Bau amis darah bercampur pekatnya racikan herbal menyeruak di dalam kediaman Permaisuri Kedua. Di atas ranjang kayu cendana, Lin Xue terbaring payah. Napasnya tersengal, putus-putus, seolah dadanya dihimpit batu besar.
Di sampingnya, Raja Hu Yan mencengkeram jemari sang istri yang kian mendingin. Pria yang tak pernah berkedip saat merobek dada musuh di medan perang itu kini gemetar hebat. Otot-otot rahangnya mengeras, menahan tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Jangan tutup matamu, Xue-er..." bisikan Hu Yan pecah. Air matanya menetes, jatuh tepat di pipi Lin Xue yang pucat pasi. "Aku mohon... tetaplah bernapas."
Lin Xue menyunggingkan senyum tipis—begitu redup, bagai lilin kehabisan bahan bakar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membalas remasan tangan suaminya.
"Yang Mulia..." suara Lin Xue terputus oleh ringisan menahan sakit. "Janji kita... Anda masih mengingatnya?"
"Aku ingat!" Hu Yan mengangguk cepat, menyapu kasar air mata di wajahnya. "Jika dia laki-laki, ia adalah Hu Jin. Harapan kita. Dan jika perempuan, ia Hu Mei. Aku tidak pernah lupa, Xue-er..."
"Hu Jin... nama yang indah..."
Belum sempat kata itu selesai diucapkan, jeritan histeris Lin Xue memecah ruangan. Gelombang rasa sakit hebat kembali menghantamnya. Para tabib dan dayang mendadak panik, saling berteriak panik seraya mendesak Hu Yan untuk mundur dari sisi ranjang. Pria itu dipaksa menyaksikan wanita yang paling dicintainya bertaruh nyawa untuk terakhir kali.
Lalu, keheningan mencekam mendadak jatuh.
Seorang tabib tua mengangkat tubuh kecil yang baru lahir dengan tangan gemetar. Namun, tak ada lengkingan tangis bayi yang memecah malam.
Bayi laki-laki itu benar-benar diam. Mata hitamnya yang jernih terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang kacau tanpa berkedip.
"D-dia... laki-laki, Yang Mulia!" seru sang tabib gagap, kebingungan dan takut melihat bayi yang membisu itu.
Hu Yan melangkah maju dan mengambil putranya ke dalam dekapan. "Hu Jin... putraku..."
Namun, rasa haru itu menguap dalam sekejap.
Di atas ranjang, tangan Lin Xue terkulai lemas ke tepi dipan. Napas terakhirnya terembus pelan, bersamaan dengan deru angin malam yang menerobos jendela dan memadamkan lilin-lalin di sudut ruangan.
"Permaisuri?!" jerit dayang utama sambil ambruk berlutut.
"Xue-er?!"
Hu Yan menerobos maju. Ia menempelkan dua jarinya ke leher sang istri, namun tak ada lagi denyut nadi di sana. Pria paling berkuasa di tanah Timur itu ambruk di samping ranjang, meraung meratapi tubuh kaku cinta sejatinya. Dan di dalam dekapannya, sang bayi tetap diam, seolah paham duka mendalam yang sedang melingkupi ayahnya.
Kabar duka dan kelahiran sang Pangeran menyebar cepat ke seluruh penjuru istana. Namun di tengah selimut duka itu, duri pengkhianatan mulai menusuk dari balik bayangan.
Di kediaman utama, Permaisuri Pertama sibuk meratapi nasib malang adik madunya. Namun sang adik, Zhao Feng, berdiri di balik pilar dengan pandangan dingin. Matanya menyipit penuh kalkulasi serakah.
Jika bayi itu dibiarkan hidup, takhta tidak akan pernah tersentuh oleh keluarga Zhao, batin Zhao Feng murka.
Memanfaatkan kekacauan istana yang kehilangan fokus, Zhao Feng menyusup ke lorong rahasia. Di sana, ia mencegat Kasim Li—abdi kepercayaan yang memegang kunci akses istana. Tanpa banyak bicara, Zhao Feng melempar kantong kain tebal. Bunyi berdenting berat dari emas dan batu permata langsung memecah sunyi.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Li," bisik Zhao Feng dingin.
Kasim Li menerima kantong itu dengan jemari gemetar. "Tuan Zhao... Baginda Raja sedang berduka. Jika hal ini terungkap—"
"Tidak akan ada yang tahu!" potong Zhao Feng seraya mencengkeram bahu Kasim Li hingga pria tua itu meringis. "Istana sedang lumpuh. Ambil bayi itu, buang keluar gerbang kota, dan pastikan dia tidak pernah melihat matahari esok hari!"
Dini hari, saat kegelapan mencapai puncaknya.
Setelah mencampur racun pembius dosis ringan ke dalam teko minum para dayang, Kasim Li menyusup masuk ke kamar bayi. Napasnya memburu cepat. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat tubuh kecil Hu Jin dari ayunan emasnya.
Aneh. Bayi itu sama sekali tidak menangis atau terbangun kaget.
Mata hitamnya yang jernih justru terbuka lebar, menatap lurus ke arah Kasim Li dalam kegelapan. Tatapan dingin yang seolah mampu menembus busuknya niat sang kasim. Perasaan merinding menjalar hebat di punggung Kasim Li, namun keserakahan dengan cepat melumpuhkan rasa takutnya.
Ia membungkus tubuh Hu Jin dengan kain tebal, melompat lewat jendela, lalu lenyap ditelan pekatnya malam.
Pagi harinya, Istana Timur gempar luar biasa.
Raungan murka Raja Hu Yan membahana hingga ke luar kediaman. Meja giok tebal di hadapannya hancur berkeping-keping menjadi debu akibat luapan aura Qi yang tak terkendali.
"Cari putraku! Cari dia sampai ke ujung dunia!"
Seluruh prajurit dikerahkan. Gerbang kota dikunci rapat. Namun, tak ada satu pun jejak yang tertinggal. Kehilangan istri tercinta dan putra tunggalnya dalam kurun waktu satu malam meremukkan jiwa Hu Yan. Pria perkasa itu akhirnya jatuh sakit, terpuruk dalam keputusasaan yang dalam.
Di aula istana, Permaisuri Pertama meratap pedih, tak pernah menduga bahwa malapetaka ini dirancang oleh adiknya sendiri.
Sementara itu, Zhao Feng berdiri tepat di samping sang Permaisuri. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura menyapu air mata. Namun di balik lengan bajunya yang lebar, tangannya terkepal puas dengan senyum tipis yang terukir licik.
Menangislah, Yang Mulia... batinnya penuh kemenangan. Putra mahkotamu sudah jadi bangkai di luar sana, dan takhta ini sebentar lagi akan jadi milikku.
Lantai batu pualam aula utama terbelah. Ledakan aura Qi yang tak terkendali dari tubuh Raja Hu Yan menghantam udara, merobek tirai sutra hingga terbakar menjadi abu. Pria itu berdiri di tengah puing-puing pilar cendana yang hancur. Matanya merah padam, napasnya memburu bagai binatang buas yang terluka parah.
"Di mana putraku?! Cari dia!" raungan Hu Yan memecah keheningan malam, menggetarkan sisa-sisa atap istana. "Jika Hu Jin tidak ditemukan sebelum matahari terbit, kalian semua akan kupenggal!"
Permaisuri Pertama berlari menembus debu dan reruntuhan, merogoh gaun kebesarannya yang kini kotor berlumpur. Wajahnya sembap oleh air mata.
"Yang Mulia! Cukup!" ia ambruk berlutut, berusaha menggapai ujung jubah suaminya. "Kendalikan diri Anda... Jika Istana ini hancur, siapa lagi yang akan mencari Hu Jin?"
Hu Yan tak mendengar. Emosi murni membakar akal sehatnya. Hanya dengan satu sentakan lengan baju, gelombang Qi melontarkan Permaisuri Pertama hingga terseret menghantam dinding batu. Tanpa menoleh sedikit pun, Sang Raja melangkah keluar, menerobos hujan deras yang mulai mengguyur bumi Kerajaan Timur.
Di luar benteng kota, angin malam meliuk tajam. Hujan turun bagai dicurahkan dari langit, membasahi Kasim Li yang berlari ketakutan menembus kepekatan Hutan Terlarang.
Di dalam dekapannya, bungkusan kain berisi bayi Hu Jin terasa berat. Sesuai perintah Zhao Feng, ia harus membunuh bayi ini. Namun setiap kali tangannya meraba gagang belati, mata hitam bayi itu terbuka—menatapnya lurus, tenang, tanpa kedipan. Rasa dingin yang tidak masuk akal merayapi tengkuk Kasim Li.
Aku tidak membunuhnya... batin Kasim Li membela diri seraya gemetar. Biar binatang buas yang menghabiskan nyawanya di hutan ini.
Langkah Kasim Li yang terengah-engah mendadak terhenti. Semak belukar di depannya berdesir keras.
SRING!
Bilah parang berkarat membendung jalannya, hanya berjarak seujung jari dari lehernya. Dari balik pepohonan rindang, lima pria bertubuh kekar melangkah keluar. Senyum menyeringai menghiasi wajah-wajah penuh parut luka mereka—kelompok bandit Serigala Hitam.
"Tangkapan bagus," kekeh sang ketua bandit yang bermata satu, mengamati kantong tebal berisikan batu permata di pinggang Kasim Li. "Serahkan semuanya, Kasim."
"J-jangan berani! Aku adalah—"
Sebelum kalimat itu selesai, parang sang bandit menebas mendatar. Kasim Li mencabut pedangnya demi bertahan hidup. Dentingan logam beradu di tengah guyuran hujan memercikkan bunga api. Namun, dikeroyok lima penjahat berpengalaman di medan lumpur membuat Kasim Li kewalahan.
TEBAS!
Sabetan parang merobek punggungnya. Darah segar menyembur keluar, berbaur dengan air hujan. Tubuh Kasim Li terlempar, membuat bungkusan bayi lepas dari tangannya dan jatuh ke atas tumpukan daun basah.
Merasa ajalnya di ujung tanduk, Kasim Li melempar kantong emasnya ke arah para bandit untuk mengalihkan perhatian, lalu merayap kabur ke kegelapan hutan tanpa menoleh lagi.
Para bandit tertawa puas mengumpulkan batu permata yang bertebaran. Salah satu anak buah lalu berjalan mendekati bungkusan kain di tanah.
"Ketua... cuma ada bayi di sini."
Si Mata Satu melangkah mendekat dengan tatapan dingin. "Pasti anak haram. Tebas lehernya, kita tidak butuh beban."
Bandit itu mengangkat parang berdarahnya tinggi-tinggi. Kilatan petir menyambar, memantulkan bayangan bilah tajam yang siap menghujam leher kecil Hu Jin.
Namun, Hu Jin tetap diam. Tidak ada jeritan, tidak ada tangisan. Mata jernihnya menatap lurus pada besi tajam yang meluncur turun.
Tepat sebelum parang itu menyentuh kulitnya—
WUUUSH
Suhu udara merosot tajam. Tetesan air hujan yang jatuh mendadak membeku di udara menjadi bulir-bulir es.
CANG
Selembar selendang putih meluncur dari kegelapan malam bagai kilat. Kain sutra itu menghantam parang bandit hingga hancur berkeping-keping menjadi debu besi!
"Siapa?!" jerit Si Mata Satu panik ketika dadanya mendadak terasa sesak dihimpit tekanan energi yang luar biasa pekat.
Dari balik pepohonan, seorang wanita melangkah turun perlahan dari udara. Gaun serba putihnya berkibar halus, sama sekali tak tersentuh lumpur atau air hujan. Wajahnya jelita luar biasa, namun tatapan matanya bagaikan es abadi.
Qian Renxue—Tetua termuda dari Sekte Teratai.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Qian Renxue mengibaskan lengan bajunya. Gelombang hawa dingin menyapu ke depan. Keempat bandit itu membeku seketika dalam wujud patung es, sebelum akhirnya pecah berkeping-keping disapu angin malam.
Hutan kembali hening.
Qian Renxue menunduk, mengarahkan pandangan dinginnya ke tanah. Di sana, seorang bayi menatapnya tanpa rasa takut.
Saat ia melangkah mendekat dan hendak mengangkatnya, langkah Qian Renxue terhenti. Di dalam dada bayi yang mungil itu, ia merasakan sebuah getaran Qi yang sangat tipis namun begitu murni—Jiwa Penguasa Bawaan.
Qian Renxue berlutut, merengkuh Hu Jin ke dalam pelukannya. Ajaibnya, begitu tersentuh oleh wanita itu, hawa dingin mematikan di sekitar mereka perlahan melunak. Bayi itu tersenyum tipis, memejamkan mata, lalu tertidur lelap dalam kehangatan dekapannya.
"Anak yang aneh..." gumam Qian Renxue halus. Senyum tipis yang amat langka terukir di bibirnya. "Niat hati melarikan diri dari perjodohan sekte, malah menemukan takdir seperti ini."
Dengan satu sentakan ringan, Qian Renxue melompat melintasi pucuk-pucuk pohon membawa sang pangeran terbuang—meninggalkan jejak darah istana demi menyongsong babak baru di dunia kultivasi.
Benua Timur adalah arena berdarah. Di tanah yang bergetar oleh benturan Qi para pendekar ini, hukum rimba menjadi satu-satunya kebenaran. Tiga pilar raksasa menguasai benua: Sekte Pedang Langit di utara, Sekte Awan di selatan, dan Sekte Teratai yang berdiri angkuh di atas Puncak Es Salju.
Meski tampak berdiri kokoh bagai gunung abadi, Sekte Teratai sebenarnya berada di mata angin. Intrik politik internal dan perebutan takhta sekte tak pernah benar-benar padam. Demi menjaga posisinya, para petinggi sekte sangat bergantung pada aliansi diplomasi dan perjodohan politik.
Di tengah situasi senyap yang penuh intrik itulah, Puncak Es Salju mendadak geger.
Qian Renxue—Tetua termuda berusia dua puluh tahun sekaligus figur suci dan jenius legendaris Sekte Teratai—baru saja kembali dari perjalanan luar. Bukannya membawa draft perjanjian sekutu, ia justru turun dari atas awan seraya memeluk seorang bayi mungil berbalut kain perak.
Kehebohan menjalar cepat dari gerbang luar hingga ke Aula Utama.
Dua belas Tetua Senior duduk berjejer di atas kursi kebesaran. Bisik-bisik kasak-kusuk membakar ruangan: Apakah Sang Wanita Suci telah ternoda? Apakah ini anak haram dari hubungan gelap? Atau sengaja dibawa untuk menggagalkan perjodohan politik yang dirancang para tetua?
TAK!
Hantaman tongkat kayu cendana ke lantai pualam membungkam seluruh kegaduhan. Tetua Gu—pria berjanggut putih paling senior—menatap tajam ke tengah aula. Di sana, Qian Renxue berdiri tenang tanpa menguraikan raut bersalah sedikit pun.
"Qian Renxue," suara berat Tetua Gu menggetarkan uap dingin di udara. "Tindakanmu membawa bayi ini menimbulkan kegemparan. Dari mana asal-usul anak itu?"
Qian Renxue menyapu pandangan dinginnya ke jajaran kursi atas. Jawabannya keluar begitu datar dan santai, "Aku menemukannya di Hutan Terlarang. Saat itu, aku memergoki pertarungan bandit dan seorang kasim yang mengaku dari Kerajaan Timur—wilayah Klan Hu."
Ia menunduk sejenak. Bayi di dekapannya mendongak, menatapnya dengan mata hitam jernih tanpa dosa.
"Karena kasim itu menyebut nama Kerajaan Hu, aku menamainya Hu Jin. Sekadar nama acak. Siapa orang tua kandungnya, aku tidak tahu dan tidak peduli."
Jawaban asal-asalan itu membuat aula hening seketika. Para tetua saling pandang canggung. Ternyata bayi itu bukan anak haram Qian Renxue, melainkan cuma bayi buangan dari dunia fana.
Namun, ketenangan itu hancur saat seorang pria berjubah ungu bangkit berdiri. Wajahnya memerah menahan amarah. Tetua Liao—pria ambisius yang bertekad menjodohkan putra kandungnya dengan Qian Renxue demi mencaplok Puncak Es.
"Omong kosong!" bentak Tetua Liao bergelegar. "Kau pikir kami bisa dibodohi, Qian Renxue?! Hanya karena ocehan kasim fana, kau membawa bayi berdarah kotor ke tanah suci ini?!"
Ia melangkah maju dua tindak, menunjuk Hu Jin dengan telunjuk yang gemetar.
"Sekte sedang dihimpit musuh dari segala sisi! Kami menguras pikiran mencari jodoh paling menguntungkan untukmu, tapi kau... kau sengaja membawa bayi tak jelas ini sebagai cangkang untuk menolak perjodohan, kan?!"
Qian Renxue bahkan tidak mengedipkan mata. "Aku tidak butuh cangkang atau alasan untuk menolak perjodohan yang tidak kukendaki, Tetua Liao. Dan anak ini... aku yang menemukannya, jadi aku yang memutuskannya."
"Kau tidak punya hak memutuskan ini sendiri!" tukas Tetua Liao sengit, lalu berbalik menatap Tetua Gu untuk menghasut. "Ingat nama baik Sekte Teratai! Jika sekte tetangga mendengar Wanita Suci kita mengasuh anak buangan fana, di mana kita menaruh muka?! Bayi ini harus dibuang dari gunung!"
Perdebatan langsung pecah di dalam aula.
"Tetua Liao ada benarnya," puji salah satu tetua faksi pendukungnya. "Membawa anak dari luar bisa memicu rumor sampah yang merusak posisi tawar sekte."
"Tunggu dulu," sela seorang tetua wanita berkipas giok dengan nada tenang. "Renxue adalah Pemilik Puncak Es. Secara hukum sekte, tiap Tetua berhak mengasuh satu murid pribadi tanpa campur tangan aula utama."
"Murid?!" potong Tetua Liao pedas. "Bayi dari kerajaan fana mana punya bakat kultivasi?! Jangan buang-buang sumber daya sekte untuk membesarkan sampah!"
Di tengah sengitnya adu mulut para penguasa itu, Qian Renxue tetap mematung bagaikan patung es.
Namun perlahan, uap dingin tebal mulai merambat dari bawah kakinya, meretakkan lantai pualam dan membekukan udara di dalam aula.
Ia merengkuh Hu Jin sedikit lebih rapat, lalu mengarahkan matanya yang kini bersinar tajam bagai pendar es mematikan ke arah Tetua Liao.
"Aku tidak meminta sumber daya sekte sepeser pun untuk anak ini," suara Qian Renxue menggema dingin, menusuk hingga ke tulang dan membungkam seluruh ruangan dalam sekejap. "Hu Jin akan tinggal di Puncak Es milikku. Ia makan dari apa yang kupunya, dan belajar dari apa yang kukuasai. Jika ada di antara kalian yang merasa keberatan..."
SRING!
Bilah pedang es tipis terbentuk mendadak di udara, melayang tepat di samping pelipis Qian Renxue dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"...kalian boleh mencoba mengusirnya sendiri dari Puncak Es."
Atmosfer aula mendadak begitu berat hingga beberapa tetua berlevel rendah kesulitan menarik napas. Tetua Liao mengepalkan tangan rapat-rapat. Gigi-giginya berkerotok menahan malu dan amarah, namun ia sadar—menantang Qian Renxue berduel di sini hanya akan mempermudah wanita itu memenggal kepalanya.
Tetua Gu mendesah berat. Ia mengibaskan tangan untuk mencairkan tekanan Qi yang membekukan ruangan.
"Cukup," putus Tetua Gu tegas. "Anak itu boleh tinggal di Puncak Es bersamamu. Namun ingat, Renxue—ia tidak akan mendapat status murid resmi sampai berhasil membuktikan bakatnya di Ujian Tulang saat berusia sepuluh tahun nanti. Jika ternyata ia tidak memiliki bakat kultivasi, ia harus angkat kaki."
"Adil," jawab Qian Renxue singkat.
Tanpa membungkuk atau memberi hormat lebih lanjut, Qian Renxue berbalik. Jubah putihnya melambai anggun saat ia melangkah pergi dari aula yang membisu, membawa Hu Jin kecil meninggalkan para tetua yang dipenuhi kedengkian.
Di dalam dekapan yang hangat itu, Hu Jin kecil memejamkan mata. Pangeran Kerajaan Timur yang terbuang itu telah menemukan tempat bernaung baru—di tempat paling dingin sekaligus paling aman di benua tersebut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!