Indonesia
NovelToon NovelToon

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

BAB 1: CEWEK DINGIN?! EMANG GUE PEDULI?!

Hari yang cerah selalu disambut hangat oleh orang-orang yang penuh semangat menyambut masa depan.

​Namun, kalimat itu sama sekali tidak berlaku bagi makhluk bernama Raka Pradipta.

​Bagi Raka, pagi hari adalah musuh bebuyutan. Meski alarm di ponselnya sudah menjerit berkali-kali hingga nyaris meledak, Raka masih tergeletak tak berdaya di atas kasur. Karena alarm mesin gagal total, giliran 'alarm kedua' alias ibunya yang mengambil alih pertunjukan.

​PLAK! PLAK! PLAK!

​Suara gedoran pintu lantai dua terdengar menggelegar, disusul jeritan khas emak-emak di pagi hari.

​"Raka! Ayo bangun! Ini hari pertama kamu sekolah SMA, ya Lord!"

​Teriakan super-desibel itu akhirnya berhasil menembus gendang telinga Raka. Pemuda itu perlahan membuka mata, namun bukannya beranjak, ia malah mempererat pelukannya pada bantal guling.

​"Lima menit lagi, Bu..." gumam Raka dengan suara serak khas bangun tidur.

​"Mata kamu lima menit! Ini udah jam berapa?! Kamu udah telat, Raka!"

​Kata 'telat' seketika bekerja bak sengatan listrik. Raka terkesiap, matanya melotot lebar.

​"APAAAA?!"

​Raka menyambar ponsel di samping bantalnya. Begitu melihat angka digital di layarnya, jantungnya serasa mau melompat keluar. "Gila! Beneran udah telat!"

​Tanpa membuang waktu, Raka melompat dari kasur, hampir tersandung sprei, lalu meluncur turun dari lantai dua menuju kamar mandi bak buronan polisi. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah keluar dengan seragam putih-abu-abu yang belum rapi. Ia menyambar selembar roti tawar, menyumpalkannya langsung ke mulut, lalu melesat ke garasi menyalakan motornya.

​Beberapa menit kemudian, Raka berhasil sampai di pelataran sekolah. Ia mematikan mesin motor, melepas helm, lalu mendongak menatap megahnya bangunan di hadapannya.

​"Wih... gede juga sekolahnya," gumam Raka pelan sambil mengunyah sisa roti. "Semoga di sini hidup gue tenang dan gak ada masalah."

​Raka tidak sadar bahwa ia baru saja mengucapkan 'kalimat keramat'. Dalam hukum alam semesta rom-com, semakin seseorang berharap hidupnya tenang tanpa masalah, semakin gatal takdir menyajikan drama absurd tepat di depan mukanya.

​"Cukup lihat-lihatnya. Gue harus cari parkiran sebelum digilas guru piket."

​Raka bergegas memarkirkan motornya dan melangkah masuk ke area dalam sekolah. Dari speaker terdekat, suara pengumuman berkoar-koar nyaring.

​"Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi baru kelas sepuluh untuk segera menuju ke lapangan upacara!"

​Mendengar itu, Raka berlari kecil menuju ruang kelas 10A hanya untuk mengaitkan tasnya di papan bangku, lalu bergabung dengan barisan murid di lapangan.

​Upacara bendera hari itu berlangsung dengan sangat tenang dan damai. Berbeda jauh dari zaman SMP dulu di mana barisan belakang selalu ricuh seperti pasar kaget. Suasana yang kondusif ini membuat Raka sedikit paham alasan ibunya ngotot menyekolahkan dirinya di SMA ini.

​Tanpa hambatan berarti, upacara pun dibubarkan. Para murid diarahkan kembali ke kelas masing-masing.

​"Wah, gak nyangka... upacaranya bikin gue speechless," bisik Raka pada dirinya sendiri saat berjalan di koridor. "Siapa sangka bisa se-sunyi itu?"

​Ia mengusap dagunya, menyunggingkan senyum tipis. "Hmm... sekolah di sini lumayan menarik. Mungkin aja di kelas nanti ada hal—atau orang—yang menarik juga?"

​Namun, ekspektasi Raka langsung luluh lantak begitu ia menginjakkan kaki di depan pintu kelas 10A.

​Suasana kelas sudah mirip festival budaya ajaib. Murid-murid sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang heboh berkenalan, ada yang langsung membentuk kubu geng, dan yang paling ekstrem... ada yang sedang nekat menyatakan perasaan di hari pertama sekolah!

​Raka menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan wajah datar. "Oh, gila. Absurd parah."

​Tepat di tengah kelas, seorang murid laki-laki sedang berlutut di depan cewek berambut panjang.

​"Siska! Aku suka kamu pada pandangan pertama! Mau gak kamu jadi pacarku?!" seru si cowok dramatis.

​Si cewek menatapnya dengan pandangan jijik. "Gila lu ya? Gue aja gak kenal lu siapa! Minim PDKT dulu lah, main tembak aja!"

​Ditolak secara mentah-mentah dan disaksikan seisi kelas, cowok itu langsung merengek lebay dan berlari keluar kelas sambil menutup mukanya.

​Raka menepuk jidatnya sendiri. "Anjir, apalah... lebay banget."

​Malas terlibat dalam kegilaan itu, Raka mengedarkan pandangan. "Oh iya, enaknya duduk di mana ya?"

​Pandangannya meneliti setiap sudut kelas seolah sedang memecahkan konspirasi dunia—padahal cuma urusan sepele memilih kursi. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu bangku kosong di pojok belakang, tepat di samping jendela.

​Tempat duduk keramat para MC anime tampan.

​Raka berjalan dengan gaya sok misterius menuju bangku itu. Begitu mendudukkan pantatnya dan menopang dagu sambil menatap ke luar jendela, jiwa halusinasinya mendadak bergejolak.

​"Manusia hanyalah alat..." batin Raka bergaya ala pahlawan dingin.

​Tapi detik berikutnya, ia langsung tertawa pelan meratapi tingkahnya sendiri. "Hahaha! Apalah, emangnya gue Ayanokouji?!"

​Raka menghela napas panjang. "Haaah... hari pertama pasti cuma perkenalan biasa. Kira-kira ada yang bikin gue tertarik gak ya? Atau mungkin nggak ada sama sekali?"

​Menjelang pukul 07.30, pikiran Raka malah melayang ke hal lain yang jauh lebih krusial: Bagaimana caranya cari uang buat beli action figure anime impiannya?

​"Mungkin gue harus cari kerja paruh waktu..." gumam Raka dengan mata berbinar. "Demi dapet figurin itu! Anjay, uang hasil jerih payah sendiri pasti rasanya mantap banget!"

​TETTT... TETTT...

​Bel masuk berbunyi nyaring, memotong lamunan Raka. Seorang guru wanita berpenampilan rapi memasuki kelas.

​"Selamat pagi, anak-anak!" sapa sang guru ramah.

​"Selamat pagi, Bu!" sahut para murid serempak.

​"Oke, sebelum pelajaran dimulai, karena kalian masih murid baru, kita perkenalan dulu ya," ujar Wali Kelas sambil menduduki kursinya dan membuka buku absen.

​Satu per satu murid maju ke depan kelas. Variasinya bermacam-macam—ada yang pamer bakat bernyanyi, ada yang mencoba melawak tapi garing, dan ada juga yang membongkar aib temannya sendiri karena kebetulan berasal dari SMP yang sama.

​Sementara kehebohan terjadi di depan, Raka yang berada di pojok jendela memilih untuk mengabaikan dunia luar. Ia mengeluarkan buku sketsa dan pensil dari tasnya untuk menyalurkan hobinya.

​Jemarinya mulai menari, menggambar lingkaran demi lingkaran kecil serta guratan garis yang makin lama makin membentuk pola.

​Setelah beberapa menit memoles, Raka mengangkat bukunya. Matanya berbinar penuh rasa bangga.

​"Hasilnya mantap! Gue akhirnya bisa gambar Doraemon mirip banget sama yang di TV!"

​Raka mendongak, dan pada saat yang bersamaan, sinar matahari pagi menembus jendela, menyorot wajahnya bak adegan pencapaian spiritual di film-film. Ia merasa baru saja membuktikan bahwa sketsa di TV bukanlah hal yang mustahil, melainkan hanya butuh usaha gigih!

​Namun, baru saja Raka hendak mengarsir kantong ajaib Doraemon-nya, suara guru mendadak memanggil namanya.

​"Absen 24, Raka Pradipta. Silakan maju ke depan."

​Raka tersentak, cepat-cepat menutup bukunya. "Baik, Bu."

​Raka berjalan santai ke depan kelas, berdiri di samping meja guru, lalu menatap teman-temannya.

​"Halo teman-teman sekalian. Nama gue Raka Pradipta. Semoga kalian bisa menerima gue jadi teman kalian... Udah, gitu aja."

​Guru wali kelas berkedip bingung. "Loh, gitu aja, Raka?"

​"Iya, Bu."

​"Gak ada hobi, cita-cita, atau apa gitu yang mau disampaikan?"

​Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Malas, Bu. Nanti aja kalau udah beneran berteman."

​Beberapa murid tertawa pelan mendengar jawaban jujur nan malas itu. Sang guru hanya bisa menggelengkan kepala. "Ya sudah, silakan duduk kembali."

​Raka kembali menyusuri lorong antar meja dan merebahkan tubuhnya di kursi keramatnya.

​"Hmm... habis ini gue mau ngapain ya?" batin Raka. "Oh iya, cari temen."

​"Baik anak-anak, kita akan memulai materi pelajaran pertama..." suara guru mengalihkan perhatian kelas.

​Pelajaran berjalan lancar tanpa halangan. Satu jam, dua jam berlalu hingga akhirnya bel istirahat pertama berbunyi nyaring.

​Raka merapikan buku-bukunya dan berniat meluncur ke kantin. Namun, baru saja berdiri, sesosok murid laki-laki berwajah ramah mendadak mencegatnya.

​"Eitss! Tunggu dulu, Bro!"

​Raka menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"

​"Boleh gak gue jadi temen lu?" tanya cowok itu blak-blakan.

​"Boleh aja."

​Cowok itu tersenyum lebar. "Sip! Nama gue Dimas."

​"Gue Raka."

​Merekapun berjabat tangan erat, menandai lahirnya sebuah pertemanan baru. Tak lama kemudian, Raka dan Dimas sudah berjalan bersama menyusuri koridor menuju kantin.

​"Hei, lu tahu gak, Rak?" buka Dimas memulai obrolan.

​"Gak."

​"Buset! Tunggu dulu dong, Boy! Selesaiin dulu kalimat gue!" omel Dimas nepuk bahu Raka.

​Raka terkekeh. "Oh iya, iya. Apaan?"

​"Lu sadar gak sama cewek yang duduk di sebelah lu tadi?"

​Raka mengingat-ingat. "Gak terlalu sih. Memangnya kenapa?"

​"Cewek itu cantik banget, sumpah!" ujar Dimas bersemangat, lalu memelankan suaranya. "Tapi ya... dengar-dengar doinya dingin banget."

​"Gitu doang?" respon Raka lempeng. "Tapi emangnya beneran dingin?"

​"Gak tahu juga sih, gue kan belum berkenalan," kekeh Dimas.

​Angin sejuk sepoi-sepoi berembus pelan mengiringi langkah mereka. Di ujung koridor, area kantin yang riuh sudah mulai terlihat.

​"Wah, udah nyampe nih! Lu mau pesen apa, Rak?" tanya Dimas.

​"Mau ngapain?"

​"Ya gue traktir lah sebagai perayaan teman baru!"

​Raka menggeleng. "Gak usah lah, gue beli sendiri aja."

​"Yaudah kalau gak mau!"

​Mereka berdua masuk ke kantin dan menghampiri salah satu stan makanan.

​"Bu, beli cirengnya dua ribu ya," ujar Raka.

​"Nih, Dek," sahut ibu kantin cekatan.

​"Makasih, Bu." Raka menerima bungkusan cirengnya, lalu menoleh ke Dimas. "Mau duduk di mana, Mas?"

​"Terserah lu aja."

​Mereka mencari meja kosong di pojokan. Sambil mengunyah cireng, Raka kembali mengangkat topik yang sempat terputus tadi.

​"Jadi... kenapa?"

​"Hah? Apaan?"

​Raka menghela napas. "Haaah... jadi kenapa lu tadi ngomongin cewek dingin itu?"

​"Ya... menarik aja sih," jawab Dimas sambil menyandarkan punggungnya. "Selama gue sekolah, belum pernah ketemu tipe cewek dingin kayak gitu."

​"Oh... jadi lu merasa ini sebuah pencapaian?" goda Raka.

​Dimas tertawa keras. "Hahaha! Gak gitu juga kali! Cuma terkejut aja."

​Dimas lalu memajukan badannya. "Btw Raka, lu punya hobi gak? Katanya tadi di depan kelas mau ngasih tahu kalau udah jadi temen."

​"Hmm... hobi gue gambar sama main game sih. Kalau lu gimana, Mas?"

​"Kalau gue main bola. Btw, lu suka bola gak?"

​"Gak terlalu sih."

​Obrolan santai itu terus mengalir diiringi angin siang yang sejuk. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30, dan bel masuk kembali mengalun nyaring di seluruh penjuru sekolah.

​"Masuk kelas, Mas," ajak Raka berdiri.

​"Bentar-bentar!" Dimas buru-buru menghabiskan sisa makanannya, lalu berlari kecil menyusul Raka.

​Hari pertama sekolah berakhir dengan sangat lancar dan tanpa masalah.

​Setidaknya, begitulah menurut sudut pandang Raka Pradipta hari itu.

​Ia sama sekali tidak tahu bahwa sosok cewek dingin yang sama sekali tidak menarik perhatiannya hari ini... kelak akan menjadi hal paling penting yang paling ia pedulikan di masa depan.

BAB 2: SEKELOMPOK SAMA CEWEK DINGIN?!

‎Raka melangkah masuk ke dalam kelas bersama Dimas. Suasana kelas saat itu masih terbilang cukup sepi, hanya diisi oleh kerumunan siswi-siswi yang sibuk bergosip ria di barisan depan sambil menikmati camilan pagi.

‎Raka langsung berjalan menuju tempat duduk favoritnya di pojok belakang kelas, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke kursi. Sementara itu, Dimas menarik kursi di bangku barisan tengah kelas—posisi duduk resminya—lalu

‎membalikkan badan menghadap ke arah Raka.

‎"Rak, setelah ini pelajaran apa sih?" tanya Dimas sambil menopang dagu.

‎"Setelah ini?" Raka menaikkan alisnya. "Pelajaran IPA. Emang napa?"

‎"Waduh, males banget gue..." ringis Dimas mendadak lesu.

‎"Emang kenapa? Gak suka ya lu sama gurunya?"

‎"Bukannya gak suka, pasti nanti disuruh kerja kelompok lagi," keluh Dimas.

‎Raka menatap temannya itu santai. "Ya kerjain aja lah.

‎Bodoh banget memangnya lu sampai males kelompokan?"

‎"Banget! Bahkan di SMP nilai IPA gue pernah dapet 30," jawab Dimas tanpa beban.

‎Mata Raka seketika melotot lebar. Dalam hatinya, Raka membatin, Gila, ngaku bangga banget nih anak!

‎"Kenapa mata lu melotot gitu, Rak?" tanya Dimas polos.

‎"Hah? Oh... Nggak, cuma kaget aja lu ngaku dengan ringannya. Jadi aneh," sahut Raka sambil menggelengkan kepala.

‎"Wajar sih menurut gue," balas Dimas santai.

‎Melihat ekspresi polos nan polos tanpa dosa milik Dimas, Raka mati-matian menahan tawanya. "Pfft..."

‎"Lu ketawa ya, Rak?" selidik Dimas curiga.

‎"Gak, siapa yang ketawa," pangkas Raka cepat.

‎Di sepanjang sisa jam istirahat, obrolan mereka terus mengalir ke mana-mana. Membahas hal-hal *random*, pengalaman masa kecil yang konyol, hingga saling membongkar

‎aib masing-masing. Absurd parah.

‎Namun di tengah keseruan itu, bel masuk sekolah mendadak berbunyi nyaring. Dimas langsung meringis membayangkan

‎pelajaran IPA yang dibencinya akan segera dimulai.

‎"Lah, kenapa lu?" tanya Raka heran.

‎"Males banget, Rak. Pindah kursi lah, lu yang di tengah, gue di pojokan!" bujuk Dimas.

‎"Gamau lah! Ini tempat duduk legend di pojok belakang, masa disuruh pindah ke tengah," tolak Raka tegas.

‎Dimas menyipitkan mata. "Anjir, lu wibu ya? Suka duduk di pojok belakang dekat jendela?"

‎"Ada yang salah?" tantang Raka.

‎"Haha, gak sih..." Dimas akhirnya menyerah. "Yaudah, gue mau balik ke kursi gue di tengah."

‎Dimas berbalik menuju bangkunya sendiri di barisan tengah, lalu seketika merebahkan kepalanya di atas meja. Energinya seolah menguap habis membayangkan pelajaran di depannya. Raka yang melihat tingkah temannya itu hanya bisa mendecak sambil menggeleng. "Ada-ada aja..."

‎Tepat saat bel berhenti bergema, pintu kelas terbuka. Seorang gadis cantik dengan aura dingin melangkah masuk tanpa suara. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan datar dan tidak tersenyum sedikit pun. Gadis itu berjalan menuju kursinya.

‎Raka sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis itu karena jemarinya sudah sibuk mencoret-coret kertas, melanjutkan hobinya menggambar. Karena gambar sudah jadi hobinya, Raka sulit diganggu kalau sudah memegang pensil.

‎Tak lama kemudian, Bu Guru IPA memasuki kelas dengan membawa tumpukan kertas di tangannya.

‎"Baiklah anak-anak, hari ini kalian akan membentuk kelompok untuk mengidentifikasi komponen biotik dan abiotik," ujar Bu Guru membuka pelajaran. "Jika kalian lupa materinya, kalian bisa baca buku paket yang sudah disediakan saat pendaftaran sekolah kemarin."

‎Bu Guru mulai membagikan sobekan kertas berisi daftar kelompok. "Kelompok tujuh... Raka, Dimas, sama Alya. Sudah ya!"

‎Raka yang mendengar namanya dipanggil seketika terkejut. Ia tidak menyangka akan satu kelompok dengan cewek es batu itu.

‎Raka, Dimas, dan Alya mulai menyusun meja mereka agar bersatu.

‎"Wah, gak nyangka ya, Rak, kita bertiga satu kelompok," bisik Dimas bersemangat.

‎"Iya," sahut Raka tipis.

‎Dimas kemudian mendekatkan kepalanya ke Raka, berbisik canggung, "Btw, gimana cara ngomong sama cewek dingin di sebelah kita ini?

‎Alya yang mendengar bisikan itu langsung menyela dengan nada datar, "Tidak usah dihiraukan."

‎"Loh, dia bicara!" kaget Dimas refleks.

‎"Emang gue sedingin itu ya?" potong Alya lagi, kali ini dengan ekspresi wajah yang sedikit cemberut kesal.

‎"Marah tuh, Mas," kompor Raka pelan.

‎Dimas langsung membelakangi Alya dan berbisik histeris pada Raka, "Ajak ngobrol gih! Gue takut!"

‎"Jir, jijik cok! Gini doang takut," cibir Raka. Ia lalu berdehem menatap Alya. "Alya, kita tugasnya apa? Lu yang nentuin deh."

‎Alya menatap mereka berdua rasional. "Kalian berdua yang ngerjain bagian cari komponen biotik sama abiotik. Gue yang nyusun format untuk presentasinya."

‎"Oke!" jawab Raka dan Dimas serempak.

‎Melihat semua kelompok sudah siap, Bu Guru memberikan arahan terakhir. "Baik, karena tugas sudah dibagi, silakan kalian keliling area sekolah untuk observasi ya. Saya mau keluar sebentar menemui seseorang."

‎"Seseorang siapa tuh, Bu? Pacar Ibu ya?" celetuk salah satu siswi di depan.

‎"Hish, enggak lah! Kepo banget kamu," balas Bu Guru tersipu.

‎Raka, Dimas, dan Alya mulai berjalan menyusuri koridor sekolah. Suasana di antara mereka sangat sunyi karena tidak ada yang membuka topik pembicaraan. Dimas yang paling tidak suka keheningan mulai salah tingkah.

‎Percobaan pertama untuk membuka obrolan... gagal.

‎Di percobaan kedua, ia mencoba memecah keheningan dengan berbisik pada Raka. "Hei, ngomong dong! Hening bet dah!"

‎"Ngapa emang, Mas?"

‎"Biar seru dong! Manusia itu makhluk sosial, harus berkomunikasi!" cecar Dimas.

‎"Masalahnya gue gak tahu mau ngomong apaan," balas Raka jujur.

‎"Gue nyatakan nih, ini kelompok paling sunyi yang pernah ada di sejarah sekolah!" seru Dimas dramatis.

‎"Gila lu,  Mas, lebay banget," sahut Raka.

‎"Lah, katanya biar seru!"

‎Di sepanjang perjalanan menuju taman sekolah, Dimas terus dibuat bingung karena Raka dan Alya sama-sama irit bicara. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah taman sekolah yang cukup asri dan dipenuhi beberapa murid yang sedang nongkrong.

‎"Wah, keren juga tamannya," puji Dimas.

‎"Hmm iya, enaknya sih rebahan," celetuk Raka malas.

‎Alya langsung menatap mereka berdua tegas. "Kalian berdua jangan santai-santai. Kita kerjakan tugas sekarang."

‎"Baik..." ucap Raka dan Dimas serempak dengan raut wajah kecewa yang kompak.

‎Dimas akhirnya berjalan mengekor di belakang Alya, berusaha keras agar tidak menjadi beban kelompok. Ia menunjuk ke salah satu tanaman di dekat pot.

‎"Hei, yang itu abiotik, kan?" tunjuk Dimas sok tahu.

‎Alya menoleh datar. "Itu biotik."

‎Raka menepuk jidatnya. "Lu baca buku paketnya gak sih, Mas?"

‎"Gak," jawab Dimas polos.

‎"Aduh, makanya baca dulu, Mas!" Raka geleng-geleng kepala.

‎"Sialan lu, Rak!" ringis Dimas malu.

‎"Hahaha!"

‎Proses pengerjaan tugas pun berlanjut. Dimas yang berkali-kali menunjuk benda dengan jawaban yang salah justru membuat suasana kelompok mereka menjadi cair dan seru. Tanpa disadari, sudut bibir Alya sedikit terangkat, membentuk sunggingan senyum tipis.

‎Raka yang berada di sampingnya hampir memergoki momen langka itu, namun Alya dengan cepat menyadarinya dan kembali memasang wajah datar.

‎"Hmm?" gumam Alya datar.

‎"Hah?" Raka mengedipkan mata. "Tadi kamu senyum, ya?"

‎"Nggak. Perasaan kamu aja kali," elak Alya cepat.

‎"Apa iya?" Raka menyipitkan mata, penasaran.

‎Alya menatap Raka tajam. "Lu mau gue pukul?"

‎Raka mengangkat kedua tangannya. "Anjir, jangan galak-galak gitu dong, Putri Alya!"

‎"Untung tau diri," sahut Alya pelan.

‎Tak lama kemudian, Dimas yang baru saja kembali dari kantin menghampiri mereka sambil membawa minuman pesanan. Ia mengernyit bingung melihat raut wajah kedua temannya.

‎"Ada apa nih?" tanya Dimas menyerahkan minuman.

‎"Gapapa," pangkas Alya santai.

‎"Wah, ada kejadian langka kah pas gue pergi?" Dimas makin penasaran. Ia menyenderkan bahunya ke Raka sambil tersenyum curiga.

‎"Sebenarnya gue lihat Alya senyum tadi," bisik Raka pelan di telinga Dimas.

‎Mata Dimas membelalak. "Wah, iyakah? Terus cantik gak?"

‎"Cantik," jawab Raka jujur.

‎Dimas menyenggol lengan Raka. "Lu suka sama Alya, Rak?"

‎"Weee, belum tentu dong!" elak Raka cepat.

‎"Lah, denial si kocak!" ledek Dimas.

‎"Apaan dah, orang beneran belum tentu!"

‎Alya yang melihat kedua cowok itu terus berbisik-bisik akhirnya angkat suara. "Ada apa sih? Ngomong kok bisik-bisik begitu?"

‎Raka dan Dimas terkejut dan langsung berdiri tegap.

‎"Gapapa! Oh iya, ini tugasnya udah selesai, kan?" alih Raka cepat.

‎"Udah. Balik ke kelas aja buat persiapin presentasi," jawab Alya seraya merapikan kertasnya.

‎Setibanya di kelas, mereka bertiga menggabungkan meja untuk persiapan presentasi. Satu per satu kelompok dipanggil ke depan kelas oleh guru. Kelompok dua maju, disusul kelompok tiga. Hingga akhirnya, giliran kelompok tujuh yang dipanggil.

‎Dimas maju sebagai moderator, Alya sebagai sekretaris yang memegang materi, sedangkan Raka... hanya berdiri tampan menjadi anggota pelengkap.

‎Di kata pembuka, Dimas yang gugup mendadak *typo* dalam mengucapkan kalimat salam, membuat Raka di sebelahnya mati-matian menahan tawa. Dimas yang melihat lirikan ejekan Raka ingin membalas, tetapi urung karena Alya sudah memberikan tatapan maut yang sangat tajam darinya.

‎Presentasi pun berlanjut. Dimas yang kesulitan membaca istilah sains berkali-kali dibantu oleh Alya. Namun karena Dimas terus-menerus salah mengucapkan istilah, pada akhirnya presentasi itu hampir seluruhnya dibacakan oleh Alya dan Raka.

‎Saat presentasi selesai dan mereka kembali ke tempat duduk, Raka langsung meledek Dimas.

‎"Aduh, bikin malu aja lu, Mas! Awal pembukaan aja udah belibet gitu," tawa Raka.

‎"Ya maaf, namanya juga demam panggung!" bela Dimas merengut.

‎"Hahaha, gapapa. Memang dasarnya lu aja yang aneh, Mas," kekeh Raka.

‎Sambil mereka berdua asyik mengobrol, Alya sudah lebih dulu

‎duduk anggun di kursinya. Raka dan Dimas yang menyadari hal itu refleks melotot pelan, lalu tertawa bersama melihat kepribadian Alya yang sangat hemat energi. Mereka bertiga pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

‎Beberapa menit kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring.

‎Sinar matahari sore memancarkan warna keemasan melintasi jendela koridor. Beberapa siswa berlarian gembira menuju gerbang, sementara yang lain masih berada di dalam kelas untuk kegiatan ekstra.

‎Di area parkiran, Raka mulai menyalakan mesin motornya. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Siapa sangka, di hari yang awalnya ia duga bakal membosankan ini, ia justru mendapatkan teman-teman yang seru dan berharga.

‎Raka memacu motornya meninggalkan sekolah, tidak sabar untuk menantikan hari esok.

BAB 3: SEBUAH RUMOR?!

Hari kedua sekolah akhirnya tiba. Sinar matahari pagi mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, memancarkan kehangatan bagi bumi.

​Namun di sebuah kamar di lantai dua, kehangatan itu sama sekali tidak mempan untuk membangunkan Raka.

​Bagi Raka, bangun pagi adalah sebuah perjuangan hidup dan mati. Teriakan ibunya sudah menjadi soundtrack rutin tiap pagi. Bahkan jika gedoran pintu dan teriakan desibel tinggi gagal, ibunya punya jurus pamungkas yang paling ampuh: Gayung berisi air dingin.

​SBYURRR!

​"Ugh! Banjir?!" Raka tersentak bangun dengan wajah basah kuyup.

​"Bangun, Raka! Kamu mau mandi sendiri atau Ibu mandiin di kasur?!" seru ibunya dari samping tempat tidur sambil memegang gayung kosong.

​Setelah momen 'pembaptisan pagi' yang traumatis itu, Raka bergegas mandi, menyantap sarapan seadanya, dan melesat ke sekolah.

​Setibanya di depan gerbang sekolah, Raka menghela napas panjang meratapi nasibnya.

​"Haaah... tiap hari disiram air," gumam Raka sambil mengusap rambutnya yang masih agak basah. "Gue butuh tips disiplin dari para ahli nih. Tapi... yah, terlepas dari siksaan pagi tadi, yang penting gue tetep tepat waktu."

​Tepat saat kaki Raka melangkahi garis gerbang sekolah, bel masuk berbunyi nyaring.

​TETTT... TETTT...

​"Waduh!" Raka langsung mempercepat langkah kakinya, setengah berlari menuju kelas 10A agar tidak kena tegur guru di hari kedua.

​Setibanya di dalam kelas, Raka melihat Dimas dan Alya yang sudah duduk manis di bangku masing-masing.

​"Halo, teman-teman!" sapa Raka sambil menarik kursinya.

​"Hai, Rak!" sahut Dimas ceria, sementara Alya hanya memberikan anggukan kecil tanpa suara.

​Raka merebahkan dada ke atas meja, melirik ke arah Alya yang duduk di sampingnya. Mumpung ada kesempatan, Raka mencoba membuka percakapan.

​"Al..."

​Alya menoleh pelan, pandangan matanya yang jernih menatap Raka. "Hmm?"

​"Lu... gak punya temen cewek gitu?" tanya Raka blak-blakan. "Soalnya pas hari pertama kemarin gue perhatiin lu cuma sama gue sama Dimas doang. Terus pas istirahat lu sering duduk sendirian."

​Alya diam sejenak, matanya menatap Raka lempeng. "Kenapa gak bareng-bareng aja sama yang lain?" lanjut Raka.

​"Hmm... terus apa manfaatnya buat kamu kalau tahu?" balas Alya dengan nada datar nan dingin.

​Raka menggaruk pipinya. "Hmm... gak ada sih. Cuma penasaran aja."

​Alya menghela napas pelan. "Gak usah dibahas."

​Alya kemudian bangkit dari kursinya, membawa kotak bekal kosong yang baru saja ia gunakan untuk sarapan. Tanpa mengucap kata lagi, ia melangkah keluar kelas menuju wastafel koridor untuk membersihkan kotaknya.

​Raka yang ditinggal sendirian hanya bisa melongo dengan ekspresi bingung. "Lah, gue salah ngomong apa gimana?"

​Raut wajah bingung Raka rupanya memancing sel-sel detektif dan gosip dalam diri Dimas. Merasa ada drama hangat, Dimas menyeringai, menyeret kursinya mendekati meja Raka.

​SREKKK!

​Dimas mendadak muncul dari samping sambil menepuk meja Raka keras-keras.

​"OIII!"

​"Hah?! APA?! Astaga, ngagetin lu, Mas!" Raka terlonjak, memegangi dadanya yang terkejut.

​Dimas tertawa ngakak. "Hahaha! Lagian lu ngelamun mulu kayak ayam bertelur. Mikirin apaan sih?"

​"Hmm... itu, si Alya," gumam Raka pelan.

​Mata Dimas langsung berbinar. "Wih! Gosip nih! Aroma-aroma benih cinta lokasi!"

​"Ngawur lu!" cetus Raka menusuk bahu Dimas pakai pulpen.

​"Lah, terus apaan dong?"

​"Ini gue... agak khawatir aja sih sama Alya."

​Dimas melotot, menahan tawa. "Loh, loh, loh! Ini baru hari kedua sekolah loh, Rak! Lu udah naksir aja?!"

​Raka menatap Dimas dengan tatapan membunuh. "Lu mau gue ceburin ke got depan sekolah, Mas?"

​Seketika Dimas memasang wajah memelas, merapatkan kedua telapak tangannya. "Ehh, jangan dong Mas Raka yang ganteng, baik hati, dan dermawan!"

​"Anjir, geli kocak!" Raka merinding. "Tapi gue serius, Dim. Dari kemarin Alya tuh kayak malas bergaul sama orang lain. Meskipun ada yang mau ngajak ngobrol, dia selalu cuek dan menutup diri."

​Dimas bersandar di kursinya, mengibaskan tangan. "Halah, bukannya emang gitu kepribadian cewek introvert atau kuudere?"

​Raka menggeleng pelan, memasang raut muka sok misterius. "Gak... menurut firasat gue sebagai MC anime, dia pasti punya masa lalu yang kelam."

​Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Hmm... bisa jadi sih. Tumben lu mikirnya serius gini, Rak?"

​"Gue juga butuh saat-saat serius kali! Masa hidup di dunia cuma buat bercandaan doang?" sahut Raka membela diri.

​"Yee, sok pintar lu!"

​"Lah, gue mah emang pintar! Lu aja yang gak tahu!"

​"Dih, pede boleh tapi jangan kepedean, Masbro!"

​Baru saja Raka mau membalas celotehan Dimas, pintu kelas terbuka. Pak Guru masuk ke dalam kelas bertepatan dengan bel pelajaran yang berbunyi.

​Dimas menepuk pundak Raka pelan. "Yaudah, sampe sini dulu. Nanti lanjut lagi."

​"Sip."

​Pak Guru berdiri di depan papan tulis, melipat tangan di dada. "Oke anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, Bapak mau kasih tahu nih. Mumpung kalian masih murid baru dan minggu ini masih masa adaptasi MPLS, kalian dibebaskan buat cari kegiatan di sekolah. Bisa survey ekstrakurikuler, atau membaca di perpustakaan. Tapi ingat ya, lakukannya pas jam istirahat saja!"

​"Baik, Pak!" sahut seluruh murid serempak.

​Pelajaran jam pertama terasa berjalan sangat lambat dan membosankan.

​Dimas yang duduk di depan Raka mulai mengoperasikan ponselnya secara sembunyi-sembunyi di kolong meja. Sementara itu, Alya yang duduk di samping Raka tampak begitu fokus, menggerakkan pulpennya mencatat materi dengan sangat tenang.

​Lalu bagaimana dengan Raka?

​Raka merebahkan kepalanya di atas meja. Tangannya sibuk menari di atas kertas buku tulis—menggambar karakter anime dengan arsiran detail nan menakjubkan. Jiwa otaku sejatinya bergejolak di tengah rasa kantuk.

​Tepat saat Raka menyelesaikan arsiran terakhir pada rambut karakter animenya, bel istirahat pun berbunyi nyaring.

​TETTT... TETTT...

​Anak-anak kelas 10A baru saja mau bersorak girang, namun kesenangan itu terhenti mendadak. Pintunya ketuk, dan beberapa murid senior berseragam rapi dengan id-card organisasi memasuki kelas. Mereka adalah para ketua ekstrakurikuler.

​"Permisi, Pak," ucap ketua perwakilan senior ramah.

​"Ya, silakan. Bapak tinggalkan dulu ya," jawab Pak Guru sambil melangkah keluar kelas.

​Senior berpenampilan rapi itu tersenyum ke arah murid kelas 10A. "Minta waktunya sebentar ya, Adik-adik sekalian. Kami mau membagikan selebaran ekstrakurikuler, siapa tahu ada yang berminat bergabung!"

​Para ketua ekskul mulai menyusuri barisan meja, membagikan kertas brosur. Ketika lembaran brosur itu sampai di meja Raka, Raka mulai membacanya pelan.

​[DAFTAR EKSTRAKURIKULER SMA NEGERI GARUDA]

​Olahraga: Basket, Futsal, Badminton, Karate

​Seni & Kreatif: Seni Rupa/Gambar, Musik, Drama/Teater

​Akademik & Sains: Karya Ilmiah Remaja (KIR), Klub Bahasa Jepang/Anime

​Keorganisasian: Paskibra, Pramuka, PMR

​Raka mengusap dagunya. "Hmm... Klub Anime boleh juga sih. Tapi kalau ada ketua dan seniornya, ntar gue diatur-atur... malas ah."

​Setelah selesai membagikan brosur, senior di depan mengucapkan kalimat penutup. "Oke, terima kasih atas waktunya, Adik-adik! Semoga kalian berminat ya!"

​Begitu para senior keluar dari pintu, Dimas langsung memutar badannya dan menepuk keras pundak Raka dari belakang.

​PLAK!

​"WOI! Ngagetin mulu lu! Gak ada kerjaan lain apa?!" omel Raka sambil memegangi bahunya.

​Dimas menyengir tanpa dosa. "Hehe, maap! Btw, lu tertarik gak sama salah satu ekskul di brosur itu?"

​Raka menyandarkan punggungnya. "Hmm... gak sih."

​"Loh, kenapa?"

​"Gue pengennya kayak di anime-anime gitu, Dim. Ada klub khusus yang cuma kita berdua—atau kelompok kita—yang berkuasa tanpa diatur senior."

​Dimas berkedip, matanya mendadak berbinar. "Ohhh! Maksud lu... lu mau bikin klub sendiri?!"

​"Nah! Itu dia!" seru Raka mantap.

​"Pinter juga otak lu kadang-kadang!" puji Dimas.

​TING! TING!

​Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, ponsel Raka dan Dimas bergetar serentak. Sebuah notifikasi pesan pengumuman masuk ke ponsel seluruh murid dari grup resmi sekolah.

​Raka dan Dimas merogoh saku dan membaca isi pesan pengumuman dari Kepala Sekolah tersebut:

​[PENGUMUMAN KOMPETISI PROPOSAL KLUB BARU]

”Diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi SMA Negeri Garuda.

​Pihak sekolah memiliki satu ruangan kosong tidak terpakai di area koridor atas. Daripada terbengkalai, sekolah memutuskan untuk membuka Kompetisi Pembuatan Klub Baru.

​Siapa pun siswa yang ingin membuat klub sendiri dibebaskan untuk mengajukan Proposal Kegiatan. Jika proposal kalian disetujui oleh tim penilai dan Kepala Sekolah, maka ruangan tersebut resmi menjadi milik klub kalian!”

​Kompetisi ini berlangsung selama 7 hari. Pemenang akan diumumkan secara resmi di podium lapangan sekolah.

​Membaca pesan itu, mata Raka dan Dimas melotot lebar secara bersamaan. Mereka perlahan menoleh dan saling menatap dengan pandangan tak percaya.

​"Anjir, Rak! Kok bisa pas banget kebetulan gini?!" seru Dimas heboh.

​Raka terkekeh geli. "Gak tahu... mungkin pepatah 'perkataan adalah doa' itu emang real!"

​Dimas menepuk-nepuk punggung Raka dengan kencang sambil tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA! Gokil! Bisa-bisanya momennya pas banget!"

​"Biasa aja kali ngetoknya! Sakit woy punggung gue!" protes Raka sambil mengelus punggungnya.

​"Oh, iya! Sorry, sorry! Kelepasan!" Dimas menyengir, lalu memajukan badannya. "Jadi gimana, Rak? Karena ada kompetisi ini, lu mau ikutan gak?!"

​"Ikut lah! Gue suka tantangan kayak gini!" seru Raka bersemangat.

​"Wah, iyakah?! Kalau gitu gue ikutan gabung!"

​"Sip!"

​Dimas merogoh pulpen dan selembar kertas kosong dari tasnya. "Tapi sebelum nulis isi proposalnya, kita harus tentuin nama klubnya dulu nih."

​"Oh, kalau soal nama mah gue udah kepikiran dari tadi," sahut Raka jemawa.

​Dimas menaikkan alisnya. "Apaan tuh?"

​"Gimana kalau namanya: Klub SSA?"

​Dimas berkedip bingung. "Hah? Maksudnya SSA apaan?"

​"Santai-Santai Aja," jawab Raka polos tanpa dosa.

​Dimas menatap Raka dengan pandangan prihatin. "Gila lu ya? Lu mau bikin klub pengangguran?! Bukannya belajar atau bikin kegiatan berfaedah, malah Santai-Santai Aja?!"

​"Eleh! Lu juga suka kan meluangkan waktu buat rebahan?!" balas Raka tak mau kalah.

​Dimas terdiam sejenak. "Ya... kalau itu sih emang fakta yang gak bisa digugat." Dimas menghela napas. "Terus nama seriusnya apa dong, Rak? Lu punya ide lain gak?"

​Raka memutar pulpen di jarinya. "Hmm... gimana kalau namanya: Klub Penyelamat Masa Muda (KPMM)?"

​Dimas mengerutkan dahi. "Maksud namanya filosofinya apaan dah?"

​"Udah, gak usah terlalu dipikirin filosofinya! Yang penting namanya kelihatan keren dan heroik di mata Kepala Sekolah!"

​"Yaudah, setuju!"

​Setelah menyepakati nama klub tersebut, Raka dan Dimas mulai mencoret-coret lembar proposal dengan antusias. Begitu draf awal selesai ditulis, mereka berdua bangkit dari kursi dan berjalan keluar kelas untuk menyerahkannya ke ruang guru.

​Tanpa mereka sadari, Alya yang dari tadi diam menyimak pembicaraan mereka perlahan berdiri. Matanya menatap punggung Raka dan Dimas yang menghilang di balik pintu kelas.

​Alya meremas jemarinya pelan, meratapi keraguan di hatinya. Ia berbisik lirih pada dirinya sendiri...

​"Aku... pengen ikut mereka. Tapi... apakah aku pantas?"

​Sementara itu, di sepanjang koridor menuju ruang guru, Raka berjalan melamun, tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal di kepalanya.

​Dimas yang menyadari perubahan sikap sahabatnya langsung menyenggol lengan Raka. "Rak, lu kenapa sih diam mulu? Ngobrol napa! Nge-jokes garing juga gapapa lah, yang penting obrolan kita gak putus di jalan!"

​Raka menoleh pelan. "Hmm... lu masih inget kan kata-gara gue tadi di kelas?"

​"Kata yang mana nih?"

​"Soal Alya."

​"Ohh, cewek dingin itu?" Dimas mengangguk-angguk. "Omong-omong soal Alya... gue sempet denger rumor burung kemarin malam."

​Raka menaikkan sebelah alisnya, rasa ingin tahunya terpantik. "Rumor apaan?"

​Dimas mendekatkan bisikannya. "Rumornya... ada sebuah perusahaan raksasa ternama yang sahamnya mendadak anjlok dan hampir bangkrut gara-gara mereka 'melepas' putri tunggal mereka sendiri."

​Raka mengerutkan dahi. "Perusahaan ternama? Perusahaan apa?"

​Dimas mengibaskan tangannya. "Gak tahu! Gue kan cuma denger sekilas dari obrolan senior. Mana tahu detailnya!"

​Raka menatap Dimas lempeng. "Oh."

​Dimas melotot tidak terima. "Buset! Reaksi lu cuma 'Oh' doang?! Gak ada kaget-kagetnya?!"

​"Lah, emang gue harus gimana? Harus atraksi topeng monyet dulu di depan lu?" balas Raka santai.

​"Yakali, kocak!"

​Di tengah gelak tawa dan perdebatan konyol mereka yang makin dekat dengan pintu ruang guru, di balik rimbunnya semak-semak taman sekolah... sesosok bayangan misterius sedang berdiri diam.

​Mata sosok itu menatap tajam ke arah Raka dan Dimas dari kejauhan, memantau setiap gerak-gerik mereka dengan penuh selubung rahasia.

​Siapakah sebenarnya sosok di balik semak-semak tersebut?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!