Indonesia
NovelToon NovelToon

KUTUKAN KUYANG

Maghrib Mencekam Di Sungai Mahakam

Warna jingga merona di langit Kalimantan sore ini. Goresan cahayanya tampak terang, tetapi menimbulkan semburat yang mulai meremang.

Matahari perlan mulai tenggelam dengan perlahan, di balik hutan yang tebal, dan menyisakan kabut tipis yang mulai naik.

Angin bertiup dari arah hulu. Membawa aroma yang tak biasa... Aroma anyir yang bercampur dengan asap dapur yang mengepul.

Di tepian sungai yang membentang luas, empat anak laki-laki masih asik bermain air. Kaki mereka telanjang tanpa alas kaki, celana dilipat sampai paha. Mereka melompat, dan itu adalah permainan yang tidak akan di dapat oleh anak kota.

"Dika... Naik, sudah mau maghrib!" teriak Aminah dari balik dapur berdinding papan kayu. Ia sedang menggoreng ikan hasil menjaring suaminya.

"Sebentar lagi, Bu!" teriak Dika, bocah berusia delapan tahun, anak Bu Aminah dan juga Pak Salim yang merupakan seorang nelayan.

Tangannya memegang dayung kecil yang terbuat dari kayu ulin. Teriakan Aminah sang ibu yang memanggilnya dari arah dapur tak di hiraukannya.

"Kakek bilang maghrib harus pulang!" sahut Rian sembari melempar lumpur ke arah Bima. Tangan kecilnya membuat bola lumpur dengan cekatan.

Mereka saling tertawa. Bermain kejar-kejaran. Cipratan air kemana-mana dan itu merupakan kesenangan yang begitu besar, keski tanpa gadget.

Bagi mereka anak kampung, sungai itu taman bermain. Dari kecil mereka sudah mengenal arus, mengenal ikan, dan juga mengenal suara burung di rumpun bambu.

Tapi hari ini sangat berbeda.

Tak ada yang sadar dari keempat bocah itu, di balik rumpun bambu yang lebat, air sungai berputar pelan. Bukan pusaran karena batu yang menyembul dari dasar sungai.

Air di situ berwarna hitam pekat, sedangkan di tempat lain masih berwarna putih susu dan jernih. Dan dari pusaran itu keluar gelembung-gelembung kecil.

"Wuuuusss..."

Angin dingin lewat dengan tiba-tiba. Sedangkan sejak tadi udara cukup gerah.

Saat bersamaan, terdengar anjing-anjing kampung yang biasanya tidur, mendadak melolong semua secara serentak dan saling bersahutan dengan suara yang panjang. Seolah mereka ingin memberi isyarat, ada sesuatu di balik sana.

Dika berhenti bermain. Tengkuknya merasa meremang. Ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya.

"Kalian ada denger suara nggak?" bisiknya.

"Dengar apa?" tanya Bima, ia masih sibuk menyipratkan air.

"Seperti ada suara orang yang tertawa... Mirip suara perempuan."

Mereka menoleh ke arah belakang secara bersamaan. Tak ada sesiapapun, dan kekosongan yang mereka temui. Hanya pohon, dan rimbunnya rumpun bambu yang di sertai kabut yang semakin tebal dan naik dari permukaan sungai.

"Ah, ikam halu." Anto menepuk bahu Dika. "Udah ah pulang!" bocah itu beranjak dari duduknya. "Besok sepulang sekolah main lagi," ia ngeloyor pergi.

Rian lebih dulu yang berlari ke atas tepi. Lalu Dika, Bima, dan Anto ikut nyusul.

Tiba-tiba saja...

Braaak!

Air memercik tinggi bagaikan sebuah semburan yang besar.

Anto yang paling belakang mendadak tersentak ke belakang. Tangannya ke atas, mulutnya terbuka ingin berteriak.

Tetapi tidak ada suara yang dapat ia keluarkan. Seperti tercekat di tenggorokan.

Dalam sedetik tubuhnya ditarik ke bawah. Lalu hilang begitu saja.

"ANTOOO!" teriak Bima sampai suaranya melengking.

Dika langsung terjun ke bawah. Ia mencoba meraba-raba air yang berwarna gelap dan dingin. Tetapi tidak ada yang ia dapatkan.

Yang muncul hanya gelembung besar. Dan dayung kecil milik Anto mengapung, dan berputar-putar diatas pusaran air

Bima dan Dika saling pandang. Wajah mereka pucat seperti kertas.

Tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari. Lari sekuat tenaga di atas tanah yang becek.

Teriakan mereka memecah sore ini.

"ABAH! UMA! ANTO HILANG! DI SUNGAI!"

Suara teriakan para bocah tersebut, membuat para warga keluar dari rumahnya.

Salim tampak pucat. Sedangkan Aminah yang baru saja selesai memasak ikan gurami pindang untuk makan malam mereka, langsung terdiam.

Praaang!

Wadah mangkuk di tangannya jatuh tertumpah dan membuat ikan pindangnya jatuh berserakan di lantai kayu dapurnya. Wajahnya mendadak pucat.

Ia mencoba ikut menyusul Salim yang sudah berlari keluar dari rumah. Ia merasakan tubuhnya seperti melayang saat menapaki anak tangga rumah panggungnya.

Saat ia tiba di bawah, orang-orang sudah ramai berkumpul. Aminah semakin merasakan kakinya lemah, seperti tak bertulang. Ia jatuh terduduk di atas tanah yang becek.

"Anto...." suaranya cukup pelan saat menyebut nama puteranya. Ia seperti kehabisan seluruh tenaganya.

Salim yang jago berenang dan merupakan ayah Anto, langsung melompat dan menyelam. Ia mencari keberadaan anaknya dan hanya kegelapan yang ia temui.

Warga lainnya ikut menyelam, dan mereka membantu mencari tempat dimana Anto di nyatakan pertama kali tenggelam.

Setelah satu jam lamanya melakukan pencairan, mereka tak menemukan hasil. Anto menghilang seperti di telan air Mahakam, tanpa meninggalkan jejak.

Pencairan di hentikan, dan akan di lanjutkan esok hari.

Aminah yang mendapati kenyataan pahit tersebut, langsung pingsan. Ia tidak dapat lagi berpikir. Semuanya tampak gelap.

Dua jam berlalu. Rumah panggung Bubungan Tinggi yang sudah sangat tua dan berusia ratusan tahun tampak ramai di kunjungi warga.

Lampu bohlam temaram dinyalakan semua. Rumah panggung Damang penuh sesak dengan warga.

Warga berdiri saling berdesakan. Anak-anak disuruh masuk ke dalam. Tidak lagi di biarkan bermain di luaran. Ibu-ibu tampak menangis. Mereka cemas dan juga takut.

Pak Damang Tua Jaya duduk di tengah, di atas tikar anyaman pandan berduri. Ia terlihat sangat dingin.

Usianya tujuh puluh delapan tahun. Rambutnya putih, tetapi mata masih tajam. Di depannya ada mangkuk putih berisi air, beras kuning, dan kemenyan yang mengepulkan asap, dan menebarkan aroma yang menyengat.

"Ini yang keberapa kalinya?" tanya Pak Lurah Hadi. Kemejanya basah oleh keringat. Suaranya terdengar bergetar. Sebab sudah menyangkut keselamatan warganya.

"Yang ketiga bulan ini, Pak." jawab Pak RT, tangannya juga gemetar memegang catatan. "Yang dua sebelumnya... sampai sekarang belum ketemu jasadnya."

Ibu Anto pingsan lagi di pangkuan tetangga. Bapaknya, Pak Salim, memukul-mukul dada sembari meraung menahan rasa sakit tak berdarah yang sedang ia alami.

"Anakku... anakku main di situ setiap hari! Kenapa baru sekarang terjadi!" ratapnya.

"Salim, Ikam tak bisa berbicara seperti itu. Ini sudah takdir kamu harus sabar," ucap salah satu warga. Mencoba menenangkannya.

"Ulun yakin. Jika di desa ini ada yang punya ilmu Kuyang," ucapnya dengan sangat yakin.

"Tetapi kita belum tau pasti," sahut yang lainnya.

"Bisa saja ada buaya Riska yang mulai berkeliaran. Sebab semua anak yang hilang dii sungai. Ini pasti buaya," yang lain menimpali.

"Jangan sembarangan. Buaya Riska di sungai Guntung, Bontang, tidak mungkin menyeberang ke Mahakam dengan jarak yang cukup jauh," salah satu warga menolak pendapat tersebut.

Sedangkan Damang menutup matanya. Ia tak menghiraukan perdebatan para warga. Bibirnya bergetar berkomat-kamit membaca mantra. Tangan keriputnya tampak cekatan menabur beras ke empat penjuru mata angin.

"Om... Induk Penjaga Sungai... Ampunkan dosa kami. Jauhkan bala dari kampung Sepaso ini." ucapnya dengan tenang. Meskipun hatinya bergolak.

Angin bertiup dengan kencang. Membawa aroma yang sangat asing. Damang Jaya merasakan hatinya sangat resah.

Jangan lupa singgah di Novel Leak, Gadis Bahu Laweyan, dan Misteri Desa Getih.

Dayang Sari

Mantra telah selesai di baca. Tetapi wajah Damang tidak tenang. Justru semakin keruh dan tegang. Ia menyiratkan kecemasan akan sesuatu hal yang lebih besar, dan juga bahaya.

Di dalam hatinya dia bergumam. "Ini bukan bala. Ini adalah bau Kuyang. Bau darah dan bayi yang sedang mengincar tumbal,"

Suaranya terdengar begetar, tetapi ia mencoba untuk tenang.

Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, dan ia merasa ada kekuatan yang cukup besar datang menderu.

Saat delapan puluh tahun yang lalu, ia masih sangat kecil saat terakhir kali melihat tanda ini. Neneknya yang bercerita. Sekarang tanda itu sudah balik lagi. Desa kini dalam ancaman dan bahaya yang mengintai.

Tetapi ia tidak berani mengatakannya. Karena belum dapat memastikannya.

Sementara itu, di ujung kampung, suasana sangar berbeda.

Sebuah mesin perahu motor bersandar. Seorang gadis turun membawa koper. Rambutnya panjang diikat. Wajahnya sangat cantik, dengan mata sedikit sipit, dan kulitnya putih bersih. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan juga celana yang terbuat dari kain katun.

Di lehernya melingkar syal tenun Dayak warna merah marun. Motifnya burung enggang.

Meski cuaca panas dan lembab, syal itu tidak dilepas sama sekali, ia sepertinya sangat terikat dengan syal tersebut.

Gadis itu adalah Dayang Sari. Usianya dua puluh empat tahun. Ia merupakan cucu Damang Jaya.

Dayang Sari baru saja pulang dari kota Banjarmasin setelah empat tahun menempuh pendidikan kuliah jurusan Pendidikan Guru TK.

Dayang adalah seorang gadis yang baik dan juga menyayangi anak-anak. Sebab itu ia memilih jurusan yang berkaitan dengan anak-anak.

Di desanya masih sangat jarang yang memilih pekerjaan sebagai seorang guru sebab gaji yang sangat minim.

Sementara itu, dari arah balai desa, Damang Jaya melangkah menuju rumah panggung berukuran besar yang sudah lama kosong, sebab itu milik puteranya yang sudah meninggal, dan di wariskan kepada cucunya.

Ia menapaki anak tangga, dan menghampiri gadis cantik tersebut.

"Akhirnya pulang juga, Cu." Damang yang mendapat kabar langsung menyusul ke sini. Dia memeluk cucunya erat. Tubuh Dayang terlihat sangat kurus, tetapi cukup sangat hangat.

"Kangen kampung, Tok." Dayang tersenyum. Tapi senyumnya terlihat kaku. Tampaknya ia kelelahan selama di dalam perjalanan.

Dayang Sari bahkan tidak melihat keramaian di balai desa yang tak jauh dari rumahnya. Ia juga tidak mendengar tangisan Ibu Anto yang meraung dan meratapi kepergian anaknya. Semua tersamarkan oleh rasa lelah yang menderanya.

Perlahan Dayang memejamkan kedua matanya. Jemari tangannya yang memegang koper mencengkram dengan kuat. Ia meremas syalnya dengan erat-erat. Ada rasa panas yang menjalar, dan ia memilih untuk tenang.

"Maaf, Atok. Ulun capek di jalan. Mau istirahat dulu ya." ia berpamitan. Rasanya ia ingin segera masuk ke dalam kamarnya saat ini juga.

"Baiklah, Cu. Masuk dan beristirahatlah." ucap Damang.

Dayang menganggukkan kepalanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar ditutup, Dayang langsung duduk di lantai kayu ulin. Napasnya masih tersengal.

Jemari tangannya meraba syalnya. Ada terasa panas di sana, dan membut wajah Dayang memucat. Ia merasakan tubuhnya bergetar.

Dayang menangis tanpa suara. "Jangan... Tolong aku tidak mau..." gumamnya dalam hati.

Sedangkan di luar sana, bulan mulai naik. Purnama terlihat penuh, dan cahayanya yang terang benderang

Dayang meringkukan tubuhnya. Ia tampak menggigil, menahan semua penderitaan yang ia alami.

Damang Jaya turun dari rumah cucunya. Ia berdiri lama di bawah , dan di halaman yang dipenuhi rerumputan basah karena sudah lama tidak di bersihkan.

Damang Jaya memejamkan kedua matanya. Hatinya merasakan degupan yang cukup kuat. Aroma bencana mengusik hatinya.

"Apakah hanya firasatku saja?" gumamnya dengan nada pelan. Ia menoleh ke arah pintu rumah yang sudah tertutup. Lalu menghela nafasnya dengan berat.

Dengan langkah ragu, ia kembali ke balai desa. Sebab tadi beralasan dengan warga ingin buang air, tetapi kenyataannya ia sedang menemui cucunya yang baru saja sampai.

Langkah Damang Jaya menembus kegelapan malam, dan cukup cepat. Sangat tidak normal untuk orang seusianya. Tetapi ia begitu gesit, dan dalam sekejap saja, menghilang ditelan gelapnya malam.

Sementara itu, di tempat yang berbeda. Arkan Ananta menutup laptopnya dengan kasar.

Usianya sudah memasuki dua puluh tujuh tahun. Ia adalah seorang jurnalis investigasi dari Jakarta. Dikirim redaksi karena tiga bulan terakhir ada kasus tujuh anak hilang di desa-desa pinggiran sungai Mahakam. Polisi mengatakan jika itu adalah kasus tenggelam atau dimakan buaya. Tetapi tidak ada bukti yang nyata.

Awalnya Arkan bersikap skeptis. "Paling juga perdagangan anak," ucapnya ke editor tiga bulan yang lau saat berada di ruang redaksi.

Tetapi setelah mengobrol dengan warga sore tadi, dan lihat mata Pak Damang yang ketakutan... dia mulai ragu. Dan pendapatnya mulai goyah.

Ia beranjak berdiri, membuka jendela kamarnya dari rumah panggung. Tepian sungai Mahakam gelap gulita. Terlihat lampu-lampu dari rumah warga di seberang sungai yang mirip seperti kunang-kunang.

Suasana sangat sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali suara mesin perahu yang melintas lalu lalang.

Tiba-tiba saja.

"Ki... kikikik..."

Suara tawa terdengar menyeramkan. Dan itu suara tawa perempuan. Dari arah atap seng rumah singgah yang sedang ia tempati.

Arkan langsung mengambil senter dan bergegas untuk keluar. ia mengarahkan lampu senternya, mencari sumber suara, tetapi tampak kosong. Hanya atap, tiang, dan dan juga bulan purnama yang sudah penuh.

"Siapa di sana!" teriaknya.

Tidak ada jawaban. Sahutan jangkrik yang terus berdendang.

Akan tetapi, saat ia masuk lagi, tubuhnya membeku. Di kaca jendela bagian luar, ada bekas empat jari tangan tangan yang basah oleh embun.

Sedangkan rumah singgah ini merupakan rumah panggung, dan tingginya tiga meter dari tanah.

Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. "Oke... ini bukan penculikan biasa."

Ia duduk lagi. Kemudian membuka catatan. Menulis dengan teliti. Korban ketiga. Anak laki-laki berusi tujuh tahun. Hilang di tepian sungai saat maghrib. Saksi tiga orang anak. Ada suara tawa perempuan.

Tangannya berhenti menulis. Menatap lama pada catatan tangannya.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, tiga rumah darinya...

Di kamar Dayang, lampu kamar sudah padam.

Syal tenun di leher yang selama ini tidak pernah si lepaskan sedetik pun, kini terjatuh ke lantai dengan sendirinya.

Saat bersamaan. Suara lolongan anjing kembali bersahutan dan panjang.

Ayam-ayam terdengar ribut, dan dan ternak lainnya tampak gaduh.

****

"Anto, Bah, Anto...." suara Aminah memecah keheningan malam. Ia masih belum dapat tidur, dan meratapi kepergian puteranya.

Andai saja sore tadi ia mengurung puteranya di rumah, maka kejadian ini tidak akan terjadi.

"Ulun tidak terima, Bah.. Abah harus cari jasad Anto besok. Anak kita harus ketemu," ucapnya dengan nada bergetar.

"Iya, Uma... Tenanglah. Kita berdoa, semoga Anto segera timbul besok," Salim mencoba menenangkan sang istri, meskipun hatinya sangat gundah.

Suara tangisan Aminah tersamar oleh angin malam yang bertiup dengan kencang.

Guru Baru Yang Aneh

Kabut turun cukup tebal di Desa Keramat pagi ini.

Sungai Mahakam terlihat tenang. Bahkan sangat tenang, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Bahkan seperti tidak menelan jiwa siapapun.

Akan teapi di setiap rumah, pintu dan jendela dikunci cukup rapat. Anak-anak tidak ada yang berani untuk keluar.

Berita hilangnya Anto menyebar cukup cepat. Dan ini membuat suasana semakin mencekam.

Namun Para ibu-ibu tidak bisa berkurung di rumah saja. Mereka akan mari kelaparan, atau mati di makan Kuyang.

Mereka harus berbelanja dan memasak. Sehingga terpaksa pergi ke warung, dan ketika saling bertemu satu sama lainnya, bergosip saat mereka sedang berbelanja ditempat yang sama. "Desa kita semakin mengerikan ya. Ketiga korban hilangnya pas maghrib semua," ucap Bu Rodiah dengan berbisik.

Ia seolah takut, jika ada yang nantinya mendengar.

"Iya... kita harus waspada," Halimah menimpali.

Mereka mendadak merasakan bulu kuduknya meremang.

****

Waktu memperlihatkan pukul lima pagi. Dayang Sari terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pakaian tidurnya.

Ia melirik syal tenun berwarna merah marun miliknya yang tergeletak di atas lantai, tak jauh dari tempat tidurnya.

Ia seperti sedang bermimpi buruk, dan wajahnya sangat pucat. I

Dayang Sari memijat kepalanya yang terasa sangat pusing, dan menahan rasa ingin muntah.

Dengan sempoyongan, ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di bawah rumah. Saat melintasi lemari pakaian dengan cermin yang besar, ia menatap lama wajahnya yang terlihat semakin cantik.

Dayang menghampiri cermin. Meraba wajahnya, dan ia tersenyum tipis. Akan tetapi, ia merasa heran dengan lehernya yang tampak garis merah melingkar, seperti luka sayatan yang sudah menjadi keloid.

"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya dengan rasa serba salah.

Di satu sisi ia semakin cantik, di sisi lainnya ia tak rela karena mendapatkan kecantikannya dengan cara yang salah.

Ia bergegas pergi ke kamar mandi, dan memilih untuk membersihkan dirinya.

Setelah berberes, ia pergi menuju rumah Atok Damang. Ia menapaki anak tangga, tetapi pintu rumah itu terkunci.

"Tok..." panggilnya dengan suara lirih.

Tidak ada jawaban. Atok Damang sudah berangkat ke balai desa sejak subuh.

Dengan tangan gemetar, Dayang membenahi syalnya. Mengikatnya lagi untuk menutupi keloid di lehernya. .

"Hari ini ulun akan mengajar," gumamnya. Lalu memilih untuk turun dari tangga, dan tampaknya ia tersenyum dengan sumringah. "Demi untuk anak-anak."

Dayang melangkah dengan sepatu pansus berwarna hitam, rambutnya di kuncir ekor kuda. Langkahnya cukup ringan.

Saat bersamaan, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Bu Rodiah yang baru saja pulang dari warung. Perutnya membuncit, dan ia sudah memasuki usia kehamilan empat bulan.

"Eh, Bu Dayang... Mau mengajar ya?" sapa Rodiah dengan ramah. Ia menatap wajah cantik Dayang Sari dengan kagum.

Dayang Sari berhenti sejenak. Lalu mengulas senyum yang cukup misterius. Entah mengapa ia merasa sangat senang melihat perut buncit milik Bu Rodiah.

Ia sempat menatapnya lama, dan seperti sepiring makanan lezat yang menggiurkan, air liurnya sampai menetes.

Rodiah mengerutkan keningnya. "Ada apa ya, Bu Guru? Kok liatin saya sampai segitunya?"

"Hah!" Dayang tersentak kaget. "Oh, anu, Bu. Saya sedang mengusulkan program MBG untuk wanita hamil, balita, dan juga ibu menyusui," sahutnya cepat.

"Oh, begitu. Ya semoga saja cepat tersampaikan. Saya permisi dulu, Bu Guru. Soalnya mau memasak," Rodiah berpamitan.

Dayang Sari menganggukkan kepalanya. Dan Ia menoleh sejenak untuk memandangi kepergian Bu Rodiah.

Setelah lima menit berlalu, akhirnya Dayang Wulan tiba di TK TUNAS HARAPAN tepat pukul tujuh pagi.

Sebuah sekolah yang di bangun dengan bangunan rumah panggung yang hanya lima meter kali lima meter saja.

Terlihat halaman sekolah sudah sapu dan bersih, dan cat nya yang memudar juga sudah di perbaharui.

Sekolah TK TUNAS HARAPAN adalah Negeri yang sempat terbengkalai karena tidak adanya tenaga pengajar.

Kehadiran Dayang Sari, membawa gairah baru bagi warga dan dunia pendidikan di desa.

Lima belas anak sudah duduk menantinya. Usia mereka antara empat samapi lima tahun.

Ia melangkah masuk dengan wajah yang sumringah.

"Selamat pagi, anak-anak!" suara Dayang Sari cukup cerah. Hari ini ia mengenakan pakaian seragam guru berwarna krem. Syalnya tetap melingkar di lehernya.

"Selamat pagi, Bu Guru!" jawab anak-anak kompak, dan serempak. Para murid sangat bersemangat, apalagi di ajar oleh guru yang cantik dan juga masih muda.

Dayang Sari tersenyum. Ini yang dia rindukan selama di kota. Tawa anak-anak yang selalu memanggilnya.

Ia mulai mengajari mereka bernyanyi, menggambar burung enggang, dan juga bermain tepuk.

Tapi di tengah kegiatan, Dayang beberapa kali menoleh ke arah jendela.

Ia merasa tak nyaman. Seolah ada merasa ada yang sedang mengawasinya.

"Bu Guru, kenapa pakai syal terus? Apa tidak panas." tanya Mawar, murid paling cerewet dan ingin tahu banyak hal, usianya belum genap lima tahun.

Dayang Sari tersentak kaget. Tetapi mencoba menjawab dengan santai. "Ini... alergi, Sayang. Leher Ibu gampang gatel."

Mawar mengangguk kepalanya yang tak gatal. Lalu tiba-tiba menunjuk ke luar.

"Bu, itu siapa?" ucapnya dengan suara yang menggemaskan.

Semua anak menoleh ke arah luar. Di depan pagar, berdiri seorang laki-laki tampan.

Pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, celana kain hitam, rambut di pangkas rapi, dan membawa kamera serta buku catatan. Ia adalah Arkan Ananta.

Pria itu tersenyum ke arah Dayang Sari. Lalu melambaikan tangannya.

Jantung Dayang berdegup. Entah kenapa ia begitu gugup saat pertama kali pandangan mata mereka beradu.

Ia membenahi syalnya, seolah memberi isyarat agar tak ingin ada yang melihat keloid di lehernya.

 "Anak-anak, Ibu keluar sebentar ya."ucapnya pada para muridnya. Matanya menatap Mawar, murid paling muda dan tampak aktif dari yang lainnya.

Sementara itu, di halaman TK, Arkan mengulurkan tangannya. "Permisi, Bu...Saya Arkan Ananta. Jurnalis dari Jakarta."

Pria itu memperkenalkan dirinya. Wajahnya tampan. Kulitnya sawo matang, karean ia bekerja di bagian lapangan.

Dayang Sari membalas uluran tangan tersebut, dan menjabatnya. Tangannya terasa dingin. "Saya Dayang Sari. Guru TK di sini,"

Dayang melepaskan jabatan tangannya, dan entah mengapa ia merasa gelisah.

"Bu guru baru di sini ya? Saya lihat di data dari kelurahan, belum ada guru tetap yang mengajar di sini," ucap Arkan. Setiap kalimatnya seperti sebuah penyelidikan.

"Iya, Saya baru pulang dari Banjarmasin, menyelesaikan kuliah di sana," suara Dayang cukup pelan, tetapi jelas di telinga Arkan.

Suasana mendadak hening. Arkan memperhatikan syal di leher Dayang. Dimana dalam kondisi cuaca yang panas, tetapi tidak juga di lepas.

"Bu, saya mau tanya soal kasus anak yang hilang. Boleh mengobrol sebentar?" Arkan membuka keheningan yang terjadi.

Akan tetapi, ia tak dapat memungkiri, jika wajah Dayang terlihat sangat cantik. Bahkan Arkan tak dapat menggambarkannya dengan kata-kata.

Jika saja Dayang mau ke kota, maka ia akan menjadi seorang artis terkenal.

Mendengar ucapan sang pemuda, wajah Dayang Sari langsung berubah. Ia menundukkan kepalanya. "Maaf, Mas. Saya masih mengajar. Kasihan anak-anak."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!