Langit masih diselimuti warna biru gelap ketika alarm di samping tempat tidur berbunyi pelan. Pukul tiga tepat.
Viola Shania membuka mata tanpa perlu menekan tombol tunda. Kebiasaan bangun sebelum matahari terbit telah melekat padanya sejak bertahun-tahun lalu. Dulu ia melakukannya untuk menyiapkan rapat, memeriksa laporan keuangan, atau mengejar penerbangan menuju kota lain. Kini, alasannya jauh lebih sederhana.
Viola merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Air dingin membasuh wajah dan tubuhnya, mengusir sisa kantuk yang masih tertinggal. Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna krem, celana hitam yang nyaman, dan celemek cokelat bertuliskan nama toko kecilnya. Sweet Cake. Sebuah nama sederhana, sama sederhananya dengan kehidupan yang ia pilih.
Bangunan sederhana berlantai dua itu ia sewa menggunakan tabungan selama bekerja dulu. Lantai bawah disulap menjadi toko sekaligus area produksi, tempat berbagai cake dan kue dipajang di dalam etalase. Sementara lantai atas menjadi tempat tinggalnya. Pilihan itu sengaja diambil agar ia bisa mulai bekerja kapan saja tanpa harus menempuh perjalanan lebih dulu.
Membuka toko kue bukanlah keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Jauh sebelum meninggalkan pekerjaanya, Viola telah menyimpan kecintaan yang besar terhadap dunia baking. Di sela kesibukannya sebagai CEO, ia selalu meluangkan waktu untuk membuat berbagai jenis cake, roti, dan dessert di dapur mansion. Kue-kue itu lalu ia bagikan untuk seluruh pekerja di sana.
Tak ada yang menyangka, hobi yang selama ini hanya menjadi pelarian dari penatnya pekerjaan justru berubah menjadi awal kehidupan barunya.
Viola mengikat rambut panjangnya sebelum membuka pintu. Udara pagi yang dingin langsung menyambut wajahnya. Jalanan di pinggiran kota masih tampak lenggang.
Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Begitu membuka pintu toko ia langsung menuju dapur produksi yang berada di bagian belakang.
Satu per satu lampu dinyalakan hingga ruangan itu dipenuhi cahaya hangat. Dapur itu memang tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi. Rak-rak berisi tepung, gula, cokelat, mentega, vanila, dan berbagai bahan lain tersusun berdasarkan ukuran. Mixer berdiri di sudut meja stainless, sementara oven besar yang menjadi investasi termahalnya tampak mengkilap setelah dibersihkan sebelum ia tidur.
Viola menghembuskan napas pelan sambil mengusap permukaan meja stainless di hadapannya. Senyum tipis terbit di bibirnya. "Lakukan yang terbaik, Viola," gumamnya penuh semangat.
Tanpa menunda waktu lagi, ia mulai menimbang tepung, gula, dan mentega, lalu mulai meracik adonan pertama. Hari ini ia berencana membuat lebih dari dua puluh jenis cake, roti, dan dessert. Jumlah yang cukup banyak mengingat akhir pekan pelanggan meningkat dibandingkan hari biasa.
Suara dengung mesin mulai memenuhi ruangan, Viola memperhatikan perubahan warna adonan yang perlahan menjadi lembut dan mengembang.
Sambil menunggu adonan pertama siap, ia memanaskan oven, lalu beralih membuat adonan croissant yang membutuhkan proses laminasi cukup panjang. Mentega khusus pastry dibungkus rapi di dalam adonan sebelum digilas dan dilipat berulang kali hingga membentuk lapisan-lapisan tipis yang nantinya menghasilkan tekstur renyah sekaligus lembut.
Gerakannya begitu terampil, tak ada sedikit pun keraguan. Sulit dipercaya jika dulu kedua tangan yang kini dipenuhi tepung lebih sering menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah daripada memegang spatula. Namun, justru di dapur inilah ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, bunyi pengingat waktu terdengar nyaring. Viola mengenakan sarung tangan tahan panas, lalu membuka pintu oven. Gelombang udara hangat langsung menyeruak keluar. Ia memasukkan loyang berisi adonan ke dalamnya.
Sejak awal merintis toko kue itu, Viola tidak bekerja seorang diri. Ia sengaja merekrut tiga orang karyawan untuk membantunya menjalankan usaha itu.
Jarum jam menunjukkan pukul empat kurang lima menit ketika suara bel pintu depan berbunyi. Karyawan pertama datang dengan senyum ceria. "Selamat pagi, Bu Viola," sapanya hangat.
"Pagi, Rani," sahut Viola sambil membalas senyum. "Kamu datang lebih cepat hari ini."
Rani terkekeh kecil. "Siapa tahu bisa langsung naik gaji."
Tak lama kemudian, dua karyawan lainnya menyusul masuk.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Dimas dan Siska hampir bersamaan.
"Pagi. Ayo kita mulai. Pagi ini, Bu Mela memesan croissant cukup banyak dan minta dikirim sebelum pukul delapan," ujar Viola.
Ketiga segera mengenakan celemek dan mencuci tangan sebelum mengambil tugas masing-masing.
***
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Aroma mentega, cokelat, dan vanila memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan loyang yang semula memenuhi rak pendingin kini mulai berpindah ke etalase kaca di bagian depan toko.
Rani menata Croissant dan Pain au chocolate di rak paling atas. Lapisan pastry yang berwarna keemasan tampak mengilap terkena cahaya lampu.
Sementara itu, Siska dengan teliti menghias potongan red Velvet, Cheesecake, dan tiramisu menggunakan buah stroberi segar serta daun mint. Sentuhan sederhana itu membuat setiap potong cake terlihat semakin menggugah selera.
Di sisi lain, Dimas menyusun aneka roti isi, cinnamon roll, dan roti susu ke dalam keranjang rotan yang telah dialasi kain bersih.
Viola sendiri sibuk mengisi dessert ke dalam mika bening. Mousse cokelat, panna cotta, puding caramel, hingga mango cheesecake tersusun cantik dengan ukuran yang seragam. Setelah semuanya selesai, ia menutup setiap mika dengan penutup transparan sebelum menempelkannya dengan stiker Sweet Cake.
Ia kemudian melangkah ke depan toko. Tatapannya menyapu seluruh isi etalase. Aneka roti tersusun rapi di rak kiri. Berbagai cake dengan warna-warni cantik memenuhi rak tengah, sementara dessert dingin berjajar di dalam lemari pendingin sebelah kanan. Semuanya terlihat sederhana, tetapi dibuat dengan penuh ketelitian.
Senyum puas mengembang di wajah Viola. "Semua hampir selesai. Hanya tinggal membuat pesanan untuk diantar siang nanti."
Rani ikut memandangi etalase sambil tersenyum bangga. "Kalau tampilannya seperti ini, pelanggan pasti bingung mau pilih yang mana, Bu."
Viola terkekeh pelan.
"Semoga saja mereka memutuskan untuk membeli semuanya," sahut Siska.
Candaan sederhana itu langsung mengundang tawa Rani dan Dimas.
Suasana hangat memenuhi toko mungil itu. Tak ada jarak antara pemilik dan karyawan. Bagi Viola, mereka adalah rekan yang sama-sama sedang merintis dari awal.
Tatapan Viola beralih pada Dimas yang sedang memasukkan beberapa kotak croissant ke dalam boks pengantaran. "Pesanan Bu Mela sudah siap?"
"Sudah, Bu. Tinggal saya antar."
Viola mengangguk puas. "Kurasa kita harus mulai mencari satu karyawan lagi."
Rani dan Siska saling berpandangan.
"Benar juga, Bu," sahut Siska. "Apalagi kalau akhir pekan seperti ini. Pelanggan terus berdatangan, sementara pesanan antar juga semakin banyak."
"Tolong buatkan pengumuman lowongan kerja. Tempelkan di depan toko dan unggah juga ke media sosial Sweet Cake," ujar Viola.
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian, Dimas berpamitan untuk mengantar pesanan. Sementara Rani dan Siska mulai bersiaplah membuka toko.
Viola memilih beristirahat sejenak. Ia menuangkan secangkir kopi hangat, lalu duduk di salah satu meja dekat jendela. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada televisi yang tergantung di sudut ruangan. Siaran berita pagi tengah berlangsung.
"Kabar gembira tengah menyelimuti Jayendra Group dan Dhanubrata Group. Kelahiran anak kembar dari pasangan pewaris dua perusahaan besar membuat saham keduanya melonjak tajam. Ucapan selamat pun terus mengalir dari berbagai kalangan pengusaha dan tokoh masyarakat."
Layar televisi kemudian menampilkan sebuah keluarga yang berdiri di depan rumah sakit dengan senyum bahagia. Kilatan kamera para wartawan tak henti-hentinya menyinari wajah mereka.
Menghentikan gerakan tangannya, untuk sesaat tatapan Viola membeku. Namun, kemudian senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Selamat atas kelahiran kalian ... Keponakan-keponakanku tersayang," gumamnya pelan.
*****Bersambung.
Tepat pukul delapan pagi, Viola membalik papan kecil yang tergantung di pintu kaca. Pertanda toko sudah siap menyambut pelanggan.
Tak lama kemudian, bel pintu berdenting pelan, menandakan pelanggan pertama hari itu datang.
"Selamat pagi, silakan. Hari ini croissant dan cinnamon roll baru saja keluar oven," sambut Rani dengan senyum ramah.
Seorang wanita paruh baya berjalan mengintari etalase sambil memperhatikan deretan cake dan dessert yang tertata rapi. "Kalau yang ini rasa apa, Mbak?"
"Itu mango cheesecake, Bu. Salah satu menu favorit pelanggan."
"Kalau begitu saya ambil dua."
"Baik, Bu."
Belum sempat pesanan pertama selesai dikemas, dua pelanggan lain menyusul masuk. Tak lama kemudian, datang lagi sepasang mahasiswa, lalu seorang pria yang membeli kopi sebelum berangkat bekerja."
Suasana toko yang semula tenang perlahan berubah ramai.
Sementara Rani dan Siska sibuk melayani pelanggan di bagian depan, Viola kembali memasuki dapur.
Di atas meja stainless telah tersusun bahan-bahan untuk pesanan khusus yang akan diantar siang nanti. Ada birthday cake berlapis cokelat, puluhan croissant, serta beberapa kotak dessert yang dipesan pelanggan sejak tiga hari sebelumnya.
Dimas masih mengantar pesanan pertama, sehingga Viola memilih memulai lebih dulu. Ia menuangkan tepung ke dalam mangkuk besar, menambahkan gula, ragi, susu, telur, dan mentega, lalu menyalakan mixer.
Dengungan mesin kembali memenuhi dapur. Tangan Viola bergerak cekatan, sesekali memeriksa tekstur adonan sebelum menambahkan bahan yang diperlukan. Tak sedikit pun rasa lelah di wajahnya. Justru kesibukan seperti inilah yang membuat hatinya terasa damai.
Berjam-jam berada di dapur tidak pernah terasa membosankan, sebaliknya, setiap adonan yang berhasil mengembang sempurna selalu menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan.
Tak lama kemudian Dimas kembali. "Pesanan Bu Mela sudah diterima, Bu."
"Bagus. Istirahat sebentar, lalu bantu siapkan pesanan berikutnya."
"Siap."
Waktu terus berjalan. Menjelang pukul sebelas siang, jumlah pelanggan semakin bertambah. Hampir seluruh meja di area makan telah terisi. Sebagian pelanggan memilih membeli untuk dibawa pulang.
"Tambah dua Pain au chocolat, ya."
"Saya pesan red velvet satu kotak."
"Saya mau enam croissant untuk dibungkus."
Sementara yang lain memilih menikmati suasana toko. Dua orang ibu muda tampak mengobrol sambil menyeruput latte hangat ditemani sepotong cheesecake. Di sudut lain, sepasang mahasiswa sibuk mengerjakan tugas kuliah sembari menikmati es kopi susu dan cinnamon roll.
Seorang pria lanjut usia membaca koran sambil menikmati secangkir teh hangat serta roti susu favoritnya.
Gelak tawa dan percakapan ringan berpadu dengan aroma kopi dan mentega yang memenuhi ruangan. Melihat pemandangan itu, senyum Viola mengembang tanpa sadar. Inilah toko yang selama ini ia impikan. Bukan sekedar tempat mencari penghasilan, melainkan tempat di mana orang-orang bisa merasa nyaman, berbagi cerita, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih bahagia.
***
Waktu berlalu tanpa terasa. Satu demi satu rak di etalase mulai kosong, hanya tersisa beberapa gelas dessert dingin. Bahkan birthday cake yang dijadikan display pun akhirnya dibeli pelanggan.
Menjelang pukul tiga sore, Viola melihat etalase yang hampir kosong. Ia menoleh ke arah tiga karyawannya. "Sepertinya cukup sampai di sini."
Mereka mengangguk.
Sweet Cake Viola memang tidak pernah buka hingga malam hari. Toko itu hanya melayani pelanggan dari pukul delapan pagi hingga menjelang sore. Bukan karena Viola malas membuat adonan baru ketika persediaan habis. Ia hanya percaya bahwa kualitas tidak boleh mengorbankan kesehatan. Ia ingin dirinya dan karyawannya tetap memiliki waktu untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, dan memulai hari berikutnya dengan semangat yang sama.
Dimas membalik papan di pintu menjadi TUTUP, sementara Rani dan Siska mulai membersihkan meja serta merapikan etalase. Tak sampai tiga puluh menit, seluruh toko kembali bersih seperti semula.
Viola memandang mereka satu per satu dengan senyum bangga. "Terima kasih untuk hari ini. Kalian luar biasa."
Ketiganya saling tersenyum. Hari ini mereka bahkan pulang lebih cepat karena seluruh kue dan dessert ludes terjual.
Viola mengambil ponselnya, lalu mengirim sesuatu. "Bonus hari ini sudah saya transfer. Kalian bisa langsung cek."
Ketiga karyawannya spontan mengeluarkan ponsel masing-masing. Tak lama kemudian, wajah mereka langsung berbinar.
"Masuk!" seru Siska girang. "Bonus lagi! Wah, bulan ini tabunganku makin cepat terkumpul."
Rani tertawa lebar sambil menatap layar ponselnya. "Alhamdulillah ... akhirnya aku bisa membelikan ponsel baru untuk adikku."
Dimas ikut tersenyum usil. "Bisa lanjut traktir mbak pacar ke pasar malam, nih."
Ucapan itu langsung disambut tawa Rani dan Siska.
"Dasar Dimas! Bonus baru masuk lima detik langsung inget mbak pacar," goda Rani.
"Namanya juga orang lagi jatuh cinta," balas Dimas santai hingga membuat suasana kembali dipenuhi gelak tawa.
Viola hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Melihat mereka pulang dengan raut wajah bahagia menghadirkan kepuasan yang bahkan tak pernah ia rasakan ketika dulu memipin perusahaan.
Di balik toko sederhana bernama Sweet Cake, ia akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya, yakni sebuah kehangatan.
****
Sementara itu, di tempat lain ....
Sebuah pesawat jet pribadi baru saja mendarat dengan mulus di landasan pacu. Pintu pesawat perlahan terbuka, memperlihatkan seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Langkahnya mantap saat menuruni tangga pesawat, memancarkan wibawa yang membuat para staf bandara dan pengawal yang telah menunggu spontan menundukkan kepala.
Pria itu adalah Han Seokjin. Di usia tiga puluh lima tahun, Seokjin dikenal sebagai salah satu CEO muda paling disegani di dunia bisnis. Ketegasannya dalam mengambil keputusan membuat banyak orang segan, bahkan takut berhadapan langsung dengannya.
Wajah tampan dengan garis rahang tegas. Tatapannya tajam, nyaris tak pernah menunjukkan emosi. Selama lebih dari enam bulan terakhir, ia berada di luar negeri untuk menangani perluasan bisnis keluarga. Namun, sore ini ia kembali ke tanah air. Bukan untuk beristirahat, melainkan karena sebuah tanggung jawab baru telah menunggunya.
Mobil sedan hitam mewah telah lama menunggu kedatangannya. Seokjin masuk ke kursi belakang tanpa banyak bicara.
"Selamat datang kembali, Tuan Han," sapa pria paruh baya yang duduk di kursi depan.
"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Seokjin singkat.
"Asisten Kim sudah menyiapkan seluruh laporannya."
Seorang pria berkacamata yang duduk di sampingnya segera menyerahkan sebuah tablet. "Ini laporan enam bulan terakhir, Tuan."
Seokjin menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Layar tablet langsung menyala, menampilkan laporan keuangan, perkembangan proyek, hingga jadwal rapat yang telah disusun untuk beberapa minggu ke depan.
Tatapan Seokjin bergerak cepat membaca setiap halaman. Tak ada satu angka pun yang luput dari perhatiannya. Beberapa menit kemudian, dahinya berkerut. "Proyek pembangunan kawasan bisnis di Distrik Timur terlambat hampir tiga bulan."
"Ya, Tuan."
"Alasannya?"
Asisten Kim menelan ludah sebelum menjawab. "Setelah Nona Naraya mengundurkan diri dari posisi Presiden Direktur, beberapa keputusan besar harus ditunda. Dewan direksi memilih menunggu kepulangan anda."
Seokjin menutup tablet perlahan.
Naraya Pramaswari. Wanita cantik yang juga sepupu Seokjin telah lama mengisi ruang di hati pria itu. Kini Nara telah memilih jalan hidupnya sendiri. Menikah, membangun rumah tangga, bahkan baru saja dikaruniai anak kembar.
Seokjin sempat kecewa dengan keputusan itu. Namun, ia tetap menghormati keinginan Nara dan memilih menjauh untuk sedikit mengobati luka hatinya. Memendam perasaan cinta sedari remaja pada sepupunya sendiri nyatanya justru membuatnya harus menelan kenyataan jika cintanya harus kandas tanpa pernah bersemi.
"Mulai besok, semua proyek yang tertunda harus kembali berjalan," ucap Seokjin datar. "Batalkan agenda yang tidak penting dan jadwalkan pertemuan dengan seluruh direktur pukul delapan tepat."
Asisten Kim mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Mobil melaju meninggalkan kawasan bandara menuju pusat kota. Sepanjang perjalanan, Seokjin kembali membuka tablet itu. Ia membaca satu demi satu laporan perusahaan tanpa ekspresi. Baginya, pekerjaan selalu menjadi cara terbaik untuk mengalihkan pikiran.
Tidak ada waktu memikirkan hal lain, tak ada ruang untuk urusan pribadi, yang ada hanyalah target, disiplin, dan tanggung jawab.
Di luar jendela, gedung-gedung tinggi berdiri megah di bawah langit sore. Kota itu masih sama. Namun, tanpa disadari, Seokjin tengah maju selangkah menuju takdir kisah cintanya yang baru.
*** bersambung.
Sebuah sedan hitam memasuki area parkir khusus Dhanubrata Group. Mobil berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit yang menjulang megah.
Pintu belakang terbuka. Han Seokjin turun dengan langkah tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajah tampannya tetap datar, sementara sorot matanya yang tajam langsung menyapu suasana lobi.
"Selamat pagi, Tuan Han." Puluhan karyawan yang berpapasan spontan menundukkan kepala. Seokjin hanya membalas dengan anggukan tipis.
Di sampingnya, Asisten Kim berjalan sambil membawa tablet. "Seluruh direksi sudah menunggu di ruang rapat, Tuan."
Seokjin tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkah ke arah lift yang akan membawanya menuju ruang rapat utama.
Jam digital di dinding menunjukkan pukul delapan tepat. Asisten Kim mendorong pintu ruang rapat. Seluruh direksi yang tengah duduk di kursi masing-masing langsung berdiri.
"Selamat pagi, Tuan Han."
"Pagi."
Ruangan kembali hening. Asisten Kim meletakkan map di atas meja.
"Saya tidak suka mengulang pekerjaan yang seharusnya sudah selesai," ucap Seokjin tegas. Tatapannya menyapu seluruh direksi yang hadir. "Mulai hari ini, kita bekerja dengan ritme baru."
Persentasi dimulai. Satu demi satu laporan dipaparkan. Namun, baru lima belas menit berjalan, Seokjin menghentikan presentasi.
"Proyek Distrik Timur."
Direktur proyek langsung berdiri. "Masih mengalami keterlambatan, Tuan."
"Berapa lama?"
"Tiga bulan."
"Mengapa?"
"Kami menunggu persetujuan direksi karena saat itu Nona Naraya mengajukan cuti."
Seokjin menatapnya beberapa detik. "Mulai hari ini saya yang akan memberikan persetujuan. Saya ingin jadwal baru sore ini juga."
"Baik, Tuan."
Presentasi kembali dilanjutkan hingga rapat itu akhirnya berakhir setelah dua jam berlalu. Dalam rapat itu, beberapa proyek dihentikan, tiga vendor diganti, dua manager menerima surat evaluasi, dan seluruh direktur pulang membawa target baru.
Ketika rapat selesai, hampir semua orang menghembuskan napas lega. Namun, saat seluruh peserta mulai membereskan berkas masing-masing. Seokjin kembali angkat bicara.
"Direktur proyek."
"Ya, Tuan."
"Besok pagi saya akan meninjau langsung proyek perluasan kawasan bisnis di Distrik Timur."
Beberapa orang yang hendak berdiri kembali duduk.
"Masalah pembebasan lahannya sudah terlalu lama berlarut-larut. Saya ingin melihat sendiri penyebabnya."
Direktur proyek segera mengangguk. "Baik, Tuan. Kami akan menyiapkan seluruh dokumen dan menghubungi tim lapangan."
"Pastikan seluruh pihak yang terlibat hadir. Saya tidak ingin ada informasi yang disembunyikan."
"Baik, Tuan."
Seokjin menutup map di hadapannya, lalu berdiri. "Rapat selesai." Ia lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah tenang, diikuti Asisten Kim.
Barulah setelah pintu tertutup rapat beberapa direktur saling berpandangan.
"Tidak berubah sama sekali ...," gumam salah seorang direktur setelah Seokjin keluar.
"Justru lebih tegas dibanding sebelumnya."
"Semoga kita semua sanggup bekerja di bawah kepemimpinannya."
Mereka saling menatap sebelum kembali ke ruang kerja masing-masing.
*****
Sekitar pukul sebelas siang, saat antrean pelanggan mulai berkurang, bel kecil di atas pintu berdenting pelan.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun melangkah masuk. Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan, sementara kartu Identitas perusahaan masih tergantung di lehernya. Wajahnya tampak lelah, seolah sejak pagi belum sempat beristirahat.
Begitu pintu terbuka, aroma mentega yang baru keluar dari oven langsung menyambutnya. Pria itu berhenti sejenak. Matanya menyapu seluruh isi toko.
Etalase kaca dipenuhi aneka pastry berwarna keemasan, potongan cake yang dihias cantik, dan dessert dalam gelas-gelas bening. Beberapa pelanggan duduk santai di dekat jendela, menikmati kopi hangat sambil bercakap pelan.
Suasana yang hangat itu membuat bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.
"Selamat siang, Pak." Senyum ramah Rani menyambutnya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu membalas dengan senyum tipis. "Saya mendapat rekomendasi dari beberapa teman. Katanya kalau ingin membeli cake yang rasanya benar-benar enak, datang saja ke Sweet Cake."
Ucapan itu membuat Viola yang sedang membawa loyang dari dapur menoleh. Ia lalu menghampiri dengan celemek yang masih dipenuhi sedikit tepung. "Selamat siang. Saya Viola."
Pria itu mengangguk sopan. "Perusahaan kami akan mengadakan penyambutan untuk pemimpin baru besok pagi. Saya ditugaskan mencari snack dan dessert. Jujur ... saya sudah mendatangi beberapa toko, tapi rasanya belum ada yang benar-benar cocok."
Viola tersenyum kecil. "Kalau begitu, izinkan saya membantu."
Alih-alih langsung menawarkan menu, Viola mengambil sebuah piring kecil. Ia memotong sepotong strawberry shortcake, menambahkan tiramisu, lalu meletakkan sepotong butter croissant yang masih hangat. "Silakan cicipi dulu."
Pria itu tampak ragu. "Gratis?"
Viola mengangguk. "Kalau pelanggan belum percaya pada rasa kue saya, bagaimana mungkin mereka memesan dalam jumlah banyak?"
Kalimat itu membuat pria itu tersenyum. Ia mengambil sepotong croissant. Begitu digigit ... lapisan pastry yang renyah langsung pecah di mulut, diikuti aroma mentega yang lembut.
Matanya membulat. "Luar biasa ...," ia melanjutkan mencicipi strawberry shortcake. Krimnya ringan. Manisnya pas, potongan stroberinya segar. Tanpa sadar, ia mengangguk beberapa kali. "Saya bisa mengerti sekarang kenapa teman-teman saya sampai memaksa saya datang ke sini."
Viola hanya tersenyum. Tidak ada sedikit pun rasa bangga yang berlebihan di wajahnya. Baginya, melihat pelanggan menikmati hasil buatannya sudah lebih dari cukup.
"Saya pesan sesuai rekomendasi anda saja."
Saat Rani mencatat pesanan, pria itu mengeluarkan kartu namanya.
"Besok pagi harus sudah sampai sebelum pukul delapan."
Viola menerima kartu itu. Tatapannya hanya sekilas membaca nama perusahaan tersebut sebelum menyimpannya. Ia sama sekali tidak tahu ...
Pesanan sederhana itu akan menjadi benang pertama yang diam-diam mulai menghubungkan hidupnya dengan seseorang yang belum pernah ia bayangkan akan hadir kembali.
****bersambung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!