Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Episode 1

Bab 1 - Kelahiran Kembali

"Raka belum gajian?"

Suara Ratna menembus pintu kamar yang tidak tertutup rapat.

Raka membuka mata.

Langit-langit kusam dengan bercak lembap menyambut pandangannya. Kipas angin tua berputar lambat, mengeluarkan bunyi berdecit setiap tiga detik. Udara kamar terasa panas dan pengap meski matahari belum tinggi.

Ia tidak langsung bergerak.

Jantungnya berdetak terlalu keras.

Kamar ini.

Retakan tipis di dinding sebelah lemari. Meja kerja murah dengan satu kaki yang diganjal buku pemrograman. Kabel pengisi daya yang dibungkus isolasi hitam. Bahkan kaus abu-abu yang tergantung di sandaran kursi.

Semua ini pernah menjadi miliknya.

Puluhan tahun lalu.

"Belum," jawab Ratna dari ruang tengah. Nada suaranya terdengar kesal. "Katanya tanggal dua puluh lima. Sekarang masih tanggal dua puluh empat."

"Memangnya tidak bisa minta kasbon?" Suara kedua lebih tua dan lebih tajam. Bu Sumini. "Budi butuh uang hari ini. Orang-orang yang menagih sudah datang ke rumah Ibu dua kali."

"Aku sudah bilang. Tapi Raka akhir-akhir ini banyak alasan."

Raka perlahan mengangkat tangan. Kulitnya masih kencang. Tidak ada bintik usia. Tidak ada bekas jarum infus. Jari-jarinya kurus, hanya memiliki kapalan tipis akibat bertahun-tahun mengetik.

Ia meraih ponsel di bawah bantal.

24 Mei.

Tahun yang terpampang di layar membuat napasnya terhenti.

Tiga belas tahun sebelum kematiannya.

Tiga belas tahun sebelum ia mengembuskan napas terakhir sendirian di kamar kontrakan sempit, ditemani tagihan rumah sakit yang belum lunas dan pesan-pesan dari keluarga Hartono yang masih meminta uang.

Raka duduk tegak.

Ingatan terakhirnya datang seperti pecahan kaca.

Tubuh berusia empat puluh tahun yang kurus karena kerja malam. Nyeri di dada yang ia abaikan selama berbulan-bulan. Layar laptop kantor yang masih menyala ketika ia jatuh dari kursi. Pesan Ratna yang masuk beberapa menit sebelumnya.

Transfer dua juta. Budi ada masalah.

Bahkan setelah perceraian. Bahkan setelah Ratna meninggalkannya demi laki-laki lain. Bahkan setelah semua yang mereka lakukan, ia masih saja mengirim uang ketika mendengar kata keluarga, sakit, atau darurat.

Ia mati sebelum sempat menekan tombol transfer untuk terakhir kalinya.

Namun sekarang, ia kembali.

Bukan ke masa setelah perceraian.

Ia kembali ke masa ketika masih menjadi suami Ratna. Ketika semua orang di rumah ini menganggap gajinya sebagai milik bersama, sementara utang dan penghinaan hanya menjadi miliknya sendiri.

"Kalau dia tidak mau kasbon, jual saja laptopnya," kata Bu Sumini. "Laptop kantor itu mahal, kan?"

"Itu milik perusahaan, Bu."

"Lalu apa gunanya dia kerja di perusahaan teknologi kalau barang sekecil itu saja bukan punya dia?"

Ratna mendecakkan lidah. "Nanti aku paksa dia ambil pinjaman online. Limitnya masih ada."

Raka menatap ponsel di tangannya.

Di kehidupan sebelumnya, percakapan ini tidak pernah ia dengar. Saat itu ia bangun, mandi, lalu pergi bekerja tanpa tahu bahwa Ratna dan ibunya sedang merencanakan utang atas namanya.

Tiga hari kemudian, ia menandatangani pinjaman karena Ratna menangis dan berkata Budi akan dibunuh penagih utang.

Budi tidak pernah berada dalam bahaya.

Uang itu dipakai untuk menutup kekalahan judi online, lalu sisanya kembali dipertaruhkan pada malam yang sama.

Raka menurunkan kedua kakinya ke lantai.

Dingin ubin merambat ke telapak kakinya. Nyata. Terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Ia berjalan ke cermin kecil di dekat lemari. Wajah seorang pria berusia dua puluh delapan tahun menatap balik. Rambut berantakan. Mata cekung karena lembur. Bahu sempit. Tidak tampan, tidak buruk, hanya tampak lelah sebelum waktunya.

Wajah inilah yang dulu selalu menunduk.

Ketika Bu Sumini mengambil kartu ATM-nya.

Ketika Budi memanggilnya bodoh setelah ia menolak membayar utang.

Ketika Ratna pulang dini hari dengan parfum laki-laki lain menempel di bajunya, lalu marah karena Raka berani bertanya.

Dan ketika hasil pemeriksaan bertahun-tahun kemudian membuktikan bahwa Nila bukan anak kandungnya.

Raka menutup mata sesaat.

Ia melihat lagi amplop hasil tes itu di tangannya. Melihat Ratna merebutnya. Mendengar kalimat yang menghancurkan sisa harga dirinya.

"Kalau kamu benar-benar sayang Nila, darah seharusnya tidak penting."

Darah memang bukan kesalahan anak kecil itu.

Namun kebohongan Ratna adalah pilihan.

Raka membuka mata.

Tidak ada amarah meledak di wajahnya. Tidak ada teriakan. Hanya sesuatu yang dingin, padat, dan akhirnya utuh.

Kali ini, ia tidak akan membayar.

Tidak dengan uang.

Tidak dengan tubuhnya.

Tidak dengan sisa hidupnya.

Pintu kamar didorong dari luar.

Ratna berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya masih rapi meski baru bangun. Ia mengenakan daster bermotif bunga yang dibeli dengan uang Raka minggu lalu.

"Kamu sudah bangun ternyata." Tatapannya langsung turun ke ponsel di tangan Raka. "Cek rekening. Gajimu masuk belum?"

Di belakang Ratna, Bu Sumini duduk di sofa tipis sambil memakan keripik dari toples. Televisi menyala cukup keras, tetapi matanya tidak pernah lepas dari kamar.

Raka menatap istrinya selama beberapa detik.

Dulu, ia menganggap wajah itu rumah.

Sekarang, ia hanya melihat seseorang yang telah menghafal kelemahannya dan menjadikannya mesin penarik uang.

"Belum," jawab Raka.

"Kalau begitu, hubungi bagian keuangan."

"Untuk apa?"

Ratna mengernyit, seolah pertanyaan itu tidak masuk akal. "Budi perlu enam juta. Harus dibayar siang ini."

"Enam juta untuk apa?"

"Masalah pribadi."

"Judi online?"

Wajah Ratna berubah sepersekian detik.

Kecil sekali. Namun Raka melihatnya.

"Siapa yang bilang begitu?" Ratna menurunkan tangan. "Jangan asal menuduh adikku."

Bu Sumini bangkit dari sofa. "Raka, kamu itu suami Ratna. Artinya Budi juga tanggung jawabmu. Keluarga tidak perlu saling menginterogasi seperti polisi."

Raka memandang wanita tua itu.

Di kehidupan sebelumnya, suara Bu Sumini selalu membuat dadanya mengecil. Ia takut dianggap menantu durhaka. Takut tetangga membicarakan dirinya. Takut Ratna pergi membawa Nila.

Sekarang, ancaman itu terdengar seperti rekaman lama yang sudah kehilangan daya.

"Kalau keluarga tidak perlu ditanya," katanya tenang, "kenapa utangnya selalu memakai nama saya?"

Ruang tengah mendadak sunyi.

Ratna berkedip. Bu Sumini berhenti dua langkah dari pintu.

Mereka tidak terbiasa mendengar Raka bertanya balik.

"Maksud kamu apa?" Ratna menajamkan suara.

"Sederhana." Raka meletakkan ponselnya di meja. "Berapa total utang Budi?"

"Bukan urusanmu."

"Kalau bukan urusanku, uangku juga bukan urusannya."

Ratna menatapnya seolah baru pertama kali melihat wajah suaminya.

Bu Sumini lebih cepat pulih. Ia menepuk daun pintu dengan telapak tangan.

"Kamu mulai hitung-hitungan dengan keluarga sekarang? Siapa yang menerima kamu waktu menikah dengan Ratna? Siapa yang membiarkan kamu tinggal dekat keluarga kami? Kalau tetangga tahu kamu menolak menolong adik ipar sendiri, mereka bakal ngomong apa?"

Raka hampir tertawa.

Apartemen ini disewa dengan gajinya. Uang muka pernikahan dibayar dari tabungannya. Biaya hidup Bu Sumini selama dua tahun terakhir juga masuk ke rekeningnya setiap bulan.

Namun di mulut wanita itu, semua berubah menjadi kebaikan keluarga Hartono.

"Biarkan mereka bicara," kata Raka.

Dua mata Bu Sumini membesar.

Ratna melangkah masuk. "Kamu kenapa pagi-pagi begini? Semalam lembur lagi lalu stres? Jangan cari masalah, Raka. Transfer enam juta begitu gajimu masuk. Selesai."

"Tidak."

Satu kata.

Pendek. Datar.

Namun kata itu jatuh di kamar sempit tersebut seperti benda berat.

Ratna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bu Sumini bahkan tampak lupa melanjutkan omelannya.

Raka berjalan melewati mereka menuju kamar mandi.

"Raka!" Ratna memanggil. "Aku sedang bicara sama kamu!"

Ia berhenti tanpa menoleh.

"Aku juga sudah menjawab."

Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.

Suara Ratna serta Bu Sumini segera meledak dari luar. Tuduhan, kewajiban, keluarga, rasa malu, semua kata lama itu datang bertubi-tubi.

Raka menyalakan keran.

Air dingin membasahi wajahnya.

Di cermin buram, sorot matanya tidak lagi sama.

Ia belum punya uang. Tubuhnya masih lemah. Pekerjaannya masih menghabiskan hidupnya sedikit demi sedikit. Ratna masih memiliki semua jalan untuk memanipulasinya, sementara ia belum memegang bukti apa pun.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Tiga belas tahun ingatan.

Ia tahu siapa yang akan mengkhianatinya. Ia tahu bisnis mana yang akan tumbuh. Ia tahu kapan Budi jatuh semakin dalam, kapan Ratna mulai terang-terangan berselingkuh, dan kapan keluarga Hartono akan mencoba mengambil semua yang tersisa.

Kali ini, Raka akan bergerak lebih dulu.

Ia akan memisahkan uangnya.

Mengumpulkan bukti.

Memutus setiap tangan yang masuk ke sakunya.

Lalu ia akan keluar dari keluarga ini tanpa meninggalkan satu rupiah pun untuk mereka rebut.

Getaran pendek terdengar dari kamar.

Ponselnya.

Raka mematikan keran, mengeringkan wajah, lalu membuka pintu. Ratna dan Bu Sumini sudah tidak berada di depan kamar. Keduanya masih menggerutu di ruang tengah, mungkin sedang mencari cara lain untuk menekannya.

Layar ponsel di atas meja menyala.

Bukan notifikasi bank.

Bukan pesan kantor.

Sebuah panel transparan berwarna biru gelap melayang beberapa sentimeter di atas layar. Angka-angka tipis bergerak cepat seperti aliran data. Raka menyentuhnya, tetapi jarinya menembus cahaya itu.

Panel tersebut hanya terlihat olehnya.

Kemudian seluruh angka berhenti.

Satu baris tulisan muncul di tengah.

[Sistem Cashback 10x telah diaktifkan.]

Baris kedua menyala lebih terang.

[Selamat datang, Host.]

Raka menatap panel itu tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya sejak membuka mata di kehidupan keduanya, sudut bibirnya terangkat.

Takdir ternyata mengembalikannya dengan tagihan yang lebih panjang.

Takdir memberinya modal untuk menghancurkan semua rantai.

Episode 2

Bab 2 - Cashback Sepuluh Kali Lipat

Takdir memberinya modal untuk menghancurkan semua rantai.

Raka menarik kursi dan duduk di depan meja kerjanya. Panel biru itu tetap melayang di atas ponsel, tidak terpengaruh oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai.

Ia menggeser layar.

Panel tersebut bergerak mengikuti jarinya.

[Host: Raka Pratama]

[Fungsi Utama: Cashback 10x]

[Setiap pengeluaran sah sebesar Rp 1 akan menghasilkan cashback sebesar Rp 10.]

Mata Raka berhenti pada kata sah.

"Tampilkan aturan lengkap."

Tulisan di layar berubah.

[Pengeluaran harus diberikan kepada pihak ketiga untuk barang, jasa, investasi, atau donasi yang nyata.]

[Transfer antar rekening milik Host, transaksi palsu, pembelian fiktif, pembatalan, dan pengembalian dana tidak dihitung.]

[Dana cashback memiliki sumber legal yang dapat diaudit. Kewajiban pajak telah diselesaikan.]

[Tidak ada batas maksimal cashback.]

Raka membaca seluruh baris itu dua kali.

Tidak ada batas maksimal.

Empat kata tersebut cukup untuk membuat seorang programmer dengan saldo setengah juta membayangkan angka yang tidak pernah berani ia tulis di layar kalkulator.

Namun ia tidak segera percaya.

Pada kehidupan sebelumnya, Raka pernah kehilangan uang karena aplikasi investasi palsu. Tampilan rapi, angka besar, dan janji manis tidak berarti apa-apa sebelum uang benar-benar masuk ke rekening.

Ia membuka aplikasi perbankan.

Saldo: Rp 512.400.

Itulah seluruh uang yang dapat ia gunakan hingga gajian. Ratna mengira jumlahnya lebih besar, tetapi dua tagihan otomatis telah dipotong semalam.

Jika panel ini palsu, ia tidak boleh menghabiskan semuanya.

Raka mengambil dompet, memasukkan ponsel ke saku, lalu keluar dari kamar. Ratna dan Bu Sumini tidak lagi berada di ruang tengah. Di meja hanya ada dua gelas kopi kotor serta remah keripik.

Sebuah pesan dari Ratna masuk.

Aku antar Ibu pulang. Jangan lupa enam juta untuk Budi.

Raka menghapus notifikasi tanpa membalas.

Lima menit kemudian, ia sudah berjalan di bawah panas Surabaya menuju minimarket yang berada di ujung jalan. Deru motor, klakson angkot, dan suara pedagang sarapan bercampur di udara.

Pintu kaca minimarket terbuka dengan bunyi pendek.

"Selamat pagi," sapa kasir perempuan di belakang meja.

Raka mengambil beras kemasan kecil, minyak goreng, sabun, air mineral, dan beberapa kebutuhan apartemen. Barang-barang yang pasti dipakai. Tidak ada transaksi palsu. Tidak ada alasan untuk mengembalikannya.

Total di layar kasir berhenti pada Rp 103.700.

Raka menambah sebungkus permen.

"Yang ini juga."

Kasir memindai barang terakhir. "Totalnya Rp 109.500, Pak."

Raka membayar dengan QR.

Satu detik.

Dua detik.

Pembayaran berhasil.

Panel biru muncul di sudut pandangannya.

[Pengeluaran sah terdeteksi: Rp 109.500.]

[Cashback 10x: Rp 1.095.000.]

Ponselnya bergetar.

Notifikasi bank masuk hampir pada saat yang sama.

Dana masuk: Rp 1.095.000.

Saldo baru: Rp 1.497.900.

Raka tidak bergerak.

Suara pendingin ruangan minimarket mendadak terasa sangat keras. Jemarinya menekan sisi ponsel hingga memutih.

Uang itu nyata.

Ia membuka mutasi rekening. Dana tersebut benar-benar ada. Keterangan transaksi tercatat sebagai cashback sah, lengkap dengan nomor referensi.

"Pak?" Kasir menunjuk kantong belanja di meja. "Barangnya."

Raka mengangkat kepala. "Ya. Terima kasih."

Kasir itu menatapnya dengan sedikit heran. Pelanggan di depannya baru saja membeli permen dan sabun, tetapi ekspresinya seperti seseorang yang baru memenangkan tender besar.

Raka membawa kantong belanja keluar. Begitu sampai di bawah bayangan papan toko, ia kembali melihat saldo rekening.

Rp 1.497.900.

Ia mengurangi angka pengeluaran dalam pikirannya, lalu menghitung ulang cashback.

Tepat sepuluh kali lipat.

Tidak kurang satu rupiah pun.

Tawa pendek keluar dari tenggorokannya. Bukan tawa keras. Lebih seperti tekanan selama tiga belas tahun yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.

"Jadi begini cara kerjanya."

Semakin banyak ia berbelanja, semakin besar uangnya.

Namun ada masalah pertama.

Modalnya masih kecil. Untuk menghasilkan cashback besar, ia harus meningkatkan nilai transaksi secara bertahap tanpa menghabiskan saldo sebelum cashback berikutnya masuk.

Raka membuka aplikasi kalkulator.

Ia menyusun urutan transaksi, menyisakan cadangan untuk transportasi dan makan. Kebiasaan memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil membuat kegembiraannya kembali terkendali.

Ia tidak akan berlari masuk ke toko lalu membeli barang secara acak.

Uang adalah senjata.

Senjata tetap membutuhkan strategi.

Dari minimarket, Raka masuk ke toko perlengkapan kerja di pusat pertokoan dekat jalan utama. Ia memilih sepatu yang layak, tas kerja, serta kursi ergonomis sederhana yang akan dikirim ke apartemen.

Seorang pramuniaga mendekat. "Untuk kursinya ada garansi dua tahun, Pak. Total semua Rp 901.000 setelah diskon."

"Barangnya tersedia?"

"Tersedia. Bisa kami kirim sore ini."

"Saya bayar sekarang."

Pramuniaga itu mengangguk dan membawa Raka ke kasir.

Pembayaran kedua selesai.

[Pengeluaran sah terdeteksi: Rp 901.000.]

[Cashback 10x: Rp 9.010.000.]

Dana masuk.

Saldo baru: Rp 9.606.900.

Kali ini Raka sudah siap, tetapi melihat tujuh digit berubah menjadi sembilan juta dalam satu detik tetap membuat darahnya mengalir lebih cepat.

Ia menguji satu hal lagi.

"Kalau saya membatalkan kursinya, bagaimana prosedurnya?" tanyanya.

Pramuniaga menjelaskan bahwa pembayaran dapat dikembalikan setelah dipotong biaya administrasi.

Pada panel, muncul peringatan tipis.

[Refund akan membatalkan cashback dan menarik kembali dana terkait.]

Raka tersenyum kecil.

Sistem ini tidak memiliki celah murahan.

Bagus.

Jika kekayaan sebesar ini dapat dibangun dengan transaksi palsu, semua yang ia dapatkan akan berdiri di atas bom waktu. Ia membutuhkan uang yang dapat dipakai membeli perusahaan, tanah, dan perlindungan nyata, bukan angka ilegal yang hancur pada audit pertama.

Menjelang siang, Raka tiba di sebuah mal. Kaos lamanya sudah pudar dan celananya terlalu longgar. Selama bertahun-tahun ia selalu menunda membeli pakaian karena Ratna mengatakan kebutuhan Budi lebih penting.

Hari ini, ia masuk ke toko tanpa meminta izin siapa pun.

Seorang pegawai laki-laki mengamatinya dari sepatu lama hingga jam tangan murah, lalu tetap menyambut dengan sopan.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

"Dua kemeja kerja, dua celana, satu jaket. Yang potongannya sederhana."

Pegawai itu menunjukkan beberapa pilihan. Raka tidak mengambil merek paling mahal. Ia memilih yang pas, nyaman, dan benar-benar akan digunakan.

Ketika keluar dari ruang ganti, bayangan di cermin membuatnya berhenti sejenak.

Tubuhnya masih kurus. Wajahnya masih lelah. Namun kemeja gelap yang pas di bahu membuatnya terlihat lebih tegak.

Bukan orang kaya.

Belum.

Tetapi juga tidak lagi tampak seperti pria yang meminta maaf karena hadir di ruangan.

"Cocok sekali, Pak," kata pegawai itu. "Total semua dengan sepatu formal Rp 2.014.000."

"Saya ambil."

QR dipindai.

[Pengeluaran sah terdeteksi: Rp 2.014.000.]

[Cashback 10x: Rp 20.140.000.]

Saldo baru: Rp 27.732.900.

Pegawai toko memasukkan pakaian ke kantong. Ia tidak tahu bahwa pelanggan di depannya baru mendapat lebih dari dua puluh juta hanya karena membeli pakaian.

Raka juga tidak mengatakan apa-apa.

Ia mulai menyukai rahasia ini.

Uji terakhir dilakukan di toko jam tangan. Ia memilih sebuah jam mekanis yang kokoh seharga Rp 2.480.000. Bagi orang kaya, barang itu kecil. Bagi Raka, harganya melampaui semua yang pernah ia beli untuk dirinya sendiri.

Kasir sempat memastikan dua kali.

"Pembayaran penuh, Pak?"

"Penuh."

[Pengeluaran sah terdeteksi: Rp 2.480.000.]

[Cashback 10x: Rp 24.800.000.]

Notifikasi bank muncul.

Saldo baru: Rp 50.052.900.

Raka menatap angka itu.

Pagi tadi, enam juta terdengar seperti beban yang dapat menghancurkan hidupnya.

Sekarang, setelah empat transaksi nyata, ia memiliki lebih dari lima puluh juta.

Dan Ratna masih menunggu gajinya.

Raka memasang jam itu di pergelangan tangan. Bobot logamnya terasa dingin dan nyata. Bukan sekadar simbol. Itu bukti bahwa aturan dunia miliknya telah berubah.

Malamnya, ia kembali ke apartemen. Barang belanjaan disimpan, kursi baru sudah terpasang, dan semua struk diletakkan rapi di meja. Ia mengunduh mutasi rekening serta memeriksa setiap nomor referensi.

Semuanya bersih.

Semuanya dapat digunakan.

Semuanya miliknya.

Raka membuka panel sistem sekali lagi.

"Tidak ada batas atas?"

[Benar.]

"Tidak ada tugas tersembunyi dari transaksi hari ini?"

[Tidak ada.]

"Lalu kenapa aku dipilih?"

Panel diam.

Tidak ada jawaban.

Raka tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa jawaban yang belum tersedia hanya menghabiskan waktu. Yang penting, alat ini nyata dan aturan dasarnya jelas.

Besok ia akan meningkatkan modal lagi.

Setelah itu, ia akan menyiapkan rekening terpisah, menyusun rencana keluar dari pekerjaan, dan mencari bukti yang diperlukan untuk memutus keluarga Hartono secara sah.

Ponselnya bergetar.

Panel sistem mengeluarkan cahaya keemasan untuk pertama kalinya.

[Total cashback tahap awal telah tercapai.]

[Hadiah tambahan telah dibuka: Peningkatan Fisik 10x.]

[Apakah Host ingin mengaktifkan?]

Episode 3

Bab 3 - Tubuh Baru

[Apakah Host ingin mengaktifkan?]

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menutup pintu kamar, menguncinya, lalu menggeser kursi menjauh dari meja. Jika hadiah ini benar-benar meningkatkan tubuh sepuluh kali lipat, ia tidak ingin pingsan di ruang tengah dan ditemukan Ratna.

"Jelaskan efeknya."

Panel menampilkan lima baris baru.

[Kekuatan, kecepatan, daya tahan, refleks, pertahanan fisik, dan pemulihan Host akan ditingkatkan hingga sepuluh kali kondisi manusia normal.]

[Peningkatan bersifat permanen.]

[Peningkatan tidak membuat Host kebal terhadap peluru, racun, atau cedera berat.]

[Proses penyesuaian awal: sekitar sepuluh menit.]

[Aktifkan sekarang?]

Raka membaca peringatan itu sampai selesai.

Sistem tidak menjanjikan tubuh abadi. Tidak ada kekebalan terhadap peluru. Tidak ada pemulihan ajaib. Artinya, kekuatan ini tetap memiliki batas.

Itu justru membuatnya lebih percaya.

"Aktifkan."

[Konfirmasi diterima.]

Rasa panas menyala di tengah dadanya.

Raka tersentak.

Panas itu menyebar terlalu cepat, masuk ke bahu, punggung, lengan, perut, lalu turun sampai ke ujung jari kaki. Otot-ototnya menegang serempak. Ia mencoba berdiri tegak, tetapi lututnya kehilangan tenaga.

Tubuhnya jatuh berlutut di lantai.

"Sial..."

Tidak ada luka yang muncul. Tidak ada tulang yang patah. Namun rasanya seperti seluruh tubuhnya dibongkar dari dalam, dipadatkan, lalu dipasang kembali dengan ukuran yang sama.

Keringat membasahi kausnya.

Ia menggigit ujung handuk agar tidak mengeluarkan suara.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima menit.

Setiap detik terasa panjang. Detak jantungnya sempat menjadi begitu kuat hingga ia bisa mendengarnya sendiri, lalu perlahan kembali stabil. Napasnya yang berat mulai teratur.

Pada menit kesepuluh, panas itu menghilang.

Raka tetap berlutut selama beberapa saat.

Kamar di sekelilingnya tidak berubah, tetapi cara tubuhnya merasakan ruangan telah berbeda. Kipas angin yang berputar di atas tampak lebih lambat. Ia bisa mengikuti gerakan setiap bilah tanpa kesulitan. Dengung kulkas kecil di ruang tengah terdengar jelas dari balik pintu.

Ia berdiri.

Gerakannya terlalu cepat.

Kepalanya hampir membentur rak dinding. Raka menahan tubuh dengan satu tangan, tetapi telapak tangannya justru menekan kayu hingga terdengar bunyi retak.

KRAK.

Ia segera menarik tangan.

Bekas lima jari tertinggal di permukaan rak murah itu.

Raka menatapnya dalam diam.

"Sepuluh kali lipat..."

Ia mencoba melangkah pelan. Langkah pertama terlalu panjang. Langkah kedua hampir membuatnya menabrak meja. Ia harus mengendalikan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki.

Raka menggulung karpet tipis agar tidak tergelincir, lalu mengambil posisi push-up.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Tubuhnya naik dan turun seperti pegas. Tidak ada getaran di lengan, tidak ada panas di bahu. Pada hitungan kelima puluh, napasnya masih sama. Pada hitungan seratus, ia berhenti. Lelah belum menghentikannya; ia takut telapak tangannya merusak ubin.

Ia duduk dan memeriksa denyut nadi.

Sedikit lebih cepat dari kondisi istirahat.

Itu saja.

Di kehidupan sebelumnya, menaiki tangga tiga lantai setelah lembur sudah membuat dadanya sesak. Sekarang seratus push-up terasa seperti pemanasan.

Raka mengambil gelas dari meja untuk minum.

Jarinya menekan terlalu kuat.

PRANG!

Gelas itu pecah di tangannya.

Serpihan kaca berjatuhan ke lantai. Sebuah pecahan menggores pangkal ibu jarinya, meninggalkan garis merah tipis.

Raka membeku.

Ia membuka telapak tangan perlahan. Kulitnya tidak kebal. Goresan itu nyata, meski dangkal.

Peringatan sistem terlintas lagi di kepalanya.

Tidak kebal terhadap peluru, racun, atau cedera berat.

Kekuatan tanpa kendali dapat membunuh orang lain atau dirinya sendiri.

Raka mengambil sapu, membersihkan semua pecahan, lalu membungkus telapak tangannya dengan tisu. Ia menghabiskan satu jam berikutnya untuk melakukan gerakan sederhana: membuka pintu, mengambil botol plastik, mengetik, mengangkat kursi, dan berjalan dari satu sisi kamar ke sisi lain.

Ia tidak mengejar angka.

Ia belajar menahan diri.

Menjelang siang, Raka sudah bisa mengendalikan tenaganya untuk aktivitas biasa. Tubuhnya masih tampak kurus, tetapi ada kepadatan baru di balik kausnya. Bahunya lebih tegak. Matanya tidak lagi sayu meski ia belum tidur sejak dini hari.

Ia mandi, mengenakan salah satu kemeja baru, lalu pergi melanjutkan rencana keuangannya.

Kali ini, ia tidak perlu memulai dari transaksi kecil.

Di toko elektronik, Raka memilih ponsel baru seharga Rp 17.999.000. Ponsel lamanya tetap disimpan sebagai bukti dan alat cadangan. Ia membayar penuh, menerima faktur resmi, lalu menunggu.

[Pengeluaran sah terdeteksi: Rp 17.999.000.]

[Cashback 10x: Rp 179.990.000.]

Saldo baru: Rp 212.043.900.

Seorang staf toko menyerahkan kotak ponsel dengan kedua tangan.

"Datanya mau kami pindahkan sekalian, Pak?"

"Tidak perlu. Saya kerjakan sendiri."

"Baik. Kalau begitu, garansi sudah aktif mulai hari ini."

Raka mengangguk. Ia menyimpan faktur di dalam tas, tidak membuangnya seperti pelanggan yang sedang terburu-buru mengejar gengsi.

Transaksi berikutnya dilakukan di toko komputer resmi.

Ia memilih laptop kerja kelas profesional, satu monitor besar, perangkat penyimpanan terenkripsi, serta lisensi perangkat lunak legal. Semua akan dipakai untuk mengelola data, bukti, dan rencana bisnisnya sendiri.

Total: Rp 34.500.000.

Pembayaran berhasil.

[Cashback 10x: Rp 345.000.000.]

Saldo baru: Rp 522.543.900.

Untuk pertama kalinya, Raka melihat angka setengah miliar atas namanya sendiri.

Staf penjualan yang sebelumnya berbicara santai kini berdiri lebih tegak.

"Pengirimannya bisa kami prioritaskan sore ini, Pak Raka."

"Pastikan segelnya utuh."

"Tentu, Pak."

Raka melanjutkan dengan membeli keanggotaan satu tahun untuk pusat kebugaran, layanan penyimpanan cloud, kursus manajemen bisnis, dan beberapa layanan produktivitas. Total pengeluaran Rp 2.400.000 menghasilkan cashback Rp 24.000.000.

Saldo akhirnya berhenti di Rp 544.143.900.

Dalam dua hari, ia berubah dari pria dengan uang setengah juta menjadi pemilik dana lebih dari setengah miliar.

Namun yang membuat langkahnya terasa ringan adalah saldo, pilihan, dan ruang bernapas yang dulu tidak ia miliki.

Tubuhnya dapat berjalan berjam-jam tanpa lelah. Tas belanja yang biasanya membebani bahu terasa kosong. Suara kendaraan dan gerakan orang di sekelilingnya dapat ia tangkap lebih cepat, meski belum sampai menjadi kemampuan melihat bahaya.

Ini bukan sekadar kaya.

Ia menjadi kuat.

Sore hari, dua petugas pengiriman membawa perlengkapan komputer ke apartemen. Raka mengangkat salah satu kardus besar sendirian.

"Pak, itu berat," kata petugas pertama. "Biar kami saja."

"Tidak apa-apa."

Raka mengangkatnya dengan satu tangan.

Kedua petugas itu saling pandang.

Raka pura-pura tidak melihat reaksi mereka. Ia menaruh kardus dengan sangat hati-hati. Kendali lebih penting daripada pamer.

Ketika Ratna pulang menjelang malam, ruang tengah dipenuhi kotak elektronik dan kantong belanja.

Langkahnya berhenti.

"Ini semua apa?"

"Perlengkapan kerja."

Ratna meraih kotak ponsel baru. Matanya membesar saat membaca serinya. "Kamu beli ini? Pakai uang apa?"

"Uangku."

"Gajimu sudah masuk?" Ratna langsung menoleh. "Kalau sudah, kenapa kamu belum transfer untuk Budi?"

Raka sedang memasang monitor. Ia tidak menghentikan pekerjaannya.

"Karena aku tidak akan membayar utangnya."

"Kita sudah membahas ini."

"Kamu yang bicara. Aku tidak pernah setuju."

Ratna meletakkan kotak ponsel dengan keras. Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan Raka. Suaminya tidak tampak lelah. Gerakannya cepat, punggungnya tegak, dan wajah yang biasanya menghindari tatapan kini menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Kamu berubah," katanya pelan.

"Bagus."

Ponsel Ratna berdering.

Nama Ibu muncul di layar.

Ratna mengangkatnya dan langsung menyalakan pengeras suara. "Bu?"

"Mana uangnya?" suara Bu Sumini meledak dari ponsel. "Budi ditagih lagi! Suruh Raka transfer sekarang!"

Ratna menatap Raka. "Kamu dengar sendiri."

Raka mengambil ponsel itu dari meja, bukan dari tangan Ratna.

"Bu Sumini."

"Jangan panggil Ibu seolah kita orang asing. Cepat transfer enam juta."

"Tidak."

"Apa?"

"Utang judi Budi bukan tanggung jawab saya. Jangan telepon lagi untuk urusan ini."

"Raka! Kamu berani bicara begitu kepada Ibu? Kalau Budi sampai dipukuli, itu dosa kamu! Kamu—"

Raka menekan tombol merah.

Panggilan terputus.

Keheningan memenuhi apartemen.

Ia mengembalikan ponsel ke meja, lalu melanjutkan memasang kabel monitor.

Ratna berdiri kaku di belakangnya. Wajahnya dipenuhi campuran marah dan tidak percaya.

"Raka... kamu berani menolak Ibu?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!