Hujan deras mengguyur kota Jakarta sore itu. Angin kencang membawa butiran air yang menembus celah jaket tipis yang dipakai Larasati. Ia berdiri sendirian di halte bus yang mulai sepi, memeluk tas kerja erat-erat agar berkas-berkas penting di dalamnya tidak basah. Gajinya yang pas-pasan harus cukup untuk menyewa kamar kos kecil, membayar tagihan listrik, dan membiayai pengobatan ibunya yang sedang sakit di kampung. Setiap rupiah yang ia miliki sudah terhitung dengan cermat, tidak ada sisa untuk kemewahan sedikitpun.
Saat ia mulai merapatkan tubuhnya karena kedinginan, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Pengendaranya mengenakan jaket kerja yang sudah agak pudar, sarung tangan yang bagian ujungnya sudah menipis, dan helm yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Namun saat ia melepas kaca helmnya, senyum yang ia berikan begitu tulus dan menenangkan, seolah mampu menghangatkan suasana yang dingin itu.
"Mbak mau ke mana? Kalau searah, saya antar saja. Hujannya makin lebat, takutnya Mbak sakit nanti," ucap pria itu dengan suara yang rendah namun ramah.
Larasati ragu sejenak. Ia sering mendengar berita buruk tentang orang asing yang menawarkan bantuan, namun sorot mata pria itu terasa begitu jujur, tidak ada niat jahat yang tersembunyi di sana. "Saya ke arah Tebet, Mas. Tapi saya tidak punya uang bayarannya..."
Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar begitu bersih. "Tidak perlu bayaran. Nama saya Agung. Ayo naik, nanti berkas-berkasnya rusak kalau kehujanan."
Dengan ragu yang masih tersisa, Larasati akhirnya naik ke belakang motor Agung. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara, namun Larasati merasa sangat aman. Agung mengendarai motornya dengan hati-hati, tidak pernah melaju kencang, dan sesekali bertanya apakah ia sudah kedinginan atau belum. Saat mengantarnya sampai depan kamar kos, Agung bahkan menawarkan payungnya dan berjanji untuk mengambilnya besok saat lewat.
Sejak hari itu, pertemuan mereka menjadi lebih sering. Agung selalu tampak sederhana: pakaian yang selalu bersih namun bukan barang bermerek, sepeda motor tua yang sering mogok di tengah jalan, dan tempat tinggalnya yang berupa kamar kos kecil persis di sebelah tempat tinggal Larasati. Ia sering membantu Larasati mengangkat barang berat, menemaninya berobat ke rumah sakit saat ibunya datang berkunjung ke Jakarta, bahkan sering membagi bekal makan siangnya yang sederhana saat Larasati belum sempat membeli makanan karena terlalu sibuk bekerja.
Teman-teman dan kerabat Larasati sering memperingatkannya. "Lar, kamu yakin menjalin hubungan sama Agung? Dia kan tidak punya apa-apa, kerjanya juga tidak pasti. Kamu sudah cukup susah bekerja keras sendiri, jangan tambah bebanmu nanti." Atau perkataan yang lebih menyakitkan dari kerabat jauh: "Kamu cantik, sopan, dan pekerja keras. Harusnya kamu cari pria yang mapan, yang bisa mensejahterakanmu. Jangan buang waktumu pada orang yang tidak jelas masa depannya."
Setiap mendengar perkataan itu, hati Larasati terasa perih sekali. Namun setiap kali ia menatap Agung yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah membalas dengan kemarahan, yang selalu berusaha menenangkannya dengan pelukan hangat dan kata-kata penyemangat, ia tahu bahwa ia tidak salah memilih. "Saya tidak butuh orang kaya," katanya dalam hati sambil memandangi wajah Agung yang sedang tertidur pulas di sampingnya. "Saya hanya butuh orang yang tulus mencintai saya, yang menghargai saya apa adanya, dan tidak akan pernah meninggalkan saya saat susah maupun senang."
Setahun setelah berkenalan, mereka memutuskan untuk menikah. Acaranya sangat sederhana, hanya dihadiri kerabat dekat dan beberapa sahabat terpercaya. Agung hanya mampu memberikan cincin perak sederhana yang ia beli dari hasil menabung berbulan-bulan, namun janji yang ia ucapkan saat akad nikah membuat air mata Larasati jatuh membasahi pipi. "Saya mungkin belum bisa memberimu kemewahan duniawi, Lar. Saya mungkin belum bisa membelikanmu pakaian mahal atau rumah yang megah. Tapi saya berjanji di hadapan Tuhan dan semua orang yang hadir, saya akan berusaha sekuat tenaga agar kamu tidak pernah merasakan kesepian, tidak pernah merasa terabaikan, dan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Seumur hidup saya hanya untukmu."
Bulan-bulan pertama pernikahan mereka penuh perjuangan. Gaji Agung yang tidak menentu seringkali hanya cukup untuk makan seadanya. Larasati terpaksa harus bekerja lembur setiap hari, bahkan mengambil pekerjaan tambahan sebagai penulis artikel lepas di malam hari agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Namun di sela-sela kesulitan itu, ada kehangatan yang tak tergantikan. Agung selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sederhana, memijat bahu Larasati yang terasa pegal setelah bekerja seharian, dan selalu memeluknya erat sebelum mereka tidur.
Seringkali Agung meminta maaf dengan wajah tertunduk, "Maafkan aku yang belum bisa memberimu kehidupan yang layak, Lar. Maafkan aku yang masih membuatmu susah."
Larasati akan segera mengangkat wajah suaminya, menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Jangan bicara begitu, Agung. Kita bangun bersama, pelan-pelan. Yang paling penting kita saling memiliki dan saling menyayangi. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Namun lama-kelamaan, bayang-bayang keraguan mulai muncul di hati Larasati. Kadang ia melihat Agung menerima telepon yang berusaha ia sembunyikan, berbicara dengan nada rendah seolah sedang berdebat dengan seseorang. Kadang pula ia pulang dengan wajah pucat dan terlihat sangat lelah setelah bertemu dengan orang-orang yang berpakaian sangat rapi dan mewah. Setiap kali ditanya, Agung hanya menjawab itu hanya urusan pekerjaan biasa, namun Larasati merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Ia berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh, takut jika ia mengetahui sesuatu yang akan merusak kebahagiaan kecil yang sudah mereka bangun dengan susah payah.
Sampai suatu hari, saat ia pulang lebih awal dari kantor karena tugasnya sudah selesai lebih cepat, ia melihat sebuah mobil sedan hitam besar yang sangat mewah berhenti tepat di depan rumah kos mereka. Seorang pria tua yang berpakaian sangat rapi dan berwibawa berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Agung dengan nada yang sangat tegas dan penuh wibawa.
"Kamu sudah cukup lama bermain peran menjadi orang biasa, Nak. Waktunya kamu kembali ke tempat yang seharusnya. Perusahaan keluarga tidak bisa menunggu kamu terus-menerus. Seluruh nasib ribuan karyawan bergantung pada keputusanmu," suara pria itu terdengar sangat jelas hingga sampai ke telinga Larasati yang masih berdiri terpaku di kejauhan.
Agung menunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Namun saat ia perlahan menoleh ke arah pintu, matanya langsung bertemu dengan mata Larasati yang terbelalak kaget dan penuh tanya. Dunia seakan berhenti berputar saat itu. Semua hal yang selama ini terasa janggal, semua rahasia yang disembunyikan suaminya, seakan mulai terkuak perlahan.
Langkah kaki Larasati terasa berat seolah ada rantai besi yang mengikat pergelangan kakinya. Tas kerja yang biasa ia genggam erat kini terlepas pelan, jatuh berdebam di tanah lembap tanpa ia hiraukan. Pria tua itu—yang baru saja ia ketahui adalah Haryo Wijaya, ayah kandung Agung dan pemilik konglomerat bisnis yang namanya tersohor ke seluruh penjuru negeri—menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang tajam namun sejenak tertegun.
Agung seketika berbalik badan, wajahnya pucat pasi, napasnya tercekat seakan baru saja tertangkap melakukan kesalahan besar. "Lar..." panggilnya lirih, suaranya pecah tak berdaya. Ia ingin melangkah mendekat, namun kakinya terpaku di tempat.
Larasati mundur selangkah, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak kunjung jatuh. Rasa bingung, sakit hati, dan dikhianati berdesakan di dadanya, sesak hingga rasanya sulit bernapas. "Benarkah apa yang dikatakan Bapak itu, Agung?" suaranya bergetar hebat. "Kau bukan teknisi bangunan? Kau bukan orang yang tak punya apa-apa?"
Agung menggeleng lemah, tangannya terulur ingin meraih tangan istrinya namun terhenti di udara. "Dengar aku dulu, Lar... Tolong, percayalah padaku. Ada alasan kenapa aku menyembunyikan semua ini..."
"Alasan apa?" potong Larasati dengan suara yang tiba-tiba meninggi, air mata akhirnya menetes membasahi pipi. "Alasan apa yang membuatmu harus membohongiku sejak awal pertemuan? Membiarkanku mengira kau hidup pas-pasan? Membiarkanku bekerja lembur setiap malam demi menambal kekurangan? Apakah semua ini hanya permainan bagimu? Ujian kesetiaan yang kau buat-buat agar kau bisa menertawakanku nanti?"
"Nggak! Jangan berpikir begitu, Lar! Kumohon!" Agung akhirnya berlari mendekat, namun Larasati mundur menjauh. Hati Larasati hancur lebur. Semua perhatian, semua kesederhanaan, semua janji setia yang diucapkan di malam-malam sunyi tiba-tiba terasa penuh kepalsuan. Ia merasa seperti orang bodoh yang dengan tulus mencintai bayangan yang sengaja dibuatkan suaminya.
Pak Haryo mendekat perlahan, menatap Larasati sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penilaian dingin dan sedikit rasa tidak tega. "Nak, Agung melakukannya karena ia lelah dikelilingi orang-orang yang hanya mendekatinya demi harta keluarga. Ia ingin mencari wanita yang mencintai dirinya apa adanya, bukan demi nama besar Wijaya maupun kekayaan yang kami miliki."
Larasati menatap pria tua itu tajam, lalu kembali menatap Agung yang tampak hancur. "Jadi aku hanya objek percobaan? Kau pastikan dulu aku tidak mencintaimu karena harta, baru kau berani menunjukkan jati dirimu? Bagaimana jika aku tidak pernah bisa menerima kebohongan besar ini, Agung? Bagaimana jika aku merasa seluruh cinta yang kuberikan selama ini ternyata sia-sia?"
Perdebatan itu berlanjut hingga matahari benar-benar terbenam. Agung berusaha menjelaskan semuanya: bagaimana ia memohon izin pada ayahnya untuk hidup mandiri selama dua tahun, bagaimana ia bekerja kasar agar mengerti makna perjuangan hidup, bagaimana ia bertemu Larasati dan jatuh cinta sungguh-sungguh—bukan karena rencana, melainkan karena ketulusan wanita itu yang perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya.
Namun rasa sakit hati Larasati terlalu dalam. Ia masuk ke dalam kamar kost yang sempit itu, memungut barang-barang pakaiannya seadanya. "Aku butuh waktu sendiri, Agung. Aku tidak tahu lagi harus percaya pada apa. Selama ini aku mengira kita berjuang bersama dari bawah, ternyata kau sudah berdiri di atas menara gading yang tak terbayangkan. Rasanya dunia kita terlalu jauh berbeda."
Agung memegang bahu istrinya dengan lembut namun tegas, menahan agar Larasati tidak pergi. "Tidak ada yang berbeda, Lar. Harta itu milik keluargaku, tapi hatiku tetap milikmu yang sama seperti saat kita bertemu di halte hujan dulu. Tolong jangan pergi... Kumohon, jangan biarkan kebohongan awalmu menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama."
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi mereka. Di kamar yang sederhana itu, di antara kesunyian yang mencekam, keduanya terjaga. Larasati menangis dalam diam, merenungkan kembali setiap momen yang telah mereka lalui. Apakah senyum Agung yang tulus dulu hanyalah sandiwara? Ataukah di balik segala kemewahan itu, ia memang benar-benar pria yang ia kenal—sederhana, hangat, dan penuh kasih?
Di sisi lain, Pak Haryo sudah berjanji akan kembali esok hari. Dan besok, tak ada lagi alasan untuk menunda. Agung harus kembali ke dunianya, dan Larasati harus memutuskan: apakah ia siap menghadapi realita baru, atau melepaskan pria yang ternyata menyembunyikan segalanya demi sebuah cinta yang tulus?
Bersambung Ke Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing.
Malam itu tidak ada kata-kata lagi yang terucap. Hanya suara napas yang tersendat, dan isak tangis yang berusaha ditahan agar tidak terdengar hingga ke luar kamar. Larasati duduk bersandar di dinding kayu yang tipis, memeluk lututnya erat seolah itu satu-satunya tempat yang masih memberinya rasa aman. Agung duduk tak jauh darinya, menatap sosok istrinya dengan mata yang merah dan basah. Ia tidak berani lagi mendekat, takut setiap gerakannya hanya akan terasa seperti kebohongan baru bagi wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
Sepanjang malam, ribuan kenangan berputar di kepala Larasati. Saat mereka berbagi sepotong tempe goreng untuk makan malam karena uangnya tinggal sedikit. Saat Agung membetulkan genteng kamar kosnya yang bocor di tengah hujan, lalu turun dengan pakaian basah kuyup namun tersenyum bangga karena atapnya sudah tidak bocor lagi. Saat ia terjaga di tengah malam karena sakit perut, dan Agung tanpa banyak bicara berlari membelikannya obat dengan kaki telanjang karena sepatunya tertinggal. Semua itu terasa begitu nyata, begitu tulus—namun kini diselimuti bayang-bayang fakta bahwa pria di hadapannya bisa saja membelikan rumah sakit seandainya ia mau.
Pagi datang membawa cahaya yang terasa menyilaukan dan dingin. Bel pintu berbunyi tepat pukul delapan pagi. Saat Agung membukanya, terlihat dua orang sopir berseragam rapi berdiri di samping mobil hitam yang sama persis dengan yang datang kemarin. Di dalamnya sudah menunggu Pak Haryo dengan wajah yang tidak sabar, namun kini ada sedikit kelembutan yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya.
"Kita harus pergi sekarang, Agung. Semua sudah disiapkan," ucap Pak Haryo singkat.
Agung menoleh ke arah Larasati yang masih berdiri kaku di sudut kamar. "Lar... Ikutlah aku. Jangan mengambil keputusan saat hatimu sedang terluka. Lihatlah sendiri siapa aku sebenarnya, bukan dari cerita orang lain, tapi dari apa yang akan kau lihat dengan matamu sendiri. Jika setelah itu kau masih ingin pergi... aku akan melepaskanmu, apa pun yang terjadi."
Kata-kata itu terucap dengan suara yang begitu rendah namun penuh kepasrahan. Larasati mengangkat wajahnya, menatap pria yang semalam ia yakini sebagai satu-satunya tempat bersandar seumur hidup. Perlahan ia mengangguk pelan. Ia harus tahu. Ia harus memastikan sendiri apakah cinta yang ia pelihara selama ini hanya terbentuk di atas kebohongan, ataukah ia benar-benar milik hati yang sama.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Wijaya terasa begitu panjang dan sunyi. Mobil melaju mulus di jalanan ibukota, melewati gedung-gedung pencakar langit yang namanya sering ia dengar di berita—ternyata semuanya milik keluarga suaminya. Saat gerbang besi tinggi berukir indah terbuka perlahan, mata Larasati terbelalak tak percaya. Sebuah rumah yang lebih mirip istana berdiri megah di tengah hamparan taman yang luas dan tertata rapi. Puluhan pelayan berdiri berbaris dengan rapi, membungkuk hormat saat mobil mereka melintas.
Saat turun dari mobil, semua mata tertuju padanya. Tatapan yang beragam: ada rasa heran, ada rasa tidak percaya, dan ada pula tatapan yang jelas-jelas meremehkan melihat pakaian sederhana yang ia kenakan—baju katun biasa dan sandal jepit yang sudah agak usang. Rasa malu dan rendah diri tiba-tiba menyeruak ke dadanya. Ia merasa seperti semut yang tersesat di antara gedung kaca yang dingin.
Namun tangan Agung segera meremas tangannya erat, seolah ingin mengalirkan seluruh kekuatan yang ia miliki kepada istrinya. "Jangan takut. Kau adalah nyonya rumah ini. Tidak ada yang berani memperlakukanmu dengan buruk selama aku ada di sini," bisiknya pelan tepat di samping telinga Larasati.
Di ruang tamu yang begitu luas dengan perabotan ukir kayu jati asli dan lampu gantung kristal yang berkilauan, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang anggun namun wajahnya tampak tidak senang. Itu adalah Ibu Saras, ibu kandung Agung.
"Jadi ini wanita yang membuatmu rela membuang waktu dua tahun hidup seperti pengemis?" ucap Ibu Saras dengan nada yang dingin dan tajam, tanpa menyapa sedikitpun. "Kau sadar tidak, Nak? Kau bukan hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga nama baik seluruh keluarga kita. Apa yang akan dikatakan rekan bisnis ayahmu? Pewaris tunggal Wijaya menikah dengan anak orang biasa yang bahkan tidak punya rumah sendiri?"
Kata-kata itu melukai Larasati jauh lebih dalam daripada sekadar sindiran. Ia merasa ingin lari dan menghilang saat itu juga. Namun sebelum ia sempat bergerak, Agung melangkah maju berdiri tepat di hadapan ibunya, melindungi Larasati di belakang punggungnya.
"Bu," suara Agung bergetar namun tegas. "Selama dua tahun ini, Bu dan Ayah sibuk memastikan aku bertemu wanita yang layak menurut kalian: yang cantik, kaya, berdarah baik, dan pintar berbicara tentang bisnis. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau duduk bersamaku saat aku lelah bekerja. Tidak ada satu pun yang mau berbagi makan sederhana saat aku lapar. Tidak ada satu pun yang memelukku dan berkata 'kita hadapi bersama' saat aku merasa lelah dengan semua tuntutan dunia ini."
Agung berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Larasati tidak memiliki apa-apa menurut pandangan kalian. Tapi dia memiliki hati yang tulus yang tidak pernah aku temukan di mana pun. Dia mencintaiku bukan karena nama Wijaya, bukan karena harta kami. Dia mencintaiku saat aku hanya pria yang memakai baju lusuh dan mengendarai motor tua. Jika kalian tidak bisa menerimanya... maka kalian tidak menerimaku sebagai anak kalian juga."
Keheningan menyelimuti ruangan yang megah itu. Ibu Saras terdiam terpaku, matanya melebar tak menyangka anaknya yang biasanya penurut bisa bicara setegas itu. Pak Haryo yang berdiri di sudut ruangan hanya diam, namun sorot matanya perlahan berubah—ada rasa bangga yang mulai menyembul melihat keteguhan hati putranya.
Larasati yang masih berdiri di belakang punggung Agung, merasakan air mata kembali menetes, namun kali ini bukan lagi karena sakit hati. Rasa haru dan cinta yang begitu besar kembali meluap, menyadarkan satu hal yang paling penting: meski dunia di sekelilingnya berubah seratus delapan puluh derajat, pria yang berdiri di hadapannya tetaplah Agung yang sama—pria yang rela menghadapi siapa pun, bahkan orang tuanya sendiri, demi menjaga perasaan dan harga dirinya.
Namun ia tahu, ini baru permulaan. Ujian yang sesungguhnya belum berakhir. Dua dunia yang selama ini berjalan sejauh mata memandang kini harus bersatu. Dan Larasati harus mempersiapkan hatinya: apakah ia cukup kuat untuk berdiri di samping seorang pewaris konglomerat, ataukah tekanan dan pandangan orang-orang baru ini akan memisahkan mereka kembali?
Bersambung ke Bab 4: Ujian dan Pengakuan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!