Malam yang seharusnya menjadi puncak paling manis dalam hidup Kirana terasa runtuh menjadi puing-puing hampa.
Jam dinding kayu berukir klasik di atas perapian berdetik konstan, setiap bunyinya seperti jarum halus yang menusuk keheningan kamar utama yang megah itu. Jarum panjang baru saja melewati angka 12, menandakan hari telah berganti dini hari. Di tengah ruangan berukuran belasan meter persegi itu, Kirana duduk sendirian di tepi ranjang berukuran king-size.
Ranjang itu telah dihias sedemikian rupa—sprei sutra putih, tumpukan bantal empuk, dan taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk pola hati di bagian tengah. Bunga-bunga itu memancarkan aroma wangi yang lembut, namun bagi Kirana, wewangian itu justru terasa menyesakkan.
Ia masih mengenakan gaun pengantinnya. Gaun berwarna putih tulang rancangan desainer ternama, lengkap dengan sulaman renda rumit dan ribuan payet kristal yang berkilauan ditimpa cahaya lampu gantung kristal di langit-langit. Gaun itu indah, sangat indah, tetapi juga sangat berat. Bobot kain lapis demi lapis itu kini menekan pundaknya, seolah menegaskan betapa beratnya beban yang harus ia tanggung mulai malam ini.
Jari-jemari Kirana yang lentik dan terhias cat kuku merah muda meremas kain renda di bagian pangkuannya. Riasan wajahnya masih utuh—pipi bertabur blush-on lembut, bibir yang dipoles lipstik warna merah muda alami, dan mahkota tiara kecil yang masih tersemat anggun di atas sanggul rambutnya. Dari luar, ia tampak seperti putri raja yang siap menyambut pangerannya. Namun di dalam batinnya, Kirana hanyalah seorang gadis muda yang ketakutan, bingung, dan sangat kesepian.
Perjodohan ini terjadi begitu cepat. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan sejak keputusan keluarga besar diambil, Kirana—anak gadis yang terbiasa dimanjakan dan dilingkupi kasih sayang hangat—tiba-tiba dilemparkan ke dalam kehidupan Arka Pratama. Pria itu adalah putra tunggal dari mitra bisnis almarhum ayahnya, seorang CEO muda berusia tiga puluh tahun yang dikenal dingin, tidak tersentuh, dan berotak dingin dalam mengendalikan konglomerasi usahanya.
Bagi Kirana yang polos, Arka adalah sosok pria idaman. Ketampanan Arka yang tajam dengan garis rahang tegas, postur tubuh tinggi tegap, serta aura kepemimpinan yang kuat berhasil mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka di acara makan malam keluarga. Kirana membayangkan, meskipun pernikahan ini berawal dari kesepakatan keluarga, ia bisa meluluhkan hati Arka. Ia percaya bahwa keramahan, perhatian, dan rasa cintanya yang tulus kelak akan dibalas dengan kehangatan yang sama.
Namun, harapan itu mulai retak sejak prosesi ijab kabul pagi tadi.
Sepanjang resepsi pernikahan yang digelar mewah di ballroom hotel bintang lima, Arka hampir tidak pernah menatap matanya. Pria itu menyalami ribuan tamu undangan dengan senyum formal yang sangat tipis dan terstruktur—senyum yang jelas-jelas hanya dipasang demi menjaga citra di depan para media dan rekan bisnis. Tidak ada genggaman tangan yang hangat, tidak ada bisikan lembut saat berdiri bersisian, bahkan tidak ada satu pun lirikan penuh perhatian saat Kirana mengeluh kesakitan karena sepatu hak tingginya menekan kakinya sepanjang hari.
Dan kini, di kamar pengantin mereka yang berlokasi di lantai dua rumah mewah milik Arka, kebenaran itu terpampang makin nyata.
Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari luar lorong. Kirana refleks menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan ketukan panik sekaligus cemas. Ia dengan cepat mengusap peluh halus di dahi dan merapikan tatanan gaunnya yang sedikit terlipat.
Pintu kamar berukir tebal itu terdorong terbuka.
Arka melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas pengantin mewahnya, hanya menyisakan kemeja putih polos yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. Dasi hitamnya tergantung longgar di sekeliling kerah, dan lengan kemejanya disingkap hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan mahal serta lengan bawahnya yang kokoh.
Wajah Arka tampak sangat lelah, tetapi lelah yang terpancar bukan sekadar kelelahan fisik setelah pesta seharian. Itu adalah kelelahan emosional—ekspresi seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas berat yang tidak disenanginya.
Untuk beberapa detik, Kirana menahan napas. Ia menatap suaminya dengan binar harapan yang tersisa di matanya. Kirana mencoba mengingat semua nasihat ibunya sebelum berangkat ke rumah ini: “Jadilah istri yang lembut, Nak. Sambut suamimu dengan senyuman, cairkan hatinya yang keras dengan kasih sayangmu.”
Mengikuti bisikan hatinya, Kirana memberanikan diri berdiri dari tepi ranjang. Langkahnya agak tertahan karena beratnya gaun pengantin serta rasa pegal di kakinya, tetapi ia tetap memaksakan diri mendekat. Kirana mengukir senyum manis—senyum terbaik yang bisa ia berikan, meski senyum itu sedikit bergetar karena rasa gugup yang amat sangat.
"Mas Arka..." bisik Kirana halus. Suaranya terdengar manis, dengan nada manja alami yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan orang-orang tercintanya. "Akhirnya selesai juga ya acaranya. Kamu... pasti capek banget. Mau aku ambilkan air minum? Atau mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"
Kirana mengulurkan tangannya ragu-ragu, berniat membantu Arka melonggarkan dasinya lebih lanjut, sebuah gestur sederhana yang ia bayangkan sering dilakukan seorang istri.
Namun, belum sempat jemari Kirana menyentuh kain dasi itu, Arka mundur satu langkah secara mendadak.
Gerakan Arka begitu cepat dan tegas, seolah tangan Kirana adalah sesuatu yang akan menular atau mengotorinya. Tangannya melayang di udara beberapa saat sebelum akhirnya Kirana menariknya kembali dengan canggung, meremas jarinya sendiri di depan dada.
Arka tidak memandang wajah Kirana. Pandangannya menembus melewatinya, menatap lurus ke arah lemari pakaian besar berkayu jati di balik tubuh Kirana. Pria itu berjalan melangkahi Kirana begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia membuka pintu lemari, mengambil sebuah bantal tambahan, selimut tebal bertumpuk, serta tas kerja kulitnya yang terletak di meja samping.
Sikap dingin itu begitu mutlak. Arka berprilaku seolah-olah Kirana tidak lebih dari sebuah patung pajangan di sudut ruangan—sebuah benda mati yang kebetulan diletakkan di sana dan bisa diabaikan kapan saja.
"Mas?" Kirana membalikkan badannya cepat. Kain gaunnya terseret keras di atas karpet tebal, menimbulkan suara gesekan yang memecah kesunyian. Matanya membelalak, memandang tumpukan Bantal dan selimut di pelukan suaminya. "Kamu... kamu mau ke mana, Mas? Kenapa bawa bantal sama selimut?"
Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar. Ia memegang gagang pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan selimut dan bantal. Pria itu tidak menoleh sedikit pun untuk menatap Kirana.
"Saya tidur di ruang kerja," ujar Arka.
Suaranya datar, tanpa nada, tanpa nada kebencian yang meledak-ledak, tetapi justru karena kedatarannya itulah suara Arka terasa sepuluh kali lebih menusuk. Ringan, dingin, dan benar-benar hampa dari perasaan.
Dada Kirana berdenyut nyeri. Ia melangkah maju dua ketuk, mengabaikan rasa perih di ujung jari kakinya. "Tidur di ruang kerja? Tapi... tapi ini kan malam pertama kita, Mas? Tadi Mama sama Ibu bilang, kita—"
"Kirana," potong Arka tegas.
Kali ini, Arka akhirnya memutar kepalanya sedikit. Tatapannya menatap Kirana dari samping. Matanya yang tajam dan tajam memancarkan kilatan ketidaksabaran yang dingin. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di dalam netra hitam itu.
"Pernikahan ini terjadi karena keinginan orang tua kita," ucap Arka kata demi kata, jelas dan penuh penekanan yang tidak bisa diganggu gugat. "Bukan keinginan saya. Saya menyetujuinya hanya untuk menyelesaikan kewajiban saya kepada keluarga, begitu juga kamu. Jadi jangan pernah berharap lebih dari itu."
Kirana merasa seolah-olah pasokan udara di dalam kamar itu mendadak disedot keluar. Paru-parunya menegang. "Tapi Mas... kita sudah sah jadi suami istri. Apa salahnya kalau kita mencoba? Aku bisa belajar jadi istri yang baik buat kamu. Aku..."
"Saya tidak butuh anak manja yang hanya tahu bermain rumah-rumahan," potong Arka lagi, suaranya kini meninggi setengah nada, dipenuhi rasa muak yang tak lagi ditutup-tutupi. Tatapannya menyapu gaun pengantin Kirana yang terlalu mewah, riasan wajahnya, dan ekspresi memelas di wajah gadis itu. Bagi Arka, Kirana tidak lebih dari seorang gadis manja kaya raya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia nyata—seorang beban yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya yang tertata rapi.
"Di atas meja kerja di bawah, ada amplop cokelat berisi dokumen aturan rumah tangga kita," lanjut Arka tanpa empati. "Baca besok pagi. Dan ingat baik-baik aturan paling mendasar dalam rumah ini: jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya, jangan mencampuri pekerjaan saya, dan jangan pernah mengganggu saya saat saya sedang bekerja."
"Mas Arka, tolong... jangan seperti ini..." suara Kirana mulai pecah. Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangannya membayang. "Malam ini saja... setidaknya bicara sama aku..."
"Jangan cengeng, Kirana. Saya tidak punya waktu untuk melayani rengekan kamu," jawab Arka dingin.
Tanpa menunggu balasan lagi, Arka melangkah keluar dari kamar.
Brak!
Pintu kayu yang tebal itu ditutup dari luar. Suara benturan pintu itu bergema hebat di dalam kamar yang luas, disusul suara cetrekan kunci yang mengunci rapat rapat dari luar, atau mungkin sekadar ketukan langkah Arka yang kian menjauh menyusuri lorong menuju ruang kerjanya di ujung rumah.
Hening kembali merayap. Namun kali ini, keheningan itu terasa begitu menghancurkan.
Lutut Kirana mendadak tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Gadis itu meluruh, jatuh terduduk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin mereka. Gaun mewahnya yang mekarnya kini terhampar acak di lantai, menutupi sebagian besar karpet, membungkus tubuhnya yang gemetar hebat.
"Mas Arka..." bisiknya lemah di tengah kegelapan yang seolah membelitnya.
Tangannya naik menutup wajahnya sendiri. Tangisan yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah dalam keheningan malam. Kirana terisak-isak, bahunya naik turun menahan guncangan emosi yang teramat sangat. Air matanya mengalir deras, membasahi jemarinya dan merusak riasan bedak serta eyeliner yang dipasang memikat sejak pagi tadi.
Ia memandangi ranjang pengantin di depannya. Kelopak-kelopak mawar merah yang tersusun rapi itu kini terasa seperti sebuah ejekan tajam atas kepolosannya. Ia membayangkan betapa bahagianya sepupu-sepupunya yang menikah, membayangkan kehangatan malam pertama yang selalu diceritakan dalam buku-buku roman atau nasihat keluarga. Namun yang ia dapatkan hanyalah dinginnya penolakan dan pandangan muak dari pria yang statusnya kini adalah suaminya.
Kenapa? Apa salahnya? Apakah hanya karena ia bertingkah manja? Apakah karena ia sangat menyukai pria itu dan berusaha bersikap hangat?
Di dalam kamar yang luas, dingin, dan asing itu, Kirana menangis dalam diam sampai napasnya tersedak-sedak. Jam dinding terus berdetik, mengiringi derai air mata sang nona manja yang baru saja menyadari bahwa pernikahan impiannya telah berubah menjadi penjara emas yang tak bertepi. Dan di sanalah, di atas karpet dingin berbalut gaun pengantin yang tak sempat dilepasnya, Kirana menghabiskan malam pertamanya seorang diri.
Pagi baru saja merayap naik, membawa bias cahaya matahari yang mencoba menembus tirai tebal berwarna abu-abu gelap di jendela kamar utama. Namun, cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan apa pun ke dalam ruangan yang terasa hampa.
Kirana terbangun dalam posisi meringkuk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin. Semalaman ia tertidur di lantai dengan gaun pengantin mewah yang kini sudah kusut masai, berkerut di sana-sini, dan ternoda oleh air matanya sendiri. Tubuhnya terasa kaku, persendiannya ngilu akibat suhu pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, dan kepalanya terasa sangat berat bagai dihantam batu.
Dengan gerakan lambat dan gemetar, Kirana mendudukkan dirinya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sunyi. Sisi ranjang di sebelahnya tampak rapi, dingin, dan sama sekali tidak tersentuh. Suaminya benar-benar menghabiskan malam pertama mereka di ruang kerja, meninggalkan istrinya menangis seorang diri hingga jatuh tertidur di lantai.
Kirana menarik napas panjang, mencoba menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa sakit di dadanya masih berdenyut nyeri, tetapi ada kesadaran dingin yang mulai merayap masuk ke dalam benaknya—bahwa dongeng tentang pernikahan bahagia yang ia bayangkan telah hancur berkeping-keping sebelum sempat dimulai.
Dengan sisa tenaganya, Kirana bangkit berdiri. Ia melepas tiara kecil dari sanggul rambutnya yang sudah berantakan, menaruhnya di atas nakas, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan merapikan diri. Ia tidak mengenakan gaun pengantin itu lagi; sebagai gantinya, ia memilih sebuah *dress* rumahan sederhana berwarna merah muda lembut—salah satu pakaian kesukaannya yang dibawanya dari rumah orang tuanya.
Kirana melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga kayu berpelitur mengilap menuju lantai bawah. Suasana rumah begitu senyap, seolah dihuni oleh hantu-hantu tak kasat mata. Para pelayan rumah tangga tampak bergerak sibuk dalam diam, merapikan sudut-sudut ruangan dengan kepala tertunduk, menunjukkan betapa kaku dan disiplinnya atmosfer yang diciptakan oleh pemilik rumah ini.
Saat Kirana tiba di area meja makan, ia melihat sosok Arka sudah duduk di sana. Pria itu tampak sangat rapi mengenakan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna hitam pekat, kemeja putih licin tanpa sedikit pun kusut, dan dasi sutra abu-abu yang melingkar sempurna di lehernya. Di sebelah piring porselen tempat Arka menikmati secangkir hitam kopi pahit, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar.
Langkah kaki Kirana yang pelan membuat Arka mendongak.
Pria itu menatap Kirana dengan mata tajam nan dingin, tanpa ada secercah pun rasa bersalah atas apa yang terjadi semalam. Tatapan itu seolah menilai penampilan Kirana, lalu kembali fokus pada cangkir kopinya.
"Pagi, Mas..." cicit Kirana pelan, suaranya terdengar serak dan rapuh.
Arka tidak menjawab. Ia meneguk kopinya perlahan, meletakkannya kembali di atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang berdenting tajam di tengah kesunyian ruang makan. Setelah itu, Arka menggeser amplop cokelat tebal yang ada di sampingnya ke arah kursi kosong di seberang meja.
"Duduklah," titah Arka. Suaranya bariton, datar, dan mutlak.
Kirana menurut. Ia menarik kursi dengan gerakan ragu-ragu, lalu duduk tepat di seberang suaminya. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat secara fisik, namun bagaikan dipisahkan oleh jurang yang sangat dalam.
Arka mendorong amplop cokelat itu lebih dekat ke hadapan Kirana.
"Buka dan baca," kata Arka dingin. "Itu adalah aturan main selama kita hidup di bawah atap yang sama. Saya tidak suka basa-basi, Kirana. Jadi, pahami setiap poin yang tertulis di dalamnya agar kita tidak perlu membuang waktu untuk berdebat di kemudian hari."
Jari-jemari Kirana yang gemetar meraba permukaan amplop cokelat tersebut. Ia menarik keluar beberapa lembar kertas HVS putih bersih yang dijilid rapi dengan *stapler* di sudutnya. Judul di halaman paling atas tercetak tebal dengan huruf kapital: **ATURAN TERTIB DAN KEBIJAKAN RUMAH TANGGA KELUARGA PRATAMA.**
Kirana mulai membaca lembar demi lembar isi dokumen itu. Semakin jauh matanya menatap deretan teks di atas kertas, semakin sesak pula napas yang ia hirup. Aturan itu bukan sekadar panduan hidup bersama; itu adalah kontrak pembatasan diri—sebuah daftar larangan ketat yang mereduksi statusnya sebagai seorang istri menjadi sekadar seseorang yang menumpang hidup di rumah ini.
Ia mendongakkan kepalanya, menatap Arka dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Mas... ini... apa maksudnya semua ini? Kita ini suami istri. Kenapa harus ada aturan seketat ini?"
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Wajahnya mengeras, memperlihatkan benteng pertahanan emosional yang tidak bisa ditembus.
"Suami istri?" Arka mengulangi kata itu dengan nada mengejek yang sangat tipis. "Jangan salah paham, Kirana. Pernikahan ini terjadi di mata hukum dan agama semata-mata untuk memenuhi permintaan terakhir orang tua kita dan menjaga stabilitas relasi bisnis keluarga besar kita. Di luar itu, status kita tidak lebih dari dua orang asing yang kebetulan tinggal di satu bangunan yang sama."
Pernyataan itu menghujam jantung Kirana seperti belati tajam. Ia mencengkeram kertas di tangannya hingga ujung-ujungnya menjadi kusut.
"Tapi... tapi di poin kedua tertulis kalau aku dilarang keras mencampuri urusan pribadiku... urusan pribadi kamu..." suara Kirana tercekat. "Bahkan di poin keempat... aku dilarang datang ke kantor kamu dengan alasan apa pun. Kenapa, Mas? Apa salahnya kalau seorang istri membawakan makan siang untuk suaminya ke kantor?"
"Karena saya benci ketidakpastian dan kekacauan," potong Arka tajam, matanya menatap lurus menembus manik mata Kirana tanpa ampun. "Kantor saya adalah tempat kerja profesional, bukan tempat bermain bagi seorang wanita manja yang tidak punya pekerjaan tetap. Kamu pikir saya tidak tahu kebiasaanmu di rumah orang tuamu? Bangun siang, menghabiskan waktu berjam-jam di salon, merengek minta dibelikan ini-itu, dan hidup tanpa arah tujuan yang jelas."
Arka memajukan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah meja agar setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas dan menyayat hati.
"Saya tidak punya waktu untuk menghadapi drama, rengekan, atau sikap manja ala anak orang kaya yang tidak mandiri. Aturan itu dibuat demi kebaikan kita berdua. Selama kamu tinggal di sini, jalankan peranmu sebagai nyonya rumah secara administratif, urus keperluan dasar rumah ini lewat pelayan, dan jangan pernah sekali-kali mencoba masuk ke dalam ranah privat atau pekerjaan saya."
Kirana tertegun. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, menetes membasahi pipinya yang mulus. Ia tidak menyangka bahwa suaminya memiliki pandangan sekaku dan sekejam itu terhadap dirinya. Arka melihat air matanya bukan sebagai bentuk kesedihan yang harus dihibur, melainkan sebagai bukti nyata dari kelemahan dan kecengengan yang selama ini sangat dibencinya.
"Kamu menangis?" Arka mendengus pelan, suaranya terdengar begitu sinis. "Baru ditegur seperti ini saja sudah menangis. Bagaimana nanti kalau kamu dihadapkan pada dunia luar yang sebenarnya? Ingat, Kirana, air mata tidak akan mempan di hadapan saya. Saya tidak akan luluh."
Kirana merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa sakit yang luar biasa bercampur dengan rasa marah dan harga diri yang diinjak-injak mulai membakar hatinya. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun—bahkan kedua orang tuanya yang sangat memanjakannya—yang pernah berbicara secuek dan sekasar itu kepadanya. Ia dinilai rendah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk membuktikan kemampuannya.
"Baiklah, Mas..." bisik Kirana lirih, suaranya bergetar hebat namun perlahan-lahan mulai mengeras di ujung kalimatnya. Ia menatap wajah tampan namun dingin itu dengan pandangan yang menyiratkan luka yang sangat dalam. "Aku paham sekarang."
Kirana merapikan lembaran kertas aturan itu, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya kembali di atas meja tepat di hadapan Arka. Ia tidak menyentuh makanan apa pun yang tersaji di meja makan.
"Kalau aturan itu yang kamu mau, aku akan mematuhinya," lanjut Kirana dengan nada datar yang berusaha ia tegarkan. "Aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kantor kamu. Dan aku tidak akan pernah mengganggumu."
Arka sedikit tertegun melihat perubahan respons Kirana yang tidak meledak-ledak atau merengek seperti bayangannya semula. Ada kilatan keheranan yang melintas sesaat di mata hitam pria itu, namun dengan cepat ia menepisnya kembali ke balik topeng kedinginannya. Bagi Arka, kepatuhan itu adalah hal yang wajar dan memang sudah seharusnya terjadi.
"Bagus kalau kamu mengerti," ujar Arka dingin sambil berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas kerjanya, menyambar tas kerja kulit di sisi kursi, dan mengenakan kembali jam tangannya dengan gerakan tegas. "Saya berangkat ke kantor. Jangan tunggu saya pulang untuk makan malam, saya ada rapat panjang dengan dewan direksi."
Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata perpisahan, dan tanpa meninggalkan satu sentuhan pun, Arka melangkah meninggalkan ruang makan. Suara pantulan sepatu pantofelnya menggema di lantai marmer, menjauh perlahan hingga suara pintu utama tertutup rapat dari luar, menandakan kepergian sang CEO ke dunianya yang sibuk dan tak tersentuh.
Kirana tetap duduk sendirian di meja makan yang luas itu. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar kini terasa begitu menyilaukan dan hampa.
Ia menatap kosong ke arah kursi yang baru saja ditinggalkan Arka. Di dalam dadanya, sesuatu yang rapuh telah resmi patah, namun di saat yang bersamaan, sebuah perisai tak kasat mata mulai terbentuk melingkupi hatinya. Nona manja yang selama ini selalu bergantung pada orang lain perlahan-lahan mulai menyadari bahwa di rumah mewah ini, ia harus belajar bertahan hidup seorang diri—tanpa cinta, tanpa pelukan, dan tanpa belas kasihan dari suaminya sendiri.
Mentari pagi baru saja menyembulkan bias jingganya di balik cakrawala kota, memantulkan cahaya lembut ke kaca-kaca jendela lantai dua rumah besar milik keluarga Pratama. Di dalam kamar tamu—yang kini telah resmi menjadi kamarnya sendiri sejak malam pertama pernikahan mereka yang dingin—Kirana membuka matanya. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata seperti beberapa hari belakangan. Yang ada hanyalah tekad yang mulai mengeras di balik sorot matanya yang lelah.
Meskipun Arka telah menegaskan aturan-aturan kaku lewat dokumen hitam putih beberapa hari lalu, dan meski pria itu melarangnya ikut campur, Kirana masih memegang sisa-sisa nurani seorang istri yang ingin mencoba. Pagi ini, ia bertekad melangkah keluar dari zona nyamannya sebagai nona manja yang terbiasa dilayani.
Kirana beranjak dari tempat tidur, mengenakan *apron* katun sederhana berwarna krem di atas pakaian rumahannya, lalu melangkah pelan menuruni anak tangga menuju dapur besar di lantai bawah.
Suasana dapur sangat lengang. Kepala pelayan, Bi Inah, tampak terkejut begitu melihat nyonya mudanya sudah berdiri di depan konter dapur pada pukul lima pagi. Wajah tua wanita paruh baya itu menyiratkan keheranan sekaligus rasa iba.
"Nyonya muda? Kenapa bangun pagi sekali? Biar saya saja yang siapkan sarapan untuk Tuan Arka," ujar Bi Inah cemas sambil melangkah mendekat.
Kirana menggeleng pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Tidak apa-apa, Bi. Biarkan saya yang buat hari ini. Saya ingin mencoba menyiapkan sarapan sendiri untuk suami saya."
Dengan gerakan yang sesekali tampak kaku—karena ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia benar-benar memegang spatula dan kompor untuk memasak dalam porsi nyata—Kirana mulai bekerja. Ia merebus air, memecahkan telur dengan hati-hati ke atas wajan anti-lengket, mengiris roti tawar gandum, dan meracik secangkir kopi hitam dengan takaran gula yang pas sesuai catatan kecil yang pernah ia dengar dari obrolan pelayan lain tentang kesukaan Arka.
Tangannya sempat terkena cipratan minyak panas kecil, membuat jari telunjuknya memerah dan berdenyut perih. Kirana hanya meringis kecil, mengusap jarinya sekilas ke *apron*, lalu kembali fokus. Hatinya diselimuti setitik harapan hangat. Ia membayangkan, mungkin kali ini, aroma masakan rumahan yang dibuat dengan ketulusan tangan seorang istri bisa mencairkan sedikit saja dinding es di dada suaminya.
Pukul enam lewat lima belas menit. Langkah kaki tegap yang sangat dikenal dan ditakuti penghuni rumah ini mulai terdengar menuruni tangga.
Arka muncul di area ruang makan dengan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna *navy* gelap, dasi sutra abu-abu tua yang tergantung rapi, serta rambut tertata klimis khas eksekutif muda yang disiplin. Pria itu baru saja turun untuk bersiap berangkat ke kantor.
Melihat kehadiran suaminya, jantung Kirana berdegup kencang. Dengan cekatan namun anggun, Kirana mengangkat mangkuk berisi *pancake* pisang hangat buatan tangannya sendiri serta sepiring telur mata sapi berdampingan dengan roti panggang ke atas meja makan. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa gugup yang luar biasa.
"Mas Arka..." panggil Kirana pelan. Suaranya terdengar lembut, sarat akan ketulusan yang murni. "Kamu sudah mau berangkat? Aku... aku sudah siapkan sarapan pagi buat kamu. Ada roti panggang, telur, dan kopi hitam kesukaan kamu. Silakan dicoba, Mas."
Kirana berdiri di sisi meja makan, kedua tangannya bertumpu di depan *apron*-nya dengan jemari yang saling meremas gugup. Ia menatap wajah Arka lekat-lekat, menunggu sebuah senyuman kecil, atau sekadar anggukan kepala menghargai usaha pertamanya.
Namun, yang ia dapatkan justru sebuah keheningan yang menghujam.
Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan meja makan. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu hidangan yang tersaji di atas piring porselen putih itu sekilas, lalu beralih menatap *apron* kotor bertepung dan bekas noda minyak di tangan Kirana. Tidak ada binar keterkejutan yang menyenangkan di wajah Arka; yang ada hanyalah kerutan di dahi, menyiratkan kejengkelan yang mendalam.
Bagi Arka, pemandangan ini bukan wujud kasih sayang seorang istri. Di mata seorang CEO korporasi besar yang terbiasa dengan efisiensi tinggi, tindakan Kirana memasak sendiri di dapur adalah lambang kekonyolan—sebuah bentuk kekanak-kanakan dari seseorang yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu secara produktif.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Kirana?" suara Arka terdengar rendah, datar, dan menusuk tajam tanpa ampun.
Kirana mengerjap, senyum di bibirnya perlahan memudar. "Aku... aku masak sarapan buat kamu, Mas. Biar kamu bisa sarapan makanan hangat sebelum ke kantor. Aku bikin sendiri..."
"Rumah ini punya kepala pelayan dan staf dapur yang digaji cukup mahal untuk melakukan tugas-tugas seperti itu," potong Arka dingin, memotong kalimat Kirana tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membela diri. "Waktu kamu sangat berharga untuk dihabiskan hanya demi bermain peran sebagai ibu rumah tangga di dapur."
"Ini bukan main-main, Mas," suara Kirana mulai bergetar, pertahanan rapuhnya mulai goyah. "Aku ikhlas bikin ini buat kamu. Aku cuma mau jadi istri yang—"
"Cukup, Kirana," potong Arka lagi, nada suaranya kini meninggi setengah tingkat, menunjukkan rasa muak yang kentara. "Jangan mempermalukan diri kamu sendiri dengan drama murahan seperti ini. Saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan rumah-rumahan ala anak kecil. Jika kamu bosan, carilah kesibukan lain di kamar atau belanjakan uang di kartu kredit, tapi jangan pernah mengacaukan rutinitas pagi saya dengan hal-hal tidak penting."
Arka sama sekali tidak menyentuh piring tersebut. Pria itu bahkan tidak sudi duduk di kursinya. Dengan tatapan penuh ketidakpedulian, Arka melangkah melewati sisi Kirana begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang berdiri mematung di samping meja.
*Tok, tok, tok.*
Suara pantulan sepatu pantofel Arka berderap cepat meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian, suara pintu utama terbuka dan tertutup dengan bunyi debaman berat, menandakan sang CEO telah benar-benar pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun dari apa yang telah disiapkannya dengan susah payah.
Di dalam ruang makan yang mendadak terasa begitu luas dan dingin itu, Kirana berdiri terpaku.
Kepedihan yang amat sangat merayap naik dari dadanya, mencengkeram tenggorokannya hingga terasa sesak. Matanya menatap nanar ke arah piring porselen di hadapannya. Uap hangat masih mengepul tipis dari tumpukan *pancake* dan telur mata sapi buatan tangannya. Makanan itu sempurna, lezat, dan dibuat dengan tetesan keringat serta ketulusan hatinya yang paling dalam.
Namun, makanan itu kini berubah menjadi simbol kepedihan yang paling nyata—sebuah sarapan yang terbuang sia-sia, persis seperti ketulusan cintanya yang diinjak-injak begitu saja oleh pria yang berstatus sebagai suaminya.
Bi Inah yang sedari tadi mengawasi dari balik dinding pantri melangkah pelan mendekat dengan tatapan penuh iba. Wanita tua itu mengusap bahu Kirana yang gemetar halus.
"Nyonya... yang sabar ya..." bisik Bi Inah lirih.
Kirana tidak menangis. Kali ini, air matanya menolak keluar. Ada sesuatu di dalam rongga dadanya yang mendadak membeku, berubah menjadi batu yang keras. Ia menatap piring sarapan itu sekali lagi, lalu mengangkat dagunya perlahan.
"Tidak apa-apa, Bi," ucap Kirana dengan suara datar yang hampir tidak bergeming. "Kalau Tuan besar tidak mau memakannya, buang saja semuanya ke tempat sampah."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana melepas *apron*-nya dengan gerakan tenang, meletakkannya di atas meja makan di sebelah piring yang tak tersentuh, lalu berbalik melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini, untuk pertama kalinya, Kirana bersumpah di dalam hati: ia tidak akan pernah lagi membuang waktu, tenaga, dan perasaannya untuk mengharapkan pengakuan dari pria bernama Arka Pratama.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!