Jam dinding di sudut kamar menunjukkan pukul 23.47 malam, tapi tak ada yang benar-benar peduli dengan waktu di ruangan itu. Tirai tertutup rapat, satu-satunya sumber cahaya datang dari layar laptop yang menyala di atas meja berantakan, memantul pada wajah seorang pemuda yang duduk bersandar di kursi kerjanya.
Namanya tidak penting lagi diingat siapa pun—bahkan dirinya sendiri kadang lupa terakhir kali ada yang memanggil namanya dengan nada hangat. Usianya dua puluh dua tahun. Kamarnya adalah dunia yang lebih nyata baginya daripada dunia di luar sana.
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali ia benar-benar keluar rumah untuk alasan selain membeli makanan atau mengambil paket. Kuliahnya berhenti di semester empat. Pekerjaan lepas menerjemahkan teks di internet cukup untuk membayar tagihan dan berlangganan beberapa platform streaming. Hidupnya berjalan dalam siklus yang sama: bangun siang, makan seadanya, kerja seperlunya, lalu menghabiskan sisa waktu menonton apa saja yang bisa membuatnya lupa bahwa hari itu telah berlalu tanpa arti.
Ia tidak sedih. Setidaknya, ia tidak pernah menyebut dirinya sedih. Kata yang lebih tepat adalah kosong—seperti ruangan yang catnya sudah pudar sejak lama, dan tak ada yang repot-repot mengecatnya ulang karena toh tidak ada yang datang berkunjung.
Malam itu berbeda, meski ia belum menyadarinya.
Ia sedang menonton episode terakhir dari sebuah serial anime yang telah ia ikuti selama berbulan-bulan. Bukan cerita tentang kekuatan super atau pertarungan megah yang membuatnya terpaku, melainkan satu adegan sederhana—tokoh utamanya, yang dulunya penuh keraguan dan merasa tidak berguna, akhirnya berdiri di depan orang-orang yang pernah meremehkannya dan berkata, dengan suara yang tidak lagi gemetar:
"Aku tidak butuh alasan untuk mulai. Aku hanya butuh memutuskan untuk melangkah."
Kalimat itu—sesederhana apa pun kedengarannya bagi orang lain—menghantam sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidak tersentuh.
Ia menatap layar itu lama sekali setelah episode selesai, layar hitam dengan tulisan kredit yang bergulir pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam entah berapa tahun, sesuatu bergerak di dadanya. Bukan euforia besar, bukan air mata dramatis. Hanya sebuah bisikan kecil, pelan, tapi jujur.
Mungkin aku juga bisa mulai. Besok. Aku akan mulai besok.
Ia bahkan sudah membayangkannya—membuka jendela kamarnya untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan\, mencari lowongan kerja yang sesungguhnya\, mungkin menghubungi kembali salah satu teman lama yang pesannya belum ia balas sejak dua tahun lalu. Pikiran-pikiran kecil itu\, yang biasanya akan ia tepis dengan alasan *nanti saja\, aku belum siap*\, malam itu terasa berbeda. Terasa mungkin.
Ia menutup laptopnya, merasa lelah namun dengan cara yang asing—lelah yang terasa seperti awal, bukan akhir.
Ia tidak pernah tahu bahwa itu adalah pikiran terakhirnya sebagai manusia biasa.
---
Suara itu nyaris tak terdengar—derit pelan dari jendela yang terdorong terbuka dari luar. Kamarnya ada di lantai dua, dan seharusnya tidak ada yang bisa mencapainya semudah itu. Tapi malam itu, seseorang berhasil.
Sosok berjubah hitam menyelinap masuk tanpa suara, bergerak dengan kelihaian seseorang yang sudah terlatih untuk tidak pernah tertangkap. Tangannya menggeledah laci meja, mencari sesuatu yang berharga—uang tunai, barang elektronik, apa pun yang bisa dijual cepat.
Pemuda itu baru menyadari kehadirannya ketika bayangan hitam itu sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya, terkejut karena mengira kamar itu kosong.
Ada momen hening yang aneh. Dua pasang mata saling bertatapan dalam gelap—satu penuh ketakutan yang baru saja diselamatkan oleh mimpi kecil tentang esok hari, satu lagi dipenuhi kepanikan seorang pencuri yang tahu ia baru saja tertangkap basah.
"Tunggu—" Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Pencuri itu bergerak lebih dulu, didorong oleh insting bertahan hidup yang buta akan konsekuensi. Sebilah pisau lipat kecil, yang tadinya hanya dibawa sebagai jaga-jaga, kini terhunus dan menghantam tanpa perhitungan.
Rasa sakit itu datang cepat, lalu menghilang lebih cepat lagi—digantikan oleh sensasi dingin yang merambat dari dada ke seluruh tubuh. Ia merosot ke lantai kamarnya sendiri, kamar yang selama bertahun-tahun menjadi seluruh dunianya, kini menjadi tempat terakhir ia melihat langit-langit yang sama, dengan poster anime yang sudah menguning di sudutnya.
Pandangannya mengabur. Suara langkah kaki pencuri yang panik melarikan diri terdengar samar, seolah datang dari balik air.
Dan dalam detik-detik terakhir kesadarannya, yang muncul bukan penyesalan atas hidup yang sia-sia, bukan pula ketakutan akan kematian itu sendiri.
Yang muncul hanyalah satu pikiran kecil, konyol, namun jujur sampai ke akar-akarnya:
Aku baru saja mau mulai... Kenapa harus sekarang?
Kegelapan menelannya bulat-bulat setelah itu. Tidak ada rasa sakit lagi. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Hanya hampa—hampa yang jauh berbeda dari kehampaan yang selama ini ia kenal.
---
Ketika kesadaran itu perlahan kembali, tidak ada langit-langit kamar yang menyambutnya. Tidak ada dinding, tidak ada lantai, tidak ada gravitasi yang bisa ia rasakan.
Hanya cahaya putih yang membentang tanpa batas ke segala arah, sunyi dengan cara yang hampir menenangkan—seperti berada di dalam ruang antara satu napas dan napas berikutnya, di mana waktu tak lagi memiliki arti.
Ia mengangkat tangannya sendiri di hadapan wajahnya, memastikan bahwa ia masih memiliki tubuh, meskipun tidak yakin apakah kata "tubuh" masih berlaku di tempat seperti ini.
Apakah ini... akhir dari segalanya?
Sebuah suara menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat ia ucapkan keras-keras—suara yang datang dari segala arah sekaligus, namun anehnya terasa dekat, seolah berbisik tepat di sebelah telinganya.
"Belum," suara itu berkata, dengan nada yang berwibawa namun santai, seperti seseorang yang telah menyaksikan miliaran akhir dan awal, dan tidak lagi terkesan oleh keduanya. "Sebenarnya, ini baru permulaan."
Dari kejauhan cahaya putih itu, sesosok bayangan mulai terbentuk, melangkah mendekat dengan tenang—seolah waktu tidak pernah menjadi masalah baginya.
Dan di situlah, di antara kekosongan yang tidak lagi menakutkan, hidup barunya akan dimulai.
---
*Bersambung ke Bab 2: Empat Permintaan*
Sosok itu akhirnya berhenti melangkah beberapa meter di hadapannya.
Wujudnya tidak seperti yang ia bayangkan tentang seorang "dewa"—tidak ada cahaya menyilaukan berlebihan, tidak ada jubah keemasan atau mahkota bercahaya. Yang berdiri di sana adalah sesosok pria berjubah sederhana berwarna abu-abu keperakan, dengan wajah yang sulit ditebak usianya—bisa tiga puluh, bisa juga tiga ribu tahun. Matanya tenang, memancarkan semacam wibawa yang tidak perlu dipaksakan, seperti seseorang yang sudah lama berhenti merasa perlu membuktikan kekuasaannya pada siapa pun.
"Kau pasti bingung," sosok itu berkata, nadanya santai, hampir seperti sedang mengobrol dengan tetangga lama. "Itu wajar. Semua orang bingung di titik ini."
"...Aku sudah mati." Bukan pertanyaan. Lebih seperti kalimat yang perlu ia ucapkan sendiri agar terasa nyata.
"Betul sekali." Sosok itu mengangguk santai, seolah sedang mengonfirmasi cuaca hari itu. "Dibunuh oleh seorang pencuri yang panik. Ironis, bukan? Malam terakhirmu justru adalah malam ketika kau memutuskan untuk mulai berubah."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau yang mengakhiri hidupnya.
"Siapa kau?"
"Kau bisa memanggilku Dewa Agung." Sosok itu tersenyum tipis, seperti menikmati nada formal dari sebutannya sendiri. "Meskipun aku sendiri lebih suka jika kau tidak terlalu kaku memanggilku begitu terus-menerus."
"Aku... akan masuk neraka? Atau surga?"
"Bukan keduanya." Dewa Agung melangkah lebih dekat, tangannya terangkat santai seolah menunjuk pada kekosongan cahaya putih di sekeliling mereka. "Kau berdiri di ambang sesuatu yang jauh lebih menarik daripada surga atau neraka. Aku menawarimu sebuah kesempatan kedua."
---
Dewa Agung menjelaskan semuanya dengan nada yang terlalu ringan untuk sesuatu sebesar ini—bahwa ada dunia lain, jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan, bernama Astral. Bahwa di dunia itu, ia bisa memulai kehidupan baru. Dan sebagai kompensasi atas kematian yang tidak adil, ia akan diberi Empat Permintaan—apa pun yang ia inginkan, untuk dibawa serta ke kehidupan barunya.
"Tentu," Dewa Agung menambahkan, mengangkat tiga jari dengan santai, "ada beberapa batasan. Aturan main, bisa dibilang begitu."
"Pertama—kau tidak boleh meminta menjadi dewa. Ketuhanan bukan hadiah yang bisa diberikan cuma-cuma. Itu harus diperjuangkan sendiri, dengan caramu sendiri, jika memang itu jalan yang ingin kau tempuh nanti."
"Kedua—permintaanmu tidak boleh bersifat tak terbatas. 'Kekuatan tanpa batas' atau semacamnya tidak akan dikabulkan. Semuanya harus punya bentuk, punya batas, meski batas itu bisa sangat besar."
"Ketiga," suaranya sedikit lebih rendah di titik ini, "kau tidak boleh meminta 'System', atau apa pun yang menyerupainya. Itu... bisa membahayakan kami, para dewa. Kau tidak perlu tahu alasannya sekarang. Cukup ketahui bahwa ini adalah satu-satunya permintaan yang benar-benar akan kutolak mentah-mentah, apa pun alasanmu."
Ia mengangguk pelan, mencoba mencerna semuanya. Kematian, dunia baru, empat permintaan, tiga batasan. Semuanya terasa terlalu besar untuk dipikirkan sekaligus.
"Dan," Dewa Agung menambahkan, kali ini nadanya berubah sedikit lebih serius, "sebagai balasannya, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Apa itu?"
"Berburu." Satu kata itu digantung di udara sejenak. "Ada seseorang di Astral yang memiliki eksistensi aneh yang kami sebut 'System'. Hanya satu orang, tapi dia berbahaya—bagi dunia, dan bagi kami. Aku ingin kau menemukannya, dan menghentikannya."
"Siapa dia?"
Untuk pertama kalinya, senyum di wajah Dewa Agung memudar sedikit, digantikan ekspresi yang sulit dibaca.
"Itu... akan kau ketahui sendiri nanti." jawabnya singkat. "Yang perlu kau tahu sekarang, dunia Astral sangat luas—seratus kali lebih besar dari duniamu yang lama. Dan dia bisa berada di mana saja, di antara sepuluh benua dan ribuan kerajaan yang ada. Mungkin kau akan menghabiskan waktu yang sangat lama hanya untuk menemukannya. Tapi jangan khawatir soal itu dulu. Untuk sekarang—mari kita bicarakan permintaanmu."
---
Empat permintaan.
Ia duduk di lantai cahaya putih yang entah bagaimana terasa solid di bawahnya, memikirkan keras-keras apa yang sebenarnya ia inginkan. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan tanpa keinginan besar apa pun—hidupnya terlalu datar untuk sekadar bermimpi. Tapi sekarang, dihadapkan pada kesempatan yang begitu besar, pikirannya justru dibanjiri oleh ribuan kemungkinan sekaligus.
Ia memikirkan anime yang selama ini menemani malam-malamnya yang sunyi. Karakter-karakter yang begitu kuat, begitu teguh, yang selalu berhasil melewati apa pun yang menghadang mereka. Dan tiba-tiba saja, sebuah nama muncul di benaknya—karakter yang selalu ia kagumi diam-diam, meski tak pernah ia akui pada siapa pun.
"Aku ingin," ucapnya perlahan, memilih kata-katanya hati-hati, "penampilan, kepribadian, pengalaman, ingatan, jutsu, dan kekuatan dari Uchiha Sasuke."
Dewa Agung mengangkat alis, tampak sedikit terhibur. "Referensi yang spesifik. Baiklah. Tapi kekuatan mata yang kau maksud—ada efek samping tertentu pada kekuatan itu di dunia asalnya, bukan? Rasa sakit, kebutaan bertahap, dan semacamnya."
"Aku... tidak mau efek sampingnya." Ia buru-buru menambahkan. "Aku ingin kekuatannya, tapi tanpa kerugiannya."
"Bisa diatur." Dewa Agung mengangguk, menuliskan sesuatu yang tidak terlihat di udara dengan jarinya, seolah mencatat pesanan restoran. "Permintaan pertama, dicatat. Lanjutkan."
Ia menarik napas, meski ia tidak yakin apakah ia benar-benar bernapas di tempat seperti ini. "Aku ingin chakra dan mana yang aku miliki menjadi... tak terbatas."
"Ah." Dewa Agung menggeleng pelan\, hampir menyesal. "Sudah kubilang\, tidak ada yang benar-benar tak terbatas yang bisa kuberikan. Tapi..." ia mengangkat satu jari\, seolah menemukan celah\, "aku bisa membuatnya *terasa* tak terbatas. Cadangan chakra dan manamu akan sedemikian besar sehingga kau nyaris tidak akan pernah merasakan batasnya dalam pertarungan biasa. Itu batas yang bisa kuberikan tanpa melanggar aturanku sendiri."
Ia mengangguk, cukup puas dengan kompromi itu.
"Yang ketiga?"
Kali ini ia teringat pada kisah lain yang pernah ia tonton dan baca—seorang raja pahlawan legendaris dengan gudang senjata tak terhitung jumlahnya, masing-masing lebih mustahil dari yang lain.
"Kekuatan Gilgamesh," ucapnya. "Seluruh Noble Phantasm-nya, dan kekayaannya. Tapi... aku tidak perlu ingatan atau pengalamannya. Cukup kekuatannya saja."
"Menarik," Dewa Agung bergumam, tampak benar-benar tertarik kali ini. "Kau ingin gudang senjatanya, tapi tidak ingin menjadi dirinya. Bijak. Beberapa jiwa besar membawa beban yang tidak selalu pantas ditanggung orang lain." Ia mencatat lagi di udara. "Permintaan ketiga, dicatat. Terakhir?"
Untuk permintaan terakhirnya, ia memikirkan sesuatu yang berbeda—bukan soal senjata atau kekuatan ofensif, melainkan soal bertahan hidup. Ia teringat pada sosok petarung yang tak pernah benar-benar terkalahkan, yang tubuhnya bergerak sendiri melampaui pikiran, menghindari maut bahkan sebelum bahaya itu benar-benar datang.
"Ultra Instinct," katanya pelan. "Yang sempurna."
Untuk sesaat, Dewa Agung terdiam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkesan dan sedikit prihatin.
"Kau menyadari," katanya akhirnya, "bahwa dengan keempat permintaan ini, kau akan menjadi salah satu entitas terkuat yang pernah kuberi kekuatan?"
Ia tidak menjawab, hanya menunduk sedikit, entah karena bangga atau justru takut dengan implikasinya.
"Baiklah," Dewa Agung akhirnya berkata, mengibaskan tangannya seperti menutup sebuah buku tak terlihat. "Empat permintaanmu dikabulkan. Tapi ingat satu hal—"
Ia mendekat, dan untuk pertama kalinya nada suaranya benar-benar serius, kehilangan sedikit dari kesantaian yang selama ini melekat padanya.
"Kekuatan sebesar ini bisa membuat siapa pun lupa apa artinya menjadi rapuh. Jangan lupakan itu, di manapun perjalananmu nanti membawamu."
---
Cahaya putih di sekelilingnya mulai berdenyut, perlahan menelan pandangannya. Ia merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya—wajahnya, tubuhnya, bahkan cara ia bernapas terasa berubah, seolah sedang dituangkan ke dalam cetakan baru. Bersamaan dengan itu, arus ingatan yang bukan miliknya mulai mengalir masuk—pengalaman, jutsu, cara bertarung, bahkan potongan-potongan kehidupan yang tidak pernah ia jalani sendiri, namun kini terasa seolah miliknya.
"Prosesnya akan terasa sedikit... membingungkan pada awalnya," suara Dewa Agung menggema, semakin jauh terdengar seiring kesadarannya mulai memudar. "Tapi kau akan terbiasa. Sampai jumpa di Astral."
Dan kegelapan lembut itu menariknya masuk sepenuhnya—membawa kehidupan lamanya, dengan segala kehampaannya, menuju kenangan yang akan segera bercampur dengan ingatan yang bukan miliknya, di dunia yang sepenuhnya baru.
---
*Bersambung ke Bab 3: Astral*
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan angin.
Angin sejuk yang menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang belum pernah ia hirup sepanjang hidupnya yang lama—hidup yang kini terasa seperti mimpi samar dari seseorang lain.
Ia membuka mata perlahan. Langit di atasnya berwarna biru cerah dengan corak keunguan di beberapa sudut, dua bulan kecil tergantung samar meski matahari masih tinggi. Ia berbaring di atas rerumputan tinggi yang menjulang hampir setinggi pinggangnya, di tengah padang luas yang tidak berujung sejauh mata memandang.
Ia bangkit duduk, dan itulah saat pertama kali ia benar-benar menyadari sesuatu yang aneh.
Tangannya bukan tangannya sendiri.
Kulitnya lebih pucat, jari-jarinya lebih ramping namun terlihat kokoh. Ia meraba wajahnya sendiri—tulang pipi yang lebih tegas, rahang yang lebih tajam. Ia berdiri, dan tubuhnya terasa ringan dengan cara yang asing, seolah setiap ototnya sudah terlatih sejak lama untuk gerakan-gerakan yang bahkan belum pernah ia pikirkan. Namun ada yang berbeda—ia meraba lengan kirinya dan hanya menemukan kekosongan di bawah bahu, lengan itu tidak ada. Ia tidak panik. Entah bagaimana, ingatan yang mulai mengalir masuk memberitahunya bahwa ini bukan kesalahan, melainkan bagian dari fisik yang ia terima—fisik Sasuke Uchiha di titik akhir kehidupannya yang lama, setelah melewati perang besar yang merenggut banyak hal darinya, termasuk lengan itu.
Ia juga bisa merasakan sesuatu di balik kelopak mata kirinya—sesuatu yang selalu terjaga, tidak pernah benar-benar "tidur", tersembunyi rapi di balik poni rambutnya yang jatuh menutupi sisi kiri wajahnya. Ketika ia menyentuh area sekitar matanya dengan tangan kanannya yang tersisa, ia tahu tanpa perlu cermin: mata kirinya bukan lagi mata biasa. Rinnegan, pemberian Rikudou Sennin di titik akhir kehidupan lamanya sebagai Sasuke Uchiha. Mata kanannya terasa normal untuk saat ini—namun ia tahu, dari ingatan yang mulai mengalir masuk, bahwa mata itu bisa berubah menjadi Sharingan kapan pun ia mengaktifkannya secara sadar.
Bersamaan dengan itu, ingatan-ingatan mulai mengalir masuk—bukan seperti mimpi, melainkan seperti membuka laci demi laci di dalam kepalanya yang sudah lama tertutup rapat. Ia melihat sekilas pertarungan-pertarungan hebat, teknik-teknik yang mengalir seperti tarian maut, persahabatan yang berubah jadi rivalitas berdarah, dan kehampaan seorang anak yang kehilangan segalanya—termasuk lengannya—di perang yang sama.
Ia terengah, berlutut di rerumputan sambil memegangi kepalanya sendiri. Terlalu banyak, terlalu cepat.
*Ini... ingatan Sasuke Uchiha.*
Perlahan, seiring napasnya kembali teratur, ia menyadari sesuatu yang lebih halus—ingatan-ingatan itu tidak menggantikan dirinya. Mereka justru bersanding, seperti dua sungai yang perlahan bertemu dan bercampur menjadi satu aliran baru. Ia masih ingat kamar sempitnya yang berantakan, layar laptop yang menyala di kegelapan, dan bisikan kecil tentang niat untuk berubah. Tapi kini, di sebelah ingatan itu, ada juga ingatan tentang balas dendam, tentang kekuatan, tentang seseorang yang pernah kehilangan segalanya dan memilih jalan yang dingin demi bertahan.
Dua jiwa, satu tubuh.
Ia berdiri lagi, kali ini lebih mantap, menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan baru.
"Sasuke," gumamnya pelan, mencoba nama itu di lidahnya sendiri untuk pertama kalinya. Bukan karena diperintah, bukan pula karena identitas lamanya sudah hilang sepenuhnya—tapi karena nama itu terasa seperti representasi paling jujur dari siapa dirinya sekarang: gabungan dari dua kehidupan, dua jiwa, yang kini harus berjalan bersama menghadapi dunia yang benar-benar baru.
"Baiklah," ia berkata pada dirinya sendiri, suaranya jauh lebih tenang dari yang ia kira. "Namaku Sasuke, mulai sekarang."
---
Sebuah dorongan aneh muncul di benaknya—seperti insting yang bukan miliknya sendiri, namun kini menyatu dengan pemikirannya. Ia tahu, entah bagaimana, bahwa ia bisa memeriksa dirinya sendiri. Pengetahuan itu muncul begitu saja, seolah sudah lama ada di sana, menunggu untuk disadari—sebuah nama pun ikut terlintas bersamanya: *Sha Nagba Imuru*, meskipun ia sendiri tidak yakin dari mana atau siapa nama itu sebenarnya berasal.
"Open Status," ucapnya, setengah ragu.
Selembar layar transparan langsung muncul di hadapannya, melayang di udara seperti kaca tipis yang menampilkan tulisan bercahaya lembut.
```
[Nama: Sasuke]
[Level: 1/100 (00%)]
[HP: 3.750/3.750]
[MP: ∞]
[Chakra: ∞]
[AGI: ???] [STR: ???]
[INT: ???]
[DFN: ???] [VIT: ???]
[Skill: Sharingan (Siaga), Rinnegan (Aktif), Ninjutsu Api-Petir, Gate of Babylon, Ultra Instinct, Susanoo, ...]
```
Ia menatap angka-angka itu lama sekali. Level satu, tapi dengan HP yang sudah jauh melampaui manusia biasa, meski tetap terasa seperti angka yang nyata—bukan sesuatu yang mustahil untuk disentuh habis jika ia lengah. Chakra dan mananya menunjukkan simbol tak terhingga, persis seperti yang dijanjikan Dewa Agung. Beberapa kolom masih bertanda tanya, seolah kekuatan fisiknya belum sepenuhnya "terukur" oleh sistem apa pun yang menciptakan layar ini.
Yang menarik perhatiannya adalah perbedaan status di antara kedua kekuatan matanya. Rinnegan di mata kirinya tertulis "Aktif"—dan benar saja, ketika ia mencoba menyibak poni yang menutupinya, ia bisa merasakan mata itu sudah menyala sejak awal, tanpa perlu ia bangunkan. Sementara itu, Sharingan di mata kanannya tertulis "Siaga"—ia mencoba memejamkan mata kanannya sejenak, memusatkan sedikit chakra ke sana, dan ketika ia membukanya kembali, dunia di sekelilingnya terlihat sedikit berbeda, seolah setiap pergerakan angin dan helai rerumputan bisa ia baca lebih dalam dari sebelumnya. Dua kekuatan, dua cara kerja berbeda—satu selalu menyala tanpa lelah, satu lagi menunggu untuk dipanggil.
Ia menghela napas panjang, antara geli dan pasrah, begitu ingatan itu menyadarkannya pada satu hal sederhana yang luput dari pikirannya saat berhadapan dengan Dewa Agung tadi—dalam euforia memilih empat kekuatan besar, ia lupa satu permintaan kecil yang sebenarnya krusial: meminta agar tubuh ini disembuhkan tanpa cacat.
"Tidak sempurna juga tidak apa-apa," gumamnya sambil menatap bahu kirinya yang kosong, mengangkat sedikit sudut bibirnya—ekspresi yang aneh baginya sendiri, tapi entah kenapa terasa alami di wajah ini. "Toh, aku sudah lebih dari cukup kuat tanpa itu."
Ia menutup layar itu dengan gerakan tangan sederhana, dan layar itu menghilang seolah tidak pernah ada., ia berdiri di tengah dunia terbuka yang luas—bukan empat dinding kamar yang selama ini menjadi seluruh semestanya, melainkan padang rumput tanpa batas dengan langit ganda dan udara yang terasa hidup.
Ada rasa takut, tentu saja. Dunia ini asing, penuh dengan hal-hal yang tidak ia pahami. Tapi ada juga sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih lama tidak ia rasakan.
Rasa penasaran.
Ia mulai melangkah, menembus rerumputan tinggi menuju arah yang tampak seperti jalan setapak samar di kejauhan, membawa serta dua kehidupan yang kini menyatu dalam satu tubuh—kehampaan yang dulu menjadi seluruh dunianya, dan kekuatan yang kini menjadi tanggung jawab barunya.
Dunia bernama Astral terbentang di hadapannya, seratus kali lebih luas dari dunia yang pernah ia kenal, penuh dengan sepuluh benua yang belum pernah ia injak, dan satu misi yang menunggunya di suatu tempat yang jauh, tersembunyi di antara ribuan kerajaan yang bahkan belum ia ketahui namanya.
Perjalanannya baru saja dimulai.
---
*Bersambung ke Bab 4: Langkah Pertama*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!