Indonesia
NovelToon NovelToon

The CEO'S Second Chance

Bab 1

Langit masih gelap ketika sebuah lampu redup di dalam kontrakan berukuran tiga kali empat meter mulai menyala.

Kontrakan itu berdiri di ujung gang sempit yang becek setiap kali hujan turun..Dinding kayunya telah lapuk dimakan usia, sementara atap seng yang berkarat dipenuhi lubang kecil..Jika hujan deras datang, ember dan baskom menjadi penghuni tetap lantai sempit itu untuk menampung tetesan air.

Di sanalah Aruna tinggal seorang diri.

Ya.. Aruna kanaya..seorang gadis cantik berusia 17 tahun..memiliki hidung yang sedikit mancung dengan mata bulat seperti boneka..netra gadis itu hitam pekat bak gelapnya malam, tapi tak pernah terlihat karna terhalang poni dan kacamata..pipinya sedikit chuby dengan lesung pipi kecil di kedua pipinya..gigi gadis itu rapi, tapi dua gigi kelinci membuat wajah itu jadi sangat manis..tapi sayangnya kecantikan gadis itu tak pernah di lihat oleh siapapun..gadis itu sangat pemalu dan selalu merasa rendah diri..di sekolah dia dijuluki gadis kutu buku karna gaya hidupnya..dia selalu memakai pakaian kebesaran yang bertambal di beberapa bagian..gaya rambutnya sangat klimis dengan kepang dua yang menjadi ciri khasnya..dan jangan lupa kacamata bacanya yang mungkin sudah beberapa tahun tak pernah di gantinya.

Aruna tinggal sendirian di kontrakan kecil itu..tak ada ruang tamu..tak ada dapur..hanya sebuah kasur tipis yang digelar di lantai, kompor gas satu tungku yang sudah penyok, meja belajar kecil hasil nemu di tumpukan barang bekas, dan kipas angin tua yang lebih sering mengeluarkan suara berdecit daripada angin.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu, hidup Aruna berubah menjadi perjuangan yang tak pernah selesai..Tak ada keluarga yang benar-benar menginginkannya..Pamannya hanya bersedia menjadi wali agar bisa menguasai uang santunan kematian kedua orang tua Aruna..Setelah uang itu habis, gadis itu dibiarkan hidup sendiri di kontrakan murah, sementara sang paman masih merasa berhak meminta uang darinya setiap minggu.

Aruna menghela napas panjang sambil mengenakan seragam sekolahnya yang telah beberapa kali dijahit..Warna putihnya tak lagi benar-benar putih, dan rok abu-abunya mulai memudar karena terlalu sering dicuci.

Di atas meja hanya tersedia segelas air putih..Tak ada sarapan..dan itu sudah menjadi hal biasa baginya berangkat sekolah dengan perut kosong demi menghemat pengeluaran.

Ia meraih tas sekolahnya yang sudah dia pakai sejak smp, dan sepatu yang berusia sama..dia memakainya perlahan.

Di luar kontrakan berdiri sebuah sepeda tua berwarna biru yang catnya hampir seluruhnya mengelupas..Rantai sepedanya sering lepas..dan rem sepedanya juga rusak yang mengharuskan dia mengerem dengan manual menggunakan kedua kakinya..dan karna itu pula lah sol sepatu usang itu kian menipis.

Namun bagi Aruna, sepeda itu adalah harta paling berharga yang ia miliki..Sepeda itu dibelinya dari hasil menabung selama hampir setahun penuh..Selama setahun itu pula ia rela menahan lapar, berjalan kaki ke mana-mana, dan menerima pekerjaan apa pun agar uangnya cukup..Setiap pagi sebelum sekolah, Aruna mengantar pesanan makanan..Sepulang sekolah, ia bekerja di minimarket hingga malam..Beberapa kali dalam seminggu ia juga menerima pekerjaan membersihkan rumah warga, mencuci pakaian, atau menjaga anak tetangga demi tambahan uang.

Baginya, tidur empat jam sehari sudah termasuk kemewahan..Namun semua kerja keras itu tetap belum cukup..Sore nanti, seperti biasanya, pamannya pasti datang.

"Beri aku uang."

Kalimat itu selalu terdengar sederhana..Tetapi jika Aruna menjawab tidak punya, tamparan, tendangan, bahkan pukulan dengan ikat pinggang menjadi jawaban yang harus ia terima..Sudah tak terhitung berapa kali tubuhnya dipenuhi memar yang ia tutupi dengan lengan panjang..Ia tidak melawan..Karena ia tahu tak ada yang akan membelanya.

.

.

Pukul tujuh pagi..Sepeda tua itu berhenti di depan gerbang SMA Cortner International School..Sebuah sekolah bergengsi yang dipenuhi anak-anak pejabat, pengusaha, artis, dan konglomerat.

Deretan mobil mewah memenuhi halaman parkir..Suara mesin sport car bersahutan..Sementara Aruna diam-diam menuntun sepeda tuanya menuju sudut paling belakang agar tidak terlalu mencolok..Meski begitu...Tatapan merendahkan tetap menghampirinya.

“Itu anak beasiswa datang..”

“Masih naik sepeda rongsokan?..”

“Katanya pintar, tapi tetap saja miskin..”

“Coba lihat sepatunya. Astaga... itu masih layak dipakai?..”

Tawa kecil terdengar di berbagai sudut..Aruna menundukkan kepala..Bukan karena malu..Melainkan karena ia sudah terlalu lelah menghadapi ejekan yang sama setiap hari.

“Kamu kuat aruna..”bisiknya pada dirinya sendiri.

Bel berbunyi..Seluruh siswa memasuki kelas masing-masing..Tak lama kemudian, wali kelas melangkah masuk membuat kelas yang tadinya berisik seketika hening.

“Sebelum pelajaran dimulai, Ibu ingin mengingatkan kembali bahwa sekolah kita memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi melalui program beasiswa..”ucap guru itu sambil melirik aruna yang duduk diam di barisan paling belakang…Beberapa siswa langsung saling pandang sambil tersenyum sinis kearahya.

"Aruna adalah salah satu penerima beasiswa terbaik yang dimiliki sekolah ini..Nilainya selalu berada di peringkat pertama..Ibu harap kalian bisa saling menghargai dan belajar darinya..”sambung guru itu lagi..kata-katanya penuh arti..guru disana tau kasus perundungan aruna dan bagaimana gadis itu di kucilkan..tapi para guru hanya diam dan tak berani berbuat lebih karna koneksi orang tua para murid disana..hanya bu hanum, wali kelas mereka yang mau sedikit memberi nasehat seperti tadi.

"Belajar jadi miskin?" bisik seseorang yang langsung disambut tawa.

"Kalau sepintar itu, kenapa tetap enggak kaya?"

"Percuma otaknya pintar, dompetnya tetap kosong..”bisik-bisik para murid yang terdengar sangat jelas di telinga aruna.

Aruna tetap menatap buku di atas mejanya..Jemarinya mengepal pelan hingga buku-buku jarinya memutih..Ini bukan hari pertama..Dan ia tahu..Hari ini juga tidak akan menjadi hari terakhir dirinya menerima hinaan hanya karena terlahir dalam keadaan yang tidak pernah ia pilih.

.

.

.

TO BE CONTINUE……

Bab 2

Bel istirahat akhirnya berbunyi..aruna mulai membereskan semua peralatan tulisnya..dia melakukanya perlahan sampai semua murid di kelas keluar.

Dia keluar sambil menenteng sebuah bekal..di pejalanan semua orang menatapnya sinis, ada juga yang tak perduli..aruna tak menghiraukan itu, dia terus berjalan dengan langkah cepatnya..sesampainya di halaman belakang sekolah, aruna mendudukan punggungnya di kursi kayu yang ada di sana.

Perlahan gadis itu membuka kotak bekalnya..disana hanya terdapat nasi putih dan sepotong telur mata sapi yang diberi kecap asin diatasnya..dan jangan lupa kerupuk nasi yang dia buat sendiri menjadi lauk pelengkapnya..meski begitu senyum aruna merekah lebar.

“Saatnya makan..” seru gadis itu..dia mamakan nasi itu dengan lahap di keheningan.

Disinilah tempat ternyaman seorang aruna..perkarangan belakang sekolah, tempat sepi yang jarang di kunjungi para murid..disini aruna bebas melakukan apa saja tampa terganggu oleh bisikan-bisikan penuh ejekan dari semua orang..disini dia bisa menjadi pemeran utama diantara benda mati yang ada di sini…tapi saat dia kembali ketempat keramaian itu, dia bagai figuran yang tak berguna..yang hanya jadi pelengkap kisah hidup para orang kaya itu..dan bahkan namanya tak pernah tercantum di cerita hidup mereka.

Saat sedang makan, kehadiran seseorang mengejutkan aruna..gadis itu bahkan terbatuk pelan.

“Diana, kenapa kau kesini?..”tanya aruna pada seorang murid bernama Diana.

“Ini untuk mu..”ucap Diana sambil menyodorkan sebungkus kotak sterofom pada aruna.

“Kenapa kau memberinya lagi pada ku?..”tanya aruna merasa tak enak.

“Ini ayam sisa kemarin, aku menghangatkanya lagi..”ucap Diana.

“Ibu menyuruh ku mambagikanya saja, jadi aku menyisakan satu untukmu..lagi pula siapa yang mau menerima makanan ini di sekolah selain kau..”ucap Diana.

“Umm baiklah kalau begitu..ucapkan terimakasihku pada ibu mu..dan kapan-kapan aku pasti akan membeli ayam jualan ibumu ini..”ucap aruna..Diana hanya mengangguk sambil tersenyum manis.

“Yasudah pergilah, jangan sampai orang-orang gila itu melihatmu bersama ku..”ucap aruna.

“Hmm baiklah, aku pergi dulu lanjutkan makan mu..”ucap Diana berlalu dari sana.

Aruna tersenyum manis melihat kepergian Diana..Diana juga murid beasiswa sepertinya..tapi kondisi gadis itu lebih baik darinya..diana masih memiliki keluarga yang utuh..ayah Diana seorang pns di sekolah negri, sedangkan ibu Diana memiliki usaha ayam gebrek yang berada tak jauh dari sekolah mereka..Diana sering memberinya ayam jualan sang ibu, dan itu hampir terjadi setiap hari..membuat aruna merasa tak enak dan bahagia karna masih ada yang memperdulikanya..Diana juga kerap kali di bully..walau ayahnya seorang pegawai negri, jabatan itu tak membuat para murid takut..apalagi mereka yang anak pejabat, konglomerat dan orang kaya lainya..mereka menganggap pekerjaan ayah Diana cetek dan bisa disingkirkan kapan saja.

.

.

.

Setelah makan aruna duduk bersantai sambil membaca buku pelajaranya..jam istirahan masih ada sekitar 20 menitan lagi..jadi aruna hanya bersantai.

Tapi sebuah suara mengejutkan aruna.

“Heh udik..jadi disini lo dari tau?..gue capek tau ga nyariin lo..”seru seorang gadis cantik menatap tajam aruna.

Aruna terdiam manatap tiga gadis di depanya itu..dua tangan aruna bertautan, dia merasa gelisah.

“Awas!!..”seru gadis itu sambil mendorong kuat tubuh aruna..aruna terduduk di rerumputan..tiga gadis itu langsung menguasai bangku panjang tempat aruna duduk tadi.

“Sekarang beliin kita minum..”ucap gadis itu memerintah aruna.

Aruna yang masih duduk di reumputan mengepalkan tanganya..dia perlahan mendongakkan kepalanya menatap tiga gadis itu.

“Enggak..”ucap aruna..ucapan aruna membuat tiga gadis itu melotot.

“Apa!..coba ulangi..”ucap gadis yang duduk di tengah.

“Stop olla..stop nyaruh-nyuruh aku..aku pelajar, bukan pembantu di rumah mu..”ucap aruna terdengar tegas..jujur saja aruna sudah muak terus diperlakukan seperti ini sejak pertama kali masuk sekolah.

Gadis berbaju ketat bernama olla langsung bangun dari duduknya..wajah gadis itu memerah karna amarah..aruna merasa takut..tapi dia tetap mempertahankan perlawanan terakhirnya..perlahan olla mendekat dan langsung menarik kuat rambutnya.

Aruna berteriak pelan..badanya seketika terangkat berdiri karna tarikan kuat dia kulit kepalanya.

“Olla lepas, sakit..”ucap aruna keras.

“Salit huh?..”ejek olla sambil terus menarik kencang rambut aruna.

“Olla lepaskan..”ucap aruna mencoba menyingkrkan tangan olla dari rambutnya..tapi dua teman olla tak membiarkan itu..mereka menahan kedua tangan aruna.

“Lepaskan? Mimpi saja udik..gue akan mencabut semua rambut menjijikan lo ini..”ucap olla semakin menarik rambut aruna kuat..aruna berteriak kesakitan.

“Berani sekali mulut miskin lo menolak perintah gue..lo pikir lo siapa huh?..lo hanya sampah yang tak berguna..gue bahkan bisa ngemusnahin lo kapan aja..lo fikir hidup lo itu berarti?..ouh tidak sama sekali tentunya..bahkan ngelenyapin lo aja ga akan berpengaruh sedikitpun di dunia ini..jadi sadarlah…setidaknya perintah gue tadi membuat kelahiran lo sedikit berguna di dunia ini..”ucap olla panjang lebar.

Aruna tak memperdulikan cacian olla, lagipula cacian seperti itu sudah sering di dengarnya..tapi tarikan di kepalanya sungguh membuat aruna hampir kehilangan kesadaran.

“Olla ku mohon lepaskan..”ucap aruna pelan..tubuhnya tak lagi memberontak..hanya tatapan menyedihkan yang mata gadis itu pancarkan..tapi olla tak perduli..dia terus menarik rambut aruna.

Sampai sebuah suara menghentikan aksi mereka.

“Bisakah kalian berhenti..”ucap sebuah suara dingin dengan intonasi datar.

Olla menghentikan tarikannya..dia celingukan mencari sumber suara itu.

“Kalian menganggu tidur gue..”ucap suara itu lagi..kali ini berserta sebuah kepala yang timbul keatas dari balik rerumputan.

Olla langsung melepas jambakan itu dengan kasar dan beralih mendekati pria dibalik semak itu..sedangkan aruna terduduk lemas sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit.

“Liam..”panggil olla pada pria itu dengan nada riang.

“Sejak kapan lo ada disini?..”tanyanya sambil menyentuh lengan liam..liam langsung menepis tangan olla.

“Cukup lama sampai gue bisa melihat semua kelakuan lo..”ucap liam datar..liam melirik aruna yang masih terduduk lemas di rerumputan.

“Itu salahnya sendiri liam, dia ga mau dengerin perintah gue..”ucap olla dengan rengekan manjanya..liam hanya menatap jenuh gadis di depannya..tatapan liam kembali pada aruna.

“Pergilah ke uks kalau kepala lo masih sakit..”ucap liam singkat sebelum pergi dari sana..olla menghentakkan kakinya mendengar ucapan liam.

“Tunggu aja lo..”kesal olla pada aruna dan pergi dari sana mengikuti liam berama dua temanya.

Aruna tak menghiraukan empat orang itu..fokusnya sekarang hanyalah menghilangkan pusing di kepalanya.

.

.

.

TO BE CONTINUE………..

Bab 3

“Pergilah ke uks kalau kepala lo masih sakit..”ucap liam singkat sebelum pergi dari sana..olla menghentakkan kakinya mendengar ucapan liam.

“Tunggu aja lo..”kesal olla pada aruna dan pergi dari sana mengikuti liam berama dua temanya.

Aruna tak menghiraukan empat orang itu..fokusnya sekarang hanyalah menghilangkan pusing di kepalanya.

_____________________________

Sore hari setelah pulang sekolahan aruna langsung melanjutkan perkerjaanya mencuci pakaian milik tetangga yang biasa di upahkan padanya..aruna tak menghiraukan nyeri di kepalanya yang masih terasa, baginya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu adalah yang terpenting sebelum nanti malam kembali masuk bekerja di minimarket.

Saat sedang sibuk di kamar mandi, teriakan diluar tak menyadarkan aruna..sampai pukulan di punggungnya membuat aruna terperenjat kaget..disana berdiri seorang wanita paruh baya memakai daster bunga-bunga.

“Apa kau tuli hah?..”ucap wanita itu menatap aruna kesal.

“Bibi maaf, kran nya hidup jadi aku tak mendengar suara bibi..”ucap aruna langsung berdiri dari duduknya.

“Sudahlah..tak penting..”ucap sang bibi melambaikan tanganya keras.

“Berikan bibi uang..bibi besok mau kepasar..”ucap wanita itu ketus.

Aruan menghela nafas pelan..dia sudah tau maksud kedatangan sang bibi..bibi dan paman nya tak pernah datang menjenguknya, mereka hanya datang saat membutuhkan uang saja..mereka datang seminggu sekali, dan itu sudah terjadi selama betahun-tahun..pamanya juga datang tapi dia cukup sadar diri untuk tak masuk kedalam kamar kos karna tau keponakan adalah seorang gadis.

“Apa paman tak bekerja bibi?..”tanya aruna berbasa basi.

“Uangnya sudah habis, kau fikir gaji paman mu itu banyak?..makan seminggu saja sudah habis..”ucap wanita itu ketus..aruna menghela nafasya.

“Uang ku juga tak banyak bibi..kalau kalian terus meminta, aku juga mau makan apa?..aku juga harus bayar kosan..”ucap aruna pelan..wajah sang bibi terlihat semakin kesal.

“Makanya berkerja lebih keras..itu saja susah..apa juga guna mu kalau membiayai kami saja kau tak mampu..kami ini pengganti orang tua mu kau tau..”ucap wanita paruh baya itu.

“Cepat berikan uangnya..jangan sampai paman mu masuk dan kembali memukul mu..”ucap wanita itu tak sabaran.

Aruna menghala nafasnya dan memberi setangah hasil kerjanya pada sang bibi.

“Bagus..” seru sang bibi.

“Gaji minimarketmu kapan keluar?..”tanya wanita itu.

“Seminggu lagi bibi..”jawab aruna pelan.

“Bagus..jangan lupa sisihkan untuk bibi, seminggu lagi bibi datang..”ucap wanita itu, dan dengan tampa beban pergi dari sana..aruna hanya bisa memperhatikan kepergian sang bibi dalam diam.

.

.

.

Malam ini aruna duduk santai di kasir minimarket..malam ini tak ramai pembeli jadi dia merasa sedikit lega..apalagi denyutan di kepalanya masih terasa.

“Untungah tak ramai orang, aku bisa sedikit bersantai..”ujar aruna.

Baru sebentar dia berkata seperti itu, dari luar terdengar deru motor yang bersahut-sahutan..aruna menoleh, disana dia melihat banyak motor besar yang berhenti di halaman minimarket.sepertinya ada lebih dari sepuluh motor.

“Rame banget..apa mau ngerampok ya..”pikir aruna sedikit panik..apalagi dia hanya sendirian menjaga toko itu.

Para pria itu mulai turun dari motor dan berjalan kepintu masuk minimarket..aruna sedikit gugup..tapi kemudan bernafas lega saat yang muncul adalah wajah-wajah yang di kenalinya.

Meraka adalah segerombolan siswa populer di sekolahnya..dan kalau tidak salah mereka adalah para siswa di bidang olahraga..tapi aruna tak tau jelas olahraga apa itu.

Kedatangan mereka membuat suasana yang tadinya sunyi heboh seketika..para pria yang berjumblah lebih dari sepuluh orang itu berputar mengelilingi rak demi rak dengan kehebohan dan beberapa umpatan gaul mereka..dan beberapa percakapan tentang bola basket yang aruna tak mengerti.

Aruna hanya memperhatikan mereka dalam diam..sampai matanya menangkap sesosok pemuda tampan yang siang tadi menolongnya..tidak bisa dikataka menolong, tapi setidaknya kehadiaran pria itu menghentikan perbuatan olla padanya.

“Sangat tampan..”batin aruna..dia selama ini memang tak pernah memperhatikan pria-pria di sekolahnya itu..tujuanya hanya belajar dan bekerja setelahnya..belum ada seseorang atau sesuatu yang bisa mengalihkanya dari dua hal itu..tapi sekarang setelah melihat para pria tampan itu..dia benar-benar merasa ketinggalan untuk melihat keindahan dunia dalam bentuk manusia.

Saat asik memperhatikan liam..aruna terkejut saat pria itu mantapnya balik dengan tatapan datarnya..aruna langsung mengalihkan tatapannya ketempat lain.

“Jangan teralihkan aruna..hidup mu sudah berat jangan menambah beban lagi..lagupula katampanan tak memberimu uang..”gumam aruna..dia jadi merasa ngeri membayangkan kalau olla tau dia manatap pujaan hati siswi menor itu..bisa benar-benar lenyap dia dari muka bumi ini.

Sedangkan di sisi liam, pria itu menatap aruna penuh keheranan.

“Pemuja bodoh..”gumamnya..dia pikir aruna adalah salah satu fans gilanya.

“Heh bro bengong aja..”ucap seorang pria menyikut lengan liam..liam hanya menatap pria itu datar dan berlalu dari sana menuju lemari pendingin.

“Huh di cuekin bae gue..”kesal pemuda itu karna ditinggal begitu saja oleh liam..dia akhirnya mengikuti liam.

“Kapten, hati-hati ketuker..”ucap pria tadi saat sudah sampai di samping liam.

Iiam mengeryitkan keningnya tak mengerti.

“Sama-sama dingin soalnya..”ucap pria itu membuat lelucon dengan menyamakan liam dengan lemari pendingin di depan mereka.

Liam mengeplak kepala temannya itu kencang, membuat sang pria meringin kesakitan.

“Sukurin..mang enak..”seru pria satunya..pria tadi di tertawakan oleh semua temanya.

Aruna hanya menonton kejadian konyol itu dari meja kasir.

.

.

.

Setelah lama memilih ini dan itu, segerombolan pria itu mulai keluar dari minimarket..yang tersisa hanyalah dua orang yang bertugas untuk membayar belanjan..salah satunya liam.

Mereka sampai di kasir dan menyerahkan kerajang belanjaan yang berisi banyak soda dan beberapa cemilan pada aruna..aruna menerimanya..dan mulai menghitung total belanjaan itu..wajah aruna terus menatap monitor..saat menerima keranjang tadi dia juga hanya menunduk tampa melihat wajah dua orang itu.

Salah satu pria terus memperhatikan aruna, seolah mengingat wajah aruna.

“Sebentar..”ucar pria itu menghentikan kegiatan aruna..membuat liam yang ada di samping pria itu juga menoleh kearanya.

“Ada apa?..”tanya liam datar.

“Gue kayak pernah liat ni cewek..”seru pria itu menunjuk aruna..aruna terdiam tak berani menoleh..bukan takut..dia terlalu malas terlibat dengan orang berkuasa seperti mereka.

Pria itu masih memperhatikan aruna..sampai aruna terperenjat kaget saat wajahnya di angkat oleh pria itu.

“Kan benar..ini si kutu buku..”seru pria itu menunjuk wajah aruna.

Aruna dengan kasar menepis tangan pria itu dari wajahnya

“Ga sopan..”seru aruna kesal.

“Dih marah..siapa suruh nunduk terus kayak cantik aja..”ketus pria itu..aruna tak menghiraukan, dia kembali menghitung belanjaan mereka..dia kesal dengan pria tak sopan itu, dan dia ingin dua pemuda itu agar cepat enyah dari hadapanya.

Sedangkan liam terus memperhatikan aruna

“Dia gadis waktu itu..”batin liam saat telah mengingat wajah aruna yang tadi siang baru di bully oleh olla.

Setelah selesai aruna langsung memberikan belanjaan mereka tanpa berkata apa-apa lagi.

.

.

.

TO BE CONTINUE………

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!