Indonesia
NovelToon NovelToon

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Tamparan Takdir

"Plak!"

Suara tamparan yang begitu keras menggema di koridor sunyi lantai tiga Rumah Sakit Delima Medika.

Senjani memegangi pipi kirinya yang kian lama menjadi merah padam, bekas tamparan itu terasa panas dan berdenyut. Sudut bibirnya sedikit berdarah. Di depannya, seorang wanita paruh baya berpakaian glamor menatapnya dengan pandangan menjijikkan, seolah-olah Senjani adalah seonggok sampah tak bernilai.

"Dasar terapis gak tahu diri ya! Kamu pasti sengaja kan bikin kaki anak saya semakin parah? Kamu mau coba-coba memeras keluarga kami?!" teriak wanita paruh baya itu tanpa memedulikan beberapa perawat yang mulai menoleh.

"Bu Tari, tolong dengarin penjelasan saya dulu," Senjani berusaha mengatur napasnya dan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Tadi itu adalah latihan Passive ROM yang memang wajar kalau memicu reaksi nyeri pada pasien pasca-operasi otot paha. Saya sama sekali tidak berniat—"

"Halah! Jangan sok pintar pakai bahasa medis kamu ya! Anak saya jelas-jelas menjerit kesakitan di dalam! Terapi kan harusnya bikin kondisi anak saya jauh lebih baik, bukannya tambah sakit!" Potong wanita itu kejam. "Saya sudah bilang kepada pihak rumah sakit. Detik ini juga, kamu harus DIPECAT!"

Kata-kata itu seperti sambaran petir di siang bolong bagi Senjani.

Dipecat?

Senjani rasanya ingin memohon dan bersujud di kaki Bu Tari. Tapi sayangnya, Bu Tari sudah terlanjur berbalik dan masuk ke ruang VIP sambil membanting pintu dengan keras. Tubuh Senjani mendadak lemas tak berdaya. Lututnya gemetar hebat, memaksanya bersandar pada dinding koridor yang dingin menyiksa.

Dipecat, itu artinya dia kehilangan satu-satunya sumber penghasilan yang selama ini menjadi penopang hidupnya. Lalu, bagaimana dengan biaya cuci darah ibunya yang harus dibayar minggu depan? Bagaimana dengan tumpukan utang biaya operasional rumah sakit yang sudah menunggak tiga bulan?

Dengan langkah gontai dan kepala yang pening, Senjani berjalan menuju ruang administrasi untuk membereskan barang-barangnya. Dunia seolah runtuh menimpanya bertubi-tubi dalam satu hari.

...****************...

Malam harinya, hujan deras tengah mengguyur kota Jakarta. Senjani duduk di kursi tunggu koridor bangsal kelas tiga, itu adalah tempat ibunya dirawat. Dia menatap selembar kertas tagihan berwarna merah di tangannya.

Total Tagihan: Rp 45.000.000,-

Harap dilunasi dalam waktu 3 hari, atau fasilitas pengobatan akan dihentikan.

Senjani meremas kertas itu putus asa. Air mata yang sejak siang tadi ia berusaha tahan, akhirnya tumpah juga dengan pelan. Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan, terisak pelan agar ibunya di dalam ruangan tidak mendengarnya. Dia benar-benar sudah buntu. Ke mana dia harus mencari uang sebanyak itu dalam tiga hari dengan statusnya yang sekarang pengangguran?

"Permisi, apakah benar Anda dengan Nak Senjani Kiran?"

Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa membuyarkan tangis Senjani seketika.

Senjani mendongak, di hadapannya berdiri seorang pria tua berambut putih, namun tubuhnya masih gagah dan tegap, pria tua itu mengenakan setelan jas yang sangat mahal. Di belakang pria tua itu, berdiri dua orang pria berbadan besar yang tampak seperti pengawal pribadi.

Senjani dengan gerakan tangan yang cepat segera menghapus air matanya dan berdiri. "I-iya, benar. Dengan saya sendiri. Maaf, Bapak ini siapa, ya?

Pria tua itu tersenyum ramah, sangat kontras dengan aura intimidasi dari pengawal di belakangnya. "Perkenalkan, nama saya Baskoro Nandotomo. Kamu mungkin gak ingat saya, tapi dua tahun lalu, kamu itu terapis yang membimbing saya sampai saya bisa berjalan lagi setelah stroke ringan."

Senjani mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. "Pak Baskoro... Nandotomo. Pemilik Nandotomo Group?" Senjani terkesiap. Dia tentu saja tahu nama itu. Salah satu konglomerat terbesar di negara ini.

"Benar, ternyata ingatan kamu masih bagus ya hahaha" Pak Baskoro terkekeh pelan. Sorot matanya kemudian beralih pada kertas tagihan merah yang usang di tangan Senjani. "Saya dengar kabar dari pihak rumah sakit katanya kamu baru saja diberhentikan ya ? Dan... saya juga tahu tentang kondisi ibu kamu saat ini."

Jantung Senjani berdegup kencang. Ada rasa malu sekaligus waswas. "Maaf, Pak Baskoro ada keperluan apa ya mencari saya?"

Pak Baskoro melangkah satu pijakan lebih dekat tepat di depan Senjani. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh penekanan.

"Saya ke sini mau menawarkan sebuah kesepakatan buat Nak Senjani. Saya akan melunasi semua biaya pengobatan ibu nya Nak Senjani malam ini juga. Bahkan, saya akan mengirim ibunya Nak Senjani ke rumah sakit terbaik di Singapura untuk penyembuhan totalnya."

Senjani tertegun. Mulutnya setengah terbuka tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "A-apa? Tapi... kenapa? Apa imbalan yang Bapak inginkan dari saya?"

Pak Baskoro mengembuskan napas panjang, gurat kesedihan mendadak muncul di wajah tuanya.

"Cucu saya, Jiro Nandotomo. Dia mengalami kecelakaan mobil tragis enam bulan lalu yang membuat kedua kakinya lumpuh sekarang. Semenjak saat itu, dia terus-menerus mengurung diri, menjadi monster yang pemarah, dan selalu mengusir setiap terapis yang saya sewa."

Pak Baskoro menatap langsung ke dalam manik mata Senjani.

"Saya tahu bagaimana dedikasi dan kesabaran Nak Senjani waktu merawat saya dulu. Karena itu, saya mau Nak Senjani untuk menikah dengan cucu Saya, Jiro. Rawat dia, sembuhkan kakinya, dan menjadi istri dari cucu saya."

Senjani membeku. Otaknya mendadak buntu, berusaha mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Menikah? Dengan seorang Tuan Muda kaya raya yang lumpuh demi melunasi utang? Ini pasti gila. Jelas ini seperti cerita di dalam dongeng kuno yang gak masuk akal.

"Pak, maaf, tapi saya seorang fisioterapis, bukan wanita yang bisa dibeli dengan pernikahan kontrak—"

"Tolong pikirkan lagi kondisi ibumu, Nak Senjani," potong Pak Baskoro dengan nada tenang namun mematikan. "Waktu ibumu sudah tidak banyak. Dan saya tahu, kamu tidak punya pilihan lain selain harus menerima tawaran saya, jangan sampai membuat anda menyesal karena terlambat."

Senjani terdiam, jelas kalimat itu menampar realitasnya yang pahit. Pak Baskoro benar. Dia tidak punya pilihan lain.

...****************...

Tiga hari kemudian.

Senjani berdiri di depan sebuah pintu kamar kayu ek besar yang mewah di dalam rumah kediaman utama keluarga Nandotomo. Dia sudah mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana namun sangat elegan. Pernikahan mereka baru saja dilangsungkan secara tertutup beberapa jam yang lalu.

Tanpa pesta dan jamuan, tanpa senyuman dan kebahagiaan. Hanya tanda tangan di atas kertas bermeterai.

Dengan tangan yang gemetar, Senjani memutar kenop pintu dengan hati-hati, ia melangkah masuk ke dalam kamar pengantin miliknya. Kamar itu luas, namun terasa sangat dingin dan temaram karena gorden yang tertutup dengan rapat.

Di sudut kamar dekat jendela, seorang pria duduk di atas kursi roda elektrik. Pria itu memiliki rahang yang tegas, paras yang luar biasa tampan, namun tatapan matanya seolah memancarkan kebencian mendalam kepada seluruh dunia. Jiro Nandotomo. Yang sekarang sudah menjadi suaminya.

Jiro memutar kursi rodanya perlahan, menghadap ke arah Senjani yang masih berdiri mematung di dekat pintu.

"Jadi, kamu wanita murahan yang dibeli oleh Kakek dengan uang miliaran itu?" ucap Jiro. Suaranya terdengar sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.

Senjani mencengkeram buket bunga di tangannya dengan erat. "Tuan Jiro, saya di sini sebagai—"

"DIAM!!!" Jiro membentak, membuat Senjani tersentak mundur ketakutan.

Jiro menatap Senjani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik dan merendahkan. Pria itu kemudian mengambil sebuah bantal di dekatnya, lalu melemparkannya dengan kasar tepat ke arah Senjani.

"Brak!" Bantal itu mengenai dada Senjani dengan kuat dan jatuh ke lantai.

"Sekarang juga kau keluar dari kamarku! Jangan pernah bermimpi untuk menyentuhku, dan jangan pernah berharap aku sudi menganggapmu sebagai istri di rumah ini, dasar wanita oportunis!" usir Jiro dengan napas memburu karena emosi.

Senjani menatap bantal di lantai, lalu menatap pria di atas kursi roda itu. Air matanya mulai menggenang, namun dia mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha menahannya. Karena, perjuangan nerakanya di rumah ini baru saja dimulai.

Monster yang Lumpuh

Senjani tidak bergerak satu sentimeter pun dari posisinya berdiri. Buket bunga mawar putih di genggamannya remuk, menyisakan kelopak yang berjatuhan satu persatu ke atas lantai marmer yang mengilap. Tatapan matanya lurus menembus remang kamar, menatap sepasang mata elang milik Jiro yang menyala-nyala oleh amarah dan dendam. Kamar mewah ini terasa begitu mencekam layaknya neraka, lebih dingin daripada ruang isolasi rumah sakit tempat Senjani bekerja dulu.

"Kenapa masih aja berdiri di sana? Selain murahan apa kamu juga tuli, hah?!" bentak Jiro. Suaranya serak naik satu oktav hingga urat-urat di lehernya menegang. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran lengan kursi roda elektriknya, cengkramannya begitu kuat sampai-sampai membuat buku-buku jarinya memutih dan gemetar. "Keluar dari kamarku!"

Senjani mengembuskan napas perlahan melalui hidung, rasanya sesak dan berat. Sebagai seorang profesional yang terbiasa menangani pasien pasca-trauma, dia tahu betul bahwa kemarahan Jiro adalah tameng dari rasa tidak berdaya yang ia rasakan. Dia melangkah maju dengan tenang, membungkuk untuk memungut bantal yang tadi dilempar Jiro, lalu menepuk-nepuk permukaannya yang sedikit berdebu.

"Saya tidak tuli, Tuan Jiro," ucap Senjani. Nadanya sengaja diatur serendah dan seprofesional mungkin, tanpa ada nada menantang ataupun gemetar. "Saya juga tahu kalau Anda tidak menginginkan pernikahan ini. Begitupun dengan saya. Kita berdua sama-sama terjebak. Tapi mulai hari ini, status saya adalah istri sekaligus terapis fisik pribadi Anda. Dan saya tidak akan pergi ke mana pun sebelum tugas saya selesai."

Jiro tertawa sinis. Sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa jijik dan ejekan untuk dirinya sendiri. "Istri? Terapis? Kakek benar-benar cerdik, ya. Dia sengaja memilihmu karena tahu aku selalu mengusir semua terapis pria berkumis tebal yang dikirimnya bulan lalu sebelum mereka sempat menyentuh kulitku. Lalu sekarang, apa? Dia mengirim seorang wanita muda berwajah melas agar aku merasa kasihan dan luluh?"

Jiro menekan tombol pada kursi rodanya. Kursi rodanya bergerak memangkas jarak di antara mereka hingga Senjani bisa mencium aroma parfum maskulin yang berbaur dengan bau antiseptik yang pekat dari tubuh pria itu.

"Dengar, Nona Terapis yang ambisius," bisik Jiro. Suaranya mendesis berbahaya tepat di depan wajah Senjani, mengirimkan sensasi dingin yang menggelitik tengkuk. "Kakiku ini sudah mati dan lumpuh total. Jiwaku juga sudah ikut mati di jalan tol itu enam bulan lalu. Jangan berlagak menjadi malaikat penyembuh di rumah ini hanya demi mendapatkan muka dan warisan dari Kakekku. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku bahkan hanya untuk sepeserpun."

Senjani merasakan dadanya berdenyut nyeri. Bukan karena rentetan kalimat tajam yang keluar dari bibir tipis Jiro, melainkan karena dia bisa melihat dengan jelas kilatan keputusasaan yang luar biasa besar di balik sepasang manik mata suaminya. Pria di hadapannya ini sedang sekarat di dalam cangkang tubuhnya sendiri.

Sebelum Senjani sempat membalas, Jiro memutar kursi rodanya dengan gerakan sentakan yang kasar. Dia melaju cepat menuju ranjang berukuran king-size di tengah ruangan. Dengan bersusah payah dan gerakan yang terlihat sangat frustrasi, Jiro mencoba memindahkan tubuhnya sendiri dari kursi roda ke atas kasur.

Kedua kakinya yang terbalut celana kain longgar tampak lunglai tak bertenaga, sama sekali tidak bisa menumpu ataupun menahan beban tubuh bagian atasnya yang gagah.

"Argh! Kaki sialan!" Jiro menggeram saat cengkeraman tangannya pada seprai meleset. Tubuhnya limbung, hampir merosot jatuh ke lantai dengan posisi kepala terlebih dahulu.

Insting seorang fisioterapis membuat tubuh Senjani reflek bergerak lebih cepat dari otaknya. "Tuan Jiro, Hati-hati! Biarkan saya membantu Anda. Teknik transfer tubuh Anda salah, itu bisa mencederai otot rotasi bahu Anda!"

Senjani menubruk maju, menyisipkan kedua lengannya di bawah ketiak Jiro untuk menahan beban tubuh pria itu. Namun, reaksi Jiro justru disaat itu juga benar-benar di luar dugaan.

"Jangan sentuh saya! Lepas!" teriak Jiro histeris. Wajahnya memerah padam karena murka dan rasa malu yang tercampur menjadi satu.

Pria itu menyentakkan siku kanannya dengan sekuat tenaga, menepis lengan Senjani dengan sangat kasar. Dorongan itu membuat keseimbangan Senjani goyah. Tubuhnya terjerembab ke samping, dan punggung tangan kirinya menghantam sudut tajam nakas kayu ek yang tebal dengan keras.

Brak!

"Aw..." Senjani meringis pelan, refleks memegangi pergelangan tangannya yang mendadak mati rasa sebelum rasa nyeri yang berdenyut-denyut mulai menjalar. Kulit putihnya langsung berubah kemerahan dan mulai membiru.

Sementara itu, Jiro berhasil menarik tubuhnya ke atas ranjang dengan sisa tenaga di kedua lengannya yang kekar. Dia berbaring telentang di kasur yang empuk, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, penuh dengan kabut kebencian.

"Mau tidur di sofa atau di lantai... Terserah kamu. Tapi kalau kamu berani mendekati saya atau menyentuh saya lagi saat saya tidur, saya bakal pastikan besok pagi kamu akan didepak dari rumah ini tanpa membawa sepeser uang pun," ancam Jiro, suaranya melemah namun tetap sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Senjani.

Senjani berdiri perlahan, memandangi punggung tangan kirinya yang kini mulai membengkak. Air mata yang sejak tadi dia tahan di pelupuk mata akhirnya lolos satu tetes. Dia teringat ibunya yang mungkin saat ini sedang bersiap di bandara untuk diterbangkan ke Singapura berkat dana darurat dari Pak Baskoro.

Bertahanlah, Senjani. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding kehilangan Ibu, bisik batinnya berusaha menguatkan, ia menghapus air mata itu dengan cepat menggunakan ujung jarinya.

Senjani berjalan gontai menuju sofa panjang beludru di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Kamar mewah ini sama sekali tidak menyediakan selimut atau bantal tambahan untuknya, itu adalah bentuk penolakan secara tidak langsung dari kepala pelayan yang tampaknya berpihak pada Jiro. Dengan gaun pengantin satin yang masih melekat ketat di tubuhnya, Senjani merebahkan dirinya di sofa.

Dia melipat kedua lengannya di dada, meringkuk seperti janin untuk menahan hawa dingin dari AC sentral yang menusuk hingga ke tulang. Malam itu, di dalam kamar pengantin yang seharusnya dipenuhi bunga dan kehangatan, hanya ada keheningan yang menyiksa, diiringi suara detik jam dinding yang seolah menertawakan kemalangannya.

...----------------...

Keesokan harinya, semburat sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden berwarna abu-abu yang tebal.

Senjani tersentak bangun saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Tubuhnya terasa luar biasa kaku, dan lehernya salah bantal hingga memicu rasa kram yang menyiksa. Dia segera bangkit berdiri, berusaha merapikan gaun pengantinnya yang kini sudah terlihat kusut masai dan tak berbentuk lagi, lalu ia menoleh ke arah sumber suara yang membuatnya terbangun.

Jiro sudah berada di atas kursi rodanya. Pria itu tampak segar, mengenakan kemeja hitam legam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang. Dia menatap Senjani dengan tatapan sedingin es yang sama seperti semalam, seolah melihat seonggok barang pajangan yang mengganggu pemandangannya di awal pagi.

"Cepat ganti pakaianmu. Kakek minta kita turun untuk sarapan bersama seluruh anggota keluarga besar," ujar Jiro dengan nada suara yang datar dan monoton. "Dan ingat satu hal, di depan Kakek, jaga mulutmu baik-baik. Jangan berlagak mengadu dan memancing keributan jika kamu masih ingin ibumu bernapas di rumah sakit."

Senjani mengangguk patuh, tidak ingin berdenat kusir di pagi hari yang cerah ini. "Baik, Tuan. Beri saya waktu lima belas menit."

Dia segera berjalan menuju walk-in closet raksasa di sudut kamar. Di sana, sudah berjajar pakaian-pakaian baru yang tampaknya dibelikan oleh pelayan atas perintah Pak Baskoro. Senjani memilih setelan yang paling sederhana, yaitu sebuah tunik katun longgar berwarna pastel dan celana kain hitam. Setidaknya, pakaian ini jauh lebih memudahkannya untuk bergerak sebagai terapis daripada gaun pengantin yang menyiksanya semalam.

Skakmat

Ketika mereka berdua turun ke ruang makan di lantai satu menggunakan lift khusus yang terpasang di sudut rumah, atmosfer hangat pagi hari mendadak lenyap begitu pintu lift terbuka. Meja makan kayu jati yang sangat panjang itu sudah terisi oleh berbagai jenis masakan.

Di ujung meja, Pak Baskoro duduk di kursi kebesarannya dengan senyum hangat yang langsung mengembang begitu melihat Senjani. Namun, di sisi kiri meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan sanggul tinggi dan pakaian glamor berwajah angkuh, ditemani seorang pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, usianya kurang lebih seumuran dengan Jiro, ia menatap kedatangan mereka dengan senyuman meremehkan yang kentara. Mereka adalah Kumala, tante Jiro, dan Grayson, sepupu kandung Jiro yang mengincar posisi CEO di perusahaan.

"Ah, lihat siapa yang baru saja datang. Pengantin baru kita akhirnya turun juga," sindir Grayson. Nadanya sengaja dibuat terdengar manis, namun sarat akan racun yang menusuk. Matanya menatap Senjani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Jadi ini sepupu iparku yang baru? Wah, Jiro, seleramu sekarang benar-benar merosot tajam, ya? Setelah ditinggal pergi oleh putri konglomerat berdarah biru karena kondisimu, sekarang kamu malah sudi menikahi pelayan rumah sakit kelas bawah?"

Mendengar kata-kata itu, Senjani bisa merasakan perubahan aura di sebelahnya. Jiro yang duduk di kursi roda langsung mengepalkan kedua tangannya di bawah meja makan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di pelipisnya berdenyut. Suasana di ruang makan itu mendadak turun hingga ke titik beku.

"Grayson! jaga bicaramu di depan meja makan. Hargai kaka iparmu dan juga kakak sepupumu," tegur Pak Baskoro dengan suara baritonnya yang berat, berwibawa, dan penuh dengan penekanan yang membuat para pelayan di sekitar langsung menundukkan kepala.

"Maaf, Kek. Aku kan hanya bercanda untuk mencairkan suasana pagi yang kaku ini," Grayson terkekeh tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia memotong daging steaknya dengan kasar, lalu kembali melemparkan pandangan mengejek ke arah kursi roda Jiro. "Lagipula, untuk apa pernikahan ini dirayakan atau dibesar-besarkan? Toh, pengantin prianya saja... tidak akan pernah bisa berdiri lagi untuk menyambut ataupun memeluk istrinya sendiri di depan pelaminan, bukan? Sangat... menyedihkan."

Brak!!!

Jiro menggebrak meja makan marmer itu dengan satu tangan kirinya yang bebas. Kekuatan hantamannya begitu kuat hingga piring-piring porselen dan gelas kristal di atas meja berdenting keras, bahkan beberapa sendok perak terlempar ke lantai. Para pengawal pribadi yang berjaga di setiap sudut ruangan langsung menegakkan tubuh, menahan napas dalam ketakutan.

"Grayson!" desis Jiro. Suaranya tidak keras, namun getaran kemarahan di dalamnya begitu pekat dan berbahaya, sanggup membuat siapa saja yang mendengarnya merinding ketakutan. "Kalau kamu membuka mulut sampahmu itu sekali lagi, aku pastikan proyek pembangunan di Jakarta Barat yang sedang kamu pegang akan dicabut detik ini juga!"

Grayson sempat tersentak, wajahnya sedikit memucat mendengar ancaman bisnis itu. Namun, dia segera menguasai diri kembali. Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan denting yang sengaja dikeraskan, lalu bersandar pada kursi makannya dengan seringai yang semakin lebar.

"Oh, benarkah begitu? Kamu mau mencabut proyekku dengan kondisi fisik seperti itu, Kak? Perusahaan butuh pemimpin yang bisa bergerak cepat ke lapangan, bukan pemimpin yang hanya bisa duduk manis di kursi beroda dan menyuruh orang lain," balas Grayson telak, menyerang tepat pada titik kelemahan terbesar Jiro.

Senjani yang duduk di sebelah Jiro bisa melihat bagaimana tubuh suaminya itu mulai bergetar hebat. Bukan karena takut, melainkan karena menahan luapan emosi dan rasa hina yang teramat dalam. Jiro adalah pria yang angkuh dan mandiri, dan dihina sebagai pria cacat yang tidak berguna di depan keluarga serta istri yang baru dinikahinya adalah pukulan mental yang mematikan.

Tangan Jiro yang berada di atas meja bergetar, bersiap untuk melayangkan cengkeraman atau hantaman lain. Namun, sebelum situasi semakin tak terkendali, sebuah tangan yang lembut, hangat, dan tenang tiba-tiba mendarat di atas punggung tangan Jiro yang tegang.

Jiro tersentak. Dia menoleh dengan cepat ke arah tangannya, lalu berpindah menatap Senjani dengan tatapan mata yang seolah ingin membunuh wanita itu karena berani menyentuhnya di depan umum. Namun, Senjani tidak melepaskan genggamannya. Dia justru memberikan sedikit tekanan lembut yang menenangkan pada punggung tangan milik Jiro, seolah menyalurkan seluruh kekuatan batinnya ke dalam tubuh pria itu.

Senjani kemudian mengalihkan pandangan matanya yang jernih namun tajam lurus ke arah Grayson. Tidak ada ketakutan di wajah terapis muda itu.

"Maaf, Tuan Grayson," ucap Senjani. Suaranya terdengar sangat bening dan menggema dengan jelas di ruang makan yang kini tengah sunyi. "Sebagai seorang profesional di bidang medis, saya merasa perlu meluruskan kekeliruan berpikir Anda. Kelumpuhan pada bagian ekstremitas bawah akibat cedera tulang belakang atau trauma otot bukanlah sebuah kecacatan permanen yang menurunkan fungsi otak ataupun kapasitas kepemimpinan seseorang."

Grayson mengernyitkan alisnya, merasa terganggu karena seorang wanita yang dianggapnya seorang pelayan dengan berani menyela pembicaraannya. "Apa katamu?"

Senjani tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang penuh dengan rasa percaya diri. "Secara anatomis, sistem saraf motorik luar dan kemampuan kognitif Tuan Jiro di bagian otak atas masih berfungsi dengan sangat sempurna. Justru dalam banyak kasus medis, pasien dengan keterbatasan fisik sementara seperti ini memiliki fokus dan ketajaman analisis yang jauh lebih tinggi karena energi mereka tidak terbagi untuk hal-hal mobilitas yang tidak perlu."

Senjani menjeda kalimatnya sejenak, menatap Grayson dari atas ke bawah dengan cara yang sopan namun sangat menohok.

"Jadi, meragukan kapasitas kemimpinan Tuan Jiro hanya karena beliau saat ini sedang menjalani proses pemulihan kaki, sama saja dengan menunjukkan kepada semua orang di meja ini... betapa rendahnya pemahaman Anda tentang ilmu kedokteran dasar dan dunia profesional modern."

Deg!

Kata-kata Senjani laksana tamparan tak kasat mata yang menghantam wajah Grayson dengan telak. Wajah pria muda itu seketika berubah merah keunguan karena menahan malu dan amarah yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dia remehkan sebagai babu rumah sakit bisa menyerangnya balik menggunakan argumen medis yang begitu berbobot hingga membuatnya mati kutu.

Pak Baskoro yang sedari tadi menyaksikan hal itu dari ujung meja tidak bisa menyembunyikan binar kepuasan di matanya. Beliau tersenyum lebar, merasa pilihan dan keputusannya untuk menikahkan Senjani dengan cucunya sama sekali tidak salah. Wanita ini memiliki keberanian dan harga diri yang tinggi.

Sementara itu, Jiro terpaku di tempatnya duduk. Dia menatap tangan Senjani yang masih menggenggam jemarinya yang kaku, lalu beralih menatap wajah samping istrinya yang tampak tegar dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, ada seseorang yang berdiri di depannya, bukan untuk mengasihani kelumpuhannya atau mengincarnya, melainkan untuk membelanya dengan cara yang begitu terhormat.

Namun, ego milik Jiro yang setinggi langit segera bergejolak kembali. Pria itu menyentakkan tangannya dengan kasar, melepaskan diri dari genggaman Senjani di bawah meja, lalu membuang muka dengan ekspresi dingin yang dipaksakan.

"Jangan berlagak pintar di rumah ini, Senjani," bisik Jiro dengan suara rendah yang tajam, menyembunyikan debaran aneh yang sempat mampir di dadanya tadi. "Aku tidak butuh pembelaan dari wanita sepertimu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!