Aroma karbol dan obat-obatan yang menyengat selalu berhasil membuat dada Alina sesak. Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos jendela kaca kusam di lorong Rumah Sakit Medika Utama, menyinari deretan lembaran kertas di pangkuannya. Itu bukan sekadar kertas biasa, melainkan tumpukan tagihan perawatan intensif sang ibu, lengkap dengan cap merah bertuliskan JATUH TEMPO.
Alina mengusap wajahnya yang pucat. Matanya sembap, menahan lelah setelah tiga minggu hampir tidak tidur nyenyak.
Ibunya, Bu Rahmi, mengalami gagal jantung akut dan membutuhkan operasi transplantasi serta perawatan pasca-operasi yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah. Bagi Alina, seorang gadis 23 tahun yang baru saja kehilangan pekerjaan paruh waktunya karena pengurangan karyawan, angka itu ibarat gunung yang meruntuhkannya secara perlahan.
Ia melirik jemari tangan kirinya. Sebuah cincin perak polos melingkar di sana. Cincin yang terasa begitu berat, meski bentuknya amat sederhana.
Tiga hari yang lalu, Alina mengambil keputusan terbesar dan paling nekat dalam hidupnya. Melalui seorang perantara misterius yang dihubungi oleh kerabat jauhnya, Alina menyetujui sebuah penawaran gila: pernikahan kontrak secara kilat dengan seorang pria asing.
Syaratnya sangat tegas dan tanpa kompromi. Pria itu akan melunasi seluruh biaya pengobatan ibunya hingga sembuh total, sementara Alina hanya perlu menandatangani dokumen pernikahan sah secara hukum, menyerahkan kebebasan statusnya, dan bersedia hidup terpisah tanpa menuntut hak apa pun sebagai seorang istri.
Pernikahan itu berlangsung di sebuah ruangan tertutup bertembok marmer hitam di lantai atas sebuah gedung pencakar langit. Tanpa gaun pengantin, tanpa dekorasi bunga, dan tanpa kehadiran keluarga. Hanya ada seorang penghulu, dua saksi bersetelan jas hitam tebal, serta pria itu.
Alina masih ingat betul atmosfer dingin yang membekukan ruangan saat pria itu melangkah masuk. Tingginya hampir 185 sentimeter, mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Pria itu mengenakan kacamata berbingkai tipis dan jam tangan mewah yang memantulkan cahaya redup. Sepanjang prosesi penandatanganan berkas, pria itu sama sekali tidak menatap wajah Alina.
Suaranya saat mengucapkan akad nikah terdengar begitu berat, dalam, dan tanpa emosi, seperti seorang eksekutif yang sedang membacakan poin-poin akuisisi perusahaan.
Setelah dokumen ditandatangani dan cincin perak itu dipasangkan ke jarinya oleh sang pengacara, pria itu langsung berdiri, merapikan kancing jasnya, dan keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.
("Nama suamimu adalah Devan,") hanya itu informasi yang disampaikan sang pengacara sebelum menyerahkan dokumen perjanjian tambahan. ("Kalian akan hidup terpisah. Tuan Devan memiliki kesibukan dan kehidupan pribadi yang tidak boleh diganggu. Kamu akan menerima tunjangan bulanan, dan seluruh biaya rumah sakit ibumu telah dilunasi hari ini. Tugasmu hanya satu: jaga rahasia pernikahan ini dari siapa pun. Jika ada media atau orang luar yang tahu, perjanjian ini batal dan kamu wajib mengembalikan seluruh biaya dengan bunga seratus persen.")
Alina menghela napas panjang, menepis ingatan dingin itu. Ia harus realistis. Pria bernama Devan itu telah menyelamatkan nyawa ibunya. Perasaan tidak dihargai atau harga diri yang terluka tidak ada artinya dibandingkan detak jantung ibunya yang kini kembali stabil di dalam ruang perawatan.
"Mbak Alina?" suara seorang perawat mengagetkannya. "Kondisi Ibu Rahmi pagi ini sangat stabil. Hasil laboratoriumnya bagus, jadi dokter sudah mengizinkan pindah ke ruang rawat inap biasa siang nanti."
Senyum tipis akhirnya terbit di bibir Alina. "Terima kasih banyak, Suster. Terima kasih."
Hari ini bukan hanya hari di mana ibunya membaik, tetapi juga hari pertama Alina memulai pekerjaan barunya.
Seminggu sebelum tragedi rumah sakit, Alina sebenarnya sudah melamar pekerjaan di sebuah konglomerasi raksasa, PT Dirgantara Megah Karya.
Tanpa diduga, kemarin sore ia menerima surat elektronik yang menyatakan bahwa ia diterima sebagai staf administrasi divisi Pemasaran.
Alina berdiri, merapikan kemeja putih polosnya yang sedikit pudar dan rok kain hitam sebatas lutut. Ia memoles sedikit pelembap bibir untuk menyamarkan wajah pucatnya. Ia harus tampil profesional. Ini adalah awal barunya. Ia harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, terlepas dari bantuan uang kontrak pernikahan tersebut.
Gedung PT Dirgantara Megah Karya berdiri megah di pusat kawasan bisnis Jakarta. Dinding kacanya memantulkan langit pagi yang cerah, sementara pilar-pilar granit raksasa di bagian depan memancarkan aura kemewahan dan kekuasaan yang mengintimidasi.
Alina melangkah masuk ke dalam lobby yang luasnya hampir setara dengan lapangan sepak bola. Suara dentangan sepatu hak tingginya beradu halus dengan lantai marmer yang berkilau seolah tanpa noda. Ratusan karyawan bertubuh tegap dan berpakaian rapi lalu-lalang dengan langkah cepat, masing-masing sibuk dengan berkas atau ponsel pintar di tangan mereka.
"Selamat pagi. Alina Dania?" tanyanya pada staf resepsionis bertubuh tinggi dengan senyum ramah.
"Selamat pagi. Ya, benar. Kamu staf baru divisi Pemasaran, kan? Silakan naik ke lantai 12, lantai divisi Pemasaran. Nanti cari Mbak Maya, kepala staf administrasi di sana," petunjuk resepsionis itu ramah.
"Baik, terima kasih banyak."
Alina melangkah menuju deretan lift eksekutif. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara rasa gugup dan antusiasme. Ia menekan tombol naik dan masuk ke dalam lift bersama beberapa pegawai lain yang tampak sibuk mendiskusikan laporan keuangan dan target kuartal ketiga.
Lantai 12 sangat sibuk. Kubikel-kubikel kerja tertata rapi dengan komputer berlayar ganda, tumpukan dokumen bermerek korporat, dan aroma kopi espresso yang menyerbak.
Alina segera menemui Mbak Maya, seorang wanita berusia awal tiga puluhan dengan kacamata berbingkai merah yang terlihat sangat sigap.
"Oh, Alina! Selamat datang," kata Maya sambil menjabat tangan Alina hangat.
"Situs kerjamu di sebelah sana, tepat di dekat jendela. Tugas pertamamu hari ini adalah merapikan berkas laporan riset pasar bulan lalu dan menyiapkannya untuk rapat direksi jam sepuluh nanti."
"Baik, Mbak Maya. Saya akan segera selesaikan," jawab Alina mantap.
Selama dua jam berikutnya, Alina menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia sangat cermat, memeriksa setiap halaman, merapikan jilidan, dan memastikan angka-angka statistik tercetak dengan jelas. Pekerjaan ini membuatnya lupa sejenak pada kerumitan hidup pribadinya.
Tepat pukul sembilan empat puluh lima, suasana di lantai 12 mendadak berubah. Suara hiruk-pikuk obrolan dan ketikan papan ketik mengetik tiba-tiba mereda. Beberapa staf senior berdiri dari kursi mereka, merapikan pakaian dengan terburu-buru.
"Ada apa, Mbak?" bisik Alina pada seorang rekan kerja di sebelahnya, seorang gadis ceria bernama Siska.
"Petinggi utama mau lewat," bisik Siska setengah berbisik dengan mata berbinar panik sekaligus kagum. "Presdir baru kita. Beliau jarang sekali turun langsung ke lantai operasional tanpa pemberitahuan. Biasanya cuma inspeksi mendadak kalau ada laporan riset penting. Ayo berdiri, jangan sampai kelihatan tidak sopan!"
Alina refleks ikut berdiri di samping meja kerjanya, menundukkan kepala sedikit seperti yang dilakukan pegawai lainnya. Langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar bergaung dari arah lorong lift utama, diiringi oleh suara bisikan kagum para staf wanita.
"Selamat pagi, Pak Devan," sapa Mbak Maya dengan nada suara yang penuh hormat dan sedikit tegang.
"Devan?"
Nama itu menghantam kesadaran Alina bagai petir di siang bolong. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia perlahan mendongakkan kepalanya, memberanikan diri untuk melihat sosok pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan divisi Pemasaran.
Pria itu berjalan diapit oleh dua sekretaris dan seorang manajer senior. Ia mengenakan setelan jas kustom berwarna hitam pekat, kemeja putih bersih tanpa celat, dan dasi berwarna marun gelap. Bahunya lebar, rahangnya tegas dengan bayangan jambang tipis yang terukur rapi. Rambut hitamnya tertata klimis ke belakang.
Alina membeku. Pria itu ... pria yang berdiri hanya lima meter di depannya adalah pria yang sama. Pria yang tiga hari lalu membubuhkan tanda tangan di atas meterai dalam ruangan temaram itu. Pria yang telah sah menjadi suaminya secara hukum.
("Devan Dirgantara. Dia adalah CEO PT Dirgantara Megah Karya.")
Perut Alina terasa melilit hebat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perusahaan tempatnya melamar kerja adalah milik suaminya sendiri. Kebetulan ini terlalu mengerikan untuk jadi kenyataan.
Saat Devan berjalan menyusuri lorong antar-kubikel sambil mendengarkan penjelasan dari manajer pemasaran, pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh isi ruangan. Dan pada satu titik, garis pandangnya terhenti tepat di wajah Alina.
Dada Alina berdesir hebat. Napasnya tertahan. Ia siap jika pria itu terkejut, bingung, atau setidaknya menunjukkan sedikit indikasi bahwa ia mengenali wanita yang berjarak beberapa jengkal dari dirinya.
Namun, tidak ada satu pun reaksi itu.
Tatapan mata Devan yang kelam dan intens hanya melewati wajah Alina selama satu detik, dingin, datar, dan asing. Seolah-olah Alina hanyalah sebuah patung atau bagian dari pajangan dinding kantor yang tidak bernilai. Tidak ada kilatan pengakuan. Tidak ada gerakan alis yang terangkat. Sama sekali kosong.
"Sajikan laporan riset pasar ini di ruang rapat utama dalam lima menit," suara Devan terdengar menggelegar tenang namun penuh wibawa di seluruh ruangan. Suara yang sama yang mengucapkan kata ("Saya terima nikahnya") tiga hari lalu.
"Baik, Pak Devan. Segera kami siapkan," jawab manajer pemasaran dengan sigap.
Devan membalikkan badan dan kembali melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Para pegawai menghela napas lega setelah punggung tegas CEO muda itu menghilang di balik pintu lift khusus eksekutif.
"Gila, Pak Devan makin hari makin karismatik tapi auranya bikin merinding," bisik Siska sambil memegangi dadanya.
"Kamu lihat matanya tadi? Dingin banget! Katanya dia tipe bos yang tidak mentolerir kesalahan sekecil apa pun."
Alina masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu lift yang sudah tertutup. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas tepi roknya dengan erat. Cincin perak di jari manisnya terasa dingin menempel di kulitnya.
Ia akhirnya mengerti aturan main yang tak tertulis ini. Pria itu bukan hanya ingin merahasiakan pernikahan mereka dari publik, tetapi juga menegaskan batas yang teramat jelas: di gedung megah ini, Devan Dirgantara adalah penguasa tertinggi, dan Alina Dania hanyalah orang asing yang kebetulan bernapas di ruang yang sama.
Suara denting halus dari mesin kopi otomatis di pantry lantai 12 menjadi satu-satunya penghibur Alina di tengah keheningan jam istirahat.
Ia menggenggam cangkir keramik berisi teh hangat, membiarkan uap tipisnya menyentuh kulit wajahnya yang lelah. Pikiran Alina masih tertahan pada tatapan dingin Devan dua jam lalu saat rapat evaluasi riset pasar berlangsung.
Di dalam ruang rapat berpendingin udara tinggi itu, Alina bertugas membagikan salinan dokumen dan mencatat poin-poin penting. Setiap kali ia melintas di dekat Devan untuk menyerahkan berkas, aroma parfum sandalwood dan bergamot maskulin milik pria itu menusuk indra penciumannya, aroma yang sama persis seperti malam saat mereka menandatangani surat nikah. Namun, Devan memperlakukannya tak ubahnya sebisa bayangan: tak tersentuh, tak kasat mata, dan sepenuhnya diabaikan. Bahkan ketika Alina membetulkan posisi mikrofon di depan Devan, pria itu hanya mengibaskan tangan pelan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar iPad-nya.
"Kamu staf baru yang namanya Alina, kan?"
Sebuah suara nyaring yang terkesan dipaksa ramah memecah lamunan Alina. Ia berbalik dan menemukan seorang wanita bertubuh jenjang berdiri di ambang pintu pantry.
Wanita itu mengenakan gaun terusan merah marun yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadu sepatu hak tinggi bertali yang berkilau. Tanda pengenal di dadanya tertulis: Clara, Senior Marketing Executive.
"Iya, Mbak. Saya Alina Dania," jawab Alina sopan sambil menganggukkan kepala.
Clara melangkah masuk, menyandarkan pinggulnya ke konter marmer tepat di samping Alina. Ia mengamati Alina dari ujung rambut hingga ujung sepatu kain hitamnya dengan pandangan menilai yang tidak ditutup-tutupi.
"Senang berkenalan denganmu, Alina," ujar Clara sambil tersenyum tipis, walau matanya tetap terasa dingin. "Sebagai senior di sini, aku cuma mau kasih sedikit nasihat ramah. PT Dirgantara ini standar kerjanya sangat tinggi, terutama kalau berhubungan langsung dengan Pak Devan.
Jangan sampai penampilan atau cara kerja yang asal-asalan bikin reputasi divisi kita jatuh di mata beliau."
"Baik, Mbak Clara. Terima kasih atas pengingatnya. Saya akan berusaha bekerja seprofesional mungkin," sahut Alina datar, tetap menjaga kesopanannya.
Clara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sinis. Ia menyesap kopi hitamnya sebelum melanjutkan, "Oh, satu lagi. Jangan pernah terpengaruh rumor konyol atau mencoba menarik perhatian Pak Devan secara pribadi seperti yang dilakukan beberapa anak magang bodoh dulu. Pak Devan itu berada di kelas yang sangat berbeda dengan kita. Beliau calon penerima warisan tunggal Dirgantara Group, dan rumornya ... beliau sudah punya calon istri dari kalangan berpengaruh yang direstui keluarga besarnya. Jadi, fokus saja pada tumpukan kertas laporanmu, ya?"
Pernyataan Clara menggantung di udara bagaikan tamparan tak berwujud. ,("Calon istri dari kalangan berpengaruh?")Alina menelan ludah yang terasa pahit.
Hatinya mencelos, bukan karena rasa cemburu, sebab ia paham betul pernikahan mereka hanyalah transaksi bisnis, melainkan karena realitas yang diucapkan Clara memang benar adanya.
Alina hanyalah seorang gadis miskin dengan ibu yang sakit-sakitan, sementara Devan adalah pangeran di atas takhta emas.
"Saya mengerti, Mbak," jawab Alina singkat.
Clara mengangguk puas, merasa telah berhasil menegaskan posisinya. Ia merapikan riasan bibirnya di cermin saku sebelum berbalik melangkah keluar pantry dengan langkah anggun.
Setelah Clara pergi, Alina menghela napas panjang. Ia menatap cincin perak polos yang tersembunyi rapat di balik jemarinya. Semakin jelas baginya mengapa Devan bersikap sangat dingin dan tidak mengenalnya di depan umum. Pernikahan ini bukan hanya sekadar rahasia, melainkan sebuah aib yang mungkin bisa merusak citra sang CEO jika sampai terendus media atau keluarga besarnya.
Sore harinya, pukul lima lewat lima belas menit. Sebagian besar pegawai divisi Pemasaran mulai berkemas untuk pulang. Alina masih bertahan di meja kerjanya, menyelesaikan rekapitulasi data penjualan daerah yang sempat tertunda karena rapat pagi.
"Alina, kamu belum pulang?" Siska menyampirkan tas bahunya, menghampiri meja Alina.
"Belum, Sis. Tinggal sedikit lagi, mau aku selesaikan sekalian supaya besok pagi tidak menumpuk," jawab Alina sambil tersenyum tipis.
"Duh, rajin banget! Tapi jangan terlalu malam ya, gedung ini kalau sudah lewat jam enam suka agak sepi dan seram," pamit Siska sambil melambaikan tangan. "Sampai ketemu besok!"
"Iya, hati-hati di jalan, Siska."
Ruangan divisi Pemasaran perlahan-lahan menghening. Lampu-lampu utama di beberapa sudut mulai dimatikan secara otomatis oleh sistem gedung untuk menghemat energi, menyisakan lampu sorot di atas meja Alina dan beberapa kubikel lain.
Saat jemari Alina sibuk mengetik angka terakhir pada lembar kerja digitalnya, ponsel di samping papan ketiknya bergetar keras. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
[Nomor Tak Dikenal]: Naik ke lantai 20 sekarang. Lewat tangga darurat belakang, gunakan lift khusus eksekutif nomor 3 yang ada di sana.
Alina mengerutkan dahi. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu betul siapa satu-satunya orang di gedung 20 lantai ini yang memegang akses dan berada di lantai paling atas: ruangan Direktur Utama.
Alina sempat ragu sejenak. Namun, mengingat status pria itu sebagai 'suami' sekaligus penyokong biaya hidup ibunya, ia tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah tersebut. Alina merapikan dokumennya, menyimpan hasil pekerjaannya, lalu mengambil tas selempangnya.
Ia melangkah mengendap-endap menuju pintu tangga darurat yang berada di sudut koridor belakang. Koridor itu sepi dan lengang, hanya terdengar gema langkah kakinya sendiri. Alina menekan tombol pada lift khusus eksekutif nomor 3 seperti yang diinstruksikan. Pintu lift terbuka tanpa suara, dan ia melangkah masuk.
Lift meluncur naik menuju lantai 20 dengan sangat cepat. Ketika pintu kembali terbuka, Alina disambut oleh karpet tebal berwarna abu-abu gelap yang meredam setiap suara langkah, serta dinding kayu mahogany yang memancarkan aura kemewahan yang tenang dan intim. Tidak ada pegawai di lantai ini; seluruh sekretaris dan staf eksekutif tampaknya sudah pulang.
Di ujung koridor, sebuah pintu ganda berukir megah sedikit terbuka, memancarkan sinar hangat dari dalam ruangan. Alina berjalan perlahan, mengetuk pintu kayu tebal itu dua kali.
"Masuk," suara bass yang berat dan tegas terdengar dari dalam.
Alina mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Devan sangat luas, hampir tiga kali lipat ukuran rumah kontrakan Alina. Di balik meja kerja kaca yang besar, berdiri dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan lanskap kota Jakarta di sore hari, dipenuhi pendar cahaya lampu jalan dan gedung-gedung tinggi.
Devan berdiri di dekat meja kerjanya, telah menanggalkan jas resmi yang dipakainya pagi tadi. Lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan hitam yang berkilau. Dasinya sudah dilonggarkan.
Pria itu menatap Alina yang berdiri kaku di dekat pintu. Tatapannya masih tajam, namun intensitasnya berbeda dari saat mereka berada di lantai 12 tadi pagi.
"Tutup pintunya," perintah Devan singkat.
Alina berbalik dan menutup pintu hingga terdengar bunyi klik mengunci. Ia berdiri canggung, menggenggam tali tasnya dengan erat. "Ada apa ... Pak Devan memanggil saya ke sini?"
Devan berjalan perlahan menuju sebuah sofa kulit hitam di tengah ruangan, lalu mendudukkan dirinya. Ia menyilangkan kaki dan menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Alina melangkah mendekat dan duduk di tepi sofa dengan canggung, menjaga jarak aman di antara mereka.
"Bagaimana hari pertama kerjamu?" tanya Devan datar. Matanya mengamati wajah Alina yang terlihat lelah.
"Bagus, Pak. Semua berjalan lancar," jawab Alina pelan, berusaha menjaga suaranya tetap profesional. "Saya sudah menyelesaikan tugas rekapitulasi data dari Mbak Maya."
Devan mengangguk pelan.
Dengan hati berdebar Alina berada di dalam kantor sang CEO, Alina seperti mimpi kalau sang CEO tempat ia bekerja ternyata suami kilatnya, Devan meraih sebuah map cokelat tebal yang tergeletak di meja kopi dan menggesernya ke arah Alina. "Ini adalah dokumen pelengkap mengenai status pengobatan ibumu di Rumah Sakit Medika Utama. Tim dokter spesialis jantung terbaik sudah dijadwalkan untuk menangani operasinya minggu depan. Seluruh biaya, termasuk perawatan pasca-operasi dan ruang VIP, sudah diselesaikan oleh pengacaraku."
Alina membelalakkan matanya. Ia membuka map tersebut dan membaca dokumen di dalamnya dengan perasaan campur aduk. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya, membuat matanya terasa panas oleh genangan air mata.
"Terima kasih ... Terima kasih banyak, Pak Devan," kata Alina dengan suara bergetar tulus. "Saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Anda seperti apa."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun," potong Devan dingin, memotong luapan emosi Alina sebelum berkembang lebih jauh. "Ini adalah bagian dari kesepakatan kita. Kamu memenuhi peranmu, dan aku memenuhi kewajibanku."
Devan kemudian bersandar pada sofa, menyatukan jemarinya. "Aku memanggilmu ke sini untuk menegaskan beberapa hal penting terkait kehadiranmu di perusahaan ini."
Alina menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama.
"Pertama, fakta bahwa kamu diterima bekerja di divisi Pemasaran adalah sebuah kebetulan murni. Perekrutanmu dilakukan oleh tim HRD sebelum kita menandatangani perjanjian pernikahan.
Aku tidak pernah mencampuri proses seleksi tersebut," jelas Devan dengan nada tanpa kompromi. "Kedua, kamu tidak boleh mengundurkan diri secara mendadak karena hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan di antara staf HRD dan manajemen."
"Saya paham, Pak. Saya juga tidak berniat mengundurkan diri. Saya butuh pekerjaan ini," jawab Alina jujur.
"Bagus," Devan menatap lurus ke dalam mata Alina. "Dan yang paling utama: sikap di kantor pagi tadi adalah standar yang harus kita jaga seterusnya. Di depan siapa pun, baik staf biasa, jajaran direksi, maupun keluarga saya jika mereka berkunjung, kamu dan saya adalah dua orang asing yang tidak memiliki keterikatan apa pun. Kamu adalah staf administrasi junior, dan aku adalah atasanmu."
Kalimat itu diucapkan dengan sangat lugas dan tanpa cela. Alina merasakan denyut kecil di dadanya, sebuah rasa perih yang teramat halus namun nyata. Ia tahu posisi dirinya, namun mendengar ketegasan itu disampaikan secara langsung tetap saja meninggalkan goresan di hatinya.
"Saya mengerti, Pak Devan. Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu diri dan tidak akan pernah merusak nama baik Anda atau perusahaan ini," sahut Alina dengan suara yang ditahan agar tetap stabil.
Devan memperhatikan perubahan raut wajah Alina. Ada sedikit jeda di antara mereka, keheningan yang cukup panjang hingga suara denting jam dinding terdengar jelas. Untuk sepersekian detik, kilatan ekspresi samar yang sulit diartikan melintas di mata Devan, sebuah perpaduan antara dorongan untuk mengatakan sesuatu dan penahanan diri yang ketat. Namun, ekspresi itu hilang serapi saat datang, kembali digantikan oleh topeng dingin yang sempurna.
"Bagaimana dengan tempat tinggalmu?" tanya Devan, mengalihkan topik. "Apakah kontrakanmu dekat dari sini?"
"Agak jauh, Pak. Harus naik angkutan umum dua kali," jawab Alina pendek.
Devan meraih ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat. "Pengacaraku sudah menyiapkannya. Sebuah apartemen yang aman dekat kawasan ini atas namamu. Kamu bisa pindah akhir pekan ini agar lebih fokus merawat ibumu dan bekerja."
"Tidak perlu, Pak!" potong Alina cepat, memberanikan diri menatap Devan. "Bantuan biaya pengobatan ibu saya sudah lebih dari cukup. Saya tidak bisa menerima fasilitas mewah lainnya. Saya merasa tidak pantas."
Devan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Alina dengan alis terangkat samar. "Ini bukan tawaran, Alina. Ini adalah perintah untuk menjaga keamanan dan efisiensi. Jika kamu kelelahan atau terjadi sesuatu padamu di jalan, hal itu bisa memicu masalah yang tidak perlu."
"Tapi, Pak—"
"Keputusan tidak bisa diganggu gugat," potong Devan tegas, berdiri dari duduknya yang menandakan bahwa audiensi telah berakhir. "Kamu bisa pulang sekarang. Gunakan pintu belakang yang sama."
Alina menggigit bibir bawahnya. Ia paham betul bahwa berdebat dengan pria ini adalah hal yang sia-sia. Ia ikut berdiri, merapikan roknya, lalu menganggukkan kepala secara formal.
"Baik, Pak Devan. Terima kasih atas waktunya. Saya permisi."
Alina berbalik dan melangkah menuju pintu. Tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, suara Devan kembali terdengar dari belakang.
"Alina."
Alina menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan tatapan bertanya.
Devan berdiri di dekat meja kerjanya, menatapnya dengan raut wajah yang tak terbaca. "Jaga kesehatanmu. Operasi ibumu butuh stamina yang kuat dari pendampingnya."
Kata-kata itu terdengar sederhana, disandarkan pada nada bicara yang tetap datar. Namun bagi Alina, ada hangat tipis yang menyusup di antara dinginnya dinding kaca ruangan tersebut.
"Baik ... terima kasih, Pak," bisik Alina pelan sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Devan yang tetap berdiri dalam diam menatap pintu yang tertutup rapat.
Alina melangkah keluar dari ruang CEO dengan langkah yang agak goyah. Pintu kaca itu tertutup pelan di belakangnya, memutus kontak visual dengan Devan. Di koridor sepi lantai eksekutif, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang masih kencang.
Map cokelat di tangannya terasa berat. Di dalamnya bukan hanya dokumen pengobatan Ibu, melainkan juga bukti bahwa hidupnya kini terikat kontrak yang rumit. Ia menekan tombol lift menuju lantai bawah, lalu keluar lewat pintu belakang seperti yang diperintahkan.
Sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkutan umum, pikiran Alina bergulir tak menentu. Apartemen mewah yang ditawarkan Devan membuatnya gelisah. Ia bukan orang yang terbiasa menerima pemberian tanpa balasan. Namun, kata-kata Devan sebelumnya masih terngiang: “Ini bukan tawaran. Ini perintah.”
Sesampainya di kontrakan sempit di pinggiran kota, Alina langsung membuka map itu lagi. Detail operasi jantung Ibu tertulis rapi, lengkap dengan jadwal dokter spesialis. Air mata yang sempat tertahan di kantor kini mengalir pelan. “Bu … Ibu akan sembuh,” bisiknya pelan.
Malam itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Pengacara akan menghubungimu besok pagi untuk serah terima kunci apartemen. Jangan terlambat. –D”
Alina menatap layar lama. Ia membalas singkat, “Baik, Pak.”
Keesokan harinya di kantor, Alina berusaha bersikap normal. Di divisi pemasaran, rekan-rekannya menyambutnya seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa CEO yang mereka takuti adalah suami rahasianya. Setiap kali Devan lewat di koridor atau muncul di rapat, Alina menunduk dan fokus pada pekerjaannya. Mereka saling berpapasan beberapa kali, namun tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya tatapan singkat yang penuh jarak.
Di sore hari, Alina menerima kabar bahwa Ibu sudah dipindahkan ke ruang VIP. Rasa lega dan rasa bersalah bercampur aduk. Ia tahu betul bahwa semua ini adalah bagian dari kesepakatan, tapi hati kecilnya tetap bertanya-tanya: sampai kapan topeng dingin itu akan terus mereka kenakan?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!