Indonesia
NovelToon NovelToon

Pemuas Ranjang Sang Psikopat Gila

1. Menolong

“Astaga, aku lupa untuk membuang sampah.”

Seorang perempuan memakai mantel tebal, memandang ke arah kantong plastik hitam berisikan sampah makanan yang lupa dia buang. Dia lalu memandang ke arah jendela, dan melihat salju turun di sertai angin cukup kencang, hingga udara di dalam rumah juga ikut dingin.

Dhelpine Rose Walter, seorang gadis berusia 20 tahun yang hidup sebatang kara di sebuah rumah kontrakan kecil, yang sedikit jauh dari perkotaan. Sebenarnya dia memiliki pekerjaan sebagai karyawan toko bunga, tapi karena cuaca hujan salju, membuat toko tempat dia bekerja terpaksa libur.

“Ah, ya sudahlah.. Buang saja, daripada nanti menumpuk semakin banyak.” Ujar Dhelpine meraih kantong plastik sampah itu, dengan sarung tangan yang tebal, bahkan dia memakai celana kain tebal, juga kaos kaki, dan sepatu tertutup untuk menghangatkan kakinya.

Terpaksa gadis cantik itu membuka pintunya sedikit, merasakan udara dingin dari luar menghantam wajahnya. Tapi Dhelpine tetap keluar dari rumahnya, sambil membawa kantong plastik, lalu menutup pintunya.

Dia segera berjalan dengan cepat, agar tidak terlalu lama di luar. Saat sampai pada tong sampah besar yang biasa dia gunakan untuk membuang sampah, Dhelpine terkejut melihat seorang lelaki dengan mantel tebal duduk bersandar pada tong sampah itu.

Dhelpine membuang kantong plastik ke dalam tong sampah, dan lalu mendekati sosok lelaki asing itu. Dhelpine membulatkan matanya, melihat wajah sang lelaki begitu pucat dan tidak sadarkan diri.

Merasa kasihan, Dhelpine segera mendekati lelaki itu, meraih tangannya, mengalungkan ke leher dan mengangkat tubuh lelaki itu. Meskipun sedikit kewalahan, karena tinggi badan yang tidak setara juga tubuh yang lebih besar dari Dhelpine, tapi dia tetap berusaha membawanya ke rumahnya.

Semoga saja, dia masih bisa di selamatkan.. Bagaimana dia bisa terjebak di tengah badai salju seperti ini batin Dhelpine berjalan dengan perlahan, sambil mempertahankan tubuh lelaki yang lemah di sebelahnya.

...

Badai salju yang begitu kencang di tambah petir yang terdengar menyambar dari luar, membuat suasana semakin mencekam, tapi beruntung Dhelpine sudah mempersiapkan kayu bakar di tungkunya, jadi dia bisa menghangatkan udara di dalam ruangan.

Dhelpine melihat ke arah pria yang dia tolong tadi, selain mengganti jaket dan pakaiannya, Dhelpine sudah memberikan alat penghangat yang di berikan pada jaket baru yang dia pakaikan di tubuh lelaki asing itu.

Perlahan tubuh lelaki itu bergerak sedikit, lalu jarinya, dan terakhir adalah matanya perlahan terbuka, membuat Dhelpine menatap ke arahnya sambil menahan nafasnya. Pria itu sudah sepenuhnya sadar, meskipun masih dalam kondisi linglung.

“Dimana aku.. ??”

Tanya Pria itu dengan suara serak, dan memandangi langit-langit seakan masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.

“Kau aman di rumahku.”

Suara Dhelpine membuat pria itu menoleh ke arahnya, matanya berkedip beberapa kali menatap ke arah gadis itu.

“Cantik~ Apa aku sudah berada di surga ?? Bagaimana bisa aku bertemu malaikat disini ??” Ujar pria itu berbicara dengan tatapan berbinar dan terpesona, membuat wajah Dhelpine memerah malu.

“Eh ?? Bu.. Bukan !! Aku manusia.. Aku.. Aku menemukanmu di tengah badai salju tadi.” Ujar Dhelpine menjelaskan dengan malu-malu, pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Enoch Cooper.”

“Eh ??”

“Itu namaku. Terima kasih banyak, telah menyelamatkanku.” Ujar Enoch sembari tersenyum manis, membuat Dhelpine tertegun sejenak.

Pria di depannya sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya masih tampan dan manis di sana, bahkan mata pria itu berwarna hijau hazel terlihat begitu tenang menatap ke arahnya.

“Sama-sama.. Bukankah itu tugas sebagai sesama manusia ??” Ujar Dhelpine tersenyum manis, membuat Enoch terlihat menyukai senyuman itu.

Sangat manis dan cantik~ Batin Enoch memandangi wajah indah Dhelpine.

“Oh iya, aku akan siapkan minuman cokelat hangat untukmu, tunggu disini.” Dhelpine bangkit berdiri dan kemudian melangkah ke arah dapur.

Enoch memandang kepergian wanita itu, lalu matanya beralih menelusuri ruang tengah yang memang di lengkapi dengan tungku penghangat tubuh, Enoch bisa melihat tumpukan kayu bakar di sebelah tungku, dan kemudian beberapa boneka lucu dan gantungan unik di sana.

“Maaf menunggu lama..” Dhelpine muncul dengan tangan membawa segelas cokelat hangat, dan berjalan mendekati Enoch yang berbaring di atas sofa.

Enoch segera membangkitkan tubuhnya, dan baru dia menyadari jika jaketnya sudah berganti.

“Eh ??”

“Karena pakaian dan jaket yang kau kenakan basah, jadi aku menggantinya dengan yang kering. Aku takut nanti tubuhmu akan kedinginan, jika memakai baju basah.” Jelas Dhelpine dengan nada lembut dan sopan, membuat Enoch tertegun sejenak, lalu dia tersenyum kecil.

“Terima kasih banyak, aku tidak tahu harus membayarmu dengan apa.”

“Tidak perlu tuan, ini sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong orang lain.”

“Siapa namamu ??”

“Perkenalkan, nama saya Dhelpine, tuan.”

“Tidak perlu terlalu sopan, panggil saja namaku.”

“Eh.. Err.. Baik, Enoch.”

Enoch tersenyum kecil, dia merasa senang menatap wajah cantik dan indah di depannya. Tapi tanpa di sadari oleh Dhelpine, tatapan kagum itu berubah sedikit menggelap, entah kenapa ada sesuatu yang akhirnya mengikat Dhelpine dengan tali tak kasat mata, yang di berikan Enoch secara paksa kepada gadis di depannya.

Benar-benar sangat cantik dan menggemaskan, bahkan Linnea tidak secantik dan seseksi ini~ Mulai sekarang, kau milikku, Dhelpine sayang~ batin Enoch dengan menyeringai licik di dalam hatinya saat menatap wajah Dhelpine di depannya. Tapi Enoch hanya menunjukkan senyuman manis di wajahnya.

“Oh iya, Dhelpine.. Apa aku bisa menjadi temanmu ??”

“Teman ??”

Enoch menganggukkan kepalanya, “Aku tidak pernah memiliki teman baik, jadi.. Aku berniat menjadikanmu sebagai temanku, karena aku kesepian.”

Apakah dia tidak memiliki keluarga ?? Padahal aku mengira, dia sudah memiliki anak. Batin Dhelpine dengan bingung, tapi gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Tentu saja, Enoch.. Kita bisa menjadi teman.” Ujar Dhelpine dengan senyuman manis, yang justru itu menarik sisi gelap Enoch semakin tertantang.

Akhirnya keduanya saling berbicara satu sama lain, dan Dhelpine mulai menyadari jika sosok Enoch adalah pria yang lucu dan suka sekali bercanda di sana. Beberapa kali, Enoch mengeluarkan lelucon konyol, yang membuat Dhelpine terhibur dan akhirnya tertawa geli akibat ucapan konyol pria di depannya.

Enoch juga ikut tersenyum saat melihat wajah manis dan cantik di depannya tertawa dengan lepas. Entah kenapa, rasanya Enoch tidak akan pernah rela melepaskan wajah cantik di depannya.

...

Tengah malam, seluruh ruangan gelap, termasuk kamar tidur Dhelpine. Tiba-tiba pintu terbuka secara perlahan, memperlihatkan sosok pria masuk ke dalam, tanpa mengatakan apapun atau bahkan sekedar mengetuk pintu, dia langsung berjalan mendekati Dhelpine yang masih tertidur pulas di atas kasurnya.

Lelaki itu.. Enoch, tersenyum miring melihat wajah cantik yang masih bermimpi indah di sana. Lelaki itu menundukkan wajahnya, dan kemudian mengecup kening Dhelpine secara perlahan.

“Mulai sekarang, aku akan mengikatmu sayang~ Jangan harap kau bisa pergi dariku.” Ujar Enoch sembari tersenyum licik, dia bahkan mengecup bibir Dhelpine sekilas.

💚💛💚💛💚💛

Wah, bahaya nih, awal aja si Enoch udah kesemsem sama si Dhelpine 😏😏 mana pakai acara cium-cium segala, aduhh 🤦🤦

Semoga aja, si Dhelpine segera sadar kalau Enoch bukan lelaki sebaik itu 😌😌

Btw selamat datang di kisah Enoch dan Dhelpine ☺️☺️ semoga kalian suka sama dark romance yang satu ini ya 😀😀

2. Salah paham

“Maaf.. Apa aku terlambat ??”

“Sama sekali tidak, duduklah Dhelpine.”

Sejak pertemuan penyelamatan di tengah badai, Dhelpine dan Enoch semakin dekat, beberapa kali mereka melakukan pertemuan di kafe, sekedar untuk menuangkan lelah setelah bekerja, seperti sore ini.

Dan entah kenapa, Dhelpine juga merasa cukup nyaman dengan Enoch, terlebih lelaki itu bisa sedikit dewasa jika Dhelpine sedang curhat dengannya, jadilah hubungan pertemanan mereka semakin erat dan baik.

Dan disini, Dhelpine memperlihatkan ekspresi sedih dan murung, membuat Enoch yang menatap wajah gadis itu bingung.

“Dhelpine ?? Ada apa ??” Tanya Enoch dengan nada lembut.

Dhelpine seketika menghela nafasnya perlahan, lalu menatap ke arah pria di depannya.

“Aku.. Aku di keluarkan dari pekerjaan.” Ujar Dhelpine dengan sedih, entah apa kesalahannya, tapi bosnya mengeluarkannya dengan sopan tanpa emosi. Bahkan alasan klasiknya adalah, sang atasan ingin mengurangi jumlah pegawai, jadi Dhelpine terpaksa harus di keluarkan.

“Aku tidak tahu masalah sebenarnya, bahkan beberapa hari.. Toko ramai pengunjung.. Tapi bosku mengatakan, jika dia ingin mengurangi jumlah pegawai.” Lanjut Dhelpine dengan lesu, terlebih mencari pekerjaan sangat sulit untuk wanita tanpa ijazah sepertinya. Ya, Dhelpine tidak bisa pergi sekolah, karena dirinya tidak memiliki uang apapun, setelah kedua orang tuanya meninggal.

Dulu orang tuanya juga hidup dalam kemiskinan, dan kini Dhelpine harus mewarisi kemiskinan dari orang tuanya. Dan membuat gadis itu harus pontang-panting mencari pekerjaan.

Dhelpine menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan wajah sedih dan juga frustasi di saat yang bersamaan.

“Lalu.. Apa rencanamu setelah ini ??”

Dhelpine menggelengkan kepalanya.

“Kau masih punya tabungan, bukan ???”

“Hanya sedikit, aku tidak yakin itu akan cukup untuk satu bulan ke depan.” Ujar Dhelpine membuka telapak tangannya, memperlihatkan wajah frustasi dan bingung itu.

Enoch tidak berbicara banyak, dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, menaruh ke atas meja, dan mendorongnya hingga di depan Dhelpine.

“Pakailah ini dulu, sementara waktu sebelum kau mendapatkan pekerjaan.” Ujar Enoch dengan senyuman manis, sementara Dhelpine menatap sangsi benda di depannya.

Sebuah kartu berwarna hitam.. Itu Black card ?! Dhelpine meraih kartu itu dengan tangan gemetar.

“Ti.. Tidak usah Enoch, aku tidak mau merepotkanmu.. Aku hanya ingin curhat denganmu saja.” Dhelpine mengulurkan kartu itu ke arah Enoch, seakan ingin mengembalikannya, tapi sang lelaki hanya tersenyum kecil.

“Ambillah, aku ikhlas memberikannya kepadamu. Toh aku masih punya 3 lagi di dalam.” Ujar Enoch dengan senyuman manisnya, sementara Dhelpine membeku di tempat mendengarkan ucapan lelaki itu.

Punya tiga.. lagi ?? Di dalam tas ?? Seberapa kaya sebenarnya lelaki di depannya itu ?! Dhelpine menatap dengan tatapan takut, gemetar dan kagum menjadi satu. Dia juga sempat di berikan satu batang emas oleh Enoch, sebagai rasa terima kasih setelah menolongnya, tapi Dhelpine menolak lembut, dengan alasan dirinya masih memiliki pekerjaan.

“Oh iya, aku juga ingin memberikanmu sesuatu..” Enoch kembali meraih tas miliknya mencari benda di dalamnya, dan itu membuat Dhelpine memberikan tatapan horornya, apalagi yang akan di berikan teman lelakinya itu.

Hingga mata Dhelpine semakin terbelalak, saat Enoch mengeluarkan kalung dan juga gelang emas yang di bungkus plastik bening.

Enoch menaruh di atas meja, dan di sodorkan ke arah Dhelpine.

“Ini bukan sembarang kalung dan gelang, aku memasang GPS di dalamnya. Dhelpine, beberapa perempuan menghilang secara misterius, kau pasti tahu berita itu bukan ??”

Dhelpine terdiam sejenak, benar.. Beberapa hari, London di dera peristiwa aneh, dimana beberapa perempuan di kabarkan menghilang secara tiba-tiba. Para polisi menduga, ada sosok kriminal yang menculik mereka, dan setelah itu tidak ada yang tahu nasib para perempuan yang hilang itu.

“Aku takut, terjadi sesuatu padamu. Jadi.. Jika ada apa-apa, aku bisa menolong dan menyelamatkanmu.”

“Tapi.. Kenapa harus kalung dan gelang emas ?? Dan lagi aku tidak mau merepotkanmu..” Ujar Dhelpine dengan nada sungkan, bahkan dia sebenarnya ingin menolak kartu hitam itu.

Enoch memberikan senyuman miris, “Beberapa sahabat sekelasku tiba-tiba ikut menghilang secara mendadak, dan.. Aku takut itu terjadi padamu, Dhelpine.. Jadi tolong jangan menolaknya.” Ujar Enoch dengan nada sedih, membuat Dhelpine akhirnya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah.. Kalau begitu..”

Dhelpine akhirnya menerima pemberian Enoch dengan berat hati, dan merasa tidak enak. Tapi melihat ekspresi lelaki itu, membuat sang gadis menjadi semakin tidak enak untuk menolak.

Tanpa sadar, ada sepasang mata menatap mereka dengan tajam dan tidak suka.

“Cih !! Lihat saja, Enoch bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dan seksi !! Pantas saja dia selalu mendapatkan keuntungan lebih banyak !!” ujar lelaki itu geram dan merasa iri dengan keberhasilan Enoch.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, tuan ??”

“Aku akan mendapatkan wanita itu untuk diriku sendiri, agar aku bisa menj*alnya lebih dulu sebelum Enoch.” Ujarnya sembari tersenyum miring.

“Tuan Orion, apa anda yakin jika dia berniat menjualnya ?? Aku merasa sepertinya wanita itu adalah kekasih Enoch.” Ujar bawahannya menatap bagaimana Enoch memperlakukan Dhelpine dengan sangat lembut.

“Kekasih ?! Maksudmu ?! Enoch berselingkuh dari adikku !!” Ujar Orion dengan nada kesal dan ketus mendengarkan ucapan bawahannya.

Exel, lelaki bawahan Orion menganggukkan kepalanya. Dia kembali melanjutkan ucapannya dengan nada serius seperti seorang detektif yang menjelaskan hasil laporannya pada atasannya.

“Saya sudah menyelidiki mereka tuan, dan hubungan mereka cukup lama, sekitar 5 bulan. Jadi saya menduga, itu adalah kekasih dari Enoch.”

Orion menggebrak meja di depannya dengan emosi, dan menatap tajam dan sengit ke arah Dhelpine.

“Sialan !! Memang harus aku akui, wanita itu lebih cantik !! Tapi itu bukan berarti, Enoch bisa mempermainkan adikku !! Siapkan semuanya, aku akan meraih wanita itu !!” Ujar Orion dengan penuh emosi melihat kebersamaan adik iparnya bersama perempuan lain.

Exel tersenyum miring, “Kebetulan sekali tuan, wanita itu dan Enoch tidak pernah melakukan hubungan intim. Pertemuan mereka hanya sebatas di kafe seperti ini, tidak lebih.”

Orion menatap berbinar mendengarkan keterangan bawahannya, “Bagus !! Wanita suci harganya jauh lebih tinggi !! Aku akan membuat Enoch membayar mahal, akibat pengkhianatan kepada adikku !!”

Orion sudah memikirkan semuanya, menculik Dhelpine dan barulah dia akan melakukan hal kejam pada wanita itu, dengan menj*alnya. Orion kemudian bangkit dari kursinya diikuti oleh Exel dan pergi berlalu dari sana, tanpa membuat Enoch menyadari bahaya yang mengancam wanita pujaannya.

Kembali pada Enoch dan Dhelpine.

Enoch menatap kagum ke arah Dhelpine yang sudah memakai gelang dan kalung yang dia belikan, sembari tersenyum manis di sana.

Aku sebenarnya sudah tidak sabar menahan diriku sendiri, dia benar-benar sangat cantik~ batin Enoch tersenyum miring menatap ke arah pujaan hatinya itu, dia benar-benar mengagumi Dhelpine yang begitu indah di depannya, dengan senyuman manis, kulit wajah putih dan mulus, serta mata berwarna cokelat hazel, membuat sang wanita terlihat seperti putri di dalam kartun.

 💛💚💛💚💛💚💛💚💛

Sebelum kalian, protes karena karakter dari Dhelpine, Author mau bilang dulu..

Jadi memang si Dhelpine itu polos banget, makanya dia enggak curiga sama si Enoch. Jadi jangan komentar, ‘Kok Dhelpine percaya banget sama Enoch ??’ Atau lainnya..

Karena memang ceweknya itu polos banget, dan disini dark romance Author itu, ML lebih dominan daripada cewek 😆😆 Tapi tenang, enggak ada unsur kekerasan fisik, atau perselingkuhan antara MC dan ML ☺️☺️☺️

Udah segitu aja dari Author, terima kasih 😄😄

3. Transaksi gila

Malam harinya, Dhelpine tertidur dengan pulas di atas kasur ya, karena terlalu sedih atas nasibnya kehilangan pekerjaan, membuat gadis itu menangis hingga akhirnya tertidur dengan pulas.

Meskipun Enoch memberikan kartu itu kepada Dhelpine, tetap ada rasa sakit bagi gadis itu, karena pekerjaan yang dia miliki bukan hanya sebagai alat untuk mendapatkan uang, melainkan dia bisa menemukan sebuah keluarga kecil dengan pegawai lainnya. Sayang, dirinya tidak bertahan lama di pekerjaan itu, sehingga membuat dirinya keluar dari sana dengan berat hati.

Saat tengah malam, sebuah gerombolan lelaki memaksa masuk ke dalam rumah kecil milik Dhelpine secara perlahan, dan berusaha tidak membuat suara keras, agar tidak menimbulkan kecurigaan orang di dalam rumah.

“Jadi, tugas kita hanya membawa wanita itu..”

“Benar, ayo kita selesaikan, Bos Orion akan memberikan kita banyak uang, jika kita berhasil.”

Tidak banyak, hanya tiga orang yang masuk ke dalam, sementara yang lain menunggu di luar, mempersiapkan mobil untuk membawa target yang diincar.

Saat tiga orang itu masuk dan menggeledah rumah, mencoba mencari dimana target mereka berada, hingga mata salah satu lelaki menangkap sebuah pintu yang tertutup rapat. Dia segera mendekati pintu itu, dan kemudian menekan gagang pintu, lalu mendorongnya pelan.

Rupanya pintu itu tidak dikunci, dan saat dia melihat sosok yang tertidur di depannya, bibirnya menyungging senyuman miring.

“Aku menemukannya.” Ujar lelaki itu dengan perlahan, dia berjalan mengendap-endap sambil mengeluarkan kain berisikan obat bius, takut-takut jika sang gadis akan terusik, tapi sepertinya gadis itu tertidur terlalu lelap sehingga tidak menyadari bahaya apapun.

...

Disisi lain, Enoch duduk di ruangan pribadinya, dia tidak bisa tertidur karena merasa begitu gelisah, perasaan tidak nyaman itu menekannya untuk membuka dan memeriksa ke arah tabletnya, membuka sebuah aplikasi di dalamnya, dan memperhatikan layar tabletnya dengan seksama, hingga..

“Sialan !! Siapa mereka ?! Apakah Orion menemukannya ?!” Ujar Enoch memaki dengan kesal, dirinya bisa melihat jika gadis cantiknya di bawa oleh ketiga lelaki asing, dengan kondisi kedua tangan dan kaki terikat, juga tidak sadarkan diri.

Enoch tidak boleh gegabah, mengejar pelaku. Yang dia lakukan adalah memeriksa sinyal GPS yang di pasang pada kalung dan gelang yang telah dia berikan pada Dhelpine. Alis lelaki itu terangkat dan tersenyum miring.

“Oh, sepertinya dia sudah tahu, dan sengaja membuang kalung dan gelang itu di rumah. Pfftt.. Dia tidak tahu, jika aku memasang GPS di tempat lain, yang bahkan Dhelpine sendiri tidak menyadarinya.” Enoch terkekeh pelan, dia masih bisa melacak melalui sinyal GPS yang dia pasang di br* milik Dhelpine.

Ya, kalian tidak salah dengar. Bahkan pakaian dalam Dhelpine di berikan alat pelacak sinyal, yang bentuknya sangat kecil, sehingga tidak terlihat mata. Dan di sana, dia mengetahui kemana tiga lelaki brengsek itu membawa kekasihnya.

“Berusaha menjauhkan aku dari wanitaku ?? Tidak semudah itu, Orion Luther~” Ujar Enoch menutup tabletnya, dia kemudian bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya.

...

Disisi lain, Dhelpine yang sudah tersadar, merasa bingung dan takut, karena dia di bawa secara paksa di sebuah ruangan yang begitu gelap dan lorong menyeramkan dengan lampu remang-remang. Gadis itu pertama memberontak saat turun dari mobil, tapi karena banyak pria yang menahannya, membuat Dhelpine tidak bisa berbuat banyak, dan terpaksa mengikut pria itu.

Hingga matanya menangkap sebuah pintu besi di depannya, salah satu pria membuka pintu itu, dan yang lain menyeret Dhelpine masuk ke dalam.

Sampai di sana, seorang pria duduk di atas meja, menoleh ke arahnya sembari tersenyum miring menatap Dhelpine, yang kedua tangannya sudah di tahan oleh pria di kanan dan kirinya.

“Bagus, karena kau sudah sampai disini~ Aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaan.” Pria itu, Orion turun dari meja, dan berjalan mendekati Dhelpine.

“A.. Apa maumu ?? Aku tidak punya apapun ?! Aku tidak mengenalmu, tolong lepaskan aku..”

Orion terkekeh licik di sana, “Kau punya sesuatu yang berharga Dhelpine~” lelaki itu berdiri di depan sang gadis, pupil matanya bergerak turun menelusuri tubuh gadis di depannya, sembari tersenyum miring.

“Tubuhmu seksi, dan wajah cantik ini~ Adalah sesuatu yang indah, yang kau miliki.” Ujar Orion mengangkat tangannya, dan kemudian mencengkeram pipi Dhelpine dengan kasar dan menekannya.

“Satu-satunya kesalahanmu adalah.. Dekat dengan Enoch.” Ujar Orion dengan senyuman miring.

Dhelpine terdiam, matanya menatap takut dan bingung, apa urusan pria di depannya dengan Enoch ?? Apakah teman lelakinya memiliki masalah dengan lelaki aneh dan seram yang ada di depannya ??

Orion melepaskan cengkeraman dari pipi gadis itu, lalu tangannya mulai membuka kancing baju Dhelpine satu persatu.

“Apa yang.. Aku lakukan ?!”

“Sstt.. Jangan khawatir, aku hanya ingin memastikan- Astaga~ Besar sekali, hmm..” Orion tersenyum miring melihat aset berharga milik Dhelpine begitu besar dan bulat dari balik br* merah muda itu.

Bahkan Orion menjilati bibirnya sendiri, melihat gunung besar di depannya.

“Sialan !! Jika begini, aku benar-benar tidak tahan !!” Ujar Orion dengan nada berdecih kesal, dan penuh penekanan, lalu tertawa puas di sana, membuat Dhelpine merasa takut, malu dan bingung.

Tangan Orion kemudian mulai menyentuh salah satu gunung itu, meremasnya dari balik kain, membuat Dhelpine semakin takut dan menangis. Tidak berhenti sampai disitu, tangan Orion masuk dan menelusuri tubuh indah itu, hingga tangannya menangkap bulatan besar di belakang.

Dengan nakal, Orion menampar b*kong besar milik Dhelpine, membuat sang gadis tersentak di sana. Orion terkekeh pelan.

“Sangat indah, seksi dan cantik~ Berapa harga yang aku dapatkan dari tubuh ini~ Aku tidak sabar ingin menawarkannya pada para kolegaku~” Ujar Orion dengan mata berbinar dan senyuman lebar, membuat Dhelpine berusaha memberontak dan menangis disana.

Bruk !!!

“Lepaskan kekasihku, sialan !!”

Pintu itu terbuka dengan kasar, memperlihatkan Enoch membawa senapan api, dan menatap tajam ke pelaku di tengah ruangan.

Orion melepaskan Dhelpine, dan membalikkan badan menatap ke arah Enoch dengan senyuman sok ramah di sana.

“Oh adik iparku~ Cepat sekali, kau menyelamatkan selingkuhamu.” Ujar Orion dengan nada sinis, membuat Enoch menatapnya tajam.

“Jangan main-main Orion !! Aku bisa membesarkan pasar ini, tapi aku juga bisa menghancurkannya !! Serahkan kekasihku kembali !!”

Orion berdecih kesal, tidak suka saat Enoch terus mengungkit perjuangannya membesarkan pasar ilegal ini, hingga akhirnya menjadi besar dan sukses. Karena itu, membuat Orion merasa kecil di banding Enoch.

“Dan jangan lupa.. Wanita yang sudah di bawa kemari, tidak bisa di keluarkan atau di bebaskan begitu saja ?! Bagaimana jika gadismu membuka suara di publik ?!” Ujar Orion dengan ketus dan penuh penekanan, Enoch tidak berbicara apapun, dia berjalan mendekati Orion dan memberikan tatapan sinisnya.

“Aku akan memb*li gadis itu, berapa pun harganya ?! Jadi serahkan wanitaku !!”

Orion menaikkan alisnya, “Apa jaminanmu, jika dia tidak akan membuka suaranya ?!”

“Itu urusanku, Orion Luther !! Jadi sekarang, berikan wanitaku kembali !!”

Orion terkekeh pelan, melihat Enoch begitu marah kepadanya karena semua ini, terkekeh geli sekaligus benci, karena melihat adik iparnya malah mencintai sosok gadis asing daripada adiknya sendiri.

“Berikan aku uangnya, lalu aku serahkan gadis itu.” Ujar Orion dengan final, dia tahu.. Mau berusaha bagaimanapun, Enoch adalah sosok yang keras kepala.

“Bagus-”

“Dengan syarat, jika kau memiliki anak perempuan dengan gadis itu !! Maka serahkan padaku !!” Ujar Orion Memotong ucapan Enoch, sembari tersenyum miring di sana.

💛💚💛💚💛💚💛

Nah, ini awal mula.. Kenapa Orion ngebet pengen si Rosalie, karena perjanjian gila ini 🤦🤦 edan banget Keluarga Luther ini, dan disini kegilaan mereka bakalan terungkap, bikin kita geleng-geleng kepala 😔😔

Btw untuk cast mungkin nanti ya, di chapter depan hehehehehe salam untuk kalian semua ☺️☺️

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!