Indonesia
NovelToon NovelToon

Hanya Istri Sementara

Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan

“Ugh, Liona... Liona. Kamu sangat nikmat sekali.”

Ainun memejamkan mata rapat. Jemarinya mencengkeram seprai hingga kusut. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, lalu mengalir pelan membasahi pelipis.

Bahkan di saat berhubungan, Sagara—suaminya, masih menyebut nama Liona, kakaknya.

Napasnya tertahan, sementara tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang tak sanggup ia telan.

Ainun menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak yang hampir lolos.

'Mau sampai kapan aku menjalani semua ini?'

Pertanyaan itu berulang kali berputar di dalam kepalanya.

Sudah hampir tiga bulan ia menjadi istri Sagara. Namun, tak sekalipun pria itu memandangnya sebagai seorang istri.

Bagi Sagara, Ainun hanyalah pengganti sekaligus istri sementara sampai wanita yang pria itu cintai kembali.

Kelopak matanya kembali terpejam. Tanpa mampu ia cegah, ingatannya perlahan menyeretnya pada peristiwa dua bulan yang lalu, saat semua penderitaan ini bermula.

Flashback.

Malam itu, Ainun baru saja menyelesaikan salat Isya. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia bangkit sambil membenarkan mukena yang masih melekat di tubuhnya.

Saat berbalik, langkahnya terhenti.

Liona berdiri di ambang pintu.

“Mbak...”

Liona tidak menjawab. Wanita itu melangkah masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur seolah sedang memikirkan sesuatu.

Ainun memandanginya dalam diam. Jemarinya masih merapikan lipatan mukena, sementara tatapannya tak lepas dari sosok kakaknya yang malam itu tampak lebih serius dari biasanya.

“Mbak mau bicara sama kamu, Ainun,” ucap Liona akhirnya.

Ainun mengangguk pelan. “Bicara apa, Mbak?”

“Dua hari lagi pernikahanku sama Mas Sagara.”

“Iya.”

“Tapi... aku sudah memutuskan. Besok aku berangkat ke luar negeri untuk mengejar impianku sebagai seorang model go internasional.”

Mata Ainun membelalak. “A-apa? Besok?”

Liona mengangguk mantap. “Ya.”

“Tapi... bukannya dua hari lagi Mbak menikah?”

“Justru itu.” Liona menatapnya lekat. “Kamu gantiin aku, ya?”

Napas Ainun tercekat. “Tapi...”

“Nggak ada tapi-tapian,” potong Liona sambil melambaikan tangan. “Kamu cukup menikah dengan Mas Sagara untuk sementara. Tolong jaga dia buat aku. Jangan sampai ada perempuan lain yang mengambilnya.”

Ainun terdiam.

Tatapannya jatuh ke lantai. Ujung jarinya tanpa sadar meremas kain mukena yang masih dikenakannya.

'Pernikahan adalah ikatan yang sakral. Seharusnya hanya dijalani oleh dua orang yang saling mencintai. Sementara Mas Sagara sangat mencintai Mbak Liona. Kalau aku menggantikan Mbak di pelaminan... bukankah Mas Sagara akan membenciku?'

Ainun ingin menolak. Namun, sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh kedua bahunya.

Seketika ia mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Liona yang kini berdiri tepat di hadapannya.

“Mau, ya?” pinta Liona dengan nada lembut. “Cuma beberapa bulan saja.”

Ainun menelan ludah. Bibirnya bergerak pelan.

“Aku...”

“Bukankah kamu selalu mendukung semua keputusanku?” sela Liona sambil tersenyum. “Hanya beberapa bulan, kok. Setelah aku kembali, kalian tinggal bercerai.”

Ainun terdiam. 'Bercerai... bagi Mbak, semudah itu mengatakannya?'

Ia menundukkan kepala. “Bagaimana dengan Ibu dan Ayah, Mbak?” tanyanya lirih. “Apa mereka akan setuju…”

“Nggak usah dipikirkan. Aku yang akan bicara sama mereka.” Liona mengusap pelan bahu Ainun. “Jadi, gimana?”

Ainun menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa pernikahan bukan permainan yang bisa dipinjamkan begitu saja.

Namun, setiap kali keberanian itu hendak muncul, bayangan senyum Liona dan impian kakaknya selalu membuatnya mengurungkan niat.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“B-baiklah.”

Seketika wajah Liona berbinar. Tanpa aba-aba, wanita itu menarik Ainun ke dalam pelukannya.

“Terima kasih, Ainun!” serunya penuh kegembiraan. “Akhirnya mimpiku menjadi model benar-benar akan terwujud.”

Ainun membalas pelukan itu perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, meski dadanya terasa semakin berat.

'Semoga keputusan ini bukan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.'

“Oh ya, Ainun.”

Langkah Liona yang hampir mencapai pintu kembali terhenti. Wanita itu menoleh, lalu menatap Ainun dengan senyum tipis.

“Kalau nanti kamu menikah sama Mas Sagara, jangan sampai kamu jatuh cinta... apalagi hamil.”

Senyum di bibir Ainun perlahan menghilang.

Ucapan yang baru saja terlontar terasa mengganjal di hati.

'Jatuh cinta?'

Bagaimana mungkin ia berani mencintai pria yang bahkan bukan ditakdirkan untuknya?

Ainun menganggukkan kepala pelan.

“Insyaallah, Mbak.”

“Ya sudah. Besok aku harus bersiap-siap. Selamat malam, Ainun.”

“Malam, Mbak.”

Liona melangkah keluar.

Klik.

Pintu kamar menutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang seketika menyelimuti ruangan.

Ainun masih berdiri mematung.

Tatapannya lurus ke arah pintu yang telah tertutup rapat. Tak ada lagi suara selain detak jarum jam yang terus berdenting dan desir angin malam yang sesekali menerpa jendela.

'Kalau ini bisa membantu Mbak Liona meraih mimpinya, aku akan melakukannya.'

.

.

Cahaya matahari pagi perlahan menembus celah gorden, menyapu wajah Ainun yang masih terlelap.

Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.

Ia berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke sekeliling kamar yang terasa begitu terang. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyelinap di dadanya.

Dengan tergesa, Ainun meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Begitu layar menyala, napasnya seketika tertahan.

“Jam... lewat pukul tujuh?!”

Ia langsung terduduk.

“Astagfirullah... aku kelewatan salat Subuh.”

Rasa bersalah memenuhi dadanya. Selama ini, ia selalu berusaha menjaga salat tepat waktu. Baru kali ini ia benar-benar terlambat hingga matahari terbit.

'Kenapa aku bisa tidur sepulas ini?'

Belum sempat ia larut dalam penyesalan, suara ibunya terdengar dari balik pintu.

“Ainun! Cepat bangun dan sarapan!”

Ainun menoleh ke arah pintu.

“I-iya, Bu,” sahutnya sedikit terburu-buru.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu segera turun dari tempat tidur. Tanpa membuang waktu, langkahnya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

Dengan pakaian yang sudah rapi, Ainun melangkah menuju ruang makan.

Di sana, Ayah, Ibu, dan Liona telah duduk mengelilingi meja. Aroma nasi goreng yang masih hangat memenuhi ruangan.

“Pagi, semuanya,” sapa Ainun sambil menarik kursi.

“Pagi,” sahut mereka hampir bersamaan.

Baru saja Ainun hendak mengambil piring, suara Liona memecah keheningan.

“Ibu, Ayah. Aku sudah memutuskan berangkat ke luar negeri hari ini.”

Tangan Ainun yang hendak meraih sendok terhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan Ayah dan Ibunya langsung beralih kepada Liona. Sementara Ainun hanya menundukkan kepala. Ia sudah mengetahui keputusan itu sejak semalam.

“Kamu mau ke luar negeri?” tanya Ayah dengan nada tak percaya.

Liona mengangguk mantap.

“Iya. Ini kesempatan terakhir buat aku jadi model.”

“Tapi satu hari lagi kamu akan menikah,” ucap Ayah.

“Kan ada Ainun.” Liona menoleh ke arah adiknya. “Dia yang akan menggantikanku untuk sementara.”

Seketika Ainun merasakan dua pasang mata tertuju kepadanya.

Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di bawah meja.

“Kamu setuju, Ainun?” tanya Ayah.

Ainun mengangkat wajah. Bibirnya sedikit terbuka.

“Sebenarnya aku—”

“Setuju, Yah,” sela Liona cepat. “Semalam kami sudah membicarakannya.”

Ucapan yang sudah berada di ujung lidah Ainun kembali tertelan.

“Lalu bagaimana dengan Sagara?” tanya Bu Siti.

“Biar Ainun yang mengurusnya.” Liona tersenyum ringan, lalu menatap Ainun. “Iya, kan, Ainun?”

Ainun membalas tatapan kakaknya.

“Mbak...”

“Dua jam lagi jadwal penerbanganku.”

Liona berdiri sambil merapikan tas yang disampirkannya di bahu.

“Aku berangkat dulu ya, Ayah, Ibu... Ainun.” Tatapannya berhenti pada sang adik. “Ingat, jangan jatuh cinta sama Mas Sagara. Aku menitipkan dia untuk dijaga, bukan untuk kamu miliki.”

Sebelum Ainun sempat mengatakan apa pun, Liona sudah berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Liona,” panggil Ayah, “kita belum selesai membicarakan ini.”

Namun, langkah kaki Liona tidak berhenti sedikit pun.

Ainun hanya mampu menatap punggung kakaknya yang terus melangkah menjauh. Liona sama sekali tidak menoleh, apalagi memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara.

'Mbak benar-benar menyerahkan semua tanggung jawab ini kepadaku... bahkan tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan.'

“Liona, kenapa dia mengambil keputusan seperti ini?” gumam Pak Susanto dengan wajah penuh kebingungan.

Belum sempat Ainun mengangkat kepala, suara Bu Siti terdengar lebih dulu.

“Ainun, kenapa kamu langsung menyetujuinya?” tegur wanita itu dengan nada meninggi.

Ainun menoleh pelan. “Mbak Liona tadi—”

“Jangan salahkan Liona,” potong Bu Siti tajam. “Salahkan dirimu sendiri yang mau mengiyakan permintaannya.”

Ucapan itu membuat Ainun kembali terdiam.

Jemarinya meremas ujung bajunya erat-erat.

'Padahal aku belum sempat menjelaskan apa pun...'

 Sejak kecil, setiap kali terjadi sesuatu, ia selalu menjadi pihak yang disalahkan. Meski bukan sepenuhnya kesalahannya, pada akhirnya ia juga yang harus menerima semua amarah.

Pak Susanto mengembuskan napas panjang.

“Sudahlah. Ini sudah menjadi keputusan Liona. Mau nggak mau kita harus mendukungnya.”

Ainun mengangkat wajah perlahan.

Tatapan ayahnya terasa dingin.

“Kalau begitu, lakukan saja. Tapi ingat satu hal, Ainun.” Suara Pak Susanto terdengar tegas. “Sagara itu milik mbakmu. Jangan pernah berpikir untuk mengambil tempatnya.”

Kalimat itu menghantam hati Ainun tanpa ampun. Ia menunduk, lalu mengangguk pelan.

“I-iya, Ayah.”

“Sayang, Mas berangkat kerja dulu,” pamit Pak Susanto sambil berdiri.

“Hati-hati, Mas,” sahut Bu Siti.

Ainun ikut bangkit dari kursinya. “Hati-hati, Ayah....”

Namun, Pak Susanto telah lebih dulu melangkah keluar tanpa menunggu ucapannya selesai.

Ainun mengembuskan napas lirih. Pandangan matanya beralih kepada sang ibu.

“Bu, Ainun berang—”

“Iya,” jawab Bu Siti singkat.

Tanpa menoleh sedikit pun, wanita itu langsung meninggalkan ruang makan.

Kini, hanya Ainun yang tersisa.

Ruangan yang tadi dipenuhi suara percakapan mendadak terasa lengang. Ia menatap meja makan yang belum sempat disentuhnya, lalu tersenyum tipis dengan getir.

‘Sepertinya memang aku seperti orang lain yang nggak di harapkan kehadirannya.’

Tak lama kemudian, Ainun membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang makan.

Flashback end

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Ainun duduk diam di depan meja rias. Wajahnya telah dipoles tipis oleh tangan penata rias hingga tampak lebih segar. Namun, tatapannya tak tertuju pada pantulan wajah di cermin.

Perlahan, pandangannya turun ke pakaian yang dikenakannya.

Bukan gaun pengantin yang anggun.

Bukan pula kebaya putih yang biasa dikenakan mempelai wanita.

Tubuhnya hanya dibalut abaya putih sederhana yang semalam diberikan oleh ibunya.

Sementara itu, di sudut kamar, gaun pengantin milik Liona berdiri anggun di atas manekin. Payet-payetnya berkilau diterpa cahaya lampu, seolah mengejek kesederhanaan yang kini melekat pada dirinya.

Ainun menggigit bibir bawahnya.

'Bahkan di hari pernikahanku... aku tetap bukan pengantin yang sesungguhnya.'

“Maaf, Bu,” ucap penata rias sambil memandangi Ainun melalui cermin. “Yakin pengantin wanitanya memakai abaya?”

Melalui pantulan cermin, Ainun melihat ibunya mengangkat wajah.

“Iya. Memangnya ada masalah?” tanya Bu Siti, ibunya dengan nada datar.

“Bukan begitu, Bu.” Penata rias tersenyum canggung. “Ini acara yang sakral. Biasanya pengantin perempuan memakai kebaya atau gaun pengantin. Bukankah di pojok itu ada gaunnya?”

Tatapan Ainun ikut beralih ke arah manekin.

Gaun putih itu memang sangat indah. Namun, ia tahu gaun itu bukan untuknya.

“Itu milik putri saya, Mbak,” jawab Bu Siti tanpa ragu. “Kalau dipakai orang lain, saya takut kotor.”

Tubuh Ainun membeku. 'Orang lain?'

Bukankah ia juga putri Bu Siti?

Lalu... sejak kapan dirinya dianggap sebagai orang lain?

“Bukankah Mbak ini juga putri Ibu?” tanya penata rias itu dengan ragu.

Jemari Ainun seketika meremas ujung abaya yang dikenakannya.

Bu Siti tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

“Iya. Tapi dia cuma menggantikan kakaknya untuk sementara. Setelah Liona pulang, semuanya kembali seperti semula.”

Kalimat itu menusuk hati Ainun.

'Astagfirullah... ya Allah, kuatkan hamba menghadapi semua ini.'

Ia hanya menundukkan kepala. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan sontak menoleh.

Jantung Ainun berdegup lebih cepat.

Di ambang pintu, Sagara berdiri dengan napas memburu. Jas pengantinnya telah dikenakan rapi, tetapi raut wajahnya dipenuhi amarah.

‘Mas Sagara pasti sudah tahu tentang kepergian Mbak Liona.’

“Di mana Liona?!” bentaknya.

Tanpa sadar, bahu Ainun menegang.

Tatapannya bertemu dengan mata Sagara hanya sesaat sebelum pria itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, seolah berharap Liona muncul di hadapannya.

“Sagara, kita bicarakan baik-baik dulu, Nak,” ujar Bu Siti dengan suara lembut.

Bu Siti lalu segera menoleh kepada penata rias.

“Mbak, maaf. Kami ada urusan keluarga. Tolong keluar sebentar.”

“Iya, Bu.”

Penata rias itu mengangguk, lalu bergegas meninggalkan kamar.

Tak lama kemudian, Pak Susanto dan kedua orang tua Sagara ikut masuk ke dalam ruangan.

Suasana seketika berubah tegang.

Bu Siti menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

“Nak Sagara, begini... ini memang keputusan Liona. Dia memilih berangkat ke luar negeri untuk mengejar impiannya sebagai model.” Wanita itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kami berharap kamu bisa bersabar. Untuk sementara, Ainun yang akan menggantikan Liona.”

“Saya tidak mau tahu!” potong Sagara dengan suara keras. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal. “Jemput Liona sekarang juga!”

“Nak, coba lihat.” Pak Susanto melangkah mendekati Sagara. “Semua tamu sudah menunggu di luar. Kalau pernikahan ini sampai batal, nama baik kedua keluarga yang dipertaruhkan.”

“Benar kata Pak Susanto.” Pak Bastian mengangguk pelan. “Setujui dulu pernikahan ini. Setelah akad selesai, semuanya bisa kita bicarakan baik-baik.”

Ucapan itu membuat suasana kembali hening.

Ainun memberanikan diri mengangkat pandangan. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata Pak Bastian.

Sorot mata pria paruh baya itu begitu tajam, seolah memperingatkannya agar tidak membuat keadaan semakin rumit.

Ainun refleks menundukkan kepala.

'Tatapan beliau... benar-benar membuatku takut.'

Beberapa detik berlalu sebelum suara Sagara kembali terdengar.

“Baiklah.”

Jawaban singkat itu membuat bahu Ainun menegang.

Perlahan ia mengangkat wajah.

Sagara berbalik tanpa meliriknya sedikit pun. Dengan langkah panjang, pria itu keluar dari kamar, meninggalkan kesunyian yang semakin menyesakkan.

Ainun menatap pintu yang baru saja tertutup.

“Eh, Ainun kok pakai abaya?” tanya Bu Lina heran.

Ainun menoleh pelan ke arah wanita itu.

“Oh, itu...” Bu Siti tersenyum tipis. “Gaun pengantinnya tidak cukup, Besan. Semuanya mendadak, jadi Ainun pakai abaya saja.”

'Bukan karena gaunnya gak cukup...'

Ainun menurunkan pandangannya.

'Ibu hanya gak ingin gaun milik putri kesayangannya dipakai olehku.'

“Ya sudah, nggak apa-apa.” Bu Lina tersenyum hangat kepada Ainun. “Masih cantik juga, kok, Ainunnya.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Ainun yang  sedikit menghangat. Ia menatap Bu Lina sejenak, lalu membalas dengan senyum tipis.

“Terima kasih, Bu.”

“Kalau begitu, kami keluar dulu. Nak Ainun, ayo bersiap-siap, ya.”

“Iya, Bu,” jawab Ainun pelan.

Satu per satu mereka meninggalkan kamar.

Klik.

Pintu kembali tertutup. Kamar Liona kembali sunyi.

Belum sempat Ainun mengembuskan napas lega, suara Bu Siti kembali terdengar.

“Jangan besar kepala.”

Senyum tipis di bibir Ainun seketika memudar. Ia menundukkan kepala, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Iya, Bu.” Suaranya lirih. “Ainun sadar. Ainun nggak akan berharap apa pun dari Mas Sagara. Ini juga terakhir kalinya Ainun melakukan sesuatu demi Mbak Liona.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ke depannya... Ibu, Ayah, dan Mbak Liona jangan memaksa Ainun lagi.”

Raut wajah Bu Siti langsung berubah.

“Kamu...” Telunjuk wanita itu terangkat. “Dasar anak durhaka! Kalau bukan Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu, siapa lagi?”

Ainun hanya diam. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah apa pun.

Tiba-tiba telunjuk Bu Siti mendorong keningnya hingga kepalanya terdongak ke belakang.

“Meski kamu nggak sebanding sama Mbakmu, setidaknya kamu harus tahu diri!”

Ainun memejamkan mata sesaat. Jemarinya mengepal di balik lipatan abaya.

'Sabar, Ainun...'

Ia memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran.

Kriet...

Suara pintu yang terbuka kembali memecah suasana panas.

Ainun membuka mata dan menoleh.

Seorang panitia pernikahan berdiri di ambang pintu.

“Pengantin wanita, pengantin pria sudah selesai ijab kabul. Silakan Ibu mengantarkan mempelai wanita.”

“Baik.”

Belum sempat Ainun melangkah, Bu Siti lebih dulu menarik pergelangan tangannya.

“Ayo, cepat! Lama sekali.”

Langkah Ainun sedikit terhuyung saat tubuhnya ditarik keluar kamar.

Sesampainya di depan tangga, Bu Siti menghentikan langkahnya sejenak.

“Senyum.”

Ainun menarik napas panjang. Perlahan, ia memaksakan seulas senyum menghiasi wajahnya.

Meski di balik senyum itu, hatinya masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa hari ini ia menikahi pria yang mencintai perempuan lain, dan pernikahan itu hanyalah sementara.

. . .

Kini Ainun duduk bersisian dengan Sagara di hadapan penghulu dan Ayahnya, Susanto.

Jarak mereka begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh.

Sagara duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Sejak Ainun duduk di sampingnya, pria itu sama sekali tidak menoleh, seolah kehadirannya tak berarti apa-apa.

Ainun menundukkan kepala.

Tak lama kemudian, suara bisik-bisik para tamu mulai terdengar dari belakang.

“Ya ampun, kasihan banget Liona. Adiknya tega merebut posisi kakaknya sendiri.”

“Iya. Ainun juga harusnya sadar diri. Mana sebanding sama Mas Sagara? Mereka itu seperti langit dan bumi.”

“Mau bagaimana lagi, Jeng. Namanya juga adik,” balas Bu Siti dengan nada terdengar lirih.

Setiap kalimat yang masuk ke telinganya terasa seperti duri yang menusuk pelan.

“Mari kita mulai akad nikahnya,” ujar penghulu sambil menoleh kepada Sagara. “Mas Sagara, sudah siap?”

“Sudah,” jawab Sagara singkat.

Penghulu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ainun.

“Mbak—”

“Saya tidak punya banyak waktu, Pak.” Sagara memotong ucapan penghulu dengan nada datar. “Bisa langsung dimulai sekarang?”

“Baik.”

Penghulu mengangguk, lalu menoleh kepada wali.

“Silakan, Bapak.”

Pak Susanto berdeham pelan sebelum bersiap mengucapkan ijab.

Namun, penghulu lebih dulu berkata, “Silakan menikahkan putri Bapak, Mbak Liona—”

“Maaf, Pak,” sela Pak Susanto. “Namanya bukan Liona, melainkan Ainun Nahwa Abimana.”

Penghulu tampak sedikit terkejut.

“Oh, baik. Saya mengerti.”

Ruangan kembali hening.

Semua mata tertuju kepada Pak Susanto dan Sagara.

Dengan suara lantang, Pak Susanto mengucapkan ijab.

“Saya nikahkan engkau, Sagara Jeno Dirgantara, dengan putri saya, Ainun Nahwa Abimana binti Susanto, dengan maskawin berupa uang tunai seratus juta rupiah, sebuah rumah, dan sebuah vila, dibayar tunai.”

Tanpa jeda, Sagara langsung menjawab.

“Saya terima nikahnya Ainun Nahwa Abimana binti Susanto dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.”

Jemari Ainun perlahan meremas kain abayanya.

Beberapa detik kemudian, penghulu menoleh kepada para saksi.

“Bagaimana, para saksi?”

“Sah.”

“Sah.”

“Innalillahi...” lirih beberapa tamu.

Kelopak mata Ainun terpejam.

“Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya,” ujar penghulu.

Ainun perlahan menoleh ke arah Sagara.

Pria itu tetap diam.

Beberapa saat kemudian, Sagara akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia mengangkat tangan kanannya dan menyodorkan punggung tangannya kepada Ainun.

Ainun menelan ludah.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih tangan Sagara, lalu menunduk dan mengecup punggung tangan pria itu dengan penuh hormat.

Saat bibirnya menyentuh kulit tangan Sagara, hatinya justru terasa semakin hampa.

Ainun: Harus Tahu Diri

Kelopak mata Ainun perlahan terbuka.

Sentuhan panas yang menyisakan batinnya telah lama menghilang, berganti dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Ia menarik napas pelan.

Perlahan, Ainun menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang, tanpa menoleh sedikitpun. Kakinya melangkah pelan menuju kamarnya yang sempit dan pengap, yang kini menjadi tempatnya menenangkan diri.

Setibanya di dalam kamar.

Ainun menyandarkan tubuh di dinding dingin sebelum akhirnya terduduk di lantai. Kedua lututnya ia peluk erat. Tatapannya kosong menatap lantai.

“Mbak...” Suaranya bergetar. “Mbak Liona kapan pulang?”

Bibirnya bergetar semakin hebat.

“Ainun... nggak sanggup lagi.”

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh tanpa ampun. Bahunya berguncang pelan, sementara isak tangis memenuhi kamar yang sunyi.

Tak ada seorang pun yang datang menghapus air matanya.

Tak ada pelukan.

Tak ada kata-kata yang menenangkan.

Hanya kesunyian yang menemaninya hingga malam semakin larut.

Sedikit demi sedikit, isaknya mereda.

.

Sementara itu, di sebuah ruangan, Sagara duduk bersandar di kursi.

Tatapannya terpaku pada layar monitor yang menampilkan rekaman dari sebuah ruangan sempit.

Di sana, seorang wanita tampak meringkuk di sudut ruangan dengan kedua lutut yang dipeluk erat. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertunduk, tetapi pemandangan itu tak membuat sorot mata Sagara berubah sedikit pun.

Ia mengisap rokok yang terselip di antara jemarinya.

Sesaat kemudian, kepulan asap keluar perlahan dari bibirnya, memenuhi ruangan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari monitor, Sagara mematikan puntung rokok ke dalam asbak hingga bara merahnya padam.

Ia bangkit dari kursinya.

Langkahnya membawanya ke meja kerja yang dipenuhi berkas dan beberapa map yang berserakan.

Sagara menarik kursi, lalu kembali duduk.

Kling.

Suara notifikasi membuat pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ia meraih benda itu, kemudian membuka pesan yang baru saja masuk.

Nama asistennya muncul di layar.

{Pak Sagara, saya baru saja mendapatkan informasi. Nona Liona, calon istri Anda, saat ini berada di Austria.}

Rahang Sagara mengeras.

Tanpa banyak berpikir, jemarinya segera mengetik balasan.

{Terus pantau keberadaannya.}

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

Tubuhnya bersandar pada kursi.

Tatapannya kembali tertuju pada layar monitor yang masih menampilkan rekaman dari ruangan sempit itu.

.

.

Fajar perlahan merekah di ufuk timur. Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela rumah, mengusir dingin yang sejak semalam menyelimuti setiap sudut ruangan. Suasana masih lengang. Hanya terdengar sesekali kicau burung dan desir angin pagi yang berembus pelan.

Di dalam kamar kecil yang kini ditempatinya, Ainun berdiri di depan cermin.

Jilbab krem telah terpasang rapi membingkai wajahnya. Ia merapikan sedikit bagian depan jilbabnya, lalu mengembuskan napas pelan.

Pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Jemarinya meraih benda itu, kemudian menyalakan layarnya.

“Sudah lewat jam enam.” Bibirnya bergerak lirih. “Aku harus berangkat sebelum bertemu Mas Sagara.”

‘Lebih baik seperti biasa. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore.’

Perlahan, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Ainun membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Baru beberapa langkah meninggalkan kamar, sebuah suara menyapanya.

“Mbak Ainun, mau berangkat sekarang?” tanya Bibi Ani sambil membawa mangkuk dari arah dapur.

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu tersenyum ramah kepadanya.

‘Bibi Ani... beliau asisten rumah tangga di rumah ini. Beliau satu-satunya orang yang selalu menyapaku setiap hari. Selalu bertanya apakah aku sudah makan atau belum saat pulang mengajar.’

Ainun membalas senyum itu tipis.

“Iya, Bi.”

“Nggak sarapan dulu?” Bibi Ani menunjuk ke arah dapur. “Sebentar lagi masakannya matang.”

Ucapan itu membuat pandangan Ainun tanpa sadar bergeser ke arah dapur.

Aroma masakan hangat memenuhi udara, menggelitik perutnya yang sejak semalam belum terisi.

Tanpa sadar ia menelan ludah.

‘Aku harus tahu diri. Aku hanya orang asing di rumah ini. Apa pantas aku memakan sebutir nasi?’

Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah itu.

Namun, tak sekali pun ia ikut duduk di meja makan bersama sang tuan rumah.

Sarapan dan makan siang selalu dibelinya di luar. Sedangkan saat malam tiba, ia sengaja mencari alasan untuk makan sebelum pulang.

Bukan karena tidak lapar. Melainkan karena ia tahu tempatnya.

Ainun kembali menatap Bibi Ani, lalu menggeleng pelan.

“Nggak usah, Bi. Saya beli di warung saja.”

Bibi Ani tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.

Ainun menundukkan kepala dengan sopan.

“Ainun berangkat dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mbak Ainun,” balas Bibi Ani sambil tersenyum hangat.

“Iya, Bi. Terima kasih.”

Ainun membalas senyum itu sekilas, lalu berbalik melangkah meninggalkan dapur.

Tak lama kemudian, suara pintu rumah yang terbuka lalu tertutup perlahan.

. . .

Begitu keluar dari rumah, embusan angin pagi langsung menyapa wajah Ainun.

Ia melangkah pelan menyusuri halaman. Pintu pagar dibukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara.

‘Seharusnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, meski aku hanya istri sementara.’

Langkahnya perlahan melambat. ‘Tapi...’

Kelopak matanya terpejam sesaat.

‘Ya sudahlah. Itu bukan urusanku. Mas Sagara sendiri yang melarangku menyentuh semua barang miliknya. Katanya, gak ada seorang pun yang boleh menyentuh apa pun yang menjadi miliknya, kecuali Mbak Liona.’

Tanpa sadar, jemari Ainun mengusap pelan lengan kirinya.

‘Kalau aku melanggarnya... yang kudapat hanya pukulan. Bahkan sampai sekarang lenganku masih sering terasa sakit.’

Ia menghentikan langkahnya sejenak.

Tatapannya terangkat ke langit.

Matahari berwarna jingga mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya hangat yang perlahan menerangi jalanan. Udara masih terasa sejuk, sementara lalu lalang kendaraan belum begitu ramai.

Ainun menarik napas dalam-dalam.

“Lihat saja,” gumamnya lirih. “Setelah Mbak Liona kembali, aku akan pergi jauh.”

Senyumnya terukir tipis, tetapi tak pernah sampai ke matanya.

Perlahan, Ainun kembali mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah yang selama tiga bulan terakhir hanya menjadi tempat tinggal, bukan tempat untuk pulang.

.

 Di saat yang sama, suasana di dalam rumah masih diselimuti keheningan pagi.

Sagara menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah tenang. Kemeja putih dan celana bahan hitam yang dikenakannya tampak rapi, seolah tak menyisakan sedikit pun kesan berantakan.

Tak lama, ia tiba di ruang makan.

Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat. Namun, tak ada siapa pun yang duduk di sana selain Bibi Ani yang sedang merapikan piring.

Tatapan Sagara menyapu seluruh ruangan.

Tak menemukan sosok yang dicarinya. Ia melangkah mendekati meja makan.

“Di mana wanita itu?” tanyanya datar.

Bibi Ani segera menoleh.

“Mbak Ainun baru berangkat beberapa menit yang lalu, Pak Sagara,” jawabnya hati-hati.

Sagara terdiam. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya.

“Berani sekali dia pergi lebih dulu,” ucapnya dingin. “Apa dia nggak punya sopan santun?”

Bibi Ani tampak ragu sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab.

“Tapi... bukannya memang setiap hari Mbak Ainun selalu berangkat sepagi ini, Pak?”

Tatapan Sagara perlahan beralih kepadanya.

Sorot matanya membuat Bibi Ani seketika menundukkan kepala.

“Apa saya mengizinkan kamu berbicara?” suara Sagara terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.

Wajah Bibi Ani langsung pucat.

“M-maaf, Pak.”

“Lanjutkan pekerjaanmu.”

“B-baik, Pak. Permisi.”

Bibi Ani segera membungkukkan badan tipis, lalu bergegas meninggalkan ruang makan.

Sagara tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya beralih pada deretan makanan yang tersusun rapi di atas meja.

Beberapa saat kemudian, ia menarik kursi, lalu duduk dengan tenang.

Tanpa banyak ekspresi, ia mengambil nasi dan beberapa lauk secukupnya ke dalam piringnya.

'Setidaknya wanita itu masih tahu diri. Dia tidak pernah menyentuh makanan yang ada di rumah ini.'

Tanpa memikirkan hal lain, Sagara mulai menyantap sarapannya dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruang makan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!