Indonesia
NovelToon NovelToon

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

1.

 

Bab 1: Kesalahan di Malam Kelam

Langkah kaki Raina terasa berat saat ia melangkah masuk ke dalam tempat hiburan malam yang penuh cahaya berkedip dan suara musik yang memekakkan telinga. Udara di dalamnya terasa hangat, bercampur dengan aroma parfum mahal, minuman, dan keringat orang-orang yang sedang bersenang-senang. Malam ini, ia tidak ingin berpikir tentang apa pun. Tidak tentang perceraiannya yang baru saja usai tiga bulan lalu, tidak tentang tatapan merendahkan tetangga, dan tidak tentang rasa sepi yang selalu menyelimuti setiap sudut apartemennya yang luas namun dingin.

Hari ini genap satu tahun perpisahan itu. Satu tahun ia berjuang berdiri sendiri, bekerja keras, membangun kembali hidupnya yang sempat hancur lebur. Namun malam ini, untuk sekali saja, ia ingin melupakan bahwa ia adalah Raina yang tegar, Raina yang mandiri, Raina yang tidak boleh lemah.

Ia duduk di sudut yang agak gelap, memesan minuman demi minuman. Awalnya ia hanya ingin menghangatkan perut, tapi lama-kelamaan rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh, membawa rasa pusing yang aneh namun juga membawa rasa lega seolah beban di pundaknya perlahan terangkat. Dunia di matanya mulai berputar pelan, suara musik terdengar makin jauh, dan wajah-wajah orang di sekelilingnya menjadi kabur.

"Maaf... saya mau ke kamar..." gumamnya tidak jelas, saat seseorang menahannya di lobi. Ia mengira dirinya masih berada di hotel tempat ia menginap sebelumnya. Dalam kebingungan dan pikiran yang sudah tidak jernih, ia berjalan terhuyung-huyung menuju lorong yang dianggapnya benar. Ia tidak sadar bahwa ia salah gedung, salah lantai, dan salah pintu.

Tangannya menyentuh gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorongnya masuk, lalu menutupnya kembali. Ruangan itu agak gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang samar. Aroma yang tercium bukan aroma kamar hotel biasa, melainkan aroma sabun bersih bercampur wangi kayu yang lembut dan menenangkan.

Raina tidak peduli lagi. Kakinya terasa seperti kapas, matanya berat sekali. Ia melihat bentuk tempat tidur di sudut ruangan, lalu berjalan mendekat dan merebahkan tubuhnya di sana.

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi.

Dika baru saja kembali dari kamar mandi asrama setelah selesai beraktivitas malam itu. Ia terkejut bukan kepalang saat melihat ada sosok wanita asing yang sudah terbaring di tempat tidurnya. Langkahnya terhenti di tengah ruangan, matanya terbelalak bingung.

"Siapa Anda?" suaranya terdengar rendah dan penuh keheranan.

Raina hanya mengerang pelan, membalikkan badan tanpa membuka mata. "Pusing... biarkan saya tidur sebentar saja..."

Dika mendekat perlahan. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia bisa melihat wajah wanita itu. Wajah yang cantik, matanya tertutup rapat, namun ada kesan dewasa dan anggun yang memancar darinya. Rambutnya yang panjang terurai indah di atas bantal, dan meskipun dalam keadaan mabuk, ada kesan rapuh yang membuat hati Dika tersentuh.

Ia seharusnya segera membangunkannya, memintanya pergi, atau melapor ke petugas keamanan. Namun entah kenapa, melihat wajah wanita itu yang tampak begitu lelah dan sedih, rasa marah dan kagetnya perlahan hilang digantikan rasa iba. Ia mendekat lagi, mencoba menanyakan namanya, tapi Raina hanya bergumam hal-hal yang tidak dimengerti.

Malam itu berjalan begitu saja. Di tengah kebingungan, rasa sepi, dan dorongan hati yang tak terduga, dua orang yang hidupnya berbeda jauh terjalin dalam satu atap. Tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan. Hanya dua jiwa yang masing-masing sedang mencari tempat untuk bersandar, yang tanpa sadar saling menemukan di saat yang paling tidak tepat.

Semuanya terjadi begitu cepat, begitu alami, dan begitu penuh rasa tak terduga. Saat pagi mulai menyingsing dan cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, keduanya terbangun secara bersamaan.

Raina membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari di mana ia berada. Matanya membelalak lebar saat melihat sosok pria muda yang tidur di sebelahnya. Wajah pria itu begitu tampan, kulitnya bersih, fitur wajahnya sempurna seperti patung pahatan. Namun yang membuat jantung Raina seakan berhenti berdetak bukan hanya karena ketampanannya, melainkan karena wajah itu terlihat sangat muda.

"Siapa... siapa kamu?" suaranya tercekat, ia segera menarik selimut menutupi tubuhnya.

Dika juga terbangun, menatapnya dengan mata yang sama-sama penuh kaget dan canggung. "Saya seharusnya yang bertanya begitu. Kenapa Anda ada di kamar saya?"

Raina menatap sekeliling ruangan. Bukan kamar hotelnya. Ruangan itu sederhana, rapi, dengan rak buku penuh dan meja belajar yang masih tertata. Itu terlihat persis seperti kamar mahasiswa.

"Kamarmu? Ini bukan kamar saya..." gumamnya dengan wajah pucat pasi. Perlahan kejadian semalam mulai kembali ke ingatannya, meski masih terpotong-potong dan kabur. Ia menginginkan minuman, kebingungan, berjalan ke arah kamar... dan masuk ke sini.

Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Rasa malu, takut, dan bingung bercampur menjadi satu. "Maafkan saya... saya tidak bermaksud... saya kira ini kamar saya..."

Dika menatap wanita di hadapannya itu. Ia bisa melihat keterkejutan dan ketulusan di wajah cantik itu. Ia juga bisa melihat bahwa wanita ini jauh lebih dewasa darinya, mungkin sekitar lima atau enam tahun lebih tua. Namun di balik keterkejutan itu, ada pesona yang begitu kuat membuatnya tidak bisa memalingkan wajah.

"Saya mengerti," jawab Dika pelan, mencoba menenangkan suaranya sendiri yang juga masih sedikit bergetar. "Tidak apa-apa. Yang penting Anda tidak terluka."

Mereka berdua hanya diam dalam waktu yang cukup lama, saling memandang tanpa kata-kata. Sebuah kesalahan semalam yang seharusnya menjadi aib, justru menjadi awal pertemuan yang tak terduga. Tak ada yang tahu, di balik rasa canggung pagi itu, takdir sedang menulis kisah cinta yang luar biasa indah untuk mereka berdua.

Raina segera merapikan pakaiannya dengan tergesa-gesa, berpamitan dengan wajah yang masih merah padam karena malu, lalu keluar dari kamar itu secepat mungkin. Namun saat ia melangkah menjauh, nama pemuda itu dan wajah tampannya sudah tertanam kuat di dalam ingatannya.

Dan di dalam kamar itu, Dika masih duduk diam di tepi tempat tidur, menatap pintu yang baru saja tertutup. Ada perasaan aneh yang tertinggal di hatinya, perasaan yang memberitahunya bahwa pertemuan ini belum berakhir. Bahwa kesalahan semalam itu, entah bagaimana caranya, akan membawa mereka pada takdir yang luar biasa besar.

 

2.

 

Bab 2: Pertemuan yang Tak Direncanakan

Tiga hari berlalu sejak kejadian pagi yang memalukan itu. Namun bagi Raina, rasanya seperti tiga tahun yang panjang. Wajah tampan pemuda itu terus muncul di setiap sudut pikirannya, seakan menempel kuat dan tak mau pergi. Setiap kali ia menutup mata, ia kembali melihat sepasang mata teduh yang menatapnya tanpa rasa marah, justru penuh kelembutan yang tak bisa ia jelaskan.

Raina mencoba menganggap itu semua hanya mimpi buruk. Ia kembali sibuk bekerja di kantornya, mengurus berkas-berkas, bertemu klien, dan melakukan segala cara agar pikirannya teralihkan. Namun setiap kali ia berpapasan dengan pria asing di jalan, atau melihat sosok muda yang mirip, jantungnya selalu berdegup kencang tanpa alasan.

"Sudahlah Raina," gumamnya pelan sambil menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kantor. "Kamu sudah dewasa. Itu hanya kesalahan semalam. Dia hanya anak muda yang tidak kamu kenal. Lupakan saja."

Namun melupakan ternyata tidak semudah mengucapkannya.

Di sisi lain kota, Dika juga tidak bisa tenang. Pagi itu setelah Raina pergi, ia duduk lama di tepi tempat tidur, menatap pintu yang tertutup. Ia tidak tahu nama wanita itu, tidak tahu di mana ia tinggal, dan tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi. Namun bayangan wajah sedih namun anggun itu terus menghantui pikirannya.

"Dik, kamu kenapa melamun terus?" tanya sahabat sekamarnya saat makan siang di kantin kampus. "Kamu biasanya penuh semangat kalau membahas tugas akhir. Ini malah melamun menatap kosong."

Dika tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Mungkin hanya sedikit lelah saja."

Ia tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Entah kenapa, ia merasa itu adalah rahasia kecil yang hanya milik mereka berdua. Dan anehnya, hatinya merasa berharap suatu saat nanti ia bisa bertemu kembali dengan wanita itu.

Keesokan harinya, takdir seolah mendengar doa yang tak terucapkan itu.

Raina harus datang ke sebuah universitas ternama di kota itu untuk mengurus perizinan kerjasama antara perusahaannya dengan fakultas ekonomi. Ia berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna krem yang membuatnya tampak sangat profesional dan berwibawa. Ia berjalan menyusuri lorong kampus yang luas, sesekali menyapa dosen atau petugas yang ia temui.

Setelah selesai mengurus segala urusan, Raina berjalan menuju halaman parkir. Namun saat melintasi sebuah taman kecil di tengah kampus, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

Di sana, duduk di bangku taman sambil membaca buku, adalah sosok yang selama ini menghuni pikirannya. Wajah yang sama, rahang yang tegas, mata yang tajam namun teduh. Hanya saja kali ini ia tampak lebih rapi dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana panjang.

Dika seolah merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia mendongak dari bukunya, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata yang sangat ia kenal.

Waktu seolah berhenti berputar.

Mereka hanya saling memandang dari kejauhan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya rasa kaget yang mendalam bercampur dengan rasa senang yang tak terduga.

Dika segera menutup bukunya, berdiri perlahan, dan berjalan mendekati Raina. Langkahnya tenang namun pasti.

"Selamat siang," sapanya pelan saat berdiri tepat di hadapan wanita itu. Suaranya terdengar sama lembutnya seperti saat di kamar asrama dulu.

Raina menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan pipinya memanas kembali. "Siang... maaf... saya tidak menyangka bisa bertemu lagi di sini."

"Saya juga tidak menyangka," jawab Dika sambil menatapnya lekat-lekat. "Saya senang. Saya kira saya tidak akan pernah tahu siapa nama Anda."

Mendengar itu, rasa canggung Raina sedikit berkurang. "Nama saya Raina."

"Saya Dika."

Mereka tersenyum tipis satu sama lain. Ada rasa nyaman yang aneh menyelimuti mereka berdua. Meskipun baru bertemu untuk kedua kalinya, rasanya seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

"Bolehkah saya mengajak Anda duduk sebentar?" tanya Dika menunjuk bangku taman yang tadi ia tempati. "Hanya untuk mengobrol."

Raina sempat ragu sejenak. Logikanya berkata untuk menolak dan segera pergi. Namun hatinya menariknya kuat untuk tetap tinggal. Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Boleh."

Mereka duduk berdampingan, namun tetap menjaga jarak sopan. Mereka mengobrol tentang hal-hal sederhana: tentang pekerjaan Raina, tentang kuliah Dika yang sudah memasuki semester akhir, tentang hobi dan kesukaan masing-masing. Semakin lama mereka mengobrol, semakin Raina menyadari betapa luar biasanya pemuda di sebelahnya ini.

Dika bukan hanya sekadar tampan. Ia sangat cerdas, sopan, dan memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan usianya yang masih dua puluh dua tahun. Ia pandai menghargai pendapat orang lain, dan cara pandangnya tentang kehidupan membuat Raina kagum.

"Jadi Anda sudah bekerja dan hidup mandiri sejak lama?" tanya Dika dengan pandangan penuh rasa hormat.

"Ya, sudah cukup lama," jawab Raina sambil tersenyum tipis. "Termasuk bangkit kembali setelah kegagalan rumah tangga saya."

Raina berkata jujur tanpa menutupi masa lalunya. Ia ingin Dika tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Dika tidak terlihat kaget atau menjauh. Ia justru menatap Raina dengan tatapan yang semakin dalam. "Itu sangat hebat. Bagi saya, wanita yang mampu bangkit kembali jauh lebih berharga daripada apa pun."

Kata-kata sederhana itu membuat dada Raina terasa sesak karena haru. Selama ini banyak orang yang memandangnya rendah karena statusnya yang sudah bercerai. Namun di hadapan pemuda yang jauh lebih muda darinya, ia justru merasa dihargai sepenuhnya.

Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat, menyinari wajah mereka dengan cahaya keemasan yang hangat.

"Saya harus pulang sekarang," ucap Raina dengan berat hati.

"Bolehkah saya meminta nomor telepon Anda?" tanya Dika dengan nada sungguh-sungguh. "Saya ingin bertemu Anda lagi. Bukan karena kejadian semalam, tapi karena saya ingin mengenal Anda lebih jauh."

Raina menatap manik mata Dika yang jernih dan tulus. Di sana tidak ada niat buruk, hanya ada keinginan murni untuk mengenalnya. Perlahan, ia mengangguk dan menyebutkan nomor ponselnya.

Saat Raina berjalan meninggalkan taman itu, ia merasakan perasaan yang berbeda dari biasanya. Ada harapan kecil yang mulai tumbuh di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Dan di bangku taman itu, Dika masih duduk diam sambil menatap layar ponselnya yang kini menyimpan nomor wanita itu. Ia tahu, langkah ini mungkin tidak mudah. Ia tahu perbedaan usia dan latar belakang mereka sangat jauh. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menemukan seseorang yang membuatnya ingin berjuang.

Pertemuan kedua itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah awal dari sebuah kisah yang akan mengubah seluruh hidup mereka berdua.

 

3

:

 

Bab 3: Benih Cinta yang Tumbuh

Sejak pertemuan di taman kampus itu, hubungan mereka berubah perlahan namun pasti. Dika mulai rutin mengirim pesan singkat setiap pagi dan malam. Bukan pesan yang berlebihan atau memaksa, melainkan sapaan hangat, pertanyaan tentang harinya, atau sekadar ucapan semangat.

Raina yang sudah lama tidak mendapatkan perhatian seperti itu, perlahan mulai terbiasa. Awalnya ia sering menahan diri, merasa ragu dengan perbedaan usia dan masa lalunya. Namun setiap kali ia membaca pesan Dika, rasa ragu itu perlahan luntur digantikan rasa senang yang tak bisa ia pungkiri.

Mereka mulai bertemu lagi. Terkadang hanya sekadar minum kopi di sore hari, berjalan-jalan di taman kota, atau sekadar duduk mengobrol di teras kafe yang tenang. Semakin sering bersama, semakin Raina menyadari betapa istimewanya pemuda itu.

Dika tidak pernah memperlakukannya seperti wanita yang lebih tua atau wanita yang pernah gagal berumah tangga. Ia memperlakukan Raina dengan penuh rasa hormat, perhatian, dan kelembutan yang tulus. Ia selalu mendengarkan setiap cerita Raina dengan saksama, memberikan pendapat yang bijak, dan selalu ada saat Raina merasa lelah dengan dunia.

Suatu sore, mereka duduk di tepi danau buatan di pusat kota. Angin berhembus lembut membelai rambut Raina, sementara matahari mulai turun perlahan memancarkan warna jingga keemasan di langit.

"Raina," panggil Dika pelan, memecah keheningan.

"Ya?"

"Apakah kamu... pernah berpikir tentang kita?" tanyanya dengan suara rendah namun tegas.

Jantung Raina berdegup kencang. Ia menunduk menatap air danau yang tenang. "Sering. Tapi Dika, kita berbeda. Kamu masih muda, masih kuliah, masa depanmu masih sangat luas. Sedangkan aku..."

"Kamu wanita yang paling hebat yang pernah saya kenal," potong Dika lembut namun tegas. Ia memutar tubuhnya menghadap Raina. "Usia hanyalah angka. Masa lalu adalah pelajaran. Bagi saya, kamu adalah wanita yang kuat, tulus, dan sangat berharga."

Dika menatap lekat mata Raina. "Saya menyukaimu, Raina. Bukan karena kejadian semalam, tapi karena dirimu. Karena caramu memandang dunia, caramu bertahan, dan caramu tersenyum meski pernah terluka."

Air mata menggenang di pelupuk mata Raina. Selama ini orang hanya melihat kekurangannya. Namun di mata pemuda ini, ia melihat dirinya begitu berharga.

"Kamu tidak takut?" tanya Raina dengan suara bergetar. "Takut pada omongan orang lain, takut pada perbedaan kita?"

"Saya tidak takut selama bersama kamu," jawab Dika mantap.

Hari itu, di bawah langit senja yang indah, Raina akhirnya berani membuka hatinya. Ia menyadari bahwa perasaan ini bukan sekadar rasa terima kasih, melainkan cinta yang mulai tumbuh kuat.

Namun mereka tahu, jalan di depan tidaklah mudah.

Sesuatu yang mereka takutkan mulai datang. Kabar tentang hubungan mereka perlahan terdengar sampai ke telinga orang lain. Mulai dari teman kuliah Dika, kerabat jauh, hingga akhirnya sampai ke telinga keluarga besar Dika.

Dika berasal dari keluarga terpandang dan sangat kaya raya. Orang tuanya adalah pengusaha besar yang memiliki nama harum di masyarakat. Mereka sangat menjaga nama baik keluarga dan memiliki rencana matang untuk masa depan putra tunggal mereka.

Suatu hari, Dika dipanggil pulang ke rumah utama. Ayah dan Ibunya sudah menunggu di ruang tengah dengan wajah yang tidak senang.

"Dika," ucap Ayahnya dengan nada tegas. "Kami dengar kabar yang tidak menyenangkan. Benarkah kamu menjalin hubungan dengan wanita yang lebih tua dan sudah pernah bercerai?"

Dika menegakkan tubuhnya. "Benar, Ayah. Saya menyukainya."

Ibunya langsung berdiri dengan wajah pucat. "Kamu gila ya! Itu tidak pantas! Kamu adalah pewaris keluarga ini. Kamu harus menikah dengan wanita yang setara denganmu, bukan wanita yang sudah punya masa lalu!"

"Ibu, Raina adalah wanita yang baik," bela Dika. "Dia mandiri, tulus, dan sangat pekerja keras. Dia tidak seperti yang Ibu kira."

"Kami tidak peduli siapa dia!" bentak Ayahnya. "Kami tidak akan pernah merestui hubungan ini. Putuskan hubunganmu segera, atau kamu akan menanggung akibatnya."

Dika terdiam. Ia tahu betapa keras kepalanya kedua orang tuanya. Namun bayangan wajah Raina yang lembut namun kuat membuatnya tidak mau mundur.

"Saya tidak akan meninggalkannya," jawab Dika pelan namun tegas. "Saya mencintainya."

Pertengkaran itu berakhir dengan Dika yang diusir dari ruangan. Ia kembali ke asrama dengan perasaan berat. Namun ia tidak menyembunyikan hal ini dari Raina.

Saat menceritakan semuanya, Raina hanya diam menatap lantai. Rasa takut yang selama ini ia sembunyikan akhirnya menjadi kenyataan.

"Maafkan aku, Dika," ucap Raina lirih. "Mungkin mereka benar. Aku hanya akan menjadi penghalang bagi masa depanmu."

Dika segera menggenggam tangan Raina erat. Matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang.

"Jangan pernah bicara seperti itu. Kamu bukan penghalang. Kamu adalah alasan saya ingin berjuang. Apa pun yang terjadi, saya tidak akan melepaskanmu."

Kata-kata itu menumbuhkan kembali kekuatan di hati Raina. Ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria muda yang memiliki keberanian dan keteguhan hati yang luar biasa.

Meskipun badai penolakan mulai datang menghantam, cinta mereka justru semakin kuat. Mereka belajar untuk saling menguatkan, saling percaya, dan menghadapi dunia bersama-sama.

Mereka belum tahu betapa beratnya rintangan yang masih menanti. Namun mereka berjanji pada hati masing-masing, bahwa takdir yang sudah menyatukan mereka secara tak sengaja itu, tidak akan mereka lepaskan begitu saja.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!