Debu tipis menari-nari di bawah berkas cahaya lampu minyak yang temaram.
Kamar itu terletak di ujung koridor paling atas, pengap, sempit, dan lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas ketimbang kamar seorang putri sulung.
Namun, di sinilah Mili menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
Di ruang isolasi tak resmi yang diberikan oleh orang tua kandungnya sendiri.
Mili menatap pantulan dirinya di cermin retak yang menempel pada lemari tua.
Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna pudar, satu-satunya gaun yang paling layak ia miliki.
Di lantai bawah, tawa renyah Gea merajai dinding-dinding marmer, sementara kedua orang tua mereka, Ben dan Emilia, sibuk memuji betapa cantiknya putri bungsu mereka malam ini.
Bagi Ben dan Emilia, Gea adalah segalanya—permata, kebanggaan, dan satu-satunya anak yang diakui.
Sementara Mili? Mili hanyalah bayangan hitam. Anak kandung yang kehadirannya dianggap sebagai kutukan, si "anak sial" yang hanya membawa kemalangan sejak hari pertama ia menghirup udara di dunia.
Statusnya sebagai kakak kandung tak pernah dihargai; ia diperlakukan tak lebih baik dari pelayan tak dibayar.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan di pintu kayu yang lapuk memecah keheningan.
Suara Bi Sumi, pelayan tua yang diam-diam sering menaruh iba padanya, terdengar ragu dari balik pintu.
"Nona Mili... Tuan Ben meminta Anda untuk segera turun ke ruang tamu utama."
Mili memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang dan berat seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di dadanya.
Paru-parunya terasa sesak, bukan hanya karena debu kamar ini, tapi karena ia tahu persis apa yang menantinya di bawah sana.
Malam ini adalah malam penentuan. Malam di mana masa depannya akan dilempar ke meja taruhan.
"Iya, Bi. Aku segera turun," jawab Mili, suaranya terdengar datar namun teguh.
Ia merapikan lipatan gaun sederhananya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Malam ini, sahabat karib Ben, seorang pengusaha berpengaruh, datang membawa kedua putranya, Andrew dan David.
Sebuah perjodohan agung telah dirancang. Dan Mili tahu, dalam skenario yang ditulis oleh ayahnya, ia tidak akan pernah mendapatkan bagian yang indah.
Mili menegakkan bahunya, menatap tajam pantulannya di cermin untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar dari sudut gelapnya, siap menghadapi badai yang telah disiapkan keluarganya di lantai bawah.
Ceklek.
Pintu kamar tua itu terbuka dengan derit pelan. Mili melangkah keluar, menyusuri koridor remang-remang sebelum akhirnya menuruni anak tangga megah menuju ruang tamu utama.
Lampu gantung kristal yang berkilauan di langit-langit seolah mengejek penampilannya.
Begitu kakinya menginjak lantai dasar, atmosfer ruangan mendadak berubah.
Puluhan pasang mata—kerabat dan kolega bisnis Ben yang hadir malam itu—langsung tertuju padanya.
Mili memiliki wajah yang teramat cantik; kulitnya seputih porselen dengan mata bulat yang memancarkan keteguhan yang sunyi.
Namun, kecantikan itu tenggelam di balik gaun pudarnya yang longgar dan usang.
Bisik-bisik miring mulai menjalar di antara para tamu.
"Lihat itu... apakah dia benar anak sulung keluarga ini?"
"Penampilannya bahkan lebih buruk dari pelayan baru."
"Benar-benar pembawa sial, memalukan nama keluarga saja."
Cibiran demi cibiran menusuk telinganya. Mili hanya bisa menundukkan kepala sedalam mungkin, meremas pinggiran gaunnya untuk menyembunyikan rasa malu dan sakit hati yang membakar dada.
Tepat pada saat itu, pintu gerbang utama terbuka lebar.
Suasana mendadak formal dan tegang saat langkah kaki yang berwibawa terdengar memasuki ruangan.
Hermawan Kartajaya—sahabat karib Ben sekaligus konglomerat terpandang—telah tiba.
Di belakangnya, berdiri tegak kedua putranya yang menjadi pusat perhatian: Andrew yang tampan dengan senyum menawan yang memikat, dan David yang berdiri tegak dalam balutan setelan hitam, berwajah dingin dan memancarkan aura misterius yang pekat.
Mili yang sempat mendongak, terpaku melihat
kehadiran kedua pria itu.
Namun, sebelum ia sempat mencerna keadaan, sebuah dorongan kasar menghantam bahunya dari samping.
Plak!
"Singkirkan tubuhmu yang bau debu itu, Kak! Jangan buat malu!" bisik Gea tajam, wajahnya yang penuh riasan tampak penuh kebencian.
Dengan egois, Gea sengaja mendorong tubuh Mili hingga terhuyung dan terdepak ke posisi paling belakang, tersembunyi di balik bayang-bayang tiang besar.
Gea kemudian maju paling depan, memamerkan senyum termanisnya yang dibuat-buat, bersanding langsung di dekat orang tua mereka.
Ben dan Emilia langsung memasang wajah penuh binar kebahagiaan.
Mereka maju dengan tangan terbuka, menyambut kedatangan Hermawan dan kedua putranya dengan kehangatan yang luar biasa—kehangatan yang tak pernah sekalipun mereka berikan kepada Mili seumur hidupnya.
"Ah, Hermawan! Selamat datang, sahabatku! Dan ini kedua putramu yang luar biasa itu?" suara Ben membahana, sementara Emilia sibuk menarik
Gea agar lebih dekat untuk dipamerkan. Di sudut ruangan yang gelap, Mili hanya bisa menatap nanar, menyadari bahwa di panggung sandiwara ini, ia hanyalah seorang figuran yang tak diinginkan.
Mereka semua akhirnya duduk di sofa mewah ruang tamu utama, dan acara formal malam itu pun resmi dimulai.
Atmosfer ruangan terasa begitu pekat oleh ambisi.
Ben berdeham, memasang senyum paling berwibawa di hadapan sang tamu agung.
"Hermawan, terima kasih banyak karena kau dan kedua putramu sudah menyempatkan hadir malam ini. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, malam ini kita akan meresmikan perjodohan antara Andrew dengan Mili, dan David dengan Gea."
"Papa, tunggu!" potong sebuah suara dengan nada manja yang menuntut.
Suasana mendadak hening. Ben menoleh ke arah putri bungsunya, wajahnya langsung melunak.
"Ada apa, sayangnya Papa? Kenapa memotong ucapan Papa?"
Gea melirik Andrew yang tampak begitu tampan, menawan, dan memancarkan pesona kaya raya, lalu beralih menatap David yang duduk tegak dengan wajah sedingin es tanpa ekspresi. Gea bergidik ngeri.
"Aku mau tukar jodoh, Pa! Aku tidak mau dijodohkan dengan David. Dia menyeramkan!
Aku mau dengan Andrew!" ucap Gea tanpa tahu malu, egois seperti biasanya.
Mendengar itu, Emilia yang duduk di sebelah Mili langsung bertindak.
Tanpa belas kasihan, tangannya bergerak cepat di bawah meja, mencubit lengan Mili dengan sangat keras hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit putrinya sendiri.
Mili terkesiap, menahan perih yang teramat sangat.
Melalui tatapan matanya, Emilia mengancam agar Mili mengalah dan mau bertukar jodoh demi kebahagiaan Gea.
Di seberang meja, Hermawan Kartajaya menghela napas berat.
Ia menoleh, menatap kedua putranya bergantian untuk meminta pendapat mereka atas kelakuan egois keluarga Ben.
"Aku tidak peduli siapa pun yang akan menjadi istriku," ucap David tiba-tiba. Suaranya berat, datar, dan sedingin kutub utara.
Bagi David, pernikahan ini tak lebih dari sekadar kewajiban.
Sementara itu, Andrew melirik Gea yang berpenampilan glamor dan cantik, lalu beralih menatap Mili yang tertunduk lesu dengan gaun yang sudah usang.
Sambil menganggukkan kepala, Andrew tersenyum tipis.
"Aku juga tidak keberatan, Om. Aku lebih memilih Gea daripada Mili."
Ben tersenyum lega, merasa rencananya berjalan mulus.
"Baiklah kalau begitu. Perubahan disetujui. Untuk acara pernikahannya, akan diadakan—"
"Lebih baik sekarang," potong David lagi.
Secara mengejutkan, pria misterius itu berdiri dari duduknya.
Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa berbunyi tegas di atas lantai marmer.
Di bawah tatapan bingung semua orang, David berjalan lurus, melewati Gea, dan berhenti tepat di depan Mili yang masih terduduk di sudut paling ujung.
David mengulurkan tangan kanannya yang kokoh.
"Ayo kita menikah sekarang," ajak David, langsung pada intinya.
Mili mendongak, matanya membelalak tidak percaya.
Jantungnya berdegup kencang dibakar rasa terkejut.
"S-sekarang?" bisiknya terbata-bata.
"Iya, sekarang. Atau, kamu masih ragu?" tanya David, menatap lurus ke dalam manik mata Mili dengan tatapan tajam yang seolah bisa membaca seluruh luka di jiwa gadis itu.
Mili menelan salivanya saat mendengar perkataan dari David.
Menikah dengan pria asing yang dingin ini sekarang juga, atau tetap tinggal di rumah ini dan terus menjadi keset kaki keluarganya? Mili tidak butuh waktu lama untuk memilih.
Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mantap. Ia tidak ragu.
Melihat tindakan impulsif putranya, Hermawan sedikit emosi. Rahangnya mengeras.
"David! Apa-apaan kamu? Jangan membuat keputusan sendiri!" Teguran itu sama sekali tidak diindahkan oleh David. Pria itu tetap bergeming di depan Mili.
Di sudut lain, Gea yang melihat pemandangan itu justru tertawa kecil tanpa suara. Wajahnya dipenuhi riak kepuasan yang keji.
Mampus kamu, Kak. Rasakan menikah dengan pria aneh dan dingin itu sekarang juga. Biar kamu menderita seumur hidup! batin Gea kegirangan.
Namun, tawa Gea langsung lenyap seketika. David melirik tajam ke arah Gea.
Kilatan di mata pria itu begitu dingin dan mengintimidasi, membuat nyali Gea ciut dalam sekejap hingga gadis itu langsung menundukkan kepalanya, tidak berani berkutik.
Tepat pada saat ketegangan memuncak, pintu depan kembali terbuka.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi melangkah masuk.
Penghulu yang rupanya memang sudah dipesan oleh Ben untuk berjaga-jaga jika kesepakatan tercapai, baru saja datang.
Melihat situasi yang kacau namun mendesak, sang penghulu langsung mengambil posisi duduk di meja utama yang telah disiapkan.
Pria itu mengeluarkan berkasnya, lalu dengan suara lantang memanggil nama pria yang memegang kendali malam ini.
"Tuan David, silakan duduk di sini. Kita mulai prosesinya."
David menatap Mili yang masih terpaku, lalu dengan suara rendah namun penuh wibawa, ia memberi perintah, "Duduklah di sampingku."
Mili baru saja hendak melangkah, namun langkahnya mendadak terhenti ketika Emilia langsung maju.
Wajah Emilia dipenuhi kilat keserakahan yang tidak lagi disembunyikan.
Dengan berani, ia merentangkan tangan menghadang Mili.
"Tunggu dulu! Tidak bisa semudah itu!" seru Emilia, menatap David dengan pandangan meremehkan.
"Kami bahkan belum mengenal siapa dirimu yang sebenarnya, Anak Muda. Kalau kamu mau menikahi putri kami sekarang juga, kamu harus memberikan mahar yang sangat banyak! Keluarga kami tidak akan melepas anak begitu saja tanpa jaminan yang jelas!"
Suasana di ruang tamu mendadak hening membeku.
Ben dan Hermawan terdiam, sementara Gea tersenyum sinis di belakang ibunya.
Mereka semua belum benar-benar tahu siapa sebenarnya David di balik pembawaannya yang misterius.
David tidak membalas ucapan Emilia dengan kata-kata.
Sebagai gantinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat dingin.
Dengan gerakan kilat yang tak terduga, tangan kanannya masuk ke balik jas hitamnya.
Klik!
Bunyi logam yang dingin menggema di ruangan itu.
Sebuah pistol hitam berkilau kini berada di tangan David, moncongnya terarah tepat di antara kedua mata Emilia.
"Mau mahar, atau nyawa?" tanya David datar.
Nada suaranya begitu tenang, seolah ia tidak sedang menodongkan senjata mematikan di ruang tamu seseorang.
Wajah Emilia langsung pucat pasi seperti mayat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan ia hampir saja jatuh terduduk jika Ben tidak segera menahan pinggangnya dari belakang.
Tidak ada yang berani bersuara; semua orang di ruangan itu mendadak kehilangan keberanian mereka melihat sisi gelap David yang mengerikan.
Tanpa memedulikan ketakutan keluarga Ben, tangan kiri David bergerak ke samping.
Dengan satu gerakan protektif yang tegas, ia menarik pinggang Mili, membawa tubuh ramping gadis itu merapat ke sisi tubuhnya yang kokoh.
Mili terkesiap, jantungnya berpacu liar. Namun, sebelum rasa takut sempat menguasai dirinya, David merunduk sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Mili dengan nada yang mendadak melunak, "Tidak usah takut."
Sentuhan dan suara itu entah bagaimana memberikan rasa aman yang aneh bagi Mili.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang berdiri di depannya dan melindunginya dari keluarganya sendiri.
David kemudian berbalik menatap sang penghulu yang sudah berkeringat dingin di kursinya.
Pria misterius itu meletakkan senjatanya di atas meja dengan ketukan pelan yang mengancam, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk menggenggam tangan penghulu yang gemetar.
Tanpa menunggu hitungan atau aba-aba panjang dari penghulu yang ketakutan, David langsung mengucapkan kalimat sakral itu dengan satu tarikan napas yang tegas dan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mili Arisanti binti Benjamin dengan mas kawin 1.000 US Dollar dibayar tunai!"
Mendengar nominal yang diucapkan David, mata Gea langsung membelalak lebar.
1.000 US Dollar? Tunai?!
Jantung Gea mencelos. Nilai itu setara dengan belasan juta rupiah jika dirupiahkan untuk mahar instan, dan David mengucapkannya tanpa berkedip sedikit pun.
Gadis egois itu mulai menyadari bahwa pria dingin yang baru saja ia buang mungkin memiliki kekayaan yang jauh di luar bayangannya.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu dengan suara bergetar, terburu-buru karena ingin segera menyelesaikan urusan dengan pria bersenjata ini.
"Sah!" jawab Hermawan Kartajaya dengan helaan napas berat, diikuti anggukan pasrah dari Ben yang masih syok.
"Sah!"
Ketukan buku nikah berbunyi. Detik itu juga, Mili resmi menjadi istri seorang David.
Melihat kakaknya mendadak menjadi pusat perhatian dan mendapatkan mahar yang fantastis dari pria yang ternyata sangat berkuasa, ego Gea langsung berontak.
Ia tidak sudi kalah dari si "anak sial". Dengan tidak tahu malu, Gea maju selangkah dan menghentakkan kakinya ke lantai.
"Papa! Aku juga mau menikah sekarang!! Rencana awal harus tetap berjalan! Aku mau menikah dengan Andrew sekarang juga!" protes Gea dengan nada egois yang melengking, memecah ketegangan di ruangan itu.
Mendengar tuntutan Gea, Andrew langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Wajah tampannya mendadak pucat, memancarkan kepanikan yang tertahan.
"Jangan sekarang. A-aku..." Andrew terbata-bata, meremas kedua tangannya sendiri.
"Aku belum siap untuk menikah malam ini."
"Aku akan bunuh diri jika kamu tidak menikahi
aku sekarang juga, Andrew!!" ancam Gea histeris.
Gadis itu mulai menangis buaya, memanfaatkan drama agar semua keinginannya terpenuhi saat itu juga.
Ia tidak sudi malam ini Mili terlihat lebih unggul darinya.
Melihat kekacauan yang semakin menjadi-jadi, Hermawan Kartajaya menghela napas panjang.
Merasa nama baiknya dipertaruhkan, ia menoleh tajam ke arah putra sulungnya.
"Andrew, nikahi dia sekarang. Jangan mempermalukan Papa di sini."
Andrew mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di bawah tekanan sang ayah dan ancaman gila dari Gea, Andrew mau tidak mau akhirnya pasrah.
Ia mengangguk lemah dan menjabat tangan penghulu yang masih gemetar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gea Ferista binti Benjamin dengan mas kawin sepuluh juta rupiah dibayar tunai," ucap Andrew dengan nada datar, nyaris tanpa nyawa.
Mendengar nominal "sepuluh juta rupiah" yang sangat jauh dibanding mahar ribuan dolar milik Mili, Gea langsung melotot.
Mulutnya sudah terbuka lebar, bersiap untuk melayangkan protes keras.
Namun, sang penghulu yang sudah lelah dengan drama keluarga ini langsung memotong dengan cepat.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Ketukan palu penghulu berbunyi dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Detik itu juga, Gea resmi menjadi istri Andrew, meski dengan wajah yang ditekuk masam karena menahan dongkol.
Hermawan kemudian berdeham, mencoba mengembalikan wibawa pertemuan malam itu.
Ia menatap kedua pasang pengantin baru yang kini duduk di hadapannya.
"Karena kalian berdua sudah sah menjadi suami istri, ini hadiah rumah untuk kalian masing-masing," ucap Hermawan sambil meletakkan dua buah kunci rumah mewah di atas meja.
"T-terima kasih, Papa." ucap Mili dengan suara teramat lirih. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang memberinya sesuatu yang berharga tanpa menuntut imbalan yang menyakitkan.
Belum sempat Ben atau Emilia membuka suara untuk berbasa-basi, David sudah bangkit berdiri dari duduknya.
Pria itu merapikan jas hitamnya yang tak sedikit pun kusut, lalu menatap Mili.
"Ayo pergi," ajak David datar. Matanya melirik sinis ke arah keluarga Ben.
"Suasana di rumah ini sudah seperti drama kolosal."
Sindiran tajam David membuat wajah Ben dan Emilia merah padam menahan malu, namun mereka tidak berani mendebat pria yang tadi menodongkan senjata itu.
Sementara Mili hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ucapan suaminya.
"S-sebentar, aku harus mengambil sesuatu di atas," bisik Mili ragu.
David hanya mengangguk pelan sebagai tanda izin.
Mili pun segera berbalik dan berlari kecil menaiki anak tangga, menuju satu-satunya tempat yang selama ini menampung air matanya.
Sesampainya di kamar loteng yang pengap itu, Mili bergerak cepat.
Ia memasukkan ponsel tua, dompet tipis, dan beberapa barang penting ke dalam tas kainnya.
Namun, fokus utamanya tertuju pada sudut tempat tidur yang reot.
Di sana, seekor kucing kampung berbulu abu-abu sedang meringkuk tidur dengan pulas.
"Dora, bangun, Sayang. Kita pergi dari sini," bisik Mili lembut sambil menggendong kucing kesayangannya itu ke dalam pelukannya.
Dora mengeong pelan, mengusapkan kepalanya ke dada Mili seolah tahu bahwa majikannya sedang dalam bahaya.
Sebelum melangkah keluar, Mili membalikkan badannya.
Ia menatap kamar gelap seperti gudang yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.
Sebuah senyum getir terukir di bibir cantiknya.
"Selamat tinggal, kamarku," gumam Mili lirih.
Dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan
dan tanpa menoleh ke belakang lagi, Mili menuruni tangga, menghampiri David yang sudah menunggunya di dekat pintu.
Malam itu, bersama Dora di pelukannya dan pria misterius di sampingnya, Mili melangkah keluar dari rumah neraka itu, siap menyongsong takdir baru yang menantinya.
Mili mendadak menghentikan langkahnya tepat di undakan semen terakhir teras rumah.
Di hadapannya, beberapa mobil mewah berwarna hitam legam berjejer rapi, memantulkan cahaya lampu jalan dengan berkilau.
Salah satu mobil di barisan paling depan tampak sangat megah, tipe keluaran terbaru yang harganya pasti selangit.
"K-kita, naik itu?" tanya Mili terbata-bata, menunjuk ragu ke arah mobil mewah di depannya.
David menoleh sedikit, menatap wajah istrinya yang tampak tegang.
"Iya. Kenapa?"
Mili langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tas kainnya dengan erat.
Bayangan masa lalu mendadak berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Ia masih ingat betul bagaimana Papa, Mama, dan Gea selalu melarangnya menyentuh, apalagi naik ke dalam mobil keluarga.
Baginya, jangankan naik mobil mewah, melangkah keluar dari pagar rumah saja ia hampir tidak pernah diizinkan.
Kedua orang tuanya selalu mengurungnya, menganggap kehadirannya di luar hanya akan membawa kesialan bagi nama baik mereka.
Melihat Mili yang mendadak ciut, David menghela napas pelan.
Suaranya yang berat kembali terdengar, memecah trauma yang sedang menghantui gadis itu.
"Jangan takut. Mobil itu tidak akan memakanmu," ucap David datar, namun entah mengapa terdengar seperti sebuah penenangan di telinga Mili.
Mili mendongak, menatap mata suaminya sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Ia menunduk untuk mengelus bulu lembut Dora yang berada di pelukannya.
"Dora, kita naik mobil, ya. Jangan takut," bisiknya, lebih kepada menenangkan dirinya sendiri.
Seorang sopir berjas rapi yang sudah bersiap sejak tadi segera maju dengan sigap.
Dengan penuh hormat, ia membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Mili melangkah masuk dengan canggung, lalu duduk di kursi kulit yang teramat empuk, tepat di samping suaminya.
"Ayo kita jalan," perintah David singkat kepada sopirnya.
"Baik, Tuan."
Sopir itu menutup pintu dengan pelan, lalu segera duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil mewah tersebut membelah jalanan malam, meninggalkan kediaman Ben yang penuh kepalsuan. Tujuan mereka adalah rumah pribadi milik David.
Di sepanjang perjalanan, Mili tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Wajahnya menempel di kaca jendela mobil, matanya berbinar mencerminkan lampu-lampu kota yang kelap-kelip dengan indahnya.
Jalanan malam yang ramai, papan reklame yang terang, dan hiruk-pikuk kota malam hari terlihat begitu memukau di matanya.
"Ini, indah sekali." gumam Mili tanpa sadar, bibirnya mengukir senyum tulus yang sangat tipis.
David yang sejak tadi memperhatikannya dari samping, sedikit mengernyitkan dahi.
"Kamu, tidak pernah keluar rumah?" tanya David, sadar ada yang tidak biasa dari reaksi sang istri.
Mili perlahan mengalihkan pandangannya dari kaca jendela, lalu menatap David seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak pernah. Papa dan Mama tidak pernah mengizinkanku keluar sejak aku kecil. Ini, pertama kalinya aku melihat kota di malam hari," jawab Mili jujur, suaranya terdengar tegar meski ada luka mendalam di sana.
Mendengar jawaban itu, rahang David tampak mengeras samar. Kilatan dingin kembali muncul di matanya, bukan karena marah pada Mili, melainkan karena ia mulai menyadari betapa kejamnya keluarga yang selama ini mengurung wanita yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut.
Mobil mewah itu akhirnya melambat dan melewati gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis.
Kendaraan bergulir mulus di atas jalan setapak berbatu, memutari air mancur megah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama sebuah bangunan kolosal.
Begitu pintu mobil dibukakan, Mili melangkah keluar sambil mendekap Dora.
Matanya membelalak lebar, menatap arsitektur megah di hadapannya tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka karena syok.
"I-ini, rumah atau istana?" tanya Mili terbata-bata, nyaris berbisik karena merasa takjub sekaligus terintimidasi oleh kemegahannya.
"Ini rumahku," jawab David datar, seolah bangunan bak istana itu hanyalah rumah biasa baginya.
Ia melangkah tegap mendahului Mili, memimpin jalan menuju pintu utama.
Di sana, dua baris pelayan berseragam rapi sudah berdiri menyambut mereka.
Begitu David dan Mili mendekat, para pelayan itu serentak menundukkan tubuh mereka dengan penuh hormat.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya David Kartajaya," ucap mereka serempak.
Mili tersentak kecil mendengar panggilan "Nyonya" yang disematkan padanya.
Seumur hidup, ia selalu dipanggil "anak sial" atau bahkan dianggap tidak ada.
Penghormatan ini terasa sangat asing bagi jiwanya yang terbiasa diinjak-injak.
Seorang pelayan wanita paruh baya maju dengan sopan, matanya tertuju pada kucing abu-abu di pelukan Mili.
"Nyonya, mana kucingnya? Biar saya bawa untuk ditaruh di kandang yang sudah disiapkan."
Mili langsung mengeratkan pelukannya pada Dora, wajahnya mendadak cemas.
"Tapi?"
"Berikan saja padanya. Dia tidak akan membuangnya," potong David pelan, menenangkan kekhawatiran Mili.
Melihat tatapan David yang meyakinkan, Mili akhirnya perlahan menyerahkan Dora ke tangan pelayan tersebut.
Setelah Dora dibawa dengan hati-hati, David kembali melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya berkali-kali lipat dari kamar loteng Mili dulu.
Mili mengekor di belakang suaminya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi perabotan mewah dan lantai marmer yang mengilat.
Setelah menimbang-nimbang kekhawatirannya sejak di mobil tadi, Mili akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Gudangku mana?" tanya Mili polos, menghentikan langkahnya.
David menghentikan langkah tegapnya. Ia membalikkan badan, menatap Mili dengan kening yang mengernyit dalam.
"Gudang? Untuk apa?"
Mili menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin.
"A-aku, biasanya tidur di gudang. Kamarku di rumah Papa berbentuk gudang di lantai atas. Jadi, di mana gudang yang akan menjadi kamarku di sini?"
Suasana di ruangan luas itu mendadak hening seketika.
Pertanyaan polos dari Mili justru terdengar bagai hantaman keras bagi siapa pun yang mendengarnya.
Para pelayan yang masih berdiri di sekitar mereka langsung terdiam, menatap iba ke arah nyonya muda mereka yang ternyata memiliki masa lalu begitu kelam.
Rahang David mengeras. Kilatan emosi yang tajam sempat melintas di matanya saat mendengar betapa tidak manusianya perlakuan keluarga Ben terhadap istrinya sendiri.
Namun, ia dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali.
David menoleh ke arah para bawahannya. "Kalian semua, pergi dari sini. Tinggalkan kami berdua," perintah David dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
"Baik, Tuan," jawab para pelayan patuh. Mereka segera membungkuk hormat dan berjalan cepat meninggalkan ruangan, menutup pintu-pintu penghubung hingga menyisakan keheningan total.
Kini, hanya ada David dan Mili yang berdiri di tengah kemegahan rumah itu.
David melangkah perlahan mendekati Mili, siap menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang kini telah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
"Duduklah, Mili," perintah David, suaranya terdengar lebih melembut dari sebelumnya.
Mili yang masih dirundung rasa cemas luar biasa secara refleks bergerak untuk duduk di atas lantai marmer yang dingin.
Baginya, sofa mewah di ruangan ini terlalu suci untuk disentuh oleh tubuhnya yang terbiasa dianggap kotor.
Melihat tindakan itu, David langsung menahan lengan Mili dengan cepat, mencegah tubuh istrinya menyentuh lantai.
Dengan tegas namun lembut, ia membimbing Mili untuk duduk di atas sofa beludru yang empuk.
"Mili, duduk di kursi. Bukan di lantai," ujar David.
Mili meremas gaun pudar di atas pangkuannya, tubuhnya masih sedikit gemetar.
"I-iya, Tuan."
"Panggil David. Aku suamimu, bukan tuanmu," potong David dengan nada rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Mili yang penuh ketakutan.
Mili tersentak kecil, lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"I-iya, David."
David mengambil tempat duduk di sofa yang berseberangan dengan Mili.
Ia melonggarkan sedikit dasinya, lalu menumpu dagunya dengan satu tangan, memperhatikan ekspresi istrinya yang tampak seperti seekor anak kelinci yang terpojok.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi padamu selama ini di rumah itu?" tanya David langsung pada intinya.
Pertanyaan tentang loteng pengap, larangan naik mobil, hingga sebutan "anak sial" benar-benar mengusik rasa ingin tahunya.
Mendengar pertanyaan itu, Mili mendadak tegang.
Napasnya memburu dan ia reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah-olah sedang bersiap menerima pukulan atau makian yang biasa ia dapatkan dari Emilia jika ia berani mengeluh.
Rasa takut yang mendalam terpahat jelas di wajah cantiknya.
Melihat reaksi pertahanan diri Mili yang begitu traumatis, David menghela napas panjang.
Aura dinginnya meluruh, digantikan oleh ketegasan seorang pria yang siap menjadi pelindung.
"Mili, lihat aku," ucap David, membuat Mili perlahan mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Di sini tidak ada keluargamu. Tidak ada Ben, Emilia, ataupun Gea. Ini rumahku, dan sekarang ini juga rumahmu. Jangan takut. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi di tempat ini," tegas David, memberikan jaminan keamanan yang selama dua puluh tahun ini tidak pernah Mili dapatkan dari siapa pun.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!