Planet bumi
Bagian negara Pusaka, Kota Jaya
25 januari 2045, waktu setempat 09.00 wib
Sebuah cahaya gradasi biru hijau pekat melingkupi langit.
Orang orang berhenti bergerak dan mulai mendongak memperhatikan fenomena yang terjadi.
Beberapa mulai mengangkat hp dan mulai merekam.
Tak lama suara keras terdengar memekakkan telinga.
Dong! Dong!
Manusia bumi.
System semesta akan memilih sepuluh juta orang yang memenuhi syarat, usia 18 tahun hingga 25 tahun, dari seluruh bagian planet bumi.
Tahap pertama, dalam waktu 24 jam, system semesta akan memberikan pertanda bagi kalian yang terpilih.
Tahap kedua, system semesta akan memberikan calon penyintas terpilih untuk melakukan persiapan.
Manusia yang terpilih akan system semesta kirim ke planet baru untuk tinggal selama 5 tahun.
Tring!
Suara statis system semesta terdengar di seluruh penjuru wilayah selayaknya suara penguasa alam.
Warna gradasi biru hijau pekat belum juga beranjak dari langit.
Sebagian orang mulai dilanda kepanikan.
Sebagian lagi menatap langit dengan kekaguman.
...----------------...
Aku sedang setengah mengantuk di dalam kelas saat suara itu mulai bergema.
Bahkan dosenku yang terkenal datar nampak pias dan terdiam saat suara itu terdengar.
Beberapa teman sekelasku sampai meloncat dari kursi dan berlarian ke luar kelas, menunjuk ke arah langit yang berwarna tak normal.
Keributan mulai terdengar di luar sana.
Aku hanya terdiam hingga suara itu lenyap.
Lalu membuka aplikasi toktok, mencari tahu seberapa ramai fenomena itu di seluruh penjuru bumi.
Media sosial benar benar meledak dengan berita fenomena tadi.
Arus berita masuk dari berbagai belahan dunia.
Segala macam teori konspirasi diperbincangkan dan dibedah.
Bagaikan gelombang tsunami mendadak terjadi di seluruh penjuru bumi.
Tak sedikit influencer dari seluruh negara mulai membuat postingan disertai rekaman suara tersebut.
Suara system semesta tersebut menggunakan bahasa yang berbeda-beda disesuaikan dengan penduduk wilayah, namun isinya tetap sama.
Tak lama, pihak kampus memberikan pengumuman bahwa perkuliahan hari ini dihentikan hingga fenomena tersebut selesai, mengantisipasi kondisi global yang baru saja terjadi.
Semua mahasiswa dianjurkan kembali ke rumah masing-masing.
Dari website milik pemerintah dikeluarkan pemberitahuan bahwa siapapun yang nantinya akan terpilih dalam seleksi tersebut, diminta segera melaporkan ke basis terdekat yang dibentuk oleh instansi pemerintah.
Tertulis di mana saja basis itu akan didirikan.
Bahkan tak lama kemudian, presiden membuat pengumuman secara live di semua stasiun televisi mengenai fenomena tersebut.
Meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan tindakan huru hara dan anarkis.
Pihak kepolisian dan TNI akan berpatroli di seluruh titik rawan untuk meminimalisir kemungkinan terjadi kericuhan.
...----------------...
30 menit setelah kemudian, aku berjalan ke luar area kampus, setelah sebagian besar mahasiswa lainnya dan juga dosen sudah pergi.
"Naya!" Panggil seseorang di belakangku.
Celia, sohibku sejak jaman SMU, berlari kecil ke arahku.
"Naya! Aku panik. Haduuh.. Gimana coba kalo kita yang terpilih." Celia langsung memelukku.
Aku menepuk nepuk pundaknya. Menenangkannya.
"Ya udah sih kalo kepilih. Rejeki kita berarti. " Aku mencoba bercanda.
Dia melepas pelukannya dan memukul lenganku. "Iiih... Gamau aku tuuhh... Mana bisa aku hidup jauh dari mama papa, dari kamu, dari mas Al, mas Ben, Dami." Celia yang drama queen langsung mulai berkaca kaca.
"Iya.. Iya.. Semoga aja kita gak kepilih ya. Tenang dulu dong kamu nya. Cup cup cup... Jangan nangis."
Celia malah mulai sesenggukan dan kembali memelukku.
"Celia! Naya!" Suara mas Ben memanggil kami dari arah parkiran mobil.
"Maaas... Huhuhuuu..." Celia berlari kecil ke arah mas Ben dan memeluknya erat.
Aku hanya menggeleng kan kepala melihat kelakuannya.
...----------------...
Celia memang berkebalikan sifat denganku.
Dia yang princess of the house. Menjadi satu satunya anak perempuan di keluarga nya.
Membuatnya jadi agak manja dan keras kepala. Namun dia tidak egois dan sangat setia sebagai temanku.
Bahkan saat SMU dulu dia jadi partnerku dan pendampingku yang sering jadi target bully.
Meski aku bisa melawan para pembully, Celia tak segan ikut serta kalau mulai pake otot.
Adiknya yang masih dibangku SMU, Damian, bahkan lebih dewasa darinya. Lebih kalem.
Meski ternyata dia juga tukang berantem, cuma gak ketahuan aja sama orang tuanya.
Dan sejak SMU, aku dan Celia lumayan aktif mengikuti olah raga bela diri kickboxing.
Awalnya karena aku butuh menjaga diri dari para pembully, lama kelamaan jadi olah raga kegemaranku. Bahkan aku didapuk menjadi pelatih oleh pembimbingku.
Dan sejak Celia menjadi sobatku, kami berlatih bersama.
Kebetulan kakak sulung Celia, mas Alex adalah pemilik sasana olah raga dimana kami berlatih.
Saat ini aku menjadi pelatih lepas di sana, untuk anak anak usia 7-12 tahun. Seminggu sekali.
...----------------...
Aku mendekati kakak beradik yang masih berpelukan itu.
Mas Ben berusaha menenangkan Celia.
Kuusap punggung Celia.
"Udah sih, Cel. Kita kan belum tau apa kita bakalan kepilih apa nggak. Berdoa aja ya. Semoga nggak. Udahan dong nangisnya. Malu ah." Mas Ben berusaha menenangkan nya.
Celia mulai agak tenang, meski masih ada sisa sesenggukan nya.
Aku mau tertawa, tapi tar dia nangis lagi. Jadi kukulum saja bibirku.
Mas Ben yang melihatku, hanya tersenyum geli.
"Kita pulang yuk. Ngumpul dulu sama keluarga. Kita berdoa sama sama." Ajak mas Ben.
Celia mengangguk.
Dia menoleh ke arahku, "Kamu mau dianter gak, Nay?" Tawarnya.
Aku menggeleng, "Gak usah, makasih. Kan aku bawa motor. Kalian hati hati ya."
Celia memelukku, "Kamu hati hati juga ya, Nay. Kabar kabari besok ya."
Aku mengangguk.
Lalu menoleh ke mas Ben, "Take care ya mas."
Mas Ben mengangguk ke arahku, "Kamu juga." Ujarnya dengan suara baritonnya.
Lalu menggandeng Celia menuju mobilnya.
Aku melihat jam di hpku.
Pukul 09.50 wib.
Memang ada baiknya aku segera pulang.
Aku melambaikan tangan ke Celia saat mobil mas Ben meninggalkan area parkir.
Satu kali suara klakson darinya sebelum berbelok masuk ke jalan raya.
Menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.
Aku melangkah ke area parkir motor.
Saat ini semua orang hanya bisa menunggu waktu hingga jam 10 besok, cemas apakah salah satu dari kami akan terpilih.
...----------------...
Kulajukan motorku keluar area parkir dan mengarah ke rumah ku. Rumah yang kutempati bersama kedua sepuh ku.
Di mana aku tinggal dengan mereka sejak kedua orang tuaku meninggal, dalam kecelakaan beruntun di jalan tol saat aku berusia 5 tahun.
Hanya aku yang selamat saat itu, mengalami patah tulang tangan dan luka baret di sana sini, sempat koma selama seminggu, tapi aku hidup.
Mamaku, Adinda, sempat masih bernafas hingga sehari kemudian, mengalami koma sejak dievakuasi hingga menghembuskan nafas terakhirnya di ICCU.
Papaku, Pradipta, tak bisa diselamatkan, meninggal di tempat kejadian perkara, tulang dadanya remuk dan menusuk jantungnya,karena terjepit diantara setir dan jok mobil.
...----------------...
Sepanjang diperjalanan yang kulalui, terlihat beberapa orang berkumpul di sisi jalan.
Nampaknya basis pemerintah sudah mulai didirikan dibeberapa titik, termasuk di kotaku.
Dan truk truk yang berisi petugas keamanan sudah mulai di sebar di beberapa area potensi rawan kericuhan.
Sejauh ini, keadaan masih kondusif.
Toh kenapa juga harus jadi bahan keributan?
Apa lagi jadi bahan berbuat onar.
Hal ini kan tidak termasuk bencana negara.
Tidak jadi kiamat dunia.
Hanya seleksi oleh system semesta.
Hanya akan ada beberapa orang usia muda yang bakalan "pergi" ke dunia lain. Ke planet baru tepatnya. Itu pun untuk 5 tahun.
Sudah bisa dibayangkan, bakal sepurba apa hidup di sana. Memulai hidup dari nol.
Entah nanti bekal apa yang bisa dibawa ke sana untuk menghadapi banyak kemungkinan, terutama bahaya dari hal yang belum bisa diketahui sebelumnya.
Apakah di sana ada mahluk lain selain manusia?
Apakah akan ada monster atau sejenis mahluk mutasi?
Apakah tumbuhan di sana layak dikonsumsi?
Apakah cuacanya seperti di bumi?
Dan pastinya hanya mereka yang siap lahir batin yang bakalan terpilih.
Kalau tidak, bisa habis manusia yang dikirim ke sana karena sudah pasti kalau tidak terbunuh, sakit atau depresi.
...----------------...
20 menit kemudian aku sampai di depan gerbang rumahku.
Mematikan mesin motor.
Membuka gerbang dan mendorong motorku masuk ke garasi.
Mobil yangkung ada di sana.
Nampaknya beliau pulang awal hari ini.
...----------------...
Meski aku yatim piatu, kedua sepuhku termasuk mapan secara ekonomi.
Yangkung mempunyai usaha bengkel dan pencucian mobil skala menengah yang digelutinya sejak 10 tahun yang lalu.
Juga usaha pembibitan tanaman yang merupakan usaha keluarga sejak jaman buyutku dulu.
Yangti sendiri mempunyai toko bakery yang sudah berjalan 15 tahun.
Meski begitu, aku memilih sekolah di SMU elit dan kuliah di kampus bonafid dengan berbekal beasiswa melalui jalur prestasi.
Orang tuaku menurunkan kecerdasan dan tampilan fisik yang tak mengecewakan padaku.
Dulu papa seorang ahli gizi, dan mama seorang arsitektur.
Entah bagaimana dulu mereka bertemu dan berjodoh.
Aku sadari, aku satu satunya keturunan terakhir mereka. Bahkan dari kedua sisi kakek nenekku, yang mana orang tua mamaku.
Karena aku tak pernah mengenal orang tua papaku.
Bisa dibilang, papa dibuang oleh keluarga nya sejak menikah dengan mamaku.
Keuntungan menjadi anak dari kedua orangtuaku, secara pribadi aku termasuk sangat baik secara fisik maupun secara akademis.
Menjadi langganan juara kelas dan sekolah.
Juga sempat menjadi model salah satu butik pakaian wanita, meski pakai jalur ordal, alias milik kerabat yangtiku. Hehehe..
Mungkin itu lah yang membuatku dulu di bully saat di sekolah. Terlalu banyak yang iri.
Hanya saja mereka tak tahu bahwa aku siap melawan.
Apalagi sejak aku menggeluti olah raga kickboxing, para pria yang ikutan membully pun keder kalau sudah berhadapan denganku.
...----------------...
"Assalamualaikum." Seruku saat membuka pintu samping dari garasi, yang menyambung ke ruang cuci pakaian, lalu ke ruang makan.
"Waalaikumsalam" Jawab kedua sepuhku. Mereka tengah duduk di meja makan. Menunggu ku.
Aku mencium tangan keduanya.
Yangti memelukku.
Bahunya bergetar. Aku mengusap punggungnya.
Dapat kurasakan ketakutan nya seandainya aku ikut terpilih.
Yangkung mengusap punggungku. Matanya berkaca kaca.
Kami tak berkata kata selama beberapa waktu. Tak ada yang perlu diucapkan.
Hanya menunggu waktu.
...----------------...
Malamnya, aku tidur diantara kedua sepuhku itu.
Yangti tak henti mengecup tanganku, menggenggamnya, menatapku.
Yangkung mengusap kepalaku. Mencium ubun ubunku. Memanjatkan doa keselamatan untukku.
Berharap ini semua hanya mimpi.
Tapi ini lah kenyataannya.
Kenyataan yang harus dihadapi semua manusia di muka bumi.
Dimana 1 juta penduduk usia mudanya akan bermigrasi ke planet lain.
"Yangti kayaknya gak sanggup kalo kamu ikutan kepilih, Nay. Sungguh yangti gak siap."
"Naya juga gak mau, yangti. Naya mikirin gimana yangti dan yangkung kalo Naya gak ada."
"InsyaAllah kami baik baik aja, Nay. Tapi yangti gak bisa bayangin kamu harus sejauh itu dari kami. Gimana kamu hidup nanti di sana. Gimana kamu bisa bertahan di tempat yang gak pernah kita tau seperti apa."
"Udah kebayang kan, namanya planet baru." Sambung yangkung, "Bayangkan itu bumi yang baru terbentuk pertama kali, pastinya ada mahluk mahluk semacam dinosaurus, bahkan mungkin ada mahluk mitologi. Mungkin juga mahluk mutasi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi."
"Doakan aja Naya gak kepilih, yangti, yangkung." Ucapku lirih. Sambil menepuk nepuk lengan yangtiku.
Yangti menggeleng pelan, "Feeling yangti, kamu bakal kepilih Nay. Kamu kuat jasmani dan mental. Kamu cerdas,cerdik, mampu bertahan. Kamu selalu melakukan yang terbaik selama ini. Kamu sanggup membela diri di saat ada yang jahat ke kamu. Kamu bisa buktikan kamu cerdas di sekolah. Kamu gak ada kekurangan nya. Makanya yangti udah gak enak hati."
Aku terkekeh, "Kalo gitu Naya harus mulai belajar hal lain kan, yangti. Kayak bercocok tanam, menangkap ikan, menjerat hewan liar, mengenal tumbuhan yang aman buat di makan. Sekalian belajar cara bikin rumah, bikin api, bikin senjata, bikin kendaraan."
Yangti memelukku erat. "InsyaAllah kamu bisa. Tapi hati yangti yang gak bisa lepasin kamu. Kamu itu cucu kami satu satunya. Penerus kami satu satunya. Apa jadinya kalo kami harus kehilangan kamu juga, Nay."
Yangti kembali menangis sambil memelukku.
Yangkung hanya terdiam, namun beliau pun memelukku.
Kami baru benar benar tertidur jauh melewati malam. Saling berpelukan.
...----------------...
Note othor :
Hiii guys..
Pertama kali penasaran pengen bikin novel genre system, kultivasi, survival, petualangan.
Semoga gak bosenin ya guys..
Aku udah baca banyak referensi.
Tapi kalo di rasa masih ada yang gak klop, silahkan ditegor akunya.
Selamat membaca...
...----------------...
Negara Pusaka, Bagian kota Jaya
26 januari 2045, 08.40 wib.
Aku dan kedua sepuhku duduk di sofa depan tv, memandang ke acara yang sedang berlangsung.
Presiden yang sedang mengunjungi beberapa basis pemerintah yang dipersiapkan untuk pelaporan para calon penyintas.
Dalam 20 menit, suara system semesta akan kembali bergema dan memberikan pertanda bagi siapapun yang akhirnya terpilih.
Kami tak banyak bicara. Bahkan yangkung nampak termenung. Yangti tampak berusaha menguasai diri.
...----------------...
Pagi tadi, seperti kebiasaan ku, aku sempat berlari di treadmill selama 30 menit. Dan melakukan yoga selama 20 menit. Relaksasi dan menenangkan diri. Hindari stres berlebihan.
Tubuhku cukup proporsional. Tinggi 160 cm. Berat 50 kg. Warna kulit cerah. Rambutku bergelombang, sebahu.
Dengan rajin berolah raga, massa ototku jelas lebih banyak dari lemakku.
Wajahku lumayan manis, bahkan nampak lebih muda dari usiaku sebenarnya.
Bahkan aku memiliki lesung di pipiku saat tersenyum, yang jarang kulakukan di tempat umum. Hanya bisa dilihat orang-orang terdekatku saja.
Aku cenderung galak. Dan kata kata ku bisa pedas. Bahkan beberapa mengatakan aku datar, dingin, barbar. Tak sedikit mengatakan aku frigid.
Bodo amat sih apa kata orang.
Mereka, para pembully ku, baru berhenti membully setelah tahu bahwa aku mampu melawan, bahkan membuat beberapa dari mereka babak belur.
...----------------...
Tepat jam 09.00 wib.
Suara system semesta kembali menggema.
Dong! Dong!
Kepada sepuluh juta calon penyintas.
Persiapkan diri kalian mulai saat ini.
Waktu kalian 24 jam dimulai dari sekarang.
System semesta telah memilih para calon penyintas.
Hanya mereka yang memiliki kecerdasan tinggi.
Memiliki fisik yang tangguh.
Memiliki mental yang kuat.
Serta memiliki potensi bertahan hidup lebih lama.
Setelah ini, system semesta akan memberikan penjelasan secara personal kepada para calon penyintas.
Dalam 3..2..1..
Tring!
Lalu sebuah cahaya biru muncul dari lengan kiriku.
Muncul barcode dan tulisan 5.051.510/kanayapradipta.
Kami terkesiap melihatnya.
Yangti menutup mulutnya dan mulai menangis keras.
Yangkung mengusap wajahnya. Matanya tertutup.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Aku hanya terdiam. Melihat angka berwarna biru terang di lengan kiriku.
Pak Budi, supir kakek, dan istrinya, bu Imah, sekaligus art kami, tergopoh gopoh dari dapur.
Keduanya terbelalak melihat cahaya di lenganku.
"Neng... Itu... " Bu Imah terbata bata. Lalu beliau mulai menangis.
Pak Budi memeluknya sambil menatapku.
Ada kesedihan di matanya.
Keduanya sudah seperti pengganti orang tuaku.
Meski mereka memiliki anak yang saat ini berusia 16 tahun, yang sudah seperti adik bagiku.
Amelia, anak mereka, berdiri di belakang pak Budi, menatapku, air matanya luruh.
Tangannya mencengkram baju di kedua sisinya. Menahan diri untuk tidak menangis keras.
Aku hanya bisa tersenyum pasrah dengan apa yang harus kualami.
...----------------...
Di tv, nampak kehebohan terjadi.
Beberapa orang di basis yang memiliki tanda yang sama denganku.
Mereka adalah para abdi negara yang berusia muda.
Angka yang muncul di lengan mereka berbeda beda.
Lalu presiden memberikan statement, bahwa para calon penyintas diminta sesegera mungkin melaporkan diri ke basis terdekat.
Masa tunggu hingga jam satu siang ini.
Pihak pemerintah akan memberikan pengarahan dan perbekalan bagi para calon penyintas.
Kami masih terdiam menyimak berita tersebut.
...----------------...
Lewat 10 menit setelah kemunculan angka bercahaya biru tersebut.
Muncul sebuah bola hologram gradasi biru hijau di depan mataku.
"Kalian liat gak apa yang aku liat?" Tanyaku kepada semuanya.
"Liat apa, Nay?" Tanya yangkung. Suaranya serak.
"Ini di depan Naya ada bola warna biru hijau."
Mereka semua terdiam.
Lalu, "Kami gak liat, Nay." Jawab yangkungku lirih.
Aku melihat ke arah tv, orang-orang yang sama terpilih denganku, juga nampak tertegun, sepertinya mereka melihat hal yang sama.
Aku menggerakkan tanganku dan mencoba menyentuh bola cahaya tersebut.
Lalu di dalam kepalaku muncul suara system.
Tring!
Halo Kanaya Pradipta, pemilik system 5.051.510.
Saya adalah system yang akan mendampingimu. Semua informasi yang kamu butuhkan dapat kamu tanyakan kepada saya.
Saya akan menyesuaikan dengan kondisimu. Agar mempermudah kamu dalam menjalani tugas sebagai penyintas.
Tampilan menu dan suara ini hanya kamu sendiri yang bisa melihat dan mendengarnya. Silahkan dibuka.
Bola cahaya tadi berpendar dan berubah menjadi panel layar biru gradasi hijau.
Terdapat tombol pilihan :
* Poin : 0/1.000.000
* Data personal
* Skill (kemampuan)
* Inventory
"Di sini Naya dapet layar dengan menu data personal, skill, inventory." Aku menjelaskan kepada mereka.
"Coba pilih data personal, Nay." Ucap yangkung.
Aku menyentuh tombol tersebut. Dan membacakan apa yang kulihat.
Nama : Kanaya Pradipta.
Nomor kode system : 5.051.510
Usia : 20 tahun, 7 bulan, 25 hari.
Jenis kelamin : perempuan.
Ciri ciri fisik :
Tinggi badan 160 cm
Berat badan 50 kg
Warna kulit cerah
Rambut hitam bergelombang
Ras malayan asian
Planet asal : Bumi
Planet tujuan : Subiru
"Jadi nama planet yang bakal kamu tempati bernama subiru." Ujar yangkung.
Aku mengangguk. Lalu aku berpindah ke tombol skill.
Ada tiga tombol lagi di menu skill.
Tombol level personal.
Tombol skill khusus.
Tombol skill tambahan.
Aku klik tombol level personal.
Level 0 - pemula
Kecerdasan : 90/100
Fisik : 90/100
Mental : 89/100
Adaptasi : 88/100
Skill khusus. Silahkan sentuh salah satu pilihan yang menjadi skill awal penyintas.
Ruang
Api
Air
Tanah
Skill tambahan. Akan muncul setelah penyintas tiba di planet tujuan.
Berpindah ke tombol inventory.
Saat ini status inventory : 0/100
Semua terdiam menyimak kata kata ku.
Lalu aku bertanya pada system. "System, bagaimana cara memasukkan dan mengeluarkan barang dari inventory?"
System di kepalaku menjawab, "Pegang barang di depan panel layar dan ucapkan masuk, begitupun sebaliknya, sebutkan nama barang dan ucapkan keluar."
Aku mencoba memasukkan hp ke inventory, "Masuk", hp lenyap dari tanganku.
Pada panel inventory terisi 1/100.
Aku mencoba dengan meja kopi di depanku, kusentuh lalu "Meja, masuk."
Meja lenyap.
Inventory terisi 50/100.
Jadi bukan jumlah barang yang menunjukkan angka 100, tapi kapasitas luas ruang yang terpakai dalam inventory.
Kuucapkan, " Hp, keluar", hpku kembali muncul.
"Meja, keluar." Meja kembali ke tempatnya.
"Kayak sulap." Amelia yang sudah berdiri di dekatku berkomentar kagum.
Yangti sudah agak tenang.
Yangkung manggut-manggut.
Pak Budi dan Bu Imah masih berdiri di dekat yangti.
Amelia duduk di bawah di dekatku.
"System, bagaimana penghitungan poin dan apa fungsinya?"
"Poin bisa didapatkan melalui :
Penyelesaian misi, Kenaikan level dan skill, Penemuan item.
Masa hidup penyintas setelah beberapa periode tertentu. Serta beberapa hal lain yang akan diinformasikan system yang telah dinaikkan. Poin dapat digunakan untuk penambahan level dan skill.
Jika 1 juta poin terpenuhi selama 5 tahun, maka penyintas dapat mengajukan permintaan istimewa, kembali ke planet bumi. Jika hingga 5 tahun belum bisa terpenuhi, maka penyintas harus tinggal dengan tambahan waktu 5 tahun lagi dan jumlah poin yang harus terpenuhi akan bertambah."
"System, apa itu skill ruang?"
"Skill ruang adalah kemampuan menciptakan ruang tambahan pada inventory, untuk pemula dapat menambahkan ruang sama besar dengan inventory pemula yang dapat diisi dengan barang apapun. Akan bertambah seiring dengan kenaikan level penyintas."
Lalu aku menjelaskan kembali kepada mereka apa yang baru kudengar dari system.
"System, berapa banyak tingkatan level?"
"Tingkatan level terdiri dari 5 tahap.
Level 0, pemula.
Level 1, pemula lanjutan.
Level 2, menengah.
Level 3,menengah lanjutan.
Level 4, ahli.
Level 5, master."
"System, bagaimana cara meningkatkan level?"
"Penyintas harus melakukan misi harian, misi khusus, dan misi tersembunyi. Peningkatan kecerdasan, fisik, mental dan adaptasi akan mempengaruhi kenaikan level."
"System, apa bisa mendapatkan skill khusus selain yang dipilih saat ini?"
"Bisa. Penyintas dapat memperolehnya setelah memenuhi syarat tertentu dari keberhasilan menjalankan misi."
"System, apakah ada skill langka?"
"Skill langka hanya akan ada setelah penyintas mencapai level 2 dengan syarat tertentu."
Aku menjelaskan kembali kepada semuanya informasi dari system.
...----------------...
Tring tring tring!
Kami dikagetkan dengan suara dering hpku.
Celia calling.
"Halo Cel." Suaraku datar.
"Nayaaa....! Huhuhuuu... Mas Ben kepilih Naaay...!" Celia menangis kejer di ujung telepon.
Aku menghela nafas pelan, "Cel.. Please calm down ok?!"
Celia masih sesenggukan, "Ok" Jawabnya pelan. Terdengar latar riuh dibelakang Celia.
Sepertinya seluruh keluarga nya sedang berkumpul.
"Aku juga kepilih, Cel." Ujarku tenang. Mencoba tenang sebenarnya.
Hening sejenak.
Lalu, "WHAAAT!! NO NO NOOO... NOT YOU TOO, NAY!"
Terdengar suara tangis Celia yang makin keras.
Lalu, "Halo Naya. Ini tante." Suara tante Gia, mama Celia, terdengar serak.
"Iya tante."
"Are you ok?"
"So far, i'm good tante."
"Nenek kakek mu gimana?"
Aku melirik kedua sepuhku yang masih mengapitku.
"Ikhlas." Hanya itu jawaban yang bisa kukatakan.
"Nanti kami ke sana ya. Kita saling menguatkan." Ujar tante Gia.
"Iya." Jawabku singkat.
Lalu telepon dimatikan.
...----------------...
Jam 11.00 wib.
Keluarga Celia datang ke rumah. Formasi lengkap. Bahkan nenek kakek Celia pun ikut serta.
Kami saling berpelukan. Saling menguatkan. Celia tak henti hentinya menangis dipundakku.
Kami makan siang bersama.
Meski pada dasarnya kami kehilangan nafsu makan, tapi makan adalah kewajiban.
Celia bahkan hanya mau makan sambil kusuapi, seperti kebiasaannya selama ini kalau kami makan berdua.
Mata Celia bengkak parah. Aku sampai menertawakannya. Dia cemberut dan memelukku lagi.
"Kamu itu soulmate aku, Nay. Kalo kamu ga ada. Aku sama siapa."
"Cari pacar dong, Cel. Biar ada tempat kamu gelendotan." Selorohku.
Dia menggeleng kencang, "Ga mau aku tuuh.. Cari pacar susah. Harus lewat palang berlapis. Ada papa, mas Alex, mas Ben, Dami."
Dia terdiam sejenak, "Tapi kan nanti ilang satu palangnya, mas Ben." Ucapnya lirih.
"Nah.. Lebih ringan kan?" Selorohku lagi.
"Gak! Sama aja!"
"Padahal kamu kan juga pinter, Cel. Kenapa gak kepilih ya? Fisik kamu juga ok."
"Soalnya mba Cel kan cengeng, gak masuk syarat mentalnya." Sahut Dami sambil nyengir, yang mendapat hadiah timpukan sekotak tisu dari Celia.
Aku menoleh ke mas Ben yang duduk di dekat kami.
"Dapet nomer system berapa mas?"
Mas Ben melirikku dari fokusnya menghabiskan nasi di piringnya, "Nomer 5.050.505. Kamu?" Tanyanya balik.
"Dapet nomer cantik ya mas. Aku 5.051.510."
"Planet apa mas?"
"Subiru."
"Sama ya. Kira kira ada planet lain gak ya?"
Mas Ben mengangkat bahu.
Dia tersenyum kecil, "Nanti di sana kita saling cari ya. Biar bisa survive bareng."
Kuiyakan saja.
Kami masih belum tahu, bagaimana penempatan kami nanti di sana. Apakah dalam satu tempat yang sama atau teepisah jauh.
...----------------...
Jam 12.15 wib.
Kami menuju basis terdekat tempat tinggalku. Seluruh keluarga ikut menemani.
Sesampai di sana, sudah banyak para calon penyintas disatukan dalam satu area tertutup. Keluarga yang mengantarkan menunggu di sekitarnya.
Saat kami menuju meja pelaporan, seorang petugas keamanan menahan rombongan kami.
"Maaf, ini area terbatas, hanya calon penyintas yang diperbolehkan masuk."
Aku dan mas Ben mengangguk, dan memberi kode kepada keluarga kami untuk menunggu.
...----------------...
...----------------...
Di depan meja pelaporan.
"Selamat siang, dengan siapa?" Tanya petugas di meja.
"Benito Kusuma dan Kanaya Pradipta." Jawab mas Ben.
"Nomor kode silahkan ditampilkan."
Kami berdua menunjukkan lengan kiri, dan menyentuhnya. Cahaya biru bertuliskan nomor kami terlihat. Petugas tersebut langsung mencatatnya.
Lalu petugas meminta KTP kami untuk di data.
Petugas lapangan mengarahkan kami masuk ke area calon penyintas.
Di area tersebut terdapat setidaknya 20 orang, termasuk kami berdua.
Entah ini sudah semua calon penyintas di kota ku, atau belum.
Tepat jam 1 siang, penanggung jawab basis, kolonel Hamdi, menemui kami.
"Selamat siang semuanya." Ucapnya dengan suara tegas.
Kami serempak menjawab salamnya.
"Saya melihat wajah wajah muda yang penuh dengan kekuatiran namun juga penuh dengan tekad kuat. Saya yakin kalian mampu." Beliau membuka pengarahan.
Keluarga kami di luar pun bisa mendengarnya, karena beliau menggunakan microphone dan bahkan terdapat kamera wartawan lokal.
"Kita semua tidak tahu seperti apa yang akan kalian hadapi nanti. Apakah kalian akan mendarat di satu tempat atau terpisah. Apakah masalah yang akan dihadapi sama atau berbeda. Dan akan seberapa lama kalian bertahan di sana. Tapi saya tetap yakin kalian mampu. Karena itu lah kalian yang terpilih. Kalian memiliki kecerdasan, fisik, mental dan adaptasi yang mumpuni."
Beliau menatap kami satu per satu.
"Jika nanti kalian bertemu di sana, saya mengharapkan kalian bisa bekerjasama, saling mendukung, saling melindungi. Pastikan kalian semua akan kembali nantinya bersama-sama. Lakukan yang terbaik, untuk diri kalian dan juga rekan seperjuangan."
"Total penyintas dari wilayah kota Jaya sebanyak 20 orang. Total keseluruhan dari negara Pusaka terpilih sebanyak 1500 orang penyintas."
"Saya hanya bisa mewanti wanti, jika di sana kalian memiliki hal lebih dari orang lain, terutama dalam hal inventory, lebih baik sembunyikan selama kondisi kalian belum mapan. Dan pastikan kalian memilih kemampuan khusus yang dapat menopang kalian di sana. Selalu naikkan level kalian agar skill ikut naik. Skill tambahan pun akan sangat membantu kalian survive saat kalian mendapatkannya."
"Jika kalian dapat berkomunikasi, bagi informasi yang dapat saling membantu. Kalian akan berjuang bersama, berkembang bersama, dan saya harap kalian bisa pulang bersama. 5 tahun akan terasa terlalu lama atau sebentar, tergantung bagaimana usaha kalian untuk berkembang."
"Karena kalian diperbolehkan membawa beberapa barang selama tidak kelebihan muatan, kami dari pemerintah akan membantu kalian dengan membekali peralatan serba guna, diharapkan dapat membantu kalian di sana."
Kolonel Hamdi mengeluarkan sebuah tas tentara berukuran 80L, lalu mengeluarkan isinya, terdapat 1 pisau lipat multi tools, 1 smart watch tenaga surya khusus tentara, 1 kaca mata night vision, 1 kantung tidur, 1 pemantik api tanpa bahan bakar, 1 botol air minum lipat berisi 2 lt air, 2 combat shirt all size, 1 celana taktikal all size, 1 pasang kaos kaki, 1 alat kejut, 1 kotak P3K, 1 tenda kecil double layer, jas hujan, tali nilon serta carabiner, segulung kawat besar, genset portable dengan panel surya, kompor portable ukuran kecil, panci kecil dan beberapa kotak ransum tentara.
"Tas ini beserta isinya akan memenuhi 65/100 dari kapasitas inventory pemula. Untuk ransum dan air dapat memenuhi kebutuhan kalian selama 3 hari pertama. Saya yakin kalian akan mampu mencari sumber makanan dan air di sana."
Petugas basis membagikan kepada kami masing-masing satu tas berisi lengkap.
"Untuk kebutuhan dasar kalian, silahkan penuhi sisa 35% kapasitas inventory. Jika kalian memilih skill ruang, kalian akan mendapatkan tambahan ruang inventory."
"Selain perbekalan yang kami berikan sekarang, kalian akan mendapatkan pakaian seperti yang dipakai petugas di samping saya ini."
Seorang petugas peraga berdiri di samping kolonel.
"Kalian akan menggunakan topi, syal, kacamata hitam, combat shirt, sarung tangan, jaket parka waterproof, celana taktikal, kaos kaki, combat boots."
"Salah satu anggota kami yang terpilih sebagai penyintas sudah mengkonfirmasi bahwa apa yang menempel di tubuh kalian akan terbawa ke planet tujuan. Tapi tidak berlaku untuk benda yang masuk ke kantong di pakaian kalian."
"Sebagai penutup, saya ucapkan selamat berjuang untuk kalian. Ingat! Lakukan yang terbaik. Kami doakan kalian selamat selama di sana. Besok sebelum jam 09.00 wib, saya harapkan kalian kembali berkumpul di sini. Kami ingin mengantarkan kepergian kalian. Terima kasih."
Beliau lalu memberi hormat kepada kami, dan kami membalas dengan gestur yang sama.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada perayaan.
...----------------...
Mas Ben menggenggam tanganku.
Meski pandangannya tetap ke depan.
Hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku melihat tautan tangan kami, melihat ke arahnya, kembali melihat tangan kami.
Apa aku bermimpi?
Pria dingin, tegas, datar, dan penyendiri ini, tiba tiba menggenggam tanganku adalah hal yang di luar nuril sekali.
...----------------...
Sebelum keluar dari area para calon penyintas, berapa petugas mengukur tubuh kami dan meminta ukuran sepatu.
Para wanita disuntikkan cairan pencegah haid yang efektif selama 6 bulan dan tetap aman bahkan untuk yang alergi pada jenis obat tertentu.
Serta dibekali masing-masing 3 ampul, dapat dipakai jika masa 6 bulan sudah habis.
Kami diminta memasang reminder di smart watch yang dibagikan.
Selain aku, ada 9 perempuan lainnya yang terpilih :
* 2 pekerja kantoran.
* 3 mahasiswa S1 seperti aku.
* 1 mahasiswa S2.
* 1 konten creator dengan 10 juta followers.
* 1 pengusaha muda.
* 1 dokter koas.
Untuk para pria, juga terdiri dari 10 orang :
* 2 tentara.
* 1 polisi.
* 1 damkar.
* 2 mahasiswa S2, termasuk mas Ben.
* 2 mahasiswa S1.
* 1 pekerja kantoran.
* 1 pengusaha muda.
Semua yang terpilih berstatus single alias lajang, dan belum memiliki keturunan. Tidak sedang menjalani pengobatan, tidak memiliki penyakit berbahaya, tidak cacat.
Setelah berbagi info satu sama lain, aku menyimpulkan bahwa yang terpilih :
* Kecerdasan rata rata 80/100
* Fisik rata rata 80/100.
* Mental rata rata 80/100.
* Adaptasi rata rata 80/100.
Satu dari wanita pekerja kantoran, Raras, berusia 24 tahun, sejak awal menatap mas Ben. Aku sampai penasaran.
"Mas, cewe yang itu kenal gak? Dia ngeliatin mas terus."
Mas Ben meliriknya tak acuh. "Dia rekan kerja. Beda divisi."
Aku membulatkan mulutku. Baru faham. "Ngeliat nya kok beda ya mas. Kayak yang gimanaaaa gitu."
Mas Ben mengusap kepalaku, "Gak usah aneh aneh mikirnya. Pikirin aja besok. Malem ini mending perbanyak ilmunya yang bisa kepake di sana. Trus naikin level personal kamu. Bagus kalo nyampe level satu dalam waktu singkat."
Duh, ini kepala yang diusap, kenapa hatiku yang acak acakan.
Aku memberikan jempol, "Aman mas. Tar malem aku bakal gila gilaan. Hehehee.. "
Sungguh sesuatu yang wow sekalee aku bisa ngobrol santai dengan mas Ben.
"Penuhi poin 1 juta dalam 5 tahun ya, biar kita bisa pulang sama sama." Ujarnya pelan, "Aku bakal penuhi nazarku 5 tahun lagi."
"Apa tuh mas?" Tanyaku dengan muka penasaran.
Dia terkekeh dan mengusap wajahku, "Tar aja, tunggu 5 tahun."
"Udah yuk. Balik. Kasian pada nungguin di luar." Mas Ben menarik tanganku berdiri.
Kami keluar dari ruang dan menuju ke perkumpulan para keluarga.
"Besok sebelum jam 9, kita ketemu lagi di sini ya. Pamitan sama sama." Ujar om Bas, papa Celia.
Kami semua mengangguk.
Sebelum berpisah, Celia memelukku. Begitu juga tante Gia. Dan mba Lista, istri mas Alex.
Mas Ben dirangkul Dami, mas Alex berdiri di sisi satunya.
Hanya memperhatikan kami.
...----------------...
Jam 15.45 wib.
Kami baru sampai di rumah.
Amelia keluar membukakan pintu gerbang. Lalu diam menunggu kami keluar dari mobil.
Setelah aku turun, dia merangkul lenganku. "Aku belum ikhlas loh mba. Sedih mikirinnya." Ujarnya lirih.
Aku mengusap kepalanya. "Ikhlas gak ikhlas ya kudu ikhlas, Mel. Mau gimana lagi."
"Pantes aja ya mba kepilih, soalnya mental mba kuat banget. Dari tadi mba gak ada nangisnya, gak ada murungnya. Kalo aku yang kepilih, bakal nangis kejer loh, tereak tereak kayak kesurupan. Mana sanggup aku jauh jauh dari bapak sama ibu."
Aku tertawa pelan. "Doain aja mba baik baik di sana ya. Tolong jaga yangkung yangti. Temenin mereka kalo keliatan murung. Tenangin mereka kalo keliatan gusar. Jagain mereka kalo lagi sakit. Mba titip mereka ke kamu ya." Ucapku sambil menghapus airmatanya.
Dia mengangguk kencang, "Pasti mba. InsyaAllah aku jagain mereka, gantiin mba. Pokoknya mba harus pulang. Gak mau tau gimana caranya." Airmatanya masih mengalir.
Aku memeluknya, "Uuuh... Cengeng banget sih adekku ini. Be strong ya, dek. Jadi yang terbaik buat diri kamu sendiri. Jangan mau dilindas orang. Tolong gantiin juga mba di sasana, kasian para bocil kalo ga ada yang ngajarin lagi."
Selama ini Amelia suka ikut latihan kickboxing denganku. Dia sesekali mengarahkan para bocil untuk pemanasan sebelum masuk latihan inti.
Dia memandangku sebagai role model nya. Galak. Tangguh. Cerdas.
Kedua sepuhku, pak Budi dan bu Imah memperhatikan kami.
Mereka tersenyum mendengar pesan dan janji diantara kami.
...----------------...
Reuni tahun ini hingga mungkin 5 tahun kedepan, sori ya aku gak bisa gabung. Kalian baik baik ya. Jangan ngajak ribut Celia. Biar ga ada aku, dia tetep aja sangar walau cengeng."
Aku tertawa kecil.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan.
"Untuk semua keluargaku dan orang orang yang selalu ada untukku. Tetep kompak ya. Saling jaga. Saling sayang.
Aku sayang kalian semua. Tunggu aku pulang ya."
Aku diam dan tersenyum semanis mungkin.
"Wassalam semuanya."
Amelia menghentikan rekaman video.
Wajahnya memerah, air matanya luruh.
"Mbaaa.... " Dia memelukku erat.
...----------------...
Setelah 20 menit.
Amelia keluar dari kamarku dengan mata bengkak.
Aku mengirimkan rekaman video ke semua grup yang ada aku di dalamnya.
Dengan caption "pamitan".
Tak sampai 5 menit, semua chat masuk bertubi tubi.
Beneran heboh.
Aku sampai bingung mau menjawab yang mana duluan.
Bahkan ada salah satu orang tua murid kickboxingku mengirim video anaknya menangis ketika melihat videoku.
"Kanaya... Beneran kamu kepilih? Tapi emang wajar sih. Kamu kan setrong ya. Mana bisa yang menye menye dipilih, keburu meninggoy kali di sana. Tapi ya sayang banget, ilang deh satu manusia bermutu dari muka bumi. Safe flight ya, Nay. Eh... Ke sononya pake apa deh? Pake pesawat ato pake ufo?"
Voice note yang dikirim mantan ketua kelas ku jaman sekolah. Emang suka rada nyeleneh tuh orang satu.
Aku tertawa mendengarnya.
Lalu beberapa teman kuliahku mengirimkan emot syedih aku syediih.. Syedih sekalii..
Dah lah!
Tapi ada juga yang nyeleneh, "Asiik, ga ada Naya, bisa nih di gass rebut posisi terpintar di kelas."
Yang memancing hujatan teman lainnya.
"Naya... Besok pake bajunya yang buat anti huru hara ya. Setelan lo kudu kayak Lara Croft. Badass."
"Bawa pedang perisai aja Nay."
"Pake baju anti peluru."
"Belajar ilmu anti bacok Nay."
Aku membaca semua chat satu per satu, tanpa membalasnya.
Hanya tersenyum sedih.
Aku bakal kangen sama keanehan mereka.
...----------------...
Makan malam ini dalam formasi lengkap. Bahkan pak Budi, bu Imah dan Amelia bergabung dengan kami.
Bu Imah membuatkan masakan kesukaanku.
Pesmol ikan mas.
Udang dan cumi goreng tepung dengan saos asam manis.
Kentang mustofa.
Kami makan sambil berbincang ringan, tertawa pelan, menikmati malam ini tanpa air mata lagi.
Momen ini terlalu berharga untuk dijadikan ajang tangis tangisan.
...----------------...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!