Vivian menggenggam setir sambil sesekali melirik jam di dashboard. Presentasi koleksi terbarunya berjalan lancar. Kontrak dengan brand internasional pun tinggal menunggu tanda tangan.
"Akhirnya... semua kerja kerasku terbayar."
Senyum tipis terukir di bibirnya. Ponsel di dasbor bergetar sebentar. Notifikasi biasa dari grup kerja, tapi ia mengabaikannya. Fokusnya tetap ke depan. Hujan deras membuat jalan licin, jarak pandang menyusut.
Dari arah berlawanan, sebuah truk besar mendadak oleng.
"Astaga!"
Tiiinnn...!
Vivian refleks membanting setir. Ban mobil kehilangan traksi di atas aspal yang basah.
Sreeet! Mobil berputar tak terkendali.
"Ya Tuhan...!"
BRAK!
Pembatas jembatan hancur diterjang mobilnya. Dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur bebas ke arah sungai yang arusnya sedang deras.
"TIDAAAAKKK!"
BYURR!
Air langsung masuk ke dalam kabin. Vivian berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa.
Sabuk pengaman. Tangannya gemetar saat mencoba menekan penguncinya.
Klik.
Sabuk terlepas. Ia mendorong pintu sekuat tenaga. Tetap tidak bergerak. Tekanan air dari luar membuat pintu seolah terkunci rapat. Napasnya mulai memburu.
"Gak... Aku belum mau mati. Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak mimpi yang belum kucapai."
Air terus naik hingga menutupi dagunya. Vivian memukul kaca jendela berkali-kali.
Brak!
Brak!
Brak!
Sia-sia. Pandangannya mulai kabur. Dadanya terasa seperti terbakar karena kehabisan udara.
"Tidak...”
"Aku belum nikah..."
"Aku gak mau mati perawan..."
Gelembung udara akhirnya menutup bibirnya. Tubuhnya melemah. Kelopak mata menutup. Gelap dan dingin menyelimuti.
Ada jeda. Sesuatu seperti vakum. Kesunyian penuh tekanan. Lalu tubuhnya seolah dicabut dari kegelapan.
Vivian membuka mata dengan susah payah. Masih ada air. Tetapi aneh, ia tidak lagi berada di dalam mobil. Arus sungai tetap deras menyeret tubuhnya.
"A-apa...?"
Air yang dingin menyesakkan dadanya. Vivian meronta. Matanya terbuka lebar, tetapi yang terlihat hanya air keruh yang terus menyeret tubuhnya. Dadanya terasa seperti akan meledak karena kehabisan napas.
"Bukankah... aku udah mati?"
"Apa tadi cuma pingsan?"
"Kalau aku udah mati... Lalu sekarang, aku berada di mana?"
Belum sempat memahami keadaan, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat.
Vivian spontan meraih lengan pria itu, sementara kesadarannya masih dipenuhi pertanyaan.
Tubuhnya ditarik ke atas. Sesaat kemudian kepalanya muncul ke permukaan.
"Hosh...!"
"Uhuk-! Uhuk-! Uhuk-!"
Vivian terbatuk-batuk hebat. Air memenuhi mulut dan hidungnya hingga membuat dadanya terasa perih.
"Tarik! Sedikit lagi!"
Beberapa orang ikut membantu pria yang memegang lengannya. Anehnya, mereka tampak kesulitan.
"Ayo! Berat banget!"
"Pegang yang kuat!"
Vivian mengernyit bingung. "Kenapa mereka kelihatan susah banget narik aku? Memangnya berat badanku seratus kilo?"
Dengan susah payah akhirnya tubuhnya berhasil diangkat ke tepian sungai. Vivian masih terbatuk sambil memuntahkan air yang tertelan.
Belum sempat mengatur napas, sebuah suara dingin terdengar dari sampingnya.
"Ini terakhir kalinya aku nyelametin kamu."
Vivian mengangkat kepala. Seorang pria bertubuh tegap berdiri beberapa langkah darinya. Seragam loreng yang dikenakannya masih basah kuyup. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan wajah tampannya nyaris tak memiliki cela.
"Buset... ganteng banget."
Hampir saja Vivian mengatakannya keras-keras. Namun, saat tatapan pria itu bertemu dengan matanya, ia langsung mengurungkan niat.
Sorot mata pria itu begitu dingin, seolah baru keluar dari lemari pendingin.
"Apa orang ini dibuat di freezer?"
Belum sempat Vivian mengalihkan pandangan, pria itu kembali bersuara dengan nada yang sama dinginnya.
"Kalau lain kali kamu mengancam bunuh diri lagi, aku bakal biarin kamu."
Vivian mengernyit. "Bunuh diri? Aku?"
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya yang mungkin sedang diajak bicara. Namun, pria itu masih menatap lurus ke arahnya.
"Berarti... dia ngomong sama aku?"
Vivian semakin bingung.
"Aku bahkan gak pernah kepikiran buat bunuh diri. Karierku lagi naik, hidupku baik-baik aja. Aku juga belum punya pacar, belum sempet ngerasain indahnya jatuh cinta. Ngapain aku bunuh diri? Konyol."
Seorang wanita paruh baya segera berlari menghampiri. Air mata membasahi pipinya.
"Sudah, jangan marahi Via lagi."
Wanita itu berjongkok, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Vivian dengan tangan gemetar.
"Levia... jangan nekat lagi ya, Nak. Kamu tahu betapa khawatir Ibu dan ayahmu. Apa yang harus Ibu bilang sama ayahmu jika terjadi sesuatu sama kamu."
"Levia?"
Vivian menatap wanita itu kebingungan.
"Siapa Levia?"
Nama itu seperti potongan teka-teki. Vivian mendengar sendiri, jelas ia dipanggil Levia.
Pria berseragam loreng itu mendengus pelan. "Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Vandra!" hardik wanita paruh baya itu. "Jaga ucapanmu!"
Vandra... Nama itu terasa begitu familiar. Vivian membeku.
Vandra... Levia...
Potongan-potongan ingatan mendadak bermunculan seperti banjir yang tak terbendung. Kepalanya mendadak nyeri hebat seperti dihantam benda tumpul.
Novel. Nama tokoh. Alur cerita. Ia pernah membaca novel itu beberapa minggu lalu. Judulnya masih membekas. "Arvandra: Janji yang Memaksa". Dan pemeran figuran yang bernama... Levia.
Ia ingat adegan ini; tiga halaman terakhir, Levia menenggelamkan diri karena putus asa.
"Gak... gak mungkin...."
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"A-aku...."
Ia benar-benar masuk ke dalam dunia novel. Dan yang lebih mengerikan, ia bukan menjadi tokoh utama.
Melainkan Levia. Wanita obesitas yang tergila-gila pada teman masa kecilnya, Kapten Arvandra Jayasena. Demi memiliki pria itu, Levia bahkan menjebaknya hingga terpaksa menikah.
Seorang istri yang dibenci suaminya sendiri.
Menurut alur novel yang pernah dibacanya, hari ini seharusnya menjadi hari kematian Levia. Putus asa karena gagal mempertahankan pernikahannya, wanita itu memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sungai.
Mendadak Vivian teringat bagaimana dulu ia berkali-kali mengumpat Levia saat membaca novel itu.
"Dasar bodoh! Ngapain sih ngejer orang yang jelas-jelas gak cinta sama kamu? Sampai ngancem bunuh diri berkali-kali lagi. Mending fokus nurunin berat badan, terus cari laki-laki lain yang benar-benar ngehargain kamu. Masokis banget sih!"
Saat itu ia begitu yakin tak akan pernah bersimpati pada karakter Levia. Namun sekarang... Justru ia yang berada di dalam tubuh wanita itu.
Dengan gerakan kaku, Levia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Lengannya membulat. Jari-jari montok. Tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri. Pipinya terasa penuh. Lalu ia mencubitnya. Empuk. Perutnya juga menonjol.
"Ya ampun...." Wajahnya memucat. "Jadi sekarang... aku yang gendut?"
"Aaaaaa!"
Teriakannya menggema di sepanjang tepian sungai hingga membuat semua orang menoleh dan menatapnya dengan bingung.
...✨"Jangan pernah menertawakan takdir orang lain. Kita tidak pernah tahu kapan takdir itu memilih kita sebagai pemeran utamanya."✨...
.
To be continued
Vivian masih syok. Berkali-kali ia memegang pipinya yang tembam, lalu menepuk dan mencubitnya sendiri.
"Aduh!"
Perih. Berarti ini bukan mimpi.
"Ya Tuhan... ujian macam apa ini?" gumamnya mengusap wajahnya frustrasi.
Wanita paruh baya yang tadi memarahi Vandra tiba-tiba memeluknya erat.
"Syukurlah kamu selamat, Via. Jangan bikin ibu takut lagi."
Vivian membeku. Beberapa detik kemudian, ia perlahan melepaskan pelukan wanita itu.
"Maaf, Bu... saya bukan anak Ibu. Saya juga tidak kenal Ibu."
Keheningan seketika menyelimuti tepian sungai.
Semua orang saling berpandangan.
"Apa katanya?"
"Dia bilang gak kenal Bu Ratih."
"Kok bisa? Padahal Bu Ratih itu sayang banget loh sama dia."
"Iya. Dari kecil juga sudah dianggap anak sendiri."
"Maklum, Bu Ratih sama almarhumah ibunya Levia 'kan sahabatan."
"Sejak ibunya Levia meninggal, Bu Ratih yang paling sering merawat dan nemenin dia."
"Pantas Bu Ratih sedih banget lihat Levia begini."
"Mungkin kepalanya kebentur."
"Kayaknya amnesia deh."
Bu Ratih...
Nama itu membuat Vivian tertegun.
Potongan-potongan cerita dalam novel kembali bermunculan di kepalanya.
Ratih Jayasena. Ibu Vandra.
Sahabat mendiang ibu Levia sejak muda. Karena tidak pernah memiliki anak perempuan, Ratih menyayangi Levia seperti putrinya sendiri. Bahkan setelah Levia menikah dengan Vandra, kasih sayang itu tidak pernah berubah.
Itulah sebabnya Ratih selalu berusaha menjadi penengah setiap kali Levia dan Vandra bertengkar.
Di tengah kerumunan, terdengar suara seorang pria memanggil dengan cemas.
"Via!"
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menerobos kerumunan, diikuti seorang pria jangkung berkacamata. Napasnya memburu. Begitu melihat Vivian terduduk di tepi sungai, wajah tegangnya sedikit mengendur.
"Syukurlah...."
Tanpa pikir panjang, pria itu berlutut dan memegang kedua bahu Vivian.
"Via, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit? Coba ayah lihat."
Vivian spontan menepis tangannya. "Maaf, Pak. Jangan pegang-pegang saya sembarangan."
Pria itu terdiam. Tangannya menggantung di udara. Sorot matanya berubah kosong, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Via... ini Ayah."
Vivian menggeleng pelan. "Maaf... saya benar-benar gak kenal Bapak."
Wajah pria itu memucat. Ia menoleh kepada semua orang yang berada di sana, termasuk Vandra dan ibu Vandra.
"Via kenapa?"
Ratih menghela napas pelan. "Kami juga tidak tahu, Pak Gultom. Sejak diselamatkan, bicaranya aneh."
Seorang warga ikut menyahut.
"Mungkin amnesia, Pak Gultom. Soalnya hampir tenggelam."
Pak Gultom...
Nama itu langsung menyentak ingatan Vivian.
Bram Gultom. Ayah Levia.
Pria yang dalam novel digambarkan sangat mencintai istrinya hingga tak pernah menikah lagi setelah sang istri meninggal. Semua kasih sayangnya dicurahkan kepada putri semata wayangnya karena Levia adalah satu-satunya peninggalan wanita yang paling ia cintai.
Meski tidak setuju Levia memaksa Vandra menikah, pada akhirnya ia tetap mengabulkan keinginan putrinya.
Karena terlalu memanjakan Levia, gadis itu tumbuh menjadi sosok keras kepala yang selalu ingin mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
"Ya ampun.... Ini bener-bener dunia novel." Ia memegang dahinya. "Ini bener-bener gak lucu."
Ingin rasanya ia menangis. Tetapi harga dirinya sebagai desainer ternama menahannya.
Gultom segera menoleh kepada pria paruh baya jangkung yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Pak Herman, cepat hubungi dokter keluarga. Minta dia langsung datang ke rumah."
"Baik, Pak."
Di sisi lain, Vandra hanya mendengus pelan. "Kalau pura-pura amnesia supaya aku batalin gugatan cerai, sia-sia."
Ucapan itu langsung menyulut emosi Vivian. Ia berdiri, meski sedikit sempoyongan karena masih lemas sekaligus belum terbiasa dengan tubuh obesitas.
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Tatapan Vandra tetap datar. "Aktingmu makin bagus."
Vivian sampai ingin menjambak rambutnya sendiri. "Ini orang kenapa pede banget sih? Apa tiap hari mandi pakai deodoran rasa percaya diri?"
Bram Gultom mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. "Sudah."
Ia menatap Ratih dengan wajah penuh rasa bersalah. "Maaf, Bu Ratih. Saya akan bawa Via pulang dulu. Biarkan dokter memeriksanya."
Ratih tampak ragu. "Tapi... bagaimana kalau kondisinya memburuk di jalan? Sebaiknya langsung ke rumah sakit saja."
"Dokter keluarga kami akan datang," kata Gultom. "Setelah itu, kalau memang perlu dirawat, saya sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit."
Ratih akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong kabari kami bagaimana keadaan Via."
Vandra tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berbalik, seolah keadaan Levia sudah bukan urusannya lagi.
Melihat sikap pria itu, Vivian justru merasa lega. "Syukurlah," batinnya. "Semoga dia cepat nyeraiin aku... eh, maksudnya Levia. Aku takut nge-freeze dan jadi boneka salju kalau deket-deket sama dia."
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.
Vivian duduk di kursi belakang mobil dengan tubuh masih lemas. Sesekali ia melirik pria paruh baya yang duduk di sampingnya.
Bram Gultom terus menggenggam ponselnya dengan gelisah. Beberapa kali pria itu hendak bertanya, tetapi mengurungkannya.
Vivian justru tenggelam dalam ingatannya. Sedikit demi sedikit isi novel yang pernah dibacanya kembali bermunculan.
Ia diam-diam melirik Gultom. "Levia beruntung banget punya ayah kayak beliau...." Bibirnya melengkung pahit. "Beda banget sama aku."
Ayah kandung Vivian masih hidup. Namun pria itu lebih suka berjudi dan bermalas-malasan daripada bekerja. Setiap kali Vivian mendapat proyek besar sebagai desainer, ayahnya selalu datang meminta uang tanpa pernah memedulikan lelahnya mencari nafkah.
Sejak kecil, Vivian sering berandai-andai memiliki seorang ayah yang benar-benar menyayanginya.
Ia segera menggeleng pelan. "Sudahlah.... Kehidupan itu udah tamat. Yang harus aku pikirin sekarang adalah gimana caranya bertahan hidup di dunia ini."
Ia kembali mengingat alur novel.
Setiap Vandra mau mengajukan gugatan cerai, Levia kehilangan harapan. Berkali-kali mengancam bunuh diri demi menggagalkan perceraian hingga akhirnya benar-benar menceburkan diri ke sungai.
Vivian menarik napas panjang. "Kalau aku ngikutin alur novel, ujung-ujungnya aku juga bakal mati."
Tidak. Ia sudah mati satu kali. Ia tidak ingin mengulanginya.
Mobil perlahan memasuki halaman sebuah rumah. Vivian yang semula melamun langsung membelalak.
Pagar besi tinggi terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah rumah bergaya klasik modern dengan taman yang luas dan terawat. Air mancur menghiasi halaman depan, sementara beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi.
"Lho...." Vivian spontan menoleh ke kanan dan kiri. "Bukannya di novel cuma dibilang anak pengusaha biasa? Ini... biasa dari mananya?"
Rumah ini bahkan lebih mewah daripada rumah beberapa kliennya.
"Apa penulis novelnya lupa menjelaskan? Atau memang ada banyak hal yang tidak pernah ditulis?"
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Via, ayo masuk."
Suara Gultom membuyarkan lamunannya.
Vivian mengikuti pria itu hingga tiba di sebuah kamar. Begitu pintu terbuka, Gultom berkata dengan nada lembut, "Kamu ganti baju dulu. Jangan sampai masuk angin atau flu."
Vivian mengangguk. Sedangkan Gultom berbalik pergi.
Vivian masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Ia menyapukan pandangannya ke kamar luas itu. Langkahnya langsung terhenti di depan cermin yang berdiri setinggi badan.
Perlahan ia mendekat. Wanita di dalam cermin ikut mendekat. Pipi bulat. Dagu berlapis. Lengan besar. Pinggang nyaris tak terlihat.
Vivian menelan ludah. "Ya Tuhan...."
Ia memutar tubuhnya perlahan. Dari samping... Sama. Dari belakang... Tetap sama.
"Ini bener-bener aku?"
Pandangan Vivian jatuh ke sebuah timbangan digital di sudut kamar. Dengan ragu ia menaikinya.
Beep! Angka di layar menyala.
112, 5 kg.
Vivian membeku. Beberapa detik kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan... ini bukan diet lagi." Ia mengembuskan napas panjang. "Ini proyek nasional."
Ucapan itu membuat dirinya sendiri tertawa getir.
...✨"Tidak semua kesempatan kedua datang dalam kehidupan yang lebih baik. Kadang, ia datang dalam kehidupan yang menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik."...
..."Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada takdir. Justru dari situlah keberanian untuk mengubahnya dimulai."✨...
.
To be continued
Setelah sedikit lebih tenang, Vivian membersihkan diri.
Setelahnya, ia berdiri di depan lemari pakaian Levia. Begitu pintunya dibuka, ia langsung menghela napas panjang.
Hampir semua pakaian di dalamnya berukuran besar dengan model yang menurutnya terlalu monoton. Potongannya longgar tanpa membentuk siluet tubuh, sementara perpaduan warnanya terlihat kurang serasi.
Sebagai seorang desainer, nalurinya langsung terusik.
"Astaga... siapa yang milihin baju-baju ini? Bukannya bikin pemakainya lebih percaya diri, modelnya malah bikin tubuh terlihat makin besar."
Ia menggeleng pelan.
"Sudahlah. Ini cuma sementara. Setelah tubuh ini langsing, aku bakal mendesain pakaian yang benar-benar cocok buat Levia."
Setelah memilih pakaian yang menurutnya paling layak dikenakan, Vivian segera berganti baju.
Tok. Tok. Tok.
"Via, ini Ayah."
Suara Bram Gultom terdengar dari balik pintu. Vivian segera membukanya.
Di depan pintu, Bram tersenyum hangat sambil membawa secangkir teh jahe yang masih mengepulkan uap.
"Ayah buatin teh jahe. Biar badanmu hangat." Bram langsung masuk, lalu meletakkan minuman itu di meja nakas.
Vivian terdiam sejenak. Entah kenapa, dadanya terasa menghangat.
"Inikah rasanya diperhatikan oleh seorang ayah?" batinnya.
Di kehidupan sebelumnya, ayah kandungnya hanya tahu meminta uang. Jangankan membuatkan minuman hangat, menanyakan apakah ia sudah makan saja tidak pernah. Matanya mendadak terasa panas.
"Terima kasih, Yah." Vivian menerima cangkir itu dengan senyum tulus.
"Mulai sekarang... karena aku hidup di tubuh Levia, aku bakal nganggep beliau sebagai ayahku." Tekadnya dalam hati. "Lagipula, siapa yang gak mau punya ayah sebaik ini?"
Bram justru terdiam menatap putrinya. Biasanya, setelah melakukan hal nekat seperti ini, Levia akan menangis sambil mengadu bahwa Vandra tetap bersikeras menceraikannya. Namun sekarang, putrinya justru tampak tenang. Sorot matanya pun terasa berbeda.
"Yah?" Vivian memiringkan kepala. "Kenapa Ayah lihatin aku kayak gitu?"
Bram tersenyum tipis lalu menggeleng. "Nggak apa-apa."
Belum sempat ia berkata lagi, Herman muncul di depan pintu. "Pak Bram, dokter sudah datang."
Bram mengangguk, lalu kembali menatap Vivian. Meski ragu, ia tetap bertanya, "Via, kita cek dulu kesehatanmu, ya?"
Vivian berpikir sejenak. "Diperiksa dokter? Bagus juga," pikirnya. "Seenggaknya aku bisa tahu apakah tubuh ini memiliki penyakit akibat obesitas."
"Iya, Yah," jawab Vivian akhirnya.
Untuk kesekian kalinya Bram terdiam. Putrinya benar-benar berbeda. Biasanya Levia paling benci diperiksa dokter. Sekarang justru mengiyakan tanpa protes sedikit pun.
"Apa karena kejadian di sungai tadi benar-benar mengubahnya?"
"Pak Gultom?"
Suara Herman membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya," sahut Bram sedikit tersentak. " Silakan panggil dokternya masuk."
Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun memasuki kamar sambil membawa tas hitam berisi peralatan medis. Rambutnya mulai memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.
"Selamat sore, Nona Levia."
Levia tersenyum tipis. "Selamat sore, Dok."
Dokter itu sempat terdiam. Biasanya, jangankan menyapa. Levia selalu mengeluh setiap kali ia datang.
"Pak Gultom, biar saya periksa Nona Levia dulu."
Bram mengangguk. "Baik, Dok."
Ia memberi isyarat kepada Herman untuk keluar bersamanya.
Pintu kamar pun tertutup.
Dokter mulai memeriksa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, hingga memeriksa pupil mata Levia.
"Hasil pemeriksaan awalnya cukup baik. Hanya saja tubuh Anda masih lemas karena hampir tenggelam."
Levia mengangguk pelan. "Dok, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Selain obesitas, apa saya punya penyakit lain? Misalnya diabetes, asam urat, kolesterol, atau gangguan jantung?"
Tangan dokter yang sedang mencatat hasil pemeriksaan langsung berhenti. Ia menatap Levia beberapa detik. Pertanyaan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut wanita ini.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Levia tersenyum canggung. "Saya cuma... ingin mulai menjaga kesehatan."
Dokter itu masih tampak heran, tetapi kemudian menjawab dengan jujur. "Sejauh hasil pemeriksaan rutin terakhir, Anda belum menderita diabetes maupun penyakit jantung. Namun, berat badan Anda memang meningkatkan risikonya. Kalau pola hidup tidak berubah, kemungkinan terkena penyakit metabolik di masa depan cukup besar."
"Syukurlah." Levia mengembuskan napas lega. "Lalu... kalau saya ingin diet, apa yang harus saya lakukan?"
Kali ini dokter benar-benar menurunkan bolpoinnya. "Nona... Anda ingin diet?"
"Iya."
"Bukan karena Kapten Vandra?" tanyanya penuh selidik.
Levia spontan menggeleng. "Bukan." Ia menjawab dengan mantap. "Saya ingin sehat."
Dokter tersenyum tipis. "Itu alasan yang jauh lebih baik."
Ia lalu menjelaskan pola makan yang seimbang, mengurangi makanan tinggi gula dan lemak, memperbanyak protein serta sayur, dan mulai berolahraga secara bertahap agar tubuh tidak kaget.
Levia mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk sambil mengingat setiap penjelasan dokter.
"Oh ya, Dok."
"Ya?"
"Ayah saya sehat, 'kan?"
Dokter mengernyit. "Maksud Anda Pak Gultom?"
"Iya," jawab Vivian. "Saya lihat beliau sering bekerja. Umurnya juga sudah tidak muda lagi. Saya tidak mau Ayah sakit."
Dokter terdiam. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Levia tanpa berkedip. Sebagai dokter keluarga, ia tahu betul bagaimana Bram Gultom selalu mengutamakan putrinya.
Bahkan saat Levia berkali-kali membuat ulah, pria itu tidak pernah benar-benar marah. Sebaliknya, Levia hampir tidak pernah bertanya tentang kesehatan ayahnya. Hari ini, justru Levia sendiri yang menanyakannya.
"Pak Gultom memang memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol."
Senyum di wajah Levia perlahan memudar. "Apa itu berbahaya?"
"Selama beliau menjaga pola makan, rutin minum obat, mengurangi stres, dan berolahraga ringan, kondisinya bisa tetap terkontrol."
Levia mengangguk pelan. "Nanti saya bantu mengawasi beliau."
Dokter tersenyum hangat. "Itu akan sangat membantu."
Di luar kamar.
Bram Gultom mondar-mandir dengan wajah gelisah.
Herman hanya memerhatikan dari balik kacamatanya sambil berdiri tenang.
"Her, menurutmu Via kenapa?"
Herman menggeleng. "Saya juga belum tahu, Pak."
"Dia berubah drastis." Bram berhenti melangkah. "Jujur... aku senang melihat perubahan itu. Tapi... Entahlah. Rasanya seperti melihat Via, tapi juga bukan Via yang biasanya."
Herman tersenyum kecil. "Mungkin kejadian tadi membuat Nona Levia tersadar."
Bram menghela napas panjang. "Atau..." Ia menatap pintu kamar dengan wajah serius. "Jangan-jangan anakku kesurupan hantu air."
Herman sampai berkedip beberapa kali. "Pak... Bapak biasanya paling tidak percaya hal-hal mistis."
"Iya, sih," sahut Bram. "Tapi perubahan Via terlalu aneh."
Herman menahan tawa. "Kalau benar kesurupan, masa hantunya malah membuat Nona berubah jadi lebih baik?"
Bram ikut terdiam. "Iya juga, ya."
"Kalau begitu..." Herman mengulum senyum. "...mudah-mudahan hantu itu betah."
"Her!"
Herman langsung terkekeh pelan. "Bercanda, Pak."
Akhirnya Bram ikut tersenyum meski hanya sesaat.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Dokter keluar sambil melepas kacamatanya.
Bram segera menghampiri. "Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"
...✨"Tekad untuk berubah lahir bukan karena ingin dipuji orang lain, melainkan karena menghargai hidup yang masih diberi kesempatan."...
..."Kasih sayang orang tua sering kali terasa biasa, sampai suatu hari kita menyadari betapa berharganya perhatian sederhana yang mereka berikan."...
..."Perubahan terbesar bukan terjadi saat hidup memberimu kesempatan kedua, melainkan saat kamu memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."✨...
.
To be continued
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!