Bab 1 — Jantung di Telapak Tangan
"Kita putus."
Tiara mengucapkannya sambil mendorong kotak cincin murah itu kembali ke arah Surya.
Kotak beludru biru tersebut meluncur di atas meja McDonald's, menabrak gelas cola, lalu berhenti tepat di samping tangan Surya. Di balik kaca restoran, lalu lintas malam Surabaya bergerak seperti biasa. Di meja mereka, lima tahun hubungan berakhir dalam tiga kata.
Surya menatap kotak itu. "Karena Kevin?"
Tiara menarik napas pendek. Blusnya baru. Jam di pergelangan tangannya juga baru. Selama lima tahun bersamanya, Tiara tak pernah mampu membeli barang semahal itu dari gaji seorang perawat.
"Jangan bikin ini lebih susah, Surya." Suaranya direndahkan, seolah takut orang lain mendengar. "Aku butuh masa depan. Bukan janji dari dokter muda yang bahkan belum punya SIP."
"Lima tahun lalu, waktu gue masuk FK, lo bilang bakal nunggu."
"Lima tahun lalu aku belum tahu hidup sesulit ini."
Sebuah tangan berjam tangan emas jatuh di bahu Tiara.
"Dia masih maksa?"
Kevin Hartono berdiri di samping meja dengan senyum tipis. Dua pria berbadan besar menunggu beberapa langkah di belakangnya. Kunci mobil sport diputar-putar di telunjuknya, sengaja cukup tinggi agar logo pada gantungannya terlihat.
Tiara langsung mengubah nada suaranya. "Enggak, Kevin. Aku sudah selesai."
Selesai.
Surya mengangkat pandangan. "Lo tahu dia masih pacar gue waktu kalian mulai?"
Kevin tertawa. "Pacar? Kalau cuma bisa ngajak makan paket hemat, itu namanya teman antre."
Beberapa pengunjung menoleh. Tiara menggigit bibir, tetapi tidak membela Surya.
Kevin mengambil kotak cincin tadi, membukanya, lalu bersiul. "Perak? Serius?"
Dia menjatuhkannya ke lantai.
"Ambil. Siapa tahu bisa lo jual buat ongkos pulang."
Rahang Surya mengeras. Uang untuk cincin itu dikumpulkannya dari jaga malam dan makan mi instan selama dua bulan. Namun yang membuat dadanya terasa kosong bukanlah cincin di lantai.
Yang paling menyakitkan adalah tatapan Tiara. Di matanya, Surya sudah kehilangan seluruh harga diri.
Surya berdiri.
Kevin mendorong dadanya. "Duduk kalau diajak ngomong."
Surya menepis tangan itu. Salah satu pengawal bergerak, tetapi Kevin lebih dulu melayangkan tamparan.
Plak!
Kepala Surya terlempar ke samping. Rasa logam memenuhi mulutnya.
"Itu supaya lo ngerti posisi," kata Kevin.
Tiara berdiri di samping lelaki itu. Diam.
Lima tahun. Ratusan kilometer perjalanan pulang-pergi. Uang kuliah yang selalu kurang. Ayah yang meninggal sebelum sempat melihatnya memakai jas putih. Ibunya yang masih bekerja di pabrik bata agar anak-anaknya bisa makan.
Semuanya mendesak naik ke tenggorokan Surya.
Lalu sebuah suara dingin berbunyi langsung di dalam kepalanya.
『Titik terendah kehidupan terdeteksi.』
Surya membeku.
『Kecocokan Inang: 99,7 persen. Sistem Dokter Ilahi Super sedang diikat.』
Apa-apaan?
Kevin menyeringai melihat ekspresinya. "Kenapa? Mau nangis?"
Cahaya kebiruan yang tak bisa dilihat orang lain memenuhi pandangan Surya. Deretan informasi medis mengalir begitu cepat: anatomi toraks, transplantasi jantung, reseksi hati, reduksi fraktur, jalur pembuluh darah, sudut sayatan, kekuatan tekanan jari.
Pengetahuan itu tidak terasa seperti hafalan.
Ia merasa telah memegang ribuan jantung, berdiri puluhan ribu jam di meja operasi, dan menghadapi komplikasi yang bahkan belum pernah dilihatnya selama koas.
『Pengikatan berhasil. Selamat datang, Inang.』
『Paket Pemula diterima: pengalaman transplantasi jantung tingkat dunia, transplantasi hati tingkat dunia, dan reposisi ortopedi tingkat dunia.』
Di belakang Kevin, sebuah baki jatuh.
Brak!
Seorang lelaki tua ambruk dari kursinya. Tubuhnya menghantam lantai, tangannya mencengkeram dada, lalu lemas.
Jeritan memecah restoran.
Surya bergerak sebelum siapa pun sempat memanggil namanya.
"Pak! Bisa dengar saya?"
Tak ada respons. Tak ada napas normal. Nadi karotis tak teraba.
"Telepon PSC 119! Minta AED!" Surya menunjuk seorang pengunjung. "Mas, beri ruang. Jangan kerumuni pasien."
Dia menumpuk kedua tangan di tengah dada lelaki tua itu dan mulai melakukan resusitasi jantung paru.
Satu, dua, tiga.
Tubuh pasien berguncang di bawah setiap kompresi.
Seorang pegawai membawa AED. Surya memasang pad, memastikan tak ada yang menyentuh tubuh pasien, lalu menekan tombol analisis.
"Irama tidak dapat diberi kejutan," bunyi mesin.
Surya melanjutkan kompresi.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Keringat mengalir dari pelipisnya. Pergelangan tangannya mulai nyeri. Bibir lelaki tua itu semakin kebiruan.
"Sudah, Dok," kata seseorang dengan suara gemetar. "Ambulans sebentar lagi datang."
Surya tidak berhenti.
Pada menit kedua puluh, sesuatu terasa salah.
Dada kiri pasien tidak mengembang seimbang. Di bawah kulit, warna kebiruan menyebar. Ketika tangannya bergeser sesaat, ujung jarinya menangkap sensasi cairan dan tekanan yang tidak wajar di rongga dada.
Pandangan Surya dipenuhi jalur anatomi yang terasa seterang peta.
Perdarahan intratoraks masif.
Jantungnya berhenti saat darah terus menggenangi rongga dada dan menekan organ di dalamnya. Kompresi dari luar tak akan cukup.
Kalau dia menunggu ambulans, lelaki tua itu mati.
Kalau dia bertindak, semua orang akan menganggapnya gila.
Surya berdiri dan berlari ke meja kasir.
"Dapur di mana?"
"D-Dok?"
"Dapur!"
Dia menerobos pintu ayun, menyambar pisau daging paling berat dari rak, lalu kembali ke ruang makan.
Orang-orang mundur serempak.
"Surya!" Tiara menjerit. "Lo mau ngapain?"
Surya berlutut di sisi pasien. Dia membersihkan bilah seadanya dengan antiseptik dari kotak P3K, lalu membuka baju pasien.
"Saya akan membuka dadanya."
Restoran mendadak sunyi.
Kevin tertawa tak percaya. "Lo sudah gila. Kalau kakek itu mati, habis hidup lo."
"Kalau saya tidak melakukannya, beliau mati sekarang."
Surya meminta dua pegawai menahan tubuh pasien. Tangannya tenang, tetapi suara di sekelilingnya berubah menjadi dengung jauh.
Dia melihat bukan lagi meja, kursi, atau puluhan kamera ponsel.
Dia melihat lapisan kulit. Otot. Tulang rusuk. Rongga dada. Titik masuk tercepat.
Tiara menangkap lengannya. "Jangan! Kamu cuma dokter muda!"
Satu detik keterlambatan bisa menjadi batas antara hidup dan mati.
Surya mengibaskan tangan Tiara. Ketika perempuan itu tetap menariknya, dia mendorongnya dengan kaki hingga terjatuh menjauh dari pasien.
"Jangan sentuh tangan dokter saat pasien sedang sekarat."
Lalu bilah itu turun.
Krak!
Suara tulang yang terbuka membuat beberapa orang menjerit. Seseorang menjatuhkan ponselnya. Darah membasahi seragam putih Surya dan mengalir ke lantai.
Dia tidak berkedip.
Sayatan diperlebar. Rongga dada terbuka. Darah gelap menggenang di dalamnya.
"Ya Tuhan... dia benar-benar membelah dada orang," bisik seorang pengunjung.
Surya memasukkan tangannya.
Hangat. Licin. Berdenyut lemah, lalu diam.
Ujung jarinya menemukan sumber perdarahan di jaringan paru yang robek. Dia menekannya kuat-kuat, lalu tangan satunya meraih jantung pasien.
Remas.
Lepas.
Remas.
Lepas.
Dia memijat jantung itu langsung dengan telapak tangannya.
"Ayo, Pak," desisnya. "Jangan mati di tangan saya."
Sirene terdengar dari kejauhan.
Jantung di telapak tangannya bergerak.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Monitor AED yang masih terpasang mengeluarkan bunyi panjang, kemudian garis di layarnya membentuk gelombang.
Tit... tit... tit...
Seseorang menangis. Seorang pegawai menutup mulut dengan kedua tangan. Kamera-kamera yang tadi gemetar kini mengarah lurus kepada Surya—kepada jas putihnya yang merah, pisau di lantai, dan jantung yang kembali berdetak di antara jemarinya.
Pintu restoran terbuka keras.
Tim ambulans masuk bersama seorang dokter berbahu lebar.
"Siapa yang melakukan torakotomi?" bentaknya.
"Saya." Surya tidak melepaskan tekanannya. "Perdarahan paru kiri. Titiknya sudah saya tahan. Sirkulasi kembali dua puluh detik lalu. Siapkan transfusi masif dan bawa langsung ke OK."
Dokter itu—dr. Hendra Susanto, Kepala IGD tempat Surya menjalani koas—menatap rongga dada pasien, posisi tangan Surya, lalu monitor.
Tak ada waktu untuk bertanya.
"Ikuti instruksinya!" perintah Pak Hendra. "Klem sementara. Angkat pasien dengan tangan dokter tetap di tempat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Surya tak sendirian.
Perjalanan menuju RSUD Dr. Soetomo berlangsung dengan tangannya tetap menahan perdarahan. Begitu pintu OK menelan brankar, tenaga Surya akhirnya habis. Dia bersandar ke dinding koridor, melihat darah mengering sampai ke siku.
Ponselnya bergetar tanpa henti.
Video dari restoran telah lebih dulu tersebar.
Potongan berdurasi dua belas detik menampilkan Surya mengangkat pisau, Tiara jatuh, lalu bilah turun ke dada lelaki tua itu. Bagian saat jantung kembali berdetak tidak ada.
Judulnya sudah muncul di puluhan akun:
DOKTER MUDA BACOK KAKEK DI MCDONALD'S.
PEMBUNUH BERJAS PUTIH?
Komentar bertambah ratusan setiap kali layar diperbarui.
Pembunuh.
Psikopat.
Cabut izin praktiknya.
Surya bahkan belum memiliki izin praktik penuh untuk dicabut.
Pintu OK terbuka. Pak Hendra keluar, masker masih menggantung di leher. Wajahnya keras dan sulit dibaca.
"Pasien hidup," katanya.
Surya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Namun Pak Hendra belum selesai.
"Direktur sudah lihat videonya." Dia menatap noda darah pada jas Surya. "Surya, ikut saya ke kantor. Sekarang."
Bab 2 — Sumpah Seorang Dokter
Perintah Pak Hendra terasa lebih berat daripada noda darah yang mengering di jas Surya.
Mereka baru berjalan setengah koridor ketika dr. Ratna Widodo datang dari arah IGD. Ponsel di tangannya menampilkan video yang sama. Angka di bawahnya sudah melewati empat ratus ribu tanda suka.
"Itu benar kamu?" tanya Bu Ratna.
Surya mengangguk.
"Kamu membuka dada orang di restoran tanpa persetujuan keluarga, tanpa ruang steril, dan tanpa kewenangan praktik mandiri."
"Pasien henti jantung. Tidak ada keluarga di sana."
"Saya paham keadaan darurat." Nada Bu Ratna tetap keras. "Tapi memahami alasan tidak menghapus konsekuensi. Rumah sakit bisa diperiksa. Kamu bisa dilaporkan. Sebelum polisi datang, lebih baik kamu serahkan diri dan jelaskan semuanya secara resmi."
Pak Hendra menghentikan langkah. "Pasiennya hidup karena dia."
"Dan kalau pasiennya meninggal?"
"Saya tetap akan melakukannya," jawab Surya.
Bu Ratna menatapnya beberapa detik. "Itu jawaban yang berbahaya."
"Buat dokter yang takut mengambil keputusan, mungkin."
Pak Hendra mendecakkan lidah. "Kalian bisa berdebat nanti. Direktur menunggu."
Ruang rapat kecil di lantai administrasi sudah penuh. Direktur RS, dr. Bambang Sutrisno, duduk di ujung meja. Wakil direktur, bagian hukum, komite medik, dan seorang petugas humas mengelilinginya. Layar besar di dinding berhenti pada gambar Surya mengangkat pisau daging.
Wajahnya terlihat seperti seorang pembunuh.
"Dokter muda Surya Pratama," kata Pak Bambang. "Duduk."
Surya tetap berdiri. Jasnya masih basah oleh darah pasien.
Wakil direktur mengetuk meja. "Video ini sudah masuk berita nasional. Tagar pembunuh berjas putih berada di urutan dua. Cara tercepat melindungi rumah sakit adalah menegaskan bahwa tindakan Saudara dilakukan di luar instruksi dan tanggung jawab institusi."
"Dengan kata lain, saya dikeluarkan," kata Surya.
Tak ada yang langsung membantah.
Petugas hukum membuka sebuah map. "Kami harus mempertimbangkan dugaan pelanggaran etik dan tindakan invasif tanpa informed consent. Saudara belum memiliki SIP penuh. Bahkan jika niatnya menolong, metodenya—"
"Metode saya menghasilkan return of spontaneous circulation sebelum ambulans tiba," potong Surya.
"Hasil tidak selalu membenarkan prosedur."
"Kematian pasien juga tidak akan dibenarkan oleh formulir yang rapi."
Udara di ruangan menegang.
Pak Bambang menyatukan kedua tangan. "Kalau waktu dapat diulang, apa yang akan kamu lakukan?"
Surya menatap satu per satu orang di meja itu.
"Hal yang sama."
Wakil direktur mendengus. "Berarti Saudara tidak menyesal."
"Saya menyesal alatnya tidak steril. Saya menyesal ambulans tidak tiba lebih cepat. Saya menyesal harus membelah dada pasien di lantai restoran." Surya menarik napas. "Tapi saya tidak menyesal menyelamatkan nyawanya."
Dia menunjuk jas putihnya sendiri.
"Saat mengucapkan sumpah dokter, kita tidak bersumpah hanya menolong orang di dalam rumah sakit. Kita tidak bersumpah menunggu jabatan, izin atasan, atau kamera berhenti merekam. Di depan saya ada manusia yang jantungnya berhenti. Kalau saya diam demi menyelamatkan karier, untuk apa saya memakai jas ini?"
Tak ada suara selain dengung pendingin ruangan.
Bu Ratna, yang berdiri dekat pintu, menurunkan ponselnya.
Pintu terbuka mendadak.
Pak Hendra masuk bersama seorang dokter bedah toraks yang masih mengenakan pakaian operasi.
"Operasi selesai," kata Pak Hendra. "Pasien stabil dan dipindahkan ke ICU."
Semua kepala terangkat.
Dokter bedah meletakkan foto hasil operasi di meja. "Tumor pada paru kiri pecah dan merobek pembuluh. Darah memenuhi rongga toraks. Tanpa tekanan langsung yang dilakukan Surya, pasien hampir pasti meninggal sebelum sampai rumah sakit. Posisi tekanannya tepat. Tidak meleset satu sentimeter pun."
Wakil direktur menatap foto itu, lalu gambar pisau di layar.
Mulutnya tertutup rapat.
Ponsel petugas humas berbunyi. Dia membaca pesan, lalu wajahnya berubah.
"Ada video lengkap," katanya. "Seorang pengunjung mengunggah rekaman dari awal resusitasi sampai jantung pasien kembali berdetak. Keluarga pasien juga sudah memberi pernyataan."
Layar besar berganti.
Kali ini publik melihat dua puluh menit kompresi dada. Mereka mendengar Surya meminta ambulans. Mereka melihat tangannya memijat jantung dan garis monitor kembali bergerak.
Komentar berbalik lebih cepat daripada datangnya tuduhan.
Dia dokter yang baru saja menyelamatkan nyawa seorang pasien.
Saya minta maaf sudah ikut menghujat.
Kalau itu ayah saya, saya akan berterima kasih seumur hidup.
Tagar pembunuh berjas putih tenggelam. Gantinya naik satu kalimat baru: DOKTER PEMBERANI SURABAYA.
Pak Bambang berdiri. "Rumah sakit tidak akan mengorbankan dokter yang menyelamatkan nyawa. Komite medik tetap melakukan evaluasi prosedural. Namun posisi resmi kita jelas: tindakan itu adalah respons darurat, dan pasien hidup karena Surya."
Surya akhirnya mengembuskan napas.
"Surya," panggil Bu Ratna.
Dia menoleh.
Dokter senior itu menundukkan kepala sedikit. "Saya masih tidak menyukai caramu mengambil risiko. Tapi saya salah menilai niatmu. Maaf."
"Saya terima, Bu."
Belum sempat rapat ditutup, suara gaduh terdengar dari koridor. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk bersama dua anggota keluarganya. Matanya merah, tangannya gemetar.
"Dokter Surya yang mana?"
Surya maju satu langkah. "Saya."
Pria itu langsung berlutut.
"Ayah saya masih hidup karena Dokter."
Surya buru-buru menarik lengannya. "Pak, berdiri. Jangan seperti ini."
"Saya tadi lihat videonya. Semua orang memaki Dokter saat tangan Dokter masih menahan darah ayah saya." Suaranya pecah. "Kami tidak punya apa pun yang cukup untuk membalas."
Istri dan adiknya ikut menunduk, menangis. Surya memaksa pria itu berdiri, tetapi rasa terima kasih yang memenuhi ruangan seakan memiliki berat sendiri.
Sesuatu bergetar di benaknya.
Sebuah botol bening muncul dalam pandangannya. Cahaya keemasan mengalir dari keluarga pasien, mengisi botol itu sampai ke leher.
『Botol Pahala telah penuh.』
『Ketulusan terverifikasi. Undian pertama tersedia.』
Surya terpaku.
Jadi poin itu tidak berasal dari operasi atau ketenaran.
Sistem mengukur rasa terima kasih yang nyata.
Ketika dia berkedip, tiga kartu cahaya terbuka.
『Pengalaman eksisi fibroma tingkat dunia diperoleh.』
『Tangan Emas meningkat menjadi 50 persen.』
『Pengalaman penanganan kuku akibat onikomikosis diperoleh.』
Panas halus mengalir dari pergelangan ke ujung jari Surya. Sendi-sendinya terasa lebih ringan. Setiap jari dapat bergerak sendiri dengan ketepatan yang sebelumnya mustahil.
Dia belum sempat mengujinya ketika pengeras suara IGD memanggil kasus trauma ringan.
Beberapa jam kemudian, seorang anak laki-laki duduk menangis di ranjang periksa. Luka robek memanjang di lengan bawahnya setelah jatuh menabrak pagar. Ibunya memegang bahunya, cemas melihat jarum.
"Sakit, Dok?" tanya anak itu.
"Kalau kamu lihat jarumnya, sakitnya dua kali lipat," kata Surya. "Jadi bantu saya lihat wajah Kak Rizki. Itu lebih mengerikan."
"Woi," protes Rizki dari seberang ranjang.
Anak itu tertawa di sela tangisnya.
Setelah anestesi lokal bekerja, Surya mulai melakukan jahitan intradermal. Tangannya bergerak tanpa getaran. Jarum masuk pada sudut yang sama, jarak tiap tusukan nyaris identik. Benang menghilang rapi di bawah kulit.
Delapan menit kemudian, luka itu tampak seperti satu garis tipis.
Bu Ratna mendekat dan memeriksa hasilnya. "Kamu belajar teknik ini dari siapa?"
"Baru terpikir tadi."
"Jangan bohong."
"Kalau saya jawab dari sistem di kepala, Bu Ratna bakal minta saya konsultasi psikiatri."
Rizki tertawa. Bu Ratna tidak.
Namun matanya tetap terpaku pada jahitan tersebut.
『Rasa terima kasih diterima. Botol Pahala terisi sepertiga.』
Keesokan paginya, meja Surya di ruang jaga dipenuhi tiga kantong sarapan.
Bunga membawa bubur ayam. Dewi Anggraini membawa roti dan kopi. Seorang perawat lain meletakkan nasi kuning lengkap dengan catatan kecil: untuk dokter paling berani di Surabaya.
"Gue jaga malam tiga tahun," keluh Rizki. "Yang gue dapat cuma gastritis. Lo pegang jantung sekali, langsung dapat katering."
Budi Gendut menepuk perutnya. "Kalau Surya bingung pilih yang mana, gue siap jadi tim penilai."
"Sentuh satu saja, saya jahit mulut kalian," kata Dewi.
Ruangan meledak oleh tawa.
Siang itu, rumah sakit mengadakan konferensi pers dan pemberian penghargaan yang disiarkan langsung. Pak Bambang menyerahkan plakat serta hadiah gabungan dari rumah sakit dan yayasan pasien senilai Rp150.000.000.
Kilatan kamera memenuhi aula.
Surya berdiri di podium dengan jas putih baru. Jas yang berlumuran darah disimpan di dalam kantong barang bukti rumah sakit. Namun semua orang yang menonton masih mengingat gambarnya.
Seorang reporter mengangkat tangan. "Dokter Surya, apakah Anda menganggap tindakan Anda heroik?"
"Tidak," jawab Surya. "Saya hanya kebetulan berada di sana saat seseorang membutuhkan dokter."
Komentar live bergerak begitu cepat di layar monitor.
Lalu dua nama muncul berulang kali.
Tiara Putri: Jangan tertipu. Dia cuma cari perhatian.
Kevin Hartono: Coba tanya dari mana dokter muda miskin itu belajar operasi. Jangan-jangan pasiennya dijadikan eksperimen.
Rizki menunjukkan layar ponselnya dari sisi panggung.
Surya membaca kedua komentar itu.
Kemudian dia menarik mikrofon lebih dekat.
"Baik," katanya tenang. "Kalau mantan saya dan lelaki yang membelinya ingin penjelasan, saya akan jawab sekarang."
Bab 3 — Lima Menit
Aula mendadak lebih sunyi daripada ruang operasi.
Petugas humas di sisi panggung memberi isyarat agar siaran diputus. Pak Bambang mengangkat satu tangan, menyuruhnya menunggu.
Surya menatap kamera utama.
"Saya dokter muda. Saya lahir dari keluarga miskin. Motor saya masih kredit, dan sebelum hari ini isi rekening saya bahkan tidak cukup untuk membeli jam tangan Kevin. Semua itu benar."
Komentar live melambat, seolah ratusan ribu penonton menunggu pukulan berikutnya.
"Tapi saat seseorang sekarat, uang Kevin tidak bisa membuat jantungnya berdetak. Tangan saya bisa."
Rizki menutup mulut agar tidak berteriak kegirangan.
Surya melanjutkan, "Tiara memilih pergi setelah lima tahun karena merasa saya tidak punya masa depan. Itu haknya. Yang lucu, Kevin masuk ketika hubungan kami belum selesai, lalu bangga seolah berhasil memenangkan sesuatu. Kalau mau memakai bahasa dia sendiri, ya silakan. Dia cuma orang yang dengan sukarela menerima bekas orang lain, lalu mengira dirinya juara."
Komentar meledak.
Waduh, kena telak.
Uang bisa beli jam, tidak bisa beli kemampuan.
Bang, jangan bunuh dua orang dalam dua hari!
Nama Kevin menghilang dari kolom komentar.
Tiara masih mencoba membalas, tetapi komentarnya tenggelam di antara ribuan akun yang mengutip kalimat Surya. Di tempat lain, Kevin meneleponnya dengan suara dingin.
"Kenapa semua orang sekarang menertawakan gue gara-gara lo?"
"Kevin, dengar dulu. Dia sengaja—"
"Selesai. Jangan hubungi gue lagi."
Sambungan terputus.
Tiara menatap layar ponselnya. Akses kartu tambahan yang diberikan Kevin sudah diblokir. Mobil yang menjemputnya tiap pagi dibatalkan. Dalam waktu kurang dari satu menit, kehidupan mewah yang dipilihnya menguap.
Di aula, Surya tidak tersenyum.
"Pertanyaan berikutnya," katanya.
Ketika siaran selesai, Pak Bambang memanggilnya turun dari panggung.
"Jawabanmu efektif," ujar Direktur itu. "Tapi lain kali, jangan ubah konferensi pers rumah sakit menjadi sidang percintaan."
"Siap, Pak."
Pak Hendra menepuk pundak Surya. "Saya tidak menyuruh kamu begitu."
"Tapi Bapak bangga?"
"Sedikit. Jangan besar kepala."
Bu Ratna lewat di belakang mereka. "Sedikit apanya? Senyum Bapak kelihatan dari parkiran."
Pak Hendra langsung memasang wajah datar. "Kalian semua kembali ke IGD. Pasien tidak sembuh hanya karena dokter masuk live."
Beberapa jam kemudian, suara roda brankar berderak keras melewati pintu IGD.
Seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun terjatuh dari lantai tujuh proyek bangunan. Helm proyek menyelamatkan kepalanya, tetapi tungkai bawah kanannya membengkok pada tiga titik yang tidak wajar.
Ayahnya berlari di belakang brankar dengan sandal berbeda warna.
"Tolong anak saya, Dok!"
Surya mengambil alih pemeriksaan primer. Jalan napas aman. Napas cepat, tetapi suara paru simetris. Tekanan darah masih stabil. CT kepala tidak menunjukkan perdarahan. Masalah terburuk berada di tungkai.
Hasil X-ray memperlihatkan tibia patah pada tiga tempat, membentuk empat fragmen. Salah satu ujung tulang menekan jaringan lunak dan hampir menembus kulit.
"Butuh operasi fiksasi," kata dr. Wahyu Prabowo setelah melihat gambar. "Siapkan pelat dan sekrup."
Ayah pasien berdiri di dekat pintu, memegang kertas administrasi dengan kedua tangan. Wajahnya semakin pucat setiap membaca angka.
Surya mendekat. "BPJS-nya aktif, Pak?"
Pria itu menggeleng. "Tunggakan, Dok. Saya baru kerja lagi dua minggu. Uang muka alatnya empat juta. Saya... saya belum punya."
Dia menatap anaknya yang masih mengerang di balik tirai.
"Kalau boleh, jangan operasi dulu. Saya cari pinjaman. Besok pagi pasti dapat."
"Fragmennya menekan jaringan. Menunggu bisa memperburuk kerusakan dan membuat operasinya lebih besar."
Bahu pria itu jatuh.
Untuk sesaat Surya melihat wajah ayahnya sendiri—lelaki kurus yang menahan sakit karena takut biaya rumah sakit, sampai penyakitnya terlambat ditangani. Surya berusia enam belas tahun ketika peti mati ayahnya diturunkan ke tanah.
Dia tidak bisa mengubah masa lalu.
Tapi dia bisa menghentikan satu keluarga mengulangnya.
Surya membuka aplikasi bank. Hadiah Rp150.000.000 baru masuk siang tadi. Dia mentransfer Rp4.000.000 ke kasir rumah sakit dengan nomor registrasi pasien sebagai keterangan.
"Uang muka sudah dibayar," katanya.
Ayah pasien menatap notifikasi pada kertas pembayaran, lalu Surya. "Dokter... saya tidak bisa mengembalikan secepatnya."
"Saya tidak sedang memberi pinjaman. Temani anak Bapak. Itu yang dia butuhkan."
Mata pria itu memerah. Tangannya terangkat seolah ingin meraih Surya, tetapi berhenti karena ragu.
"Terima kasih, Dok. Saya tidak akan lupa."
Cahaya tipis bergerak di dasar Botol Pahala. Belum penuh, tetapi jelas bertambah.
Bu Ratna menyaksikan dari meja perawat. Kali ini dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menutup kembali formulir yang tadi hendak diberikannya dan membantu mempercepat proses administrasi.
Pasien dibawa ke OK Bedah Ortopedi menjelang malam. Setelah anestesi, dr. Wahyu dan dr. Mahmud meninjau kembali gambar sebelum memulai fiksasi internal.
Pengeras suara tiba-tiba memanggil tim trauma.
Seorang pekerja lain datang dengan batang baja menembus dada.
"Saya ke IGD," kata dr. Wahyu. "Mahmud, ikut. Kasus itu butuh dua operator. Kalian bertiga tunggu. Jangan mulai sebelum kami kembali."
Pintu menutup.
Di dalam OK hanya tersisa Surya, seorang dokter muda lain, perawat instrumen, dan pasien yang sudah teranestesi. Pelat operasi telah dibuka. Waktu berjalan, sementara tungkai semakin bengkak.
Surya menatap X-ray di monitor.
Pengalaman reposisi tingkat dunia di kepalanya bereaksi seperti mesin yang baru dinyalakan. Garis tarikan, sudut rotasi, tekanan yang diperlukan, dan urutan mengembalikan fragmen muncul satu demi satu.
Patahannya buruk.
Namun belum tentu memerlukan pelat.
"Kita tunggu," kata perawat instrumen, menangkap arah pandang Surya. "Instruksi Pak Wahyu jelas."
"Kalau bengkaknya bertambah, reduksi tertutup akan makin sulit."
Dokter muda di sampingnya menelan ludah. "Lo mau ngapain?"
"Reposisi manual."
"Tiga patahan? Itu bukan dislokasi bahu, Surya."
"Saya tahu."
"Kalau salah, fragmen bisa merobek pembuluh. Kita semua tamat."
Surya memeriksa kembali nadi dorsalis pedis, warna kulit, dan hasil pencitraan. Pasien sudah memiliki persetujuan tindakan ortopedi, tetapi perubahan teknik tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.
Dia tidak bertindak karena ingin pamer.
Dia bertindak karena setiap menit membuat pilihan yang lebih ringan semakin sulit.
"Catat waktu mulai," katanya. "Kalau dalam lima menit posisi tidak sempurna, kita hentikan dan tetap lakukan fiksasi sesuai rencana."
Perawat itu ragu, lalu melihat tangan Surya yang tidak bergetar sedikit pun.
"Pukul 20.17."
Surya memegang tumit dan bagian proksimal tungkai. Dia memberi traksi perlahan untuk mengembalikan panjang tulang, kemudian memutar beberapa derajat.
Krek.
Fragmen pertama masuk.
Dokter muda di sampingnya membelalakkan mata.
Surya tidak berhenti. Tekanan telapak kirinya menahan garis fraktur tengah. Jari kanan mencari tonjolan tulang terakhir melalui kulit yang bengkak.
Tarik.
Tahan.
Putar.
Krek.
Garis tungkai berubah. Bengkok yang tadi tampak mengerikan menghilang.
"C-arm," perintah Surya.
Gambar fluoroskopi muncul di monitor.
Keempat fragmen tibia berjajar pada poros yang sama. Celah fraktur rapat. Panjang tungkai kembali simetris. Tidak ada rotasi sisa yang berarti.
Perawat melihat jam.
"Empat menit tiga puluh delapan detik."
Tak seorang pun bersuara.
Surya memasang imobilisasi sementara dan memeriksa nadi distal sekali lagi. Tetap kuat.
Pintu OK terbuka dengan keras.
dr. Mahmud masuk lebih dulu, wajahnya merah karena marah. "Siapa yang memindahkan pasien? Kenapa meja fiksasi belum—"
Matanya jatuh pada tungkai yang sudah lurus.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Reposisi tertutup," jawab Surya.
"Tanpa menunggu saya? Tiga fraktur segmental? Kamu mau menghancurkan kariermu sendiri?"
"Lihat fluoroskopinya dulu, Dok."
"Saya tidak perlu—"
dr. Wahyu masuk di belakangnya, meraih cetakan gambar sebelum dan sesudah. Dia menempelkannya berdampingan pada panel cahaya.
Gambar pertama menunjukkan tulang yang pecah dan terpuntir.
Gambar kedua menunjukkan poros yang nyaris sempurna.
dr. Mahmud berhenti bicara.
Dia mendekat, mengukur sudut dengan mata, lalu meminta proyeksi tambahan. Hasilnya sama. Posisi itu melampaui batas aman untuk menghindari operasi besar.
Posisinya lebih rapi daripada banyak hasil fiksasi terbuka.
"Anjir," katanya pelan.
Perawat instrumen menunduk untuk menyembunyikan senyum.
dr. Wahyu memandang Surya seperti baru menemukan alat bedah yang selama ini hilang dari rumah sakit.
"Siapa yang mengajarimu?"
"Saya memahami prinsipnya, Pak. Tadi kondisinya memungkinkan."
"Memahami prinsip tidak membuat tangan orang bisa melakukan ini."
Pintu kembali terbuka. Pak Hendra datang setelah memastikan pasien trauma dada ditangani timnya.
dr. Wahyu langsung berdiri di hadapannya.
"Hendra, anak ini pindah ke ortopedi. Saya yang urus."
dr. Mahmud mengangkat kepala. "Tunggu. Saya yang pertama melihat hasilnya."
Pak Hendra mengambil dua lembar X-ray, memeriksanya, lalu melipat tangan di dada.
"Kalian mau merebut Surya?"
"Kami mau memakai bakat sesuai tempatnya," kata dr. Wahyu.
Pak Hendra tersenyum tipis.
"Mau merebut anak saya? Tidak ada pintunya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!