"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
Suara bentakan itu menggema di dalam kamar hotel mewah yang dipenuhi aroma alkohol dan asap rokok.
Di sudut ruangan, Alyssa terduduk di lantai dengan kedua tangan terikat. Napasnya memburu. Air mata membasahi pipinya, tetapi sorot matanya tetap menyala, menolak menyerah.
Di hadapannya berdiri Mariska, ibu tirinya.
Perempuan itu mengenakan gaun mahal yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Tas bermerek tergantung di lengannya, sementara perhiasan emas menghiasi leher dan pergelangan tangannya.
Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
"Tenang saja, Tuan," ucap Mariska sambil tersenyum licik. "Alyssa memang keras kepala. Tapi sebentar lagi dia akan menurut."
Pria bertubuh tambun yang sejak tadi duduk di sofa mengembuskan asap rokok ke udara.
"Aku tidak suka menunggu."
Mariska segera mengangguk.
"Tidak akan lama."
Ia mendekati Alyssa, lalu mencengkeram dagunya begitu keras hingga gadis itu meringis.
"Dengar baik-baik!" bisiknya tajam. "Kalau kau berani membuatku kehilangan uang malam ini, jangan harap bisa pulang."
Alyssa menatap perempuan itu penuh kebencian.
"Ibu bukan manusia."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
"Kau berani melawanku?"
"Ayah pasti tidak akan pernah memaafkan Ibu."
Kalimat itu membuat wajah Mariska berubah gelap.
"Jangan sebut nama ayahmu!"
"Beliau pasti menyesal pernah menikahi wanita sepertimu."
PLAK!
Tamparan kedua membuat sudut bibir Alyssa berdarah.
Mariska menarik napas kasar.
"Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan!"
Alyssa tertawa lirih.
"Membesarkanku?"
"Selama ini aku yang mendapatkan beasiswa. Aku yang bekerja sambilan. Aku yang membayar listrik rumah. Aku yang membeli obat saat Ibu sakit."
Tatapan Mariska mulai goyah.
Namun hanya sesaat.
"Diam!"
Ia menarik rambut Alyssa hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
Pria-pria di ruangan hanya tertawa melihat pemandangan tersebut.
"Sudahlah."
Pria tambun itu berdiri.
"Serahkan saja dia."
Dua anak buah langsung melangkah mendekat.
Mereka mulai membuka tali yang mengikat tangan Alyssa.
Salah satu pria hendak mencengkeram lengannya.
Namun...
Brak!
Alyssa menghantamkan kepalanya ke hidung pria itu.
"Aaaargh!"
Pria tersebut langsung terjatuh sambil memegangi wajahnya.
Belum sempat yang lain bereaksi...
Alyssa menendang lutut pria kedua sekuat tenaga.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya.
Ia berlari.
"Kejar dia!"
Teriakan memenuhi ruangan.
Alyssa membuka pintu kamar lalu berlari keluar tanpa menoleh sedikit pun.
Lorong hotel yang panjang terasa seperti tidak ada ujungnya.
Napasnya semakin berat.
Air mata terus mengalir.
Namun ia tidak boleh berhenti.
Di belakangnya terdengar suara langkah kaki.
"Menyebar!"
"Dia belum jauh!"
"Jangan sampai lolos!"
Alyssa menoleh sekilas.
Empat pria sedang mengejarnya.
Ia membelok ke lorong lain.
Lalu ke lorong berikutnya.
Tangannya gemetar saat mencoba membuka beberapa pintu kamar.
Terkunci.
Terkunci.
Masih terkunci.
"Tolong..."
Bisiknya hampir putus asa.
Saat itulah...
Klik.
Sebuah pintu terbuka begitu saja ketika gagangnya ditekan.
Tanpa berpikir panjang, Alyssa segera masuk lalu menguncinya kembali.
Dadanya naik turun.
Ia bersandar di balik pintu sambil menutup mulut agar suara napasnya tidak terdengar.
Ruangan itu sangat sunyi.
Begitu sunyi hingga suara detak jam terdengar jelas.
Perlahan...
Alyssa mengangkat kepala.
Dan seketika tubuhnya membeku.
Seorang pria berdiri beberapa meter di depannya.
Tinggi.
Berjas hitam.
Dasi yang sedikit longgar.
Tatapan tajam sedingin musim dingin.
Wajahnya tampan, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi.
Aura pria itu begitu kuat hingga membuat seluruh ruangan terasa menyesakkan.
"Siapa kau?"
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun cukup membuat Alyssa bergidik.
"A... aku..."
Belum sempat menjelaskan...
BRAK! BRAK! BRAK!
Gedoran keras mengguncang pintu.
"Pak!"
"Kami sedang mengejar seorang wanita!"
"Dia masuk ke arah sini!"
Tubuh Alyssa langsung gemetar.
Refleks, ia mundur beberapa langkah hingga berada di belakang pria misterius itu.
Tanpa sadar, kedua tangannya menggenggam ujung jas pria tersebut.
Matanya dipenuhi ketakutan.
"Tolong..."
Suara itu nyaris tak terdengar.
Pria misterius menoleh sedikit.
Tatapannya jatuh pada jemari Alyssa yang gemetar mencengkeram kain jasnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ada seseorang yang berani menyentuhnya.
Namun ia tidak segera melepaskan tangan Alyssa.
Gedoran kembali terdengar.
"Pak! Tolong buka pintunya!"
Pria itu berjalan mendekati pintu.
Alyssa panik.
Ia segera mengikuti.
Jarak mereka kini begitu dekat.
"Tolong jangan buka..."
bisik Alyssa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mohon..."
Pria itu berhenti.
Sorot matanya menatap lurus ke arah gagang pintu.
Di luar...
Suara para pengejar mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau tidak dibuka, kami dobrak!"
Alyssa refleks memeluk lengan pria itu.
Bukan karena mengenalnya.
Bukan karena percaya.
Melainkan karena hanya pria asing itulah satu-satunya harapan yang masih dimilikinya.
Tangannya gemetar hebat.
Seluruh tubuhnya juga bergetar.
Pria misterius itu menoleh perlahan.
Tatapannya bertemu mata Alyssa.
Tak ada rayuan.
Tak ada romantisme.
Yang ia lihat hanyalah seorang perempuan yang benar-benar ketakutan.
Untuk beberapa detik...
Tidak ada satu pun yang berbicara.
Lalu...
Pria itu mengangkat telunjuknya.
"Diam."
Hanya satu kata.
Namun Alyssa langsung mengangguk.
Pria itu membuka sedikit pintu.
Hanya beberapa sentimeter.
"Ada apa?"
Suaranya tetap datar.
Di luar berdiri empat pria bertubuh besar.
"Mohon maaf mengganggu, Pak."
"Kami sedang mencari seorang perempuan."
Pria itu mengangkat sebelah alis.
"Lalu?"
"Dia pencuri."
Tatapan Alyssa melebar.
Mereka berbohong.
Pria misterius tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Apa kalian melihatnya masuk ke kamar saya?"
"Tidak."
"Lalu atas dasar apa kalian mengganggu saya?"
Keempat pria saling berpandangan.
Mereka tampak ragu.
Salah satu dari mereka mencoba mengintip ke dalam.
Namun...
Pria itu bergeser sedikit.
Tubuhnya yang tinggi langsung menutupi seluruh pandangan.
Tatapannya berubah jauh lebih dingin.
"Saya tidak suka privasi saya diganggu."
Nada suaranya masih tenang.
Tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.
Pria-pria itu mulai berkeringat.
Entah mengapa...
Mereka merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak boleh dibuat marah.
"Maaf, Pak."
"Kami hanya menjalankan perintah."
"Kalau begitu jalankan di tempat lain."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun mengandung tekanan yang sulit dijelaskan.
Akhirnya mereka mundur.
"Baik, Pak."
Langkah kaki mereka perlahan menjauh.
Alyssa masih menahan napas.
Pria misterius belum menutup pintu.
Ia menunggu beberapa detik lagi.
Barulah pintu dikunci kembali.
Ruangan kembali sunyi.
Alyssa mengembuskan napas panjang.
Lututnya mendadak lemas.
Tubuhnya hampir jatuh.
Namun sebelum menyentuh lantai...
Sebuah tangan menahan bahunya.
"Hati-hati."
Itu adalah kalimat pertama yang terdengar sedikit lebih lembut dari pria tersebut.
Alyssa menatapnya penuh rasa syukur.
"Terima kasih..."
Pria itu segera melepaskan tangannya.
"Kau belum aman."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Alyssa berdiri.
"Maksud Anda?"
"Mereka belum pergi."
Alyssa langsung memucat.
Pria itu berjalan menuju jendela besar yang menghadap area parkir hotel.
Tanpa banyak bicara, ia membuka sedikit tirai.
Di bawah sana...
Empat mobil hitam masih terparkir.
Beberapa pria berdiri sambil berbicara melalui telepon.
Mereka jelas sedang menunggu.
Jantung Alyssa kembali berdebar kencang.
Ia sadar...
Pelariannya belum berakhir.
Justru mungkin...
Inilah awal dari mimpi buruk yang jauh lebih besar.
Sementara itu, pria misterius itu menatap ke arah mobil-mobil tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Sorot matanya berubah tajam.
Seolah sedang mengenali siapa sebenarnya orang-orang yang mengejar perempuan asing yang kini berada di dalam kamarnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
"Hallo para pembaca yang cantik tampan dan budiman, kalau suka ceritanya silahkan komentar yaa !! Agar semangat ku semakin membara melanjutkan ceritanya. Terimaaagajiii" MHKaylid_
Suasana di dalam kamar kembali sunyi.
Alyssa masih berdiri di dekat jendela dengan wajah pucat. Tatapannya belum lepas dari deretan mobil hitam yang terparkir di bawah hotel.
Beberapa pria yang tadi mengejarnya masih berjaga, sesekali berbicara melalui ponsel sambil mengawasi pintu masuk.
Artinya...
Mereka benar-benar belum menyerah.
Alyssa mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang...?"
Pria misterius itu tidak menjawab.
Ia berjalan menuju meja kerja, mengambil ponselnya, lalu membaca beberapa pesan yang baru masuk.
Wajahnya tetap datar, seolah keributan yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil dalam rutinitasnya.
Keheningan itu justru membuat Alyssa semakin gugup.
Ia ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Ia juga ingin meminta maaf karena telah menerobos masuk tanpa izin.
Namun aura dingin pria itu membuat setiap kata yang hendak keluar kembali tertelan.
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengar tiga ketukan pelan dari arah pintu.
Pria misterius melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masuk."
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Namun yang masuk bukan petugas hotel.
Bukan pula salah satu pengejar Alyssa.
Melainkan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
Tubuhnya tegap.
Rambut hitamnya tersisir rapi.
Ia mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam, serta sepatu kulit mengilap yang tampak jauh lebih mahal daripada pakaian kebanyakan anak seusianya.
Meski wajahnya masih menyimpan kepolosan seorang anak, sorot matanya justru tajam.
Tatapan itu...
Hampir sama persis dengan pria misterius di hadapannya.
Begitu pintu tertutup, anak itu langsung berjalan masuk tanpa sedikit pun keraguan.
"Papa."
Suara kecil itu memecah kesunyian.
Alyssa membelalak.
Papa?
Jadi...
Pria dingin itu sudah memiliki seorang putra?
Pria tersebut menoleh.
"Kau sudah selesai belajar?"
Anak itu mengangguk singkat.
"Sudah."
Jawabannya pendek.
Nada bicaranya tenang.
Namun kemudian...
Tatapannya beralih kepada Alyssa.
Raut wajahnya langsung berubah.
Alisnya mengernyit.
"Dia siapa?"
Tidak ada sapaan.
Tidak ada senyum.
Hanya tatapan penuh kecurigaan.
Alyssa mencoba tersenyum ramah.
"Halo..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
"Aku tidak bertanya padamu."
Suara bocah itu dingin.
Alyssa langsung terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka seorang anak kecil bisa berbicara setajam itu.
Anak itu kembali memandang ayahnya.
"Papa."
"Kenapa ada orang asing di kamar Papa?"
Pria misterius menutup layar ponselnya.
"Dia sedang mencari perlindungan."
Anak itu mendengus pelan.
"Itu bukan urusan kita."
Alyssa menelan ludah.
Kalimat itu terdengar begitu kejam jika keluar dari mulut anak berusia sepuluh tahun.
"Suruh dia keluar."
Perintah itu diucapkan tanpa sedikit pun keraguan.
Pria misterius belum menjawab.
Namun anak itu sudah berjalan mendekati Alyssa.
Langkahnya pelan.
Teratur.
Berhenti tepat di depan gadis itu.
"Kau dengar, kan?"
"Keluar."
Alyssa menggeleng pelan.
"Aku... aku tidak bisa."
"Mereka masih menungguku di luar."
"Itu bukan masalahku."
Anak itu melipat kedua tangannya.
"Kalau kau tetap di sini, kau mengganggu Papa."
Alyssa mencoba menjelaskan.
"Aku hanya ingin menunggu sampai keadaan aman."
"Tidak."
Jawaban itu tegas.
"Kau harus pergi sekarang."
"Aku mohon..."
Belum selesai Alyssa berbicara, bocah itu langsung meraih pergelangan tangannya.
"Cepat!"
Tarikannya memang tidak terlalu kuat.
Namun cukup mengejutkan Alyssa.
"Tunggu..."
Alyssa berusaha melepaskan diri secara perlahan agar tidak menyakiti anak itu.
"Aku tidak ingin membuatmu terluka."
"Aku juga tidak peduli."
Anak itu justru semakin kesal.
Ia mendorong lengan Alyssa.
"Pergi!"
Alyssa mundur satu langkah.
Namun ia tetap tidak melawan.
Ia sadar, anak ini mungkin hanya belum memahami situasinya.
Sayangnya...
Kesabaran bocah itu lebih cepat habis.
"Aku bilang pergi!"
Bruk!
Ia kembali mendorong Alyssa.
Kali ini lebih keras.
Tubuh Alyssa kehilangan keseimbangan hingga bahunya membentur sisi sofa.
Rasa nyeri menjalar.
Tetapi ia masih menahan diri.
"Aku tidak akan melukaimu."
"Aku tidak takut."
Tiba-tiba...
Anak itu mengangkat tangannya.
Sret!
Kuku kecilnya mencakar punggung tangan Alyssa.
"Ah!"
Alyssa spontan menarik tangannya.
Garis merah tipis langsung terlihat di kulitnya.
Belum sempat ia bereaksi—
"Aku benci orang asing!"
teriak anak itu.
"Semuanya pembohong!"
"Papa selalu repot karena orang lain!"
"Keluar!"
Suasana kamar berubah tegang.
Alyssa hanya memandangi luka kecil di tangannya.
Ia sama sekali tidak marah.
Yang justru ia lihat adalah...
Mata anak itu.
Tatapan penuh amarah.
Tetapi jauh di dalamnya...
Ada kesedihan yang sulit disembunyikan.
Seolah-olah...
Ia pernah kehilangan seseorang.
Dan sejak saat itu, ia tidak lagi mempercayai siapa pun.
Pria misterius akhirnya berdiri.
"Cukup."
Suaranya rendah.
Namun langsung membuat ruangan kembali sunyi.
Anak itu menoleh.
"Tapi Papa..."
"Cukup."
Untuk pertama kalinya, nada suara pria itu terdengar sedikit lebih tegas.
Anak tersebut mengatupkan bibirnya.
Ia memang berhenti mencakar Alyssa.
Tetapi sorot matanya tetap penuh penolakan.
"Aku tidak suka dia."
Pria itu berjalan mendekat.
Kemudian menatap luka di tangan Alyssa.
"Luka?"
Alyssa segera menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Hanya goresan kecil."
Ia sengaja tersenyum agar suasana tidak semakin buruk.
Anak itu justru semakin kesal melihat Alyssa tidak membalas.
"Kenapa kau tidak marah?"
Alyssa menatapnya lembut.
"Karena kau masih anak-anak."
Jawaban itu membuat bocah tersebut membeku beberapa detik.
Lalu...
Ia mendengus.
"Jangan bicara seolah mengenalku."
"Aku memang tidak mengenalmu."
"Tapi aku tahu..."
Alyssa menatap matanya.
"Anak yang benar-benar jahat tidak akan terlihat sesedih itu."
Kalimat itu membuat ekspresi bocah tersebut berubah.
Hanya sesaat.
Lalu ia kembali memasang wajah dingin.
"Aku tidak sedih."
"Aku hanya tidak suka orang asing."
Pria misterius memperhatikan percakapan mereka tanpa menyela.
Entah mengapa...
Untuk pertama kalinya ia melihat putranya tidak langsung meledak marah setelah melukai seseorang.
Biasanya...
Orang yang dicakar anak itu akan membentak balik.
Sebagian bahkan mengancam.
Namun perempuan di depannya justru memilih berbicara dengan tenang.
Alyssa mengusap pelan luka di tangannya.
"Aku minta maaf kalau kehadiranku membuatmu tidak nyaman."
"Aku akan pergi..."
"...begitu situasinya benar-benar aman."
Anak itu hendak menyela.
Namun tiba-tiba—
Ponsel pria misterius berdering.
Ia melihat nama yang muncul di layar.
Wajahnya yang sejak tadi tenang perlahan berubah serius.
Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Apa?"
Beberapa detik ia hanya mendengarkan.
Tatapannya kemudian mengarah ke jendela.
"Ada tambahan orang?"
"...Baik."
Telepon ditutup.
Pria itu membuka sedikit tirai.
Di bawah...
Bukan hanya empat mobil hitam.
Kini jumlahnya bertambah.
Beberapa pria lain baru saja turun dari kendaraan berbeda.
Mereka menyebar ke setiap pintu keluar hotel.
Jelas...
Mereka tidak akan pulang sebelum menemukan Alyssa.
Pria misterius menutup kembali tirai.
Lalu berkata pelan,
"Mulai sekarang..."
"Kalian berdua tidak boleh keluar dari kamar ini."
Alyssa tercengang.
Anak itu pun ikut menatap ayahnya.
"Papa?"
Pria itu tidak menjelaskan apa pun.
Namun sorot matanya menunjukkan satu hal.
Orang-orang di luar sana...
Bukan sekadar preman biasa.
Dan tanpa disadari Alyssa, pelariannya kini telah menyeret ayah dan anak itu ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
"Bagaimana? sejauh ini apakah kalian suka ceritanya?" MHKaylid_
Kesunyian kembali menyelimuti kamar hotel.
Alyssa masih berdiri di dekat jendela dengan jas hitam milik pria misterius yang kini tersampir di pundaknya.
Jas itu sengaja diberikan agar pakaian Alyssa yang kusut dan mudah dikenali tidak terlalu menarik perhatian bila nanti mereka harus keluar.
Di sisi lain ruangan, anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu masih memasang wajah masam.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Sesekali ia melirik Alyssa, lalu mengalihkan pandangannya seolah tidak ingin berurusan dengan perempuan asing itu.
Pria misterius berdiri membelakangi mereka.
Tatapannya tertuju ke luar jendela.
Belasan pria berpakaian hitam masih berjaga di sekitar area hotel.
Jumlah mereka justru bertambah.
Ia mengeluarkan ponsel tipis berwarna hitam dari saku jasnya.
Satu sentuhan.
Sambungan langsung terhubung.
"Hadir, Tuan."
Suara dari seberang terdengar tegas.
"Siapkan Tim Alpha."
"Siap."
"Bravo."
"Siap."
"Charlie."
"Siap."
"Aktifkan pengamanan tingkat satu."
Beberapa detik hening.
Lalu suara di seberang terdengar sedikit terkejut.
"Apakah ancamannya sebesar itu, Tuan?"
"Ya."
"Tiga menit."
"Saya ingin seluruh akses lobi, parkir bawah tanah, dan pintu servis berada dalam kendali."
"Perintah diterima."
Telepon terputus.
Alyssa yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa memandang pria itu dengan bingung.
Pengamanan tingkat satu?
Tim Alpha?
Bravo?
Charlie?
Siapa sebenarnya pria ini?
Belum sempat ia bertanya, ponsel pria itu kembali berdering.
Kali ini panggilan video.
Ia menerimanya.
Di layar tampak seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan setelan jas rapi.
"Tuan."
"Laporan."
"Seluruh kamera hotel sudah kami amankan."
"Rekaman sejak tiga puluh menit terakhir telah dipisahkan agar tidak dapat diakses pihak luar."
"Baik."
"Staf hotel?"
"Sudah menerima instruksi."
"Tidak seorang pun akan membocorkan keberadaan Anda."
Pria misterius mengangguk singkat.
"Tutup seluruh lantai ini."
"Ya, Tuan."
Panggilan kembali berakhir.
Alyssa mengerutkan dahi.
"Tunggu..."
Ia memberanikan diri berbicara.
"Kenapa semua orang memanggil Anda 'Tuan'?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
Justru anak laki-laki tadi yang mendengus pelan.
"Itu karena mereka bekerja untuk Papa."
Alyssa berkedip.
"Maksudmu...?"
Anak itu memutar bola matanya.
"Kau benar-benar tidak tahu?"
Alyssa menggeleng.
Dengan nada sedikit jengkel, bocah itu berkata,
"Hotel ini milik Papa."
Seolah petir menyambar tepat di atas kepalanya.
"Apa...?"
Seluruh hotel ini?
Hotel mewah dengan puluhan lantai, ribuan karyawan, dan fasilitas kelas dunia...
Dimiliki pria yang kini berdiri hanya beberapa meter darinya?
Alyssa menoleh tidak percaya.
Pria itu tetap tenang.
"Stttr anak ini"
Dia menutup mulut anaknya dengan rapat.
Alyssa kehilangan kata-kata.
Pantas saja...
Tidak ada petugas hotel yang berani membantahnya.
Pantas saja...
Hanya dengan satu panggilan telepon seluruh sistem keamanan langsung bergerak.
Sementara Alyssa masih berusaha mencerna kenyataan itu, ponsel pria tersebut kembali berbunyi.
"Hadir."
"Tuan."
"Seluruh personel sudah tiba."
"Lobi steril."
"Empat puluh dua pengawal telah bersiaga."
"Mobil utama dan kendaraan pengawal sudah di posisi."
"Bagus."
"Kita keluar lima menit lagi."
"Siap."
Telepon kembali ditutup.
Pria itu menoleh kepada putranya.
"Kita pulang."
Bocah itu mengangguk.
"Lalu dia?"
tatapannya kembali mengarah kepada Alyssa.
Pria misterius terdiam beberapa saat.
Sejujurnya...
Ia tidak pernah membawa perempuan asing ke kediamannya.
Bahkan selama bertahun-tahun, ia selalu menjaga jarak dari siapa pun.
Selain almarhum ibunya.
Dan neneknya yang kini tinggal di mansion keluarga.
Tidak ada perempuan lain yang pernah benar-benar berada di dekat kehidupannya.
Bukan karena membenci.
Melainkan karena terlalu banyak pengkhianatan yang pernah ia saksikan.
Ia tidak percaya siapa pun dengan mudah.
Namun...
Tatapannya jatuh kepada Alyssa.
Perempuan itu tidak meminta uang.
Tidak meminta perlindungan mewah.
Sejak awal, yang dimintanya hanya satu...
Kesempatan untuk selamat.
Ada sesuatu dalam sorot mata Alyssa yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
Seseorang yang pernah datang meminta pertolongan...
Namun gagal ia selamatkan.
Pria itu menghela napas pelan.
"Dia ikut."
Anak laki-laki itu langsung memprotes.
"Papa!"
"Keputusan Papa tidak berubah."
"Tapi kita bahkan tidak mengenalnya!"
"Justru karena itu."
"Kita tidak bisa meninggalkannya saat sedang diburu."
Anak itu mengembuskan napas kesal.
Namun ia tahu.
Jika ayahnya sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya.
Dua menit kemudian.
Pintu kamar terbuka.
Empat pria bertubuh tegap berdiri di luar.
Mereka mengenakan setelan jas hitam dengan alat komunikasi di telinga.
Begitu melihat pria misterius keluar, mereka serempak menundukkan kepala.
"Selamat siang, Tuan."
"Rute?"
"Aman."
"Lobi?"
"Sudah steril."
"Kendaraan?"
"Siap."
Pria itu mengangguk.
"Laksanakan."
"Siap."
Tanpa aba-aba dan peringatan, Pria misterius langsung menggendong tubuh Alyssa yang wajahnya sudah ditutupi jas hitam mahal miliknya.
Seketika Alyssa berpegangan pada lehernya karena pandangannya gelap dan dia tidak tahu akan dibawa kemana.
Namun dia yakin pria ini tulus menolongnya.
Dalam hitungan detik, para pengawal bergerak.
Sebagian lebih dahulu menuju lift.
Sebagian lagi memeriksa setiap sudut lorong.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Semuanya tampak terlatih.
Alyssa bahkan merasa seperti sedang menyaksikan operasi pengamanan seorang kepala negara.
Ia berdiri sedikit ragu.
Pria misterius menoleh kepadanya.
"Kenakan jas itu."
Alyssa segera merapikan jas hitam yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
"Jangan lepaskan."
"Baik."
Anak laki-laki itu berjalan lebih dulu di sisi ayahnya.
Meski wajahnya masih dingin, kali ini ia tidak lagi memaksa Alyssa pergi.
Lift VIP terbuka.
Mereka masuk.
Tidak ada tamu lain.
Tidak ada suara musik.
Hanya bunyi lembut mesin lift yang bergerak turun.
Sesampainya di lantai lobi...
Pintu lift terbuka perlahan.
Alyssa langsung tertegun.
Sepanjang koridor menuju pintu utama, puluhan pengawal bersetelan hitam telah berjajar rapi.
Sebagian menghadap ke depan.
Sebagian lagi mengawasi setiap sudut ruangan.
Para tamu hotel hanya bisa menatap dari kejauhan dengan rasa penasaran.
Tidak ada yang berani mendekat.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu siapa?"
"Kenapa pengamanannya seperti ini?"
"Apa ada pejabat penting?"
"Atau pemilik hotel?"
Namun tidak seorang pun memperoleh jawaban.
Pria misterius melangkah tenang.
Tanpa tergesa.
Tanpa menoleh.
Putranya berjalan di sisi kirinya.
Sementara Alyssa mengikuti beberapa langkah di belakang, tetap berada dalam formasi perlindungan para pengawal.
Sesekali ia dapat merasakan tatapan penasaran dari para tamu.
Namun tidak ada seorang pun yang dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup jas yang dikenakannya dan posisi para pengawal yang membentuk barisan pelindung.
Begitu rombongan mencapai pintu utama...
Pemandangan di luar membuat Alyssa kembali terdiam.
Lebih dari sepuluh kendaraan mewah telah berjajar.
Di tengah barisan itu berdiri sebuah Rolls-Royce hitam berkilau.
Pintunya telah dibukakan oleh seorang pengawal.
Udara siang terasa hening.
Bukan karena sepi.
Melainkan karena seluruh area telah diamankan.
Di kejauhan, beberapa pria yang sebelumnya mengejar Alyssa tampak memperhatikan dari balik kendaraan mereka.
Mereka saling berbisik.
"Itu..."
"Bukankah itu iring-iringan pemilik hotel?"
"Wanita itu bersama mereka."
"Wajib lapor ke Bos."
Tak satu pun dari mereka berani mendekat.
Mereka menyadari bahwa situasinya telah berubah.
Yang semula tampak seperti mangsa yang mudah ditangkap, kini berada di dalam perlindungan seseorang yang memiliki kekuasaan besar.
Pria misterius berhenti sejenak di samping mobil.
Ia menoleh kepada Alyssa.
"Masuk."
Alyssa sempat ragu.
"Apa... apakah aku benar-benar tidak merepotkan?"
Pria itu menatapnya beberapa saat.
"Luka di tanganmu belum diobati."
"Dan orang-orang itu masih menunggumu."
"Itu cukup sebagai alasan."
Jawaban singkat itu membuat Alyssa menundukkan kepala.
"Terima kasih."
Ia masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
Anak laki-laki itu menyusul, masih diam dan memasang wajah datar.
Beberapa detik kemudian, pria misterius ikut masuk.
Pintu Rolls-Royce tertutup perlahan.
Konvoi kendaraan mulai bergerak meninggalkan hotel.
Alyssa menoleh ke luar jendela.
Gedung hotel yang megah itu perlahan menjauh.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pelariannya dari para penjahat telah membawanya bertemu seorang pria yang ternyata merupakan pendiri hotel tersebut—seseorang yang disegani banyak orang, namun menyimpan sikap dingin terhadap hampir semua perempuan.
Di dalam mobil, suasana kembali hening.
Tak seorang pun berbicara.
Namun jauh di dalam hati Alyssa, muncul satu pertanyaan yang terus berputar.
Siapakah sebenarnya pria misterius yang baru saja mempertaruhkan keamanan dan ketenangannya demi melindungi seorang perempuan asing yang bahkan baru dikenalnya beberapa jam lalu?
"Jujur aja! Seru gak?? Kalau seru jangan ragu buat komen ya cintaa" MHKaylid_
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!