dragon Sword) yang sanggup menebas musuh sekaligus menyebarkan kobaran api yang membakar.
* Azkailah: Menggunakan dua bilah pedang halilintar merah yang sangat ringan dan beracun bagi monster, memungkinkannya bertarung dengan kecepatan kilat.
* Night: Menempa sebuah samurai bayangan yang bisa menyatu dengan kegelapan dan menebas titik lemah musuh dari arah yang tak terduga.
* Sintia: Mengangkat sebuah meriam es yang dapat membekukan musuh dalam sekali tembak.
* Arkan: Memakai sarung tangan tanah pelindung tebal yang mampu menghancurkan fondasi batu keras dan memicu gempa lokal.
* Rehan: Membawa kombinasi palu dan perisai raksasa berbahan dasar elemen pelindung untuk menjadi benteng pertahanan utama tim.
* Abzari & Serafe: Berbeda dari yang lain, mereka berdua memilih bertarung dengan tangan kosong. Aias menjadi mage di tim.
Dengan identitas baru, senjata yang mematikan, dan kendali kekuatan yang kian sempurna, tim Miracle siap menghadapi ancaman apa pun yang akan mengguncang Kota Zenith di masa depan.
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan di sudut Kota Zenith, tim Miracle sedang sibuk melumpuhkan seekor monster berukuran raksasa. Tebasan pedang api Ayyasy dan tembakan meriam es Sintia berpadu sempurna, menciptakan gelombang aksi yang spektakuler di bawah langit sore.
Namun, dari balik awan tebal yang membumbung di atas lokasi pertarungan, terdapat sebuah drone berkamera canggih melayang tanpa suara. Lensa drone itu terus berputar, merekam setiap pergerakan Ayyasy dan tujuh temannya secara presisi, lalu mengirimkan rekaman video tersebut secara real-time.
Keluaran rekaman itu terpampang jelas di sebuah ruangan yang amat jauh dari Kota Zenith. Ruangan itu sangat gelap dan hening. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah monitor biru raksasa yang menyala terang di tengah ruangan. Cahaya kebiruan itu berpendar, menerangi tiga sosok misterius yang berdiri sejajar mengamati layar.
Meskipun dalam kegelapan, aura tegang terpancar kuat dari mereka. Masing-masing memancarkan energi unik—tanda jelas bahwa mereka bukan sekadar manusia biasa, melainkan pemilik kekuatan luar biasa yang setara dengan tim Ayyasy.
"Masa iya sih nama tim mereka juga Miracle? Ini kebetulan atau gimana sih?" tanya Arunnaqa dengan nada antusias. Jarinya sibuk mengetik cepat di papan ketik holografik, menganalisis data kekuatan api milik Ayyasy yang muncul di layar.
"Mungkin frekuensi batu meteorit itu memicu pola pikir yang sama pada anak-anak pilihan," sahut sosok di sebelahnya, Davi, sambil melipat tangan di dada. Pandangannya tidak lepas dari cara Rehan mengendalikan tanaman di layar.
Sosok ketiga, Tasya, mengamati garis orbit dan energi yang terpancar dari tiap anggota tim Zenith. "Atau mungkin... ini bukan sekadar kebetulan. Ada keterikatan kuat antara kedatangan batu-batu itu di kota kita dan kota mereka."
Arunnaqa tersenyum tipis, menatap layar monitor biru yang kini menampilkan foto delapan anggota tim Miracle Kota Zenith secara berdampingan.
"Miracle Cyber dari kota kita, Miracle Kosmik milikmu, Miracle Harvest milik Davi... dan sekarang Miracle Kota Zenith," gumam Arunnaqa pelan, suaranya bergema tegang di dalam ruangan gelap itu. "Sepertinya ini saatnya kita menguji, apakah mereka layak menyandang nama Miracle bersama kita."
Brak!
Pintu otomatis ruangan besar itu tiba-tiba terbuka lebar, mengejutkan Arunnaqa, Tasya, dan Davi yang sedang konsentrasi menatap layar monitor.
Rombongan Miracle Cyber melangkah masuk dengan santai. Salah satu anggotanya, Vikka, mendekati layar sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap remeh adegan Ayyasy dan teman-temannya yang baru saja menyelesaikan pertarungan.
"Oh, ini yang dari tadi kalian awasi?" celetuk Vikka dengan nada merendahkan. "Kayaknya mereka nggak sekuat kita, deh. Liat tuh, gerakannya masih berantakan begitu."
Dhafina, Delila, Delaya, Gita, dan Cinta ikut mengerumuni monitor. Mereka memperhatikan detail pertarungan tim Zenith dengan senyum tipis.
"Asli, mereka kelihatan kayak kelompok bocah ingusan yang baru nemu mainan baru," tambah Dhafina sambil mengayunkan palu besinya pelan ke lantai.
Gita membetulkan posisi senjata di bahunya lalu terkekeh. "Kalau cuma lawan monster level segitu aja mereka kelihatan kewalahan, gimana kalau ketemu musuh yang biasa kita hadapi?"
Belum sempat Arunnaqa membalas ucapan kawan-kawannya, pintu ruangan kembali terbuka lebar. Kali ini, anggota dari Miracle Kosmik dan Miracle Harvest masuk secara berbarengan, membuat ruangan yang tadinya hening kini penuh dengan kehadiran lusinan pemilik kekuatan hebat.
Sama seperti Miracle Cyber, para anggota Kosmik seperti Nayla, Dimas, dan Nayya, serta para anggota Harvest seperti Cheryl, Fadhil, dan Rava, langsung mengarahkan pandangan mereka ke monitor biru raksasa.
"Jadi ini tim dari Zenith?" bisik Tsalwa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Rupanya cuma segini standar tim Miracle dari kota lain," timpal Iyan dengan nada dingin. "Mereka bahkan nggak punya formasi bertarung yang jelas."
Ghofar dan Ghani menyandarkan tubuh mereka di dinding belakang ruangan, mengamati gambar Ayyasy yang sedang menyarungkan pedang apinya. "Sayang banget nama 'Miracle' harus dipakai sama orang-orang yang belum berpengalaman kayak mereka," gumam Ghofar meremehkan.
Di tengah riuhnya nada cibiran dan nada meremehkan dari ketiga tim besar itu, Arunnaqa, Tasya, dan Davi saling melempar pandangan.
Arunnaqa kemudian tersenyum tipis, mematikan layar monitor utama, dan berbalik menghadap ke arah puluhan anggota tim yang memenuhi ruangan.
"Kalian yakin mereka selemah itu?" tanya Arunnaqa dengan nada tenang namun penuh arti. "Gimana kalau
kita buktikan sendiri... dengan mendatangi Kota Zenith?"
...***...
Miracle Zenith: -Ayyasy (api)
-Night (bayangan)
-Azkailah (halilintar)
-Serafe (cahaya)
-Abzari (angin)
-Arkan (tanah)
-Rehan (pohon/kayu)
-Sintia (es)
Miracle Cyber: -Arunnaqa (sihir teknologi)
-Dhafina (hologram)
-Gita (marksman)
-Cinta (healer)
-Delila & Delaya (clone)
-Vikka (laser)
Miracle Kosmik: -Tasya (black hole)
-Tsalwa (white hole)
-Dimas (waktu)
-Ilham (awan)
-Iyan (matahari)
-Ghofar (bulan)
-Nayla (bintang)
-Nayya (gravitasi)
Miracle Harvest: -Davi (batu)
. -Cheryl (air)
-Fadhil (emas)
-Alya (pelangi)
-Rava (berlian)
-Nailu (love)
-Jessica (obsidian)
-Rahman (jiwa)
-Ghani (kristal)
...***...
Arunnaqa akhirnya memutuskan untuk tidak membawa seluruh pasukan. Ia menunjuk Vikka untuk menemaninya pergi ke Kota Zenith. Menggunakan kereta cepat, perjalanan antarkota itu berlanjut hingga akhirnya mereka menginjakkan kaki di stasiun Zenith.
Langkah pertama mereka adalah mencari keberadaan markas Miracle Zenith. Arunnaqa dan Vikka mencoba bertanya ke beberapa warga di pinggir jalan, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun warga yang tahu di mana para pahlawan lokal itu bersembunyi.
Saat mereka hampir putus asa, seorang nenek berpenampilan sederhana dengan tongkat kayu yang sudah rapuh berjalan menghampiri mereka. Dengan suara bergetar namun tenang, nenek itu menunjukkan arah menuju sebuah bukit terpencil di belakang sekolah.
Mengikuti petunjuk tersebut, Arunnaqa dan Vikka akhirnya berdiri di depan pintu sebuah villa tua dua lantai yang sudah direnovasi rapi. Arunnaqa melangkah maju lalu mengetuk pintu kayu markas tersebut.
KNOCK... KNOCK...
Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ayyasy. Cowok itu menyipitkan mata, menatap dua asing di hadapannya dengan waspada. "Siapa kalian? Ada perlu apa datang ke sini?" tanya Ayyasy tegas.
Arunnaqa tersenyum ramah dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ia memperkenalkan diri sebagai pemimpin dari Miracle Cyber, lalu mengajak Miracle Zenith untuk saling bekerja sama. Arunnaqa juga membeberkan rahasia besar bahwa sebenarnya ada tim Miracle lain dari dua kota berbeda yang juga mengawasi ancaman monster ini.
Ayyasy yang terkejut segera memanggil seluruh anggota timnya. Mereka berkumpul di ruang tamu markas, mendengarkan penjelasan Arunnaqa dengan serius.
Namun, di tengah-tengah obrolan yang sedang hangat, Vikka bersedekap dada sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Wajahnya memasang ekspresi meremehkan.
"Dengar ya, kita ke sini sebenarnya cuma formalitas," sela Vikka tiba-tiba dengan nada sinis, memotong pembicaraan Ayyasy. "Gue lihat pertarungan kalian kemarin. Gerakan kalian amatir banget. Kalau bukan karena kasihan, Arunnaqa juga malas ngajak bocah-bocah ingusan kayak kalian buat kerja sama."
Suasana ruangan seketika berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.
"Apa lu bilang?!" bentak Night. Bayangan hitam di bawah kakinya mendadak melonjak tajam memanjang. Dengan mata menyala penuh amarah, Night melesat maju dan hampir saja menghajar wajah Vikka dengan pisau bayangannya.
"Night, tahan!" jerit Ayyasy sambil pasang badan, menahan dada Night agar tidak bertindak lebih jauh.
Vikka hanya terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa takut meski kilatan bahaya sudah mengepungnya.
Ayyasy menatap Arunnaqa dan Vikka secara bergantian. Wajah ramah sang ketua Zenith kini berganti menjadi tatapan dingin dan penuh ketegasan.
"Kami memang baru dua bulan jadi pahlawan, dan kami tahu kami masih punya banyak kekurangan," ujar Ayyasy dengan suara berat. "Tapi kalau cara kalian memandang kami cuma sebagai beban dan bahan rendahan... maaf, tim Miracle Zenith memilih untuk berdiri di atas kaki kami sendiri. Kami menolak kerja sama ini."
Arunnaqa tertegun menatap ketegasan Ayyasy, sementara Vikka hanya mengibaskan tangan seolah keputusan Zenith sama sekali tidak penting baginya.
Arunnaqa dan Vikka akhirnya melangkah kembali ke dalam markas utama Kota Cyber. Di dalam ruangan besar berlayar monitor biru itu, puluhan anggota tim dari Miracle Cyber, Kosmik, dan Harvest sudah berkumpul menantikan kabar.
"Gimana? Mereka mau join, kan?" tanya Gita sambil memutar-mutar senjata di tangannya.
Arunnaqa menghela napas panjang, memasang wajah serba salah. "Mereka menolak mentah-mentah ajakan kerja sama kita. Vikka... menyela obrolan dan merendahkan kemampuan mereka."
Mendengar hal itu, ruangan bukannya merasa bersalah, justru dipenuhi dengan suara dengusan dan kekehan sinis dari anggota tim lain.
"Dih, sombong banget," celetuk Fadhil sambil melipat tangan di dada. "Memangnya mereka sekuat itu sampai berani nolak gabung sama kita?"
"Iya, lagian harusnya mereka bersyukur dikasih kesempatan belajar sama tim yang lebih berpengalaman," timpal Nayla meremehkan.
Arunnaqa hendak menenangkan suasana dan menegur kawan-kawannya, namun diskusi itu terputus saat malam mulai semakin larut dan situasi berubah drastis.
BOOMMM!!!
Sebuah ledakan dahsyat mendadak mengguncang seluruh bangunan markas Cyber! Lantai bergetar hebat, lampu-lampu di dalam ruangan berkedip-kedip panik, dan beberapa instrumen canggih memercikkan arus pendek. Semua orang yang ada di dalam ruangan terperanjat dan langsung pasang mode waspada.
"Ada apa ini?! Serangan musuh?!" teriak Dhafina sambil refleks menggenggam palu besinya.
Arunnaqa dengan cepat berlari ke meja kontrol dan menekan beberapa tombol utama. Layar monitor biru raksasa yang tadinya redup kini menyala terang, menampilkan rekaman kamera pengawas di luar markas secara real-time.
Mata mereka semua membelalak menatap apa yang terpampang di layar.
Dari dalam tanah yang hancur berantakan di luar kota, muncul sesosok monster ular raksasa dengan sisik hitam keras bagai baja. Matanya menyala merah dalam kegelapan, dan taringnya meneteskan cairan asam yang sanggup melunakkan aspal. Ukurannya yang teramat besar membuat gedung-gedung di sekitarnya tampak kerdil. Monster itu menggeram kencang, menebarkan aura intimidasi yang sangat pekat.
Ruangan besar itu seketika menjadi hening. Keangkuhan yang tadi sempat menyelimuti ketiga tim besar itu mendadak menguap, berganti menjadi atmosfir tegang saat mereka menyadari bahwa ancaman kali ini sama sekali tidak bisa diremehkan.
Tanpa membuang waktu, seluruh anggota Miracle Cyber, Kosmik, dan Harvest langsung melesat menuju lokasi. Namun, begitu mereka tiba di depan monster ular raksasa tersebut, aura intimidasi dan tekanan energi yang terpancar membuat lutut mereka mendadak gemetar.
"Dengar semuanya!" teriak Davi menyemangati, menahan getaran di kakinya. "Seorang pahlawan tidak boleh gemetar, siapa pun lawannya! Serang!"
Pertempuran sengit pun pecah. Beragam jurus, jenis kekuatan, dan variasi serangan diluncurkan. Kombinasi laser Vikka, black hole Tasya, hingga pukulan batu dari Davi menghantam tubuh ular itu bertubi-tubi. Namun, meski pertarungan sudah berlangsung lama, tidak ada sedikit pun tanda-tanda monster itu kelelahan. Energinya seolah tak terbatas, sementara stamina para Miracle dari tiga kota mulai terkuras habis.
Di tengah kondisi terdesak dan nafas yang terengah-engah, pandangan Tasya tertuju pada puncak kepala sang monster. "Lihat! Inti kekuatannya ada di kristal merah di kepalanya!" teriaknya panik.
Nahas, mereka sudah terlalu lelah untuk melancarkan satu serangan pun. Monster ular itu menggeram kencang, lalu mengibaskan ekor raksasanya yang dilapisi sisik baja. Ekor itu melesat cepat, siap menghantam dan meratakan para Miracle yang sudah tak berdaya di tanah.
Namun, sebelum kibasan ekor itu menyentuh mereka—
BOOMMM!
Sebuah dentuman keras ledakan energi mendadak menghantam ekor monster itu hingga terpental hebat ke udara!
"MAJUUU!! ZENITHHH!!"
Suara teriakan lantang bergema membelah malam. Dari kejauhan, enam sosok melesat cepat dengan aura elemen yang membara. Ayyasy dan teman-temannya telah tiba!
"Zar! Lempar gua!" teriak Ayyasy.
Abzari mengangguk cepat. Dengan sapuan angin badainya, ia melempar tubuh Ayyasy ke udara hingga melesat tinggi bagaikan proyektil. Sebelum Ayyasy mendarat, Night dan Azkailah sudah lebih dulu berada di dasar tubuh monster tersebut.
"SHADOW KILL!" teriak Night. Sosoknya menghilang menyatu dengan kegelapan bayangan, menyayat-nyayat kulit keras ular itu dari berbagai sudut secara tak kasatmata.
Azkailah tidak tinggal diam. Menggunakan teknik Thunder Dance, gadis itu menari-nari melintasi tubuh monster dari bawah hingga ke atas, menyengatnya dengan aliran listrik merah bertegangan tinggi yang membuat sang monster kejang.
Di saat yang sama, Rehan dan Arkan menghentakkan kekuatan mereka ke tanah, memicu lilitan akar raksasa dan pilar batu untuk menahan tubuh monster yang berusaha memberontak. Sintia dari jarak jauh langsung membidikkan meriamnya, menembakkan gelombang beku yang menyelimuti seluruh tubuh ular tersebut.
Meskinpun lapisan es Sintia mendadak retak dan pecah dalam hitungan detik, waktu singkat itu sudah lebih dari cukup.
Ayyasy yang melayang di udara tepat di atas kepala monster, memosisikan pedang api besarnya ke bawah. Dengan seluruh tenaganya, ia menancapkan bilah pedang itu tepat menembus kristal merah di kepalanya!
"SERAFEEEEEE!! SEKARAAANG!!" jerit Ayyasy sambil
menoleh ke belakang.
Di garis belakang, Serafe berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat ke langit. Cahaya murni yang sangat menyilaukan berpendar dari tubuhnya. Awan hitam yang menyelimuti langit malam mendadak terbelah, membiarkan pilar cahaya surgawi menerobos masuk. Mata Serafe kini menyala kuning terang.
"TOMBAK CAHAYAAA!!!"
Sebuah tombak cahaya raksasa tercipta dari langit, meluncur deras menancap telak di tubuh sang monster!
BOOOOOOOOOOMMMM!!!
Ledakan energi cahaya yang sangat dahsyat terjadi! Gelombang kejutnya menghempaskan Ayyasy, Night, Azkailah, Rehan, Arkan, dan Sintia hingga terpental beberapa meter ke belakang. Kabut asap dan debu tebal perlahan-lahan memudar, memperlihatkan tubuh monster ular raksasa yang perlahan retak, melebur menjadi abu, dan menghilang tanpa sisa.
Suasana hening seketika.
Dengan nafas terengah-engah dan pakaian yang sedikit kotor, Ayyasy menyarungkan kembali pedang apinya.
Bersama anggota tim Miracle Zenith lainnya, mereka berjalan perlahan menghampiri puluhan anggota Miracle dari tiga kota lain yang terduduk lemas dan tak berdaya di tanah—menatap mereka dengan rasa terkejut dan takjub yang luar biasa.
Melihat pertarungan telah usai, para anggota Miracle Zenith perlahan melangkah mendekat. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, udara di sekitar lokasi justru dipenuhi oleh gengsi dan rasa malu yang membakar dari tim Miracle kota lain. Bagi mereka yang tadinya memandang rendah tim Zenith, diselamatkan oleh "bocah ingusan" adalah pukulan telak bagi harga diri mereka.
Sintia melangkah menghampiri Vikka yang terduduk lemas di tanah. Dengan niat baik, Sintia mengulurkan telapak tangannya untuk membantu Vikka berdiri.
"Lu gak apa-apa?" tanya Sintia pelan.
PLAK!
Secara mengejutkan, Vikka menepis kencang tangan Sintia hingga terdengar suara patukan keras. Vikka berdiri sendiri dengan napas terengah-engah, matanya menatap tajam ke arah Sintia penuh amarah dan rasa tidak
terima.
"Nggak usah sok pahlawan lu!" bentak Vikka dengan nada sinis. "Kita tadi cuma kehabisan stamina aja! Kalau bukan karena kita yang udah ngerusak sisiknya duluan, kalian juga nggak bakal bisa ngalahin monster itu!"
Vikka berbalik badan dengan kasar, mengabaikan tatapan heran dari anggota Zenith. "Cabut!" serunya pada timnya.
Arunnaqa yang melihat kejadian itu langsung melangkah maju, dahinya berkerut dalam. "Vikka! Tahan emosi lu, mereka baru aja ngebantu kita—"
"Bisa diam nggak, Naq?!" potong Vikka tanpa menoleh sedikit pun, melangkah pergi begitu saja meninggalkan area pertempuran dengan masa bodoh.
Melihat perlakuan kasar itu, darah Sintia langsung mendidih. Wajahnya merah padam karena amarah, dan hawa dingin ekstrem mendadak memancar kuat dari jemarinya. "Wah, tuman banget tuh anak! Minta dihajar beneran!" geram Sintia sambil mengepalkan tangan, siap melesat maju untuk memberi pelajaran pada Vikka.
Sret!
Sebelum Sintia sempat melangkah lebih jauh, Serafe dan Azkailah dengan cepat memegang kedua lengan Sintia, menahannya erat-erat.
"Sintia, tahan! Udah, biarin aja!" bisik Serafe menenangkan sambil meremas bahu temannya.
Azkailah menggelengkan kepala pelan. "Nggak ada gunanya ngelayanin orang yang lagi ketutup gengsi, Sin. Yang penting warga kota aman dan monster itu udah hancur."
Ayyasy hanya menatap punggung rombongan Miracle dari tiga kota lain yang berjalan menjauh dalam diam. Ia tahu, gesekan ini belum selesai, dan pertemuan mereka berikutnya pasti akan membawa ujian yang jauh lebih besar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!