Hari Minggu ini, Nenek Bani menyuruh anak, menantu dan para cucunya berkumpul di ruang tamu. Ada satu kabar penting yang ingin beliau sampaikan. Dengan senyum penuh harap, Nenek Bani mengumumkan bahwa Ratna telah dijodohkan dengan cucu dari sahabat lamanya. Perjodohan itu bukan keputusan yang tiba-tiba, melainkan janji persahabatan yang telah disepakati sejak puluhan tahun lalu.
Semua anggota keluarga tampak terkejut, tetapi belum sempat ada yang memberi selamat, Ratna lebih dulu bangkit dari duduknya. "Aku menolak."
Ucapan itu membuat suasana seketika hening.
Ratna menyampaikan penolakannya tanpa ragu. Baginya, perjodohan adalah sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Ia ingin menentukan sendiri pasangan hidupnya, bukan dipilihkan oleh siapa pun. Penolakannya semakin keras ketika mengetahui calon suaminya adalah seorang tentara.
Ratna yang sebentar lagi lulus kuliah merasa lelaki itu tidak pantas bersanding dengannya. Dalam pikirannya, seorang tentara pasti hanya lulusan SMA yang langsung mendaftar menjadi prajurit. "Aku calon sarjana, Nek. Masa harus menikah dengan prajurit TNI? Aku juga punya cita-cita dan standar dalam memilih pasangan."
Kalimat itu membuat beberapa anggota keluarga saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Ratna akan mengucapkan kata-kata setajam itu di hadapan semua orang. Sementara Nenek Bani hanya mengembuskan napas pelan.
Di keluarga besar Bani, Ratna adalah cucu perempuan paling tua. Sejak kecil ia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, sebab setelah kematian abangnya, Bani, Ratna otomatis menjadi anak satu-satunya. Makanya ia tumbuh dengan karakter agak keras, ia juga dikenal paling berani menyampaikan pendapat, bahkan kepada Nenek Bani sekalipun.
Padahal, di keluarga itu, Nenek Bani adalah pemimpin tertinggi. Semua keputusan penting selalu dimusyawarahkan bersama, tetapi kata terakhir tetap berada di tangan beliau. Anak-anaknya sangat menghormati sang ibu, para menantu pun tidak pernah membantah, sementara para cucu terbiasa menuruti nasihat nenek mereka.
Hanya Ratna yang berani terang-terangan menyatakan penolakan. Di hadapan seluruh keluarga, ia membantah keputusan sang nenek tanpa ragu, membuat suasana yang semula hangat berubah tegang. Ayahnya hanya menunduk, khawatir perdebatan itu akan melukai hati perempuan yang selama puluhan tahun menjadi tiang penyangga keluarga besar mereka.
"Kamu kan belum kenal pemuda itu," ujar Nenek Bani. "Temuilah sekali dulu. Setelah itu baru kamu putuskan."
Ratna menggeleng tanpa ragu. "Nggak mau, Nek."
"Kamu kan belum tahu seperti apa dia. Barangkali cocok."
Ratna menyilangkan kedua tangan di dada. "Nenek juga nggak pernah minta pendapatku sebelum memutuskan perjodohan ini, kan? Jadi sekarang aku juga berhak bilang nggak mau." Perkataan itu membuat suasana ruang tamu berubah tegang.
"Lha, bagaimana Nenek bisa meminta pendapat kamu, waktu itu kamu kan masih bayi." Neneknya mendengus kesal.
Nenek Bani tetap berusaha menasihati, sedangkan Ratna sama sekali tidak mau mengalah. Keduanya saling beradu argumen. Tak ada yang bersedia menarik ucapannya lebih dulu.
Di sudut ruangan, ayah Ratna hanya bisa menundukkan kepala. Sebagai anak laki-laki tertua, ia tumbuh dengan didikan untuk selalu patuh kepada ibunya. Selama puluhan tahun, ia hampir tidak pernah membantah keputusan Nenek Bani. Namun, di sisi lain, yang sedang berdebat kali ini adalah putri semata wayangnya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa membela salah satu pihak.
Dalam hati, ia hanya bisa menghela napas panjang. Dua perempuan itu memang berbeda generasi, tetapi memiliki sifat yang nyaris sama, keras kepala, teguh pada pendirian, dan sama-sama pantang mundur jika merasa dirinya benar. Melihat keduanya saling bersikeras, ia mulai khawatir. Entah akan seperti apa akhir dari persoalan ini.
Perdebatan itu belum juga mereda. Suasana ruang tamu semakin tegang. Tak ada satu pun anggota keluarga yang berani menyela. Hingga akhirnya Ani, menantu pertama Nenek Bani yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, perlahan angkat bicara. Ia menatap mertuanya dengan penuh hormat, tetapi sorot matanya menunjukkan ketegasan. "Maaf, Bu. Kali ini saya sependapat dengan Ratna." tentu saja, sebagai ibu, Ani dan putrinya selalu seiya sekata.
Semua mata langsung beralih kepadanya.
Sebagai menantu tertua, Ani dikenal sangat menjaga sikap. Tetapi paling tidak mau jika pendapatnya tidak diterima. Ia akan selalu siap berdebat untuk menang. "Bukannya saya tidak menghormati Ibu," lanjutnya pelan, "tapi Ratna adalah putri satu-satunya kami. Wajar kalau kami ingin dia mendapatkan pasangan terbaik." Ani menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. "Menurut saya, urusan jodoh seharusnya dibicarakan lebih dulu dengan Ratna dan kami sebagai orang tuanya. Jangan sampai anak kami dijodohkan begitu saja dengan seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya."
Suasana kembali hening. Mendengar istrinya akhirnya bersuara, ayah Ratna hanya mengembuskan napas pelan. Kini bukan hanya Ratna yang berseberangan dengan Nenek Bani, tetapi juga istrinya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, entah bagaimana nasibnya nantinya.
"Haduh kalian berdua ini, kenapa sih tidak mau mengikutiku. Diminta ketemu dulu juga tidak mau. Kamu Ratna, kan belum melihat biodatanya juga." Nenek semakin kesal sebab perdebatan ini jadi satu lawan dua.
"Aku nggak mau, Nek. Sampai kapanpun tetap tidak akan mau!" Ratna mulai menaikkan nada suaranya sebab ia pun sudah kesal terlalu lama berdebat. "Yah, ayo katakan sesuatu!" kini Ratna meminta bantuan ayahnya.
"Hah, kok ayah?" Aji, ayahnya Ratna langsung gelagapan. Sampai usianya nyaris kepala lima, belum pernah ia membantah ibunya. Apalagi saat itu juga ibunya langsung melotot padanya. Seolah memberi isyarat, akulah yang harus kamu dukung!
Di tengah perdebatan yang semakin memanas, Tara yang merupakan cucu dari anak Nenek Bani yang lain hanya menjadi penonton. Ia tinggal serumah dengan sang nenek bersama ibunya dan kedua adiknya, sehingga pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang asing baginya. Kalau saja yang menjadi lawan debat Nenek adalah dirinya atau salah satu dari keluarga intinya, mungkin perdebatan ini tak akan lama sebab ia dan keluarganya tidak punya hak debat di rumah ini.
Sesekali Tara menguap lebar sambil menopang dagu. Di sebelahnya, sang ibu dan kedua adiknya juga hanya saling pandang tanpa berani ikut campur. Bagi mereka, pertarungan pendapat antara Nenek Bani dan Ratna ibarat dua batu besar yang saling bertabrakan. Lebih aman menonton daripada terseret ke dalamnya.
Sementara itu, Tara mulai berjuang melawan kantuk yang sejak tadi menyerang tanpa ampun. Semalam ia hampir tidak tidur karena membantu ibunya menyiapkan pesanan katering hingga menjelang subuh. Kelopak matanya terasa semakin berat. Dalam hati, Tara benar-benar ingin menyela.
"Halo semuanya... Nenek, Kak Ratna... silakan lanjutkan perdebatannya sampai puas. Aku izin ke kamar dulu, ya. Ngantuk banget. Semalam begadang bantu Ibu masak buat katering." Sayangnya, itu hanya berani ia ucapkan dalam hati. Kalau benar-benar mengatakannya, bisa-bisa seluruh perhatian langsung beralih kepadanya. Padahal yang ia inginkan saat ini cuma satu... Kasur, bantal dan guling. Lalu tidur sampai siang!
Tara baru saja membuka mulut untuk menguap, entah yang keberapa kali sejak acara keluarga dimulai. Namun, sebelum rahangnya terbuka sempurna, seseorang lebih dulu menangkap wajah mengantuknya. Paman Aji. Pria itu melirik Tara beberapa detik. Tatapan mereka bertemu.
Tara yang tidak merasa melakukan kesalahan hanya membalas dengan tatapan polos. Kenapa lihat-lihat?
Entah mendapat ilham dari mana, mata Paman Aji tiba-tiba berbinar. Seolah sebuah ide gila baru saja muncul di kepalanya. "Ibu," ucapnya sambil menoleh kepada Nenek Bani, "maaf sebelumnya."
Semua orang langsung memperhatikannya.
"Daripada memaksakan Ratna yang jelas-jelas nggak mau, bagaimana kalau perjodohan itu dialihkan saja ke Tara?"
Seisi ruang tamu mendadak sunyi. Bahkan suara kipas angin yang berderit terdengar sangat jelas.
Tara yang tadi masih mengantuk seketika membelalak. Rasa kantuknya hilang dalam waktu kurang dari satu detik. "Hah?" Belum sempat ia mencerna ucapan pamannya, suara anggota keluarga lain sudah bersahutan.
"Hah... Tara?" Semua kepala serempak menoleh ke arah gadis itu.
Tara ikut menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah ingin memastikan masih ada Tara lain di ruangan tersebut. Sayangnya... Tidak ada. Yang dimaksud memang dirinya. "Lho, kok aku?" batinnya panik. Baru beberapa detik yang lalu ia hanya ingin kabur ke kamar untuk tidur. Sekarang... Malah mendadak menjadi kandidat calon pengantin.
Paman Aji berdeham pelan sebelum melanjutkan usulnya. Wajahnya tampak serius, seolah ide yang baru saja keluar itu memang sudah dipikirkan matang-matang. "Ratna itu masih kuliah, Bu. Belum tentu juga kapan lulusnya. Sepertinya masih lama, apalagi katanya mau lanjut S2. Iya, kan, Ratna?"
Ratna hanya mengangguk singkat tanpa membantah.
"Nah, sementara cucu sahabat Ibu usianya juga sudah cukup untuk menikah. Masa disuruh nunggu bertahun-tahun?" Paman Aji lalu mengalihkan pandangannya kepada Tara yang masih duduk dengan wajah linglung. "Kalau Tara kan beda. Dia sudah lulus sekolah. Jadi kayaknya nggak ada masalah, kan?"
Ucapan itu membuat Tara spontan menunjuk hidungnya sendiri. "Hah? Aku?" Dalam hati ia langsung protes habis-habisan. Halo, Paman... aku memang sudah lulus sekolah. Tapi baru lulus SMA! Baru setahun! Terus kenapa tiba-tiba aku yang dijadikan pengganti? Emangnya aku pemain cadangan? Ratna nolak, terus tinggal masukin Tara?
Tara ingin mengangkat tangan dan menyampaikan keberatan itu. Sayangnya, lidahnya mendadak kelu. Ia sadar, di keluarga besar ayahnya ini, ia dan keluarganya ada di kasta kedua. Hak bicaranya kecil sekali.
Sementara seluruh keluarga kembali memandangnya dengan tatapan penuh arti, seolah-olah usul gila Paman Aji itu benar-benar layak dipertimbangkan.
Belum sempat Tara pulih dari keterkejutannya, bibi Ani justru menjadi orang pertama yang menyambut usulan itu. "Nah, begitu baru benar." Semua mata beralih kepadanya. Bibi Ani menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu tersenyum tipis. "Kalau Tara, baru sepadan dengan cucu teman Ibu." Tatapannya sengaja diarahkan kepada Nenek Bani, lalu sekilas melirik Tara dengan senyum yang sulit diartikan. "Cocok banget, pastinya." Ucapan itu terdengar seperti pujian. Namun, siapa pun yang mengenal Ani tahu, kalimat tersebut lebih mirip sindiran.
Maksudnya jelas..Di mata Ani, Tara yang hanya lulusan SMA dianggap lebih pantas dipasangkan dengan seorang tentara yang menurut dugaan mereka juga hanya lulusan SMA. Beberapa anggota keluarga langsung saling pandang. Ada yang menahan senyum, ada pula yang menggeleng pelan karena memahami arah sindiran menantu tertua itu.
Sementara Tara hanya berkedip-kedip kebingungan. Lho... kok aku malah kena tembak? Padahal sejak awal ia cuma duduk manis, mengantuk, bahkan tidak ikut mengeluarkan satu pendapat pun. Tahu-tahu... Statusnya berubah dari penonton menjadi kandidat pengantin.
Berikut versi yang lebih natural dan tetap menjaga karakter Nina yang sopan kepada mertuanya.
Mendengar putrinya tiba-tiba dijadikan pengganti, Nina, ibunya Tara yang sejak tadi memilih diam akhirnya angkat bicara. Ia menatap Nenek Bani dengan penuh hormat sebelum berkata pelan, "Maaf sebelumnya, Bu. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat."
Nenek Bani mengangguk, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
"Tara memang sudah lulus SMA, tapi usianya baru sembilan belas tahun." Nina melirik putrinya yang masih tampak bengong karena belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. "Beberapa bulan lagi dia juga berencana mendaftar kuliah. Jadi menurut saya, Tara juga belum siap kalau harus menikah dalam waktu dekat."
Sebagai seorang ibu, Nina tentu ingin putrinya memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan. Ia tidak ingin Tara buru-buru memasuki kehidupan rumah tangga hanya karena menggantikan posisi orang lain dalam sebuah perjodohan.
Sementara itu, Tara tiba-tiba terpaku pada satu kata yang baru saja diucapkan ibunya. Kuliah. Dadanya mendadak terasa sesak. Bukan karena ia tidak ingin melanjutkan pendidikan. Justru sebaliknya, ia sangat ingin duduk di bangku kuliah seperti teman-teman seangkatannya. Namun, keadaan keluarganya tidak semudah itu.
Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan dari usaha katering rumahan memang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi belum tentu sanggup membiayai kuliah hingga lulus. Apalagi Tara masih memiliki dua adik laki-laki yang menurutnya juga harus dipikirkan masa depannya.
Sebagai anak sulung, Tara merasa sudah sewajarnya ia sedikit mengalah. Karena itulah, setelah lulus SMA setahun lalu, ia sengaja menunda kuliah. Alasannya terdengar santai setiap kali ada yang bertanya. "Otakku masih panas, habis dipakai belajar terus selama dua belas tahun. Kasih libur dulu setahun."
Semua orang yang mendengarnya pasti tertawa. Padahal, itu hanyalah alasan yang sengaja ia buat agar ibunya tidak merasa bersalah.
Selama hampir setahun terakhir, Tara tidak pernah benar-benar menganggur. Pagi hingga sore ia mengajar les bahasa Inggris untuk anak-anak di beberapa tempat bimbel. Setelah itu, ia membantu ibunya menyiapkan pesanan katering, mulai dari memotong bahan, memasak, mengemas makanan, hingga mengantar pesanan jika sedang ramai.
Diam-diam, hampir seluruh penghasilannya ia berikan untuk membantu menopang ekonomi keluarganya secara halus tanpa disadari ibunya. Ia berharap suatu hari nanti bisa menggantikan peran ibunya agar perempuan yang telah melahirkannya itu tak perlu bekerja keras. Tara juga mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena bagi Tara, melihat ibunya tersenyum jauh lebih penting daripada memaksakan mimpinya menjadi kenyataan.
Nenek Bani mengembuskan napas panjang. Pandangannya bergantian mengarah kepada Ratna, Ani, lalu Nina. "Jadi bagaimana ini?" tanyanya pelan. "Masa perjodohan ini dibatalkan begitu saja? Itu cucu sahabat Ibu, lho. Kami sudah saling berjanji sejak lama."
Ruang tamu kembali sunyi. Tak seorang pun langsung menjawab. Semua tampak berpikir, hingga usulan Paman Aji kembali mencuat dan mulai dipertimbangkan dengan serius.
Jika Ratna benar-benar menolak, bukankah masih ada cucu perempuan lain? Tatapan mereka perlahan beralih ke arah Tara. Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu sontak menegakkan punggungnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan lagi bahwa yang dimaksud benar-benar dirinya.
"Iya, kamu," kata Paman Aji sambil tersenyum.
Tara terdiam beberapa saat. Di kepalanya justru bukan wajah calon suami yang muncul, melainkan bayangan biaya hidupnya dan keluarganya. Lalu, entah mengapa, bayangan lain ikut muncul. Seorang tentara berseragam loreng. Jadi... kalau nikah sama tentara... berarti aku bakal jadi ibu Persit? Tara tahu itu dari teman-teman satu angkatannya yang sering membahas tentang dan polisi. Mereka memang menjadi korban 'halo dek', berharap menjadi ibu Persit atau ibu Bhayangkara.
Mata Tara langsung berbinar. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangkat tangan kecilnya sambil tersenyum lebar. "Aku?"
Semua orang menatapnya.
"Jadi calon ibu Persit?" Tara mengangguk semangat sebelum berkata mantap, "Oke! Siap terima, Nek!"
Seisi ruang tamu langsung membelalak kaget. Beberapa detik yang lalu Tara masih mengantuk dan ingin kabur ke kamar. Sekarang... Dialah orang yang paling cepat menerima perjodohan itu.
Meski usul mengalihkan perjodohan kepada Tara mulai diterima semua orang, Nenek Bani justru belum terlihat lega. Beliau menatap Tara cukup lama. Ada satu hal yang masih mengganjal di hati. "Sebenarnya Nenek berat."
Semua orang kembali memandang beliau.
"Sarif itu usianya sudah dua puluh delapan tahun. Sedangkan kamu baru sembilan belas tahun. Baru setahun lulus SMA, sekarang juga baru mengajar les bahasa Inggris." Nenek Bani khawatir perbedaan usia sembilan tahun itu akan menjadi masalah. Menurutnya, Tara masih terlalu muda untuk menjadi istri seorang pria yang sudah matang dan mapan.
Namun, Tara justru tersenyum lebar. Baginya, persoalan itu sama sekali bukan masalah. "Umur hanyalah angka, Nek."
Semua orang menoleh ke arahnya.
Tara mengangkat kedua bahunya santai, seolah yang sedang dibahas bukan masa depannya sendiri. "Yang penting orangnya baik, bertanggung jawab, dan nggak nyusahin. Soal umur, aku nggak pernah mempermasalahkan." Ia bahkan mengangguk mantap sambil tersenyum jahil. "Aku siap lahir batin kok."
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak hening. Lalu... "Uhuk... uhuk..." Pamannya tersedak minuman. Diam-diam ada perasaan tidak nyaman, keponakannya masih terlalu muda, apa benar sudah siap berumah tangga? Tapi kalau bukan Tara, berarti putrinya, Ratna. Jelas itu tak mungkin sebab sejak awal putrinya sudah menolak.
Kedua adik Tara spontan menutup wajah karena malu. Nina langsung memijat pelipis. Sementara Nenek Bani hanya bisa menghela napas panjang. Dasar cucu satu ini. Kalau bicara memang selalu di luar dugaan. Padahal yang dimaksud "siap lahir batin" oleh Tara hanyalah siap menjalani pernikahan, tetapi cara mengucapkannya sukses membuat seluruh keluarga salah tingkah.
Semua orang mengira Tara menerima perjodohan itu karena terlalu polos atau sekadar asal mengiyakan. Padahal, Tara memiliki alasan yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun. Ia tahu, jika tidak menikah, besar kemungkinan beberapa bulan lagi ia akan dikirim ke luar kota untuk kuliah. Bukan karena ibunya ingin menjauhkannya, tetapi karena jurusan yang diinginkannya tidak tersedia di kota mereka. Tara tidak mau itu terjadi.
Sejak ayahnya meninggal dunia, ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari Nina bekerja keras menerima pesanan katering, sementara Tara hanya bisa membantu sebisanya.
Tara tidak tega jika ibunya masih harus memikirkan biaya kuliah, biaya kos, uang makan, dan kebutuhan hidupnya di kota lain. Apalagi ia masih memiliki dua adik laki-laki, Taufan dan Akmal. Dalam pandangan Tara, masa depan kedua adiknya jauh lebih layak diperjuangkan. Ia rela mengalah jika itu bisa membuat ibunya sedikit lebih ringan menjalani hidup.
Baginya, mimpi bisa ditunda. Atau ditiadakan seperti tekadnya saat menerima kelulusan, tidak akan lanjut kuliah. Tetapi melihat ibunya kelelahan setiap hari adalah sesuatu yang tidak sanggup ia abaikan.
Karena itulah, saat perjodohan dengan Sarif ditawarkan, Tara justru melihatnya sebagai jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mungkin bagi orang lain itu adalah sebuah keterpaksaan. Namun bagi Tara, itu adalah cara agar ibunya tidak lagi memikul beban seorang diri. Ia percaya, selama calon suaminya adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, ia mampu belajar mencintai setelah menikah. Baginya, jodoh memang bisa datang dengan cara yang tak terduga.
Tara sangat mengenal ibunya. Kalau ia terang-terangan mengatakan tidak ingin kuliah, Nina pasti tidak akan pernah mengizinkannya. Bukan karena ibunya keras kepala. Justru sebaliknya. Nina adalah tipe orang tua yang rela berkorban apa pun demi masa depan anak-anaknya. Ia tidak akan pernah tega membunuh mimpi putrinya hanya karena keadaan ekonomi. Kalaupun harus berutang atau bekerja lebih keras, Nina pasti akan melakukannya agar Tara tetap bisa kuliah.
Itulah yang membuat Tara semakin tidak tega. Belum lagi Nenek Bani yang sejak lama selalu mendesak Nina agar Tara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurut beliau, cucu-cucunya harus berpendidikan tinggi demi menjaga nama baik dan gengsi keluarga besar Bani.
Karena itu, Tara sengaja tidak pernah mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin menunda, bahkan mungkin mengurungkan niat kuliah jika keadaan keluarga belum memungkinkan. Ia hanya beralasan ingin "libur" setahun setelah belajar selama dua belas tahun tanpa jeda.
Semua orang menganggap alasannya lucu. Bahkan sepupunya melabelinya sebagai pemalas. Padahal, di balik senyum dan candanya, Tara sedang berusaha melindungi ibunya dari beban yang tidak pernah ingin ia tambahkan. Ia lebih memilih memendam keinginannya sendiri daripada melihat sang ibu memaksakan diri demi mewujudkan mimpinya.
Suasana yang sempat kembali tenang itu rupanya tidak bertahan lama. Ratna kembali merasa gatal untuk berkomentar. Ia mendecak pelan, lalu menyilangkan kedua tangan di dada. "Yakin banget mau nerima? Jangan asal semangat dulu. Jadi istri tentara itu nggak semudah yang kamu bayangkan, Tara." Nada suaranya terdengar seperti sedang mengingatkan, tetapi senyum tipis di sudut bibirnya membuat semua orang tahu kalau ucapan itu juga mengandung sindiran.
Tara hanya melirik sekilas, lalu mengembuskan napas pelan. Ia sudah menduga, kakak sepupunya itu pasti belum selesai berkomentar. "Sesulit apa pun, aku akan hadapi." Tara menjawab santai sambil mengangkat bahu. Wajahnya justru terlihat antusias, seolah yang sedang dibahas bukan pernikahan, melainkan liburan.
Ratna mendengus pelan. "Dasar genit. Masih muda, yang dipikirin malah nikah. Bukannya fokus kuliah."
Belum sempat Tara membalas, sebuah suara polos terdengar dari ujung sofa. "Ya udah..." Semua menoleh. Akmal, si bungsu keluarga Tara, mengangkat tangan dengan wajah tanpa dosa. "Biar Kak Tara nggak jadi genit, Kak Ratna aja yang dijodohkan."
Seisi ruangan langsung terdiam. Lalu....paman Aji tak kuasa menahan tawa, sampai menepuk-nepuk paha sambil terkekeh. "Mulutmu itu lho, Mal!"
Wajah Ratna seketika menghitam.
Sementara Akmal hanya mengedikkan bahu, merasa ucapannya sangat masuk akal. Baginya, masalah itu sederhana. Yang satu menolak. Yang satu menerima. Jadi, kenapa masih diperdebatkan?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!