Damar selalu berpegang teguh pada satu prinsip hidup sederhana, yakni menjadi orang biasa yang tidak kasat mata adalah kunci keselamatan. Dia bukan tipe pria yang suka menjadi pusat perhatian, benci situasi penuh drama, dan selalu sebisa mungkin menghindari kerumunan.
Cita-cita hidupnya sama sekali tidak megah. Dia hanya ingin bekerja santai di balik meja kantor dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore, lalu pulang ke kamar kosnya untuk menyeduh mi instan sambil menonton maraton serial komedi favoritnya.
Namun, kenyataan hidup sering kali memiliki cara yang cukup kasar untuk menghancurkan rencana-rencana sederhana.
Mata Damar menatap nanar layar ponsel murahnya yang retak di sudut kanan bawah. Angka saldo di aplikasi perbankannya tinggal menyisakan tiga digit—tiga digit yang bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring nasi goreng di pinggir jalan.
Lebih parahnya lagi, di atas meja kayunya yang agak lapuk, tiga lembar surat tagihan sewa kos berstempel merah sudah menumpuk seperti ancaman eksekusi mati. Ibu kosnya sudah memberikan tenggat akhir sampai nanti malam pukul delapan. Jika uang sewa tidak segera dilunasi, seluruh pakaian dan barang-barang milik Damar akan dijemur di atas trotoar depan.
"Gaji lima belas juta per bulan. Tanpa syarat pengalaman kerja. Cukup membawa kartu identitas," gumam Damar, membacakan selembar brosur kertas tebal yang tak sengaja dia temukan tertempel di tiang halte bus pagi tadi.
Damar mengusap wajahnya yang letih. Logika sehatnya terus membunyikan alarm peringatan di dalam kepala.
Di zaman sekarang, in this economy, tidak ada pekerjaan halal yang sudi membayar belasan juta rupiah untuk pemuda fresh graduate serba rata-rata tanpa keahlian khusus seperti dirinya. Ini pasti semacam penipuan organ tubuh, agen perdagangan manusia, atau skema investasi bodong.
Namun, perutnya yang meronta-ronta karena lapar dan ancaman pengusiran dari kamar kos berhasil membungkam akal sehatnya.
Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, Damar melangkah menyusuri gang sempit di sudut kota tua yang selalu sepi dan lembap.
Di sanalah dia berada sekarang. Berdiri terengah-engah di depan sebuah ruko berarsitektur gaya kolonial Belanda. Dinding batunya yang tebal tampak sedikit kusam, dilapisi lumut kering di beberapa sudut.
Di atas pintu kayu mahoni yang tinggi, melintang sebuah plang kayu berukir tulisan berwarna emas pudar.
Last Trip Express – Agen Perjalanan Spesial.
Damar menarik napas panjang, mencoba mematangkan nyawanya sebelum memutar gagang pintu kuningan yang terasa dingin menembus kulit telapak tangannya.
Kring ....
Lonceng kecil berbunyi halus saat pintu terdorong ke dalam. Damar melangkah ragu-ragu melewati ambang pintu, dan seketika itu pula, rasa herannya mencetus.
Suasana di dalam ruko terbilang sangat mewah, sangat berbanding terbalik dengan bagian luarnya yang suram dan terbengkalai. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengilap yang memantulkan bayangan lampu gantung kristal di langit-langit. Udara di dalam ruangan tidak terasa pengap, melainkan dihiasi aroma unik—perpaduan antara wangi sedap malam yang manis dan aroma seduhan kopi mahal.
Di balik meja kayu jati berukuran raksasa di ujung ruangan, seorang wanita tampak sedang duduk santai. Dia sibuk merapikan kukunya memakai kikir perak kecil, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya saat Damar masuk.
Wanita itu mengenakan gaun serba hitam berpotongan vintage haute couture yang sangat anggun. Rambut hitam pekatnya disanggul rapi dengan sebuah jepit bermotif mutiara.
Parasnya luar biasa cantik dengan garis rahang yang tegas dan bibir terpoles gincu merah tua.
Namun, aura yang memancar dari tubuhnya terasa begitu pekat, dingin, dan menindas. Damar yang pada dasarnya penakut mendadak merasa seperti seekor kelinci kecil yang melangkah masuk ke dalam sarang serigala.
Instingnya berteriak agar dia segera berbalik arah dan melarikan diri, tetapi saat dia memutar badan, pintu mahoni di belakangnya tertutup sendiri dengan dentuman keras.
Brak!
Damar meloncat kaget. Kakinya mendadak gemetar di atas karpet beludru merah.
"Pintunya sudah dikunci otomatis dari dalam, Anak Muda. Kamu tidak bisa kabur!
Suara wanita itu terdengar halus, meliuk tajam dengan nada sarkastis yang kental. Dia masih belum mendongak, fokusnya masih tertuju penuh pada kikir di tangannya.
Damar menelan ludah yang terasa sekeras batu. "M-maaf ... Mbak? Atau ... Ibu? Saya datang mau menanyakan lowongan kerja yang di brosur."
Wanita itu akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan kikir perak di atas meja jati, melipat kedua tangannya yang berkulit pucat, lalu menatap Damar dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian samping. Pandangannya begitu dingin, seolah sedang membedah isi kepala Damar.
"Panggil saya Madam Helga," ucapnya dengan nada datar namun penuh wibawa yang tak tertahankan. "Siapa namamu?"
"D-Damar, Bu ... maksud saya, Madam Helga. Damar Prasetya."
"Damar," ulang wanita itu, menyebut kembali nama tersebut di lidahnya dengan nada setengah meremehkan. "Pria muda yang penakut, introvert, muka pas-pasan, dan aromamu sangat bau stres akibat melilitnya masalah keuangan. Singkatnya ... bau-bau kemiskinan. Sempurna."
Damar mengedipkan matanya berkali-kali, benar-benar terperangah.
Baru satu menit di sini, tapi kenapa mentalku rasanya langsung dihantam sampai hancur? batinnya meratapi nasib.
"Tugasmu sederhana," lanjut Madam Helga tanpa peduli dengan wajah syok yang ditunjukkan calon pegawainya. "Kamu hanya perlu menjadi tour guide atau pemandu wisata. Memandu perjalanan grup tur keliling ke beberapa destinasi pilihan, membacakan rantai itinerary, memastikan peserta tur merasa nyaman, dan menangani komplain jika ada pelanggan yang rewel."
Mendengar penjelasan itu, setitik harapan mulai menyala di dada Damar. Dia menghela napas lega.
"Cuma ... memandu turis biasa, Madam? Kalau cuma itu, rasanya saya mampu. Ya, walau saya agak pemalu dan pemarah kalau kaget, tapi saya cukup pintar menghafal materi tur, kok."
"Bagus!" Madam Helga tersenyum tipis—sebuah senyuman yang bukannya menenangkan, malah makin membuat bulu kuduk Damar berdiri tegak.
Wanita itu menarik sebuah gulungan kertas perkamen tebal dari dalam laci meja jatinya. Dia mendorong perkamen itu ke tengah meja bersama sebuah pulpen bermaterial logam hitam dengan ujung yang diruncingkan tajam bak jarum.
"Tandatangani bagian paling bawah perkamen ini. Kontrak kerjamu akan langsung aktif mulai malam ini juga."
Damar mendekati meja dengan ragu. Dia memungut pulpen hitam yang terasa dingin menusuk jemarinya. Ketika dia menunduk untuk membaca isi perjanjian di atas perkamen, dahi Damar berkerut dalam. Huruf-huruf yang tertulis di sana bukanlah huruf Latin maupun abjad yang biasa.
Bentuknya meliuk-liuk aneh menyerupai aksara kuno, dan anehnya lagi, tulisan itu seolah-olah terus bergerak samar di atas permukaan kertas.
"Anu ... Madam Helga, ini tulisan apa ya? Kok hurufnya agak aneh dan berbayang?" tanya Damar ragu.
"Jangan banyak tanya! Kalau kamu memang butuh uang lima belas juta itu! Tinggal tanda tangan saja di sana. Jangan bawel!" gertak Madam Helga sambil menghentakkan telapak tangannya ke atas meja jati.
Brak!
Gertakan yang tiba-tiba itu membuat Damar tersentak kaget. Jarinya tergelincir, dan ujung pulpen logam yang tajam itu tanpa sengaja menggores kulit jempol kanannya cukup dalam.
"Aduh!" Damar mengaduh kesakitan, refleks menarik tangannya.
Setetes darah segar berwarna merah pekat menetes dari jempolnya, jatuh tepat di atas garis kosong tempat tanda tangan di bagian bawah perkamen.
Seketika itu juga, udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat berat. Kertas perkamen di atas meja memancarkan pendar cahaya merah redup yang aneh.
Asap tipis beraroma menyengat—perpaduan antara baunya kayu cendana dan kemenyan terbakar—merebak keluar dari permukaan kertas. Tulisan aksara kuno di atas perkamen itu seolah hidup, menyerap tetesan darah Damar, lalu perlahan-lahan hangus terbakar menjadi abu hitam tanpa menyisakan api sedikit pun.
Damar melompat mundur dua langkah, matanya melotot selebar piring.
"A-apa-apaan itu tadi?! Kertasnya ... kertasnya kok bisa terbakar sendiri?!"
Madam Helga hanya terkekeh pelan. Dia memajukan tubuhnya, meraih abu hitam perkamen yang mendadak memadat dan berubah bentuk menjadi sebuah kartu identitas bertali gantung dari material logam dingin.
Dengan gerakan santai, wanita itu melempar kartu tersebut ke arah dada Damar. Damar menangkapnya secara refleks. Di permukaan kartu logam itu, terukir namanya sendiri dengan tinta berwarna merah darah.
DAMAR PRASETYA – TOUR GUIDE.
"Selamat, Damar. Kamu sudah resmi terikat kontrak kerja dengan Last Trip Express," ucap Madam Helga seraya berdiri anggun dari kursinya dan merapikan lipatan gaun mewahnya. "Tugas pertamamu akan dimulai tepat lima menit lagi."
Jantung Damar berdegup kencang bak ditabuh drum perang.
"T-tapi saya belum paham semuanya! Turisnya siapa? Kita mau pergi ke mana malam-malam begini?"
Tiiiiinnnnnn ...!
Suara klakson bus yang begitu berat, dalam, dan bergema—seolah berasal dari dasar sumur tua yang amat dalam—tiba-tiba mengguncang ruko tersebut dari arah jalanan luar.
Suasana di dalam ruangan mendadak turun drastis hingga mencapai titik beku. Hembusan napas Damar yang panik bahkan kini mengeluarkan uap tipis berwarna putih.
Madam Helga melangkah perlahan melewati Damar, meliriknya dari sudut mata dengan tatapan yang sangat kelam.
"Turis kita adalah jiwa-jiwa yang mati membawa penasaran dan tidak tenang, Damar," bisik Madam Helga tepat di sebelah telinganya, menyebarkan rasa dingin yang membekukan tengkuknya.
"Dan kalau kamu tidak bisa memandu mereka dengan baik sampai mereka merasa puas ... kamu sendiri yang akan dijadikan hidangan penutup oleh mereka malam ini."
Kalimat terakhir Madam Helga terngiang-ngiang di dalam kepala Damar bagaikan lonceng kematian.
Hidangan penutup?!
Tenggorokan Damar rasanya tersumbat batu besar. Lututnya lemas, sampai-sampai dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak ambruk ke lantai marmer yang makin dingin.
"M-Madam ... bercandanya nggak lucu," cicit Damar dengan suara gemetaran. "Saya ini pelamar kerja, bukan tumbal!"
Namun, Madam Helga bahkan tidak menoleh lagi. Dengan gaya berjalan anggun seolah sedang melintasi panggung catwalk, wanita itu mendorong pintu mahoni ruko hingga terbuka lebar.
Angin malam yang berembus masuk tidak lagi membawa bau asap kendaraan kota, melainkan aroma tanah basah, kabut tebal, dan wangi bunga kantil yang menyeruak tajam menyengat hidung.
Di depan ruko, terparkir sebuah bus antar-kota berukuran besar yang tampak sangat tidak wajar. Karoseri bus itu dicat hitam legam tanpa kilap, dilapisi lapisan embun tipis dan noda tanah kering.
Lampu depannya menyala redup dengan cahaya berwarna merah keunguan, memotong kepekatan kabut malam. Di atas kaca depan, papan LED digital berwarna merah menyala menampilkan nomor armada.
BUS 666 – TANGGA MENUJU ABERASI.
Tiiiiinnnnnn ...!
Klakson berat itu berbunyi sekali lagi. Kali ini getarannya membuat kaca-kaca ruko bergetar hebat.
Madam Helga melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak di samping pintu bus yang terbuka dengan suara desisan angin hidrolik yang berdecit ngilu. Suara pintu bus itu terdengar seperti pintu besi peti mati yang digeser paksa.
"Berdirilah di samping pintu, Damar!" perintah Madam Helga tanpa kompromi. Tangannya yang lentik menunjuk ke anak tangga pertama bus. "Tersenyum, pasang wajah ramah, dan sapa setiap penumpang yang masuk. Ingat, attitude seorang pemandu tur adalah cerminan dari reputasi Last Trip Express. Paham?!"
"Tapi, Madam ... itu... itu bus apa?!" Damar melangkah mundur dua tindak, memegang dada kirinya yang berdegup kencang bak dentuman mesin giling. "Kenapa baunya kayak kuburan baru?!"
"Tiga detik lagi rombongan pertama akan tiba. Kalau kamu tidak berdiri di posisimu sekarang, saya sendiri yang akan memastikan gajimu bulan ini dipotong seratus persen ... plus nyawamu," ancam Madam Helga dengan nada santai, namun matanya memancarkan pendar berbahaya.
Damar meneguk ludahnya yang terasa pahit. Ancaman itu terasa sangat nyata. Dengan langkah kaki serasa dibatui timah berat, Damar merayap mendekati tangga bus.
Dia berdiri canggung di samping pintu, merapikan kemejanya yang kusut, lalu menyilangkan tangan di depan perutnya—mencoba mengingat gaya pramugari atau staf hotel bintang lima yang pernah dia lihat di televisi.
Lalu, kabut tebal di jalanan sepi itu mulai terbelah.
Dari kegelapan malam, muncul sosok-sosok yang berjalan beriringan menuju arah bus. Damar menyipitkan mata, berharap penglihatannya hanya tertipu oleh rasa lelah dan stres keuangan semata.
Namun, makin dekat rombongan itu melangkah, makin buyar harapan Damar untuk tetap waras.
Sosok pertama yang mendekat adalah seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik yang koyak di beberapa bagian. Pria itu tidak melangkah menggunakan kaki. Keduanya mengambang kira-kira sepuluh sentimeter di atas permukaan trotoar. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, dengan lingkaran hitam pekat mengelilingi matanya yang melotot hampa.
"S-selamat malam ... selamat datang di ... di Last Trip Express," ucap Damar. Suaranya tercekat di tenggorokan, begitu pelan sampai-sampai hampir tak terdengar.
Pria berbaju batik itu berhenti tepat di depan Damar. Udara di sekitarnya mendadak menjadi begitu dingin hingga membuat kulit lengan Damar merinding hebat.
Pria itu perlahan menoleh. Namun, yang berputar bukan hanya lehernya—seluruh kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan suara retakan tulang yang mengerikan! Krek ... krek ... krek.
"Mas, busnya AC-nya dingin nggak?" tanya pria itu. Wajahnya kini berada di posisi punggungnya, menatap Damar dengan lidah menjulur sedikit. "Saya kalau kepanasan suka gatal-gatal, bekas otopsi saya belum kering soalnya."
"AAAAAARRRRGHHHH!" Damar menjerit histeris.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, hampir saja tersungkur ke belakang kalau saja cengkeraman tangan Madam Helga tidak menahan kerah belakang kemejanya dari belakang.
"Jangan buat saya malu, Damar!" bisik Madam Helga tajam di telinga Damar. Tangannya yang mungil ternyata memiliki kekuatan cengkeraman luar biasa. "Tersenyum! Atau saya pelintir kepalamu seperti bapak ini!"
Damar mengatupkan mulutnya rapat-rapat, giginya bergelatuk hebat hingga beradu satu sama lain. Dia mencoba memasang senyuman paling palsu dan paling mengenaskan di sepanjang hidupnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
Pria berbaju batik itu berlalu masuk ke dalam bus sambil bergumam pelan tentang resep herbal memudarkan jahitan bekas bedah mayat.
Belum sempat Damar menata napasnya yang memburu, penumpang kedua sudah menaiki tangga bus.
Sosok kali ini adalah seorang wanita muda yang mengenakan gaun putih panjang bertumpuk. Gaun itu bagian bawahnya tampak koyak-koyak dan berlumpur.
Saat wanita itu melangkah naik, aroma bunga kantil dan melati busuk mendadak merebak begitu tajam hingga membuat perut Damar mual seketika.
"Selamat malam, Mas Tour Guide yang manis," sapa wanita itu dengan suara mendayu-dayu yang sangat lambat dan bergema.
"S-s-selamat ... malam, Mbak," jawab Damar, berusaha keras menatap ke arah dahi wanita itu agar tidak perlu menatap matanya secara langsung.
Namun, wanita itu mendadak menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya yang panjang dan basah terurai ke depan, menutupi seluruh wajahnya.
Saat dia merogoh sesuatu dari balik lipatan gaunnya, Damar melihat jemari wanita itu tidak memiliki kuku, melainkan cakar hitam yang panjang.
"Tiket saya," ucap wanita itu seraya mengulurkan selembar kertas lusuh berwarna cokelat yang berbercak darah kering. "Bisa minta tolong pegangin dulu? Saya mau benerin posisi usus saya yang mau keluar, nih."
Damar melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita itu menyibak bagian perut gaunnya, memperlihatkan rincian luka robek yang mengerikan di mana organ dalamnya tampak hampir meluncur keluar.
Brak!
Damar tak sanggup lagi.
Pandangannya mendadak berbayang. Kesadarannya goyah, dan tubuhnya ambruk pingsan meluncur ke lantai tangga bus.
"Astaga, dasar manusia tak berguna!" omel Madam Helga gusar. Wanita berpenampilan elegan itu menepuk dahinya sendiri, lalu menendang pelan kaki Damar yang tergeletak memalangi pintu bus. "Helo! Bangun! Kamu baru kerja sepuluh menit dan sudah pingsan dua kali?!"
Rombongan penumpang hantu di belakang mulai berbisik-bisik.
"Duh, tour guide-nya kok lemah banget ya?" komplain seorang hantu kakek-kakek yang berjalan menggunakan kepalanya sendiri sebagai pengganti tongkat. "Gimana mau bantu kita menyelesaikan urusan duniawi kalau liat kita aja udah pingsan?"
"Iya nih! Penyelenggara macam apa ini? Saya minta refund karma ya!" timpal hantu wanita bergaun putih yang tadi, sambil sibuk memasukkan kembali kain kassa ke perutnya.
Madam Helga mendesis kesal. Dia menjepit hidung Damar dengan dua jari berkuku tajamnya dan menepuk-nepuk pipi pemuda itu dengan keras.
Plak! Plak!
"Aduh! Panas!" Damar tersentak bangun, tersedak napasnya sendiri. Matanya yang liar langsung mendapati wajah Madam Helga yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari mukanya.
"Berdiri!" perintah Madam Helga dingin. "Semua penumpang sudah masuk ke dalam bus. Sekarang tugasmu adalah naik ke atas bus, pegang mikrofon, dan berikan kata sambutan!"
"M-Madam ... saya mau pulang ... saya kembalikan uang lima belas jutanya ... saya ikhlas diusir ibu kos." Tangis Damar pecah. Airmata ketakutannya benar-benar menetes. "Saya tidak mau mati dimakan hantu!"
Madam Helga tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang biasanya dimiliki oleh antagonis dalam film-film teror. Dia merengkuh pundak Damar, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda yang sedang gemetaran hebat itu.
"Satu-satunya cara untuk keluar dari sini hidup-hidup adalah menyelesaikan perjalanan tur pertama ini dengan sukses," bisik Madam Helga, suaranya pelan namun penuh penekanan yang mematikan. "Kalau kamu kabur sekarang, kontrak gaib di jarimu akan menyedot habis seluruh darahmu dalam hitungan tiga detik. Pilih mana ... dipandu hantu, atau jadi hantu baru di bus ini?"
Damar mematung. Dia melirik jempol kanannya yang kini memiliki bekas lingkaran hitam samar menyerupai tato cincin. Dia menelan ludah. Pilihan yang diberikan bosnya sama sekali bukan pilihan. Itu adalah vonis mati dua arah.
Dengan sisa kekuatan yang tersisa di tulang-tulang kakinya, Damar berdiri perlahan. Dia memegang pegangan pintu bus, melangkah menaiki tangga terakhir, dan memutar badannya menghadap ke seluruh isi lorong bus.
Di dalam bus nomor 666 itu, 30 pasang mata—beberapa di antaranya menggantung di luar rongga mata, beberapa bercahaya merah dalam gelap—kini tertuju sepenuhnya kepada Damar. Bau kemenyan, bunga kantil, tanah kuburan, dan formalin menyatu menjadi satu kombinasi udara terburuk yang pernah dihirup Damar.
"S-selamat malam ... para ... para tamu yang terhormat ...." Suara Damar melengking tinggi akibat panik berlebihan, bergema kasar melalui speaker bus yang kusam.
Perjalanan paling mengerikan dalam hidup Damar Prasetya ... baru saja dimulai.
Suara Damar yang melengking konyol masih memantul di dinding-dinding bus. Tiga puluh pasang mata gaib menatapnya tanpa kedip. Keheningan yang menyusul terasa begitu mencekam, seolah-olah waktu di dalam kendaraan hitam ini telah berhenti sepenuhnya.
Damar menurunkan mikrofon berkabel hitam yang dipegangnya dengan tangan gemetaran. Otaknya menjerit histeris, menyuruh seluruh sel tubuhnya untuk menerobos keluar melalui kaca jendela.
Bodo amat soal tagihan kos! Bodo amat soal saldo tinggal serebu! Ini sih gila! Gila banget!
Tanpa memikirkan risiko apa pun lagi, Damar berbalik kilat. Dia mengambil langkah seribu, berniat melompati pintu bus dan berlari sekuat tenaga menembus kabut malam.
Namun, baru saja satu kakinya terangkat melayang menuju ambang pintu, sebuah cengkeraman tak kasat mata namun sekeras besi mendadak mencekik leher belakang kemejanya.
"Mau lari ke mana kamu, Damar?"
Suara Madam Helga berbisik tepat di samping telinganya. Begitu dingin, begitu menusuk tulang.
Sebelum Damar sempat menjawab, tubuhnya dihentakkan berputar seratus delapan puluh derajat dan dihempaskan kembali ke lantai bus di dekat kursi pengemudi.
Brak!
"Aduh!" Damar mengaduh sambil memegangi pinggulnya yang terasa hendak patah. Dia menatap Madam Helga dengan mata berkaca-kaca, memohon iba. "Madam ... tolong, Madam! Saya ini introvert! Jangankan memandu rombongan hantu, menyapa tetangga sebelah kosan aja saya suka pura-pura pingsan! Tolong batalkan kontraknya, Madam ... saya janji nggak bakal lapor polisi!"
Madam Helga mendengkus tipis, menyibak gaun hitamnya dengan gerakan anggun sebelum bersedekap di depan dada. Tatapannya yang penuh dominasi menatap Damar seperti sedang melihat seekor serangga yang merayap di atas karpet mewahnya.
"Membatalkan kontrak?" tanya Madam Helga dengan alis terangkat. Dia menarik sebuah gulungan tipis beraroma asap dari balik lengan gaunnya. Gulungan itu mengambang secara ajaib di udara, membentang terbuka di depan wajah Damar yang pucat pasi.
Teks berwarna merah menyala yang terukir dari darah Damar tadi mendadak membesar, berkilat-kilat di tengah kegelapan bus.
"Mari kita bacakan pasal tujuh, ayat tiga," tutur Madam Helga santai, jemari berkuku cantiknya mengetuk-ngetuk udara. " 'Pihak Kedua—dalam hal ini kamu, Damar Prasetya—dilarang keras mengundurkan diri atau melakukan pemogokan kerja sebelum masa kontrak selesai. Jika Pihak Kedua nekat mengajukan resign, Pihak Pertama berhak mengambil seluruh sisa energi kehidupan Pihak Kedua secara instan untuk dijadikan bahan bakar minyak bus.' "
Damar membelalak. "Bahan bakar bus?! Maksudnya nyawa saya dijadiin bensin begitu?!"
"Tepat sekali. Bensin pertamax turbo gaib, lebih tepatnya," jawab Madam Helga tanpa berkedip. "Jadi pilihanmu sekarang sangat simpel, kamu berdiri di sana, pegang mikrofon itu, jalankan tugasmu sebagai tour guide ... atau jiwa penakutmu itu akan dialirkan langsung ke tangki bensin bus ini dalam hitungan tiga detik."
"T-tapi—"
"Satu!" Madam Helga mulai berhitung.
"Ini kan—"
"Dua!" Jemari Madam Helga membentuk huruf V dengan gaya santai namun elegan.
"Ini pelanggaran Hak Asasi Man—!"
"Tig—"
"Oke! Oke, Madam!" potong Damar cepat. Air matanya makin merembes.
Madam Helga menyunggingkan seulas senyum tipis nan dingin.
"Hak Asasi Manusia katamu? Sayangnya, di Last Trip Express, kami tidak melayani hal seperti itu. Kami melayani Hak Asasi Makhluk Halus," balas Madam Helga tajam.
Dengan satu gerakan tangan yang cepat, Madam Helga meraih clipboard kayu tebal berisi lembaran-lembaran itinerary atau daftar rencana rute, tempat yang akan dikunjungi, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Damar.
Mikrofon besi tadi juga dilayangkan secara magis, mendarat pas di genggaman tangan Damar yang gemetar.
"Dengar baik-baik, Pemuda Penakut!" Madam Helga memajukan wajahnya, menyebarkan aroma bunga sedap malam yang begitu pekat. "Aturan main di sini sangat sederhana. Pertama, tugasmu adalah memandu tur ini, bacakan jadwal perjalanan, dengarkan keluhan mereka, karena kepuasan pelanggan adalah nomor satu!"
Damar menelan ludah yang terasa seperti pasir kasar.
"K-kalau ... kalau mereka nggak puas gimana?"
"Itu masuk ke aturan kedua," sambung Madam Helga, mata bulatnya berkilat berbahaya. "Jangan sampai ada penumpang yang mengamuk atau mengalami penyesalan mendalam hingga berubah menjadi wujud Arwah Anarki. Kalau sampai mereka mengamuk, mereka bisa mencabik-cabikmu sebelum saya sempat menjentikkan jari. Dan kalau kamu mati diserang penumpang, gajimu otomatis hangus."
"Yang dia khawatirin tetap gajinya?!" batin Damar menangis histeris. Nyawa saya yang melayang, Madam!
"Dan aturan ketiga—aturan paling vital," bisik Madam Helga, kini nadanya berubah agak serius dan kelam. "Jangan pernah berjanji atau memberikan hal-hal yang tidak ada di dalam daftar itinerary. Para arwah sangat sensitif terhadap janji palsu. Sekali kamu ingkar, kutukan mereka akan mengikatmu selamanya."
Damar memeluk clipboard kayu itu erat-erat ke dadanya, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra teror.
"Terus ... Madam sendiri ngapain?"
"Saya?" Madam Helga menyunggingkan senyum elegan yang dipenuhi keangkuhan murni. "Saya adalah Pemilik Agen. Tugas saya adalah mengawasi kinerjamu, menikmati pemandangan, dan memastikan kamu tidak bertindak konyol yang memalukan nama baik perusahaan. Jika ada ancaman gaib tingkat tinggi yang mengganggu operasional tur, baru saya yang turun tangan. Selebihnya? Itu urusanmu, Tour Guide."
Madam Helga kemudian berbalik, melangkah santai menuju kursi paling depan di barisan kanan yang berukuran lebih besar dan dilapisi kain beludru merah.
Dia duduk di sana dengan anggun, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu mengeluarkan sebuah cermin lipat antik bertakhtakan permata untuk mengoreksi tatanan rambutnya.
Di belakang, rombongan hantu mulai kasak-kusuk kembali. Suara bisikan gaib mereka terdengar seperti desisan angin yang menembus celah jendela tua.
"Duh, mana nih tour guide-nya? Kok malah pacaran sama bosnya?" cerocos hantu pria berbaju batik yang kepalanya masih berada di posisi punggung.
"Iya nih! Jam keberangkatan udah lewat lima menit! Jangan sampai kita telat sampai ke destinasi pertama ya! Nanti energi gaib saya keburu surut!" sahut hantu kakek-kakek yang membawa kepalanya sendiri di atas pangkuan.
"Mas Tour Guide! AC-nya bisa dikecilin nggak?! Rambut saya blow-annya rusak nih kena angin!" jerit hantu wanita bergaun putih dari barisan tengah.
Damar mematung di depan mikrofon. Keringat dingin menyatu dengan air matanya, membasahi kerah kemejanya. Dia melirik ke arah Madam Helga, berharap ada sedikit rasa kasihan dari wanita itu.
Namun, Madam Helga bahkan tidak menoleh; dia hanya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan jam tangan berantai emas sambil mengetuk pergelangan tangannya tiga kali—memberikan sinyal bahwa waktu Damar sudah habis.
Damar memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang hingga paru-parunya terasa sesak oleh aroma kemenyan dan melati busuk, lalu menghembuskannya perlahan.
"Gak apa-apa, Damar ...," batinnya mencoba menenangkan diri yang jelas-jelas tidak tenang. "Lu cuma perlu anggap mereka ini peserta tur rombongan ibu-ibu PKK yang agak ... ekstrem. Anggap aja mukanya rusak karena salah pakai skincare. Lu cuma perlu baca kertas ini, baca aja."
Dengan jemari yang bergoyang hebat, Damar membuka lembaran pertama di clipboard-nya. Tulisan di kertas itu bersinar merah redup, menampilkan deretan nama penumpang dan jadwal perjalanan malam ini.
Damar menempelkan mikrofon ke bibirnya. Suaranya terdengar bergetar hebat, namun dia berusaha keras menahannya agar tidak pecah.
"C-cek ... cek satu ... dua ...." Suara Damar bergema melalui pengeras suara bus.
Seluruh hantu di dalam bus mendadak diam, memusatkan perhatian kembali kepada pemuda malang yang berdiri di depan itu.
"S-selamat malam ... Rekan-Rekan Arwah yang ... yang terhormat dan dicintai ...," kata Damar, memaksakan senyum pepsodent paling menyedihkan di muka bumi. "Selamat datang di Bus Nomor 666 ... persembahan dari Last Trip Express."
Madam Helga melirik dari balik cermin kecilnya, sebuah ulasan senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibir merahnya.
"Nama saya ... Damar," lanjut Damar, kini pasrah sepenuhnya pada nasib. "Dan malam ini ... saya yang akan menjadi pemandu wisata kalian, menuju perjalanan terakhir sebelum kalian ... pindah alam."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!