Indonesia
NovelToon NovelToon

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Bab 1: Bencana Bernama Kian

Gue punya satu teori, takdir itu kadang punya selera humor yang agak jahat.

Di saat cewek-cewek lain membayangkan jodoh mereka adalah pangeran tampan yang datang menunggangi kuda putih, takdir malah menyodorkan Kian ke hadapan gue. Seorang cowok yang waktu kelas tiga SD pernah nempelin permen karet di rambut gue dan ngeles kalau itu adalah bentuk "seni instalasi."

Kian itu sahabat gue dari kecil. Dari zaman ingus kita masih sering keluar-masuk secara otomatis, sampai zaman di mana dia berubah jadi playboy kelas teri yang hobi gonta-ganti pacar kayak ganti kaos kaki. Gue tahu semua bobroknya Kian. Gue tahu dia paling takut sama kecoak terbang, tahu kalau dia makan bubur ayam harus diaduk sampai bentuknya mirip adonan semen, dan tahu persis gimana mukanya kalau lagi bohong.

Masalahnya cuma satu, gue suka sama dia.

Dan menyukai sahabat sendiri yang punya rekor kencan melebihi jumlah anggota DPR itu adalah bentuk siksaan batin paling tragis. Makanya, gue memutuskan buat memendam perasaan itu dalam-dalam, menguncinya di dasar hati paling bawah, dan melapisinya dengan semen tiga roda biar gak bocor.

Sampai sore itu, di kafe dekat kampus.

Gue duduk di pojok ruangan sambil ngeliat Kian lagi ngobrol serius sama cewek cantik berambut gelombang. Namanya Vanya. Sudah seminggu ini gue ngeliat Vanya bolak-balik ngejar dan nempel terus sama Kian. Dan sore ini, gue ngeliat Kian merangkul pundak Vanya, bisik-bisik sesuatu, lalu tersenyum manis banget.

Gue menyedot es kopi susu gue dengan brutal sampai bunyi srooot nyaring banget. Nyesek. Fix, Kian emang udah gaet cewek baru lagi. Perasaan gue yang udah ditimbun semen rasanya makin retak. Gue sadar, sampai kapan pun, gue cuma bakal jadi sahabat tempat dia cerita soal cewek-ceweknya. Gue harus bener-bener nyerah.

"Elora, Kian, kumpul dulu ke meja makan!" suara Mama memecah lamunan gue malam itu.

Malam minggu kali ini agak beda. Keluarga Kian datang ke rumah gue buat makan malam bersama. Kebiasaan ini udah rutin dari dulu karena orang tua kita sahabatan. Tapi malam ini, atmosfer di meja makan rasanya agak mencurigakan. Papa dan Om Heru ayahnya Kian terus-terusan tukar senyum misterius kayak dua penjahat di film kartun yang baru berhasil nyuri emas.

Kian duduk tepat di depan gue. Dia pakai kemeja kasual dan pastinya kelihatan ganteng. Sialan emang.

"Jadi begini," Om Heru berdehem, membuka pembicaraan setelah hidangan penutup selesai disajikan. "Karena kalian berdua udah sama-sama dewasa, udah mau lulus kuliah juga... Papa sama Om mau nagih janji lama."

Gue menaikkan sebelah alis. "Janji apa, Om? Jangan-jangan bagi warisan?"

Mama mencubit paha gue pelan. "Hush! Dengarin dulu."

"Dulu, waktu kalian masih di dalam kandungan, kita berempat pernah janji," sambung Papa dengan wajah cerah. "Kalau anak kita laki-laki dan perempuan, mau kita jodohkan. Dan malam ini, kita mau perjelas soal perjodohan itu."

UHUK!

Kian yang lagi minum air putih langsung tersedak hebat. Gue sendiri hampir menelan sendok kecil yang lagi gue pegang.

"Perjodohan?!" pekik gue dan Kian berbarengan.

"Iya, perjodohan," kata Tante Maya, mamanya Kian, sambil tersenyum lebar. "Tapi tenang aja, kita orang tua modern kok. Kita gak bakal maksa. Asal salah satu dari kalian ada yang setuju, perjodohan ini jalan. Tapi kalau dua-duanya nolak... ya udah, dianggap wacana lama aja."

Ruangan langsung hening. Mata semua orang tertuju ke gue dan Kian.

Gue menatap Kian. Pikiran gue langsung berputar cepat. Nggak. Gue gak bisa nikah sama dia. Gue baru aja memutuskan buat nyerah sore tadi setelah ngeliat dia sama Vanya. Kalau gue terima perjodohan ini, hidup gue bakal hancur karena harus terus-terusan makan hati ngeliat suami sendiri lirak-lirik cewek lain. Gue gak mau jadi pahlawan kesiangan yang berharap bisa mentobatkan seorang playboy.

"Aku nolak," kata gue cepat dan tegas, menatap lurus ke arah orang tua kami. "Elora gak setuju, Ma, Pa. Kita berdua kan udah kayak saudara."

Gue melirik Kian, berharap dia bakal mengangguk setuju dan mendukung pernyataan gue biar masalah ini selesai. Tapi yang gue lihat justru ekspresi Kian yang berubah total.

Matanya menyipit. Dia menatap gue dengan tatapan yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Tatapan dingin, tajam, dan... tersinggung?

"Gak setuju?" Kian bersuara. Suaranya rendah, beda banget sama nada tengilnya yang biasa.

"Ya... iya lah. Kan kita sahabat dari kecil, Kian," balas gue agak ragu.

Kian menyandarkan punggungnya ke kursi, masih menatap gue tanpa berkedip. "Kok bisa kamu gak setuju? Emang aku seburuk itu di mata kamu?"

Gue mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba pakai bahasa resmi begitu. "Maksudnya gimana?"

Kian mengalihkan pandangannya ke orang tua kami, lalu tersenyum tipis, senyum kaku yang terkesan dipaksakan.

"Kian setuju sama perjodohannya, Pa, Ma," kata Kian tenang.

DEG.

Dada gue serasa dihantam godam raksasa.

"WAH! SERIUS KAMU, KIAN?!" Tante Maya langsung bertepuk tangan heboh. Mama dan Papa langsung berpelukan girang, diikuti gelak tawa dan sorak-sorai kedua keluarga yang memenuhi ruang makan.

Di tengah riuhnya suara tepuk tangan dan godaan orang tua kami, gue dan Kian cuma saling tatap. Dua pasang mata yang saling menatap dingin di antara kebahagiaan orang tua kami.

Kian menatap gue dingin karena gengsinya terluka parah. Batinnya pasti berteriak, Kok bisa-bisanya cewek yang kenal gue dari kecil ini nolak gue secara mentah-mentah di depan umum? Emang gue kurang cakep apa?!

Sementara gue menatap Kian tak kalah dingin. Gue yakin, Kian setuju cuma karena sengaja mau ngerjain gue. Dia terima perjodohan ini biar bisa nikah gampang, tetep bisa bebas main cewek karena kita udah kenal bobrok masing-masing, sementara dia gak tahu kalau gue baru aja berjuang setengah mati buat mematikan perasaan cinta gue ke dia.

"Nah, karena Kian setuju, berarti perjodohan ini sah!" seru Papa gembira. "Tapi biar fair buat Elora, kita kasih waktu 6 bulan buat kalian berdua PDKT secara resmi sebagai pasangan. Bukan cuma sebagai sahabat lagi!"

Gue menelan ludah pahit. Enam bulan. Enam bulan terjebak dalam permainan gengsi cowok di depan gue ini.

Selamat datang di neraka, Elora.

To be continued..

Bab 2: Kencan Pertama Rasa Pare

Begitu acara makan malam selesai dan orang tua kami sibuk merencanakan tanggal kencan pertama dengan antusiasme setara panitia OSIS mau bikin pensi, gue langsung menarik Kian ke teras samping.

Malam makin dingin, tapi tatapan mata kita berdua jauh lebih membekukan.

"Lu kesambet setan mana, sih?" semprot gue langsung, melipat tangan di dada. "Kian, lu gila ya? Ini nikah, bukan daftar ulang ekskul Pramuka! Kenapa lu main setuju-setuju aja?!"

Kian bersandar santai di pilar teras, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresi dinginnya dari meja makan tadi udah berganti jadi cengiran tengil yang paling bikin gue pengen melempar dia pakai pot bunga.

"Kenapa? Ya karena gue mau," jawabnya enteng.

"Alasan lu apa?!"

"Alasan gue?" Kian memajukan wajahnya sedikit, menatap gue tepat di mata. "Harga diri gue terluka, Ra. Lu nolak gue di depan orang tua kita seolah-olah gue ini kotoran ayam yang gak sengaja keinjak sandal lu. Emang gue seburuk itu sampai lu nolak tanpa mikir dua kali?"

"Ya iyalah!" seru gue, reflek menunjuk mukanya. "Lu itu playboy! Minggu lalu lu jalan sama pacar lu yang mahasiswi hukum, kemarin lusa gue ngeliat lu meluk cewek di kafe! Terus sekarang lu mau nikah sama gue? Lu cuma mau jadiin pernikahan ini tameng kan, biar hidup lu tetap bebas dan lu bisa terus main cewek tanpa dikejar-kejar pertanyaan 'kapan nikah' dari Tante Maya?!"

Kian terdiam sebentar. Ada kilat aneh di matanya pas gue nyebut kejadian di kafe kemarin, tapi itu cuma bertahan sedetik sebelum dia terkekeh pelan.

"Ooh... jadi lu mikir gue terima ini cuma buat pelarian?" Kian mendekat satu langkah. Jarak kami sekarang dekat banget, sampai gue bisa mencium wangi parfume woody khas dia yang sialnya wangi banget. "Gini ya, Elora. Kita dikasih waktu enam bulan sama orang tua kita. Enam bulan buat PDKT resmi. Kalau dalam enam bulan lu tetap gak mau, ya udah, kita batal. Tapi selama enam bulan ini, lu harus jalanin peran lu."

"Peran apa?"

"Peran jadi calon istri gue," bisik Kian di dekat telinga gue, nadanya jahil tapi berhasil bikin bulu kuduk gue berdiri dan jantung gue loncat marathon. "Siap-siap aja, Ra. Gue bakal bikin lu menyesal pernah nolak gue."

Sialan. Cowok ini bener-bener dendam cuma gara-gara gengsinya tercoreng!

Hari pertama dari masa percobaan enam bulan itu dimulai dengan musibah di Minggu pagi.

Jam delapan pagi, HP gue berbunyi nyaring. Begitu gue angkat dengan suara khas orang baru bangun tidur, suara Mama langsung menggelegar di seberang telepon.

"Elora! Kamu belum bangun?! Kian udah nungguin di depan rumah dari sepuluh menit yang lalu! Dia mau ngajak kamu kencan pertama!"

Gue langsung melompat dari kasur. "Hah?! Kencan apa—"

"Gak ada alasan! Cepat mandi, pakai baju yang cantik! Jangan sampai Mama lihat kamu keluar cuma pakai kaus partai dan celana training bolong!"

Klek.

Telepon dimatikan sepihak.

Dengan panik dan serangkaian sumpah serapah untuk Kian di dalam hati, gue mandi kilat lima menit dan asal nyomot baju. Begitu gue turun ke lantai bawah, gue melihat Kian sedang duduk manis di sofa tamu, menyesap teh hangat sambil ngobrol akrab sama Papa. Dia pakai kaus hitam polos dan jaket denim. Ganteng, rapi, dan terlihat sangat sangat berniat untuk mengacak-acak ketenangan hidup gue.

"Pagi, Calon istri," sapa Kian tanpa dosa begitu melihat gue turun.

Gue hampir tersedak ludah sendiri. "Gak usah panggil gitu, geli!"

"Loh, kan latihan," sahut Kian santai, lalu pamit ke orang tua gue sambil mencium tangan mereka sopan banget. Aktingnya bener-bener dapat nilai seratus.

Di dalam mobil Kian, suasananya canggung luar biasa. Gue menyilangkan tangan di dada, menatap lurus ke kaca depan.

"Kita mau ke mana?" tanya gue ketus.

"Ke pasar kaget," jawab Kian asal.

"Kian!"

"Ya lagian lu galak amat dari tadi. Kita mau sarapan, Ra. Lu belum makan kan?" Kian menjalankan mobilnya membelah jalanan pagi.

Akhirnya kita sampai di sebuah warung bubur ayam langganan kami sejak SMA. Tempatnya ramai, tapi untungnya masih ada satu meja kosong di pojok. Kami duduk berhadapan.

Satu hal tentang Kian, dia tahu persis selera gue. Tanpa perlu gue minta, dia memesan dua mangkok bubur. Pas buburnya datang, dengan refleks yang udah terlatih bertahun-tahun sebagai sahabat, Kian mengambil mangkok gue. Dia memisahkan daun seledri satu per satu karena dia tahu gue benci seledri, lalu menambahkan dua sendok sambal dan kecap manis secukupnya.

Setelah selesai, dia menggeser mangkok itu ke depan gue. "Nih."

Gue mematung melihat mangkok bubur di depan gue. Perlakuan kecil yang biasa dia lakukan ini mendadak terasa beda banget sekarang. Dada gue rasanya mencelos.

Kenapa sih dia harus perhatian banget kalau cuma mau main-main?

"Makasih," gumam gue pelan, lalu mulai mengaduk bubur gue.

Kian sendiri mulai memakan buburnya yang... dihancurkan sampai bentuknya tidak estetis sama sekali. Typical Kian.

"Ra," panggil Kian di tengah-tengah kunyahannya.

"Apa?"

"Cewek di kafe kemarin lusa itu..." Kian menggantung kalimatnya, menatap gue penuh selidik. "Lu merhatiin gue banget ya kemarin? Sampai tahu gue meluk dia?"

Tangan gue yang lagi memegang sendok seketika membeku. Waduh. Skakmat.

Gue mencoba memasang raut muka secuek mungkin, walau dalam hati udah panik setengah mati. "Gak sengaja lewat aja. Lagian lu gak tahu tempat banget, meluk-meluk cewek di tempat umum."

Kian tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dia itu buk—"

BZZZZT! BZZZZT!

HP Kian yang ada di atas meja mendadak bergetar. Di layarnya, muncul nama pemanggil, Vanya. Cewek cantik berambut gelombang yang kemarin sore ngobrol mesra sama Kian di kafe.

Kian melirik HP-nya, lalu melirik gue. Gue langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk mengunyah bubur dan menatap jalanan di luar warung. Tuh kan. Baru juga jam sembilan pagi di kencan pertama, ceweknya udah nyariin.

Kian menggeser tombol hijau, menggeser HP itu ke telinganya.

"Ya, Van?" kata Kian dengan nada suara yang mendadak lembut. "Gue lagi di luar... Sama Elora... Nanti gue kabarin lagi ya."

Kian mematikan teleponnya.

Suasana di meja makan kami yang tadi sempat agak hangat, mendadak langsung anjlok terjun bebas ke titik beku. Rasa bubur ayam di mulut gue langsung berubah jadi kayak rasa pare. Pahit.

Gue menaruh sendok, menyapu bibir pakai tisu, lalu menatap Kian dengan senyum paling plastik yang pernah gue buat dalam hidup gue.

"Panggilan dari pacar lu ya?" tanya gue tenang, menahan sesak di dada yang rasanya mau meledak. "Kalau ada urusan, anterin gue pulang aja sekarang, Ki. Gak usah dipaksa kencannya."

To be continued..

Bab 3: Sumpah Demi Bubur Ayam yang Diaduk

Kian mematung. Tatapannya tertahan di wajah gue yang lagi berusaha keras kelihatan santai, cuek, dan sama sekali gak terpengaruh.

Gue menyedot es teh manis gue sampai menyisakan bunyi sroooot yang memecah keheningan di warung bubur. "Serius, Ki. Kalau Vanya butuh bantuan lu atau kalian mau jalan, sok aja. Gue bisa pulang naik ojek online kok."

Kian gak menjawab. Dia cuma menghela napas panjang, meraup wajahnya kasar pakai sebelah tangan, lalu menaruh HP-nya di meja dengan posisi dilipat telungkup.

"Gak ada yang mau jalan sama Vanya, Elora," kata Kian dengan suara rendah. "Dan dia bukan cewek gue."

"Iya, iya, terserah. Kan definisi 'cewek lu' emang fleksibel banget," sahut gue asal, sibuk memindahkan sisa kerupuk ke mangkok gue. "Lagian lu gak perlu jelasin ke gue. Kita kan cuma lagi... simulasi."

"Simulasi mata lu," potong Kian cepat, bikin gue spontan mendongak.

Mata Kian menyipit. Kerutan di dahinya dalam banget, tanda kalau dia lagi benar-benar jengkel. "Lu tahu gak, Ra? Dari tadi di meja makan rumah lu sampai di sini, lu terus-terusan masang tembok setinggi Monas. Lu udah nge-judge gue seolah gue ini penjahat kelamin yang mau ngerusak hidup lu."

"Lah, emang fakta kan?" tembak gue gak mau kalah. "Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri kemarin sore di kafe! Lu meluk bahunya Vanya, lu bisik-bisik ke dia sambil senyum-senyum! Terus sekarang dia nelfon lu pagi-pagi gini, dan lu mau ngeles kalau kalian gak ada hubungan apa-apa?"

Kian memejamkan mata sejenak, kayak lagi menahan diri buat gak ngamuk di tempat. Dia memajukan tubuhnya ke arah gue, menopang kedua siku di atas meja kayu.

"Vanya itu sepupunya Bima," kata Kian pelan, menyebut nama salah satu teman tongkrongan kami. "Dia lagi dikejar-kejar sama mantannya yang toksik dan suka mengancam. Kemarin sore di kafe, mantannya Vanya itu tiba-tiba datang dan bikin ulah. Gue yang lagi nongkrong di sana reflek pasang badan. Gue meluk bahunya Vanya biar tuh cowok mundur dan tahu Vanya gak sendirian!"

Gue terpaku. Sendok di tangan gue hampir terlepas lagi. "Hah?"

"Telepon tadi?" Kian menunjuk HP-nya di atas meja. "Dia cuma mau nanya Bima ada di mana karena HP Bima gak aktif. Gue bilang gue lagi sama lu, biar dia gak enak kalau mau minta tolong apa-apa lagi ke gue!"

Gue menelan ludah. Tenggorokan gue mendadak rasanya kering banget. "Tapi... tapi yang cewek mahasiswi hukum minggu lalu..."

"Itu KLIEN bokap gue!" potong Kian gemas. "Bokap minta gue nganter berkas ke dia karena beliau lagi ada meeting. Demi Tuhan, Elora, lu mikir gue seleluasa itu jalan sama cewek?"

Gue terdiam total. Suasana hening sejenak, cuma terdengar deru mesin motor dari jalan raya dan bapak-bapak di meja sebelah yang lagi menyeruput kopi.

Pikiran gue langsung berputar balik. Semua adegan yang selama beberapa minggu terakhir bikin hati gue potek dan berasumsi kalau Kian adalah playboy kawakan... ternyata cuma kesalahpahaman raksasa yang gue rangkai sendiri di dalam kepala.

Aduh. Malu banget. Mau tukar tambah muka di mana gue sekarang?

"Jadi..." suara gue mencicit, mendadak kehilangan keberanian yang tadi membakar dada. "Lu... gak lagi dekat sama siapa-siapa?"

Kian menatap gue datar, tapi ada kilat kejahilan yang perlahan muncul di matanya. "Kenapa? Lu kecewa karena teori lu patah?"

"Nggak!" seru gue cepat, muka gue mendadak terasa panas. "Gue kan cuma memastikan! Ya bagus kalau lu gak punya pacar, berarti lu gak lagi menduakan anak orang pas kita dijodohin!"

Kian tertawa pelan. Tawa renyah yang bikin dada gue desir-desir gak karuan. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menyandarkan punggungnya lagi.

"Gue emang bukan malaikat, Ra. Dulu gue pernah pacaran, iya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, gue udah gak dekat sama cewek mana pun," kata Kian, menatap gue lurus-lurus. "Makanya waktu bokap nyebut soal perjodohan semalam, gue gak ada beban buat setuju."

Gue menunduk, pura-pura sibuk mengaduk es teh manis yang es batu-nya udah meleleh semua. Kalau Kian gak punya siapa-siapa, terus alasan dia terima perjodohan ini... beneran cuma gara-gara gengsinya terluka pas gue tolak?

"Tapi lu," sambung Kian, nadanya mendadak berubah serius. "Alasan lu nolak semalam... beneran cuma karena mikir gue playboy?"

Pertanyaan itu menghantam gue tepat di ulu hati.

Gak mungkin gue jujur dan bilang.. Bukan, Kian. Gue nolak karena gue udah suka sama lu dari dulu, dan gue takut kalau kita nikah, lu gak bakal pernah bisa balik mencintai gue sebagai cewek, melainkan cuma menganggap gue sahabat masa kecil lu.

"Ya... iya lah," bohong gue setengah mati, memaksakan cengiran paling wajar yang gue punya. "Gue kan mikirnya lu mau manfaatin gue biar bisa bebas main cewek. Siapa juga yang mau dijadiin tameng?"

Kian mengamati wajah gue lama banget, seolah-olah dia lagi mencari celah kebohongan di sana. Tapi akhirnya dia cuma menghela napas dan tersenyum tipis.

"Ya udah. Berarti sekarang kesalahpahamannya udah beres kan?" Kian mengetuk-ngetuk meja. "Habis ini ikut gue."

"Ke mana lagi?"

"Ke mal."

"Ngapain pagi-pagi ke mal?"

Kian menyeringai tengil, kembali ke mode tengilnya yang biasa. "Ibu Negara alias Nyokap gue udah nge-WA dari tadi. Beliau minta bukti foto kita lagi kencan hari ini. Kalau gak ada foto bergandengan tangan, uang jajan gue bulan ini dipotong lima puluh persen."

Gue melotot. "Gila! Lu mau manfaatin gue demi uang jajan?!"

"Bukan manfaatin, Ra," Kian berdiri, mengambil dompetnya lalu mengacak rambut gue asal sampai berantakan. "Ini dinamakan kerja sama strategis antara dua calon pengantin. Yuk, Calon!"

"Kian! Jangan panggil gitu di tempat umum!" jerit gue pelan sambil menyusul langkah lebarnya. Tapi di balik omelan gue, ada rasa lega yang aneh... sekaligus ketakutan baru yang makin membesar di dalam dada.

Bagaimana cara gue bertahan melewati masa enam bulan ini, kalau setiap kali Kian tersenyum di dekat gue, benteng pertahanan yang udah gue bangun bertahun-tahun rasanya mau runtuh seketika?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!